CKSPA Episode 35 – Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi

0
279
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 35
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 35
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 35

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 35

Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi

Shiddiq (5y) memang anak yang memberi tantangan tersendiri dalam keluarga kami. Salah satu sifat yang sampai saat ini masih dalam terapi kami adalah sifat pemarah yang membuatnya dapat bertindak agresif bila emosinya tersulut. Mungkin hampir setiap hari kalimat “shiddiq, tahan amarahmu! Tahan amarahmu!” saya ucapkan sambil menahan tubuhnya dan memisahkannya dari kasus permasalahan. Kemudian saya memberinya ruang dan waktu untuk menenangkan diri. Setelah tenang saya memberinya kesempatan untuk menjelaskan duduk persoalan lalu terus menerus mengajarkannya untuk mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik. Saya sangat mengerti bahwa perkembangan otaknya baru berkembang sekitar 50% sehingga ia masih belajar dan butuh pengarahan dalam menyalurkan keinginannya ketika menghadapi suasana yang membuatnya mengalami frustasi. Pemahaman inilah yang membuat hati saya lebih lapang dan bersabar dalam menghadapi tingkah laku balita setiap hari. Terlebih lagi, Shiddiq (5y) yang pemarah dengan Faruq (3y) yang jahil adalah pasangan yang pas dalam menguji kesabaran saya setiap hari.

Kami akui, darah keturunan pemarah memang mengalir pada tubuh anak-anak kami, sehingga kemarahan sering kali menjadi bentuk penyaluran frustasi mereka. Namun kami sangat ingin memutus siklus keturunan pemarah ini pada generasi anak-anak kami. Meski saya harus melawan memori-memori dalam alam bawah sadar yang sangat mungkin muncul kembali ketika kondisi emosi dan fisik sedang lelah. Kondisi yang sangat mungkin memunculkan bentuk kemarahan dengan bentuk yang terpatri pada memori masa kecil saya yang di didik dengan cara bagaimana orang tua di zaman dahulu pada umumnya marah pada anak-anaknya.

Suatu hari saat sedang sangat, sangat, sangat sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, tiba-tiba Ali (11 y) mengaduAli: “ummiiiiiiii…… shiddiq (5y) mukul adik fatiiiiiih! (8m)
Saya pun terpaksa menghentikan pekerjaan lalu mengambil bayi yang sedang menangis. Saya menahan amarah walau sejujurnya saya benar-benar kesal karena perilaku memukul adik bayi adalah perilaku yang sangat keterlaluan. Dengan nada yang tenang tapi kokoh saya bertanya,
Ummi: “shiddiq kenapa shiddiq mukul adek bayi?”
Shiddiq: “itu karena adeknya makan buku”
Ummi: “ummi tau shiddiq kesal, tp shiddiq kan bisa bilang sama adek, lalu shiddiq ambil bukunya, jauhkan dari adek, adek masih kecil, dipukul itu sakit, apalagi adek masih bayi, sangat berbahaya”
Shiddiq: “ggggggrrrrr shiddiq udah bilang sama adeeeek!! Shiddiq udah ambil bukunya!! Tapi adeknya makan bukunya!!”
Penjelasan shiddiq dengan nada marah cukup membuat darah saya menaik. Ditambah dengan hiruk pikuk pekerjaan membuat saya tidak bisa berlama-lama memberikan pengertian padanya. Biasanya saya hanya baru memberikan “warning 1” untuk setiap kesalahan yang diulang setelah diberi peringatan, baru kemudian memberikan hukuman berupa pengurangan hak kesenangan seperti durasi menonton televisi setelah pemberian 3x “warning”. Terkadang teknik time out saya lakukan jika diperlukan. Namun hal ini bukanlah sebagai hukuman, tapi sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk menenangkan diri.

