Sekarang (Mungkin) Kamu Kecewa, Tapi Nanti…

Kembali, kita belajar dari Muhammad Al Fatih. Anak kecil yang disiapkan dengan cara yang tidak biasa agar menjadi generasi yang tidak biasa.
Muhammad Al Fatih tidak hanya sekali ditegasi dengan pukulan. Di tangan guru awalnya, Ahmad bin Ismail Al Kurani, Muhammad Al Fatih merasakan sabetan untuk pelajaran pertamanya. Sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang ayah Murad II yang mengerti pendidikan, sang guru tak segan-segan untuk melakukan ketegasan itu.
 
Sekali ketegasan untuk kemudian berjalan tanpa ketegasan. Tentu ini jauh lebih baik dan diharapkan oleh setiap keluarga, daripada dia harus tarik urat setiap hari dan menampilkan ketegasan setiap saat, karena jiwanya belum tunduk untuk kebaikan.
Mungkin, Muhammad Al Fatih kecil kecewa saat dipukul. Sangat mungkin hatinya terluka. Tapi pendidikan Islam tak pernah khawatir dengan itu, karena Islam mengerti betul cara membongkar sekaligus menata ulang. Semua analisa ketakutan tentang jiwa yang terluka tak terbukti pada hasil pendidikan Muhammad Al Fatih.
Tapi ada pukulan berikutnya dari guru berikutnya. Pukulan kedua ini yang lebih dikenang pahit oleh Muhammad Al Fatih. Kali ini pukulan datang dari gurunya yang mendampinginya hingga ia kelak menjadi sultan; Aaq Syamsuddin.
Bukti bahwa ini menjadi ‘kenangan’ yang terus berkecamuk di kepalanya adalah ketika Muhammad Al Fatih telah resmi menjadi sultan, dia bertanya kepada gurunya:
“Guru, aku mau bertanya. Masih ingatkah suatu hari guru menyabetku, padahal aku tidak bersalah waktu itu. Sekarang aku mau bertanya, atas dasar apa guru melakukannya?”
Bertahun-tahun lamanya pertanyaan itu mengendap dalam diri sang murid. Tentu tak mudah baginya menyimpan semua itu. Karena yang disimpannya bukan kenangan indah. Tetapi kenangan pahit yang mengecewakan. Karena tak ada yang mau dipukul. Apalagi dia tidak merasa bersalah.
Kini sang murid telah menjadi orang besar. Dia ‘menuntut’ gurunya untuk menjelaskan semua yang telah bertahun-tahun mengganggu kenyamanan hidupnya.
Jawaban gurunya amat mengejutkan. Jawaban yang menunjukkan memang ini guru yang tidak biasa. Pantas mampu melahirkan murid yang tidak biasa.
Jawaban yang menunjukkan metode dahsyat, yang mungkin langka dilakukan oleh metode pendidikan hari ini. Atau jangan-jangan sekadar membahasnya pun diharamkan oleh pendidikan hari ini.
Inilah jawaban Aaq Syamsuddin,
“Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman.”
Ajaib!
Konsep pendidikan yang ajaib.
Hasilnya pun ajaib. Muhammad penakluk Konstantinopel.
Maka, sampaikan kepada semua anak-anak kita. Bahwa toh kita tidak melakukan ketegasan seperti yang dilakukan oleh Aaq Syamsuddin. Semua ketegasan kita hari ini; muka masam, cubitan, jeweran, hukuman, pukulan pendidikan semuanya adalah tanaman yang buahnya adalah kebesaran mereka.
Teruslah didik mereka dengan cara pendidikan Islami. Kalau harus ada yang diluruskan maka ketegasan adalah salah satu metode mahal yang dimiliki Islam.
Semoga suatu hari nanti, saat anak-anak kita telah mencapai kebesarannya, kita akan berkata semisal Aaq Syamsuddin berkata,
“Kini kau telah menjadi orang besar, nak. Masih ingatkah kau akan cubitan dan pukulan ayah dan bunda sore itu? Inilah hari ketika kau memetik hasilnya.”
Hari ini, saat masih dalam proses pendidikan, Anda pun bisa sudah bisa berkata kepada mereka,
“Hari ini mungkin kau kecewa, tapi suatu hari nanti kau akan mengenang ayah dan bunda dalam syukur atas ketegasan hari ini.”
Oleh: Ust. Budi Ashari

Bisikan Mesramu Mencerahkan Hariku

Cahaya fajar melenyapkan kegelapan malam. Suara azan Bilal menghilangkan kesunyian Madinah. Saat itu Rasulullah tengah terlelap. Mengistirahatkan raga di waktu menjelang fajar setelah menjalankan Qiyamullail cukup lama.

