CKSMA B-7 Balita Minim Tantrum

Salah satu keunggulan memiliki anak banyak adalah adanya percepatan belajar bagi anak-anak selanjutnya. Berpayah -payah membangun kebiasaan baik biasanya hanya terjadi pada anak pertama. Setelah itu, adik-adiknya akan lebih mudah meneladani kebiasaan baik yang telah diterapkan pada kakaknya. Konsekuensinya, kesadaran bahwa dirinya adalah individu yang berbeda juga dapat terjadi lebih cepat. Sehingga dalam keluarga kami, Fatih anak kelima mulai menunjukan keinginan dirinya dengan sangat tegas lebih awal dibanding anak-anak kami lainnya. Ketika kemampuan masih terbatas namun keinginan untuk melakukan berbagai hal sangat banyak, maka munculan frustasi yang kemudian memicu tantrum. Kesimpulannya, masa tantrum Fatih muncul di usia 1 tahun sementara rata-rata anak-anak kami lainnya baru mulai secara tegas menunjukan keinginan mereka di usia sekitar 1,5 sampai 2 tahun.
 
Pada awalnya, saat masa-masa frustasi itu datang, seperti anak-anak lainnya Fatih sering mengamuk. Alhamdulillah dengan berbekal pengalaman mengurus keempat kakaknya, kami paham bahwa ketika bentuk frustasi itu muncul, kami berusaha mencari tau apa yang menjadi keinginanya sambil terus mengajarkan Fatih untuk mengungkapkan dengan kata-kata dan memberikan isyarat jika ia mengingkan sesuatu.
 
Ummi: “Mau apa sayang? mau ini? bukan? mau ini? bukan? mau ini? bukan? Mau ini? iya? ooooo mau minum…. mau ambil minum sendiri. ini namanya minum… minum…minum apa? minum…bilang ya ummi… mau…minum”
 
Begitu misalnya saat kami membantu menerjemahkan keinginannya. Lalu kami libatkan ia memegang gelas dan menuangkan air. Saat ia menunjukan keinginannya kami mengajak ia menunjuk atau menggiring kami ke ruangan dimana keinginannya berada. Pada awalnya kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui keinginannya. Tetapi ketika kepercayaan Fatih terbangun bahwa kami berusaha membantu keperluannya, rengekan dan tangisan semakin berkurang. Kini diusia 1,5 tahun ia terlatih untuk memanggil kami, menggandeng tangan kami ke ruangan tertentu lalu menunjuk saat ia menginginkan sesuatu. Lalu ia belajar mengungkapkan dengan kata-kata pada beberapa hal yang telah ia kuasai. Di usia 1,5 tahun Fatih dapat menjabarkan beberapa keinginannya seperti “ummi mau bobo” sambil menunjuk dada saya. “Ummi mau kuku” maksudnya mau susu sambil menunjuk meja makan misalnya.
 
Setiap anak memiliki fitrah kemandirian, saat Fatih telah masuk fasa dimana ia sadar bahwa ia adalah individu yang berbeda dari lainnya, ia mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Makan sendiri, mandi sendiri, sampai membuat susunya sendiri. Berbekal keyakinan bahwa ini adalah sebuah proses melatih kemandirian anak, maka kami cenderung memberikan ruang baginya untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri. Meskipun konsekuensinya akan ada pekerjaan-pekerjaan ekstra yang harus kami lakukan setelahnya. Saat mandi misalnya, ia akan meminta jatah sabun cair untuk diusap pada bagian tubuh yang dapat ia jangkau. Pada saat makan ia tidak mau disuapi, saya membantunya untuk membuat gunung-gunung nasi kecil agar ia mudah memakan makanannya sendiri, atau membuatkan makanan yang mudah ia genggam. Bahkan sekarang ia selalu ingin membuat susunya sendiri. Menarik kursi ke meja makan, menaiki kursi, meminta saya mengambilkan susu bubuk. Saya siapkan gelas, dan susu bubuk, lalu air secukupnya dalam teko kecil. Ia tuang sendiri susu bubuk ke dalam gelas dibawah pengawasan saya, lalu kemudian menuang air dari teko sendiri dan mengaduknya sendiri dengan sedotan. Ada tumpahan? pasti! tapi pekerjaan ekstra yang dilakukan akan terbayar dengan senyuman kebanggaannya.
 
Keberhasilan-keberhasilan kecil dalam memecahkan masalah ini akan semakin meningkat menjadi keberhasilan dalam mengerjakan proyek-proyek yang lebih kompleks. Sehingga di usia 4 tahun, Faruq dan Shiddiq kakaknya terbiasa mengaduk mixer sendiri untuk membuat kue, dibawah pengawasan kami disamping mereka. Bahkan Faruq (4 tahun) dan Fatih (1,5 tahun) pernah bekerja sama membuat puding susu dengan potongan strawberi hanya berdua saja. Kami hanya membantu memasak dan menuangkan puding saat panas, sementara hampir seluruhnya dikerjakan mereka berdua dibawah pengawasan kami. Seiring dengan waktu Fatih semakin mahir membuat susu dalam gelas tanpa tumpah, begitu juga Faruq semakin mahir membuat puding sendiri tanpa banyak tumpah. Dan semua itu bermula dari kesabaran kita mencari tahu apa yang mereka inginkan, memfasilitasi dan mengawasi saat mereka ingin melakukan pekerjaannya sendiri.
 
Alhamdulillah hanya sekitar 3 bulan saja Fatih mengalami masa tantrum yang hebat, semakin hari ia semakin mudah mengungkapkan keinginannya. Kami juga tidak terlalu mengalami banyak konflik karena biasanya kami berusaha mengikuti keinginannya terlebih dahulu sejenak baru kemudian mengalihkannya pada pekerjaan lain yang dirasa lebih aman dilakukan. Kami juga memfasilitasi berbagai sarana untuk ia “mengoprek” seperti memberikan wortel untuk memberi makan kelinci, menyiapkan air dalam botol spray untuk menyiram tanaman-tanaman dalam pot, menyiapkan ember besar dan mainan untuk bereksplorasi dengan air, bahkan sesekali menginvestasikan beberapa genggam tepung untuk melatih motorik halusnya. Itulah sekolah Fatih setiap hari, saat saya sibuk mengajar anak-anak lainnya. Baru sesekali saat saya tidak sedang mengajar, saya meluangkan waktu untuk duduk secara khusus dengan Fatih dan membaca buku. Alhamdulillah, Fatih pun sangat “anteng” menjalankan sekolahnya tanpa banyak menggangu proses belajar kakak-kakaknya.
 
Jujur saja memang membutuhkan banyak tenaga dan kesabaran dalam membimbing Fatih yang cenderung banyak mengeksplorasi alam, bahkan terkadang ia harus mandi dan mengganti baju sebanyak 6 kali sehari karena rajin bereksplorasi dengan air. Kami juga harus mengunci gerbang setiap saat agar ia hanya bereksplorasi di taman jika ingin keluar. Kami juga harus mengunci kulkas dengan “Child lock” Agar ia tidak membuka tutup kulkas dan mengeluarkan isinya. Kami juga harus memasang pengganjal pintu khusus yang dirancang agar anak-anak tidak terjepit karena Fatih sudah mulai tertarik membuka tutup pintu. Kami juga mulai harus menjauhkan barang-barang tertentu agar ia tidak meraih dan merusaknya.
 
Terkadang Fatih juga memukul kakaknya saat ia kesal dan tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Biasanya saya mengangkat fatih, mendudukannya di kasur, lalu dengan kalimat kokoh saya berkata “no! tidak memukul dipukul itu sakit” saya menatapnya dengan tatapan serius, untuk mengabarkan bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Awalnya ia tidak memahami ekspresi saya, tapi saat kejadian diulang saya lakukan kembali. Sehingga ia mengerti bahwa memisahkannya dalam tempat khusus kemudian menyempaikan kalimat singkat, pada, jelas, dengan nada yang kokoh, adalah cara saya untuk memberi pesan penting. Ia pun kini mulai memahami ketika saya memintanya untuk meminta maaf. Ia akan bersalaman lalu mencium tangan kakaknya dengan bunyi “mmmmuaaaah”.
 
Insya Allah dengan kesabaran dan kelapangan hati untuk bersedia sedikit memiliki pekerjaan ekstra, anak-anak balita kita bisa menjadi balita yang minim tantrum. Tantrum adalah hal yang alamiah terjadi pada anak-anak balita, dengan membuat jadwal hidup yang teratur, memenuhi kebutuhan dasarnya seperti saat lapar atau mengantuk, merespon dengan aktif saat ia memiliki keinginan tertentu, serta bersedia secara fokus mendampingi dan mengajarinya agar berperilaku wajar dan pantas, insya ALlah frekuensi tantrum balita akan dapat kita minimalisir sehingga balita-balita kita menjadi baliya yang minim tantrum
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang rumahnya dihiasi balita hampir 2 tahun sekali

CKSPA Episode 57 – Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

Sejenak sebelum tidur….

Abang….. I love you….. And I like the way you do bla…bla….. I like the way you do bla..bla…bla… I like the way you do bla…bla… bla…. I really love you…. But….. I don’t like the way you do bla…bla..bla…. That’s really not nice/that’s not allowed to do that/that’s really danger/that’s not polite or bla…bla…bla… Because bla…bla..bla.. Terkadang jika kasusnya sangat keterlaluan, dengan nada tenang saya tambahkan “and i am mad/disappointed because of that”

