Hukma Shabiyya

Berhentilah sejenak. Tengoklah, apa yang terjadi pada anak-anak kita sekarang. Gizi semakin baik, tetapi kematangan mereka agaknya tak lebih baik dibanding beberapa generasi sebelumnya. Terlebih jika kita bercermin pada generasi awal kaum muslimin. Lihatlah, betapa beliau usia Imam Syafi’i rahimahullah ketika ia diberi kepercayaan oleh gurunya, Imam Malik rahimahullah. Imam Syafi’i telah hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun bukan karena masuk lembaga tahfidz, tetapi karena kecintaannya yang sangat besar kepada kitabullah mendorong ia untuk bersungguh-sungguh membaca dan mengingatnya. Ada kecintaan dan ada seorang ibu yang setiap saat mengakrabkannya dengan Al-Qur’an.
Dari Ma’aali at-Ta’sis fi Manaqib Ibnu Idris sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Idris –maksudnya Imam Syafi’i- hafal Al-Qur’an usia 7 tahun dan hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 9 tahun. Di usia 10 tahun, Imam Syafi’i telah menguasai tafsir Al-Qur’an –sesuatu yang amat langka untuk zaman kita ini, bahkan untuk orang dewasa. Kemampuan menghafal dan memahami kitab ini selain berkait dengan kecerdasan, juga terutama berhubungan dengan telah tumbuh kuatnya kecintaan pada agama serta keyakinan kepada kitabullah sehingga ia memiliki hikmah semenjak usia kanak-kanak.
Imam Syafi’i rahimahullah bukanlah satu-satunya. Jika kita menelusuri sejarah peradaban Islam, kita akan temukan betapa banyak tokoh yang menggetarkan dunia dan mereka telah menampakkan kecintaan amat besar kepada agama ini. Mereka sangat dekat hidupnya dengan Al-Qur’an, mencintainya dan meyakini isinya sehingga dengan itu mereka bersungguh-sungguh menghafalkan seraya memahami maknanya. Mereka sangat bergairah terhadap Al-Qur’an –sesuatu yang tampaknya makin menjauh dari kita dan anak-anak kita.
Mari kita ingat sejenak nasehat Jundub Ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Sahabat Nabi saw. ini mengomentari generasi tabi’in yang mendahulukan belajar Al-Qur’an dengan berkata, “Kami belajar iman sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian belajar Al-Qur`an sehingga dengannya bertambahlah iman kami.”
Jika generasi tabi’in yang mempelajari Al-Qur’an sebelum matang mempelajari iman saja dinasehati seperti itu oleh Jundub ibnu ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, maka apakah yang akan dikatakannya tentang anak-anak kita? Padahal tabi’in adalah sebaik-baik generasi sesudah generasi sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Sementara hari ini, di sekolah-sekolah Islam maupun di rumah-rumah kita,anak-anak bahkan belum belajar keduanya (iman dan Al-Qur’an) ketika mereka belajar gerak dan lagu. Subhanallah…. Maha Suci Allah Ta’ala. Betapa jauh bedanya…. Maka, apakah yang dapat kita harapkan dari anak-anak kita? Orangtua semacam apakah kita ini?
Astaghfirullah…. Semoga Allah Ta’ala ampuni kita. Semoga pula Allah Ta’ala karuniakan kemampuan dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan kita sebagai orangtua. Semoga pula Allah Ta’ala baguskan anak-anak kita, betapa pun kita masih amat jauh dari layak dalam mendidik.
Berbincang tentang hukma-shabiyya, teringatlah saya pada Al-Qur’an surat Maryam. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak (hukma shabiyya), dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam, 19: 12-14).
Inilah ayat-ayat yang bertutur tentang Nabi Yahya ‘alaihissalaam, putera Nabi Zakariya‘alaihissalaam yang Allah Ta’ala karuniakan tatkala usianya telah senja dan uban memenuhi kepala. Allah Ta’ala beri keturunan yang berlimpah kesejahteraan sejak hari dilahirkan hingga kelak saat dibangkitkan di Yaumil-Qiyamah. Allah Ta’ala sendiri yang menamai Yahya.
Banyak pelajaran yang patut kita renungi dari ayat-ayat ini. Pertama, betapa Allah Ta’ala senantiasa mendengarkan do’a kita. Dan Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk mengabulkan do’a kita meski rasanya sudah tak mungkin lagi punya keturunan. Kedua, kesungguhan dalam memohon kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh pengharapan dapat menjad
i sebab Allah Ta’ala karuniakan kebaikan pada anak kita.
Ada pelajaran lain yang perlu kita renungkan. Keutamaan, kemuliaan dan kekhususan Nabi Yahya ‘alaihissalam sungguh semata-mata dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maha Kuasa Allah Ta’ala untuk memberikan keistimewaan dan kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Berkait dengan tugas kita sebagai orangtua, bagian kita adalah mengambil pelajaran tentang apa yang menjadikan Nabi Yahya ‘alaihissalam memiliki keistimewaanhukma shabiyya, yakni hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Semoga Allah Ta’ala limpahi kita ‘ilmu dan menolong kita untuk mendidik anak-anak kita agar dapat menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan meninggikan kalimat Allah Ta’ala di muka bumi.
