CKSMA B-15 Perhatian! Perhatian! Kurang Perhatian Oh Kurang Perhatian

0
346
Di suatu pagi saya sedang mengajar homeschool. Saat itu sedang mata pelajaran menghafal quran untuk Shiddiq. Sementara Shiddiq menghafal quran, Shafiyah mengerjakan tugas menulis arab dan Faruq sedang sibuk dengan mainannya.
 
Tiba-tiba………………………
“Gedebuuk”
Fatih (1.5 tahun) terjatuh tersandung lapisan lantai yang sedikit meninggi pada bagian pintu. “Aw” katanya. Saya tau jatuhnya pelan, pelaaaaaan sekali dan tidak menyakitkan. Biasanya saat terjatuh yang lebih parah pun ia memang tidak mudah menangis dan langsung bangun sendiri. Saya yang tengah melantunkan quran hanya berkomentar
“Fatih sakit ya….. ati-ati ya nak… ayo sini!”
Lalu saya kembali melanjutkan menghafal Al-Quran bersama Shiddiq tanpa bergerak menghampirinya. Rupanya Fatih masih tengkurap di tempat sama sambil acting layaknya pemain film, berkata dengan nada datar dan sangat terlihat berpura-pura. “Aw…aw” sambil melihat ke arah saya. “Aw…aw” dia perkeras lagi. Saya baru sadar kalau Fatih masih tetap di tempatnya. Saya pun tersenyum menahan tawa. Saya tau ia sedang memberi sinyal agar saya menghampirinya, menolongnya dan memperhatikannya. Namun saya tidak menyangka bahwa di usianya yang berumur 1.5 tahun ia sudah mampu memanipulasi keadaan untuk mencari perhatian saya. “Fatih…. fatih… kamu lagi pengen diperhatiin ummi ya” Saya pun sejenak berhenti mengajar lalu menggendongnya. Lalu ia pun tertawa dan kembali bermain dengan ceria.
 
Kurang perhatian….oh……kurang perhatian. Memiliki banyak anak memang otomatis menjadikan waktu kita lebih banyak dibagi untuk memastikan bahwa setiap anak terpenuhi kebutuhannya, baik fisik, akal maupun emosional. Setiap anak-anak akan berlomba-lomba agar dapat merebut perhatian orang tuanya dengan berbagai cara. Sebagai pengajar utama homeschooling anak-anak, kegiatan belajar personal otamatis memaksa saya untuk berinteraksi secara personal dengan setiap anak. Adakalanya anak-anak melakukan kegiatan bersama, adakalanya mereka melakukan kegiatan berbeda secara pararel namun ada pula kegiatan yang betul-betul harus fokus melakukan bimbingan personal. Namun meskipun anak-anak hampir 24 jam berada di sekitar saya, melakukan sebagian besar aktifitas dengan dampingan saya, namun sikap-sikap dalam rangka mencari perhatian tetap menjadi bumbu tersendiri dalam keseharian kami.
 
Melihat peristiwa tadi mengingatkan saya pada memori beberapa tahun lalu saat saya menjadi remaja. Karena kesibukan mamah dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, maka saya jarang sekali bisa berinteraksi dengan mamah kecuali pada waktu singkat di malam hari. Sebagai seorang anak yang paling sering sakit, ada perasaan bahagia saat sakit saya kambuh. Karena dengan cara itu saya bisa lebih berlama-lama berinteraksi dengan mamah saat mamah memijat kaki saya. Menunjukkan perasaan sakit menjadi cara saya untuk meminta perhatian mamah. Sebagai keluarga dengan 5 bersaudara kami juga memiliki kekhasan cara untuk menarik perhatian orang tua. Dari mulai menunjukkan eksistensi diri melalui prestasi sekolah, sampai membuat berbagai sensasi-sensasi yang membuat orang tua akan memperhatikan kami. Karena kursi eksistensi sebagai anak yang paling pintar telah direbut lebih dahulu oleh kakak saya, maka saya pun memilih tema eksistensi lain dimata orang tua. Saat remaja saya memilih eksistensi sebagai anak yang paling aktif berorganisasi. Maka saya pula yang paling banyak diperhatikan dalam bentuk kemarahan karena tidak pernah ada di rumah. Hehehe
 