Kurang lebih seperti itulah pola komunikasi yang kami bangun untuk menutup hari dimana anak-anak bertingkah sangat istimewa. Bila mereka berperilaku positif yang sangat istimewa, maka kalimat cinta, pujian, dan penghargaan yang menunjukan betapa kami sangat bangga pada mereka, kami sampaikan secara special di waktu khusus. I’m so proud of you honey, i like the way you do bla..bla..bla… Atau pernah juga disampaikan dalam sebuah surat kecil yang disimpan diatas kasur. Semua itu kami lakukan agar anak mengerti bahwa perilaku tersebut adalah perilaku yang baik dan sangat kami cintai. Kami berharap penegasan yang kami lakukan melalui komunikasi yang lebih spesial, lebih intim, akan lebih membekas dalam hati dan pikiran mereka sehingga mereka lebih bersemangat untuk kembali melakukan kebaikan tersebut di lain waktu.
Lalu bagaimana ketika mereka melakukan perilaku yang sangat tidak kami harapkan hari itu? Ya pola komunikasi diatas kami bangun sebelum menutup hari. Dimulai dari menyatakan I love you, untuk memastikan bahwa cinta kami tidak berubah dan tidak terganggu karena kekecewaan atau kemarahan kami. Kalimat itu kami nyatakan untuk membedakan bahwa kekecewaan dan kemarahan kami ditujukkan pada perbuatannya, bukan pada mereka. Sebelum kami menyatakan kekurangan mereka saat itu, kami berusaha mengawalinya dengan menyebutkan sebanyak-banyaknya kebaikan mereka, lalu kemudian membahas kekurangan dan kesalahan mereka hari itu. Hal ini kami lakukan agar mereka memahami bahwa setiap orang terkadang melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti selalu melakukan kesalahan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lihat dari setiap orang meskipun mereka memiliki kesalahan atau kekurangan. Pola komunikasi secara spesial ini kami bangun untuk memberikan penegasan, betapa kami sangat sangat tidak menyukai perbuatan tersebut disertai dengan penjelasan alasan, dalil atau akibat dari perbuatan tersebut. Biasanya anak-anak lebih siap untuk mendengar nasihat saat menjelang tidur, dibanding memberikan ceramah panjang saat kejadian baru saja berlangsung apalagi jika menyampaikan dengan cara kekerasan. Memberikan pengertian dengan jalan kekerasan hanya akan menjadi bentuk pembenaran bagi anak untuk melakukan hal yang serupa. Terkadang kita butuh suasana tenang untuk merefleksikan sebuah kejadian. Refleksi menjadi poin penting yang tidak boleh terlewatkan orang tua sebagai momentum untuk mengajarkan kebaikan dan meluruskan kesalahan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl :125)
Mengapa kami ingin anak-anak memahami dengan jelas bahwa cinta kami tidak berubah meski kami sedang marah atau kecewa? Mengapa kami begitu ingin menunjukkan bahwa yang tidak kami suka adalah perbuatan mereka dan bukan diri mereka? Mari sejenak kilas balik ke masa lalu kita, mungkin ada diantara kita yang pernah memiliki perasaan “sejenak tidak dicintai orang tua” saat kita menjadi anak-anak. Mungkin kita merasa ada saatnya orang tua kita tidak mencintai kita saat mereka marah, saat mereka sibuk dan kurang perhatian, saat mereka melarang kita akan sesuatu, saat mereka menolak permintaan kita, atau saat orang tua kita lebih memilih membela saudara yang lain dari diri kita. Mungkin masih banyak hal yang tidak sesuai harapan, terjadi dalam kehidupan bersama orang tua kita yang membuat kita kecewa, sedih, atau bahkan ingin marah dan memberontak. Perasaan itu muncul karena kesederhanaan pola pikir kita sebagai anak kecil. Sejalan dengan waktu, apabila dibekali ilmu dan hikmah, perasaan itu akan menghilang dan diganti dengan kebijaksanaan, pengertian dan pemahaman mengapa orang tua harus menasihati, melarang, menegur, bahkan memarahi kita. Sekali lagi saya tegaskan syaratnya, yaitu apabila dibekali ilmu dan hikmah. Mengapa? Karena banyak manusia yang juga tidak bertambah kebijaksanaannya seiring dengan bertambahnya usia mereka.
Pola komunikasi diatas dibangun dalam rangka mengajarkan ilmu dan hikmah, dalam sebuah suasana yang tenang agar anak-anak lebih siap mendengar nasihat. Harapannya mereka pun memiliki perasaan terbuka untuk mengakui kesalahan, menerima kritik dan saran, serta berkeinginan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Kami berharap mereka memahami bahwa kesalahan dan dosa adalah bagian dari perjalanan kehidupan manusia.
Teringat sebuah pembicaraan sederhana saya bersama Shiddiq (5 tahun)
Ummi: “shiddiq, you forget about your cloth. please put away your cloth!” (Baju kotor Shiddiq masih tergeletak di lantai kamar dan ia lupa menaruhnya di tempat laundry)
Dengan wajah merasa bersalah Shiddiq berkata
Shiddiq: “I am sorry ummi, i am really really forget!”
Ummi: “it’s ok Shiddiq, sometimes i forget too. That’s why i just remind you”
Shiddiq: “Oh that’s why we have to remind each other”
Manusia itu tempatnya salah, dosa dan lupa. Yang kita butuhkan hanyalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Proses saling menasihati antara orang tua dan anak adalah pola hubungan yang perlu dibangun sepanjang hidup. Tentunya kita berharap upaya kita dalam menasihati anak dapat membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa nasihat kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Maka diri ini ingin terus beruoaya meluruskan perilaku mereka tanpa merubah rasa cinta dengan disertai doa kepada Allah agar Allah membukakan pintu hidayah bagi mereka. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang tengah berjuang memperbaiki diri dan keluarganya
Kiki Barkiah
Sumber gambar: Teacheramira.wordpress.com

Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 56 – Kala Ada Yang Datang Mengadu

CKSPA Episode 56 – Kala Ada Yang Datang Mengadu

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56

Kala Ada Yang Datang Mengadu

  • SOP Perdamaian Keluarga 

Makin banyak anak makin banyak yang bertengkar, benarkah? Tentu…… Terlebih saat usia mereka masih dini, saat dimana mereka belum mampu berfikir dengan penuh logika apalagi menimbang dengan penuh kebijaksaan. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengasah pola pikir mereka sejak dini. Bukan berarti kita tidak dapat mengasah kebijaksanaan mereka sejak dini. Kebijaksanaan seseorang itu tidak ditentukan oleh seberapa tinggi batang usia seorang manusia. Kebijaksaan sangat dipengaruhi oleh seberapa sering ia berlatih mengatasi permasalahan, mengambil pelajaran dan memperbaiki kesalahannya.

Memiliki banyak anak telah melatih kami untuk terus memperbaiki cara mengelola konflik diantara mereka. Bahkan dalam perjalanannya kini kami memiliki “SOP Perdamaian Keluarga”, sebuah pola komunikasi yang kami gunakan saat anak-anak bertengkar sementara kami tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya kecuali karena ada diantara mereka yang mengadu.
Kala ada yang datang mengadu….
Sambil menangis, kesal atau bahkan marah Si A mengadu tentang perlakuan si B “ummi… B Bla…bla…bla”
Dengan tenang saya merespon “Bilang sama B dipanggil ummi”
Biasanya anak-anak patuh untuk langsung datang menghadap begitu dipanggil pertama kali, tapi ada kalanya syeitan menggoda mereka untuk sedikit menguji kesabaran saya, dan mereka pun enggan memenuhi panggilan tersebut.
“panggilan kepada B, diminta hadir menghadap ibu Kiki Barkiah” dengan tenang dan bernada kokoh kalimat itu yang biasa saya keluarkan untuk panggilan yang diabaikan. Jika B tidak juga kunjung datang manghadap, saya biasanya berkata”oke, let’s talk later, but you still have a problem!” Terkadang anak-anak memiliki penolakan untuk menyelesaikan masalah mereka saat itu juga. Oleh karena itu saya memberikan ruang dan waktu baginya untuk berfikir dan menenangkan diri.
” i am very busy right now, but i need to talk with you, let’s talk later, and you still have a problem” Kalimat ini yang biasanya saya sampaikan saat saya harus menunda diskusi penyelesaian masalah bila tengah berada dalam pekerjaan yang sulit ditinggalkan. Melatih mereka menyelesaikan konflik membutuhkan alokasi waktu tersendiri yang tidak bisa dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain.
kalimat “ok! Let’s talk later, but you still have a problem” atau kalimat “your problem is not done yet!” biasanya saya sampaikan saat mereka belum mau bekerjasama menyelesaikan persoalan, anak-anak sangat mengerti bahwa saat itu mereka sedang berada dalam sebuah masalah yang berarti akan menunda mereka mendapatkan ijin-ijin tertentu. Misal, ketika tiba saat mereka mendapat hak untuk menonton atau bermain games, saya biasanya menyampaikan “ok! but you have to finish your problem with your brother/sister” sehingga biasanya saat mereka sudah tenang, meereka bersedia bekerjasama menjelaskan duduk persoalan diantara mereka dan menyelesaikannya.
Saat anak-anak siap bekerjasama untuk berdiskusi
Ummi: “do you have a problem with A?”
Lalu saya membiarkan B mengemukakan pendapatnya, biasanya disinilah mulai terjadi saling menyalahkan. Biasanya masing-masing memiliki pandangan sesuai dengan versimereka masing-masing.
Saat B menunjukkan kesalahan A, dengan tenang saya bertanya kepada A “is that right?” Biasanya A pun masih sibuk membela diri. Saat diskusi tidak mampu menemukan titik temu saya biasanya berkata “it’s ok if you are not ready to talk with me now. let’s talk later but your problem is not done yet!” biasanya anak-anak merasa keberatan jika saya menunda penyelesaian masalah karena menunda penyelesaian masalah berarti menunda turunnya hak-hak kesenanangan mereka. Dari situ mulailah satu persatu mereka berbicara lebih jujur terhadap permasalahan yang sebenernya.
“so in your opinion, what is your own mistake?” biasanya saya bertanya tentang kesalahan mereka masing-masing dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyebutkan kesalahan mereka. “So what you should do now?” biasanya mereka sendiri yang menjawab cara menyelesaikan masalahnya, misal dengan meminta maaf. “So what the lesson that you get from this case?” biasanya saya minta mereka sendiri yang mengurai hikmahnya, apa yamg seharusnya mereka lakukan saat menghadapi kasus yang sama. Setiap anak menjawab masing-masing setiap pertanyaan ini. Hanya mereka yang menjawab semua pertanyaan ini yang dinyatakan selesai keluar dari masalah. Lalu biasanya secara berurutan mereka meminta maaf sesuai urutan kejadian kesalahan. ” Ok guys your problem done!”
Kami sangat mengerti bahwa perkelahian diantara anak-anak usia kecil bukanlah menunjukan kenakalan mereka. Mereka hanya belum mampu mengurai dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Disinilah kesempatan besar bagi kami untuk mengajarkan kebijaksanaaan. Membiarkan mereka menilai kesalahan mereka sendiri serta solusi yang ingin mereka ambil. Tidak ada kamus yang besar harus mengalah kecuali dengan memberikan sebuah pertanyaan “Siapa yang mau memudahkan urusan kita kali ini?” “Siapa yang mau dapat pahala dari Allah dengan memudahkan urusan ini?” lalu biasanya diantara mereka ada yang berlomba-lomba untuk memudahkan urusan. Pelukan, ciuman, pujian kami berikan bagi siapa saja yang ingin mengalah dan memudahkan urusan, entah itu kakak atau adik, entah itu yang muda atau yang tua. Jika dalam sebuah kasus kami sangat berharap kakak lebih mengerti dan mau mengalah biasanya tanpa mengeluarkan perintah bahwa yang besar harus mengalah, saya menyampaikan “Ummi sangat berharap yang lebih besar lebih bisa mengerti, lebih bisa kerjasama. Siapa lagi yang bisa lebih ummi harapkan untuk kerjasama kalo gak sama yang lebih besar?” biasanya anak-anak yang usianya lebih besar akhirnya mau mengalah.
Begitulah kira-kira suasana persidangan di rumah kami yang terkadang bisa menghabiskan waktu 30 menit sampai 1 jam untuk sebuah kesempatan menggali hikmah. Bahkan terkadang ditengah kesibukan, persidangan harus kami tunda di waktu malam menjelang tidur. Atau bahkan terpaksa harus memberhentikan mobil di pinggir jalan jika permasalahan betul-betul harus diselesaikan saat itu juga. Kami sadar bahwa kehidupan hanyalah rangkaian masalah dan penyelesaian masalah. Untuk itu kami ingin sekali mengasah kebijaksanaan mereka sejak usia dini, mulai dari perkelahian-perkelahian diantara mereka
Ditulis di San Jose California, Korea, dan Singapura, diselesaikan di Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang terus belajar dan mengajarkan tentang kebijaksanaan mengelola masalah
Kiki Barkiah

Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 55 – Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

CKSPA Episode 55 – Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55

Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

Semakin renyah rasanya diskusi dalam keluarga kami, atau mungkin Allah sengaja menghadirkan diskusi-diskusi ini agar menjadi jalan untuk membuka diskusi-diskusi dalam keluarga lainnya melalui curahan hati yang saya tulis.

