CKSMA B-1 Ketika Doa Mulai Bekerja

0
285

Tarbiyatul Aulad – Ada satu masa dimana saya begitu cemas dan khawatir. Dibalik segala kenyamanan dan kebahagiaan merasakan berbagai fasilitas pendidikan dan rekreasi di Amerika, ada hal yang sangat mengiris perasaan saya. Tentang masjid dan tentang shalat anak-anak. Cemburu rasanya melihat cerita anak-anak sahabat-sahabat di Indonesia yang gemar ke masjid setiap hari untuk menegakan shalat. Sementara anak kami??? Butuh perjalanan yang hampir sejauh Jakarta-Bogor untuk pergi ke mesjid besar melaksanakan sekolah islam akhir pekan. Butuh perjalanan menggunakan mobil bila ingin pergi shalat ke mushola kecil dekat rumah kami. Perasaan saya semakin miris melihat kondisi sulitnya kami dapat shalat di awal waktu. Mengapa? jujur saja, hidup di Amerika membutuhkan penyesuaian jadwal yang tidak mudah. Setiap musim durasi terangnya matahari selalu berubah-ubah, maka jadwal shalat selalu bergeser setiap saat. Bahkan pada saat summer kami harus menunggu sampai pukul 10.00 malam untuk dapat shalat isya. Lalu harus bangun sangat pagi untuk shalat subuh sekitar pukul 4.00. Tubuh kami harus terus menyesuaikan perubahan-perunahan yang kadang terasa sangat melelahkan. Bagaimanapun ketika matahari masih terang pada pukul 9.00 malam, kami pun tidak bisa memaksa tubuh kami untuk memiliki ritme seperti malam hari yang sudah harus berbaring istirahat. Kami masih harus menunggu adzan magrib dan isya. Bukan hanya perlu memasang adzan yang akan berbunyi secara otomatis dengan jadwal yang berubah-ubah, tetapi kadang ritme pola hidup pun harus terus menerus menyesuaikan diri. Terus terang hal itu tidak mudah. terkadang sering kami tidak menyadari bahwa waktu shalat sudah bergeser jauh, sementara ritme kerja belum disesuaikan berubah. Hidup seperti kejar-kejaran dengan waktu, baru selesai menyesuaikan ritme kerja agar dapat shalat di awal waktu, jadwal shalatpun kembali berubah.

Saat itu ada hal lain pula yang membuat saya begitu sedih. Sampai usia sebelum 7 tahun Shafiyah anak kami yang kedua belum juga mau melaksanakan shalat. Setiap kali diajak shalat ia selalu menolak. Ia mau mengaji, ia mau menghafal quran, ia gemar mendengar cerita tentang agama islam, tapi entah kenapa hatinya belum tergerak untuk shalat. Beragam materi pengantar tentang Shalat saya berikan terutama tentang mengapa manusia harus menegakkan shalat. Setiap kali kami shalat, kami terus mengajaknya, sesekali ia mau ikut, tapi ia lebih banyak menolak. Mengacu pada hadist yang memerintahkan kita untuk memberikan pendidikan shalat di usia 7 tahun, maka kami tidak pernah memaksa Shafiyah untuk melakukan shalat. Setiap kali Shafiyah menolak melakukan shalat saya hanya berkata padanya “Oke kalo sekarang belum mau belajar shalat tidak apa-apa, tapi kalo sudah 7 tahun insya Allah teteh mau mulai ya, karena ummi disuruh Allah untuk mulai ngajarin anak belajar shalat di usia 7 tahun, bukan dari ummi lho perintahnya, itu dari Allah” Shafiyah sangat mengingat kalimat itu, pernah saat beberapa minggu mengjelang usianya yang ketujuh Shafiyah berkata “actually i am affraid to be 7” Saat itu perasaan saya sangat khawatir, khawatir memberikan kesan yang sangat berat baginya untuk mulai melaksanakan pembebanan ibadah untuk pertama kali. Namun hati ini terus berdoa agar Allah menjadikan anak-anak keturunan kami sebagai hamba yang menenggakan shalat, meneggakan shalat di awal waktu dan sangat berharap kelak mereka dekat hatinya dengan masjid.

Sampailah hari dimana ulang tahun Shafiyah yang ketujuh pada tanggal 2 Maret 2015 lalu. Tepat satu hari sebelumnya, saya menutup hari dengan kalimat yang mengingatkan bahwa mulai besok, Allah sudah memberikan perintah bagi kami untuk mengajarkannya shalat lebih serius. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa kami. tepat di hari ulang tahunnya ia mau bangun di waktu subuh untuk menngerjakkan shalat. Sejak saat itu, kami meluangkan waktu untuk mengajarkan bacaan shalat lebih keras setiap hari saat ia shalat subuh. Sementara shalat lainnya ia lakukan berjamaah bersama anggota keluarga lainnya. Alhamdulillah sejak hari ulang tahunnya ia sangat berkomitmen mengerjakan shalat 5 kali sehari tanpa sulit diperintah. Meskipun pada awalnya ia belum bisa shalat di awal waktu. Hal ini terjadi lebih karena kesalahan saya yang kurang mudah melakukan penyesuaian ritme jadwal homeschooling dan kerja rumah tangga, dengan perubahan jadwal adzan setiap harinya. Namun demikian, setiap kali saya mengumandangkan iqomah dengan suara yang membesar, kedua anak kami yang sudah wajib shalat, terutama Shafiyah yang sangat baik dalam hal pendengaran, akan segera berlari meninggalkan pekerjaannya dan mengambil air wudhu untuk shalat berjamaah. Lalu bagaimana dengan adik-adiknya? tentu masih membutuhkan proses untuk memulai shalat. Bahkan pernah saat mengajak Shiddiq shalat ia hanya menjawab “can i do it when I seven?” lalu saya hanya memberikan pengertian “tidak apa-apa kalo bang Shiddiq dan Faruq tidak mau belajar shalat sekarang, duduk saja disekitar sini, tetapi tidak boleh menganggu ya!” Meskipun begitu, menjadi kuda-kudaan saat shalat adalah bagian dari cerita sehari-hari.

Kini episode kehidupan kami yang baru kembali di mulai. Alhamdulillah atas ijin Allah, Allah kembali mengabulkan doa saya. Doa saat kami menginginkan anak-anak semakin dekat dengan mesjid dan dapat berkomitmen shalat di awal waktu dengan berjamaah di masjid. Alhamduliah bahagia sekali rasanya tergopoh-gopong mendorong sepeda bayi atau stroller ganda, mengejar sepeda anak-anak yang melaju mengejar iqomah minimal 4 waktu shalat setiap harinya. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya melihat mereka yang selalu sibuk ketika adzan berkumandang, “I heard adzan, come on!” lalu berebut mengambil air wudhu dan berhamburan dengan sepedanya masing-masing. mereka begitu bersemangat bersepeda ke masjid, karena sekolah kami hanya di rumah. Bahkan di satu waktu Shiddiq pernah marah pada saya karena saya menyebabkan ia terlambat mengejar iqomah. Alhamdulillah doa yang saya panjatkan kini tengah bekerja, meski untuk mengabulkannya Allah memberikan takdir terbaikNya. Bapak harus kehilangan pekerjaan di Amerika karena kantornya yang tutup. Atas kehendak Allah pula, jenis visa yang kami miliki tidak mudah untuk memperoleh perusahaan baru yang dapat memberi sponsormeskipun tawaran pekerjaan baru terbuka. Alhamdulillah melalui takdirNya, insya Allah, Allah tengah memberikan kebaikan-kebaikan baru sebagai jawaban dari doa-doa terbaik kami. Damparkan kami ya Allah! Damparkan kami ya Allah! ke tempat dimana Engkau semakin mendekatkan diri kami pada surga! Kuatkan, mampukan, dan mudahkan ditempat mana Engkau berkehendak mendamparkan kami selanjutnya.