Perhatian oh perhatian…… Adalah sebuah kebutuhan bagi seorang anak untuk merasa diakui, diperhatikan dan dihargai keberadaannya. Adalah sesuatu yang wajar ketika anak-anak mencari perhatian dan meminta persetujuan kepada orang dewasa di sekitar mereka khususnya orang tua. Sikap mencari perhatian menjadi sebuah masalah ketika hal ini terjadi setiap saat baik berupa sikap yang positif maupun sikap yang negatif. Sebagai contoh sering kali anak-anak saya bolak balik menunjukkan karya lego mereka, atau pesawat terbang kertas hasil kreasi mereka. Tetapi hal tersebut dilakukan berulang-ulang karena ia tau bahwa dengan itu saya akan memperhatikan mereka dengan mengapresiasi karyanya. Namun karena tidak ingin saya berpaling dan mengerjakan yang lain, maka anak-anak terus menerus meminta saya melihat bagaimana cara kerja karya-karya mereka. Kadang saya terpaksa harus menyela mereka ” keren banget masya Allah, tapi sudah dulu ya karena ummi mau lihat pekerjaan teteh dulu, nanti kita teruskan lagi ngobrolnya” Memiliki 5 anak berarti membagi waktu secara bergiliran agar dapat memperhatikan mereka semua secara spesial. Tugas kita adalah menyeimbangkan antara jumlah perhatian yang anak butuhkan dengan kemampuan kita memberikan perhatian kepada mereka.
 
Sering terjadi kasus dalam keluarga dimana anak-anak cenderung sering berperilaku negatif. Ketika seorang anak tidak berhasil merebut perhatian orang tua saat ia berkelakuan positif, maka ia bisa berbalik memilih untuk melakukan perbuatan negatif demi mendapat perhatian orang tua. Anak-anak yang sering berperilaku negatif demi mendapatkan perhatian orang tua, jika tidak ditangani dapat menjadi cikal bakal permasalahan kedisiplinan dan penyimpangan perilaku saat mereka beranjak dewasa. Tugas kita bukanlah mengurangi kebutuhan akan perhatian anak. Karena jika kebutuhan akan perhatian dapat ditangani dengan benar, hal ini akan membantu kita untuk membentuk dan meningkatkan perilaku-perilaku positif seorang anak. Tugas kita hanya mengurangi perilaku berlebihan saat mereka mencari perhatian serta mengarahkan mereka berperilaku dengan wajar.
 
Jangan biarkan kebutuhan anak-anak kita akan perhatian berubah menjadi tuntutan akan perhatian. Ketika anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang cukup, mereka menggunakan ledakan, amukan, mengomel, menggoda, serta melakukan perilaku menjengkelkan lainnya. Mereka akan berpikir, “Jika saya tidak bisa mendapatkan perhatian dengan menjadi baik, maka saya akan berbuat keburukan untuk mendapatkan perhatian Ibu.”
 
Saat anak-anak meminta dengan mengamuk, merengek bahkan berguling-guling, pastikan kita tidak diperintah dengan perilaku negatif mereka. Sekali mereka merasa berhasil mendapatkan sesuatu dengan menggunakan cara negatif, mereka akan cenderung mengulanginya.
 
“ummi tahu kamu sedang mencari perhatian, tetapi ummi tidak suka caramu meminta. Ayo ulang, minta dengan cara yang baik” kata saya misalnya saat ada balita yang meminta sesuatu dengan cara merengek. Sementara saya baru akan menolongnya setelah ia memperbaiki caranya dalam meminta.
 
