CKSMA B-5 Jika Anakmu “Hanya” Menjadi Ibu Rumah Tangga

0
276
Ini adalah sebuah pembicaraan antara 2 orang ibu yang berbeda generasi.
 
Kiki: Mah, banyak follower Kiki yang bertanya, bagaimana mamah bisa ikhlas menerima anak yang sudah mamah kuliahkan sampai ke ITB ternyata ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga? “
 
Sebuah pertanyaan yang saya lontarkan kepada ibunda tercinta, seorang wanita karir dan pekerja keras yang bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarga.
 
Mamah: neng, buat mamah mah yang terpenting itu masa depan anak-anak yang baik kedepan. Kepinteran itu bisa disalurkan dalam bentuk apa saja, tidak harus dalam bentuk karir dalam pekerjaan. Jaman sekarang sudah berubah, sudah ngeri, ini sudah mau kiamat, ibu-ibu jaman sekarang yang terbaik itu berada di rumah, mengurus dan mengawasi anak-anak. Sekarang mah harus dipikirkan bagaimana kalian bisa menyalurkan kepintaran dari dalam rumah sambil ngurus anak-anak. Duh…. Ngeri…. Sekarang mah pergaulan anak-anak.
Sudah…. Tidak perlu terlalu mengejar dunia. Sekarang yang paling penting kita menyelamatkan keluarga ditengah jaman yang sudah rusak ini. Keun we…. rezeki mah ngikutin. Mamah mah nyekolahin kalian semua sampai pinter-pinter ke ITB supaya punya pola pikir yang baik saja. Abis itu mah sudah ngurus anak saja di rumah. Mamah mah tidak merasa sayang menyekolahkan kalian walau tidak kerja, karena buat mamah mah kalian itu sukses kalo bisa melahirkan generasi yang lebih baik”
 
Kiki: “jadi gak sayang kan mah ijazah aku masih tersimpan rapi di map gak pernah dipakai ngelamar kerja?”
 
Mamah: “alaaaaah nu penting mah ijazah ti Allah”
 
Kiki: “nah tapi gak semua orang tua teh kayak mamah, banyak yang khawatir katanya kalo anak-anak perempuannya gak mandiri, gimana nanti kalo jadi janda katanya?”
 
Mamah: “pan ada Allah atuh!”
 
Yaa… Demikianlah sepenggal pembicaraan antara dua ibu yang berbeda generasi, yang hidup di jaman yang berbeda keadaannya, yang memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda, namun memiliki kesamaan visi. Sama-sama ingin memiliki generasi keturunan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
 
Betapa indahnya sebuah keluarga yang menjalin hubungan karena Allah, yang menahan ego karena Allah, yang berjuang karena Allah, yang bertujuan untuk Allah, yang berkorban karena Allah, dan yang begantung sepenuhnya pada Allah.
 
Ya beliau lah ibu saya, yang selalu menahan diri mendengar omongan orang-orang sekitar yang berkomentar tentang pilihan-pilihan hidup anak-anak perempuannya. Ya beliau lah ibu saya, yang selalu memberi kepercayaan pada kami untuk memilih apa yang terbaik bagi kami, asalkan tetap dalam koridor syariat. Beliau lah ibu sekaligus guru fisika SMA dan guru kehidupan saya, yang selalu mengajarkan hikmah dan kebijaksaan, menanamkan visi yang luhur dan mulia dalam kehidupan, memotivasi kami saat semangat kami melemah, menjadi orang yang paling terakhir membela kami saat kami gagal dan terjatuh, menjadi orang yang tetap percaya dan sabar menanti perubahan-perubahan kebaikan kami dalam kehidupan. Meski saat kami kecil, kami hanya dapat bertemu 1 jam saja setiap hari sebelum tidur menutup mata, ditengah kesibukan beliau mengajar fisika setiap hari. Beliau lah ibu yang sibuk bekerja berangkat dari bada subuh dan pulang jam 9 malam, demi menyekolahkan kami agar berpendidikan tinggi. Dan beliau lah ibu yang berbahagia yang mengeluarkan keringat ditengah kelelahan demi mengantarkan anak-anak perempuannya menjadi ibu rumah tangga.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu rumah tangga yang menyimpan sementara ijazahnya
 
Sumber gambar vectorstock.com
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here