Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 23

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 23

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 23

Ya Allah Jadikanlah Kami Muslim yang Kaffah

Tumbuh didalam sebuah zaman di Indonesia dimana banyak orang yang beragama islam namun perilakunya jauh dari nilai Al-quran, banyak orang yang shalat namun shalatnya belum mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar, banyak orang yang mengaji namun Al-quran yang dibaca belum mampu menahan lisannya dari perkataan dzholim dan sia-sia, membuat kami merenung bagaimana formulasi yang tepat mengajarkan nilai-nilai agama pada anak-anak agar mereka menjadi pribadi yang menganut islam secara menyeluruh.

Perjuangan ini semakin terasa menantang ketika kami harus hijrah ke Amerika dimana suasana belajar islam tidak semarak seperti di tanah air. Seperti hal nya dalam urusan membaca, dimana kami memilih untuk lebih dahulu menanamkan minat membaca jauh sebelum mereka siap diajarkan skill baca. Maka kami lebih memilih untuk lebih dulu mengajarkan nilai-nilai ketuhanan dan memahamkan tentang makna shalat sebagai cara berkomunikasi dan bersyukur kepada Allah sebelum kami mengajarkan tata cara shalat. Yang jelas kami tidak ingin keluarga kami menegakkan shalat namun shalatnya tidak mampu mencegah mereka dari perbuatan keji dan mungkar, maka kami memilih untuk tidak menegakkan sholat dalam keluarga dengan cara yang keji dan mungkar pula. Hanya saja, sesuai anjuran syariat, kami bersikap tegas tentang perkara shalat pada usia 10 tahun. Dalam urusan sholat, mungkin kami terbilang “santai” dibanding keluarga muslim lain di Indonesia, karena pembebanannya baru kami mulai di usia 7 tahun seperti yang tersirat dalam hadist, meskipun begitu kami meminta semua anak berada pada ruangan sholat saat kami berjamaah.

Kami lebih memilih membentuk suasana Al Quran terlebih dahulu sebelum mengajarkan skill membaca Al Quran. Salah satunya dengan bercerita tentang kisah di Al-quran atau menyampaikan pesan-pesan Allah yang terkandung di dalamnya. Dalam urusan mengaji, mungkin kami terbilang “santai” dibanding keluarga muslim lain di Indonesia. Jadi teringat pengalaman bertahun-tahun menjadi guru Al-quran anak-anak saat di Indonesia, dimana para orang tua sangat bersemangat mengajarkan Iqro sejak usia 3 tahun, padahal anak “guru ngajinya” hanya ikut duduk disamping ibunda yang mengajar. Kami memilih untuk mulai intensif belajar mengaji di usia 5 tahun saat lidah anak-anak lebih fasih dalam mengucap makhrojul huruf, meskipun memperdengarkan Al Quran telah dimulai kami mulai sejak kandungan. Mereka memang terlihat bebas bermain, namun mereka ada disekitar saya saat saya mengaji atau mengajar mengaji. Mereka baru mulai belajar skill membaca Al-quran saat mereka telah menunjukan minat dan kemampuannya. Sesekali anak saya yang 3 tahun meminta saya mengajarkannya mengaji ketika kakak-kakaknya tengah mengaji, namun saya hanya melatih pengucapan hijaiyah dengan mentalaqqi pengucapan makhrojul huruf yang tepat, tanpa memperlihatkan iqro kepadanya. Entahlah ini memang pilihan kami, untuk tidak terburu-buru memberikan pengajaran skill membaca Al-quran seperti pilihan kami untuk tidak terburu-buru mengajarkan skill membaca. Meskipun anak-anak tidak sepandai teman-teman seusianya yang sudah lebih dahulu pandai membaca, namun sejak di dalam kandungan mereka terbiasa dengan suasana membaca buku bersama dan setiap hari membaca buku menjadi agenda harian keluarga.

Melihat beberapa keluarga sangat tegas dalam pembiasaan agama sejak usia dini, mungkin kami terbilang “santai” tentang pembiasaan ini. Kami tidak menggunakan teknik hukuman dalam menegakan sholat kecuali yg sudah digariskan dalam syariat yaitu pada usia 10 tahun. Kami memilih untuk lebih banyak memberikan kisah kisah hikmah tentang nilai- nilai agama dibanding mengutamakan doktrin agama dalam melaksanakan ibadah harian. Kami sangat tidak setuju dengan aturan yang dianut beberapa keluarga muslim yang suka menjadikan tambahan ibadah harian sebagai salah satu bentuk hukuman bagi anak karena kami khawatir anak menjadi tidak suka dalam beribadah.

Memang kami juga memilih untuk tidak memfokuskan seorang anak memperdalam ilmu syariat sejak kecil, karena kami sangat terinspirasi dengan tokoh-tokoh muslim seperti khawarizmi, ibnu sina dll, yang sangat menguasai ilmu agama dan menjadikan Al-Quran sebagai landasan mereka dalam menggali ilmu pengetahuan. Maka kami berusaha mengajarkan ilmu secara holistik tanpa memisahkan agama dan ilmu pengetahuan umum. Kami berusaha mengkaitkan semua pengetahuan umum yang mereka dapat dengan nilai-nilai ilahiah agar mereka bertambah keyakinan dan kecintaannya kepada Allah.

Terkadang orang salah berekspektasi tentang kondisi ibadah anak-anak kami, dengan keheranan mereka bertanya “anak ammah kiki juga belum bisa mengaji?”. Padahal sebagian ibu-ibu di Indonesia seperti kebakaran jenggot karena melihat balita lain sudah mulai belajar iqro. Malah saya yang jadi tersipu malu jika ditanya seperti itu.

