CKSPA Episode 10 – Membangun Visi Hidup Anak

0
385
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 10

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 10

Membangun Visi Hidup Anak

Saya tidak pernah lupa dengan sebuah seminar parenting bersama seorang psikolog yang mengawali seminarnya dengan sebuah pertanyaan “jika anak ibarat sebuah kertas putih, harapan apa yang ingin ibu tulis diatasnya”. Kemudian seorang ibu diminta kedepan dan menyampaikan isi tulisannya “saya ingin anak saya bisa menempuh pendidikan dengan baik supaya bisa diterima kerja di perusahan besar” begitu kata seorang ibu.

Saat itu saya tidak habis fikir. Sebatas itukah harapan orang tua terhadap anak? Jangankan cita-cita yang bernuansa akhirat, cita-cita duniapun hanya sebatas “Bisa diterima” bukan “bisa membuat” perusahaan besar. Apakah untuk itu anak-anak kita harus menuntut ilmu? Belajar untuk bekerja? Seandainya saya yang disuruh maju, jangan-jangan penonton akan mencibir saya, karena cita-cita saya melambung tinggi yang saya tulis sebagai doa dan harapan terhadap anak-anak. Tidak hanya dunia tapi juga akhirat, dan tidak hanya akhirat tapi juga dunia.

Saya memang korban doktrin organisasi kampus yang menkader para aktivisnya dengan visi besar terhadap bangsa. Tak akan pernah saya lupa, ospek mahasiswa yang membuat darah saya mendidih karena semangat bergelora. Saat berteriak “untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater” meski saya hanya duduk ditengah barisan karena saat itu saya harus berdiri dengan bantuan tongkat kayu. Aktifitas kemahasiswaan khususnya organisasi islam telah menginspirasi saya untuk bergerak diatas visi misi hidup yang dirancang secara hitung mundur. Dari sebuah pertanyaan “ingin meninggal dalam keadaan apa dan sebagai apa?” Lalu hitung mundur dengan sebuah pertanyaan “apa yang ingin kamu lakukan saat ini” Sampai hari ini, saya tidak lupa tentang apa yang saya tulis dan saya impikan saat itu. Satu persatu walau lambat, tahapan-tahapan menuju impian itu Allah jawab dengan segala kemudahannya.

Mengapa begitu lambat? Karena realita tak semudah idealisme. Apalagi ketika idealisme itu ingin diwujudkan dalam status sebagai ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang sering dijuluki masyarakat sebagai “hanya ibu rumah tangga”. Ketika dapur harus ngepul, popok dan susu harus dibeli, dan segala suka duka merintis rumah tangga, saya berusaha untuk tidak berhenti meraih impian itu. Namun ternyata, semakin gigih saya mengejar impian itu, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak-anak sendiri. Membentuk mereka menjadi sebaik-baiknya manusia seperti yang digambarkan Rasulullah, yaitu manusia yang paling banyak manfaatnya. Dengan amalannya yang bermanfaat, akan mampu mengantarkan mereka meraih derajat yang tinggi di akhirat nanti. Dalam bentuk apapun peran yang diambilnya.

Saya ingin anak-anak memiliki visi dan misi hidup sejak dini. Bagi saya, memiliki visi dan misi hidup yang jelas akan menghindari mereka dari membuang waktu percuma. Semakin dini visi misi hidup ditanamkan, semakin jelas bidang keilmuan yang ingin diperdalam, semakin dini produiktifitas kehidupan dimulai. Membantu membangun visi hidup anak-anak berarti membangun konsep berfikir tentang makna kehidupan. Membantu membangun misi hidup anak-anak berarti mengasah kepekaan mereka terhadap permasalahan kemudian memotivasi mereka untuk mengambil peran menjadi bagian dari solusi permasalahan. Oleh karena itu, diskusi adalah budaya keluarga kami. Saya berusaha untuk tidak melewatkan setiap kejadian yang kami alami, kami lihat, atau kami dengar sebagai kesempatan emas untuk mengasah cara berfikir dan kepekaan sosial anak-anak serta merangsang mereka untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki menjadi bagian dari solusi. Bahkan semenjak hijrah keluar negeri, saya sering bercerita tentang kondisi indonesia kepada anak-anak dalam bahasa yang sederhana. Saya perkaya pengetahuan mereka dengan berbagai informasi dari buku, film, maupun kunjungan edukasi. Sehingga meraka termotivasi untuk selalu ingin membuat sesuatu. Jika mereka berbicara tentang cita-cita mereka biasanya mengawalinya dengan kalimat “ummi… Kalo aku sudahh besar aku ingin membuat……..” Terlebih tayangan favorit mereka adalah “how it’s made” channel di youtube

