CKSMA B-7 Balita Minim Tantrum

0
291
Salah satu keunggulan memiliki anak banyak adalah adanya percepatan belajar bagi anak-anak selanjutnya. Berpayah -payah membangun kebiasaan baik biasanya hanya terjadi pada anak pertama. Setelah itu, adik-adiknya akan lebih mudah meneladani kebiasaan baik yang telah diterapkan pada kakaknya. Konsekuensinya, kesadaran bahwa dirinya adalah individu yang berbeda juga dapat terjadi lebih cepat. Sehingga dalam keluarga kami, Fatih anak kelima mulai menunjukan keinginan dirinya dengan sangat tegas lebih awal dibanding anak-anak kami lainnya. Ketika kemampuan masih terbatas namun keinginan untuk melakukan berbagai hal sangat banyak, maka munculan frustasi yang kemudian memicu tantrum. Kesimpulannya, masa tantrum Fatih muncul di usia 1 tahun sementara rata-rata anak-anak kami lainnya baru mulai secara tegas menunjukan keinginan mereka di usia sekitar 1,5 sampai 2 tahun.
 
Pada awalnya, saat masa-masa frustasi itu datang, seperti anak-anak lainnya Fatih sering mengamuk. Alhamdulillah dengan berbekal pengalaman mengurus keempat kakaknya, kami paham bahwa ketika bentuk frustasi itu muncul, kami berusaha mencari tau apa yang menjadi keinginanya sambil terus mengajarkan Fatih untuk mengungkapkan dengan kata-kata dan memberikan isyarat jika ia mengingkan sesuatu.
 
Ummi: “Mau apa sayang? mau ini? bukan? mau ini? bukan? mau ini? bukan? Mau ini? iya? ooooo mau minum…. mau ambil minum sendiri. ini namanya minum… minum…minum apa? minum…bilang ya ummi… mau…minum”
 
Begitu misalnya saat kami membantu menerjemahkan keinginannya. Lalu kami libatkan ia memegang gelas dan menuangkan air. Saat ia menunjukan keinginannya kami mengajak ia menunjuk atau menggiring kami ke ruangan dimana keinginannya berada. Pada awalnya kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui keinginannya. Tetapi ketika kepercayaan Fatih terbangun bahwa kami berusaha membantu keperluannya, rengekan dan tangisan semakin berkurang. Kini diusia 1,5 tahun ia terlatih untuk memanggil kami, menggandeng tangan kami ke ruangan tertentu lalu menunjuk saat ia menginginkan sesuatu. Lalu ia belajar mengungkapkan dengan kata-kata pada beberapa hal yang telah ia kuasai. Di usia 1,5 tahun Fatih dapat menjabarkan beberapa keinginannya seperti “ummi mau bobo” sambil menunjuk dada saya. “Ummi mau kuku” maksudnya mau susu sambil menunjuk meja makan misalnya.
 
Setiap anak memiliki fitrah kemandirian, saat Fatih telah masuk fasa dimana ia sadar bahwa ia adalah individu yang berbeda dari lainnya, ia mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Makan sendiri, mandi sendiri, sampai membuat susunya sendiri. Berbekal keyakinan bahwa ini adalah sebuah proses melatih kemandirian anak, maka kami cenderung memberikan ruang baginya untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri. Meskipun konsekuensinya akan ada pekerjaan-pekerjaan ekstra yang harus kami lakukan setelahnya. Saat mandi misalnya, ia akan meminta jatah sabun cair untuk diusap pada bagian tubuh yang dapat ia jangkau. Pada saat makan ia tidak mau disuapi, saya membantunya untuk membuat gunung-gunung nasi kecil agar ia mudah memakan makanannya sendiri, atau membuatkan makanan yang mudah ia genggam. Bahkan sekarang ia selalu ingin membuat susunya sendiri. Menarik kursi ke meja makan, menaiki kursi, meminta saya mengambilkan susu bubuk. Saya siapkan gelas, dan susu bubuk, lalu air secukupnya dalam teko kecil. Ia tuang sendiri susu bubuk ke dalam gelas dibawah pengawasan saya, lalu kemudian menuang air dari teko sendiri dan mengaduknya sendiri dengan sedotan. Ada tumpahan? pasti! tapi pekerjaan ekstra yang dilakukan akan terbayar dengan senyuman kebanggaannya.
 
