CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

0
680
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

Perempuan-Perempuan Masa Depan

Perjalanan saya menjalani peran sebagai seorang ibu rumah tangga telah mengubah beberapa pemikiran saya dalam mendidik anak perempuan. Hal-hal yang tidak tercapai, belum tercapai, atau bahkan sudah terlewat masanya untuk dicapai, memberi peringatan tersendiri bagi diri saya untuk lebih mempersiapkan anak gadis kami yang insya Allah kelak di masa yang akan datang akan memerankan peran yang hampir sama yaitu ibu dan istri.

Alhamdulillah ditengah banyaknya anak laki-laki, Allah masih mempercayakan kami memiliki anak perempuan. Shafiyah (7 tahun) yang lembut, penuh kasih sayang, berjiwa keibuan, sangat perhatian terhadap keperluan saudara-saudaranya, penurut dan tertib mengikuti aturan, mandiri, serta cerdas dan tekun dalam belajar, sering menjadi penghibur hati saya ditengah tantangan-tantangan pengasuhan anak laki-laki yang penuh energi. Sejauh ini kekurangan dalam dirinya pun merupakan sifat yang sangat wajar bahkan dapat menjadi potensi yang baik untuk dimiliki oleh seorang perempuan, sangat pemalu dan terlalu perasa. Melihat perkembangannya memberikan harapan tersendiri bagi saya untuk lebih banyak mempersiapkan generasi wanita yang sholihah dan cerdas. Generasi para wanita yang kelak dari rahim mereka terlahir mujahid yang cerdas dan sholih serta mujahidah pendamping para mujahid yang melahirkan mujahid dan mujahidah lainnya. Jujur, seandainya Allah masih percaya, ingin sekali rasanya melahirkan banyak mujahidah dari rahim ini. Yang kelak insya Allah kami persiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga pendamping dan pendukung para mujahid yang bermanfaat bagi ummat. Aamiin

Menjadi ibu rumah tangga?? Mengapa hanya ibu rumah tangga?? Follower pun pernah bertanya pada saya, “apa gak sayang ijazah teknik elektro nya hanya jadi ibu rumah tangga?”

Semakin menjalani peran ibu rumah tangga, saya semakin mengerti mengapa dalam pandangan syariah tempat terbaik bagi seorang wanita ada dalam rumahnya. Meskipun begitu dalam sirah yang kita pelajari tergambar cuplikan kisah aktifitas sahabiyah di luar rumah seperti saat mereka menuntut ilmu dan mendampingi para sahabat dalam peperangan. Semakin menjalani peran ibu rumah tangga saya semakin mengerti mengapa wanita menjadi unsur penting dalam peradaban sebuah bangsa, jika kondisi wanita rusak maka rusaklah masyarakatnya.

Namun apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh menghasilkan uang? Bahkan Zainab binti Jahsy istri Rasulullah saw pun membuat sesuatu dari dalam rumahnya agar ia memiliki uang dari hasil keringatnya agar dapat bersedekah. Apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh berkiprah dan bermanfaat bagi masyarakat? Bahkan Aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah saw pun mendidik ummat ini dengan menjadi perawi pada sebagian besar hadist Rasulullah saw.

Ya! Kami ingin anak-anak perempuan kami menjadi ibu rumah tangga yang memiliki keahlian dan ilmu yang cukup dalam menjalankan kelima perannya. Sebagai hamba Allah, anak, ibu, istri, dan anggota masyarakat. Kami berharap dalam perjalanan mendidiknya, kami mempersiapkan dirinya untuk memiliki keahlian dasar dalam mengelola rumah tangga. Kelak akan ada masa dimana tidak ada lagi orang yang akan mau menjadi asisten rumah tangga. Seperti halnya di negara maju seperti Amerika, kelak tenaga kerja akan menjadi sangat mahal. Semua pekerjaan rumah tangga akan di delegasikan pada lembaga-lembaga profesional yang dibayar dengan tidak murah. Maka baik anak laki-laki dan khususnya perempuan, harus memiliki keahlian dasar ini. Bahkan anak perempuan diharapkan mahir menggunakan perkakas pertukangan untuk pekerjaan perbaikan sederhana. Kami berusaha mempersiapkan anak perempuan kami menjadi manusia pembelajar yang cerdas, menempuh pendidikan yang baik sedemikian hingga memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping dan pendukung para mujahid cerdas yang bermanfaat bagi ummat. Kami juga tidak ingin anak-anak perempuan Kami harus mengalami masa-masa “galau” seperti yang dialami para perempuan berpendidikan tinggi yang merasa terjebak harus berada di dalam rumah. Untuk itu sejak kecil kami memberi wacana kepadanya untuk berusaha memberikan kebermanfaatan kepada umat manusia dari dalam rumahnya. Pernah Shafiyah ditanya ingin menjadi apa jika kelak ia dewasa. Ia mengatakan bahwa ia menjadi ibu yang ada di dalam rumah seperti ummi. Kami berniat mengarahkannya pada bidang-bidang keahlian yang dapat diaktuliasasikan dari dalam rumah. Karena Kami juga mengerti bahwa kemandirian perempuan dalam finansial adalah hal yang penting, mengingat belum tentu selamanya mereka berada dalam pemeliharaan suaminya. Jika takdir Allah membawanya masuk pada ranah kinerja yang membutuhkan kiprah perempuan dan harus dilakukan diluar rumah, maka artinya kami pun harus berupaya menjadi salah satu supporting sistem pada wilayah domestik yang ia tinggalkan. Kami juga berusaha merawat tubuh mereka melalui asupan gizi yang baik dan aktifitas olahraga, agar anak-anak perempuan kami dapat tumbuh dengan sehat. Karena ternyata menjalankan amanah sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Namun bagaimanapun, tidak mungkin kesempurnaan akan terkumpul pada seorang manusia. Maka Kami berdoa kepada Allah, semoga kekurangannya tidak terletak dalam hal akhlak dan agamanya.

Merenungi peran saya saat ini sebagai seorang ibu, barulah kini saya sadar bahwa ternyata bekal terpenting yang dibutuhkan seorang manusia adalah pemahaman agamanya. Pemahaman yang mampu berbuah amal nyata. Karena dari situlah kerja -kerja ikhlas dalam rangka penghambaan diri kepada Allah akan terlahir dalam apapun peran kekhalifahan yang ia emban. Terlebih bagi seorang perempuan yang kelak akan mendidik keturunannya. Andai saja bisa kembali ke masa kecil, rasanya saya ingin mengulang masa-masa keemasan dimana otak ini lebih memiliki kemampuan untuk menyimpan memori harapan Al-quran. Rasanya beruntung sekali menjadi ibu rumah tangga yang hafidzah. Ia bisa menyapu, menyetrika pakaian, memasak, mengepel lantai dan melakukan pekerjaan lainnya sambil terus melafadzkan ayat suci Al-quran tanpa harus memegang mushaf. Maka diri ini ingin berdoa dan berusaha untuk mendidik perempuan-perempuan masa depan yang memahami dan mengamalkan agamanya, yang menjaga al-quran dalam dada-dada mereka serta mampu menjadi manusia yang bermanfaat dari dalam rumahnya.

San Jose, california
Untuk Shafiyah dan calon mujahidah-mujahidahku lainnya, inilah doa ummi untuk kalian. aamiin
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 48 – Kala Ummi Hampir Menyerah

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here