CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

0
500
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Hari ini Allah kembali menghibur saya, karena Allah tau saat ini saya sedang menghadapi banyak tantangan. Salah satu diantara sekian ujian kenaikan kelas jurusan kesabaran dan ketakwaan, saya diberi amanah Shiddiq yang istimewa dalam cara belajar. Sampai saat ini saya masih mencari jurus yang paling pas saat homeschooling agar Shiddiq mau berpartisipasi dalam pelajaran yang sesuai kurikulim wajib pemerintah. Beberapa hari lalu saya yang juga manusia biasa dan berjenis kelamin perempuan sedang merasa sangat melankolis. Saya mencurahkan perasaan saya saat fitness berdua bersama bapak. Saya mengutarakan keraguan saya dalam memilih homeschooling untuk Shiddiq. Saya merasa tidak cukup pintar dan menarik untuk membuat Shiddiq mau belajar bersama saya. Kemudian saya tiba-tiba merasa tidak percaya diri jika harus dibandingkan dengan para guru di Amerika yang bisa mengajar lebih menarik dan memiliki totalitas tenaga untuk membuat pelajaran menjadi sangat menarik dan mudah di mengerti. Sementara saya yang walau kadang memiliki banyak ide kreatif dalam belajar, merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk melaksanakannya jika sudah dihadapkan pada amanah 5 anak dan urusan rumah tangga. Suami saya yang bijaksana berceramah ditengah nafas yang terengah saat berlari di atas treadmill.

“Ummi jangan bandingkan pendidikan kita dengan pendidikan sekuler! Yang perlu ummi yakini adalah yakinlah bahwa kita berada di jalan yang benar dan suatu hari usaha kita akan membuahkan hasil untuk Shiddiq. Jangan berharap apa yang kita lakukan sekarang ini akan langsung kita lihat hasilnya saat ini juga. Kalo ummi ragu apakah jalan ini yang terbaik untuk Shiddiq, jangan tanya bapak karena bapak tidak tau. Lebih baik ummi istikhoroh lagi dan tanya pada Allah” kata beliau.

Saya pun mengangguk-angguk tersadarkan. Lalu teringat bahwa dulu saya hampir melalui cerita yang sama saat awal-awal mencari bentuk yang paling pas dalam metode pendidikan untuk Ali. Saya pun bertanya pada bapak saat itu apakah bapak merasa pilihan yang kami pilih untuk mendampingi Ali belajar mulai menunjukan hasilnya saat ini. Saya hampir lupa bahwa mengeluarkan Ali dari sekolah formal 4 tahun yang lalu pun masih memberi banyak cerita lika-liku hingga saat ini, meskipun sedikit demi sedikit titik terang itu mulai muncul.

Hari ini Ali mengikuti berbagai kegiatan workshop teknologi. Saat ia masuk dalam kelas programming video games, Ali yang memang belajar otodidak memiliki sedikit pengetahuan yang bisa ia bagi pada orang lain. Saat saya menemui Ali seorang ibu yang anaknya dibantu oleh Ali berkomentar. Ia mengatakan bahwa Ali sangat pintar, lalu ia bertanya dimanakah Ali bersekolah. Dengan penuh rasa syukur saya menjawab “he is a homeschooler. I have 5 kids and we are homeschooler” ibu itupun kaget, ia tau bahwa mengasuh banyak anak di Amerika tidaklah mudah apalagi memilih homeschooling. Ia tanya bagaimana saya mengajar mereka semua. Saya pun menjawab bahwa saya tidak mengajar Ali tetapi Ali mengajar dirinya sendiri. “When kids love to learn, they can learn anything by themselves” kata saya dengan penuh haru.

Seringkali kita sebagai orang tua berharap perubahan yang instan dalam meluruskan perilaku negatif anak termasuk dalam mendampingi mereka belajar. Meskipun sudah berusaha mencoba sekian langkah teori parenting dan metode pendidikan serta melengkapinya dengan doa, namun terkadang hasilnya masih jauh dari harapan kita. Apalagi jika meluruskan san membimbing dengan cara kekerasan lahir batin, bukan malah melakukan perubahan, tapi justru memperburuk keadaan.

Sebagian orang tua yang putus asa, mengakhiri upayanya dengan pelabelan terhadap anak. “Ah dasar kamu memang tidak pintar”, “Sudahlah memang dia pemalas”, “Emang bawaanya dia itu anak keras kepala, mau diapain lagi?”, “Dia memang anak pemalu”. Padahal pelabelan terhadap anak hanya akan membatasi karakter anak itu sendiri. Sikap pelabelan biasanya melahirkan pengabaian sehingga akhirnya kita menyerah meluruskan perilaku anak. Bahkan, ucapan pelabelan dari orang tua, terutama ibu, secara sadar atau tidak, dapat menjadi doa yang ampuh untuk diijabah. Belajar dari kesabaran Rasulullah saw dalam berdakwah, tidak semua orang yang beliau seru menjadi beriman secara instan. Tidak sedikit kasus dimana perubahannya justru muncul ketika Rasulullah telah tiada. Bahkan ada pula, kaum kerabat yang secara intensif beliau bina, namun tetap dalam kekafirannya sampai akhir hayatnya. Seperti paman Rasulullah saw, Abu Thalib yang begitu mendukung dakwah Rasulullah saw namun tetap dalam kekafirannya.

Tentunya kita berharap upaya kita membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa bimbingan kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Teruslah berupaya dengan disertai doa kepada Allah. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).
Jika keputusasaan mulai muncul dalam diri kita, ingatlah masa lalu kita, betapa orang tua kita juga bersabar lebih lama dalam menanti perubahan diri kita, yang kebanyakan berubah diwaktu dewasa.

San Jose, California
Dari seorang yang jatuh bangun membimbing putra-putrinya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here