Jika Suami Tak Seperti Yang Diharapkan

Kepadamu wahai saudariku yang sudah menikah
Janganlah mudah untuk membuka aib suamimu
Bagaimanapun juga, ia adalah imam pilihanmu
Pemimpin yang harus kau jaga kehormatannya
Lelaki yg menjadi ayah dari darah dagingmu…
 
Lelaki ibarat seekor singa yang buas…
Ia dapat luluh tergantung dari pawang yang menjinakkannya…
Lelaki kasar bisa menjadi lembut dan tunduk pada istrinya tergantung dari sifat istrinya yang pandai mengurusnya…
 
Ketahuilah….
Suamimu adalah orang lain…
Ia bukan seperti ayah dan ibumu…
Bukan pula saudara kandungmu yang cinta dan kasih sayangnya akan terus mengalir untukmu..
 
Ia adalah orang lain…
Yang kadang mencintaimu…
Namun bisa pula membencimu….
Tak selalu lembut tuturnya…
Bahkan tak pelak bisa mudah terbawa emosi hingga tangannya melayang…..
 
Maafkanlah ia… jika masih ada keimanan dalam dadanya, jika ketidaksengajaan itu ia lakukan hanya sekali bukan kebiasaan atau memang sifat bawaannya…
 
Bersabarlah…..
Dan terus berdoa pada Allah yang menggenggam nyawa manusia
Berdoalah karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia
 
Jangan berkeluh kesah tentang bahteramu karena masalah dapat selesai dengan ikhtiar bukan dengan keluh kesah…
Berdoalah…. hanya pada Allah karena senjata orang beriman adalah doa…
 
Semoga kita dikumpulkan kembali di jannah bersama orang-orang yang kita cintai karena Allah bukan karena urusan duniawi

Menikah Butuh Perjuangan…

Dulu saya pikir menikah itu sederhana urusannya. asalkan ada 2 orang dah saling suka maka tinggal menjalani saja. tapi ternyata, saya mendapat banyak ilmu sejalan dengan kenyataan dan pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. bahwa menikah tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. apalagi sebagai seorang mukmin, menikah bukan sekedar kawin. menurut saya, menikah bagi seorang mukmin ada 2 nilai yang besar: Pertama, menikah itu urusan hati yang terdalam jadi kita jangan hanya menggunakan logika belaka. Kedua, menikah itu sama dengan membangun peradaban. karena rumah tangga adalah madrasah pertama dalam membangun peradaban yang lebih besar.

Apabila ada keinginan menikah maka ada ujian2 yang menanti. terutama ujian hati dan ujian niat yang utama. niat kita diuji sejak awal, apakah tetap lillahi ta’ala atau tidak. dan hal ini bukan perkara sederhana, karena hati itu mudah berbolak balik. kadangkala kita sudah sedemikian mantap meniatkan nikah untuk ibadah, namun tiba2 hati kita goyang kembali dan menjadi ragu.
Kemudian adalagi ujian kemantapan. apakah kita sudah mantap dengan calon atau orang yang kita pilih menjadi pasangan hidup kita. bisa jadi masalahnya sederhana, asalkan agamanya bagus maka mantapkan hati. tapi ternyata tidak sesederhana itu. karena seringkali hati ini begitu rumit. kadang ada hal2 kecil yang membuat hati ragu akan pilihan itu. kadang ada sesuatu yang mengganjal di hati, tapi itu hanya diri kita yang tau (dan Allah tentunya), dan kita gk bisa menceritakan hal itu ke orang lain. sebetulnya kuncinya mudah saja, yaitu sholat istikharah. Allah telah memberi kita kesempatan untuk meminta Keputusan-Nya, dalam sholat. dan apabila kita ragu maka kita boleh membatalkan proses. nah, inilah masalahnya, saya sering merasa ragu setelah istikharah. saya tidak tahu, ragu ini datang dari Allah atau dari bisikan setan. Astaghfirullah, ternyata iman ini masih begitu tipis untuk mengenal petunjuk-Mu, ya Allah……
Kemudian ujian2 lain menanti dalam proses menuju pernikahan. ujian bisa datang dari diri sendiri, dari calon pasangan, dari pihak2 yg terkait. karena menikah itu juga berhubungan dengan kehidupan sosial yang melibatkan org banyak, bukan hanya urusan 2 insan saja. masalah yang timbul bisa saja begitu rumit. sebagai seorang mukmin kita ingin pernikahan berjalan sesuai dengan syariat Allah dan sunnah Rasul. namun, tidak semua orang bisa paham hal demikian. maka butuh perjuangan untuk menujudkan pernikahan islami seperti itu.
Ujian lain juga menanti, antara lain memikirkan kehidupan setelah menikah. tentunya setelah menikah kita tidak lagi hidup sendiri. tidak mungkin istri kita kita tempatkan di kost2an kita yang isinya cowok semua khan? hehe…. dan aktivitas kita setelah menikah juga berubah. tadinya kita memikirkan sesuatu dengan “caraku”, maka setelah menikah berubah menjadi “cara bersama”.
Itulah, sebagian kendala yang saya rasakan hadir dalam proses pernikahan. mungkin belum semuanya, karena ada hal2 yg terlupa dan belum saya ungkapkan. namun, intinya satu hal menurut saya. ujian pernikahan yang utama adalah mengenai niat atau hati. kalau niat benar2 lillahi ta’ala, maka apa yang ditakutkan? Allah selalu siap dengan pertolongan-Nya.
Menikah Butuh Perjuangan…
TarbiyatulAulad.com