CKSPA Episode 07 – Pengalaman Mengatasi Anak Mogok Sekolah

0
419
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 07

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 07

Pengalaman Mengatasi Anak Mogok Sekolah

Disuatu pagi, seperti biasa saya membangunkan Shafiyah (6y, kindergarten) untuk pergi sekolah. Namun hari itu dan hari-hari sebelumnya Shafiyah selalu tidak ceria setiap pagi. Saat itu adalah hari-hari pertama kelahiran adik barunya. Banyak hal yang berubah dalam rumah. Semua membutuhkan penyesuaian untuk kembali stabil, tidak hanya bagi saya, namun bagi anak-anak.

Shafiyah :”teteh gak mau sekolah!!”

Kalimat itu memberi tambahan pikiran bagi saya yang masih dalam tahap pemulihan pasca melahirkan anak ke 5. Saat perut masih sakit karena rahim yang mengecil, jahitan yang masih basah, belum lagi semua pekerjaan rumah harus dikerjakan bahkan sejak pertama kali menginjak rumah sepulang dari rumah sakit. Shafiyah memberikan alasan bahwa ia tidak mau pergi sekolah karena merasa rindu dengan adik bayi. Sebuah alasan yang mungkin saja benar walau terdengar konyol. Dengan berbagai penjelasan, saya membujuknya. Ia berangkat, namun dengan wajah yang tidak ceria. Keesokan harinya kejadian ini terus berulang, dalam keaadaan rush hour di pagi hari, dengan terpaksa beberapa kali kakaknya berlari meninggalkan Shafiyah agar tidak tertinggal bus. Saya coba mengajaknya bicara dengan suasana yang nyaman, lalu ia menambahkan alasan dengan berkata “Shafiyah ditabrak anak laki-laki waktu main di playground”. Saya mengerti, kejadiaan itu pasti memberi kesan buruk pada diri Shafiyah yang kami kenal sangat sensitif. Terlebih lagi, Shafiyah yang pendiam, saat itu belum dapat secara aktif berbicara bahasa inggris. Hanya mengerti namun pasif dalam berkomunikasi. Dapat saya bayangkan, bagaimana seseorang yang tidak bisa mengkomunikasikan perasaannya karena pribadinya yang introvert dan memiliki kendala dengan bahasa.

Peristiwa mogok sekolah pun berulang, kali ini alasan Shafiyah bertambah lagi. “teteh gak suka di sekolah ini, PR nya banyak dan susah”. Sekolah ini adalah sekolah baru bagi Shafiyah. Tepat sebulan sebelum melahirkan kami pindah rumah, maka otomatis anak-anak pun harus pindah sekolah. Rumah baru, sekolah baru, adik baru, adalah perubahan berturut-turut yang dialami Shafiyah. Terlebih lagi, baru beberapa bulan kami sekeluarga pindah ke USA sehingga anak-anak masih dalam tahap menyesuaikan bahasa. Jangankan bagi anak-anak, perubahan suasanan bagi orang dewasa juga membutuhkan penyesuaian. Saya akui sekolah barunya agak berbeda dengan sekolah sebelumnya. Tuntutan akademis yang tinggi sangat terlihat dari berbagai tugas yang dibawa kerumah. Ada PR bahasa dan matematika, PR membaca, proyek bersama orang tua, kegiatan bimbingan yang harus dilakukan orang tua, sampai PR tersulit bagi Shafiyah adalah membuat karangan singkat setiap minggu pada buku jurnal writing. PR ini yang selalu membuat Shafiyah terlihat sangat berat mengerjakan tugas. Padahal ini adalah tahun pertama Shafiyah sekolah. Shafiyah yang tidak pernah ikut preschool, baru pertama kali belajar ABCD beberapa bulan yang lalu. Saya mencoba terus memotivasinya untuk melakukan hal semaksimal yang ia bisa, walau hanya menulis sebuah kalimat. sementara shafiyah, berkali-kali membujuk saya untuk sekolah bersama saya dirumah. “Teteh pengen homeschooling aja kayak Shiddiq dan Faruq, asyik….” Saya tetap menegaskan bahwa ia harus sekolah, minimal sampai ia memiliki kemampuan baca tulis dan aktif berbicara dalam bahasa Ingris sebagai modal dasar untuk bisa belajar mandiri.

