CKSMA B-17 Ketika Ummi Lupa Menyetting Panggung

0
312
Suatu hari seorang sahabat yang berdomisili di Jepang datang berkunjung ke rumah. Seperti biasa bila ada teman berkunjung membawa anaknya, anak-anak akan mengeluarkan berberapa mainan untuk mengajak anak tamu bermain. Terus terang, beragam mainan dengan kualitas premium memang terpajang di ruang tamu kami. Maklum, harta yang kami bawa sepulang hijrah dari Amerika hanya buku dan mainan anak. Diantara tumpukan mainan istimewa ada mainan yang baru saja kami beli di Indonesia. Motor-motoran kecil yang bisa ditarik mundur agar dapat melaju sendiri. Adalah kewajaran dalam dunia anak jika setiap ada mainan baru, mereka akan memainkan mainan baru sampai puas dan bosan, dan melupakan sejenak mainan-mainan lamanya sebagus apapun itu.
 
Ketika sang tamu datang dengan membawa anaknya yang berumur menjelang 2 tahun, awalnya anak-anak bermain dengan ceria bersama sang tamu. Ditambah lagi, sang tamu membawa sekian oleh-oleh makanan khas Jepang serta permainan rakyat ala Jepang. Suasana menjadi berubah tegang saat anak sang tamu menginginkan mainan motor kecil anak-anak, bahkan ingin membawanya pulang. Ia pun merengek menolak pulang sebelum dapat membawa motor kecil itu, Saya sangat mengerti di usia anak sang tamu yang berusia menjelang 2 tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap benda tertentu, sementara ia masih belajar untuk mengerti konsep tentang kepemilikan barang. Sehingga sangatlah wajar jika ia menganggap bahwa barang-barang disekitarnya adalah miliknya. Dilain sisi, saya juga sangat mengeri bahwa anak-anak akan cenderung posesif terhadap mainan baru mereka. Berkali-kali sang anak merengek meminta mainan tersebut, sementara Faruq terus membujuk anak tersebut untuk memainkan mainan Faruq yang lain saja, tetapi tidak motornya.
 
Sahabat saya terus membujuk anaknya untuk bermain mainan miliknya. Sebagai tuan rumah, saya juga membantu ibunya untuk terus membujuk anak sang tamu untuk memainkan mainan lain, sambil juga menawarkan kepada anak-anak saya sekiranya mereka mau meminjamkan beberapa saat mainan tersebut. Tidak berhasil membujuk kepada anak-anak saya yang kecil, maka saya pun membujuk Ali yang juga memiliki mainan yang sama. Awalnya saya sangat berharap ia dapat bekerjasama memberikan mainan tersebut pada adik kecil tamu kami dengan menawarkan bahwa saya akan membelikan jenis motor yang sama di supermarket didepan komplek rumah kami Rupanya respon Ali tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ia sangat kecewa dengan permintaan saya karena motor kecil itu merupakan hadiah dari sepupu tercitanya. Berbeda dengan adik-adiknya, dimana saya sendiri yang membelikan mereka masing-masing sebuah motor kecil karena merasa iri hati dengan mainan baru milik Ali yang tidak dimiliki sodaranya.
 
Suasana jadi sulit, antara sangat paham dengan pertimbangan masing-masing anak, tetapi juga bingung karena segala macam bujukkan belum juga bekerja. Alhamdulillah setelah sekitar 30 menit suasana menegang, akhirnya sang ibunda berhasil membujuk anaknya untuk mau pulang dan berhenti merengek.
 
Anak-anak oh anak-anak……
Hal yang seperti ini memang sangat mungkin terjadi, dan jika sudah terjadi maka akan menggiring kita semua dalam keadaan yang sulit. Maka sebagai orang dewasa seharus saya dapat menyetting panggung terlebih dahulu agar keadaan seperti ini dapat dihindari.
 