Di antara hal-hal yang patut kita catat untuk kemudian kita usahakan pada anak kita adalah: menumbuhkan kecintaan dan keyakinannya kepada kitabullah. Jika mereka yakin dengan Al-Qur’an, maka mereka akan menerima sepenuhnya apa yang difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka menyambutnya tanpa keraguan dan membacanya dengan penuh kecintaan. Dan lihatlah betapa tidak ada yang lebih mudah kita ingat melebihi apa yang kita cintai. Kita mudah mengingati apa yang sangat berharga –betul-betul kita rasa berharga—buat diri kita. Semakin besar kecintaan kita kepadanya, semakin besar perhatian kita kepadanya dan semakin lekat ingatan kita terhadapnya. Yang demikian ini serupa dengan perkara yang sulit kita lupakan. Sekilas mirip, tetapi sebenarnya keduanya sangat berbeda, perkara yang paling sulit kita lupakan adalah yang paling membekaskan luka atau keperihan dalam diri kita.
Pertanyaannya, apakah yang sudah kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan dan keyakinan kepada kitabullah dalam diri anak-anak kita? Astaghfirullah… sekali lagi kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas kelalaian kita menanamkan bekal berharga ini dalam diri anak kita. Semoga kita dapat memperbaikinya. Semoga pula kita tidak lalai menanamkan kepada anak-anak kita berikutnya yang saat ini masih baru lahir. Maka, bersyukurlah jika Allah Ta’ala berikan karunia lebih dari dua anak.
Jika kecintaan dan keyakinan kepada kitabullah telah tertanam dalam diri mereka, berikutnya yang perlu kita perhatikan selaku orangtua dan guru PAUD adalah menumbuhkan hasrat kuat untuk berpegang pada kitabullah dengan penuh kesungguhan. Pertanyaannya, seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an? Adakah kita mengambil petunjuk darinya? Jika tidak, lalu adakah kepatutan dalam diri kita untuk menumbuhkan tekad menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup anak-anak kita.
MasyaAllah…. betapa besar tugas kita sebagai orangtua. Dan betapa sedikit bekal yang kita miliki.
Jika ini kita lakukan, diiringi do’a kita yang amat tulus –terutama do’a ibu yang melahirkannya—kita berharap anak-anak itu akan memiliki hikmah di saat usianya masih kanak-kanak atau belia. Barangkali amat jauh dibanding generasi terbaik Islam, tetapi kita sungguh berharap anak-anak itu setidaknya telah memiliki arah hidup yang jauh lebih terarah dibanding anak-anak seusianya di negeri ini.
Ada fakta sederhana yang perlu kita renungkan. Para ahli psikologi perkembangan meyakini bahwa remaja merupakan masa keguncangan, masa krisis identitas yang penuh badai (storm & stress). Mereka meyakini ini sebagai hukum perkembangan yang pasti terjadi pada siapa pun. Tetapi kita dapati bahwa di berbagai belahan bumi, khususnya di Timur Tengah, para remaja tidak mengalami apa yang dulu para ahli psikologi perkembangan menganggapnya sebagai kepastian. Sejumlah remaja justru baru mengalami keguncangan ini ketika mereka tak lagi dibesarkan dengan pendidikan yang memberi arah bagi hidup mereka. Inilah yang dapat catat dari buku 50 Mitos Keliru dalam Psikologi karya Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, Barry L. Beyerstein. Pun buku Adolescence karya John W. Santrock, meski hanya sekilas.
Apalagi yang harus kita bekalkan kepada anak-anak kita? Takwa kepada Allah Ta’ala dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain). Kita tumbuhkan dorongan dalam diri mereka dengan sepenuh kesungguhan.
Sesudahnya, kita didik mereka agar menjadi orang yang rendah hati, tidak sombong dan tidak berlaku aniaya. Kita siapkan mereka agar tak merendahkan siapa pun, tidak pula mencela apa yang mereka tidak kuasa menentukannya, yakni terkait apa yang ditakdirkan Allah Ta’ala bagi mereka. Tak ada kelebihan orang yang berkulit putih dibanding yang berkulit hitam pekat. Tidak pula yang mancung lebih utama dibanding yang hidungnya rata. Hak mereka hanyalah tidak menyukai perbuatan buruk yang dilakukan manusia seraya menunjukkan kepada anak kita hak saudaranya seiman, yakni diingatkan dalam kebenaran, kesabaran dan kasih-sayang.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga kelak kita dapat mempertanggung-jawabkan tugas kita sebagai orangtua. Semoga kelak anak-anak kita menjadi penyejuk mata di akhirat. Bukan sebab terjerembabnya kita ke dalam api neraka.
Maafkan saya. Ingatkan saya. Nasehati saya.
——————–