Suatu malam, saya sedang memberikan pengertian kepada anak-anak agar mereka lebih siap menerima perbedaan kondisi sarana prasarana yang akan kami miliki di tanah air saat kami hijrah nanti. Diskusi ini memang sering saya lontarkan supaya anak-anak lebih siap, lebih lapang dada, dan lebih bisa menyesuaikan kondisi saat berada di tanah air nanti.

Ummi: “nanti rumah kita di bandung, kamarnya hanya 2, kalo bapak lagi gak di bandung, teteh tidur di kamar ummi, anak laki-laki tidur satu kamar, tapi kalo bapak sedang ke bandung, bapak tidur di kamar ummi, teteh tidur di kamar satu lagi, dan pakai kasur yang terpisah, tapi aa harus tidur di ruang tamu”
Shafiyah: “why is aa not allowed to sleep with me, but shiddiq is allowed?”
Ummi: “karena aa sudah lebih dari selupuh tahun, kata rasulullah anak laki-laki dan perempuan harus dipisahkan tidurnya kalo sudah berumur 10 tahun. Bahkan kata rasul anak laki-laki dengan anak laki-laki atau anak perempuan dengan anak perempuan tidak boleh tidur satu selimut kalo sudah 10 tahun.
Shafiyah:.”how about in different bed but still in one blanket? Because sometimes Shiddiq with aa do like that!”
Shiddiq “yes sometimes i do like that because the blanket is so big!”
Ummi: “iya gak papa, yang penting ranjangnya pisah. Gak usah bobo peluk-pelukan”
Shiddiq: “but why husband and wife can sleep together?”
Ummi: “kalo suami istri boleh, kata Allah halal. Sodara kandung juga boleh, tapi sebelum umur 10 tahun”
Shiddiq:” how about with friends when they sleepover?”
Ummi: “kalo laki-laki sama temen laki-laki, dan perempuan sama temen perempuan boleh, tapi kalo diatas 10 tahun gak boleh satu selimut”
Shiddiq: “How about boys and girls sleep over? Like two boys with one girl”
Ummi: “ya gak boleh atuh, sama sodara juga kalo sudah besar gak boleh apalagi sama orang lain, kecuali suami sama istri”
Shiddiq: “how about if 100 boys with one girl sleep over, hahahah oh my God!”
Ummi: “shiddiq…shiddiq…. ya gak boleh atuh, jangankan boys and girls sleep over, bersentuhan kulit aja kata rasulullah gak boleh, salaman aja gak boleh!”
Shafiyah: “really ummi? Even when we make a mistake?” (Salaman minta maaf maksudnya)
Ummi: “ya kalo mau minta maaf salamannya dari jauh aja gak usah kena”
Shafiyah: “or we can just say sorry”
Ummi: “pokoknya anak laki-laki dan perempuan boleh main bareng-bareng yang gak boleh saling bersentuhan, trus mainnya rame-rame gak usah berdua”
Shiddiq: “how about if i accidently touch the girls?”
Ummi: “ya kalau gak sengaja gak papa”
Shiddiq: “how about if I touch the boys?”
Ummi: “ya boleh asal sentuhannya biasa aja gak berlebihan”
Shiddiq: “how about if take a bath together?”
Ummi: “ya kalau bayi sama bayi boleh kalo udah agak besar gak boleh”
Begitulah sederetan pertanyaan anak-anak yang memberikan peluang bagi kami untuk mengenalkan aturan Allah. Alhamdulillah biasanya ketika mereka tau bahwa perintah itu datang dari Allah dan Rasulullah salallahu alaihi wassalam, anak-anak cederung lebih sami’na waato’na (kami dengar kami taat). Berbeda ketika peraturan itu muncul dari orang tua, pertanyan “why ” akan lebih banyak bermunculan dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain sampai kemudian mereka sepakat.
Bagi keluarga kami, pertanyaan menjadi sebuah kesempatan besar untuk terbukanya kunci-kunci ilmu baik ayat kauniyah maupun kauliyah Allah.
Sebelum mereka terjun kedunia remaja, sebelum mereka banyak berinteraksi dengan orang lain, alhamdulillah Allah memberikan banyak kesempatan bagi kami untuk berikhtiar membangun imunitas mereka sehingga mereka tau mana yang baik mana yang buruk. Semoga Allah menundukkan hati kita dan keturunan kita untuk menerima perintah Allah dengan sami’na wa ato’na, kami dengar kami taat. Kelak sejalan dengan bertambahnya ilmu, mereka akan mengerti hikmah dibalik aturan Allah dan rasulNya.
Namun apakah pengertian dalam sudut pandang agama sudah cukup untuk menghindarkan mereka dari bahaya pergaulan bebas? Apakah pemahaman mereka tentang larangan Allah ini
telah menjamin mereka terbebas dari dosa? Kenyataannya, saya sulit sekali untuk memberi jawaban iya. Mengingat begitu besar godaan kemaksiatan di kalangan remaja saat ini. Mengingat hal tersebut juga telah terjadi dalam lingkungan orang-orang beragama bahkan dalam lingkungan pendidikan yang kental dengan nilai agama. Tidak….! Pengertian tentang halal dan haram belum mampu sepenuhnya menghindarkan kita untuk terlepas darinya.
Maka selain hati dan lisan ini terus meminta kepada Sang Penggenggam Jiwa anak-anak, agar mereka senantiasa dalam kebaikan, dijauhkan dari segala keburukan dan kemaksiatan, kami ingin berusaha memberikan benteng terbaik dalam keluarga bagi anak-anak kami tercinta. Kami berusaha untuk memberikan cinta, kasih sayang dan perhatian dalam keluarga. Semoga dengannya anak-anak tidak terlalu haus mencari perhatian, cinta, dan kasih sayang dari pihak lainnya. Kami berusaha untuk menghargai dan menerima mereka seutuhnya dan apa adanya. Semoga dengannya anak-anak tidak perlu bersikap berlebihan di luar kewajaran demi mendapatkan pengakuan dalam Iingkungannya. Kami berusaha membantu menemukan potensi, minat dan bakat mereka sedari dini, serta menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangannya. Semoga dengannya mereka senantiasa melampiaskan energi mereka pada hal yang positif, serta mendapatkan kepuasan batin dalam sebuah eksistensi yang positif. Kami berusaha menjadi tempat yang nyaman baginya untuk bercerita di masa kecil, menghargai setiap pemikiran dan keinginannya. Semoga dengan itu mereka tetap nyaman untuk dekat dan berbagi dengan kami ketika mereka beranjak dewasa, saat dimana kami harus lebih berdiskusi lebih detail tentang kebaikan dan keburukan. Kami berusaha memperkaya pengalaman masa kecil mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, meminimalisir kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Semoga dengannya kelak mereka menemukan kesibukan diri yang produktif sehingga mereka tidak lagi memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi bermaksiat kepada Allah. Kami berusaha menghadirkan sosok lawan jenis yang penuh cinta bagi mereka, menjadi ibu yang dekat dan menyayangi anak-anak laki-laki, menjadi ayah yang dekat dan menyayangi anak-anak perempuan. Semoga dengannya mereka merasa terpenuhi kebutuhan akan sosok lawan jenis, sehingga mereka tidak perlu haus mencari sosok pengganti untuk mereka apalagi harus berperilaku yang menyimpang karena kebencian mereka terhadap gender tertentu. Kami juga berusaha menjadi teladan dalam memperlakukan orang lain khususnya pasangan. Suami menunjukkan kasih sayang dan kelembutan kepada istrinya, agar anak-anak laki-laki belajar memperlakukan perempuan dengan penuh penghargaan. Istri menunjukkan bakti dan penghormatan kepada suami, agar anak-anak perempuan belajar untuk menghormati laki-laki. Semoga dengannya kelak mereka belajar memperlakukan pasangan mereka dengan baik. Kami berusaha memberikan teladan dalam menutup aurat serta mengajarkan mereka tentang adab dan konsep aurat, memakaikan mereka pakaian-pakaian yang sesuai dengab syariat. Semoga dengannya anak-anak dapat menutup aurat dengan baik serta menjaga pandangan mata mereka dari sesuatu yang haram untuk mereka lihat. Kami berusaha memilihkan mereka lingkungan bergaul yang baik, meminimalisir pengaruh buruk yang bisa merusak fitrah mereka. Semoga dengannya mereka memiliki teman-teman yang mendekatkan mereka pada jalan kebaikan serta pandai menempatkan diri dalam lingkungan yang tidak sejalan dalam nilai-nilai yang kami anut. Kami berusaha mengenalkan mereka dengan kisah-kisah teladan dari orang-orang baik yang gemar melakukan kebaikan. Semoga dengannya mereka bisa mengidolakan orang-orang yang akan memotivasinya untuk selalu lebih baik dalam jalan kebaikan. Kami berusaha untuk mengajarkan kemandirian dan kematangan karakter sejak dini sehingga kelak jika hasrat mereka terhadap lawan jenis tidak mampu lagi ditahan melalui ibadah memperbanyak shaum, maka mereka telah siap untuk menyalurkannya dalam jalan yang benar melalui pernikahan.
Ya Allah, kami memang bukanlah seorang yang terbebas dari dosa. Namun ijinkan kami bertaubat dan memperbaiki kesalahan kami. Berikhtiar dengan ikhtiar terbaik dalam mendidik anak-anak kami agar mereka menjadi generasi yang senantiasa menjaga kesucian dirinya dan terlepas dan segala keburukan bebasnya pergaulan saat ini. Aamiin
Catatan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalamRiyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226
San Jose, California
Dari seorang hamba yang berusaha mensucikan diri dan keluarganya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 54 – Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

CKSPA Episode 54 – Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

Saat sahur bersama keluarga Ali berkata pada adik-adiknya “guys, for now you just learn how to fasting, you can break your fast if you feel really want to break your fast. Allah wants to make easy and Allah doesn’t want to make you hard. That’s what Allah says in the surah al baqarah” lalu ia pun sedikit berceramah tetang isi surat al baqoroh pada kami.