Kala Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah bangun, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak dan bersiwak. Setelah itu membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya jua kita semua dibangkitkan.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah itu beliau bangun. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika perlu berwudhu maka beliau berwudhu.  Setelah itu beliau shalat sunnah dua rakaat  fajar.
Seusai shalat, jika istri beliau sudah bangun, beliau menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti apa kiranya seorang istri yang mencintai, yang memulai cahaya-cahaya hari dengan kata-kata cinta dari suaminya?
(Dikutip dari Al Yawm An Nabawy)
Lihatlah  bagaimana Rasulullah memulai harinya. Bisa jadi ini hanyalah sekitar 15 menit dari rutinitas beliau sejak bangun paginya. Betapa banyak hal kecil yang mungkin terlewat bagi kita. Atau bahkan bisa jadi sepele dan diacuhkan oleh kita, namun tak pernah ditinggalkan Rasulullah.
Siapakah di antara kita yang bangun tidurnya langsung bersiwak? Membersihkan gigi dan mulutnya sebelum berdoa kepada Rabb-nya?
Perhatikanlah, mengapa Rasulullah bersiwak dulu baru berdoa? Rasulullah berdoa setelah bersiwak karena ingin membuat Rabb-nya senang.
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,”Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.” (HR. An Nasai).
Hadits ini menunjukkan penegasan bahwa bersiwak bukan hanya untuk gigi saja, namun dimaksudkan untuk kebersihan dan memberikan aroma wangi, bukan hanya menghilangkan kotoran saja. Maka keutamakan siwak ini bukan hanya memiliki manfaat religi namun juga duniawi.
Hal detail lainnya yang sering terlewat dicermati oleh kita adalah Rasulullah itu bangun lebih dahulu dari istrinya. Yang dilakukannya ketika melihat istrinya bangun adalah membisikkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan untuk didengarkan istrinya.
Bagi pasangan yang sudah lama menikah, yang sering terjadi adalah sang suami tidak lagi suka mengungkapkan kata-kata mesra yang membahagikan istri, karena menganggap toh sang istri pasti sudah tahu perasaannya. Kata-kata itu tidak lagi penting, demikian mungkin menurut logika suami.
Namun para suami, contohlah Rasulullah… Justru karena beliau adalah orang terbaik bagi keluarganya, maka beliau memahami benar betapa pentingnya ungkapan dan kata-kata membahagiakan itu untuk para istri. Maka tidak bosan beliau mengungkapkan rasa.
Aroma mulut yang wangi berpadu harmonis dengan kata-kata mesra penuh cinta… ah, indahnya….
Sungguh mood booster luar biasa untuk memulai hari yang padat bagi para istri.
Bila para suami masih berpikir bahwa kata-kata tidaklah penting, yang penting adalah perbuatan…
Bagaimana bila dua-duanya? Karena Rasul kita mencontohkannya…
Wahai para suami, sungguh, bisikan mesramu mencerahkan pagi istrimu…

Menikah Butuh Perjuangan…

Dulu saya pikir menikah itu sederhana urusannya. asalkan ada 2 orang dah saling suka maka tinggal menjalani saja. tapi ternyata, saya mendapat banyak ilmu sejalan dengan kenyataan dan pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. bahwa menikah tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. apalagi sebagai seorang mukmin, menikah bukan sekedar kawin. menurut saya, menikah bagi seorang mukmin ada 2 nilai yang besar: Pertama, menikah itu urusan hati yang terdalam jadi kita jangan hanya menggunakan logika belaka. Kedua, menikah itu sama dengan membangun peradaban. karena rumah tangga adalah madrasah pertama dalam membangun peradaban yang lebih besar.

