CKSMA B-8 Kenalilah Anakmu Sehingga Engkau Lebih Tepat Dalam Memilikh Sikap!

0
257

Ini adalah cuplikan kisah tentang kesalahan saya dalam mengambil sikap sebagai orang tua yang kemudian memuculkan permasalahan yang lebih kompleks setelahnya. Menurut teori parenting yang pernah saya baca, anak akan memburuk terlebih dahulu perilakunya saat kita konsisten mendisiplinkan, menunjukkan ketidak sepakatan kita terhadap sikap mereka, sebelum akhirnya bisa membaik dan bisa kerjasama. Mereka sebenarnya ingin menguji sejauh mana kita konsisten dan tidak luluh atau berubah keputusan setelah mereka membuat keadaan menjadi lebih buruk, seperti nangis yang semakin menjadi-jadi atau melempar barang misalnya. Sekali kita menjadi tidak konsisten saat mereka memperburuk keadaan, maka itulah senjata yang akan mereka pakai selanjutnya.

Selama tidak berbahaya, kita bisa memilih teknik ignore untuk menunjukkan bahwa mereka tidak berhasil mendapat keinginan mereka dengan cara yang tidak baik. Atau sesekali melakukan komunikasi singkat seperti “tidak ada yang berhasil mendapat sesuatu yang diinginkan jika Meminta dengan cara yang tidak baik, ibu hanya akan membantu jika kamu memperbaiki caramu dalam meminta”. Tetapi ketika mereka melakukan bahaya, maka bahaya itu harus kita hilangkan terlebih dahulj, dengan tetap cool, calm and confident, menotifikasi dengan kalimat singkat padat, jelas dan menggunakan nada yang kokoh tanpa terkesan kita memelas dan mengubah keputusan kita karena mereka semakin menjadi-jadi untuk menguji kekonsistenan kita.

Saya bukan seorang psikolog, saya juga bukan seorang ustadzah saya hanya ibu yang suka menulis dan berbagi kisah serta perasaan saya. Anak-anak saya juga bukanlah malaikat yang bisa dengan otomatis berbuat kebaikan dan memberi teladan. Bayangkan, anak ibu kiki yang “katanya” suka menulis dan mengisi seminar tentang parenting itu semakin menjadi-jadi saat marahnya hanya di respon dengan permintaan sang ibu untuk menyampaikan pesan dengan cara yang baik. Saat keinginannya tidak dipenuhi karena sang ibu ingin ia mengganti caranya dalam meminta dengan sesuatu yang lebih baik. Ternyata anak saya, yang diajak pulang tidak mau karena marah, berani nekad kabur ke lantai dua dan pura-pura mau melangkah kan kaki dari balkon masjid, hanya untuk mencari perhatian saya. Sang ibu pun beristigfar di dalam hati sambil meminta perlindungan pada Allah untuk menjaga anaknya, tetapi bersih kukuh untuk tidak segera kepanikan memelas-melas minta anaknya turun. Sang ibu hanya berkata “I love you but i dont like the way you do that!” alhamdulillah kalimat cinta itu mampu membuat kakinya kembali masuk dan kembali ke balkon. Lalu perlahan saya sampaikan konsekuensi dari perbuatannya sambil menawarkan solusi-solusi logis atas permasalahannya saat itu. Akhirnya ia turun tangga sedikit demi sedikit dan mau menerima keadaan lalu pulang. Barulah saat tenang sambil berjalan bersama berbagai komunikasi saya lakukan untuk memberikan ia pemahaman akan konsekuensi dari perbuatannya serta bagaimana seharusnya kita semua bersikap saat perasaan kecewa melanda. Sepulang ke rumah ternyata ia langsung tertidur setelah kami berdiskusi singkat. Ternyata rasa kantuk juga turut menjadi penyebab ketidakbijaksanaanya dalam bersikap.

Tapi sebenarnya, ada kesalahan saya yang turut andil mengapa konfliknya menjadi lebih kompleks. Biasanya saya melakukan i message sebelum menunjukkan kekonsistenan terhadap sesuatu, yaitu mengakui perasaannya terlebih dahulu baru kemudian menggiring opini anak untuk bersikap yang sepantasnya. Namun sepanjang perjalanan berangkat, saya lebih memilih diam untuk menahan amarah saat ia rewel sepanjang jalan karena merasa saya dan saudaranya menjadi penyebab keterlambatan shalat berjamaah. Selain itu kami juga terburu-buru mengejar ketertinggalan shalat. Begitu sampai di masjid, saya dan Shafiyah langsung masbuk. Saya tidak meluangkan waktu untuk mengakui perasaan kecewanya, menenangkan hatinya lalu kemudian mengajaknya untuk mengejar ketertinggalan shalat. Saya salah, tapi memang saat itu saya sedang menahan amarah karena perilaku rewelnya memang sangat “menyebalkan” Saya tidak menyangka bahwa ia memilih untuk marah di masjid dan justru tidak ikut shalat.

Astagfirullah, saya hanya bisa beristigfar dan menerima dengan ikhlas bahwa Allah sudah menitipkan anak ini kepada saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya tau anak saya yang satu ini sedang berlatih untuk lebih bijaksana. saya sadar bahwa saya membutuhkan kesabaran dan waktu dalam proses mengasah kecerdasan emosinya. Tetapi sayapun seharusnya ingat bahwa anak-anak dengan tempramen seperti itu tidak boleh terlalu dihadapkan banyak konflik yang memicu permasalahan. Saya harus membuat keadaan sedemikian hingga dapat meminimalisir konflik. Kalau ia sering marah berlebihan hanya karena terlambat shalat maka kedepannya saya harus mengatur waktu lebih baik agar keterlambatan ini tidak terjadi lagi.

Ya Allah, saya memang bersedih ketika anak saya yang satu ini belum memiliki kecerdasan emosi seperti anak-anak saya yang lainnya. Tapi Engkau telah menganugrahkan ia untukku. Maka apapun dan bagaimanapun ia, ia adalah ladang surgaku. hanya doa dan keistiqomahan mengasah kepribadiannya yang dapat saya lakukan saat ini. Saya percaya, kecerdasannya yang unggul akan bermanfaat bagi ummat jika kami terus bersabar dan konsisten membimbing akhlaknya.

Anakku…. Ummi masih percaya bahwa kamu bukanlah anak yang nakal. Ummi hanya merasa kamu membutuhkan lebih banyak waktu dibanding saudaramu yang lain untuk melatih kecerdasan emosimu. Ummi percaya nak…. ummi percaya kelak kamu akan lebih baik lagi. ummi percaya bahwa nasihat-nasihat kebaikan yang telah disampaikan kelak akan bekerja dan menyelamatkanmu atas ijin Allah. Ummi titipkan kamu pada Allah dengan doa, sedekah dan ikhtiar ummi untuk terus memberi nasihat dan hikmah setiap harinya dalam sekolah rumah kita. Tapi ummi….. Kenalilah anakmu sehingga engkau lebih tepat dalam memilih sikap.

Batujajar Jawa Barat
Dari seorang manusia biasa yang penuh khilaf, ibu dari manusia-manusia biasa yang penuh khilaf.
Kiki Barkiah

Baca juga Balita Minim Tantrum
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here