Tarbiyatul Aulad – “Ya Allah ibu…..ibu sabar pisaaaaan, ibu teh gak pernah mukul? Kalo di kampung mah anak kayak gitu udah dipukulin bu?” Komentar seorang bibi tukang pijit yang sedang silaturrahim ke rumah yang terheran-heran melihat bagaimana saya menghadapi Faruq yang sedang marah saat itu. Setahap demi setahap saya telusuri keinginannya, setahap demi setahap saya membantunya menahan amarah, menenangkan diri, lalu menyelesaikan permasalahannya. Tanpa teriakan tanpa kekerasan. Dan ternyata masalahnya hanya karena ia ingin bersama saya dan tak ingin jika saya dipijit. Jika Bibi tukang pijit terheran-heran melihat sikap saya maka saya pun balik terheran, memang kenakalan apa saja yang biasa dilakukan anak-anak sedemikian hingga seorang ibu memiliki alasan untuk memukul anaknya?

Ya saya akui, meski bagi saya anak-anak saya tetaplah anugrah yang istimewa dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, beberapa kerabat memang menyimpulkan bahwa sebagian besar anak-anak saya adalah anak super aktif, yang gigih kemauan, dan cukup menguras kesabaran. Entah karena keaktifannya atau karena kegigihan akan kemauannya. Pernah bibi yang membantu di rumah curhat dengan neneknya anak-anak.
bibi: aduuh ibu! eta mah barudak teh, aduuuuh, ngan ibuna we sabaaaaaar pisan (Aduh ibu, itu anak-anak, aduuuh, tapi ibunya sabar sekali)
nin: enya eta… indungna sabar pisan, mun hampang leungeun mah barudak geus digebukkan (iya itu dia, ibunya sabar sekali, kalau ringan tangan, anak-anak itu sudah pasti dipukuli)*
(*seperti yang diceritakan ulang oleh bibi kepada saya)

Mungkin imajinasi sahabat pembaca berkeliaran tentang bagaimana suasana di dalam rumah saat anak-anak sedang “bermasalah”, sampai-sampai para kerabat berpendapat bahwa kondisi yang serupa diluar sana, anak-anak sudah dipukul oleh orang tua mereka. Tapi yang paling mengerti betapa mereka tidak layak untuk mendapat pukulan adalah saya sendiri, ibunya. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka saat neoron-neoron otak mereka sedang saling terhubung ketika mereka melakukan berbagai percobaan yang terkadang mengotori dan membasahi lantai, merusak barang dan sedikit membuang sumber daya alam. Tangan ini hanya ingin menggiring mereka melakukannya dengan lebih aman, dalam batasan jumlah sumber daya alam yang diijinkan. Atau kadang tangan ini hanya ingin menggiring mereka melakukan sesuatu yang lain, yang lebih pantas dan wajar dilakukan dalam proses belajar. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka yang sedang belajar menyelesaikan perselisihan. Bukankah pukulan yang diayun saat mereka bertengkar antar saudara, hanya akan kembali memberi pelajaran tentang cara terbaik dalam menyesesaikan masalah?. Tangan ini hanya ingin menggiring mereka keluar dari ruangan, memisahkan mereka, memberi mereka ruang dan waktu untuk menenangkan diri, lalu tangan ini dipakai untuk memeluk mereka saat mereka sudah tenang dan mau mendengarkan nasihat. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul saat mereka marah meronta-ronta mempertahankan keinginan mereka, sementara saat itu kami sedang ingin mengajarkan mereka tentang arti bersabar dan menahan keinginan. Bukankah memukul mereka yang sedang belajar bersabar hanya akan mengajarkan tentang arti ketidaksabaran? Tangan ini hanya ingin memeluk mereka, memberi dekapan yang menenangkan, memberi keyakinan bahwa mereka baik-baik saja meski keinginannya belum dapat terpuaskan. Lalu lisan ini mengajak mereka berfikir tentang hal-hal yang membahagiakan yang sudah bisa mereka dapatkan saat itu. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul saat mereka merengek menangis karena membutuhkan pelukan pengantar tidur atau karena rindu menginginkan orang tua yang memperhatikan mereka? Bukankah sangat meyakitkan jika berharap air susu namun air tuba yang diterima? Maka tangan ini hanya ingin menggiring mereka ke atas tempat tidur, mendekap dan meninabobokan. Atau tangan ini hanya ingin mengambil beberapa buku atau mainan untuk melengkapi kebersamaan. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka yang sedang kesulitan mengungkapkan kekecewaan dan keinginan dengan lisannya sehingga yang dilakukan hanya meronta dan memukul-mukul ibunya. Sementara saat itu kami sedang ingin mengajarkan mereka untuk mengungkapkan keinginan dengan kata-kata baiknya, bukan dengan tangan mereka. Bukanlah memukul mereka yang sedang belajar berucap dengan lisan hanya akan mengajarkan mereka berbahasa dengan tangan?. Alasan apa? alasan apa yang membuat mereka layak untuk dipukul?