Apabila ada keinginan menikah maka ada ujian2 yang menanti. terutama ujian hati dan ujian niat yang utama. niat kita diuji sejak awal, apakah tetap lillahi ta’ala atau tidak. dan hal ini bukan perkara sederhana, karena hati itu mudah berbolak balik. kadangkala kita sudah sedemikian mantap meniatkan nikah untuk ibadah, namun tiba2 hati kita goyang kembali dan menjadi ragu.
Kemudian adalagi ujian kemantapan. apakah kita sudah mantap dengan calon atau orang yang kita pilih menjadi pasangan hidup kita. bisa jadi masalahnya sederhana, asalkan agamanya bagus maka mantapkan hati. tapi ternyata tidak sesederhana itu. karena seringkali hati ini begitu rumit. kadang ada hal2 kecil yang membuat hati ragu akan pilihan itu. kadang ada sesuatu yang mengganjal di hati, tapi itu hanya diri kita yang tau (dan Allah tentunya), dan kita gk bisa menceritakan hal itu ke orang lain. sebetulnya kuncinya mudah saja, yaitu sholat istikharah. Allah telah memberi kita kesempatan untuk meminta Keputusan-Nya, dalam sholat. dan apabila kita ragu maka kita boleh membatalkan proses. nah, inilah masalahnya, saya sering merasa ragu setelah istikharah. saya tidak tahu, ragu ini datang dari Allah atau dari bisikan setan. Astaghfirullah, ternyata iman ini masih begitu tipis untuk mengenal petunjuk-Mu, ya Allah……
Kemudian ujian2 lain menanti dalam proses menuju pernikahan. ujian bisa datang dari diri sendiri, dari calon pasangan, dari pihak2 yg terkait. karena menikah itu juga berhubungan dengan kehidupan sosial yang melibatkan org banyak, bukan hanya urusan 2 insan saja. masalah yang timbul bisa saja begitu rumit. sebagai seorang mukmin kita ingin pernikahan berjalan sesuai dengan syariat Allah dan sunnah Rasul. namun, tidak semua orang bisa paham hal demikian. maka butuh perjuangan untuk menujudkan pernikahan islami seperti itu.
Ujian lain juga menanti, antara lain memikirkan kehidupan setelah menikah. tentunya setelah menikah kita tidak lagi hidup sendiri. tidak mungkin istri kita kita tempatkan di kost2an kita yang isinya cowok semua khan? hehe…. dan aktivitas kita setelah menikah juga berubah. tadinya kita memikirkan sesuatu dengan “caraku”, maka setelah menikah berubah menjadi “cara bersama”.
Itulah, sebagian kendala yang saya rasakan hadir dalam proses pernikahan. mungkin belum semuanya, karena ada hal2 yg terlupa dan belum saya ungkapkan. namun, intinya satu hal menurut saya. ujian pernikahan yang utama adalah mengenai niat atau hati. kalau niat benar2 lillahi ta’ala, maka apa yang ditakutkan? Allah selalu siap dengan pertolongan-Nya.
Menikah Butuh Perjuangan…
TarbiyatulAulad.com

Lelaki Hebat Itu …

Kamu tahu? Laki-laki hebat itu tak cukup hanya dengan menaklukan hati seorang wanita. Kemudian berani datang kerumahnya, lalu meminangnya dan hidup bersamanya.
 
Laki-laki hebat itu, ia yang tetap bertahan untuk setia, meski ia telah menemukan sifat buruk dari pasangannya. Kemudian melengkapi kekurangan itu, dengan ikhlas demi mengharap Wajah Allah Azza Wa Jalla di akhirat kelak.
 
Lelaki hebat itu bukan ia yang sanggup membuat pasangannya bahagia karna harta yang diberi olehnya. Melainkan yang mampu memberikan pemahaman ilmu Agama.
 
Lelaki hebat itu bukan hanya dilihat dari matangnya pemikiran akan masa depan. Melainkan seberapa besar orientasinya akan perkara akhirat.
 lelaki hebat
Lelaki hebat itu bukan yang berhasil memberikan pasangannya kesempurnaan hidup di dunia. Melainkan kebahagiaan hakiki dengan mengenalkannya pada syariat Islam.
 
Lelaki hebat itu yang memilih tetap bersabar meski ujian datang bertubi tubi. Langkahnya takkan goyah meski badai terus menghantamnya. Ia terus mempertahankan kapal miliknya yang akan karam. Ia terus berjuang menyelamatkannya dengan sekuat tenaga yang dimilikinya.
Ia sadar, menemukanmu tak mudah. Ia paham, menjadikanmu penyempurna agamanya butuh perjuangan.
 
Maka sebab itu, ia bertahan dalam sabarnya karena ia tahu saat sabar menjadi pilihannya; ada kebersamaan dengan Allah yang akan selalu menjaganya.