Perhatian dan persetujuan orang tua adalah reward utama bagi seorang anak. Sehingga ketika kita memberikan perhatian dan persetujuan kepada anak-anak terhadap perilaku yang positif, maka mereka sedang mendapat perhatian positif. Perhatian positif berarti fokus pada perilaku positif dan menangkap sebanyak-banyaknya perilaku positif anak untuk kita apresiasi. Perhatian positif dapat diwujudkan dalam bentuk kata-kata pujian, dorongan, kedekatan, tepuk tangan, pelukan, telukan di punggung atau belaian lembut di rambut. Perhatian positif akan meningkatkan perilaku positif.
 
Sebaliknya ketika kita fokus pada perilaku negatif, dan baru memberikan perhatian saat anak-anak berlaku negatif, artinya kita sedang memberikan perhatian negatif. Perhatian negatif dapat diungkapkan dengan kemarahan, ancaman, introgasi, dan ceramah. Menurut ilmu psikologi, perhatian negatif pada hakikatnya tidak menghukum perilaku bahkan justru semakin meningkatkannya. Mengapa? Karena anak-anak akan berfikir cara termudah untuk menangkap perhatian orang tuanya. Ketika anak-anak tidak mendapat perhatian dengan cara yang positif, mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan perhatian kita.
 
Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memanipulasi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka belajar untuk merepotkan, dan menganggu orang tua. Mereka belajar bagaimana mengontrol dan memerintah kita. Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memperburuk keadaan dan membuat kita merasa kesal. Secara tidak langsung kita sedang mengajarinya melalui sikap kita yang tidak pernah peduli saat mereka berperilaku positif sementara baru memperhatikan mereka saat mereka berperilaku negatif.
 
Ya sebagai manusia biasa, tidak mungkin kesempurnaan dalam memberi perhatian dapat saya lakukan kepada semua anak. Tapi paling tidak, keberadaan saya di dalam rumah bersama mereka selalu memastikan bahwa setiap hari ada interaksi-interaksi personal yang spesial bersama mereka. Biasanya secara spesial saya menarik salah seorang anak untuk membaca cerita hanya berdua saja, sementara anak-anak yang lain sedang melakukan kegiatan yang lain. Setiap anak biasanya memiliki jenjang pelajaran baca yang sesuai dengan usianya, maka disitulah kesempatan saya untuk hanya berdua dengan mereka. Begitu juga untuk pelajaran personal lainnya seperti tahsin dan tahfidz.
 
Saya tau, Shiddiq sangat sulit mengerjakan worksheet dengan penuh konsentrasi jika saya tidak disampingnya, maka biasanya saya berbisik untuk mengatakan betapa saya sangat bangga dan senang saat ia sedang fokus mengerjakan worksheet meski tanpa bimbingan saya. Saya tau, Faruq masih sering berebut mainan dengan Fatih karena usianya yang masih balita, maka saya berusaha mengekspresikan apresiasi saya dengan istimewa saat saya menangkap momen dimana Faruq bersedia mengalah, memberikan mainan yang dimainkannya atau bahkan memberikan lego yang sudah ia buat kepada adiknya. Saya tau Shafiyah paling telat bangun untuk shalat subuh dibanding adiknya, maka saya mengungkapkan apresiasi kepadanya saat sesekali saya mendapatinya bangun lebih awal. Saya tau anak-anak masih sesekali bertengkar saat bermain bersama, maka ketika saya menemukan mereka bermain dengan anteng dan saling bekerjasama, saya sesekali menghentikan pekerjaan saya untuk menghampiri mereka dan mengapresiasi ketertiban mereka.
Perhatian negatif sering kali hanya mengajarkan tentang hal yang tidak boleh dilakukan. Namun tidak sampai mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan dan sikap apa yang kita harapkan. Namun perhatian positif akan memberikan tanda persetujuan terhadap sikap-sikap yang kita harapkan dari mereka serta memotivasi mereka untum terus meningkatkannya.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang masih terus berusaha membagi adil perhatian positifnya untuk semua anak-anaknya.
 
Referensi
Good Behavior, Stepehen W. Gerber
http://life.familyeducation.com/behavioral-problems/punishment/42962.html
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here