TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 18

Pentingnya Peran Seorang Ayah

Ada suatu masa dimana saya begitu khawatir terhadap keadaan keluarga kami. Saat awal kami pindah ke Amerika dan merasakan betapa kerasnya ritme kerja di negeri ini. Entah memang secara umum di negeri ini, atau kebetulan saja pekerjaan suami yang menuntut komitmen tinggi dengan durasi pekerjaan yang lama setiap harinya serta siap bekerja kapanpun dimanapun. Terutama ketika muncul masalah yang harus diselesaikan saat itu juga tanpa kenal waktu. Entah siang atau malam entah libur atau tidak.

Saat itu saya begitu khawatir anak-anak saya menjadi generasi tanpa ayah. Generasi yang memiliki ayah namun tiada, karena sang ayah terjebak dalam ritme kerja yang “menggila”. Bahkan pernah diskusi serius kami, sampai pada sebuah pertanyaan yang saya ajukan “untuk apa kita pergi merantau dan mendapat perbaikan dalam kelapangan harta jika membuat kita semakin jauh dari Allah?” Suami mencoba menenangkan hati saya, ia berjanji ritme kerja seperti ini tidak akan lama. Ini terjadi karena banyak hal yang harus dikerjakan saat pertama kali datang ke Amerika. “Ummi, kita kan sudah berdoa pada Allah, kalo kepergian kita baik untuk agama kita, Allah akan memberangkatkan kita, dan kini kita sudah sampai disini” kata suami menguatkan saya.

Saat itu, kang Abik (ustad habiburrahman Elshirazi) sedang berkunjung ke Amerika. Dalam pengajian saya bertanya, “ustad, bagaimana memunculkan peran ayah dalam mendidik anak-anak, jika para suami sangat sibuk dengan pekerjaan? Bagaimana agar anak-anak kita tidak menjadi generasi tanpa ayah?” Alhamdulillah nasihat ustad saat itu sangat berkesan bagi saya. Sejak itu kami berkomitmen untuk menerapkannya didalam rumah. Kurang lebih nasihat beliau adalah senantiasa menjadikan ayah sebagai pengambil keputusan utama untuk setiap keputusan besar berkaitan dengan anak. Buat anak mengetahui bahwa ayahnya terlibat dalam keputusan itu. Beliau juga berpesan untuk senantiasa memanfaatkan waktu libur kerja sebagai sarana untuk meningkatkan kedekatan dan keharmonisan hubungan keluarga.

Hampir tidak ada waktu yang bisa dipakai oleh sang ayah untuk sekedar memanjakan dirinya. Begitu banyak tanggung jawab dipikul oleh seorang manusia bernama “ayah”. Terlebih bagi kami yang hidup merantau di negeri yang bukan mayoritas muslim. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, tanggung jawab pendidikan agama sepenuhnya berada ditangan kami selaku orang tua, khususnya ayah. Mungkin pelaksaannya bisa diwakili ibu atau pihak lain sebagai guru, namun utamanya tanggung jawab kondisi agama sebuah keluarga berada ditangan sang ayah.

Saya sering meminta anak-anak menelpon ayahnya saat jam kerja jika ada hal-hal yang dirasa perlu diputuskan oleh bapak, atau meminta mereka menunggu bapak pulang untuk meminta ijin tentang hal tertentu. Ditengah kelelahan, bapak harus meluangkan waktu mendengar cerita saya tentang perkembangan anak-anak. Semua perasaan lelah, cemas, bingung, bahagia, syukur, susah, senang dalam pengasuhan anak, tercurah seluruhnya saat waktu diskusi kami. Saat itulah kami sama-sama mencari referensi ilmu, memutuskan pilihan sikap, dalam menghadapi setiap pernak-pernik pengasuhan anak. Saat itu pula kami saling menguatkan dalam kesabaran. Dengan cara inilah, saya semakin tegar, kuat, sabar, mengurus rumah tangga di negeri perantauan

Ditengah lelah, bapak juga meluangkan waktu untuk mengurus anak-anak dengan tangannya, sebagai bentuk perhatian pada mereka. Terkadang sengaja mengganti popok bayi, atau membantu anak-anak bersuci dari najis, sebagai bentuk perhatian beliau terhadap anak-anak.

Ditengah lelah, bapak secara langsung mengawasi dan mengevaluasi pencapaian pendidikan shalat dan al-quran anak-anak, meski pelaksaannya dilakukan oleh saya.
Kondisi yang kami lakukan saat ini pun membutuhkan sebuah proses. Karena ada masa dimana bapak pergi sebelum anak bangun dan pulang setelah anak hampir mau tertidur. Sampai suatu hari, saat saya merasa sangat lelah untuk menghandle semua keperluan anak-anak, saya berbicara pada bapak “ummi sudah sangat berusaha, mengurus semua keperluan anak-anak. Keperluan tubuhnya, ilmu kognitifnya, pendidikan karakternya, bahkan mengajar islam dan al-quran. Ummi mau bantu bapak agar bapak kelak bisa mempertanggungjawabkannya di depan Allah. Tapi ummi gak sanggup kalo sendirian, karena bagaimanapun itu tanggung jawab bapak” Alhamdulillah sejak saat itu bapak melipatgandakan kekuatan untuk “turun langsung” mendidik anak-anak terutama Ali yang sudah masuk fasa remaja. Masa dimana ia sudah membutuhkan sentuhan langsung pendidikan dari ayahnya.


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 17 – Menangkap Hikmah Dibalik Setiap Kegiatan

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 18 – Pentingnya Peran Seorang Ayah"

Your email address will not be published.