Keberhasilan-keberhasilan kecil dalam memecahkan masalah ini akan semakin meningkat menjadi keberhasilan dalam mengerjakan proyek-proyek yang lebih kompleks. Sehingga di usia 4 tahun, Faruq dan Shiddiq kakaknya terbiasa mengaduk mixer sendiri untuk membuat kue, dibawah pengawasan kami disamping mereka. Bahkan Faruq (4 tahun) dan Fatih (1,5 tahun) pernah bekerja sama membuat puding susu dengan potongan strawberi hanya berdua saja. Kami hanya membantu memasak dan menuangkan puding saat panas, sementara hampir seluruhnya dikerjakan mereka berdua dibawah pengawasan kami. Seiring dengan waktu Fatih semakin mahir membuat susu dalam gelas tanpa tumpah, begitu juga Faruq semakin mahir membuat puding sendiri tanpa banyak tumpah. Dan semua itu bermula dari kesabaran kita mencari tahu apa yang mereka inginkan, memfasilitasi dan mengawasi saat mereka ingin melakukan pekerjaannya sendiri.
 
Alhamdulillah hanya sekitar 3 bulan saja Fatih mengalami masa tantrum yang hebat, semakin hari ia semakin mudah mengungkapkan keinginannya. Kami juga tidak terlalu mengalami banyak konflik karena biasanya kami berusaha mengikuti keinginannya terlebih dahulu sejenak baru kemudian mengalihkannya pada pekerjaan lain yang dirasa lebih aman dilakukan. Kami juga memfasilitasi berbagai sarana untuk ia “mengoprek” seperti memberikan wortel untuk memberi makan kelinci, menyiapkan air dalam botol spray untuk menyiram tanaman-tanaman dalam pot, menyiapkan ember besar dan mainan untuk bereksplorasi dengan air, bahkan sesekali menginvestasikan beberapa genggam tepung untuk melatih motorik halusnya. Itulah sekolah Fatih setiap hari, saat saya sibuk mengajar anak-anak lainnya. Baru sesekali saat saya tidak sedang mengajar, saya meluangkan waktu untuk duduk secara khusus dengan Fatih dan membaca buku. Alhamdulillah, Fatih pun sangat “anteng” menjalankan sekolahnya tanpa banyak menggangu proses belajar kakak-kakaknya.
 
Jujur saja memang membutuhkan banyak tenaga dan kesabaran dalam membimbing Fatih yang cenderung banyak mengeksplorasi alam, bahkan terkadang ia harus mandi dan mengganti baju sebanyak 6 kali sehari karena rajin bereksplorasi dengan air. Kami juga harus mengunci gerbang setiap saat agar ia hanya bereksplorasi di taman jika ingin keluar. Kami juga harus mengunci kulkas dengan “Child lock” Agar ia tidak membuka tutup kulkas dan mengeluarkan isinya. Kami juga harus memasang pengganjal pintu khusus yang dirancang agar anak-anak tidak terjepit karena Fatih sudah mulai tertarik membuka tutup pintu. Kami juga mulai harus menjauhkan barang-barang tertentu agar ia tidak meraih dan merusaknya.
 
Terkadang Fatih juga memukul kakaknya saat ia kesal dan tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Biasanya saya mengangkat fatih, mendudukannya di kasur, lalu dengan kalimat kokoh saya berkata “no! tidak memukul dipukul itu sakit” saya menatapnya dengan tatapan serius, untuk mengabarkan bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Awalnya ia tidak memahami ekspresi saya, tapi saat kejadian diulang saya lakukan kembali. Sehingga ia mengerti bahwa memisahkannya dalam tempat khusus kemudian menyempaikan kalimat singkat, pada, jelas, dengan nada yang kokoh, adalah cara saya untuk memberi pesan penting. Ia pun kini mulai memahami ketika saya memintanya untuk meminta maaf. Ia akan bersalaman lalu mencium tangan kakaknya dengan bunyi “mmmmuaaaah”.
 
Insya Allah dengan kesabaran dan kelapangan hati untuk bersedia sedikit memiliki pekerjaan ekstra, anak-anak balita kita bisa menjadi balita yang minim tantrum. Tantrum adalah hal yang alamiah terjadi pada anak-anak balita, dengan membuat jadwal hidup yang teratur, memenuhi kebutuhan dasarnya seperti saat lapar atau mengantuk, merespon dengan aktif saat ia memiliki keinginan tertentu, serta bersedia secara fokus mendampingi dan mengajarinya agar berperilaku wajar dan pantas, insya ALlah frekuensi tantrum balita akan dapat kita minimalisir sehingga balita-balita kita menjadi baliya yang minim tantrum
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang rumahnya dihiasi balita hampir 2 tahun sekali
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here