Doa…Doa…Doa… Doalah senjata ibu yang istimewa. Kala lisan tak mampu mengarahkan dan tangan tak mempu menuntun mereka, maka doalah senjata yang utama. maka diri yang lemah ini masih menanti kelak doa yang diucapkan kembali bekerja.

Setiap kali menyapa mereka, atau menjawab panggilan mereka, maka kata sapaan yang diucapkan adalah doa “iya anak sholih, calon hafizh quran, calon ahli quran, calon alim ulama!”
Saat melihat balita yang tantrum berguling-guling mempertahankan keinginannya, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anak-anakku, hamba-hambaMu yang penyabar, mampukan ia menyampaikan keinginan dengan cara yang baik, beri hambaMu kemampuan untuk mengerti maksudnya. Jadikanlah kegigihan yang dimiliknya menjadi kegigihan untuk membela agamaMu ya Allah”
Saat melihat balita yang sering menyelesaikan masalah dengan memukul, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Anak sholih, calon ahli quran, jadilah engkau sebaik-baik pemuda di jamanmu, jadilah engkau pemuda yang paling penyayang, menyayangi orang misikin dan anak yatim, penegak perdamaian di dunia”
Saat melihat anak yang berperilaku menyulitkan, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anakku, anak yang memudahkan urusan orang lain, sehingga dengannya Engkau mudahkan urusannya di dunia dan akhirat”
Saat menyuruh anak bangun subuh namun belum juga bergegas mengambil wudhu dan pergi ke masjid, saya alihkan kekesalan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anakku anak-anak yang menegakan shalat di awal waktu, jadikanlah mereka pemuda yang memiliki waktu subuh yang berkah”
Saat menghadapi anak-anak yang bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah “ya Allah lembutkanlah lunakkanlah hati anak-anak hamba ya Allah jadikanlah mereka hambaMu yang memudahkan setiap urusan”
Saat Shiddiq rewel menyebalkan, memanggil dengan suara rewelnya” Ada apa anak sholih? Calon hafidz quran! calon ahli quran, calon ilmuwan, calon penemu dan pembukti kebenaran quran melalui penemuan-penemuannya”
Saat Faruq selalu mengotori dapur dengan ekplorasi pembuatan makanan atau susu yang tidak pernah mau dibantu “Anak sholiiiiiiih, calon ahli quran, calon pengusaha makanan terbesar di dunia yang kaya rayaaaaaa, yang dermawan, yang menginfakkan hartanya untuk perjuangan islam, udah dulu yaaaaaaaa eksplorasinya ini makanannya tumpah kemana-mana anak sholih, sayang, mubadzir!”
Saat Fatih sering sekal ditemui sedang memainkan air, baik di kamar mandi maupun di ember rendaman atau pel lantai “anak soliiih, calon ahli bahari yang akan memajukan perikanan dan kelautan Indonesia… Udah dulu ya main airnya”
Saat terkaget-kaget melihat suasana rumah yang hancur lebur karena eksplorasi anak-anak yang tak terduga, saya mengalihkan kekesalan dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anak-anakku ahli ilmu, ahli dalam beramal, ahli dalam berkarya, yang dengan karyanya mereka menolog agamaMu, yang dengan karyanya mereka menjadi manusia yang paling bermanfaat”
Apa saja…. Apa saja… Apa saja yang membuat dada ini hampir bergejolak, maka kemarahan ini segera diubah menjadi doa-doa kebaikan sesuai dengan apa yang sedang kami harapkan saat itu terhadap anak-anak kami. Kami masih menanti dan terus menanti, kelak doa-doa itu akan bekerja untuk kami, Insya Allah, Insya Allah

Batujajar, Jawa Barat
Dari Seorang Ibu yang tak bosan berdoa untuk anak-anaknya
Kiki Barkiah

Sumber gambar (islamgreatreligion.wordpress.com)

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here