Renungan Pasutri 01

0
291
Renungan Pasutri

Renungan Pasutri

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 01

Kini giliran saya yang menitipkan bapak pada Allah dalam perjalanan 30 jam menyusul kami ke Indonesia. Saya menutup pembicaraan kami dalam video call dengan permohonan maaf dan minta keridhoan beliau seandainya pembicaraan ini menjadi pembicaraan terakhir kami. “Seandainya kita gak ketemu lagi, bapak ridho kan sama ummi?” Kata saya dengan suara lirih. “Iya mi” jawab beliau. “Mudah mudahan perjalanan bapak selamat dan dimudahkan Allah, lancar dan lolos di bea cukai, kalo kita gak sempat berkumpul, semoga Allah mengumpulkan kita di surga ya! Bapak juga sebelum berangkat titipkan ummi dan anak-anak sama Allah ya, seandainya bapak gak bisa ketemu kami lagi” tambah saya.
Lalu tiba-tiba saya merenung, seharusnya meminta maaf dan meminta keridhoan itu dilakukan setiap perpisahan, tidak hanya saat perjalanan jauh. Siapa yang menjamin bahwa suami yang berangkat bekerja akan kembali pulang bertemu dengan kita, mungkin beliau atau mungkin juga kita.

Itulah mengapa saya tidak pernah sanggup melepas bapak pergi kerja dalam keadaan berselisih pendapat. Itulah mengapa dalam sekian tahun pernikahan kami, kami tidak pernah sanggup berlama-lama tanpa berkata-kata karena berselisih pendapat. Saya hanya takut Allah memisahan kami saat suami sedang tidak dalam keadaan ridho. Itulah mengapa saya selalu berusaha melawan ego saya untuk tidak berlama-lama berdiam diri meski saat itu bapak yang berada dalam posisi yang melakukan kesalahan. Saya lebih memilih untuk selalu membuka pembicaraan baik lisan maupun tulisan setelah gejolak darah berhasil diredam dengan Al-quran. Saya paling tidak sanggup berlama-lama saling berdiam diri, karena saya khawatir Allah mencabut nyawa salah satu diantara kami sementara suami dalam keadaan tidak ridho.

Mungkin kita bisa saja berdebat panjang di kantor bersama para bapak-bapak yang menjadi rekan kerja atau bawahan kita. Tetapi di rumah, setinggi apapun jabatan kita, sebesar apapun penghasilan yang kita bawa, tidak akan menggugurkan kewajiban kita untuk berbakti dan taat kepada suami, serta memberikan penghargaan dan penghormatan terbaik kita kepadanya.

Batujajar JawaBarat
Kiki Barkiah
Sang Penjelajah Hikmah

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here