Ya! saya pernah memukul Ali saat usianya sudah 10 tahun, saat ia lupa mengerjakan shalat fardu “maaf ya nak, ini bukan keinginan ummi, ini perintah dari Allah supaya aa mengerti betapa seriusnya perintah shalat” Paaak! pukulan ringan pun diayun pada bagian belakang tubuhnya. Ya! saya pernah memukulnya karena itu perintah Allah untuk memukul anak yang meninggalkan shalat jika ia telah berusia 10 tahun. Adakah perintah lain selain itu untuk memukul? Tapi saya pun seorang manusia, bukanlah malaikat yang tanpa dosa. Pernah suatu ketika, satu kali, tangan ini memukul Shiddiq saat ia mengungkapkan kekecewaanya dengan berbicara yang bernada tidak sopan terhadap ibunya (mwnyolot). Paaaak! tanpa sadar tangan saya mengayun memukul pipinya, meski tak keras rasanya. lalu seketika “Astagfirullah i’m sorry Shiddiq that was not me! That was syaitan! I dont know why i did that! I am so sorry honey” Saya sangat menyesal melakukannya, tapi saya pun terkaget-kaget mengapa tangan ini mengayun memukulnya. Tahukah sahabat bagimana reaksi Shiddiq yang belum pernah dipukul sebelumnya? “Ummi if you hit me, that’s mean you teach me to do that again!” Astagfirullah, lalu saya pun segera membalasnya dengan pelukan dan ciuaman maaf. Ya betul! saya sedang mengajarkan kepada mereka tentang ketidakbijaksanaan. Tahukah sahabat ternyata kejadian yang hanya sekali itu sangat membekas dalam ingatan shiddiq, sangat membekas, sangat membekas. Setahun kemudian saat saya menasihati Faruq yang memukul saudaranya saat frustasi saya bertanya “kenapa abang Faruq pukul-pukul? dari ana abang belajar, ummi kan gak pernah mukulin abang” Tiba-tiba shiddiq menghampiri saya sambil tersenyum “remember ummi! you do that to me one time! but you said that was an accident. You like after drink wine at that time hahahah” Saya pun tertawa karena tambahan alasannya, sekaligus menyesal, sekaligus menyesal, sekaligus menyesal, bahwa saya tak bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus kembali satu pukulan itu, yang hanya satu, hanya satu. Maafkan hamba ya Allah, maafkan ummi nak.

Kenyataannya, kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita tengah mengajarkan mereka tentang hak untuk melakukan hal yang sama. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, mungkin mereka menghentikan perilakunya, namun luka dalam hatinya akan membahayakan masa depan mereka dan merusak hubungan antara kita dengan mereka. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita menghilangkan kesempatan belajar bagi mereka tentang kebijaksanaan menyelesaikan masalah yang berperikemanusiaan. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, syeitan masuk dalam kemarahan yang akan memungkinkan kita melakukan yang lebih berbahaya bagi mereka. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, yang ada hanyalah rasa sakit dalam lahir dan membekas dalam batin

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berusaha menahan tangannya
Kiki Barkiah

 

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSMA B-2 Kala Tangan Kita Diayun"

Your email address will not be published.