Jujur, pengetahuan Ali (11 tahun) tentang tafsir quran, sirah rasulullah dan sahabat beserta kolerasi hikmahnya di masa kini, serta sejarah dunia dan dunia islam jauh melebihi saya, atau paling tidak setara dengan sang ayah yang juga gemar membaca. Ternyata salah satu peran yang perlu kami jalankan sebagai orang tua di awal-awal kehidupan seorang anak adalah membangun lingkungan yang kondusif untuk menjadikan mereka seorang manusia pembelajar. Setiap anak memiliki fitrah agama dan fitrah pembelajar. Fitrah ini pula yang mendorong mereka untuk terus belajar mendalami agama dengan kecepatannya sendiri.
Dulu ketika ia masih kecil, sirah rasulullah, kisah nabi dan sirah sahabat menjadi salah satu menu yang kami sajikan dalam santapan ilmu hariannya. Namun meski ia sudah menamatkan buku-buku yang membahas tentang itu, ternyata tidak membuatnya bosan untuk kembali mempelajarinya. Pertemuannya dengan seorang syeikh yang begitu dalam ilmunya membuat ia begitu jatuh cinta mempelajari islam darinya, meski hanya melalui 1-2 jam kuliah melalui internet setiap harinya. Seperti halnya mengafal quran, mendengarkan kuliah Yasir Qodhi di youtube menjadi salah satu santapan harian Ali.Setelah Ali menamatkan 100 episode sirah Yasir Qodhi ia pernah menyampaikan pada saya bahwa ia begitu menikmati mempelajari islam. Dari sirah yang ia pelajari ia bisa mengetahui asbabul nuzul dan tafsir-tafsir sebagian ayat quran. Maka ia begitu tertarik mempelajari tafsir quran. Ia menyatakan sendiri pada kami bahwa ia ingin meneruskan kebiasaannya mendengarkan kuliah agama setiap hari di youtube untuk mengikuti kuliah tafsir. Maka beberapa minggu kebelakang ia sedang begitu sangat menikmati kuliah tafsir Yasir Qodhi atau Nouman Ali Khan. Ia begitu haus akan ilmu sehingga ia belajar begitu cepat, begitu dalam, bahkan sering sekali mengajarkan kami dan adik-adiknya tentang agama.
Namun berbeda dengan ilmu dunia, ilmu agama tidak cukup jika dipelajari hanya dari buku atau media tanpa adanya guru. Bagaimanapun Ali tetap membutuhkan komunitas muslim dan merasakan persaudaraan islam. Sehingga kami tetap mengikutkannya dalam sekolah akhir pekan (sunday school) meskipun pada awalnya ada pertentangan yang memicu perkelahian antara kami dengan Ali setahun yang lalu (saat ia berusia 10 tahun).
Kami mengerti bahwa Ali merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan belajarnya akan islam di Sunday School. Tapi kami tidak ingin membiarkan ia bersikap menyepelekan dan tidak menghargai forum ilmu yang ia jalani. Kami tidak ingin ada sebiji zarah pun kesombongan dalam dirinya ketika ia berada dalam sebuah forum ilmu yang ia wujudkan dengan pengabaian terhadap materi di kelas. Pertengkaran kami diawali oleh perintah ayahnya untuk belajar mempersiapkan ujian akhir sunday school. Ali yang terlihat menyepelekan dan tidak bersemangat mempersiapkan ujian membuat ayahnya sedikit marah. Awalanya saya hanya menyimak saat ayahnya menasihatinya. Saya pun sedang sibuk menyusui dan sudah setengah tidur karena lelah. Ali menangis dan menghampiri saya, berkata “This is not my idea to go to sunday school” Saya yang pada saat itu sedang sangat mengantuk berat pun terpancing marah dan berkata “Yes this is our idea!!! Because we are your parent!!” Setelah istigfar dan menangkan diri, saya berbicara padanya bahwa keputusan mengikutkannya pada Sunday School adalah salah satu ikhtiar kami untuk menjaga fitrahnya dalam beragama. Kami tidak mampu mendaftarkan mereka ke sekolah islam di Amerika yang luar biasa mahalnya, sementara kami juga tidak merasa mampu untuk menjadi satu-satunya guru yang membimbingnya dalam hal agama. Bagaimanapun ia membutuhkan guru dan komunitas muslim. “Oke Aa, sekarang begini saja…. Aa pikirin apa ide dari aa untuk belajar agama, kalau memang aa punya cara yang lebih baik untuk menjaga fitrah aa dan mendekatkan diri aa ke surga, ummi ikut cara aa. Silahkan aa pikirin, besok kita bicara lagi”
Keesokan harinya diskusi kami lanjutkan dalam suasana yang lebih tenang. Namun ia pun belum terlalu memiliki ide yang lebih baik kecuali mengikuti ide kami untuk belajar islam di Sunday School. “Ummi mengerti kamu punya kebutuhan yang berbeda untuk belajar agama, ummi tau kamu bosan dengan pelajaran di sunday school. Begini saja, aa niatkan sunday school sebagai forum ilmu untuk mencari keberkahan, disana kamu bisa bertemu saudara-saudaramu seislam. Ummi hanya minta kamu bersikap baik dan menghormati gurumu di dalam kelas. Sementara untuk belajar yang sesuai dengan aa inginkan, aa bisa dalami via online bersama ummi. Ummi minta aa bersabar, terkadang Allah menginginkan kebaikan di balik sesuatu meski saat ini kita berat melaksanakannya”
Setelah itu ia kami minta untuk membuat rencananya sendiri dalam mendalami agama sebagai bekal utama kehidupannya. Dari mana saja sumber yang ingin ia pelajari, berapa banyak kuliah yang ia ingin ikuti setiap pekan, kapan ia memiliki taget untuk menjadi hafidz quran, lalu berapa baris quran yang ingin ia upayakan untuk mencapai targetnya.
Sayapun meminta maaf atas sikap kemarahan saya padanya malam itu. Saya begitu sangat lelah sehingga tidak dapat mengontrol emosi saya. Ali pun sempat menutup pembicaraan kami dengan berkata “ummi i will try to not make you mad more than 3 times in 10 years” hahahaha rupanya ia menghitung kemarahan dasyat saya dalam 10 tahun kehidupannya. Seingatnya ada 3 kali kemarahan seperti ini, yaitu saat ia berbohong dan saat ia tidak bertanggungjawab.
Pada awalnya ia menjalankan rencananya sendiri dengan tidak mudah. Ia masih harus terus diingatkan untuk melaksanakannya, juga masih sulit mencapai target yang ia buat sendiri. Tapi masya Allah atas ijin Allah, lama kelamaan kesulitan itu menjadi lebih mudah. Lama kelamaan kewajiban itu menjadi kebiasaan. Lama kelamaan kebiasaan itu menjadi kebutuhan. Sehingga ketika saya bertanya di pagi hari tentang kegiatan apa yang ingin ia lakukan terlebih dahulu, ia sering memilih untuk menghafal quran. Ketika cuaca sangat dingin dan semua orang malas bergerak sarapan pagi, maka ia biasa mendengarkan kuliah di youtube di dalam selimutnya.
Saya pun sangat bersyukur pada Allah, setelah pertengkaran itu, sikapnya di Sunday School semakin lebih baik. Ia pun semakin menikmati kebersamaannya dengan saudara-saudara seiman. Apalagi saat itu ia sudah menjalankan homeschooling, sehingga sunday school menjadi ajang untuk sosialisasinya. Ketika gurunya bertanya apakah ia mau dipindahkan ke kelas khusus untuk mata pelajaran quran ke level yang lebih tinggi, Ali pun menolak dan memilih tetap bersama teman teman sekelasnya karena ia meniatkan kelas tersebut untuk memurojaah hafalan lamanya. Alhamdulillah di akhir tahun ia pun dapat kesempatan memenangkan juara 1 islamic quiz yang diselenggarakan di sekolahnya.
Ada ruang dimana kita bisa memberikan kebebasan untuk memilih antara menjalankan atau tidak menjalankan. Namun adakalanya tidak ada ruang pilihan yang bisa kita berikan kepada anak-anak ketika hal itu sudah menjadi kewajiban. Namun kita masih bisa mencari cara terbaik yang kita sepakati bersama dalam menjalankan kewajiban itu. Memiliki bekal ilmu agama adalah kewajiban setiap manusia. Jauh lebih penting dari ilmu-ilmu lainnya. Tidaklah berguna sekian keahlian yang dimiliki anak-anak kita yang mereka dapat dari sekian kursus dan lembaga pendidikan jika tidak memiliki ilmu dasar agama. Bagi kami, memberikan kesempatan bagi anak-anak dalam memperdalam ilmu agama bukan berarti mengarahkan mereka harus menjadi ahli dalam ilmu syariat. Paling tidak cukup memberikan bekal yang akan menuntun kehidupan mereka agar selamat di dunia dan akhirat. Namun ketika kami memilih cita-cita untuk mendapat kedudukan istimewa di akhirat, maka jalan dakwah adalah jalan terbaik yang paling memudahkan kita untuk meraihnya. Kita adalah dai sebelum apapun. Kita adalah dai yang pedagang, kita adalah dai yang ilmuwan, kita adalah dai yang insinyur, kita adalah dai yang menjadi guru, kita adalah dai yang direktur, apapun…apapun peran yang kelak mereka akan jalankan semoga dai adalah peran mereka yang utama.
Ya Allah alhamdulillah, terimakasih atas pertengkaran yang membawa keberkahan.
San Jose, California
Dari seorang ibu yang belajar agama bersama dan dari anak-anaknya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 53 – Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

