Mengajarkan “Membaca” Memang Sejak Lahir

Sebelumnya saya pernah posting tulisan ini, tetapi belum utuh karena masih menunggu pemuatan di majalah Hidayatullah. Ini merupakan bentuk menjaga etika menulis. Tulisan utuh berikut ini dimuat di majalah Hidayatullah edisi Juni 2015.
***
“Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.
Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.
Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an. Pertama,memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untuk menghafal (memorizing) di kemudian hari. Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar. Ketiga,mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).
Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan. Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca. Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.
Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama,pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifatreciting aloud maupun reading aloud. Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.
Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.
Jadi, dapatkah kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak kanak-kanak?  Jika yang dimaksud adalah reciting aloud atau pun reading aloud, bahkan sejak bayi pun kita dapat mengenalkannya. Ini merupakan salah satu cara mengakrabkan anak dengan membaca yang sangat baik. Tetapi jika yang dimaksud dengan adalah mengajarkan simbol (huruf dan tanda baca) secara terstruktur kepada anak,maka kita perlu menunggu hingga mereka mencapai kesiapan membaca (reading readiness). Kesiapan ini memang bukan sesuatu yang kita hanya dapat kita tunggu kedatangannya secara pasif. Kita dapat member rangsang kepada mereka dengan banyak member pengalaman pra-membaca.
Apa yang terjadi jika kita mengajarkan membaca secara terstruktur pada saat anak belum memiliki kesiapan? Banyak hal. Salah satu akibat yang sangat mungkin terjadi adalah hilangnya antusiasme belajar pada saat anak memasuki usia sekolah. Dalam hal ini, ada tiga titik usia yang sangat penting, yakni 6, 10 dan 14 tahun.Kesalahan proses yang terjadi pada saat anak di play-group atau TK, mendatangkan masalah di saat anak usia 6 atau 10 tahun. Jika muncul di usia 6 tahun, kita lebih mudah menangani. Semisal, saat TK sangat bersemangat membaca, begitu masuk SD tak punya gairah sama sekali.  Yang lebih sulit adalah jika masalah itu baru muncul di saat anak berusia sekitar 10 tahun. Awalnya cemerlang, tetapi kemudian kehilangan motivasi secara sangat drastis. Nah.
Apalah arti mampu membaca jika anak tidak punya “mau”….
Sebaliknya jika kita lebih menitikberatkan pada upaya membangun kemauan membaca, memanfaatkan kegiatan bermainnya untuk belajar,menanamkan cinta ilmu, membangun adab serta dorongan untuk siap berpayah-payah belajar demi memperoleh ilmu, maka anak akan lebih antusias terhadap belajar. Bersebab tingginya antusiasme belajar, sangat boleh jadi anak mampu membaca di usia dini melalui proses yang lebih alamiah. Di antara bentuk rangsangan belajar yang sangat baik adalah memberi pengalaman pra-membaca dalam bentuk reciting aloud (mengucapkan serangkaian ayat), lalu anak menirukannya.
Jika ada memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main).
Tingginya rangsangan membaca dalam bentuk melantunkan “bacaan” (reciting aloud)untuk ditirukan anak atau pun membacakan teks Al-Qur’an kepada anak (reading aloud)lalu anak ikut mengucapkannya, memudahkan anak menghafal. Jika proses itu dilakukan dengan baik, diikuti pengucapan yang benar dan fasih, anak ibarat memiliki blue print(cetak biru) ketika kelak benar-benar belajar membaca teks Al-Qur’an beserta kaidah-kaidahnya. Ia mudah memahami karena ia telah memiliki “bacaan” yang benar, sehingga tidak sulit baginya untuk melafalkan.
Alhasil, benar bahwa kita memang dapat mengajarkan membaca kepada anak semenjak usia dini dan bahkan bayi, tetapi bukan berarti mengajarkan keterampilan memahami huruf dan mengucapkannya secara tepat sesuai kaidah-kaidah membaca. Yang perlu kita lakukan adalah membacakan untuk ditirukan atau melantunkan bacaan sehingga anak akrab dengannya dan mampu mengucapkannya dengan benar. Ini sangat bermanfaat di kemudian hari.
———