Saya memang lebih banyak memilih teknik apresiasi, pengabaian, pemberian reward dalam membangun kepribadian anak dibanding memberikan hukuman pada mereka. Karena pemberian hukuman bagi saya lebih banyak mengajarkan apa yang tidak boleh, namun tidak sampai mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan anak-anak. Jika mereka melakukan perilaku negatif, saya lebih memilih memberikan pengertian di waktu malam menjelang tidur, baik melalui komunikasi biasa atau melalui dongeng hikmah.

Namun saat itu, beban pekerjaan rumah tangga saya menumpuk sehingga saya kurang sabar untuk menahan pemberian hukuman sampai warning 3. Tiba-tiba saya kelepasan bicara “abang, hari ini gak dapat permen karet nya ya” Kebetulan saat itu ada permen karet di rumah yang saya janjikan boleh diambil setelah semua standar sore selesai. Sejujurnya saya menyesal mengapa langsung mengeluarkan kalimat itu.Shiddiq pun menangis saat saudara-saudara lain mengambil jatah permen karet mereka. Namun saya saya tetap teguh untuk tidak memberinya. Setelah reda saya ajak shiddiq kembali berbicara. Saya sampaikan tentang bagaimana seharusnya ia bersikap saat adik bayi memakan bukunya. Tiba-tiba saya kaget tersentak saat Shiddiq memberi penjelasan,
Shiddiq: “ummi tadi itu Shiddiq pukul punggung adek karena shiddiq takut adek choking”
Saya mengerti maksud Shiddiq. Shiddiq pernah dapat materi p3K dalam homeschooling kami, bahwa jika menemukan anak yang tersedak, kita harus memukul punggungnya sampai korban memuntahkan bendanya.
Ummi: “astagfirullah…astagfirullah kalo gitu ummi dong yang salah, ummi gak mau sabar denger penjelasan abang. padahal abang bermaksud baik sama adek” Saya pun memeluk shiddiq dan mengapresiasi maksud baiknya.Shiddiq: “tadi sebenernya shiddiq mau bilang itu tapi ummi terus aja bicara”Saya pun meminta maaf padanya lalu meralat konsekuensi yang saya berikan.

Astagfirullah… Astagfirullah…. andai saja saya sedikit bersabar untuk mendengar satu kalimat lagi, mungkin saya akan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah ini. Itulah mengapa di dalam Al-Quran Allah menyandingkan kata melihat dan mendengar sebagai cara untuk mengambil pelajaran. Mengapa Allah tidak hanya menyebut kata melihat saja atau mendengar saja? Karena kebenaran tidak cukup hanya diungkap dengan sekedar melihat. Penglihatan hanya mampu melahirkan persepsi yang belum tentu benar kenyataannya. Namun dengan mendengar dan melihat kita akan lebih mengerti apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana motif seseorang dalam melakukan sesuatu, dan apa yang sesungguhnya yang dimaksud seseorang dibalik perbuatannya.

Astagfirullah…astagfirullah terkadang kita tidak sabar untuk menunda sedikit pekerjaan kita, memberikan sejenak waktu kita untuk mendengar perasaan dan penjelasan anak anak kita sehingga kita menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi perilaku mereka. Terkadang kita mendadak menjadi seorang peramal yang mampu menduga niat dari perbuatan anak-anak kita atau perilaku yang akan dilakukan mereka. Meskipun anak-anak kita berbuat salah di mata kita, namun dengan mendengar kita akan lebih memahami bahwa kesalahan mereka hanyalah ketidaktahuan mereka dalam memilih sikap yang tepat dalam menghadapi masalah. Disinilah seharusnya peran kita yang utama, mengajarkan mereka bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi suatu masalah. Namun kemarahan kita sering kali menutup kesempatan itu. Kesempatan untuk duduk tenang berbicara dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang seharusnya dianut anak-anak kita.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus belajar dan bersabar untuk lebih mendengar anak
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 34 – Dari Pintu Yang Mana Kami Layak memasuki Jannah-Nya

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here