Sebagai orang tua, kami harus segera mencari akar permasalahan yang menyebabkan ia tidak senang bersekolah. Saat mogok sekolah yang kesekian kali, akhirnya ayahnya memilih untuk terlambat datang ke kantor untuk bersama saya mengantar Shafiyah pergi ke sekolah sekaligus membuat janji berdiskusi dengan gurunya. Saat waktu reses, saya mengintip Shafiyah di playground. Saya berusaha menahan tangis saat melihat ia bermain sendirian di playground. Shafiyah sendiri ditengah keramaian, tanpa teman. Akhirnya saya mengerti apa yang menjadi permasalahan utamanya sehingga ia sangat tidak bersemangat pergi ke sekolah. Menjadi murid baru itu tidak mudah, terlebih bagi shafiyah yang pemalu dan membutuhkan banyak waktu untuk memulai pertemanan. Apalagi disaat orang-orang sudah mulai memiliki “genk” masing-masing. Shafiyah memang tidak seperti Ali kakaknya, yang bisa mudah berkenalan bahkan dalam satu kali pertemuan, bahkan pertemuan yang tidak sengaja seperti ketika bermain di park. Ia membutuhkan waktu yang lama, dan beberapa kali pertemuan sampai bisa merasa nyaman untuk memulai pertemanan. Tapi sekalinya ia “klik” ia akan begitu setia dengan sahabatnya bahkan sangat romantis. Berbeda dengan Ali yang banyak teman tapi jarang hafal namanya. Ali percis seperti saya, sementara Shafiyah percis seperti ayahnya.

Saya harus menerima bahwa anak-anak berbeda-beda. masing-masing memiliki keunikan potensi juga kelemahannya. Saya mencoba diskusi dengan suami tentang hal ini, untuk melihat sudut pandang dari orang yang sama-sama pemalu dan pendiam. “ya…. gimana ya mi….. jangankan shafiyah, bapak aja sampai sekarang gemeteran kalo harus ngomong didepan orang banyak….” kata Ayahnya. “Dulu juga sering mogok sekolah karena malu di sekolah” tambahnya. “hahaha…… ya sudah kalo gitu, bapak sampai sekarang masih bisa hidup kan? jadi shafiyah pun insya Allah baik-baik aja kan walau sifatnya seperti ini” guyon saya. Saya berfikir masalah komunikasi adalah life skill yang penting dalam kehidupan. Waktu itu saya sangat cemas melihat kenyataan Shafiyah yang sulit berkomunikasi dengan orang lain selain keluarga. Sangat berbeda dengan saya yang sangat banyak bicara. Ayahnya sering mendapat masalah dalam kehidupannya karena sifatnya yang terlalu pendiam, sementara saya sering mendapat masalah karena salah bicara. Seinget saya, beliau bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun waktu melamar saya. Alhamdulillah sejalan dengan pernikahan kami, kini frekuensi bicara saya menurun drastis, sebaliknya ayahnya mulai banyak bicara, minimal di hadapan anak-anak. Berangkat dari pengalaman ayahnya dalam membangun hubungan pertemanan, akhirnya kami berkesimpulan bahwa Shafiyah harus dibantu gurunya untuk bisa merasa nyaman dengan minimal satu orang teman, yang kemudian akan membawanya mengenal teman-teman lainnya.