Wanita Shalihah Taat Kepada Suami

✿ Wanita Shalihah Taat Kepada Suami ✿

Wanita shalihah pada hakikatnya mengakui bahwa keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergantung kepada keridhaan suaminya, oleh karena itu ia senantiasa berusaha maksimal taat dan memenuhi hak-hak suaminya. Mengharap keridhaan suaminya dan menjauhi kemurkaan suaminya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Wahai sekalian kaum wanita, bertaqwalah kepada Allah dan peganglah keridhaan suamimu.Sesungguhnya seorang istri jika mengetahui hak-hak suaminya, niscaya ia akan berdiri selama makan siang dan makan malamnya.” (H.R. Abu Nu’aim).
Taat yang dimaksud adalah taat yang diselaraskan dengan ketaatanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika ia berhadapan dengan perintah maka ia segera melaksanakan dengan penuh hati dan keikhlasan.Dan ketika berhadapan dengan larangan Allah Subhananu wa Ta’ala, maka ia pun segera meninggalakanya segala larangan tersebut.
Demikian juga wanita shalihah dengan ketaatannya dengan suami selama perintah dan larangannya selaras dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan berusaha memenuhi semua hak-hak suaminya. Tapi bila suaminya lalai dalam menunaikan perintah Allah Subhanhu wa Ta’ala. Dia selalu mengingatkan suaminya.
Dalam Ajaran Islam hak dan kewajiban suami istri telah ditentukan, diantara sekian banyak ayat dan hadist mengenai hak seorang suami terhadap istrinya, pada intinya adalah bahwa seorang istri hendaknya menjaga ketaatannya pada suami, menjaga kehormatan dirinya, menjaga harta suaminya, dan menjaga lisannya terhadap suami dengan tidak menyakiti suaminya dengan perkataannya. Ada beberapa adab-adab yang bisa dilakukan seorang istri untuk menyenangkan suaminya diantaranya yaitu :
❀❀.•• (`’•.¸ •.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•¸*¤* ﷲ¸¸.•*¨*•♫¸✿¸.
1.Ketika suami sedang berbicara,dengarkanlah dengan baik,diam dan tidak memotong pembicaraannya.
2. Ketika suami bersikap (marah mendidik) hendaknya diterima dengan syukur, tidak menjawab apa-apa dan bersabar,karena terkadang suami sengaja menguji kesabaran.
3. Ketika suami hendak memerlukan, dahulukan kehendaknya dari pada yang lain.
4. Ketika berhadapan dengan suami senantiasa berwajah manis dan berhias dengan aroma wewangian.
5. Ketika dengan keluarga suami, muliakan dan hormati kedua orang tuanya sebagaimana kita memuliakan orang tua sendiri, karena orang tua suami adalah juga merupakan orang tua kedua.
6.Ketika suami dirundung masalah. Jaga ketentraman hatinya dan membantu menyelasaikan masalah suami sekurang-kurangnya menunjukkan sikap gembira.
7. Ketika suami dirundung duka, memahami perasaan suami, dengan ikut merasakan dukanya dengan memberikan motivasi sehingga kegembiraannya muncul kembali
8. Ketika berhadapan dengan materi’ berusaha menjaga harta suami dengan baik dan mempergunakannya ke hal-hal yang manfaat.
9. Ketika suami jadi kepala rumah tangga, memahi suami jika dia pemimpin, maka bantu dia dengan mengerti segala hal kebaikan, jika ia guru maka lengkapilah dia dengan ilmu, hendaknya menerima dengan apa adanya.
10. Ketika berhadapan dengan keinginan, tidak menyusahkan suami dengan keinginan pribadi yang berlebihan, karena lebih bijak mendahulukan kebutuhan mendesak yang prioritas utama, dan keinginan bisa ditunda.
11.Pastikan niat kita melayani suami dengan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan senantiasa mendoakan suami.
12. Senantiasa mendorong suami agar giat dalam beribadah serta bersungguh-sungguh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ciptakanlah kasih sayang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
13. Senantiasa merasa cukup dengan apa-apa yang ada (qana’ah).dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
14. Ketika suami bersalah. Tunjukanlah sikap kasih sayang serta hormat pada suami dan mengerti bahwa pada hakekatnya semua manusia tidak luput dari khilaf dan kesalahan, dan tidak menghukumnya berlebihan dengan kesalahan yang dilakukannya.
Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, . Mudah-mudahan untaian catatan sederhana diatas bisa memberi manfaat buat kita semua,baik yang sudah menjalani keluarga maupun yang akan menyongsong keluarga kelak menuju Sakinah Mawadah Wa Rahmah.
Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahuma AAmiin…
❀.••Walhamdulillah Rabbil’alamin ••.❀
Abdul Haris Muenthazzar

Jika Suatu Saat Nanti Kau Jadi Ibu…

Jadilah seperti Ummu Sufyan. Wanita yang tidak dikenal, tapi melahirkan tokoh paling terkenal di masanya, yaitu Sufyan ats-Tsauri. Meski suami telah mendahului ke alam baka, tapi Ummu Sufyan tetap tegar membesarkan anaknya. Bukan untuk sekadar bisa mengeja dunia, tapi untuk menjadi seorang yang luar biasa.
 
Sufyan kecil sudah mengerti arti berbakti. Meski cintanya pada ilmu begitu tinggi, tapi dia tahu diri. Ibu yang bekerja hanya sebagai penenun dan menafkahi beberapa anak tidak mungkin dibebani lagi.
 
Tapi di tengah kebimbangannya itulah sang ibu tampil bicara, “Nak, tuntutlah ilmu. Dengan alat tenun ini, ibu akan mencukupi semua kebutuhanmu (sa akfika bi mighzaly).”
 
Ummu Sufyan memang luar biasa. Tidak hanya menyemangati anaknya dan bekerja. Perhatian dan nasihat-nasihat berharganya pun terus mengalir mengiringi perjalanan anaknya menimba ilmu.
 