Setelah tamu pulang, saya kumpulkan semua anak. Saya akui masing-masing perasaan mereka. Tentang rasa sayang mereka dengan barang baru, tentang betapa berharganya motor kecil pemberian sepupu Ali yang membuat ia hampir meneteskan air mata karena permintaan tolong saya. Saya pun meminta maaf kepada anak-anak jika permintaan kepada mereka untuk sejenak mengalah membuat mereka merasa tidak diakui keinginan dan perasaannya. Kemudian saya pun membuat pengumuman.
 
“Oke anak-anak ummi sangat mengerti kalo kalian saat ini belun mau meminjamkan mainan baru kalian. Ummi pun sebenernya lupa bahwa kalian sedang punya mainan baru. Ummi juga bingung, kok kebetulan adik kecilnya justru mau mainan kalian yang baru ini padahal banyak mainan lain yang dipajang. Sekarang begini saja, ayo coba sebutkan mana saja mainan yang belum kalian mau pinjamkan ke orang lain saat ini. Nanti setiap kali akan ada tamu, ummi akan bikin pengumuman, lalu silahkan kalian simpen beberapa mainan yang belum ingin kalian pinjamkan. Berarti semua yang disimpan di ruang tamu, sudah harus siap kita bagi, kita pinjamkan. Bagaimana setuju?”
 
Anak-anak pun setuju lalu mereka sibuk memilih mana saja barang yang belum ingin mereka pinjamkan saat tamu atau temannya datang. “Aku masih mau mainin truk ini, nanti ini disimpan ya” begitu kata Shiddiq misalnya.
 
Berbagi oh berbagi….. berbagi adalah sebuah proses bagi seorang anak. Anak-anak yang posesif dan sedang tak ingin berbagi merupakan sesuatu yang wajar dalam tahapan perkembangan anak. Kita tidak perlu menghukum mereka atau melebeli mereka dengan sebutan “pelit” karena perilaku mereka yang belum dapat berbagi sesuatu yang dalam pandangannya amat berharga. Hukuman, pendisiplinan atau sekedar lebel negatif hanya akan menumbuhkan perasaan tidak suka dan tidak menumbuhkan kemurahan hati. Tidak masalah ketika seorang anak memutuskan untuk tidak berbagi sesuatu, karena dalam kehidupan memang ada hal-hal yang harus kita pertahankan kepemilikannya. Kelak ketika mereka dewasapun mereka akan lebih memahami keindahan berbagi dibanding menyimpan kesenangan untuk dirinya sendiri.
 
Ketika anak kita menemukan temannya tidak mau berbagi maninannya, berikan ia pengertian bahwa mungkin saat ini ia sedang sangat menyukai mainan tersebut dan belum ingin berbagi. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui perasaan anak lainnya, dan perasaan yang mungkin juga pernah mereka alami. Saat anak tidak mau berbagi, ajak mereka bicara kenapa, bisa jadi kasusnya seperti gambaran peristiwa diatas, ketika anak kami yang sudah berusia besar enggan berbagi karena merasa bahwa barang itu begitu istimewa baginya.
 
Saat orang lain sedang ingin meminjam barang anak kita, hargai kepemilikannya dengan bertanya apakah anak kita bersedia meminjamkannya. Hargai mereka saat mereka menolak untuk memberikannya dan pastikan bahwa kerabat kita dapat mengerti keputusan sang anak. Saat sang adik ingin memakai barang milik kakaknya, terkadang banyak orang tua memaksa anak yang lebih tua untuk mengalah. “kamu kakak, kamu harus mengalah” Aturan keluarga seperti ini sering sekali mengabaikan perasaan dan menafikan keberadaan sang kakak. Akhirnya timbulan perasaan kesal yang berkepanjangan kepada sang adik yang menyemai bibit-bibit permusuhan dan persaingan antar saudara. Hargailah kepemilikan mereka, berikan mereka kebebasan untuk memilih ingin berbagi atau sedang enggan melakukannya. Anak-anak yang berusia lebih kecil biasanya lebih mudah dialihkan dengan sesuatu yang lain, namun perasaan kakak yang terluka karena pengabaian akan lebih memberikan pekerjaan tambahan kedepannya. Tawarkan pilihan pada sang kakak apakah saat itu ia bersedia berbagi, apresiasilah dan tunjukkan betapa kita bangga saat ia memilih untuk mengalah dengan adiknya.
 