Saya berdiskusi lama dengan gurunya. Bercerita tentang bagaimana ia di sekolah dan di rumah. Saya akui, Shafiyah betul-betul pemalu. Dalam lingkungan yang ia kenalpun ia tidak banyak bicara, apalagi sebagai murid baru. Gurunya bahkan tidak bisa mengenali kemampuan akademis Shafiyah jika pertanyaan diajukan secara lisan. Gurunya hanya tau bahwa shafiyah mengerti pelajaran dari hasil tes mingguannya yang rata-rata mendapat angka 100. Namun gurunya begitu berkesan dengan Shafiyah yang selalu taat dan patuh, mendengarkan guru dengan baik, mengerjakan tugas dengan baik. Semua dia lakukan dengan tanpa bicara. Bahkan jika ada keperluan yang penting, Shafiyah akan mendekati guru dan berbicara dengan berbisik. Akhirnya kami memilih seorang teman yang dirasa bisa membantu Shafiyah membangun hubungan pertemanan dengan teman lainnya. Gurunya akan meminta secara khusus para murid tersebut untuk menemani Shafiyah. Juga selalu memasangkan mereka dalam setiap tugas kelompok di kelas sampai Shafiyah merasa nyaman belajar di sekolah. Saya menegaskan bahwa saya tidak terlalu menuntut Shafiyah dalam pencapaian prestasi akademis saat ini. Saya hanya ingin ia nyaman pergi ke sekolah. Saya sangat yakin, ia akan bisa belajar dengan baik jika ia senang pergi ke sekolah.

Saya mengajak shafiyah membeli hadiah untuk Elizabeth. Saya katakan padanya bahwa saya akan membantunya berbicara pada Elizabeth. Saya meminta Elizabeth untuk menemani Shafiyah di sekolah, membantunya untuk mengenalkan pada teman-teman lainnya, melibatkan shafiyah dalam kegiatan bermain sehingga ia tidak menjadi murid yang merasa sendirian ditengah keramaian. Alhamdulillah atas ijin Allah solusi ini berhasil. Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu menyebutkan nama-nama teman barunya. Wajahnya selalu ceria sepulang sekolah. bahkan kini ia mampu menceritakan suasana di sekolah pada saya. Ia tidak lagi sulit diminta mengerjakan PR, dan subhanallah ia kini mampu menulis PR satu paragraf karangan dengan bahasa Inggris.

Setelah diskusi kembali dengan gurunya, alhamdulillah ternyata kini ia mampu membangun hubungan pertemanan dengan teman di luar kelasnya. Mulai sedikit-sedikit mengeluarkan suara di kelas. Dan yang membuat saya sangat bersyukur, ia sudah memiliki prinsip untuk memilih dalam menghabiskan waktu bersama teman. Kadang ia mau diajak Elizabeth, kadang ia memilih kegiatan lain bersama teman lain. Artinya shafiyah tidak sekedar mengekor dan ikut-ikutan. Rapot prestasinya memang tidak segemilang mereka yang sudah fasih dalam berkomunikasi bahasa Inggris. Tapi ia yang paling baik diantara murid-murid yang kebanyak hanya bisa berbahasa spanish (orang mexico) meskipun mereka terlahir di USA. Dulu ia bertanya dengan wajah murung “besok sekolah ya? yaaaaaaah……” tapi kini bertanya dengan penuh semangat “besok sekolah ya? yeeeee!!!”

Terkadang kita hanya perlu mencari sebuah akar permasalahan yang dialami seorang anak, sehingga dengan solusi yang tepat akan mampu menyesaikan masalah-masalah lainnya. Seorang anak akan optimal dalam belajar jika ia berada dalam suasana nyaman. Suasana nyaman dan menyenangkan akan membuat otak berada dalam keadaan OLS (optimun learning state). Keadaan OLS adalah “suatu keadaan konsentrasi total yang mampu menyerap secara total perasaan, sehingga seseorang berada dalam kekuasaan dan kekuatan tertinggi pada saat itu, dan memperlihatkan kondisi usaha belajar tertinggi dari kemampuan yang dimiliki (Mihaly Csikzentmihalyi) atau dengan kata lain kondisi seseorang yang berada pada kemampuan terpandainya. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan suasana yang rileks, nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu, anak akan sulit menyerap informasi dalam suasanya sedih, bosan, apalagi dalam suasana yang menegangkan. Lingkungan belajar, komunikasi guru dalam mengajar, pola hubungan siswa dengan guru, suasana dalam hubungan pertemanan juga turut menentukan keberhasilan seorang anak dalam menyerap informasi. Dalam kasus anak saya Shafiyah, alhamdulillah kemampuan akademisnya otomatis meningkat saat ia merasa nyaman dalam lingkungan sekolah barunya.

sumber referensi: Mixland: The Land of creative thinking and writing, tentang Optimum Learning State


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 06 – Pengalaman Menghadapi Perilaku Negatif Balita

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here