CKSPA Episode 53 – Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53

Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

Entah bagaimana mereka mengawali candaan di dalam kamar, tiba-tiba saya yang tengah memasak mencuri-curi dengar. Saat itu Shiddiq sedang bercerita hayalan panjang lebar tentang kisah seseorang yang menikah kemudian istrinya meninggal kemudian menikah lagi kemudian meninggal lagi. Namun lucunya konseppernikahan ala Shiddiq dalam hayalannya itu menyebutkan beberapa benda seperti kucing, kambing, laptop, dll. Kakak- kakak tertawa terbahak-bahak, mereka berkomentar bahwa mana mungkin manusia bisa menikah dengan hewan atau barang karena menikah itu harus sesama satu spesies. Di sela-sela candaan itu saya mendengar Shiddiq berkata “and then he married with a boy, and the boy died too bla..bla..” Terdengar kakaknya berkomentar “How could men merried with men?”, sambil saling tertawa semuanya. Ah….. !!! Alhamdulillah ini kesempatan emas bagi saya membuka pembicaraan tentang wacana fenomena LGBT kepada anak-anak, pikir saya.
Di malam hari usai berbuka puasa saya pun membuka pembicaraan
“Btw ummi denger cerita idiq tadi siang soal menikah terus mati terus menikah lagi, kok menikahnya sama laptop, kucing, kambing sih?” Saudara-saudaranya pun kembali tertawa “Shiddiq menikah itu cuma bisa dengan spesies satu jenis, manusia dengan manusia, kucing dengan kucing, kodok denga kodok” kata saya sedikit mengajarkan materi sains. Lalu Shiddiq berkomentar “So Ocean can married with ocean!!” Semua keluargapun tertawa “no married is just for living thing, ocean is non living thing” kata Aa Ali.
Saya pun menyampaikan bahwa menikah itu hanya bisa dilakukan oleh makhluk dengan spesies yang sama tetapi antara laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Pernikahan antara sesama jenis tidak bisa dan tidak boleh dilakukan.
“eh tapi ada lho kaum yang suka menikah dengan sesama jenis, kaumnya nabi luth, siapa yang mau mendengar kisah nabi luth?” Ummi pun becerita singkat tentang kisah kaum nabi luth.
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).
Shiddiq: “Why they want to do that ummi?”
Ummi: “Ya karena mereka lebih memilih untuk ngikutin ajakan syeitan”
Saya menjawab dengan sangat abstrak karena bingung. Alhamdulillah guru asisten saya ikut membantu menjelaskan.
Ali: “syeitan always wanted to invite us to do the opposite of what Allah said, for example when the prophet saw commanded us to eat with our right hand, syeitan eat with the left hand. When people called by their father’s name (example,Ali bin Abi Thalib), in the world of the jinn they called by their maother’s name. That’s why in the sihr they use the mother’s name”
Shiddiq pun mengangguk-angguk
Ummi:”nah Shiddiq, kaum seperti kaum nabi luth yang di azab oleh Allah ini, sampai sekarang pun masih ada. Bahkan di Amerika banyaaaaaaaak sekali.”
Shiddiq dan Shafiyah: “really???”
Bapak: ” iya diq, mungkin kamu nanti liat di jalan ada bapak-bapak berdua jalan sama anaknya”
Ummi: “mungkin juga nanti idiq nemuin temen idiq yang orang tuanya dua-dua ibunya atau dua-duanga bapaknya, mereka itu orang yang gak mau nurutin perintah Allah dalam Al-quran padahal hal itu dilarang”
Shafiyah:”but, how they could have children if they are the same?”
Ali:”They addopt the children! They can’t have their own children”
Ummi:”nah yang kayak begitu gak boleh dalam islam”
Pembicaraan dengan Shafiyah dan Shiddiq hanya difokuskan sampai mereka tahu keberadaan fenomena tersebut dan bahwa itu dilarang dalam islam. Sementara pembicaraan saya terhadap Ali masih berlanjut.
Ummi:” Aa sekarang orang-orang itu banyak ngajarin hal seperti itu sama anak-anak agar mereka merasa bahwa hal seperti itu menjadi biasa aja. Sekarang banyak lho komik-komik yang beredar di anak-anak Indonesia yang nyontohin kayak gitu.”
Ali:”really??”
Ummi:”makanya aa gak bisa sembarangan baca apa yang lagi temen-temen aa baca, begitu juga nanti kalo kita lagi pulang ke Indonesia. Aa harus tanya dulu sama ummi dan bapak, biar kita bisa pelajari reviewnya apakah buku itu baik atau nggak, bermanfaat atau nggak, kalo gak, ummi dan bapak akan carikan buku lain yang bermafaat dan aa juga suka. Aa juga perlu lebih hati-hati kalo bertemen walau sama sesama jenis karena kita kan gak tau apa mereka punya pemikiran seperti kaum luth atau tidak. Kita kan gak tau buku apa yang mereka baca, film apa yang mereka tonton. Pokoknya kalo aa merasa ada perlakuan temen laki-laki aa yang dirasa gak wajar, ya aa harus hati-hati. Jaga aurat dan pandangan kamu gak cuma ke temen perempuan, tapi juga ke temen laki-laki”
Pembicaraan pun masih berlanjut di keesokan harinya. Setelah selesai salat subuh di masjid, saat adik-adiknya kembali tidur setelah sahur, saya meminta Ali menonton bersama wawancara syeikh Yasir Qodhi dalam the deen show tentang islam dan homosexual. Intinya syeikh yasir qodhi menerangkan beberapa point berikut ini:
1. Setiap manusia itu punya hasrat, seperti halnya beliau dan lelaki pada umumnya yang sangat tertarik jika melihat wanita cantik, namun apakah itu berarti bahwa kita berhak untuk mengikuti keinginan kita? Misal kita melihat barang, kita ingin sekali mencurinya, apakah dorongan itu berarti membolehkan kita mengikuti hawa nafsu kita? Perumpamaan ini yang beliau utarakan bagi mereka yang merasa bahwa hasrat menyukai lawan jenis merupakan fitrah bawaan, buka berarti kita harus mengikuti dan menyalurkannya. Ada perintah Allah yang membatasinya sehingga manusia harus berupaya melawan hasrat tersebut.
2. Menyukai sesama jenis tidak berarti membatalkan keislaman, seperti halnya seorang muslim yang meminum Alkohol tidak membatalkan keislaman. Namun terhadap orang seperti ini harus kita pahamkan bahwa mereka melanggar syariat islam.
Dalam ceramahnya syeikh Yasir Qodhi juga mengisahkan tentang seorang jamaah muslim yang berkonsultasi dengan beliau. Jamaah tersebut memiliki kecenderungan terhadapsesama jenis melebihi kecenderungannya terhadap lawan jenis. Namun karena ia mengerti tentang larangan Allah, ia berusaha untuk melawan keinginan tersebut ke.udian ia menikah dengan perempyan, dan masih baik sampai sekarang
Setelah mendengar ceramah, saya membuka kembali pembicaraan bersama Ali.
Ummi: “gimana tanggapan aa tentang ceramah tadi? ”
Ali:”if everyone becomes a thief, does not mean we should be thieves also”
Ummi:”betul sekali Ali, dunia ini sudah mengerikan nak, kebenaran itu tidak lagi tergatung pada apa yang memang benar tertulis dalam al-quran atau sunnah. Jaman sekarang kalo semua orang mengangap itu benar, walaupun itu salah, orang akan menganggap yang salah itu menjadi benar. Dan menganggap orang-orang yang mempertahankan kebenaran sebagai orang yang aneh bahkan salah. Nah dulu dalam sejarahnya, di dunia kedokteran menyatakan bahwa perilaku homosexual ini merupakan suatu penyimpangan. Nah kemudian di era tahun 70an kalo gak salah, tiba-tiba hal ini tidak lagi terdapat dalam literatur kedokteran sebagai suatu penyakit, jadi hal ini dianggap wajar menjadi bagian dari jenis-jenis kepribadian manusia. Bahkan ianehnya jaman sekarang, bagi mereka yang menentang keberadaan homosexual justru dianggap aneh, dianggap tidak menghargai kesetaraan hak asasi manusia, dianggap mendiskriminasikan kelompok”
Pembicaraan dengan tema ini masih berlanjut pajang mendominasi suasana homeschooling bersama Ali hari itu. Ia menonton film harun yahya tentang becana kaum sodom, kemudian sesekali mendiskusikannya dengan saya. Seharian kami berdiskusi tentang bagaimana bergesernya nilai-nilai kebenaran yang dianut masyarakat khususnya remaja. Saya pun mengingatkan Ali untuk tetap percaya diri mempertahakan keyakinan yang ia anut meski ia akan sedikit merasa berbeda pada beberapa hal dengan teman-teman lainnya.
Di malam hari Ali menutup pembicaraan kami dengan sebuah pertayaan. “Ummi, Nouman Ali Khan said that nowadays people make opinions and then they look for Quran verses to support their thought. We should read and study the Qur’an and then we could have a view from Quran!”
Ya Allah, semoga lisan ini tidak salah dalam menyampaikan kepada mereka.
Saya lebih memilih untuk memulai pembicaraan ini lebih dulu kepada anak-anak sebelum pandangan lain memberikan pandangannya kepada anak-anak. Saya lebih memilih untuk mengenalkan fenomena yang ada di masyarakat di balik jendela kemurnian fitrah mereka yang kami jaga di dalam rumah, sebelum mereka terjun langsung merasakan realita. Saya harus memilih, walau mungkin tidak tepat waktu atau caranya, tapi paling tidak yang saya sampaikan pada mereka adalah sebuah kebenaran. Sementara diluar sana banyak orang yang dengan percaya diri menyampaikan pemikiran kosong dan tanpa dasar di dunia publik.
Ya Allah, saya memang bukanlah saintis yang mampu berdebat membicarakan tentang kromosom Xq28, berdebat tentang apakah homosexual natural atau nurture. Saya juga sedang tidak memiliki banyak energi menjadi aktivis ham yang mampu menarik urat berdebat panjang dengan mereka yang memperjuangakan kesetaraan. Saya hanyalah hamba Allah yang berusaha untuk taat terhadap perintah Allah. Saya hanyalah seorang ibu yang ingin menjaga fitrah anak-anaknya dan ingin mengajak para orang tua lainnya untuk berpegangan erat dengan pasangan kita dan memeluk erat anak-anak kita dalam emnjaga fitrah mereka ditengah jaman yang wong edan ini. Saya hanyalah seorang ibu yang berusaha mendidik anak perempuan untuk menjaga fitrahnya sebagai perempuan, dan mendidik anak laki-laki untuk menjaga fitrahnya sebagai laki-laki.
Ya Allah jagalah kami dan keturunan kami dari siksa api neraka. Ya Allah jagalah kami dan keturunan kami dari fitnah dunia dan fitnah dajjal di akhir zaman ini.
San Jose, California
Dari seorang hamba yang berharap penjagaan Rabbnya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 52 – Satpam Gadget yang Cerewet

CKSPA Episode 52 – Satpam Gadget yang Cerewet

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 52

Satpam Gadget yang Cerewet

Di pagi hari sebelum jam 8…..
Ali: “ummi i am done with my standard, can i have my one hour?”

Setiap pagi ada hadiah 1 jam bermain games multimedia atau menonton film non kurikulum homeschooling bagi anak-anak yang telah berhasil menyelesaikan seluruh tugas standar harian di hari sebelumnya. Diantaranya menyelesaikan sekolah, belajar islam, tilawah quran, menghafal quran, membantu orang tua serta mandi di hari mandi (terkait cuaca, rata-rata orang amerika tidak mandi setiap hari, kami membuat jadwal mandi 3 kali dalam setiap minggunya). Hadiah ini dapat diambil setelah menyelesaikan standar tugas pagi sebelum jam 8 pagi. Jika terlambat mempersiapkan standar pagi berarti durasi hadiah disesuaikan dengan waktu yang tersisa. Standar pagi adalah berseka, sarapan, gosok gigi, ganti baju, membereskan kasur. Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, perjanjian bersama didalam keluarga memang dibuat agar semua orang melaksanakan rutinitasnya sehingga kelak menjadi sebuah gaya hidup keluarga.

