CKSPA Episode 08 – Belajar Mendengar Perasaan Anak

0
629
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 08

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 08

Belajar Mendengar Perasaan Anak

Hari itu sepulang kuliah, adalah hari pertama saya menjemput Ali di sekolah TK. Saat itu ia berumur 3 tahun. Bocah kecil itu berlari menghampiri sambil berteriak dengan girang “horeeee….. ali punya ummi baru!”. Itulah hari pertama bagi Ali pulang sekolah dijemput oleh sesosok bernama “ibu”. Wajahnya seolah mengatakan pada dunia, bahwa akupun bisa dijemput oleh ‘ibu” seperti teman-teman lainnya. Saya hampir tak percaya, kehidupan yang sehari-hari berkutat dengan rumus, percobaan dan himpunan mahasiswa mendadak berubah status menjadi seorang ibu, saat seorang ayah berputra satu melamar saya.

Setiap manusia pasti memiliki perasaan dalam merespon setiap keadaan, tidak hanya saya yang tiba-tiba menjadi ibu, begitu juga Ali yang tiba-tiba memiliki ibu. Proses taaruf yang singkat dan langsung menikah, membuat kami menghadapi berbagai lompatan episode dalam kehidupan.

Perasaan bahagia yang saya rasakan saat membuka lembaran baru kehidupan bercampur baur dengan berbagai perasaan lainnya. Bahagia, terharu, cemas, bingung dan berbagai perasaan lainnya mewarnai hari-hari baru saya dalam status sebagai mahasiswi, istri dan ibu. Begitu juga bagi Ali, tentunya ia memiliki perasaannya tersendiri. Entah apa yang ada dalam hati Ali saat itu. Seorang anak yang belum pernah melihat wajah almarhum sang ibunda, yang meninggal karena sakit setelah melahirkannya, harus bertemu dengan orang asing yang berstatus sebagai ibu barunya.

Berbagai kisah suka dan duka saya lalui saat awal perjuangan meraih posisi “ibu” dimata Ali. Juga perjuangan yang penuh haru biru untuk mengumpulkan sang ayah dan anak dalam sebuah atap yang sama layaknya sebuah “keluarga”. Dan kesemuanya pasti melibatkan PERASAAN. Tidak hanya perasaan orang tua terhadap anak, namun juga perasaan anak terhadap orang tua. Berbagai perjalanan yang dilalui saya sebagai orang tua, mengajarkan saya untuk tidak hanya mengutarakan apa yang orang tua rasakan terhadap anak, namun juga apa yang dirasakan anak terhadap orang tua. Tentang harapan dan keinginan, tentang apa yang disukai dan tidak disukai.

Dalam tulisan ini saya sedang tidak ingin berbagi tentang bagaimana masa-masa awal perjuangan itu. Saya ingin membandingkan apakah perasaan kami tetap sama saat pertama kali berjumpa? Ooo tentu tidak. Perasaan yang kami rasakan semakin kaya. Ada bahagia, sedih, ceria, terharu, bangga, kesal, cemas, marah dan perasaan natural lainnya sebagai seorang manusia. Namun perasaan yang paling mendominasi bagi saya adalah perasaan bersyukur memilikinya. Sehingga apapun keadaannya, perasaan bersyukur akan membawa saya dalam keadaan baik-baik saja.

Beberapa waktu yang lalu saya menanyakan perasaan Ali terhadap saya. Ada sedikit perbedaan pendapat yang terjadi diantara kami. “Ali…. Gak papa silahkan kamu jujur sama ummi, apa yang kamu harapkan sekarang. Dengan itu ummi bisa tau ummi harus ngapain, supaya ummi bisa jadi ibu yang lebih baik lagi” kata saya dalam sebuah pembicaraan intim dimana kami hanya duduk berdua. Ali pun menangis, mengutarakan perasaanya bahwa ternyata ia kecewa atas keputusan saya beberapa waktu yang lalu untuk tetap mendaftarkannya sekolah islam weekend.

