Juragan Rezeki Pembantu

Berapa banyak dari kita yang mungkin merasakan hal ini. Maaf banget, saya harus sampaikan. Ternyata tentang hal ini banyak yang mengabaikan.
 
Saya merasakan 6 tahun menjadi PNS. Berangkat jam 6 pagi dan nyampe rumah setelah jam 6 ba’da maghrib. Menjadi manusia yang hidupnya sebagian besar habis di jalan. Gak ada yang salah saya pikir saat itu, sampe istri saya hamil di usia 3 bulan pernikahan kami. Alhamdulillah anak pertama kami, Ukassyah, sudah mulai ada di rahim istri tercantik.
 
Kami nikah tanggal 10-10-2010. Tanggal yang sama dengan beberapa artis kondang, salah satunya indra bekti. Karena merasa tanggal cantik. Eh istri indra bekti juga namanya Dilla, sama dengan istri saya. Hehe. 😀 Saya minta per januari, istri resign dari kerjaan dan fokus di rumah aja. Berangkat ngurusin keperluan suami dan pulang menyambut dengan segala jenis ujicoba makanan, yang special dibuat untuk saya. PR saya satu, apapun rasanya, saya harus bilang, enuaaakkk!!! Wkwkwk
 
Kami memang sudah komit, gak akan pake asisten. Walau sempet sebentar, tapi ngurus anak gak mau kami serahkan ke asisten. Karena bagi kami, sentuhan kami kepada anak, becanda kami kepada krucil-krucil dan pendidikan kami kepada para jagoan, lebih total kami berikan, ketimbang kami titipkan ke asisten. Nggak asisten, nggak juga mertua. Bagi kami, mertua, atau org tua juga bukan orang yang jadi sasaran ketika kami mencari uang. Anak-anak dititipkan, bahkan mungkin jadi posisi antara kita dengan orang tua, seolah-olah tinggian kita, karena sepulang dari kita titipin anak-anak, biasanya ada salam tempel dari kami.
 
Belajar dari ustadz Yusuf Mansur dan tim Wisata Hati Business School, ketika kita memposisikan orang tua sbg “pembantu” yang mengurus anak kita, menurut beliau, maka rezeki kita akan rejeki pembantu. Secara logika, kalo orang tuanya aja diperlakukan seperti pembantu, maka rejeki yang dia dapatkan bakalan seperti rejeki pembantu.
 
Solusinya apa? Jadikan orang tua seperti raja dan ratu. Salam tempel tetep lakukan, tapi gak usah lah mereka dijadikan tempat penitipan anak. Percaya deh, anak juga bakalan lebih seneng ikut dengan kita. Punya anak di usia-usia awal, selalu saya ajak kemanapun saya pergi. Mau dalam kota, mau luar kota, melu terussss..
 
Dan terbukti, ketika kita jadikan orang tua kita raja, maka rezeki kita naik menjadi level rezeki raja. Banyak hal mengejutkan yang hadir di hidup kita, sebagai raja yang mendapatkan kiriman dari berbagai arah yang tidak kita duga. Kami merasakan sendiri. Walau di lembah kebangkrutan terdalampun, kami gak merasakan rezeki pembantu. Mungkin ada saatnya kami gak punya uang, tapi posisi kami adalah posisi terhormat, sebagai raja. Karena Allah memberikan itu, sebagai hadiah atas perlakuan raja yang kami berikan kepada orang tua dan mertua kami.
 
Sampe sekarang, kalo mertua saya dateng ke rumah kami, beliau cuci piring, cuci baju dll, selalu kami larang. Karena kami tau, rezeki kami akan jadi rezeki raja ketika memang kita menempatkan mertua sebagai raja. Setuju? Yang masih menjadikan orangtua sbg pembantu, percayalah, rezeki mu akan tetap begitu, kecuali engkau mengubah orangtua dan mertuamu jadi raja dan ratu.
 
Aditya Nugroho
Akademi Pengusaha
 
 Silahkan di-SHARE jika bermanfaat
.

Jika Suami Tak Seperti Yang Diharapkan

Kepadamu wahai saudariku yang sudah menikah
Janganlah mudah untuk membuka aib suamimu
Bagaimanapun juga, ia adalah imam pilihanmu
Pemimpin yang harus kau jaga kehormatannya
Lelaki yg menjadi ayah dari darah dagingmu…
 
Lelaki ibarat seekor singa yang buas…
Ia dapat luluh tergantung dari pawang yang menjinakkannya…
Lelaki kasar bisa menjadi lembut dan tunduk pada istrinya tergantung dari sifat istrinya yang pandai mengurusnya…
 
Ketahuilah….
Suamimu adalah orang lain…
Ia bukan seperti ayah dan ibumu…
Bukan pula saudara kandungmu yang cinta dan kasih sayangnya akan terus mengalir untukmu..
 