Kala ada anak yang bermalas-masalan di pagi hari dan belum mau bergerak untuk sarapan, ummi mengangkutnya ke ruang keluarga lalu menyalakan film yang terkait dengan kurikulum belajar islam mereka. Sehingga walau bermalas-masalan dan masih mengantuk, anak-anak biasanya menjadi lebih segar setelah memutar 1 tayangan. Setelah selesai 1 tayangan, ummi memberhentikan sejenak, lalu meminta mereka menyelesaikan standar pagi. Sambil sarapan, biasanya ummi memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dari tayangan yang disajikan pagi itu. Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, ummi juga tidak suka melihat anak-anak menganggur tanpa aktifitas. Maka ummi lebih memilih menyalakan multimedia pembelajaran untuk membuat mata anak-anak segar di pagi hari dibanding marah-marah meminta anak-anak bergerak. Toh jika anak tidak juga bergerak, maka 1 jam hadiah itupun berlalu. “ummi i am done with my standard” kata anak-anak yang terlambat mempersiapkan standar pagi. “ok! masih ada waktu 15 menit setelah itu kita mulai sekolahnya”

Kala cuaca sangat dingin bada subuh, biasanya semua orang enggan keluar selimut. “ummi, can i have password, i want to watch Syeikh Yasir Qodhi” kata Ali. Ali mengerti jatah bermain multimedia baru bisa ia dapat setelah menyelesaikan standar pagi, maka jika belum mau menyelesaikannya, ia akan memilih membaca atau menonton salah satu sumber pelajaran yang harus ia pelajari hari itu.

“ummi can i have my one hour, today?”
“sorry, kemarin kamu belum selesai kan tugas sekolahnya” kata ummi pada anak yang tidak menyelesaikan standar hariannya. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet. Jika anak-anak tidak menyelesaikan standar harian di hari kemarin, anak-anak akan kehilangan hadiah 1 jam bersama multimedia.

“ummi i am done hafalan, can i have my 15 minutes?” “yup!” lalu ummi pun membukakan password gadget mereka. “ummi can i have my 15 minutes?” tanya anak yang sudah selesai menghafal. “mmmm… kalo capek mau istirahat boleh main dulu, tapi kalo mau dapat 15 menit games komputer nambah sampai ayat ini ya” kata ummi ketika hafalan harian masih tercapai sedikit. Ah….ummi memang satpam gadget yang cerewet. Diluar 1 jam hadiah multimedia harian, jam multimedia baru didapat setelah hafalan anak-anak ada perkembangan atau setelah selesai murojaah gabungan ayat-ayat yang beberapa hari lalu dihafal. Dulu saat awal-awal menghafal hadiah 15 menit diberikan saat menyelesaikan 1 ayat quran, tapi setelah anak-anak begitu cepat dalam menghafal maka 15 menit baru bisa dicapai setelah beberapa baris hafalan baru tercapai. Suatu hari Shiddiq bertanya “ummi why we change our rules?, i have to hafalan more to get my 15 minutes” Ummi menjawab ” karena kalian sekarang menghafal semakin cepat. Kalo 1 ayat 15 menit sementara 1 ayat kalian hafal hanya sebentar maka akan lebih banyak menonton daripada menghafal quran” lalu saya pun balik bertanya apakah mereka mengetahui alasan saya mengapa saya membatasi jam menonton serta memilihkan jenis tontonan yang dapat mereka lihat. Shiddiq dan Shafiyah pun menjawab, tanda mereka mengerti tentang mengapa peraturan ini harus diberlakukan dalam keluarga.

Pernah ada sebuah pengalaman yang membuat saya tertawa, saat mereka berkunjung untuk playdate ke rumah teman, teman mereka menawarkan untuk menonton film, lalu Shiddiq menjawab “we can’t watch now, we did’t hafalan yet” hahahaha….

“Ummi can i watch this one?” kata anak yang memilih menghabiskan 15 menitnya dengan menonton. “sorry, kayaknya yang ini gak usah deh, gak terlalu banyak manfaatnya, yang di channel ini, ini, ini semua boleh” jawab ummi. Ah….ummi memang satpam gadget yang cerewet, tidak hanya jumlah waktu yang diatur tapi juga jenis games yang diijinkan di install atau judul film yang diijinkan untuk ditonton.

Saat ummi sibuk dan anak-anak diijinkan menonton multimedia pembelajaran. “ummi can we watch another?” tanya anak-anak. “Ya boleh setelah kalian presentasi isi film barusan” Jawab ummi. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat ummi sibuk di dapur dan anak-anak menonton, anak-anak harus berhenti setiap 1 film selesai untuk menjawab quiz atau mempresentasikan isi film, atau mendiskusikan, atau terkadang sesekali ummi menerangkan ulang dengan tambaan alat peraga. Setelah itu ummi pun kembali ke dapur dan anak-anak kembali menonton materi selanjutnya.

Saat berselancar di dunia maya untuk mengerjakan tugas, tiba-tiba keluar peringatan bahwa domain tersebut di blok. Ah… ummi memang satpam gadget yang cerewet. Ummi tidak hanya memberi password semua gadget di dalam rumah tapi juga memfilter semua situs yang dapat berbahaya bagi anak-anak.

Saat malam hari pukul 9.00, semua aplikasi dalam handphone anak-anak menghilang dan baru akan menyala bada subuh. Ah.. ummi memang satpam gadget yang cerewet, bahkan semua device yang digunakan anak-anak memiliki jam kerja tersendiri dan akan mati secara otomatis pada jam yang ditentukan.

Ah…ummi memang satpam gadget yang cerewet. saat ummi sibuk dan tidak bisa mendampingi anak-anak berselancar di youtube, ummi hanya memberikan akses youtube kids dengan durasi waktu yang sudah ditentukan, aplikasi tersebut secara otomatis akan berhenti saat jadwalnya habis dan dapat dibuka kembali setelah ummi membukanya.

Ah….. ummi memang satpam gadget yang cerewet. Setiap pagi ummi akan mengabsen anak-anak yang sedang bermain indoor apakah anak-anak sudah memegang device masing-masing untuk menghafal quran. Ummi pun membuatkan group-group ayat yang akan diputar selama masa menghafal berlangsung. Semua anak menghafal sambil bermain dan sesekali ummi memanggil untuk duduk disampinya dan mentalaqi ayat yang sedang dihafal. Sesekali ditengah anak-anak menghafal, ummi memberikan worksheet-worksheet tugas untuk pelajaran umum di homeschooling anak-anak.

Ah…..ummi memang satpam gadget yang cerewet. Saat anak-anak sudah terlihat bosan dengan kegiatan indoor yang tenang sambil menghafal quran, saat mereka sudah berari-lari dan ingin bermain bebas tanpa memegang device masing-masing, ummi pun akan memutar juz al quran yang sedang dihafal untuk murojaah anak-anak, lalu diputar dalam speaker keras yang terdengar meskipun anak-anak bermain di backyard.

Ah… ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat terdengar suara hening dirumah sementara ummi terlanjur sibuk mencuci piring dan lupa menyalakan quran untuk murojaah anak-anak, maka ummi pun akan berperan sebagai murottal bagi anak-anak dengan lisannya.

Saat anak-anak sedang keasyikan berlama-lama di depan komputer meski untuk urusan belajar, ummi berkata “sudah dulu nak belajarnya, istirahat dulu matanya, ayo keluar main, olahraga!” Ah… ummi memang satpam gajet yang cerewet, bahkan untuk urusan belajar, mendesain atau ekplorasi pun anak-anak tidak boleh terlalu lama-lama didepan layar multimedia.

Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat perjalanan dalam mobil, ummi akan meminta setiap anak memutarkan group ayat yang sedang dihafalnya dalam gadget mereka masing-masing. Kadang ummi menyalakan kajian sirah atau storytime agar perjalanan tidak terbuang percuma. Bahkan terkadang ummi meminta anak-anak mematikan semua gadget jika ada nasihat yang ingin ummi ceritakan sepanjang perjalanan. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet, ummi tidak pernah rela membiarkan waktu terbuang untuk sekedar melamun saja.

Memang dulu ummi tidak memberikan semua anak gadget, hanya mp3 player yang diisi 6000 sekian ayat al-quran. Kadang ummi memutarkan satu surat yang dihafal secara full, kadang dipenggal dalam group ayat. Tapi mengelompokan ayat yang dihafal dalam bentuk playlist cukup memakan waktu. Alhamdulillah kebetulan ummi mendapat rezeki handphone-handphone bekas tanpa nomer dari orang-orang amerika yang sudah menyelesaikan 2 tahun berlangganan nomer. Handphonenya masih sangat baik tetapi nomernya tidak aktif. Maka handphone inilah yang mereka gunakan untuk menghafal quran dengan aplikasi quran yang memungkinkan anak-anak memilih ayat yang sedang dihafal, mengulang-ngulang hingga bilangan yang tak terbatas sampai mereka hafal dan siap menyetorkan hafalannya kepada ummi. Handphone ini juga yang anak-anak gunakan untuk membaca ebook sebagai tugas pelajaran reading setiap hari dalam homeschooling mereka melalui aplikasi seperti epic dan amazon kindle. Ya, keluarga kami memang tidak bisa terpisahkan dari gadget untuk kepentingan belajar. Tapi keluarga kami memiliki satpam gadget yang cerewet.

Memproteksi gadget dengan memfilter situs yang bisa di akses, membuat password pengaman dalam setiap gadget, mengatur jam akses aplikasi di handphone anak-anak, memasang stop watch saat anak-anak menggunakan multimedia, hanyalah salah satu cara ikhtiar saja dalam mengatur penggunaan gadget dalam keluarga. Jauh yang lebih penting dari itu, anak-anak harus mengerti mengapa kami memilih kehidupan dengan cara seperti ini. Jauh yang lebih penting dari itu, adalah bagaimana anak-anak bersedia patuh terhadap aturan main bersama serta perintah dari orang tuanya. Ada kalanya syeitan menggoda anak-anak, saat tengah asyik bermultimedia, sementara ummi berbicara tidak didengar oleh mereka. Maka ummi pun berdoa dengan keras kepada Allah dihadapan mereka. “Ya Allah jadikanlah lisan kami lisan yang benar dan mengajak kepada kebenaran, lisan yang kalimatnya didengar dan dipatuhi anak-anak” dug…dug.dug lalu anak-anak berhamburan bergerak mengerjakan tugas yang diminta.

Ya…. Ummi memang satpam gadget yang cerewet. Ummi pun hanya mengijinkan jenis games yang bersifat merancang atau mendesain pada jam multimedia yang bersifat hadiah. Ummi pun hanya mengijinkan film-film yang bernuansa islami, memiliki nilai moral atau menambah wawasan pengetahuan pada jam multimedia yang bersifat hadiah. Ummi menginvestasikan hartanya untuk membayar chanel-chanel dan akses ebook pengetahuan yang bisa digunakan pada jam bersantai keluarga.