Dulu waktu di Indonesia, kami memang membiasakan Shafiyah berhijab sejak balita. Di indonesia memang terbiasa melihat banyak orang berhijab. Sampai di USA, Shafiyah lebih kritis bertanya tentang hijab karena ia sering ditanya oleh teman-temannya. Jujur saja, sejak kami pindah ke USA saya sedikit mengendurkan tentang aturan berhijab sebelum shafiyah masuk usia baligh. Tujuannya agar tidak muncul penolakan darinya saat ia memasuki usia wajib berhijab. Alhamdulilah ia masih komitmen berjilbab selama sekolah sebagai identitasnya, meski saya kini mengijinkannya membuka hijab saat ia merasa panas dengan berkata “iya nak sekarang boleh dibuka, tapi nanti kalau sudah baligh walau panas tetap dipake ya” dan shafiyah menyepakatinya. Kami sering menjelaskan ulang pada shafiyah bahwa hijab menjadi wajib untuk perempuan saat usia baligh, namun kami memilih untuk membelikan pakaian yang sopan dan tertutup untuk pembiasaan sejak kecil. Pernah suatu hari saya bertanya, karena khawatir shafiyah merasa berbeda dengan teman-temannya di Amerika. “Teteh, sebenernya teteh ada perasaan pengen gak sih pakai baju “kelek” atau celana pendek diatas paha seperti temen-temen?” Alhamdulillah shafiyah tidak memiliki selera tentang itu. “Iiiiih gak mau!” Katanya

Memang perjuangan kami untuk tetap istiqomah di Amerika tidak mudah. Apalagi anak-anak begitu kritis membandingkan realita kehidupan dengan materi agama yang kami tanamkan sebagai seorang muslim. Kalau sedang melihat kedzholiman di lingkungan sekitar, kami memang sering merefleksi kejadian bersama anak-anak bahwa “kita adalah muslim” dalam islam hal itu dilarang. Ternyata efeknya mereka memiliki citra bahwa seorang muslim itu harus begini dan begitu. Timbulah kekritisan ketika mereka menemukan muslim yang tidak sesuai dalam bayangan mereka. “ummi tante itu kan muslim tapi kenapa tante itu gak berjilbab kan wajib?” Contohnya. “Perintahnya wajib, tapi tante itu belum bisa melaksanakannya” jawab saya. “Ummi mereka begini mereka begitu, kalo kita muslim gak boleh kan?” Komentar mereka saat mereka melihat orang-orang Amerika yang berperilaku buruk. “Mereka gak ngerti, mereka gak tau, mereka gak diajarin, di Indonesia banyak juga muslim yang seperti itu kalo mereka gak diajarin yang baik” jawab saya yang sering khawatir jika mereka pulang ke Indonesia mereka akan melihat bahwa banyak wajah muslim yang jauh dari nilai-nilai yang mereka pelajari. Barangkali kalau mereka pulang ke Indonesia justru akan banyak bertanya “ummi mereka muslim tapi kok begini dan begitu” hehehe. Karena jujur saja, secara ketertiban, keadilan, penegakkan aturan, serta pemenuhan hak, kami lebih banyak melihat nilai-nilai islam di terapkan di negeri ini dibanding Indonesia.

Dalam kehidupan kami di Amerika, saya selalu memberi pesan kepada anak-anak, bahwa keberadaan kita disini tidak hanya membawa nama baik diri dan keluarga, namun juga nama baik islam dan bangsa Indonesia. Kami juga sangat yakin bahwa prestasi itu bukanlah milik suatu agama atau bangsa, tapi prestasi itu milik mereka yang mau berusaha. Alhamdulillah prestasi anak-anak pun menonjol di kelas, maka kami menanamkan pada mereka bahwa dengan prestasi itu kita turut membawa harum nama islam dan bangsa Indonesia.

Ya inilah ikhtiar yang kami pilih, yang entah kapan ikhtiar ini bisa kami panen. Kami selalu minta petunjuk kepada Allah bagaimana agar kami tetap bisa istiqomah berislam ditengah zaman yang sudah “wong edan” ini. Bukan saja di Amerika, tapi juga di Indonesia dan diseluruh belahan dunia, karena kita tengah memang hidup di akhir zaman.

Saya selalu ingat pesan syeikh Yasir Qodhi tentang tantangan mendidik dan mempertahankan identitas anak-anak muslim di Amerika. Beliau mengibaratkan bahwa kita berada pada sungai yang deras, jika kita tegak berdiri melawan arus kita akan mati, namun jika sepenuhnya mengikuti arus kita juga akan celaka. Jika terus mengarahkan badan menuju sebuah tujuan namun dengan berirama mengikuti arus, kita akan selamat. Insyaa Allah. Yang jelas, kami sangat percaya bahwa hati Anak ada dalam genggaman Allah sehingga kepada Allah lah kami meminta agar hati anak anak dicondongkan dalam kebaikan dan kegemaran beribadah. Kami begitu percaya bahwa tanpa banyak berkata mereka akan mendapat pelajaran dari ibadah yang orang tua lakukan. Ah…… maka diri ini sedang terus berusaha untuk memperbaiki shalat serta memperbaiki interaksi dengan Al-quran karena kami memang sadar ibadah kami masih jauh dari kesempurnaan sebagai teladan. Semoga Allah menjadikan keluarga kita sebagai pemeluk islam yang kaffah. Aamiin


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 22 – We are Happy Helpers

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 23 – Ya Allah Jadikanlah Kami Muslim yang Kaffah"

Your email address will not be published.