Mengapa Anak Mengabaikan Nasehat Orangtua

Kapankah saat terbaik menyampaikan nasehat kepada anak? Kapankah masa yang tepat untuk mempengaruhi jiwa anak? Menurut sebagian orang, saat terbaik itu adalah ketika anak menjelang tidur. Mengapa demikian? Konon, otak anak berada dalam keadaan gelombang alpha. Pada saat itu, otak lebih siap menerima nasehat. Di luar persoalan benar tidaknya anggapan tersebut, ada berbagai kerepotan jika untuk mempengaruhi jiwa anak harus menunggu ia hampir tertidur. Jangan-jangan kitalah yang justru tertidur lebih dulu dibanding anak yang mau kita pengaruhi jiwanya.
Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar nasehat dan mentaati perintah orangtua meskipun dia sedang dalam keadaan capek dan baru saja tiba di rumah. Lalu apa bedanya dengan anak-anak di masa sekarang?
Sebagian orang mengatakan bahwa anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Tampaknya pernyataan ini benar, tetapi jika kita meyakini begitu saja, sesungguhnya kita hampir-hampir tergelincir dalam syubhat yang besar. Bukankah setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah? Ini berlaku untuk masa dulu, masa kini maupun masa yang akan datang. Artinya, di zaman apa pun anak lahir dalam keadaan yang sama. Orangtuanya yang mempengaruhi dan menentukan akan seperti apa anak-anaknya kelak.
Ini berarti, jika anak-anak kita kurang menghormati nasehat orangtua dan tidak memperhatikan pengajaran yang kita berikan kepada mereka, yang pertama kali perlu kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri. Kita menelisik apa yang salah dalam diri kita sebelum kita berusaha memahami apa yang terjadi pada anak.
Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh. Mereka duduk sembari menyimak baik-baik huraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan. Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau. Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan? Bukankah hari-hari ini kita sering mendapatkan penjelasan dari para trainer bahwa agar murid mau memperhatikan apa yang kita ajarkan, kita harus menyampaikan dengan cara yang fun, atraktif dan menggembirakan?
Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal. Apa itu? Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.
Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan. Mereka menerimanya. Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan. Jadi, bukan langsung menolaknya.
Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan. Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya. Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka. Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan. Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.
Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan. Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan sungguh-sungguh meng
inginkan mereka menjadi baik. Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua. Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak. Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat. Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.
Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita? Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:
ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَٰﻔًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮا۟ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮا۟ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut? Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan). Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.
Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan. Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan. Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan. Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat. Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.
Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.
—————–

Benahi Niat Sebelum Menikah

Perbaiki niat saat menikah. Janganlah salah niat menyebabkan melemahnya keyakinan kepada sifat-sifat Allah Ta’ala. Mengharap suami atau menantu kaya karena mengangankan kehormatan dari hartanya, dapat menjadikan kita lupa yang lebih mendasar, sekaligus melalaikan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala yang Maha Kaya. Disamping itu, buruknya niat dapat menjadikan seseorang lemah dan hina, bahkan sebelum ia meraih apa yang ia impian sepenuh harapan.
Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Sufyan bin Uyainah. Ia berkata,  “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sufyan bin Uyainah), aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah (istrinya sendiri). Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. 
Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?” 
“Benar, wahai Abu Muhammad,” tegas lelaki tersebut. 
Ibnu Uyainah berkata, “Barangsiapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Barangsiapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Tetapi barangsiapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama.”
Nasehat Ibnu Uyainah kepada lelaki yang mengadukan nasibnya tersebut kian terasa membekas manakala saya menghadapi kasus demi kasus pernikahan. Qadarullah, terutama sebelum saya membatasi konsultasi pernikahan, banyak yang datang kepada saya untuk meminta pendapat terkait masalah rumah-tangganya. Ada yang tampaknya sangat rumit, tapi ternyata penyelesaiannya sangat sederhana karena kedua memiliki niat yang baik terhadap masalah yang membelitnya. Ada pula yang tampaknya sangat sederhana, tapi penyelesaiannya jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan karena salah satu (apalagi jika keduanya) salah niat saat melangsungkan pernikahan, termasuk salah niat dalam memilih pendamping hidup.
Sungguh, sama orangnya beda niat akan sangat membedakan apa yang akan diraih seseorang dalam pernikahan. Menikah dengan orang yang memiliki harta berlimpah misalnya, bukan merupakan kesalahan jika niatnya benar. Tetapi berapa banyak yang harus mengalami kekecewaan sangat mendalam karena salah niat saat menentukan pilihan.
Suatu saat seorang lelaki datang mengadukan nasibnya. Jauh sebelum menikah, ia memang telah menetapkan kriteria pokok perempuan yang patut dinikahi dan bila perlu dikejar-kejar sampai teraih, yakni cantik, putih, kaya dan syukur kalau cerdas. Empat kriteria ini yang pokok. Adapun kalau luas pengetahuan agamanya, itu bonus saja. Ia memegang prinsipnya itu sejak bertahun-tahun sebelum menikah dan ia konsisten dengan itu. Allah Ta’ala pun rupanya mengabulkan apa yang menjadi impiannya. Ia mendapatkan yang cantik, kulitnya putih, kaya dan cerdas. Ia mendapatkan semuanya, termasuk bonus yang tak terduga. Mertuanya sangat baik kepada dia, tetapi ia tidak siap menerima bonus berupa kenyataan bahwa istrinya sakit jiwa.
—————

Status Facebook Anak Kita

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.
Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.
Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.
Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.
Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.
Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.
Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka
Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.
Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.
Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.
Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.
Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.
Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi
Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan b
erusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.
Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.
Pacaran Online Pun Terjadi
Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.
Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.
Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.
Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Wallahu a’lam bishawab
———————–

Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa

Ini bukan yang pertama. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Anak tak lagi sanggup menyelesaikan pendidikan karena pacaran online. Cemerlangnya otak tiada bermanfaat manakala pikiran sudah tak mampu konsentrasi karena hanyut dalam gejolak perasaan yang dibiarkan liar saat pacaran melalui social media.
Menyegerakan nikah itu sangat baik, tapi bukan tergesa-gesa. Apalagi semata karena sudah tak dapat berpikir yang lain selain pikirkan pacar. Menyegerakan nikah hendaklah karena alasan iman demi memuliakan sunnah. Bukan karena terlalu larut dalam obrolan asmara di social media.
Kita mengharap lahirnya generasi tangguh dari orangtua yang menikah di usia dini karena alasan iman. Masa muda mereka tak terkotori maksiat. Tetapi akan sangat berbeda kalau dua orang muda menikah tergesa-gesa karena sudah tidak mampu memikirkan yang lain dengan baik dan tenang.
Alhamdulillah, saya menikah ketika saya maupun istri saya masih sama-sama kuliah. Tetapi sedari awal saya berniat nikah saat masih kuliah. Artinya, semenjak awal kuliah memang telah mempersiapkan diri secara mental untuk mampu bertanggung-jawab jika menikah saat masih kuliah. Ini tidak sama, sama sekali tidak sama, dengan muda-mudi yang menikah karena sudah terlalu intens mengumbar perasaan di social media.
Pertanyaannya, apakah yang kita ketahui tentang pikiran dan perasaan anak kita di facebook? Mari sejenak kita berbincang kembali, catatan sederhana saya tentang status facebook anak-anak kita: Baca Disini => Status Facebook Anak Kita
—————
Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Renungan Buat Orang Tua

Anak-anak memerlukan ketulusan cinta kita kepada mereka. Tetapi itu saja tidak cukup. Betapa banyak orangtua yang mencintai anak-anaknya sepenuh kesungguhan dan memberi perhatian dari waktu ke waktu, tetapi anak tetap merasa tidak dicintai. Apalagi di zaman ini kian banyak anak yang bahkan tak sempat merasai belaian tulus penuh kelembutan dari ibunya. Mereka memang lahir dari keluarga terdidik, tapi bukan keluarganya yang paling banyak mengasuhnya. Mereka memang lahir dari ibu yang terpandang, tapi bukan senyuman ibu yang paling sering mereka pandang.
Di luar itu, ada anak-anak yang tetap memperoleh limpahan kasih-sayang orangtua, tetapi tak merasa dicintai. Sebabnya, orangtua tak memperhatikan anak-anak dengan baik dan enggan membekali diri dengan ilmu sebagai orangtua. Ini menyebabkan orangtua tak mengenal anak-anaknya dengan baik, tak memahami apa yang menjadi kerisauan anak dan tak memberi perlakuan yang sesuai dengan keadaan anak.
Semoga dapat kita renungkan bersama.
————-

Kenakalan Anak

Sekali Lagi tentang Kenakalan Anak
Tak akan menjadi kenakalan jika saat awal muncul gejala segera ditangani. Jika kenakalan dibiarkan, ia bahkan dapat menjadi kriminalitas. Perilaku nakal (challenging behavior) muncul karena perilaku anak yang tak sesuai dibiarkan saja, baik oleh orangtua maupun guru.
Kita memang tidak boleh menjuluki anak dengan sebutan nakal. Tapi memahami kenakalan itu sangat berbeda dengan menjuluki (apalagi mengolok). Sangat berbeda pula dengan menggunakan kata nakal untuk menekan anak agar patuh atau sekedar melampiaskan kekesalahan tanpa kendali.
Yang harus kita ingat adalah, kenakalan itu ada. Kenali sebab sebelum muncul. Tangani saat timbul gejala agar tidak berkembang serius. Perilaku yang tidak pantas akan berkembang dalam dua kemungkinan apabila dibiarkan: ke arah penyimpangan & puncaknya berupa abnormalitas; atau ke arah kenakalan yang puncaknya adalah kriminalitas. Dan yang terakhir ini terjadi di negeri kita. Bahkan di tingkat anak-anak.
Ironisnya, sampai pun terjadi kriminalitas (kejahatan) oleh remaja dan bahkan anak-anak, masih saja ada yang menganggap kenakalan tidak ada. Menganggap bahwa kenakalan itu benar-benar tidak ada menjadikan kita abai bahkan ketika perilaku anak sudah sangat buruk. Kita anggap wajar sehingga membiarkan. Padahal seharusnya kita benahi sedari awal. Bukankah ini yang kita temukan pada teladan kita? Bukankah kita dapati Rasulullah shallaLlahu ’alaihi wa sallam segera mengoreksi ketika ada anak yang makan dengan tidak tertib?
Kadang perilaku tidak patut itu muncul alamiah akibat rasa ingin tahu anak. Ini pun tetap perlu diluruskan dengan tetap menyadari itu wajar. Meluruskan perilaku yang tidak patut sangat berbeda dengan mencela, berbeda pula dengan menjatuhkan. Ini yang harus kita ingat.
——————

Nasehat Imam Syafi’i Kepada Penuntut Ilmu

Inilah nasehat Imam Syafi’i rahimahullah kepada para penuntut ilmu. Inilah nasehat yang dulu dipegangi dengan kuat dan mengantarkan banyak orang meraih manfaat menuntut ilmu. Mari sejenak kita perhatikan:
أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَاٍ  بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَان
“Saudaraku, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan rinciannya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama.”
Inilah sikap mental yang seharusnya kita tanamkan kepada anak didik kita. Siap berpayah-payah, semangat bertekun-tekun belajar. 
Sesungguhnya yang dimaksud dirham bukanlah banyaknya harta, tetapi terutama kesediaan/kerelaan hati mengeluarkan uang untuk meraih ilmu. Berpijak pada nasehat yang ditanamkan di awal belajar, lapar itu lebih disukai santri asalkan dapat membeli buku. Sikap ini saya pegang saat kuliah. Bukan untuk nyentrik jika kuliah pakai kresek (kantong plastik belanja). Tapi karena buku lebih utama.