Di masa-masa tertentu, sang ibu mengevaluasi belajar Sufyan seraya berkata, “Nak, jika engkau telah mempelajari 10 masalah, maka berhentilah sejenak. Rasakan olehmu, apakah pelajaranmu selama ini telah membuatmu semakin takut kepada Allah, memberimu ketenangan, dan menjadikanmu tawadhu? Jika tidak, berarti pelajaranmu itu tidak berguna, bahkan justru berbahaya.”
 
Alhasil, jadilah seorang Sufyan ats-Tsauri yang dikatakan oleh Abdullah bin Mubarak: “Aku tidak menemukan orang di seluruh penjuru bumi ini yang lebih alim dari Sufyan.”
 
Sufyan yang selalu dikejar-kejar oleh penguasa untuk diangkat sebagai pejabat tinggi negara. Tapi sekalinya dia menghadap Khalifah al-Mahdi, Sufyan malah berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, jangan lagi memanggilku sampai aku sendiri yang mau datang. Dan jangan pernah memberiku sesuatu sampai aku sendiri yang minta padamu.”
 

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya

Sufyan bagaikan lautan yang tidak diketahui kedalamannya, bagaikan air bah yang mengalir yang tidak mungkin terbendung.

Diantara pujian para ulama terhadap beliau adalah:

Waqi’ berkata : “ Sufyan adalah bagaikan lautan”.

Sedang Al-Auza’I juga mengatakan, “Tidak ada orang yang bisa membuat ummat merasa ridha dalam kebenaran kecuali Sufyan.”

Sufyan bin ‘Uyainah juga telah berkata, “Aku tidak melihat ada orang yang lebih utama dari Sufyan, sedang dia sendiri tidak merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling utama.”

Dari Yahya bin Said, bahwa orang-orang bertanya kepada kepadanya tentang Sufyan dan Syu’bah, siapakah diantara keduanya yang paling disenangi?

Yahya bin Said menjawab, “Persoalannya bukan karena senang, sedangkan jika karena rasa senang, maka Syu’bah lebih aku senangi dari Sufyan, karena keunggulannya. Sufyan bersandarkan kepada tulisan sedang Syu’bah tidak bersandar kepada tulisan. Namun Sufyan lebih kuat ingatannya dari Syu’bah, aku pernah melihat keduanya berselisih, maka pendapat Sufyan Ats-Tsauri yang digunakan.”

Dari Yahya bin Ma’in, dia berkata, “Tidak ada orang yang berselisih tentang sesuatu dengan Sufyan, kecuali pendapat Sufyanlah yang digunakan.”

Ahmad bin Abdullah Al-Ajli berkata, “Sebaik-baik sanad yang berasal dari Kufah adalah dari Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah.”

Ulama-ulama besar, seperti Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Ashim An-Nabil, Yahya bin Ma’in dan yang lain berkata, “Sufyan adalah Amirul Mukminin dalam hadits.”

Ibnu Al-Mubarak pernah berkata, “Aku telah menulis hadits dari 1100 guru, namun aku tidak tidak bisa menulis sebaik Ats-Tsauri.”

Al-Hafidz telah menuturkan sifat-sifat baik yang dimiliki Sufyan sebagai berikut, “Sufyan adalah pimpinan orang-orang zuhud, banyak melakukan ibadah dan takut kepada Allah. Ats-Tsauri juga pimpinan orang-orang yang mempunyai hafalan yang kuat, dia banyak mengetahui tentang hadits dan mempunyai pengetahuan tentang ilmu fikih yang mendalam. Ats-Tsauri juga seorang yang tidak gentar cercaan dalam membela agama Allah. Semoga Allah mengampuni semua kesalahannya, yaitu kesalahan-kesalahan yang bukan hasil ijtihad.”

Dan masih banyak lagi pujian-pujian para ulama mengenai beliau rahimahullah, dan cukuplah apa yang disebutkan menjadi bukti bahwa beliau adalah seorang ulama yang sangat dipercaya dan diakui keluasan ilmunya.

Beberapa Mutiara Perkataannya
 
Dari Abdullah bin Saqi, dia berkata, “Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, melihat kepada wajah orang yang berbuat zhalim adalah suatu kesalahan.”
 
Dari Yahya bin Yaman, dia berkata, “Sufyan menceritakan sebuah hadits kepada kami, ‘Isa bin Maryam ‘Alaihis Salam telah berkata: mendekatlah kalian kepada Allah dengan membenci orang-orang yang berbuat maksiat dan dapatkanlah ridha-Nya dengan menjauhi mereka.”
 
