Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]

Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang

“Ali….. Kalau Ali hanya mengambil materi yang tugasnya mudah-mudah dulu, hanya sekedar mengejar presentase progress mingguan, maka akan ada masa dimana semua tugasmu yang sulit menumpuk dalam satu waktu”
Begitulah pesan saya suatu hari pada Ali saat memeriksa perkembangan tugas dan assessment sekolah virtualnya. Sebuah pesan yang saya sampaikan dengan menarik sebuah nafas panjang, menahan lisan dari keinginan untuk marah dan mengatur secara otoriter.

Sekolah virtual Ali memang memiliki daily plan yang rapi dan sistematis. Setiap minggu kami memiliki target prosentase yang harus dicapai agar semua kurikulum dapat terkuasai dalam kurun waktu yang direncanakan. Terkadang ada masa dimana Ali enggan mengerjakan tugas-tugas sekolah, sehingga ia memenuhi prosentase progres pelajaran dengan mengambil materi-materi yang menjadi daily plan di kemudian hari. Sebuah cara jalan pintas yang ia pilih untuk sekedar memenuhi kewajiban sekolah agar prosentase progress mingguan tetap tercapai.

Saya tau, cara ini akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Namun ini bukan kali pertama saya mengingatkannya. Saya hanya berusaha menyederhanakan nasihat, dan memberinya kesempatan untuk belajar dari konsekuensi yang menjadi pilihannya. Kami memang memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih dari potongan mana “kue” kurikulum dalam satu semester akan ia habiskan. Kami ingin ia belajar mengatur strategi belajar yang paling pas baginya. Sehingga kami hanya memantau hasil pekerjaan dan pencapai prosentasenya setiap pekan.

Akhir semesterpun semakin dekat. Apa yang kami khawatirkan terjadi. Semua lesson plan dengan bobot yang berat dan tugas yang banyak menumpuk semua di akhir semester. Kesal? Tentu! Ingin marah dan mengomel? Tentu!. Tapi lagi-lagi kami berusaha menahan lisan ini. Ali kini bukanlah anak balita yang lebih mudah dipengaruhi oleh pendapat orang tuanya. Kini ia adalah anak yang beranjak dewasa menuju akil baligh yang mulai memiliki pandangannya sendiri, pendapatnya sendiri, dan caranya sendiri.

Membimbing anak berjiwa pembelajar dalam belajar memang memiliki tantangan tersendiri. Tantangannya bukan terletak pada memotivasi mereka dalam belajar. Namun pada perjalanan mencari jalan terbaik yang paling pas dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak yang berjiwa pembelajar. Mencari sekolah yang paling pas dan sesuai, metode yang paling pas dan sesuai, serta kurikulum yang paling pas dan sesuai, bukanlah perkara sederhana bagi kami yang ingin mengoptimalkan karunia potensi yanh Allah berikan kepada anak-anak yang berjiwa pembelajar.

Singkat cerita, bertahun-tahun Ali sekolah, bertahun-tahun pula ia bermasalah dengan komitmen mengerjakan tugas sesuai kurikulum sekolah. Meskipun prestasinya selalu gemilang baik di Indonesia maupun di Amerika, namun perjalanan kami mendampinginya belajar begitu penuh lika-liku. Dari mulai ikut sekolah formal di Indonesia, ikut sekolah komunitas, mendirikan sekolah sendiri di kota Batam, lalu bersekolah formal di Amerika, dan kini kami kembali bersekolah rumah di Amerika, adalah mata rantai perjalanan panjang mencari cara belajar yang paling sesuai dengan keinginan Ali.

Ali sangat gemar belajar, ia hampir menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, tapi ia tidak suka sekolah, tidak suka diatur dengan sistem. Suatu hari ia berkata pada saya “aa mah kalo homeschooling sebenernya pengen yang jenis unschooling, yang gak sekolah sama sekali” Saya pun berharap kelak suatu hari kami mampu melakukan perencanaan kurikulum secara mandiri. Namun keterbatasan waktu dan ketidakmampuan kami dalam membimbingnya “secara bebas” terpaksa membuat kami memilih untuk mengikutkannya pada sekolah virtual yang tetap bersistem, tetap berkurikulum, tetap bertugas. Dan tentunya, tetap menimbulkan debat-debat kecil tentang “belajar sesuai kurikulum”

Bulan itu, bulan dimana ujian akhir akan berlangsung. Namun Ali masih harus terus mempercepat kayuhannya untuk menyelesaikan tugas-tugas wajibnya. Bahkan beberapa tugas sunnah yang bukan bersifat assessment atau work sample sudah banyak ia tinggalkan. Konsekuensi dari pilihannya mulai terasa. Suasana dirumah mulai tegang. Baik Ali maupun kami semakin panik. Tapi kami tetap berusaha menahan diri untuk tidak mengomel dan mengatur secara detail bagaimana ia menghabiskan sisa “kue kurikulum” semester ini. “Ali, sebentar lagi sudah masuk ujian semester akhir, kalo Aa tidak melipatgandakan usaha, ummi khawatir kamu tidak akan terkejar. Ummi tau kamu selalu berkegiatan positif dan belajar, tapi tolong lakukan prioritas! lakukan prioritas!” begitulah kira-kira pesan saya berkali-kali setiap kali merasa “greget” saat melihat gaya belajarnya yang begitu santai dan sering terdistraksi pada pilihan tema belajar lain diluar tugas sekolah. Gemes? Tentu! Ingin marah? Tentu! Rasanya lisan ini sudah ingin memilih metode otoriter yang memerintah secara detail dalam suasana gawat darurat. Namun bapak selalu menahan diri saya untuk melakukannya karena bapak ingin Ali belajar dari konsekuensi pilihannya.

Suasana 2 minggu itu selalu dipenuhi oleh emosi negatif yang saya tahan. Apalagi saat melihat gerak-gerik santainya bersekolah ala profesor Ali. Sesekali ia membuat saya tersenyum saat menunjukan diagram progress sekolah. “Ummi liat mi, aa dah hampir 50 % semuanya” kata Ali. “Bagus a, tapi jangan sampai ambil materi semester 2 ya buat menuhin prosentase, karena yang akan dinilai hanya untuk semester 1” pesan saya. Cerobohnya, saya tidak melihat secata detail bagaimana ia memenuhi prosentase yang tertinggal. Sampai suatu hari saat mengecek pekerjaannya, barulah saya sadar bahwa akhir-akhir ini ia memenuhi diagram prosentase dengan mengambil materi-materi mudah tanpa tugas di semester kedua.

Meledaklah saya marah, karena merasa dibohongi. Marah yang sudah tertahan selama berminggu-minggu. Meledak!!.teriak!!.seperti ledakan kemarahan orang tua jaman dulu memarahi anaknya. “Kenapa aa bohongin ummi dengan mengambil materi semester 2??? Hanya karena aa ingin mengejar prosentase pelajaran!!!! Ummi sumpahin ya kamu!!! Jadi hafidz quran!!!!!.jadi islamic scholar!!!!.Jadi pemuda terbaik di jamanmu!!!!.Jadi penemu yang karyanya bermanfaat bagi ummat manusia dan agama islam! Ggghhrrr!”

(Bersambung…..bersambung…. Tunggu ya kelanjutanya… Sangat bersejarah dalam hidup kami dan insya Allah berhikmah)

San Jose, California
Dari ibu yang juga sesekali marah
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 46 – Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 47 [Part 1] – Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang"

Your email address will not be published.