Suatu hari anak-anak mendapat hadiah akses games beserta karakter monster dari bazar reward PTA sunday school. Mereka pun bersemangat ingin mengecek jenis permainan apa gerangan. Setelah bapak mempelajarinya bapak berkata “perang-perangan mi!” Lalu ummi berkata pada anak-anak “maaf ya nak ummi gak bisa ijinkan kita buang saja hadiah ini” Alhamdulillah anak-anak mengerti mereka tidak marah ataupun bersedih “it is oke” kata mereka. “Nak….. Maaf ya nak keluarga kita memang berbeda tidak semua yang diijinkan keluarga lain diijinkan dirumah ini. Hadiah ini dari seorang muslim. Hadiah ini tidak haram tapi ini sia-sia. Kalian tau kenapa mereka membeli games seperti itu tapi kita tidak? Karena tidak semua keluarga muslim bercita-cita seperti kita menjadikan anak-anak mereka alim ulama dan orang yang ahli di bidangnya”

Anak-anakku…. Kita harus memilih. Ummi ingin kalian menjadi ahli ilmu dan ahli berkarya di bidangnya, maka saat ini ummi harus berperan menjadi satpam gadget yang cerewet.

San Jose, California
Dari satpam gadget yang cerewet
Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 51 – Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

CKSPA Episode 51 – Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

Shiddiq (5) anak ketiga kami, memang anak yang berkarakter keras dan belum memiliki kecerdasan emosi dalam menghadapi masalah jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya. Bentuk frustasinya sering sekali menguji konsistensi dan kesabaran kami sebagai orang tua. Suatu hari, Shiddiq sedang memiliki keinginan terhadap saya. Namun saat itu saya pun bersih keras berjanji baru akan membantunya jika ia sudah meminta maaf dan menyelesaikan masalah sebelumnya dengan Shafiyah. Rupanya tawar menawar itu membuat Shiddiq sangat marah. Ia mengancam akan memanjat jendela seperti pencuri jika saya tidak memenuhi keinginannya. Tentu saya mengerti ini adalah bentuknya untuk mencari perhatian. Saya pun mengabaikannya.
Merasa gagal ia semakin beraksi. Ia keluar membawa kursi, berteriak meminta adiknya membuka jendela kamar dari dalam. Kami pun terus mengabaikannya. Ia terus berteriak mengancam, lalu ia tingkatkan kehebohannya dalam mencari perhatian. Ia ambil perkakas di garasi sambil mengancam akan memecahkan jendela. Sementara kami pun terus mengabaikannya sambil saya berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari segala mara bahaya. Dia pun terus mencari perhatian “Ummi come here, i have surprise!” Saat Shafiyah (7) terpancing untuk melihat, ia pun tertawa sambil menunjukkan perkakas yang ia siapkan untuk memecahkan kaca. Betul saja bahwa ia hanya sedang mencari sensasi dan perhatian. Saya pun melarang semua anak merespon Shiddiq saat itu. Lalu saya berteriak dari balik kamar “Shiddiq, ummi sayang sama Shiddiq tapi ummi tidak suka cara Shiddiq minta perhatian ummi. Tidak akan ada orang di rumah ini yang berhasil meminta sesuatu dengan cara mengancam, ummi tau kamu sedang cari perhatian, kalo minta perhatian dengan cara ini, ummi akan abaikan, kalo Shiddiq mau diperhatikan ummi, lebih baik masuk ayo kita bikin Pizza bersama”. Merasa tidak berhasil menghabiskan waktu bermenit-menit diluar, ia pun menyerah masuk kedalam. Akhirnya ia pun meminta maaf atas perlakuan buruknya pada Shafiyah, kemudian saya memeluk dan menasihatinya.
Shiddiq….. Shiddiq…… memang ia anak yang lebih sering rewel saat meminta sesuatu, tapi saya dan ayahnya pun tetap bersikeras tidak akan memenuhinya kecuali ia menenangkan diri dan memperbaiki cara ia meminta. Bahkan ia pernah guling-guling di lorong mesjid karena menangis kecewa, sementara saya dengan muka “badak” terus meminta ia memperbaiki caranya dalam meminta. Tidak semua keinginannya kami kabulkan, sehingga ia sering berhenti setelah marah dalam waktu yang cukup lama karena menyerah, lalu kembali ikut aturan main dalam keluarga.
Ketika kesal menghadapi Shiddiq yang rewel, saya sering mengalihkan lisan saya dengan berdoa, walau dengan suara keras untuk menyalurkan kekesalan saya juga. Sampai suatu hari Ali pernah bilang “Ummi aku mau tantrum aja kayak Shiddiq biar didoain terus sama ummi kayak gini” Saya pun memperbaiki cara saya berdoa, menambahkan doa itu untuk anak-anak lainnya, serta mengucapkan dalam hati agar tidak menjadi seperti “hadiah” dalam berbuat kesalahan.
Saya yakin, saya masih percaya, bahwa Shiddiq melakukan itu bukan karena ia anak yang tidak baik. Ia hanya belum memiliki kesempurnaan pikiran dalam memutuskan sesuatu dengan cara yang bijaksana. Maka selain beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai orang tua, juga beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai seorang anak, kami terus berusaha menyampaikan nasihat dan ajaran agama dalam sesi homeschooling islamic study setiap harinya. Pernah bahkan saya bertanya pada suami, saat Shiddiq sedang berulah “Pak, insya Allah kita gak lupa berdoa kan saat kita ‘membuat’ Shiddiq?” Insya Allah kata bapak. Saya yakin dan saya percaya, nasihat-nasihat itu insya Allah kelak akan bermanfaat bagi masa depannya, meski saat ini ia masih belum terlalu bijaksana dalam mengambil sikap saat ia menghadapi masalahnya.
Ditengah kesedihan saya melihat sikap Shiddiq, tiba-tiba lamunan saya membawa pada memori sekitar 25 tahun silam saat saya masih kecil. Teringat saat pembantu saya membasuh dan mengeluarkan pecahan kaca dari kaki kakak saya Mohammad Ibrahim yang bersimpuh darah. Kakak saya kala itu mengamuk karena ditinggal ibu bekerja. Aa aim, sapaan untuk kakak, mengamuk sejadi-jadinya kemudian menendang kaca jendela sampai pecah hanya karena ingin menyusul sang ibu yang pergi bekerja. Lalu saya teringat bagaimana kondisi kakak saat ini, apakah ketidakbijaksanaan nya menyelesaikan masalah saat ia kecil berlanjut sampai dewasa? Ternyata tidak, dibawah “gemblengan” pendidikan ayah dan ibu, ia tumbuh menjadi pemuda yang matang di usia muda. Ia adalah pengganti ayah saat sudah tidak ada, juga seorang kakak dan pemimpin keluarga yang sangat bijaksana. Ia pun kini menjadi pemimpin yang berprestasi di kantornya meski usianya masih relatif muda bila dibandingkan jejeran pemimpin lainnya. Lalu saya pun teringat bahwa saat Aa Aim seusia Shiddiq ia pun tidak mau belajar di dalam kelas saat TK, mogok masuk kedalam kelas dan lebih suka bereksplorasi di luar kelas. Tapi setelah itu ia mengukir prestasi sepanjang penjalanan belajarnya. Hampir seluruh rapor nya ia hias dengan angka 1 dalam kolom peringkat kelas.
Saya pun teringat masa-masa saat melihat karakter keras dari saudara-saudara saya saat mereka masih kecil, ternyata karakter itu kini menjelma menjadi sebuah potensi di masa depan. Mereka yang gigih mempertahankan kemauannya di masa kecil ternyata kini adalah saudara yang sangat gigih meraih prestasi dan cita-cita mereka. Kegigihan itu pula yang membuat mereka bangkit dari kegagalan saat usaha mereka bangkrut sejadi-jadinya, sehingga alhamdulillah kini mereka berada pada kondisi kemampanan.
Memori itu memberikan saya harapan dan kepercayaan bahwa dengan kesabaran, keistiqomahan memberi nasihat dan terus memberikan teladan, saya yakin Shiddiq akan lebih baik dan baik-baik saja. Saya yakin, saya percaya tidak ada anak-anak usia dini yang nakal, yang ada hanyalah mereka yang masih membutuhkan bimbingan dalam bersikap menghadapi kehidupan, serta membutuhkan waktu dalam menyempurnakan pola pikir mereka pada masa usia dimana otak mereka masih terus berkembang. Insya Allah dengan doa dan ikhtiar kita menjaga fitrahnya, mereka akan lebih baik dan baik-baik saja. Selama kita terus menjaga kehalalan harta yang masuk dalam perut mereka dan mengawali proses pembuatan mereka dengan berdoa agar syaitan tidak turut andil saat proses penciptaan mereka.
San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berusaha beristigfar
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Hari ini Allah kembali menghibur saya, karena Allah tau saat ini saya sedang menghadapi banyak tantangan. Salah satu diantara sekian ujian kenaikan kelas jurusan kesabaran dan ketakwaan, saya diberi amanah Shiddiq yang istimewa dalam cara belajar. Sampai saat ini saya masih mencari jurus yang paling pas saat homeschooling agar Shiddiq mau berpartisipasi dalam pelajaran yang sesuai kurikulim wajib pemerintah. Beberapa hari lalu saya yang juga manusia biasa dan berjenis kelamin perempuan sedang merasa sangat melankolis. Saya mencurahkan perasaan saya saat fitness berdua bersama bapak. Saya mengutarakan keraguan saya dalam memilih homeschooling untuk Shiddiq. Saya merasa tidak cukup pintar dan menarik untuk membuat Shiddiq mau belajar bersama saya. Kemudian saya tiba-tiba merasa tidak percaya diri jika harus dibandingkan dengan para guru di Amerika yang bisa mengajar lebih menarik dan memiliki totalitas tenaga untuk membuat pelajaran menjadi sangat menarik dan mudah di mengerti. Sementara saya yang walau kadang memiliki banyak ide kreatif dalam belajar, merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk melaksanakannya jika sudah dihadapkan pada amanah 5 anak dan urusan rumah tangga. Suami saya yang bijaksana berceramah ditengah nafas yang terengah saat berlari di atas treadmill.