Orang-orang bertanya, “Dengan siapa kami harus bergaul, wahai Sufyan?” Sufyan menjawab, “Dengan orang-orang yang mengingatkan kamu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuat kamu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”
 
Dari Abdulah bin Bisyr, dia berkata, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Sesungguhnya hadits itu mulia, barang siapa menginginkan dunia dengan hadits maka dia akan mendapatkannya, dan barangsiapa menginginkan akhirat dengan hadits maka dia juga akan mendapatkannya.”
 
Dari Hafsh bin Amr, dia berkata, “Sufyan menulis sepucuk surat kepada Ubbad bin Ubbad, dia berkata, ‘Amma ba’du, sesungguhnya kamu telah hidup pada zaman dimana para sahabat terlindungi dengan keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, mereka mempunyai keberanian yang tidak kita miliki.
 
Lalu, bagaimana dengan kita yang mempunyai sedikit ilmu, mempunyai sedikit kesabaran, mempunyai sedikit perasaan tolong menolong dalam kebaikan dan manusia telah hancur serta dunia telah kotor?
 
Maka, hendaknya kamu mengambil suritauladan pada generasi pertama, yaitu generasi para sahabat. Hendaknya kamu jangan menjadi generasi yang bodoh, karena sekarang telah tiba zaman kebodohan.
 
Juga, hendaknya kamu menyendiri dan sedikit bergaul dengan orang-orang. Jika seseorang bertemu dengan orang lain maka seharusnya mereka saling mengambil manfaat, dan keadaan seperti ini telah hilang, maka akan lebih baik jika kamu meninggalkan mereka.”
 
Dalam surat tersebut Sufyan juga berkata, “Aku berpendapat, hendaknya kamu jangan mengundang para penguasa dan bergaul dengan mereka dalam suatu masalah. Hendaknya kamu jangan berbuat bohong, dan jika dikatakan kepadamu, ‘Mintalah pertolongan dari perbuatan yang zhalim atau kezhaliman,’ maka perkataan ini adalah kebohongan dari iblis.
 
Hendaknya kamu mengambil perkataan orang-orang yang benar, yaitu orang-orang yang mengatakan, “Takutlah fitnah dari orang yang taat beribadah namun dia seorang yang bodoh, dan fitnah dari orang yang mempunyai banyak ilmu namun dia seorang yang tidak mempunyai akhlak terpuji.”
 
Sesungguhnya fitnah yang ditimbulkan dari mereka berdua adalah sebesar-besar fitnah, tidak ada suatu perkara kecuali mereka berdua akan membuat fitnah dan mengambil kesempatan, janganlah kamu berdebat dengan mereka.”
 
Sufyan juga mengatakan, “Hendaknya kamu menjadi orang yang senang mengamalkan terhadap apa yang telah dia katakan dan menjadi bukti dari ucapannya, atau mendengar ucapannya sendiri. Jika kamu meninggalkannya maka kamu akan menjadi orang celaka.
 
Hendaknya kamu jangan mencintai kekuasaan, barangsiapa mencintai kekuasaan melebihi cintanya dengan emas dan perak, maka dia menjadi orang yang rendah. Seorang ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan kecuali ulama yang telah menjadi makelar, dan jika kamu senang dengan kekuasaan maka akan hilang jati dirimu. Berbuatlah sesuai dengan niatmu, ketahuilah sesungguhnya ada orang yang diharapkan orang-orang disekitarnya agar cepat mati. Wassalam.”

Sambutan Bu Kiki Barkiah Saat Tasmi’ Qur`an Putranya, Bikin Merinding…

Renungan Pagi untuk kita para orangtua terutama dan pada generasi muda… (Semoga Allah Memberikan Hidayah-Nya Kepada Kita Semua)
 
 
Pada hari jum’at yang penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh Kiki Barkiah berhasil mengkhatamkan hafalan qur’annya sebanyak 30 juz selama setahun di sebuah pesantren di Bogor.
Yang istimewa dari acara tasmi’ kemarin adalah sambutan teh Kiki, beliau menyampaikan isi hatinya untuk seluruh santri di pesantren tersebut. Juga untuk seluruh penghafal qur’an di Indonesia. Berikut ini kutipan seluruh pidatonya. Yang beliau sampaikan dengan penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. 
 
Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.
 
Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.
 
Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.
 
Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.
 
Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
 
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
 
Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
 
Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil menghisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
 
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
 
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!
 
ALLAHU AKBAR!!!!!
 
Parung Bogor 7 Okt 2016

Kenapa Dokter Ini Mau Dibayar Dengan Sampah?