Hikmahnya Dituduh Syiah

Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari. Inilah ‘alim besar ahlussunnah yang sangat disegani di masanya. Seorang mufassir pilih tanding dan ahli sejarah yang luar biasa mumpuni. Tetapi ia dituduh Syiah dan dihukum karenanya. Tuduhan tak berhenti meskipun tidak menemukan bukti. Justru semakin menjadi bahkan ketika Imam Ath-Thabari terbukti ahlussunnah.
Tuduhan disertai kezaliman terhadap Imam Ath-Thabari tak mengenai kata putus hingga kematian menghampiri. Fitnah tiada henti bertubi-tubi. Tuduhan Syiah tak selesai sampai di situ. Imam Ath-Thabari juga dilarang mengajar. Majelis ilmu yang diampu, ditutup paksa karena dianggap menebarkan Syiah. Ini berlangsung hingga wafatnya di usia 85. Selama 40 tahun, Imam Ath-Thabari menghabiskan waktu untuk menulis. Setiap hari 40 halaman. Tak kurang dari 500 ribu halaman kitab penuh hikmah yang telah ia telah tulis selama 40 tahun dikucilkan.
Meskipun sampai wafatnya tetap dituding Syiah sehingga jenazahnya tak boleh dikuburkan di siang hari, tetapi kelak namanya harum. Imam Ath-Thabari merupakan rujukan sangat terpercaya. Ia menulis banyak buku yang menakjubkan, baik ketajaman pembahasan maupun tebalnya. Salah kitabnya yang sangat legendaris adalah Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayi al-Qur’an atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Kitab lain yang sangat legendaris, antara lain Tarikh ar-Rusul wal Anbiya’ wal Muluk wal Khulafa’ atau dikenal dengan Tarikh Ath-Thabari.
Kisah Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari ini mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi’i yang juga difitnah sebagai Syiah Rafidhah. Tapi tuduhan tak melemahkan. Ia difitnah, tapi namanya semakin harum dan kian tampak keunggulannya. Ia direndahkan, tapi Allah Ta’ala kian tinggikan derajatnya.
Ia dihalangi untuk mengajar dengan tuduhan Syiah, tapi karya-karyanya melampaui batas usianya dan menjadi pengajaran bagi ahlussunnah. Serangkaian fitnah dan berita bohong tentang Imam Ath-Thabari mengingatkan kita pada ayat tentang haditsul ifk. Alangkah dekat kemiripannya. …لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُم… “Jangan kamu kira berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia baik bagi kamu.”
Orang-orang yang dituduh, bagi mereka tidak ada kerugian akhirat. Bahkan banyak kebaikan di balik fitnah yang gelap gulita itu. Tetapi fitnah dengan melemparkan tuduhan dusta akan menjadi bencana bagi yang menuduh dan turut menyebarkannya. Renungilah firman Allah:
ﺇِﻥَّ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺃَﻥ ﺗَﺸِﻴﻊَ ٱﻟْﻔَٰﺤِﺸَﺔُ ﻓِﻰ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَاﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ﻓِﻰ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَٱﻻْءَﺧِﺮَﺓِ ۚ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur, 24: 19).
Alangkah gelapnya azab yang menimpa. Tak cukup hanya di dunia, di akhirat masih menanti siksa yang amat pedih. Adakah kita penyebarnya? Ada dosa yang hukuman di dunia menjadi penggugur azab di akhirat. Tetapi tuduhan keji, hukumannya ganda: di dunia dan di akhirat. Nah.
Pertanyaannya, pernahkah kita kotori lisan dan jemari kita untuk menuduh atau menyebar tuduhan? Padahal tidak ada bukti yang sangat kuat. Ingatlah, memudah-mudahkan menyebar berita bohong akan menjadi musibah bagi yang menyebarkan. Jika terhadap Aisyahradhiyallahu ‘anha saja fitnah dan berita bohong mudah terjadi, padahal ia nyata-nyata istri Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam, bagaimana dengan orang lain?
Apakah kita akan memudah-mudahkan menyebar fitnah dan dusta tanpa bukti nyata hanya karena mendengar perkataan “aku lihat sendiri”? Bukankah itu pula yang terjadi dalam peristiwa haditsul ifk? Semoga kita dapat mengambil pelajaran. Semoga Allah Ta’ala selamatkan kita.

Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.
Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.Hikmahnya Dituduh SyiahOleh: Mohammad Fauzil Adhim

Setetes Darah Istri Tercinta

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambakberas, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.
 
Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.
 
Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.
 
Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.
 
Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa berikutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).
 
Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala menggunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa takut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.
 
Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan airmata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinistakan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.
 
Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.
 
Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terbentuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia mendampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian. 
 
Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?
 

Mengapa Anak Mengabaikan Nasehat Orangtua

Kapankah saat terbaik menyampaikan nasehat kepada anak? Kapankah masa yang tepat untuk mempengaruhi jiwa anak? Menurut sebagian orang, saat terbaik itu adalah ketika anak menjelang tidur. Mengapa demikian? Konon, otak anak berada dalam keadaan gelombang alpha. Pada saat itu, otak lebih siap menerima nasehat. Di luar persoalan benar tidaknya anggapan tersebut, ada berbagai kerepotan jika untuk mempengaruhi jiwa anak harus menunggu ia hampir tertidur. Jangan-jangan kitalah yang justru tertidur lebih dulu dibanding anak yang mau kita pengaruhi jiwanya.
Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar nasehat dan mentaati perintah orangtua meskipun dia sedang dalam keadaan capek dan baru saja tiba di rumah. Lalu apa bedanya dengan anak-anak di masa sekarang?
Sebagian orang mengatakan bahwa anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Tampaknya pernyataan ini benar, tetapi jika kita meyakini begitu saja, sesungguhnya kita hampir-hampir tergelincir dalam syubhat yang besar. Bukankah setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah? Ini berlaku untuk masa dulu, masa kini maupun masa yang akan datang. Artinya, di zaman apa pun anak lahir dalam keadaan yang sama. Orangtuanya yang mempengaruhi dan menentukan akan seperti apa anak-anaknya kelak.
Ini berarti, jika anak-anak kita kurang menghormati nasehat orangtua dan tidak memperhatikan pengajaran yang kita berikan kepada mereka, yang pertama kali perlu kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri. Kita menelisik apa yang salah dalam diri kita sebelum kita berusaha memahami apa yang terjadi pada anak.
Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh. Mereka duduk sembari menyimak baik-baik huraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan. Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau. Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan? Bukankah hari-hari ini kita sering mendapatkan penjelasan dari para trainer bahwa agar murid mau memperhatikan apa yang kita ajarkan, kita harus menyampaikan dengan cara yang fun, atraktif dan menggembirakan?
Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal. Apa itu? Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.
Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan. Mereka menerimanya. Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan. Jadi, bukan langsung menolaknya.
Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan. Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya. Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka. Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan. Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.
Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan. Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan
sungguh-sungguh menginginkan mereka menjadi baik. Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua. Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak. Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat. Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.
Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita? Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:
ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَٰﻔًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮا۟ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮا۟ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut? Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan). Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.
Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan. Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan. Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan. Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat. Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.
Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.
————————–

Saksikan Sembelih Qurban Bikin Anak Trauma? Nggak Tuh.