“Ummi jangan bandingkan pendidikan kita dengan pendidikan sekuler! Yang perlu ummi yakini adalah yakinlah bahwa kita berada di jalan yang benar dan suatu hari usaha kita akan membuahkan hasil untuk Shiddiq. Jangan berharap apa yang kita lakukan sekarang ini akan langsung kita lihat hasilnya saat ini juga. Kalo ummi ragu apakah jalan ini yang terbaik untuk Shiddiq, jangan tanya bapak karena bapak tidak tau. Lebih baik ummi istikhoroh lagi dan tanya pada Allah” kata beliau.
Saya pun mengangguk-angguk tersadarkan. Lalu teringat bahwa dulu saya hampir melalui cerita yang sama saat awal-awal mencari bentuk yang paling pas dalam metode pendidikan untuk Ali. Saya pun bertanya pada bapak saat itu apakah bapak merasa pilihan yang kami pilih untuk mendampingi Ali belajar mulai menunjukan hasilnya saat ini. Saya hampir lupa bahwa mengeluarkan Ali dari sekolah formal 4 tahun yang lalu pun masih memberi banyak cerita lika-liku hingga saat ini, meskipun sedikit demi sedikit titik terang itu mulai muncul.
Hari ini Ali mengikuti berbagai kegiatan workshop teknologi. Saat ia masuk dalam kelas programming video games, Ali yang memang belajar otodidak memiliki sedikit pengetahuan yang bisa ia bagi pada orang lain. Saat saya menemui Ali seorang ibu yang anaknya dibantu oleh Ali berkomentar. Ia mengatakan bahwa Ali sangat pintar, lalu ia bertanya dimanakah Ali bersekolah. Dengan penuh rasa syukur saya menjawab “he is a homeschooler. I have 5 kids and we are homeschooler” ibu itupun kaget, ia tau bahwa mengasuh banyak anak di Amerika tidaklah mudah apalagi memilih homeschooling. Ia tanya bagaimana saya mengajar mereka semua. Saya pun menjawab bahwa saya tidak mengajar Ali tetapi Ali mengajar dirinya sendiri. “When kids love to learn, they can learn anything by themselves” kata saya dengan penuh haru.
Seringkali kita sebagai orang tua berharap perubahan yang instan dalam meluruskan perilaku negatif anak termasuk dalam mendampingi mereka belajar. Meskipun sudah berusaha mencoba sekian langkah teori parenting dan metode pendidikan serta melengkapinya dengan doa, namun terkadang hasilnya masih jauh dari harapan kita. Apalagi jika meluruskan san membimbing dengan cara kekerasan lahir batin, bukan malah melakukan perubahan, tapi justru memperburuk keadaan.
Sebagian orang tua yang putus asa, mengakhiri upayanya dengan pelabelan terhadap anak. “Ah dasar kamu memang tidak pintar”, “Sudahlah memang dia pemalas”, “Emang bawaanya dia itu anak keras kepala, mau diapain lagi?”, “Dia memang anak pemalu”. Padahal pelabelan terhadap anak hanya akan membatasi karakter anak itu sendiri. Sikap pelabelan biasanya melahirkan pengabaian sehingga akhirnya kita menyerah meluruskan perilaku anak. Bahkan, ucapan pelabelan dari orang tua, terutama ibu, secara sadar atau tidak, dapat menjadi doa yang ampuh untuk diijabah. Belajar dari kesabaran Rasulullah saw dalam berdakwah, tidak semua orang yang beliau seru menjadi beriman secara instan. Tidak sedikit kasus dimana perubahannya justru muncul ketika Rasulullah telah tiada. Bahkan ada pula, kaum kerabat yang secara intensif beliau bina, namun tetap dalam kekafirannya sampai akhir hayatnya. Seperti paman Rasulullah saw, Abu Thalib yang begitu mendukung dakwah Rasulullah saw namun tetap dalam kekafirannya.
Tentunya kita berharap upaya kita membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa bimbingan kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Teruslah berupaya dengan disertai doa kepada Allah. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).
Jika keputusasaan mulai muncul dalam diri kita, ingatlah masa lalu kita, betapa orang tua kita juga bersabar lebih lama dalam menanti perubahan diri kita, yang kebanyakan berubah diwaktu dewasa.
San Jose, California
Dari seorang yang jatuh bangun membimbing putra-putrinya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

Perempuan-Perempuan Masa Depan

Perjalanan saya menjalani peran sebagai seorang ibu rumah tangga telah mengubah beberapa pemikiran saya dalam mendidik anak perempuan. Hal-hal yang tidak tercapai, belum tercapai, atau bahkan sudah terlewat masanya untuk dicapai, memberi peringatan tersendiri bagi diri saya untuk lebih mempersiapkan anak gadis kami yang insya Allah kelak di masa yang akan datang akan memerankan peran yang hampir sama yaitu ibu dan istri.

Alhamdulillah ditengah banyaknya anak laki-laki, Allah masih mempercayakan kami memiliki anak perempuan. Shafiyah (7 tahun) yang lembut, penuh kasih sayang, berjiwa keibuan, sangat perhatian terhadap keperluan saudara-saudaranya, penurut dan tertib mengikuti aturan, mandiri, serta cerdas dan tekun dalam belajar, sering menjadi penghibur hati saya ditengah tantangan-tantangan pengasuhan anak laki-laki yang penuh energi. Sejauh ini kekurangan dalam dirinya pun merupakan sifat yang sangat wajar bahkan dapat menjadi potensi yang baik untuk dimiliki oleh seorang perempuan, sangat pemalu dan terlalu perasa. Melihat perkembangannya memberikan harapan tersendiri bagi saya untuk lebih banyak mempersiapkan generasi wanita yang sholihah dan cerdas. Generasi para wanita yang kelak dari rahim mereka terlahir mujahid yang cerdas dan sholih serta mujahidah pendamping para mujahid yang melahirkan mujahid dan mujahidah lainnya. Jujur, seandainya Allah masih percaya, ingin sekali rasanya melahirkan banyak mujahidah dari rahim ini. Yang kelak insya Allah kami persiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga pendamping dan pendukung para mujahid yang bermanfaat bagi ummat. Aamiin
Menjadi ibu rumah tangga?? Mengapa hanya ibu rumah tangga?? Follower pun pernah bertanya pada saya, “apa gak sayang ijazah teknik elektro nya hanya jadi ibu rumah tangga?”
Semakin menjalani peran ibu rumah tangga, saya semakin mengerti mengapa dalam pandangan syariah tempat terbaik bagi seorang wanita ada dalam rumahnya. Meskipun begitu dalam sirah yang kita pelajari tergambar cuplikan kisah aktifitas sahabiyah di luar rumah seperti saat mereka menuntut ilmu dan mendampingi para sahabat dalam peperangan. Semakin menjalani peran ibu rumah tangga saya semakin mengerti mengapa wanita menjadi unsur penting dalam peradaban sebuah bangsa, jika kondisi wanita rusak maka rusaklah masyarakatnya.
Namun apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh menghasilkan uang? Bahkan Zainab binti Jahsy istri Rasulullah saw pun membuat sesuatu dari dalam rumahnya agar ia memiliki uang dari hasil keringatnya agar dapat bersedekah. Apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh berkiprah dan bermanfaat bagi masyarakat? Bahkan Aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah saw pun mendidik ummat ini dengan menjadi perawi pada sebagian besar hadist Rasulullah saw.
Ya! Kami ingin anak-anak perempuan kami menjadi ibu rumah tangga yang memiliki keahlian dan ilmu yang cukup dalam menjalankan kelima perannya. Sebagai hamba Allah, anak, ibu, istri, dan anggota masyarakat. Kami berharap dalam perjalanan mendidiknya, kami mempersiapkan dirinya untuk memiliki keahlian dasar dalam mengelola rumah tangga. Kelak akan ada masa dimana tidak ada lagi orang yang akan mau menjadi asisten rumah tangga. Seperti halnya di negara maju seperti Amerika, kelak tenaga kerja akan menjadi sangat mahal. Semua pekerjaan rumah tangga akan di delegasikan pada lembaga-lembaga profesional yang dibayar dengan tidak murah. Maka baik anak laki-laki dan khususnya perempuan, harus memiliki keahlian dasar ini. Bahkan anak perempuan diharapkan mahir menggunakan perkakas pertukangan untuk pekerjaan perbaikan sederhana. Kami berusaha mempersiapkan anak perempuan kami menjadi manusia pembelajar yang cerdas, menempuh pendidikan yang baik sedemikian hingga memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping dan pendukung para mujahid cerdas yang bermanfaat bagi ummat. Kami juga tidak ingin anak-anak perempuan Kami harus mengalami masa-masa “galau” seperti yang dialami para perempuan berpendidikan tinggi yang merasa terjebak harus berada di dalam rumah. Untuk itu sejak kecil kami memberi wacana kepadanya untuk berusaha memberikan kebermanfaatan kepada umat manusia dari dalam rumahnya. Pernah Shafiyah ditanya ingin menjadi apa jika kelak ia dewasa. Ia mengatakan bahwa ia menjadi ibu yang ada di dalam rumah seperti ummi. Kami berniat mengarahkannya pada bidang-bidang keahlian yang dapat diaktuliasasikan dari dalam rumah. Karena Kami juga mengerti bahwa kemandirian perempuan dalam finansial adalah hal yang penting, mengingat belum tentu selamanya mereka berada dalam pemeliharaan suaminya. Jika takdir Allah membawanya masuk pada ranah kinerja yang membutuhkan kiprah perempuan dan harus dilakukan diluar rumah, maka artinya kami pun harus berupaya menjadi salah satu supporting sistem pada wilayah domestik yang ia tinggalkan. Kami juga berusaha merawat tubuh mereka melalui asupan gizi yang baik dan aktifitas olahraga, agar anak-anak perempuan kami dapat tumbuh dengan sehat. Karena ternyata menjalankan amanah sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Namun bagaimanapun, tidak mungkin kesempurnaan akan terkumpul pada seorang manusia. Maka Kami berdoa kepada Allah, semoga kekurangannya tidak terletak dalam hal akhlak dan agamanya.
Merenungi peran saya saat ini sebagai seorang ibu, barulah kini saya sadar bahwa ternyata bekal terpenting yang dibutuhkan seorang manusia adalah pemahaman agamanya. Pemahaman yang mampu berbuah amal nyata. Karena dari situlah kerja -kerja ikhlas dalam rangka penghambaan diri kepada Allah akan terlahir dalam apapun peran kekhalifahan yang ia emban. Terlebih bagi seorang perempuan yang kelak akan mendidik keturunannya. Andai saja bisa kembali ke masa kecil, rasanya saya ingin mengulang masa-masa keemasan dimana otak ini lebih memiliki kemampuan untuk menyimpan memori harapan Al-quran. Rasanya beruntung sekali menjadi ibu rumah tangga yang hafidzah. Ia bisa menyapu, menyetrika pakaian, memasak, mengepel lantai dan melakukan pekerjaan lainnya sambil terus melafadzkan ayat suci Al-quran tanpa harus memegang mushaf. Maka diri ini ingin berdoa dan berusaha untuk mendidik perempuan-perempuan masa depan yang memahami dan mengamalkan agamanya, yang menjaga al-quran dalam dada-dada mereka serta mampu menjadi manusia yang bermanfaat dari dalam rumahnya.
San Jose, california
Untuk Shafiyah dan calon mujahidah-mujahidahku lainnya, inilah doa ummi untuk kalian. aamiin
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 48 – Kala Ummi Hampir Menyerah