Teringat kawan-kawan masa kecil yang cemerlang. Mereka justru akrab dengan rasa lapar. Tetapi mereka amat bersemangat. Lapar kerap jadi pilihan karena mendahulukan ilmu dan mereka justru menjadi cemerlang justru karena itu. Perhatian hanya tertuju pada belajar. Tidak disibukkan oleh urusan makanan. Maka sulit saya memahami penjelasan “sebagian ahli”: tidak sarapan sulitkan belajar

Bersahabat dengan Ustadz bukan karena mengharap nilai yang bagus, tapi untuk meraup ilmu yang barakah dan berlimpah. Dulu kesempatan memijat ustadz merupakan kesempatan penuh manfaat. Memijat merupakan kesempatan mendengar limpahan nasehat ustadz. Ini bukanlah soal joyful learning. Justru ini soal kesediaan berpayah-payah demi meraih ilmu yang lebih utama. Ada semangat di sana.

Bersahabat dengan ustadz bahkan tak hanya terkait kesempatan meraup kesempatan lebih banyak untuk memperoleh curahan ilmu darinya. Lebih dari itu adalah ikatan jiwa antara murid dan guru. Teringat, ketika guru sakit, sedih sekali perasaan ini & bersegera mendo’akan. Ikatan semacam ini menjadikan kehadiran guru senantiasa dinanti dan tutur katanya didengarkan sepenuh hati. Inilah bekal amat berharga.

Ketika murid benar-benar memiliki keterikatan hati dengan guru, cara mengajar yang monoton pun tetap membangkitkan antusiasme. Sebaliknya, ketika guru semata hanya mengandalkan metode mengajar, cara yang atraktif pun tak jarang hanya memikat sesaat di kelas. Murid betah mendengarnya karena menarik dan lucu, tapi tak menumbuhkan antusiasme untuk belajar lebih serius di luar kelas. Apalagi jika salah memahami istilah belajar tuntas sehingga seakan tak perlu lagi belajar setiba di rumah, bahkan hingga tertidur pulas di malam hari. Padahal antusiasnya anak belajar sepulang sekolah merupakan salah satu tanda belajar otentik. Jika kita sangat meminati sesuatu, sakit pun tak menghalangi untuk menekuninya.

Maka membekali murid dengan menumbuhkan sikap percaya kepada guru, hormat serta ikatan emosi dengan guru amat mendesak dilakukan. Dalam hal ini, kita dapat membincang dari kacamata efektivitas pembelajaran. Tapi saya lebih suka melihat dari segi kebarakahan belajar. Masalah “barakah” memang terasa makin asing dalam pembicaraan tentang
pendidikan, hatta itu sekolah Islam. Padahal ini sangat penting.


Prinsip lain yang dinasehatkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah bagi penuntut ilmu adalahطُوْلُ زَمَان (memerlukan waktu lama). Seorang santri (murid) harus menyiapkan diri menghabiskan waktu yang panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu.

Jauhi sikap instant dan tergesa-gesa (isti’jal) ingin menguasai ilmu dengan segera. Penghambat tafaqquh (upaya memahami secara sangat mendalam) adalah sikap tergesa-gesa. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat, tetapi pemahaman yang matang dan mendalam hanya dapat diraih dengan kesabaran dan kesungguhan. Grabbing informations dapat dicapai dengan speed reading. Tetapi untuk pemahaman mendalam, yang diperlukan adalah deep reading.

Kesediaan mencurahkan perhatian dan menempuh proses yang lama merupakan kunci untuk meraih keutamaan-keutamaan ilmu yang sangat tinggi. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam waktu singkat. Tapi untuk menghasilkan penguasaan yang matang kerap memerlukan waktu panjang. Meski demikian, sekedar siap menjalani masa yang panjang tidak banyak bermakna apabila tidak disertai ketekunan. Ada kesabaran, ada ketekunan.

Sebagian ilmu menuntut ketekunan untuk masa yang panjang. Keduanya diperlukan. Ini memerlukan daya tahan yang tinggi. Ada orang yang cerdas sehingga mudah memahami. Tapi ada sebagian ilmu yang menuntut ketekunan, masa yang panjang dan sekaligus kecerdasan. Dalam bidang sains pun sabar, tekun dan cerdas diperlukan secara bersamaan. Semisal untuk bidang yang memerlukan observasi longitudinal.

Jika ada guru yang bertanya, apa bekal penting bagi seorang murid, maka nasehat Imam Syafi’i rahimahullah ini yang seharusnya ditanamkan kuat-kuat. Ditanamkan kuat-kuat hingga membekas. Bukan sekedar menjadi pengetahuan sekilas. Semoga ini dapat membentuk sikap belajar yang kuat dan mantap. 

Jika adab tertanam kuat dan sikap belajar mengakar dalam diri murid, maka guru yang monoton pun akan didengar sepenuh perhatian. Lebih-lebih guru yang bagus kemampuannya mengajar. Tetapi sekedar pintar mengajar, tak bermakna jika murid lemah adabnya buruk sikapnya.

