CKSMA B-16 Karena Sabar Tak Berarti Tak Berkata “Tidak”

0
399
Beberapa kali melihat Fatih 1.8 tahun mengungkapkan rasa frustasinya dengan memukul atau mencakar Faruq. Meski saya mengerti bahwa hal ini wajar dilakukan oleh seorang balita yang masih memiliki keterbatasan untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya, tetapi bukan berarti sikap pemahaman itu hanya melahirkan pemakluman-pemakluman “ah mereka kan masih kecil” “namanya juga anak kecil”. Justru karena mereka masih kecil, ini adalah kesempatan kita untuk sebanyak-banyaknya memberikan pemahaman tentang kebaikan.
 
“buk!!” buk!”
Faruq: “ummi Fatihnya mukul”
ummi: “No hitting!! that’s hurt”
saya angkat Fatih, saya bawa Fatih ke dalam kamar, mendudukannya di atas kasur, sementara saya hanya berdiri di sampingnya dengan hanya sekali atau dua kali berkata “gak boleh mukul, sakit!” saya diam…… saya hanya diam menatapnya. Sikap diam yang memberi sinyal bahwa saya tidak suka dengan perbuatannya. Diam……. dan terus menatapnya…….dan sekali berkata dengan nada yang kokoh “tidak memukul! sakit!”
 
Fatih menatap dengan perasaan bersalah, ia mulai mengerti bahwa saya sedang menunjukkan ekspresi ketidaksukaan saya terhadap sikapnya. Saya hanya diam menemaninya sekitar 5 menit. Biasanya ia merasa tidak nyaman dengan pengabaian saya, ia bangkit dan memeluk saya untuk minta maaf. Lalu saya mengajaknya keluar untuk minta maaf pada kakaknya. Ia pun mengeti, ia menghampiri Faruq kemudian bersalaman dan mencium tangan kakaknya “mmmuaaaaah” barulah kemudian saya memberikan ekspresi kebahagian yang menunjukkan bahwa saya menyukai perbuatannya saat ia mau meminta maaf pada kakaknya.
 
Beberapa kali saya juga menemukan Faruq (4 tahun) berperilaku agresif dalam mengungkapkan rasa frustasi dan kekecewaannya terhadap sodaranya. Meski saya mengerti bahwa hal ini “masih” wajar untuk usianya yang masih 4 tahun, namun penegakan kedisiplinan tetap harus dilakukan. Saya angkat Faruq saya bawa ia ke dalam kamar lalu saya sampaikan”silahkan tenangkan diri dulu disini, kalo sudah tenang kita bicara” Biasanya ia masih memberontak, dengan nada kokoh saya sampaikan “Mohon maaf abang tetap disini, sampai abang bisa kembali aman bergabung bermain dengan yang lain” Dalam kasus tidak sangat agresif saya tidak menutup pintu kamar, saya hanya berdiri di depan kamar atau di sampingnya. Biasanya ia mengadu dengan nada menangis dan rewel “mohon maaf ummi gak ngerti, abang belum siap bicara dengan tenang sama ummi. silahkan bicara kembali kalo abang sudah tenang” biasanya ia berusaha menghapus air mata dan menghentikan tangisannya. “i’m done ummi, i’m done!” baru kemudian ia menjelaskan duduk persoalannya dengan lebih tenang, lalu saya mengakui perasaan kecewa dan marahnya sambil kemudian menuntunnya menyelesikan persoalan dengan bijak dan menasihatinya bagaimana seharusnya ia bersikap saat ia menemukan perasaan yang sama di lain waktu. Kadang begitu saya pisahkan ke dalam kamar sambil berkata “kalo sudah bisa aman bergabung dengan yang lain, kamu boleh kembali bergabung main” Faruq langsung merasa tidak nyaman karena dipisahkan. Kemudian ia spontan berkatan “aman…aman… sudah ummi, auk janji”
 