Ia adalah orang lain…
Yang kadang mencintaimu…
Namun bisa pula membencimu….
Tak selalu lembut tuturnya…
Bahkan tak pelak bisa mudah terbawa emosi hingga tangannya melayang…..
 
Maafkanlah ia… jika masih ada keimanan dalam dadanya, jika ketidaksengajaan itu ia lakukan hanya sekali bukan kebiasaan atau memang sifat bawaannya…
 
Bersabarlah…..
Dan terus berdoa pada Allah yang menggenggam nyawa manusia
Berdoalah karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia
 
Jangan berkeluh kesah tentang bahteramu karena masalah dapat selesai dengan ikhtiar bukan dengan keluh kesah…
Berdoalah…. hanya pada Allah karena senjata orang beriman adalah doa…
 
Semoga kita dikumpulkan kembali di jannah bersama orang-orang yang kita cintai karena Allah bukan karena urusan duniawi

Bisikan Mesramu Mencerahkan Hariku

Cahaya fajar melenyapkan kegelapan malam. Suara azan Bilal menghilangkan kesunyian Madinah. Saat itu Rasulullah tengah terlelap. Mengistirahatkan raga di waktu menjelang fajar setelah menjalankan Qiyamullail cukup lama.

Kala Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah bangun, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak dan bersiwak. Setelah itu membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya jua kita semua dibangkitkan.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah itu beliau bangun. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika perlu berwudhu maka beliau berwudhu.  Setelah itu beliau shalat sunnah dua rakaat  fajar.
Seusai shalat, jika istri beliau sudah bangun, beliau menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti apa kiranya seorang istri yang mencintai, yang memulai cahaya-cahaya hari dengan kata-kata cinta dari suaminya?
(Dikutip dari Al Yawm An Nabawy)
Lihatlah  bagaimana Rasulullah memulai harinya. Bisa jadi ini hanyalah sekitar 15 menit dari rutinitas beliau sejak bangun paginya. Betapa banyak hal kecil yang mungkin terlewat bagi kita. Atau bahkan bisa jadi sepele dan diacuhkan oleh kita, namun tak pernah ditinggalkan Rasulullah.
Siapakah di antara kita yang bangun tidurnya langsung bersiwak? Membersihkan gigi dan mulutnya sebelum berdoa kepada Rabb-nya?
Perhatikanlah, mengapa Rasulullah bersiwak dulu baru berdoa? Rasulullah berdoa setelah bersiwak karena ingin membuat Rabb-nya senang.
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,”Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.” (HR. An Nasai).
Hadits ini menunjukkan penegasan bahwa bersiwak bukan hanya untuk gigi saja, namun dimaksudkan untuk kebersihan dan memberikan aroma wangi, bukan hanya menghilangkan kotoran saja. Maka keutamakan siwak ini bukan hanya memiliki manfaat religi namun juga duniawi.
Hal detail lainnya yang sering terlewat dicermati oleh kita adalah Rasulullah itu bangun lebih dahulu dari istrinya. Yang dilakukannya ketika melihat istrinya bangun adalah membisikkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan untuk didengarkan istrinya.
Bagi pasangan yang sudah lama menikah, yang sering terjadi adalah sang suami tidak lagi suka mengungkapkan kata-kata mesra yang membahagikan istri, karena menganggap toh sang istri pasti sudah tahu perasaannya. Kata-kata itu tidak lagi penting, demikian mungkin menurut logika suami.
Namun para suami, contohlah Rasulullah… Justru karena beliau adalah orang terbaik bagi keluarganya, maka beliau memahami benar betapa pentingnya ungkapan dan kata-kata membahagiakan itu untuk para istri. Maka tidak bosan beliau mengungkapkan rasa.
Aroma mulut yang wangi berpadu harmonis dengan kata-kata mesra penuh cinta… ah, indahnya….
Sungguh mood booster luar biasa untuk memulai hari yang padat bagi para istri.
Bila para suami masih berpikir bahwa kata-kata tidaklah penting, yang penting adalah perbuatan…
Bagaimana bila dua-duanya? Karena Rasul kita mencontohkannya…
Wahai para suami, sungguh, bisikan mesramu mencerahkan pagi istrimu…