Sekian. Meski masih tertatih mengais hikmah, semoga ada yang dapat kita amalkan. Mohon koreksi.
—————–
Nasehat Imam Syafi’i Kepada Penuntut Ilmu
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Berdo’a dalam Amplop

Terhenyak saya.
Suatu pagi saya menghadiri sebuah acara. Ada hal yang mengejutkan saya dari penyelenggara. Salah seorang di antara mereka berbicara penuh semangat kepada peserta, perkataan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya dari orang-orang shalih. Tidak pula saya dengar dari kakek nenek saya yang saya kenal bertekun-tekun mendalami agama. Saya justru mendapati apa yang mereka katakan itu pada agama lain. Tak terkecuali dari mereka yang berakrab-akrab dengan New Age Movement dengan segala cabang maupun rinciannya.
Sejenak saya terdiam sembari merenung, adakah ini yang dimaksud dalam hadis NabishallaLlahu ‘alahi wa sallam? Sesungguhnya beliau telah bersabda:
سَيَكُوْنُ فِـيْ آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَـا لَـمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Pada akhir zaman akan ada kaum yang berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula pernah didengar nenek moyang kalian. Maka hati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban & Al-Hakim). 
Tetapi…, perkataan apakah yang merisaukan saya itu? Do’a. Mereka mengobarkan semangat untuk berdo’a, tetapi dengan cara yang sangat asing dan tidak pernah saya dapati tuntunannya di dalam agama ini. Salah seorang berkata:

“Yang mau segera dapat jodoh, yang mau kaya raya, yang mau segera punya mobil…. Apa saja. Mudah. Semua ada caranya. Biar do’a lebih cepat terkabul, juga ada caranya. Pokoknya yakin dah Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Mengabulkan Do’a. Minta saja sama Allah. Bagaimana caranya biar semua keinginan kita dikabulkan sama Allah? Bagaimana agar Allah kabulkan persis seperti yang kita minta? Mudah….. Tuliskan do’a Anda dengan rinci. Tulislah dengan lengkap, selengkap-lengkapnya. Apa saja. Mau mobil, kalau perlu warnanya apa, mereknya apa. Tuliskan di amplop. Makin lengkap makin baek.”

Ia kemudian melanjutkan perkataannya:

“Kalau mau mobil, bayangkan dengan jelas, mobil apa yang Anda inginkan. Gambarkan dengan detail biar jelas. Kalau perlu lihat fotonya. Cari brosurnya. Masukin sekalian di amplop.
Nah, kalau sudah dimasukin amplop, terus ngapain? Bawa ke Ka’bah. Umrah ke sana dan bawa amplop itu. Pegangi amplopnya. Do’a yang sungguh-sungguh sama Allah. Bilang sama Allah, ‘Ya Allah, penuhi semua keinginanku, kabulkan semua permintaanku yang di dalam amplop ini. Kalau sempet bacain akan lebih baik.’ Habis itu taruh di sana. Yakinlah, segala yang kita inginkan akan segera dikabulin sama Allah.”

