Jam 05.46 waktu Watford, Inggris. Agak mengantuk karena panjangnya siang saat musim panas. Maghrib jam 21.30, Subuh jam 02.20. Terbayang panjangnya waktu berpuasa di bulan Ramadhan nanti, meski saya tak berpuasa di sini. Ingin berbaring sejenak, tapi merasa aneh jika habis Subuh tidur lagi sebagaimana yang umumnya dilakukan muslimin Inggris khusus di musim panas. Tapi hari memang masih sepi.

Membuka-buka buku, juga booklet Eton College (sebuah sekolah menengah terkemuka di Inggris), diam-diam saya teringat anak perempuan saya yang sedang belajar di Ar-Rohmah Putri, Malang. Sebenarnya saya lebih suka jika anak perempuan belajar di tempat yang tak terlalu jauh dari rumah. Kalaulah harus boarding, tetap yang dekat rumah. Tetapi sebagai orangtua, saya harus jernih mempertimbangkan alasan mengapa harus menyekolahkan anak. Rasa rindu kepada anak itu memang kadang terasa berat, terlebih anak pertama, tetapi ada yang lebih mendasar untuk saya pertimbangkan, yakni bagaimana anak memperoleh lingkungan dimana adab dibangun, ilmu disemai dan kebiasaan beribadah ditumbuhkan. Kadang saya bahkan menyengaja untuk tidak menengok anak saya di hari ketika ia boleh ditengok. Bukan soal biaya, bukan juga soal kesempatan meskipun kadang memang berbenturan dengan berbagai jadwal yang telah saya sepakati jauh-jauh hari sebelumnya sebagaimana juga pengambilan raport untuk kenaikan kelas yang ternyata harus berbenturan dengan acara saya di Inggris. Saya adakalanya harus menahan diri dari menengok anak agar ia lebih tertempa, mampu berempati kepada orang lain (dalam lingkup kecil adalah rekan-rekan sekolahnya) dan belajar mengelola keinginan. Ini tampak sepele. Tetapi kerapkali hal-hal semacam inilah yang sangat berpengaruh terhadap diri seseorang kelak di kemudian hari.

Anak saya yang kedua maupun ketiga juga belajar di kota lain. Adiknya yang sekarang kelas 6 SD, insya Allah juga akan masuk sekolah berasrama di luar Yogya juga. Dan ini berarti rumah akan sepi. Tetapi inilah pilihan yang harus diambil. Inilah ongkos yang harus dibayar; rela kehilangan kesempatan untuk membersamai mereka, meski sekedar melepas mereka tentu saja tidak cukup.

Bincang tentang sekolah berasrama, saya jadi teringat dengan Eton College di Windsor, Inggris. Ini bukan untuk membandingkan. Saya bincang sekilas tentang Eton College hanya karena saya sedang berada di Inggris yang kerap disebut maju pendidikannya, sekaligus menepis keraguan para orangtua bahwa sekolah berasrama menjadikan anak secara psikis dapat bermasalah karena kurang kesempatan bersama orangtua. Eton College merupakan sekolah berasrama yang sangat legendaris di Inggris. Banyak tokoh Inggris, termasuk perdana menteri Inggris, 18 di antaranya alumni Eton. Di sekolah menengah ini (jenjang SLTP-SLTA dan persiapan masuk perguruan tinggi), siswanya hanya laki-laki. Saya tak membahas Eton College terlalu jauh. Saya hanya ingin menegaskan, meskipun untuk berpendapat tak perlu menunggu contoh dari negeri seberang, pemisahan laki-laki dan perempuan bukanlah kemunduran atau cara berpikir kolot. Bahkan andai 1000 profesor mengatakan kolot sekalipun, sejauh itu memang bersesuaian dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka yang harus kita ambil adalah tuntunan yang tidak ada keraguan di dalamnya dari dienul haq ini.

Ar-Rohmah Putri Malang. Di sini anak pertama saya belajar

Ar-Rohmah Putri Malang. Di sini anak pertama saya belajar

Santriwati Ar-Rohmah Putri, Malang

Santriwati Ar-Rohmah Putri, Malang

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Sekolah Berasrama untuk Anak Kita

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "Sekolah Berasrama untuk Anak Kita"

Your email address will not be published.