Seminggu sebelumnya saya sedang mengingatkan ayahnya untuk mengisi pendaftaran ulang sebuah sekolah islam akhir pekan, sebut saja sunday school. Tiba-tiba Ali yang tengah mengerjakan proyek sunday school keluar kamar dan berteriak “No!! i dont wanna go to sunday school anymore” Kata-kata itu bagaikan petir menyambar bagi saya. “Ali sudah, gak usah teruskan ngerjain proyeknya, ayo sini duduk disini, kita perlu bicara”. Panjang ia mengutarakan alasannya mengapa ia tidak ingin lagi mengikuti kelas tambahan belajar islam di sekolah itu. Tentang perasaan lelahnya. Tentang PR sekolah yang menumpuk harus ditambah dengan PR Sunday School. Tetang perjuangannya belajar bahasa arab ditengah mayoritas siswa muslim Amerika dari keturunan middle east, dan alasan-alasan lainnya. Saya tau selama ini ia menjalankan sekolah ini dengan tidak terlalu ceria. Terlebih jika harus mengerjakan PR bahasa Arab dengan hanya ditemani oleh om google translate karena saya dan ayahnya sama sekali tidak bisa membantunya. Meskipun kerja kerasnya telah membuat nilai B di rapot untuk bahasa Arab, ia masih merasa sangat berat menjalankannya. “kenapa sekolah umum bisa belajar dengan fun tapi sekolah islam nggak?” tanyanya. Saya memberi pengertian padanya bahwa ada kalanya kita menghadapi sesuatu yang “gak asyik”, yang sebenarnya berat untuk dijalankan, namun kita tetap harus menjalankannya karena Allah menginginkan kebaikan didalamnya. Saya juga memintannya untuk tidak memangkas kegiatan wajib jika ia merasa terlalu lelah. Akhirnya malam itu kami memutuskan untuk memangkas kegiatan “sunnah” agar ia memiliki waktu dan energi yang cukup untuk menjalankan yang wajib, yaitu belajar agama. Sepertinya malam itu ia sangat kecewa, karena yang terpangkas justru kegiatan eksplorasi hobby bersama kami. Kegiatan robotic, elektronika, science dll.

Dalam pembicaraan kami yang kedua, saya ingin lebih mendengar perasaannya yang mendalam serta bersama-sama memutuskan solusinya. Alhamdulillah walau dengan meneteskan air mata, Ali bersedia jujur tentang harapannya. Lobby yang cukup lama kami lakukan dengan kesimpulan 1. Ali ingin mulai homeschool tahun ini, agar ia bisa punya waktu lebih banyak dalam eksplorasi ilmu yang ia minati. Hasil lobby: Ali bersedia meneruskan sunday school jika ia homeschool. Namun jika tidak, ia meminta belajar islam dengan saya dirumah dengan menggunakan kurikulum sunday school, serta mengikuti kelas bahasa arab online 2. Ali ingin punya waktu bermain lebih banyak. Hasil lobby: saya mengijinkan ia melaksanakan hobbynya dalam mendesain di komputer di pagi hari setelah ia menyelesaikan seluruh standar pagi hari sebelum sekolah. Semakin gesit ia menyiapkan, semakin banyak waktunya mendesain 3. Jika ia homeschool ia bersedia menambahkan jamnya dalam menghafal Al-quran setiap hari 4. Ali ingin punya tabungan sementara saya tidak pernah memberinya uang saku. Hasil lobby: Ali akan “bekerja” dengan pekerjaan ekstra diluar tugas rumah tangga yang menjadi kewajibannya. Kemudian saya membayarnya dalam bentuk tabungannya, untuk kemudian ditukar dengan barang yang ia ingin beli dibawah persetuan orang tua. jumlah jam ia bekerja tidak boleh mengurangi jam mainnya 5. Ia ingin ummi segera lulus ujian SIM, supaya bisa driving mengantarnya ikut kursus-kursus.

Satu per satu kami bahas tentang harapannya juga harapan kami sebagai orang tua. Bahkan ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menyanyakan semua perasaanya tentang tanggung jawab harian yang selama ini saya beri. Melaundry kain sendiri, membantu ummi setiap hari, menghafal quran dan mengaji, dll. Alhamdulillah untuk hal tersebut Ali tidak merasa keberatan. Hanya point-point diatas yang ia ingin sampaikan. Saya akhiri pembicaraan ini dengan berkata “Ali terima kasih sudah mau jujur sama ummi. Ummi belum bisa janji, ummi akan sampaikan ini dulu sama bapak. Keputusan akhirnya ada di bapak. Makasih ya li…. Semoga kita sama-sama berkumpul di surga” Ali berjalan menghampiri saya kembali untuk bertanya “Ummi, mengapa ummi bilang seperti itu?. Saya jawab “Ali…. ummi dan bapak punya harapan, ali juga punya harapan. kadang kita sedikit berbeda pandangan, tapi ingatlah bahwa yang kita inginkan sama-sama ingin menuju surga. jadi kadang kita perlu mencari solusi bersama. jadi gimana apa ali sudah lega sekarang?” Ali pun tesenyum sambil mangguk, lalu saya bertanya sambil mengajaknya “tos” “jadi bagaimana Ali sekarang kita ‘friend’ lagi?” Ali mengangkat tangannya dan berkata “friend!”

Anak punya keinginan, sebagaimana kita sebagai orang tua. Anak punya harapan, sebagaimana kita sebagai orang tua.Anak juga memiliki perasaan, sebagaimana kita sebagai orang tua. Namun terkadang kita memiliki perbedaan dalam memilih jalan dan caranya. Namun ingatlah bahwa yang kita inginkan adalah sama-sama menuju surga. Berdamai dengan perbedaan itu perlu. Namun jika jalan yang dipilih jauh dari tujuan kita menuju surga, disinilah otoritas orang tua dapat berbicara.


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 07 – Pengalaman Mengatasi Anak Mogok Sekolah

 

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here