Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 01

“oke…. oke…. bapak suami ummi, ummi ikut kata bapak”

Begitulah kira-kira kalimat penutup yang saya sampaikan jika diskusi yang saya bangun memiliki perbedaan pendapat dengan suami. Alhamdulillah pola komunikasi yang kami bangun selama ini selalu memberi ruang bagi saya untuk menyampaikan pendapat dan pandangan meski terkadang sedikit berbeda dengan suami. Kami terbiasa memutuskan masalah bersama, menganalisis setiap pendapat, berbagi referensi ilmu untuk menguatkan pendapat, mempertimbangkan maslahat dan mudhorot dari setiap pandangan, bahkan terkadang melakukan perhitungan matematika untuk membuat sebuah keputusan. Tidak jarang keputusan dan pandangan suami berubah setelah mendengar pertimbangan istri yang mungkin lebih banyak menggunakan emosi dalam menilai seuatu permasalahan. Tak jarang juga saya yang kemudian berubah pandangan setelah mendengar pertimbangan suami yang mungkin lebih banyak menimbang dengan logika. Namun terkadang ada kalanya suami terlihat teguh dengan pandangannya sementara saya masih merasa yakin dengan pendapat yang saya miliki. Alhamdulillah islam begitu sempurna mengatur segalanya. Dalam islam sangat jelas bahwa suami adalah pemimpin bagi istrinya. Kepala rumah tangga adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang istri bisa mendapatkan surga karena ketaatan pada suaminya. Tugas istri hanyalah taat selama pandangan, pendapat, keputusan dan perintah suami adalah sesuatu yang bukan dalam rangka bermaksiat pada Allah. Saya percaya bahwa meski kita memiliki pendapat yang berbeda, bahkan ketika kita merasa bahwa pendapat kita benar, ada keberkahan yang akan mengalir ketika kita memilih untuk taat kepada suami. Andai saja perintah taat kepada suami ini tidak ada, mungkin angka pertengkaran dalam rumah tangga, KDRT, dan perceraian rumah tangga akan lebih besar dari kenyataan yang ada saat ini.

Tak jarang seiring dengan waktu ternyata terbukti bahwa dalam kasus tertentu pendapat saya lebih benar, sementara saat itu kami telah mengambil keputusan berdasarkan pandangan suami. Tetapi saya sadar bahwa menyalahkan dan menyesali tidak akan memperbaiki keadaan. Saya juga sadar bagaimana makhluk yang bernama laki-laki itu memiliki pride yang sangat tinggi. Laki-laki cenderung tidak suka disalahkan secara langsung. Mereka tidak suka bila perannya diabaikan, keberadaanya dinafikan. Jika perempuan akan merasa tidak dihargai ketika perasaannya tidak diakui dan didengarkan, berbeda dengan lelaki, mereka akan merasa tidak dihargai jika keberadaannya tidak dibutuhkan dan bantuannya tidak diharapkan. Saat dimana kami menyadari bahwa keputusan yang kami ambil berdasarkan pertimbangan suami itu kurang tepat, maka makhluk bernama laki-laki tidak lagi membutuhkan penegasan tentang dimana letak kesalahan, apalagi diungkit kesalahannya. Ketika nasi sudah menjadi bubur, tanpa perlu kita mengabari pun para laki-laki sudah mengerti bahwa nasi telah menjadi bubur. Mereka sudah tau bahwa pertimbangannya salah, langkahnya kurang tepat. Maka tugas seorang istri hanyalah membuat bagaimana bubur tersebut menjadi bubur ayam yang lezat, lengkap dengan cakue, kerupuk dan sambal agar kenikmatan dan kelezatannya bisa dirasakan bersama.

Sebagai seorang manusia yang berkepribadian dominan, berkeluarga telah memberikan saya sarana latihan untuk menahan diri agar tidak terlalu memberi pendapat secara dominan. Lebih banyak bersabar untuk mendengar dan merelakan hati ketika sebagai istri harus menaati perintah suami yang terkadang berbeda pandangan. Saya akui, lama berkencimung di organisasi kampus dalam bidang studi yang mayoritas berisi laki-laki–terlebih karena sering menduduki posisi pemimpin, membuat saya harus banyak berlatih untuk secara otomatis tunduk dan taat kepada suami pada kali pertama ia memberi perintah. Ah…jadi teringat komentar sahabat kampus yang mengabarkan bahwa para ikhwan kampus cenderung merasa “segan” kepada saya. Mungkin saya bukanlah tipe akhwat masuk dalam daftar list calon istri ideal bagi mereka. Pernah suami pun berkomentar kalau terkadang dari sikap saya muncul penyakit “bossy”, sesuatu yang mungkin secara alamiah muncul dari pribadi saya meskipun saya selalu berusaha menempatkan diri sebagai seorang istri yang wajib mentaati suami.

Jika dibandingkan dengan saya bertahun-tahun yang lalu, memiliki suami telah banyak mengubah kepribadiaan saya, begitu juga suami. Saya yang terlalu banyak bicara menjadi lebih dapat menahan diri, suami yang sangat pendiam kini mampu banyak mengeluarkan pendapat bahkan bisa mengajar anak-anak dengan seru dan penuh canda. Namun sebagai seorang manusia yang berkepribadian dominan, saya harus terus berusaha menyadari dan menempatkan diri sebagai seorang makmum dari suami. Berusaha untuk tidak lupa meminta ijin atas keputusan-keputusan penting dalam keluarga, termasuk urusan penggunaan keuangan diluar nominal yang sewajarnya.

Sesungguhnya pintu surga seorang istri sangat dekat. Ketika ia telah melaksanakan ibadah shalat, puasa di bulan Ramadhan,serta memelihara kemaluannya, maka tiket surga dapat ia tebus dengan menaati suaminya. Maka berapapun besar penghasilan sang istri, berapapun tinggi kedudukan sang istri di masyarakat, tidak akan menggurkan kewajibannya untuk taat kepada suaminya selama perintah tersebut tidak dalam rangka kemaksiatan kepada Allah.

Batu jajar Jawa Barat
Dari seorang istri yang terus belajar menjadi istri
Kiki Barkiah
Sumber gambar onislam.net

Baca juga РRenungan Pasutri 09

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "Renungan Pasutri 10 – Karena Ia adalah Suamimu"

Your email address will not be published.