Renungan Pasutri 09 – Formasi Pahala Siang

0
386

Tarbiyatul Aulad – Renungan Pasutri 09

Suatu hari saat jam makan malam Shiddiq yang saat itu berusaha 5 tahun protes.

Shiddiq: “ummi, why we have to get our food by ourselves, but you always help bapak?”

Ummi: “ya nanti kalo sudah besar Shiddiq juga di siapin makannya sama istrinya, sekarang mah Shiddiq latihan ambil makan sendiri”

Shiddiq: “that’s not fair! I have to wait until I grow up”

Ada satu masa dimana saya melakukan banyak kekhilafan sebagai istri. Saya terlalu sibuk dengan anak-anak dan kurang perhatian terhadap kebutuhan suami sepulang kantor. Suami juga bukan tipikal laki-laki yang selalu menunggu dilayani. Jika beliau melihat saya kerepotan mengurus anak saat sepulang kantor, tanpa banyak bicara beliau sering sekali menyiapkan makanan dan minuman sendiri. Sering sekali saya terlambat dan merasa malu saat memergoki beliau menyiapkan keperluan sendiri. Kala saya minta maaf suami hanya bilang “gak papa mi… sudah dimasakin saja sudah alhamdulillah”

Tapi Allah tidak ingin saya begitu. Allah ingin saya lebih baik lagi. Allah ingin saya berusaha menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi. Alhamdulillah teguran seorang kerabat telah menyadarkan saya. “Mungkin Adi tidak apa-apa, tapi belum tentu Allah ridho” kalimat teguran itu masih teringat dalam pikiran saya sampai hari ini. Sejak saat itu saya berusaha memperbaiki pelayanan saya kepada suami. Karena seorang suami sesungguhnya memiliki hak terbesar untuk mendapatkan perlakuan terbaik kita sebagai istri.

Akhirnya saya pun berdiskusi, mencari formulasi yang tepat dalam menjalankan keseharian keluarga agar hak suami tetap terpenuhi sementara pengasuhan anak-anak tetap berlangsung. Kami memilih untuk melakukan “Formasi Pahala Silang“. Sejenak saya menyerahkan pekerjaan pengasuhan anak sementara saya mengambil ladang pahala untuk sekedar memberi sedikit perhatian kepada suami dengan menyiapkan keperluannya. Terkadang di pagi hari bayi masih ingin menyusui. Suami akan berusaha menggendong dan mengalihkan perhatiannya agar saya bisa memasak, menyiapkan sarapan dan bekal bekerja. Sepulang kantor anak-anak diasuh oleh ayahnya agar saya bisa memberikan sedikit perhatian dengan menyiapkan keperluan makan malam.

Jika pahala formasi silang ini tidak dilakukan maka hanya ada satu kesempatan pahala bagi kami. Pahala ibu mengurus anaknya. Namun jika formasi pahala silang ini dilakukan, kami memiliki kesempatan untuk mendapat 2 pahala, pahala ayah mengurus anaknya dan pahala istri mengurus suaminya.

Meskipun begitu ada saja kelupaan emak rempong dalam melayani suaminya.
Bapak: ” kalo teh manis bapak teh udah dibikin?”
Saya: “aduh pak lupa! Sudah dibikin masih nyangkut di microwave, barusan si adek nangis pengen nyusu, yaaa udah dingin lagi deh!”
Dan suamipun menghangatkan teh manisnya kembali sendiri, seperti masa lajang dahulu….

Kini kami memiliki ART, tambahan pemain dalam keluarga cukup meminimalisir kelupaan-kelupaan itu. Saya menjadi lebih bisa konsentrasi memenuhi keperluan setiap anak dan melayani suami lebih baik lagi. Saat bapak ditinggal saya hijrah lebih awal ke Indonesia, di Amerika bapak kurus sekali. Berat badan bapak hilang 15 pound. Setelah sebulan pulang ke Indonesia badan bapak kembali berisi. Alhamdulillah keberadaan pemain tambahan seperti ART dalam keluarga, insya Allah memberi kesempatan bagi seorang istri dan ibu untuk bisa beribadah lebih baik lagi dalam melakukan pelayanan terhadap keluarga.

Buah Batu, Bandung Jawa Barat
Dari seorang istri yang berharap akan ridho Allah dan suaminya
Kiki Barkiah

Baca juga – Renungan Pasutri 08

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here