Namanya Gamal Albinsaid. Lahir 8 September 1989, dokter muda ini betul-betul anti mainstream. Tak seperti banyak dokter yang menetapkan tarif tinggi, Gamal malah mau dibayar dengan sampah. Lho, nggak rugi?
Ada alasan kenapa Gamal berbuat demikian. Dia ingat, suatu hari, dengan kisah seorang bocah perempuan miskin. Sebut saja namanya Khairunnisa (Nisa). Nisa, saat itu terkena diare. Ayahnya, yang cuma pemulung, tak sanggup membawanya berobat ke dokter. Akhirnya, Nisa cuma diobati ala kadarnya.
Bukannya berangsur sembuh, Nisa malah tambah sakit. Semakin parah. Diarenya berujung dramatis: Nisa ditemukan meninggal. Mayatnya tergeletak di antara kardus-kardus bekas.
Gamal terenyuh dengan kisah Nisa dan bertekad menemukan jalan agar orang miskin bisa berobat. Bersama teman-temannya di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, ia pun mendirikan Klinik Asuransi Sampah (KAS). Siapa pun orang miskin yang menjadi anggota KAS, akan mendapatkan asuransi kesehatan.
Tapi, dari mana biaya operasional KAS, jika anggotanya membayar dengan sampah?
Setiap bulannya, setiap anggota KAS mengumpulkan sampah organic dan atau anorganik. Seberapa banyak? Sampai sampah mereka senilai 10 ribu rupiah. Sampah yang mereka dapat diolah menjadi pupuk dan dijual Rp 7 ribu per kilogram. Uang penjualan inilah yang menjadi dana KAS beroperasi.
Ajaibnya, hanya dengan 10 ribu tersebut, setiap anggota bisa mendapatkan asuransi kesehatan primer, dan pelayanan kesehatan yang tidak terbatas pada penyakit ringan. KAS juga mengobati sakit kencing manis, darah tinggi, gangguan jiwa, infeksi, dan jantung.
Alhasil, kehadiran KAS memukau banyak orang. Gamal diganjar penghargaan Sustainable Living Young Entrepreneurs dari Kerajaan Inggris di tahun 2014. Dia menjadi juara pertama, mengalahkan 510 peserta dari 90 negara. Selain itu, Gamal pun mendapatkan hadiah senilai Rp 800 juta, dukungan dari Cambridge Programme for Sustainability Leadership (CPSL), dan Unilever. Ke depannya, Gamal pun bercita-cita ingin mendirikan sekolah yang dibayar dengan sampah.
Alhamdulillah ya, kita masih punya dokter dengan jiwa sosial seperti Gamal 🙂
KENAPA DOKTER INI MAU DIBAYAR DENGAN SAMPAH?
Penulis: Asa Mulchias

Beginikah Rasanya Menikah Tanpa Pacaran itu?

Dua manusia yang tak pernah bersentuhan sebelum menikah dan disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Saat mau berfoto diatas pelamin malu malu. Haha. Sweet…
<3 SUBHANALLAH…
Semoga bahagia sampai ke syurga.
 
Tuh kan, nikah tanpa diawali pacaran itu manis-manis gimana gitu.
Malu-malu, unyu-unyu … 😀
Mau tatap muka malu, mau pegangan malu, padahal sudah halal loh ….
So, nggak ingin nih kayak gini?
 
“Nikah tanpa diawali pacaran adalah moment penumbuhan cinta. Dan menikah jika sudah diawali pacaran adalah moment pembunuh cinta. Karena cinta yang tumbuh telah dihabiskan di masa belum terhalalkan.”
(Ust. Syafiq Riza Basalamah)
 
Yuk jadi baik … agar kita dapetnya juga yang baik-baik
 
Bantu “SHARE”
Agar jadi pacuan buat anak muda akhir zaman.
 

Pendelegasian yang Kebablasan

Meskipun kekuatan doa memiliki peran penting dalam proses membentuk anak-anak sholih, bagaimanapun membentuk anak sholeh berkaitan erat dengan proses pendidikan. Sebagian orang tua memahami bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Mendidik anak dengan baik identik dengan menyekolahkan mereka ke lembaga pendidikan terbaik.

