Pendelegasian yang Kebablasan

0
414
Meskipun kekuatan doa memiliki peran penting dalam proses membentuk anak-anak sholih, bagaimanapun membentuk anak sholeh berkaitan erat dengan proses pendidikan. Sebagian orang tua memahami bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Mendidik anak dengan baik identik dengan menyekolahkan mereka ke lembaga pendidikan terbaik.

Jika kita melihat konsep pendidikan di negara Indonesia, cita-cita mulia dari proses pendidikan nasional akan lebih sulit dicapai tanpa adanya proses pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat.
Menurut Undang Undang no 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Undaang-Undang no 20 Pasal 1 ayat 11, 12, 13,14, komponen pendidikan terdiri dari:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
4. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Banyak kita temui masyarakat Indonesia yang sering mengeluhkan kekurangan sistem pendidikan nasional. Sebagian menilai bahwa sistem pendidikan nasional tidak sampai mampu melahirkan generasi yang memiliki kualitas unggul. Dengan menyimak kutipan undang-undang diatas jelas terlihat bahwa cita-cita pendidikan nasional dapat dicapai dengan adanya peran dari komponen-komponen tersebut. Maka cita-cita pendidikan nasional akan sulit tercapai tanpa adanya pendidikan keluarga dan lingkungan yang baik. Pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan peletak dasar proses pendidikan seorang anak. Pendidikan formal di Indonesia tidak dirancang untuk menggarap semua peran tersebut. Justru yang mengherankan adalah adanya pergeseran pemahaman di dalam masyarakat tentang siapa yang seharusnya yang paling utama memikul tanggung jawab pendidikan bagi seorang anak. Pendidikan, kini indentik dengan menyekolahkan. Tidak menyekolahkan anak, kini identik dengan tidak memperhatikan pendidikan anak. Menjalankan pendidikan berbasis keluarga atau home eduction, kini menjadi barang yang cukup langka. Melaksanakan pendidikan dengan metode homeschooling dianggap sebagai pilihan yang sangat “istimewa”.

Jauh sebelum adanya sekolah formal, metode pendidikan berbasis keluarga atau home education adalah metode pendidikan yang telah dijalankan banyak manusia selama berabad-abad. Namun setelah masyarakat mendapat berbagai kemudahan dengan adanya bantuan dari lembaga pendidikan seperti sekolah, kamudahan ini cukup melenakan para orang tua. Pendelegasian proses pendidikan anak menjadi cenderung kebablasan, salah satunya ditandai dengan fenomena sebagai berikut:
1. Bergesernya pemahaman tanggung jawab pengasuhan. Dimana tanggung jawab pengasuhan anak dimaknai sekedar pemenuhan kebutuhan fisik dan penyediaan materi untuk membayar pemenuhan kebutuhan rohani dan akal
2. Adanya pengalihan terhadap tanggung jawab pendidikan dari orang tua ke lembaga pendidikan. Sekolah kini seolah menjadi penanggung jawab utama proses pendidikan anak.
3. Sekolah dianggap mesin pencetak anak sholih dan pintar. Orang tua berharap output yang dihasilkan dengan menyekolahkan anak-anak adalah berupa anak-anak yang sholih dan pintar. Sebagian orang tua bahkan berharap hasil yang instan. Sekolah dianggap tidak memiliki kualitas yang baik jika tidak mempu melahirkan output ini secara instan.
4. Semakin mahalnya harga waktu kebersamaan bersama anak. Orang tua disibukkan oleh pekerjaan seputar mencari nafkah, sementara proses pendidikan diserahkan ke berbagai pihak.
5. Orang tua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup untuk melakukan pendidikan di dalam rumah sehingga hubungan yang dibangun dalam suasana pengasuhan tidak mengandung nilai pendidikan.
6. Orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun ikatan yang kuat dengan anak-anak mereka karena anak-anak telah disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah sejak dini. Bahkan porsi waktu interaksi anak-anak dengan lingkungan sekolah lebih besar dari interaksi dengan lingkungan keluarga. Padahal kebersaman yang bermakna di awal-awal tahun usia anak-anak adalah investasi berharga bagi masa depan mereka.
7. Orang tua tidak menyadari bahwa ada ilmu dasar yang harus dimiliki manusia dalam mengarungi kehidupan sehingga anak-anak kelak dapat hidup secara mandiri dan bermartabat. Ilmu tersebut salah satunya harus dipenuhi melalui pendidikan di dalam keluarga. Sehingga ketika orang tua hanya mengandalkan proses pendidikan formal sebagai satu-satunya proses pendidikan bagi anak, muncul berbagai permasalahan tingkah laku dan pola pikir anak yang berpengaruh kepada tatanan sosial secara umum.

Pendelegasian proses pendidikan yang cenderung kebablasan ternyata menimbulkan berbagai problematika sosial. Sebagian sekolah atau lembaga pendidikan bahkan harus bekerja keras untuk mengambil alih berbagai peran yang seharusnya dilakukan dalam pendidikan keluarga.

Fungsi pendidikan keluarga diantaranya
1. Membangun fondasi kecerdasan spiritual seorang anak
Membangun fondasi kehidupan beragama seorang anak
2. Membangun fondasi kehidupan sosial seorang anak
3. Membangun fondasi kecerdasan emosional anak
4. Membangun fondasi akhlakul karimah
5. Memenuhi kebutuhan akan cinta kasih dan perasaan aman

Sementara fungsi pendidikan sekolah formal secara umum mencakup hal berikut:
Memberikan tambahan pengetahuan serta mengembangkan kecerdasan berfikir anak didik
Melaksanakan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
Melakukan efisiensi dalam proses pendidikan kerena pendidikan dilakukan dalam program yang sistematis dan ditujukkan untuk peserta didik dalam jumlah yang banyak.
Sarana berosialisasi bagi anak yang merupakan proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Proses trasmisi dan konservasi budaya dalam masyarakat
Sarana transisi dari lingkungan rumah ke lingkungan masyarakat yang memberi kesempatan bagi anak untuk berlatih kemandirian dan tanggung jawab sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.

Oleh karena itu, tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukkan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren. Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik. Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang diterpa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?

Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interkasi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.

Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya! Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya! Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

 

Kiki Barkiah

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here