Bagaimana jika seseorang tidak sempat atau tidak mampu umrah? Ada solusinya, yakni menitipkan kepada orang yang mau umrah. Bisa kepada “ustadz” yang mau ke sana. Ia juga mengajarkan triknya agar do’a dikabulkan lebih cepat dengan berbagai teknik amalan. Dan sekali lagi, saya tidak pernah menjumpai tuntunannya dari salafush-shalih. Tidak juga saya menjumpai nash shahih tentang itu. Yang saya dapati justru sebaliknya, praktek dari agama lain.
Ada beberapa syubhat dalam berbagai ucapan tersebut. Dua di antaranya adalah,pertama, pernyataan yang menunjukkan seakan ada mekanisme yang menjadikan sebuah do’a secara pasti akan lebih mudah dikabulkan, lebih cepat dan dapat dipercepat lagi dengan berbagai hal justru bertentangan keras dengan tuntunan agar ada khauf dan raja’(cemas dan harap) dalam berdo’a. Ini meniadakan sikap tadharru’ di hadapan Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua, cara-cara yang diajarkan sama sekali tidak terdapat dalam Islam. P
adahal jika mereka meminta kepada Allah Ta’ala, maka tak ada yang lebih patut untuk diikuti melebihi tata-cara yang langsung dituntunkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’anul Kariim serta dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam di dalam As-Sunnah Ash-Shahihah. Bagaimana mungkin engkau meminta kepada Allah Ta’ala, tetapi mencampakkan cara yang telah ditetapkan-Nya? Bagaimana mungkin engkau berdo’a dengan mengambil keumuman makna “berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagimu”, tetapi rincian caranya engkau ambil dari agama lain?
Sesungguhnya merinci-rinci do’a merupakan perbuatan melampaui batas sebagaimana kita dapat dalam hadis dari Abu Nu’amah. Begitu pula visualisasi do’a, sangat tercela menurut Islam. Sementara menuliskan keinginan dengan rinci dan menyerahkan (meletakkan) di Baitullah, baik dengan membacakannya maupun tidak, merupakan tindakan menyerupai (tasyabbuh) sebagian Nasrani serta Yahudi. Cara berdo’a seperti inilah yang kita jumpai pada peribadatan orang Yahudi dan Nasrani di Tembok Ratapan yang mereka yakini sebagai tempat suci. Maka apakah engkau akan berdo’a dengan cara mereka? Padahal Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah tegas larangan tasyabbuh. Lebih-lebih dalam soal yang berkait dengan ‘ibadah.
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi).
Apakah setiap yang menyerupai orang kafir mutlak haramnya? Tidak! Yang dilarang keras dan karena itu terjatuh ke dalam maksud hadis ini adalah menyerupai dalam perkara-perkara yang merupakan kekhasan orang kafir, meskipun itu hanya soal cara berpakaian atau kegiatan yang tidak terkait dengan ‘ibadah. Adapun dalam masalah ‘ibadah, jangankan menyerupai orang kafir dan menirunya sehingga nyaris tak berbeda dengan mereka, melakukan ritual yang tidak jelas tuntunannya pun harus kita jauhi. Apalagi jika ritual itu nyata-nyata bertentangan dengan nash yang shahih dan berasal dari agama lain, maka tidak ada tempat sama sekali dalam agama ini. Melakukan praktek ‘ibadah yang bertentangan dengan islam dan nyata diajarkan agama lain jelas merupakan perbuatantasyabbuh (menyerupai) yang sangat dilarang.
Berdo’a dengan menuliskan secara rinci dan memasukkannya ke dalam amplop merupakan salah satu bentuk tasyabbuh dalam masalah yang justru sangat mendasar, yakni ‘ibadah. Jika mengada-adakan yang baru tanpa ada dasar dalil yang jelas pun dapat tertolak, maka apalagi menyerupai praktek agama lain. Padahal, andaikan bukan meniru agama lain, berdo’a dalam amplop menyalahi nash shahih tentang do’a sehingga tak diragukan lagi keburukannya dalam agama. Kita perlu khawatir –seandainya ini bukan tasyabbuh dari agama lain– do’a dalam amplop termasuk bid’ah (sebagian lainnya menyebut dengan istilah bid’ah madzmumah sebagai lawan dari bid’ah mahmudah ataubid’ah sayyi’ah yang merupakan lawan dari bid’ah hasanah).
Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Amma ba’du. Sesungguhnya seba
ik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Lalu, apa buruknya berdo’a dengan rinci dan menuliskan selengkap-lengkapnya? Mari kita simak hadis berikut ini sekali lagi:
عَنْأَبِي نَعَامَةَ، عَنْ ابْنٍ لِسَعْدٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا أَقُولُ:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَبَهْجَتَهَا، وَكَذَا، وَكَذَا،وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَسَلَاسِلِهَا وَأَغْلَالِهَا، وَكَذَا، وَكَذَا، فَقَالَ:يَا بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:” سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ ” فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَمِنْهُمْ، إِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَ الْجَنَّةَ أُعْطِيتَهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْخَيْرِ،وَإِنْ أُعِذْتَ مِنَ النَّارِ أُعِذْتَ مِنْهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ
Dari Abi Nu’aamah dari anaknya Sa’d (bin Abi Waqqaash), ia berkata: Ayahku mendengarku ketika aku berdoa, “Ya Allah,sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga, kenikmatannya, lalu ini, dan itu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, lalu ini, dan itu”. 
Lalu ayahku berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
Kelak akan ada satu kaum yang melampaui batas dalam berdo’a’. Waspadalah agar engkau jangan sampai termasuk kaum tersebut. Seandainya engkau diberikan surga,maka akan diberikan pula segala yang ada di dalamnya dari kebaikan. Dan jika engkau dijauhkan dari neraka, maka akan dijauhkan pula segala apa yang ada di dalamnya dari kejelekan.” (HR. Abu Dawud).
Perhatikan! Baru menyebutkan permohon untuk mendapatkan surga dan kenikmatannya saja sudah termasuk merinci-rinci do’a. Apatah lagi menuliskan secara detail selengkap-lengkapnya, sungguh jauh lebih melampaui batas dibanding apa yang dilarang dalam hadis tersebut. Jika sedikit merinci saja sudah terhitung melampaui batas dengan merinci-rinci, apalagi jika lebih rinci dari itu. Seakan mereka menganggap Allah Ta’ala telah kehilangan sifat Maha Tahu.

Astaghfirullahal ‘adziim.
Begitu pun melakukan visualisasi do’a, jelas sekali larangannya dalam agama kita. Sekali lagi, mari kita baca hadis berikut dengan seksama:
عَنْأَبِي نَعَامَةَ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ، سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ: اللَّهُمَّإِنِّي أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا،فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ، سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّيسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِنَّهُسَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ”
Dari Abi Nu’amah ia berkata bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar anaknya berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebuah istana putih yang terletak di sisi kanan surga, jika kelak aku masuk surga.” 
Maka ia (Abdul
lah bin Mughaffal) berkata, “Wahai anakku, mohonlah kepada Allah surga dan mohonlah kepada-Nya perlindungan dari api neraka. Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
Sesungguhnya kelak akan ada satu kaum dari umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdo’a.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang lainnya).
Nah. Maka tidakkah ini dasar yang jelas betapa tercelanya menuliskan do’a secara rinci segamblang-gamblangnya dan menggambarkan sejelas-jelasnya sampai-sampai melengkapinya dengan foto? Tidakkah itu merupakan tindakan melampaui batas? Dan jika kita telah mengetahui larangannya yang sangat tegas dalam agama, tetapi tetap melakukannya, tidakkah ini termasuk menghinakan larangan agama?
Lalu bagaimana dengan seseorang yang menuliskan permintaannya agar dido’akan oleh sahabat atau keluarganya yang sedang ke Tanah Suci? Jika sekedar untuk mengingatkan, sangat berbeda keadaan dan kedudukannya dengan menuliskan do’a serinci-rincinya dalam amplop sebagaimana yang diajarkan dalam acara yang sempat saya ikuti ketika itu. Sangat berbeda. Sesungguhnya seseorang yang sedang melakukan safar memiliki keutamaan dalam berdo’a.
Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan amalan yang jelas-jelas bertentangan dengan agama ini. Apalagi praktek do’a semacam itu justru tasyabbuh dari agama lain.
Berkenaan dengan surga, apakah tidak boleh kita meminta surga terbaik? Justru Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kita berdo’a meminta surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus, sebagaimana sabdanya:


إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ
“Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan antara langit dan bumi. Maka, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, sebab Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada singgasana Ar-Rahman, dan dari sanalah sungai-sungai surga memancar.” (HR. Bukhari).
Inilah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, yakni meminta surga tertinggi, surga terbaik. Tetapi tak perlu engkau merinci-rinci dan mendeskripsikannya secara visual. Andaikan engkau memiliki imajinasi yang sangat kuat, maka sungguh Allah Ta’ala Maha Kuasa untuk mencipta surga yang tak sanggup engkau bayangkan keindahannya. Andaikata engkau memiliki kesanggupan memikirkan detail-detailnya, maka sungguh Allah Ta’ala memiliki ketelitian yang tak tertandingi oleh siapa pun untuk menjadikan manusia terkesimah dengan pemandangan di surga yang pintunya saja lebarnya antara Makkah dan Bushra atau antara Makkah dan Hajar (1.272 kilometer), sementara jarak antar pintu sejauh 40 tahun perjalanan.
Dari Utbah bin Ghazawan radhiyallaahu anhu, ia berkata mengenai lebar tiap pintu surga:

“Rasulullah (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) bersabda kepada kami bahwasanya jarak antara daun pintu ke daun pintu surga lainnya sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika orang yang memasukinya harus berdesakan.” (HR. Muslim).
Semoga Allah Ta’ala menolong kita, melimpahi kita hidayah dan mematikan kita dengan husnul khatimah.
Paus Francis di Tembok Ratapan memasukkan amplopnya.
Paus Francis dan amplopnya sebelum meratapkan do’a di Tembok Ratapan.

————-
Berdo’a dalam Amplop
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Sekali Kata Terucap…

Sekali kata terucap, maka kita harus bertanggung-jawab. Ia bisa menjadi asbab rahmat, bisa pula dekatkan kita pada azab. Ingat sejenak: 
“وَ إِنَّ العَبْدَ لَيَتكلَّمُ بالكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللهِ لا يُلْقي لَهَا بالاً يَهوى بها فى جَهَنَّمَ” 
“Sungguh seseorang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karenanya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari).
Maka, berhati-hatilah atas kata yang terucap. Sesungguhnya agama ini telah mengangkat derajat manusia dari kehinaan ilusi diri sendiri atau sugesti yang merendahkan harkat manusia.
Cari olehmu pertolongan Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala sesuai petunjuk-Nya. Berhati-hatilah engkau dari menciptakan syari’at baru. Engkau ada-adakan cara atas nama sugesti, padahal ia berada di wilayah syari’at. Takutlah kepada Allah Ta’ala kalau-kalau kerusakan yang engkau perbuat dalam agama ini (fitnatud dien) ini dipersangkakan sebagai sunnah. Khawatirilah olehmu jika manusia merasa rancu antara kebaikan dan keburukan bersebab ucapanmu yang mengabaikan tuntunan dien.
Berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain) merupakan perintah agama. Lakukanlah dengan perhatikan tuntunan agama ini. Jangan pula tertipu oleh ilusimu. Mengira birrul walidain, padahal engkau berbuat sesuatu kepada orangtuamu karena kejar sesuatu. Dan jangan tertipu oleh angan-anganmu. Mengira sedang melakukan kebajikan di hadapan Allah Ta’ala, padahal justru merupakan keburukan. Berhati-hati pulalah engkau dari melakukan perkara yang mungkin menyenangkan hatinya di dunia, tapi ia jadi permusuhan nyata di akhirat.
Jika ibumu sakit keras, lalu engkau cucikan kakinya karena kotor, maka ia kebaikan bagimu. Tapi jika engkau cuci kakinya untuk engkau minum airnya disebabkan menginginkan datangnya jodoh dengan segera, maka engkau telah jatuhkan dirimu pada beberapa keburukan besar. Tidak melakukan keburukan ini kecuali mereka yang telah rusak akal sehatnya; rusak pula tauhid uluhiyah dalam dirinya.
Perhatikan itu!
Ada dua keburukan (fitnah) yang kita harus berusaha menghindari. Sungguh, ini jalan kebinasaan bagi iman kita. Ia merusak iman kita. Renungilah:
“إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ” 
“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ahmad).
Inilah dua kerusakan yang Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam khawatirkan menimpa kita: fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Fitnah syahwat terjadi karena orang memperturutkan hasrat kepada dunia. Ia gunakan cara apa saja demi meraih dunia y
ang jadi syahwatnya. Dan fitnah syahwat ini akan lebih merusak manakala manusia tidak merasa takut terjatuh pada kemungkaran dan kefasikan dengan dengan apa yang diucapkannya, sehingga ia ringan hati menyampaikan ajaran yang tak pernah terdengar pada generasi sebelumnya. Bersebab syahwat untuk populer atau merebut dunia, seseorang dapat terjatuh pada keburukan berikutnya, yakni penyebab fitnah syubhat.
Renungi sejenak sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tentang ucapan yang asing. Semoga kita tak terpukau olehnya, lalu mengikutinya.
سَيَكُوْنُ فِـيْ آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَـا لَـمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ
“Pada akhir zaman akan ada kaum yang berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula pernah didengar nenek moyang kalian. Maka hati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban & Al-Hakim). 
Nah. 

—————-
Sekali Kata Terucap…
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim