Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45

Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad

Suatu malam setelah semua anak tidur, Faruq (3.5 tahun) masih terjaga. Tiba-tiba dengan suara lembut dan penuh iba. Ia berkata “ummi, when you work, sometimes i feel so bad” Saya terhentak. Langsung seketika saya lepaskan handphone dari genggaman. Faruq memang sering tidur lebih larut dari saudaranya. Maka ia mengerti jika malam tiba itu adalah waktu saya bisa secara full menuntut ilmu dan berdzikir melalui handphone.

Saya terseyum dan mengelus wajahnya
Ummi: “maksudnya saat ummi ngajar homeschool teteh dan abang?”
Faruq mengangguk sambil tersenyum, tapi senyumannya membuat air mata saya hampir menetes.
Ummi: “Faruq cemburu ya! Faruq sayang, nanti kalau teteh sudah besar, teteh bisa belajar sendiri seperti Aa. Kalau Shiddiq sudah besar, Shiddiq juga bisa belajar sendiri. Nanti gantian Ummi yang mengajar Faruq”
Faruq pun mengangguk sambil tersenyum. Pembicaraan malam itu saya tutup dengan membacakan 2 buku kembali untuknya sambil memeluk dan memangkunya.

Saya sangat mengerti perasaannya. Ternyata itu pula yang membuat ia mengalami regresi akhir-akhir ini. Menjadi lebih sering meminta bantuan pada hal-hal yang sudah bisa ia lakukan. Bahkan pernah beberapa kali buang air besar di celana padahal sudah lama ia lulus toilet training. Ia juga semakin lebih banyak meminta kegiatan di depan video, sebagai obat kesepiannya. Memang ada banyak hal yang berubah saat saya memutuskan untuk menghomeschooling semua anak. Faruq tidak lagi sepenuhnya bisa memiliki saya di pagi hari seperti dulu. Ia kehilangan beberapa jadwal belajar dan kegiatan secara khusus bersama saya. Durasi kegiatan hands on learning bersamanya menjadi jauh berkurang karena saya menyederhanakan beberapa metode pembelajaran. Hal yang tidak mudah bagi seorang anak adalah menerima kenyataan bahwa ia harus berbagi ibu dengan saudara-saudaranya. Apalagi kini ibunya harus bergantin mengajar semua anak-anaknya.

Sebaliknya sejak homeschooling, frekuensi kecemburuan Shiddiq terhadap Faruq pun jauh berkurang. Shiddiq kini lebih memiliki waktu bersama saya sehingga ia tidak lagi sering menganggu Faruq. Pernah suatu hari saya bertanya pada Shiddiq mengapa ia sering membuat kekacauan di rumah dengan ulahnya. “Karena Faruq bisa lama main sama ummi tapi Shiddiq nggak karena sekolah, jadi kalo pulang sekolah Shiddiq maunya ganggu Faruq”

Cemburu oh cemburu……..

Saya menyampaikan kepada semua angota keluarga tentang perasaan yang Faruq rasakan. Terlebih pernah 2 kali saya menemuinya duduk di sofa sendirian saat semua anak sibuk dengan kegiatan belajar dan laboratoriumnya. Saya bertanya mengapa Faruq tidak bermain dan duduk sendiri “I don’t have a friend”. Maka saya meminta kerjasama semua pihak didalam rumah untuk secara bergantian membimbing kegiatan bermain dan belajar saudara yang lain saat saya sedang fokus mengajar salah satu anak.

Jadwal kegiatan belajar anak-anak saya atur sedemikian hingga semua anak memiliki kegiatan. Jika anak-anak pra sekolah sedang mau bermain mandiri, maka kegiatan belajar saya buat secara pararel. Biasanya untuk tugas-tugas yang tidak membutuhkan banyak diskusi seperti matematika. Terkadang saat kegiatan belajar tidak memungkinkan dilakukan secara pararel, maka anak yang tidak sedang belajar boleh mengambil kegiatan eksplorasi sesuai dengan bakat dan minatnya, dengan catatan sambil mendengarkan tugas hafalan Quran mereka. Anak-anak yang sedang bereksplorasi saya minta untuk melibatkan adik-adiknya yang berusia pra sekolah. Kadang Shiddiq mengasuh Faruq dan Fatih dengan mengajak bermain saat saya mengajar Shafiyah. Kadang Shafiyah membacakan buku untuk Faruq atau mengajaknya bermain saat saya mengajar Shiddiq. Saat daily plan dari sekolah virtual Ali berbobot ringan, Ali sering secara sukarela mengajar adik-adiknya sehingga kegiatan sekolah bisa berjalan pararel dan cepat selesai. Saat ketiga anak sibuk belajar kadang Faruq mengasuh Fatih. Saat bapak sudah pulang maka barulah saya bisa sepenuhnya melakukan pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah sedikit demi sedikit Faruq mulai bisa menikmati kegiatan eksplorasi mandiri atau bermain bersama saudaranya. Sehingga kini iatidak banyak merengek meminta nonton video sebagai obat kesepiannya. Namun dimalam hari ia lebih banyak ingin dipeluk sebagai obat kerinduannya kepada saya.

Dengan formasi kegiatan seperti ini, jadwal belajar memang tidak mungkin dilakukan selayaknya anak yang duduk dibangku sekolah. Namun karena belajar secara personal membutuhkan waktu yang lebih singkat, maka rata-rata anak-anak usia sd hanya menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 4 jam untuk menyelesaikan daily plan mereka. Sisa waktunya dapat digunakan untuk mempelajari hal lain yang ingin dipelajari. Jika tugas harian kami diibaratkan dengan sebuah kue, maka dalam satu hari kami tidak memotong kue secara berurutan kemudian memakannya secara berurutan pula sampai habis. Tapi bagaimana kue tersebut dapat kami habiskan dari setiap sisi yang paling memungkinkan untuk dimakan saat itu secara terus menerus dan berkesinambungan. Dan semua pihak turut andil demi menghabiskan jatah kue harian dengan cara apapun yang ia bisa.

Terkadang kegiatan belajar harus beralih sementara kepada pilihan kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan di dalam kamar saat waktu menyusui bayi tiba. Misalnya, membaca buku bersama atau mentalaqi hafalan quran. Lalu kegiatan belajar kembali dilanjutkan saat bayi sudah tertidur. Saya tau hal ini tidak mudah, tapi saya percaya bahwa bukan hanya pelajaran sekolah yang mereka terima dengan kondisi ini. Kepedulian mereka untuk mengajar saudara, melibatkan saudara dalam kegiatan mereka akan menjadi pembelajaran yang berharga bagi kehidupan mereka.

Meskipun begitu, anak-anak tetaplah anak-anak. Adakalanya mereka tetap menuntut untuk memiliki ibunya secara utuh dan tidak bersedia menerima bantuan saudaranya. Biasanya saat dimana mereka sangat merindukan perhatian saya, mereka bersikap regresi dengan meminta bantuan pada hal-hal yang seharusnya sudah dapat mereka lakukan sendiri. “Abang lagi pengen diperhatiin ummi ya! Abang sudah bisa pakai baju sendiri, ummi merhatiinnya dengan bacain buku aja ya” kata saya misalnya saat merespon anak merengek minta pertolongan. Terkadang berhasil namun terkadang tidak. Maka sesekali saya membantunya untuk sekedar menunjukan perhatian. Misalnya membantu menyuapkan makanan beberapa suap lalu setelah ia merasa terobati kerinduannya, mereka meneruskan melakukannya sendirian.

Ya… Saya pun manusia biasa. Maka terkadang ketika anak-anak bersikap rewel meminta perhatian, saya sering mengatakan. “Tangan ummi hanya dua, tapi anak ummi ada lima, jika mau dibantu ummi, harus sabar menunggu” Terkadang ada juga balita yang menangis menunggu saya sampai selesai mengurus yang lain. Ketika tiba giliran saya melayaninya, saya memeluknya untuk mengobati perasaannya. Ya begitulah warna kehidupan seorang ibu dengan banyak anak. Sebuah cerita yang saya harapkan kelak menjadi indah. Namun bukan hanya kenangan indah yang menjadi harapan utama, tapi keberkahan atas semua perjuangan ini.

San Jose, California
Dari seorang manusia yang bertangan dua
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 44 – And Shiddiq in His Own Time Too

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 45 – Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad"

Your email address will not be published.