Dengan berbagai pengalaman kasus, biasanya kita dapat memperkirakan suasana seperti apa yang kira-kira akan menimbulkan konflik perebutan mainan, maka langkah antisipasi perlu kita lakukan. Keluarga kami memiliki kebiasaan membawa satu container mainan setiap hari ke mesjid untuk dimainkan anak-anak kompleks sambil menunggu giliran mengaji di TPA, biasanya saya akan bertanya tentang mainan apa yang ingin mereka bagi hari ini. Terkadang ada anak yang menolak jenis mainan tertentu dan menginginkan jenis yang lain “hari ini hotwheel track aja gak usah lego”. Maka saya membawa box container yang sesuai dengan kesepakatan anak-anak, dengan catatan semua mainan yang dibawa berarti siap dibagikan oleh semua teman-teman, jika tidak siap berbagi maka tidak usah membawa apapun. Saat kita berkunjung ke rumah teman, biasnya anak-anak akan bersemangat meminjam mainan milik temannya karena bagi mereka hal itu adalah hal yang baru. Maka biasanya kemanapun kami berkunjung, kami membawa mainan kami. Tujuannya agar temannya pun tertarik memainkan mainan yang baru sehingga lebih rela untuk saling berbagi.
 
Melatih anak untuk berbagi dapat dilakukan dengan memberikan teladan dari hal-hal yang sederhana. Misalnya ketika kita membeli sesuatu, kita dapat ,mengatakan “ini punya bunda, tapi bunda ingin berbagi untuk kalian semua”. Kita juga dapat memberi teladan dengan membiasakan anak-anak bergantian dalam berkegiatan. sebagai contoh ketika membaca “sekarang giliran kamu baca halaman ini, nanti halaman selanjutnya bunda lagi ya” Pembiasaan juga bisa dilakukan dengan seringnya melakukan kegiatan dengan papan bermain seperti ular tangga, monopoli, dll. Biasanya dalam keluarga kami, kami memiliki aturan bahwa ketika kita perlu bergantian maka urutan dimulai dari anak yang paling kecil. Beri jatah waktu yang jelas serta dapat dimengerti anak, sebagai contoh kita menggunakan timer yang beralarm untuk mengatur jatah waktu penggunaan sesuatu. Melatih anak berbagi juga dapat dilakukan dengan sering melibatkan mereka dalam proyek amal sedekah yang kita lakukan. Libatkan mereka saat memberikan sedekah kepada para mustahik agar anak-anak mendapatkan teladan dalam kedermawanan.
 
Berbagi adalah sebuah proses, maka kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instan. Saat anak-anak masih dalam usia sulit berbagi dan belum paham arti berbagi, maka managemen lingkungan lebih efektif dibanding memberikan pengertian melalui komunikasi secara terus menerus. Mungkin membelikan 2 buah mainan yang sama percis saat mereka masih sangat kecil akan lebih tepat dibanding membeli satu mainan dan mengkondisikan mereka untuk berbagi. Akan ada masa dimana mereka lebih dapat mengerti tentang arti berbagi yang disampaikan melalui komunikasi verbal. Pada saat itulah nasihat-nasihat akan lebih efektif bekerja. Namun sebelum tahapan itu, menyetting panggung agar meminimalisir terjadi konflik adalah jauh lebih utama daripada memberi pengertian secara verbal.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari ibu beranak lima yang berusaha menjaga perdamaian keluarga setiap saat
 
http://www.babycentre.co.uk/a1021960/how-to-teach-your-child-to-share-ages-3-to-4
http://www.whattoexpect.com/playroom/ask-heidi/sharing-toys.aspx
Sumber gambar www.hippowallpaper.com
 
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here