CKSPA Episode 44 – And Shiddiq in His Own Time Too

0
438

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 44

And Shiddiq in His Own Time Too

Secara fitrah orang tua akan merasa bersyukur dan berbahagia ketika melihat anak-anak mereka mencapai sebuah
peningkatan dalam proses belajar. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa melakukan menjadi bisa memberi manfaat.
Setiap anak memiliki keunikan potensinya. Ada kalanya pada satu sisi, sebuah tahapan belajar dicapai pada waktu yang
normal. Ada kalanya pada sisi lain, dicapai dalam waktu yang lebih cepat. Namun ada sisi sisi tertentu yang dicapai
dalam waktu yang lambat.

Sebuah hal yang alamiah jika perasaan bahagia muncul lebih kuat saat anak-anak mencapai sebuah peningkatan dalam proses
belajar lebih cepat dari kebanyakan anak-anak seusianya. Meski para orang tua memiliki cara yang berbeda dalam
mewujudkan rasa syukurnya. Sebuah hal yang lumrah jika para orang tua ingin anak-anak mereka mengalami perkembangan
yang sesuai dengan tahapan usianya. Mampu melakukan apa yang dilakukan anak-anak lain dalam perkembangan usia yang
sama. Sehingga tidak perlu memiliki tambahan pikiran dan pekerjaan dalam menemani tumbuh kembang anak. Sebuah hal yang
manusiawi jika ada perasaan yang perlu kita kelola untuk menerima kenyataan jika anak kita belum mencapai sebuah
tahapan yang seharusnya sudah diraih oleh anak-anak pada tahapan usianya.

Begitu pula saya saat ini yang sedang mengelola perasaan saya dalam menerima kenyataan bahwa anak saya Shiddiq yang
sudah berusia wajib sekolah, menolak untuk sekolah serta belum bersemangat untuk belajar dengan topik pembelajaran
sebagaimana layaknya murid-murid sekolah. Dengan mengucapkan bismillah kami memutuskan untuk menghomeschooling semua
anak-anak kami dengan mengikutkan mereka pada sekolah virtual di Amerika lengkap dengan kurikulum, buku dan fasilitas
penunjang yang diberikan secara cuma-cuma dari pemerintah setempat.

Memang butuh banyak-banyak menarik nafas panjang untuk menemani Shiddiq belajar. Pada akhirnya saya memilih untuk
menunggunya menyatakan “ok sekarang shiddiq mau belajar” dibanding membuang energi untuk membujuknya menghentikan
pilihan kegiatannya agar ia mau mengerjakan lesson plan. Meskipun kata “oke” darinya terkadang baru muncul setelah
matahari tepat berada diatas bumi California. Sementara ia menghabiskan masa paginya dengan melakukan hobby yang ia
gemari sambil menyalakan murottal tugas hafalan al-qurannya hari itu. Dari pada sibuk membujuknya sekolah di pagi hari
yang akan berujung pada stress dan ingin marah, kini kami lebih memilih untuk meninggalkan beberapa gambar instruksi
perakitan lego robotic yang dapat ia kerjakan sampai ia puas sambil menghafal Al-quran. Sementara saya dapat mengajar
materi homeschooling untuk anak lainnya. Masya Allah seorang anak memang sangat gigih untuk mempelajari apa yang
benar-benar saat itu ingin ia pelajari. Begitu juga Shiddiq, yang cenderung mandiri “mengoprek” dan membangun robotnya
dengan membaca gambar instruksi meskipun peralatan itu diperuntukan untuk anak lebih dari usia 10 tahun. Sementara
sebaliknya ia belum terlihat bersemangat mengerjakan worksheet sesuai kurikulum sekolah. Insya Allah pada waktunya,
saya percaya kelak ia akan mau dan mampu mengerjakannya.

Ada sebuah buku anak yang menginspirasi saya untuk bisa memperpanjang sumbu kesabaran saya menemani proses belajar
Shiddiq saat ini. Buku yang berjudul Ruby in her own time, akan membuat kita lebih menghargai keunikan anak-anak yang
akan mencapai titik perkembangannya pada waktunya sendiri. “Ya Shiddiq! tidak ada pilihan bagi ummi kecuali ikhlas dan
bersabar menemanimu belajar, ummi percaya hari-hari ini kelak akan menjadi sebuah kenangan untuk kita semua” Ya kalau
tidak kita, siapa lagi yang selayaknya menghargai anak-anak sesuai keunikan potensinya?. Jikalau ada seorang guru yang
secara privasi mendampinginya, sudah selayaknya ia mendapatkan penghargaan terbaik dari pekerjaannya. Mengajar dan
mendidik anak itu bukan perkara sederhana. Itulah yang mungkin harus selalu diingat oleh para orang tua sebelum ia
berkoar-koar mengkritik institusi pendidikan apalagi jika tanpa disertai solusi. Mengajar dan mendidik anak itu bukan
perkara sederhana yang jelas tak mampu terbayar seimbang dengan gaji para guru yang sangat sederhana kecuali dengan
mengiringinya dengan doa tulus untuk keberkahan kehidupannya dan keturunannya.

Nb: cerita dalam buku ruby in her own time bisa dibaca melalui link youtube berikut
Ruby in Her Own Time: http://youtu.be/CHAJHhtlGAk

San Jose, California 13 Februari 2015
Dari seorang ibu beranak lima tanpa ART yang sedang meminta petunjuk dan pertolongan Allah dalam meracik formula
kegiatan hariannya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 43 – Ada Pahala Dibalik Pahala

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here