Shiddiq 4.5y sangat tergila-gila dengan pesawat. Sebagian besar karya yang ia buat selalu bertema pesawat. Membuat gambar, art and craft, miniatur pesawat dll. Bahkan diusaia 4 tahun ia pernah membuat buku dengan kumpulan gambar pesawatnya kemudian meminta saya untuk menuliskan cerita yang ia karang sebagai penjelasan setiap halaman yang ia gambar. Keadaan ini saya manfaatkan dalam menyampaikan materi homeschooling. Pelajaran math, bahasa, moral, agama akan lebih mudah masuk jika bertemakan pesawat. Awalnya ia bercita-cita ingin jadi pilot. “Boleh nak, jadii pilot sholih yang hafid quran dan bisa bikin pesawat” kata saya. Kemudian saya rangsang lagi pola pikir dan kepekaan sosialnya sehingga cita-citanya berubah menjadi ingin membuat pesawat. Suatu hari saat kami sedang homeschooling dan melakukan kegiatan hands on learning bertema pesawat, tiba-tiba diskusi kami mengalir menuju pembicaraan tentang IPTN dan pak habibie. Saya bercerita bagaimana cita-cita awal pak habbibie mendirikan IPTN, bercerita tentang prestasi N250, dan kondisi IPTN saat ini dengan bahasa yang bisa dimengerti shiddiq

Ummi: “Makanya idiq belajar yang rajin ya… IPTN nya nunggu idiq pulang ke Indonesia supaya bisa maju lagi” Shiddiq: “mereka itu tau dari mana sih nama idiq?” (wkwkkwkkwkkwkkwk dasar anak-anak) Ummi: “hehhehhe nggak sih mereka belum tau kalo ada anak kecil pinter kayak idiq yang mau bikin pesawat, ini pengennya ummi aja. Idiq pulang ke indonesia trus majuin IPTN lagi” Shiddiq: “sekarang pak habibie masih ada gak mi?” Ummi: “beliau masih hidup, tapi sudah tua. Tapi ada anaknya yang juga jago bikin pesawat. Katanya sih bikin perusahan pewat lagi di batam” Shiddiq: “Ok lah kalo gitu, idiq nanti sama anaknya pakk habibie aja” (cieeeeee gaya lo! amiiiiin)

Diwaktu yang lain……. Shiddiq: “ummi, idiq pengen pulang ke indonesia” Ummi: “nanti ya nak insya Alllah kita pulang kalo idiq udah selesai belajar tentang pesawatnya” Shiddiq: “ok lah mi, nanti idiq mau bikin pesawat untuk indonesia

Aamiiin ya Allah… Kabulkan impian ananda atau beri ganti yang lebih baik darinya. Semoga ada malaikat lewat saat itu yang mengaminkan impian bocah 4 tahun ini. Kenapa tidak mereka bermimpi? Kenapa tidak anak-anak bercita-cita besar? Karena orang-orang besar mengawali semuanya dari sebuah mimpi. Dibalik orang besar, insya Allah ada wanita yang mendukungnya, entah ia sebagai ibu atau istri atau keduanya. Melihat anak-anak yang begitu bergairah untuk belajar dan berkarya, saya menjadi semakin bahagia menyipan rapi ijazah cap gajah dalam mapnya, yang sampai saat ini belum pernah dipakai melamar kerja.


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 09 – Tidak Apa-apa Ya Nak…. Kita Sedikit Berbeda

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here