Pernah juga kasus terjadi dimana Faruq sangat agresif mengungkapkan rasa kecewanya bahkan saya yang tidak memiliki salah pun ikut dipukulnya. Jika ini terjadi saya terpaksa menutup pintu, bukan karena menghukumnya dengan mengurung diri di kamar, tetapi karena harus memberikan ia kesempatan untuk menenangkan diri. Saya akan tetap berdiri di depan pintu untuk membuatnya merasa aman bahwa saya tidak kemana-mana. “Abang…. ummi sayang sama abang tapi ummi takut karena abang sedang sangat marah. Kalo abang sudah tenang dan tidak menyerang, ummi buka lagi pintunya” Saat ia sudah berjanji dan menenagkan diri, barulah saya membuka pintu lalu membantunya menyelesaikan masalah.
 
Teknik ini saya gunakan bukan dalam rangka menghukum mereka. Teknik ini saya gunakan untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk berada dalam suasana yang lebih tenang agar membuka kesempatan bagi kami berbicara untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam suasana yang lebih tenang, saya merasa lebih efektif untuk menyampaikan pesan ketidaksetujuan atas sikap mereka dan membimbing mereka untuk menyelesaikan masalah dengan bijak. Tidak peduli siapa yang salah, ketika kali pertama perkelahian terjadi maka yang akan saya lakukan adalah memisahkan mereka dari kasus untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Tidak peduli siapa yang pertama kali salah, sebelum melakukan persidangan terhadap persoalan anak-anak, anak yang berperilaku agresif harus dapat ditenangkan terlebih dahulu. Saya juga harus memastikan bahwa dimata mereka sikap ini bukanlah sebuah hukuman. Maka nada komunikasi yang saya pilih tidak mengesankan kemarahan atau ancaman. Saya berusaha memberikan kesan di mata mereka bahwa saya ada untuk membantu mereka keluar dari masalah, dengan syarat mereka harus bersikap tenang terlebih dahulu. Adakalanya anak-anak tetap menangis bahkan agresif, biasanya saya berkata “oke kalo masih mau nangis, silahkan disini dulu. Kalau sudah siap berbicara sama ummi panggil ummi ya”
 
Anak harus mengerti tentang batasan perilaku, tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Bersikap sabar bukan berarti tidak berkata “tidak”. Bersikap sabar bukan berarti mengalah dengan kemauan anak. Bersikap sabar bukan berarti mengikuti segala keinginannya. Bersikap sabar bukan berarti mengiyakan semua pandangannya. Banyak orang tua yang terlihat keras, galak dan kasar tetapi akhirnya luluh dengan sikap negatif anak. Namun orang tua yang bijaksana adalah mereka yang tetap teguh dengan kebernaran namun meneguhkan kebenaran mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
 
Sabar begitu dibutuhkan dalam membimbing mereka ke jalan yang benar. Sabar begitu dibutuhkan dalam meluruskan perilaku mereka. Sabar begitu dibutuhkan dalam melatih mereka bersikap bijaksana. Sabar begitu dibutuhkan dalam tantangan-tantangan yang dialami dalam pengasuhan.
 
Namun berkata “tidak” bukan berarti dilakukan dengan kekerasan. Menyatakan ketidaksetujuan bukan berarti dilakukan dengan penindasan. Kekerasan tidak berarti diluruskan dengan kekerasan pula. Kedzholiman tidak berarti harus dihapuskan dengan kedzholiman. Katakan “tidak” karena cinta. Katakan “tidak”dengan penuh cinta. Tetaplah yakin bahwa dengan ijin Allah Sang Pengenggam Jiwa, nasihat dan upaya kita meluruskan perilaku mereka kelak akan bekerja. Meski terkadang upaya-upaya itu harus kita lakukan berkali-kali, seolah tidak ada ujungnya. Yang Allah minta dari kita hanyalah menyeru kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Sementara hasilnya kita serahkan kepada Sang Pemilik Jiwa. Fitrah mereka itu suci, mereka hanya membutuhkan latihan-latihan untuk bersikap lebih bijaksana dan semakin dewasa.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu 4 jagoan
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here