Jika kita melihat konsep pendidikan di negara Indonesia, cita-cita mulia dari proses pendidikan nasional akan lebih sulit dicapai tanpa adanya proses pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat.
Menurut Undang Undang no 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Undaang-Undang no 20 Pasal 1 ayat 11, 12, 13,14, komponen pendidikan terdiri dari:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
4. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Banyak kita temui masyarakat Indonesia yang sering mengeluhkan kekurangan sistem pendidikan nasional. Sebagian menilai bahwa sistem pendidikan nasional tidak sampai mampu melahirkan generasi yang memiliki kualitas unggul. Dengan menyimak kutipan undang-undang diatas jelas terlihat bahwa cita-cita pendidikan nasional dapat dicapai dengan adanya peran dari komponen-komponen tersebut. Maka cita-cita pendidikan nasional akan sulit tercapai tanpa adanya pendidikan keluarga dan lingkungan yang baik. Pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan peletak dasar proses pendidikan seorang anak. Pendidikan formal di Indonesia tidak dirancang untuk menggarap semua peran tersebut. Justru yang mengherankan adalah adanya pergeseran pemahaman di dalam masyarakat tentang siapa yang seharusnya yang paling utama memikul tanggung jawab pendidikan bagi seorang anak. Pendidikan, kini indentik dengan menyekolahkan. Tidak menyekolahkan anak, kini identik dengan tidak memperhatikan pendidikan anak. Menjalankan pendidikan berbasis keluarga atau home eduction, kini menjadi barang yang cukup langka. Melaksanakan pendidikan dengan metode homeschooling dianggap sebagai pilihan yang sangat “istimewa”.
Jauh sebelum adanya sekolah formal, metode pendidikan berbasis keluarga atau home education adalah metode pendidikan yang telah dijalankan banyak manusia selama berabad-abad. Namun setelah masyarakat mendapat berbagai kemudahan dengan adanya bantuan dari lembaga pendidikan seperti sekolah, kamudahan ini cukup melenakan para orang tua. Pendelegasian proses pendidikan anak menjadi cenderung kebablasan, salah satunya ditandai dengan fenomena sebagai berikut:
1. Bergesernya pemahaman tanggung jawab pengasuhan. Dimana tanggung jawab pengasuhan anak dimaknai sekedar pemenuhan kebutuhan fisik dan penyediaan materi untuk membayar pemenuhan kebutuhan rohani dan akal
2. Adanya pengalihan terhadap tanggung jawab pendidikan dari orang tua ke lembaga pendidikan. Sekolah kini seolah menjadi penanggung jawab utama proses pendidikan anak.
3. Sekolah dianggap mesin pencetak anak sholih dan pintar. Orang tua berharap output yang dihasilkan dengan menyekolahkan anak-anak adalah berupa anak-anak yang sholih dan pintar. Sebagian orang tua bahkan berharap hasil yang instan. Sekolah dianggap tidak memiliki kualitas yang baik jika tidak mempu melahirkan output ini secara instan.
4. Semakin mahalnya harga waktu kebersamaan bersama anak. Orang tua disibukkan oleh pekerjaan seputar mencari nafkah, sementara proses pendidikan diserahkan ke berbagai pihak.
5. Orang tua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup untuk melakukan pendidikan di dalam rumah sehingga hubungan yang dibangun dalam suasana pengasuhan tidak mengandung nilai pendidikan.
6. Orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun ikatan yang kuat dengan anak-anak mereka karena anak-anak telah disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah sejak dini. Bahkan porsi waktu interaksi anak-anak dengan lingkungan sekolah lebih besar dari interaksi dengan lingkungan keluarga. Padahal kebersaman yang bermakna di awal-awal tahun usia anak-anak adalah investasi berharga bagi masa depan mereka.
7. Orang tua tidak menyadari bahwa ada ilmu dasar yang harus dimiliki manusia dalam mengarungi kehidupan sehingga anak-anak kelak dapat hidup secara mandiri dan bermartabat. Ilmu tersebut salah satunya harus dipenuhi melalui pendidikan di dalam keluarga. Sehingga ketika orang tua hanya mengandalkan proses pendidikan formal sebagai satu-satunya proses pendidikan bagi anak, muncul berbagai permasalahan tingkah laku dan pola pikir anak yang berpengaruh kepada tatanan sosial secara umum.
Pendelegasian proses pendidikan yang cenderung kebablasan ternyata menimbulkan berbagai problematika sosial. Sebagian sekolah atau lembaga pendidikan bahkan harus bekerja keras untuk mengambil alih berbagai peran yang seharusnya dilakukan dalam pendidikan keluarga.
Fungsi pendidikan keluarga diantaranya
1. Membangun fondasi kecerdasan spiritual seorang anak
Membangun fondasi kehidupan beragama seorang anak
2. Membangun fondasi kehidupan sosial seorang anak
3. Membangun fondasi kecerdasan emosional anak
4. Membangun fondasi akhlakul karimah
5. Memenuhi kebutuhan akan cinta kasih dan perasaan aman
Sementara fungsi pendidikan sekolah formal secara umum mencakup hal berikut:
Memberikan tambahan pengetahuan serta mengembangkan kecerdasan berfikir anak didik
Melaksanakan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
Melakukan efisiensi dalam proses pendidikan kerena pendidikan dilakukan dalam program yang sistematis dan ditujukkan untuk peserta didik dalam jumlah yang banyak.
Sarana berosialisasi bagi anak yang merupakan proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Proses trasmisi dan konservasi budaya dalam masyarakat
Sarana transisi dari lingkungan rumah ke lingkungan masyarakat yang memberi kesempatan bagi anak untuk berlatih kemandirian dan tanggung jawab sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.
Oleh karena itu, tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukkan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren. Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik. Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang diterpa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?
Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interkasi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.
Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya! Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya! Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

 
Kiki Barkiah