Menyembelih hewan qurban dan memrosesnya dengan melibatkan anak-anak, memberi pengalaman edukatif yang sangat berharga bagi mereka. Apakah anak-anak tidak trauma? Tidak. Bahkan inilah momen yang tepat untuk mengajarkan adab terhadap hewan; betapa saat menyembelih pun tetap harus berlaku baik serta santun kepada sembelihan. Melibatkan anak saat menyembelih, berbagi tugas memotong hingga mendistribusikan juga memudahkan menumbuhkan tekad berkurban pada diri anak.
Setiap tahun SDIT Hidayatullah Yogyakarta melakukan penyembelihan hewan qurban, sapi maupun kambing, melibatkan anak-anak kelas atas, yakni dari kelas 4 hingga kelas 6. Tapi murid kelas 1-3 pun antusias ikut, meskipun mereka tidak secara khusus dilibatkan. Mereka tidak diminta datang ke sekolah, tetapi boleh ke sekolah jika ada mengingini.
Apakah tidak mungkin ada yang trauma? Mungkin saja, yakni mereka yang memang lemah jiwanya. Tapi sejauh ini tidak pernah ada yang trauma. Jika pun ada yang berkecenderungan lemah, kita kuatkan dulu. Tidak mendadak. Tapi melalui proses yang menyatu dengan pelaksanaan pendidikan. Alhamdulillah, selama ini tak ada anak yang mengalami trauma pasca penyembelihan hewan kurban. Mereka baik-baik saja.
Ada orang yang tidak perlu melihat penyembelihan hewan kurban, lihat ayam atau tikus tertabrak pun sudah lemas dan tak mau makan seharian. Saudara-saudara kita yang seperti ini shock bukan karena penyembelihan hewan qurban, lha melihat ayam disembelih pun sudah merinding bulu kuduknya. Maka mengait-ngaitkan dengan penyembelihan hewan qurban adalah sangat naif.
Anak saya yang sekarang usia 4,5 tahun pun, tak terganggu jiwanya karena melihat proses penyembelihan hewan qurban. Bahkan tahun lalu pun ia turut serta menyaksikan. Alhamdulillah, tak guncang jiwanya, tak bermasalah mentalnya.
Anak saya yang kelima dan keenam (masing-masing sekarang kelas 3 dan 2 SD) sekarang justru sangat besar keinginannya untuk dapat turut serta berperan Idul Adha mendatang. Insya Allah seorang dari mereka mulai menabung untuk qurban. Semoga istiqamah dan kokoh keinginannya.
Penyembelihan, proses menguliti hingga pembagian melibatkan guru, karyawan sekolah maupun para murid. Ini memberi pengalaman sangat berharga.Penyembelihan, proses menguliti hingga pembagian melibatkan guru, karyawan sekolah maupun para murid. Ini memberi pengalaman sangat berharga.

Membantu guru sekaligus terlibat menguliti memberi pelajaran penting betapa pentingnya ilmu agar dapat melakukannya dengan mudah, cepat dan tidak menimbulkan kurang sedap (prengus) pada kambing maupun domba.
Membantu guru sekaligus terlibat menguliti memberi pelajaran penting betapa pentingnya ilmu agar dapat melakukannya dengan mudah, cepat dan tidak menimbulkan kurang sedap (prengus) pada kambing maupun domba.

Murid-murid yang laki-laki di SDIT Hidayatullah bertugas memisahkan daging dari tulang. Sedang murid yang perempuan memotong-motong lebih kecil dan membaginya ke dalam kantong untuk didistribusikan.
Murid-murid yang laki-laki di SDIT Hidayatullah bertugas memisahkan daging dari tulang. Sedang murid yang perempuan memotong-motong lebih kecil dan membaginya ke dalam kantong untuk didistribusikan.

Anak-anak antusias menyaksikan proses penyembelihan sapi qurban. Ini memudahkan sekolah membangun motivasi untuk gigih berusaha agar dapat mengeluarkan qurban di masa mendatang.
Anak-anak antusias menyaksikan proses penyembelihan sapi qurban. Ini memudahkan sekolah membangun motivasi untuk gigih berusaha agar dapat mengeluarkan qurban di masa mendatang.

Para siswi membagi-bagi dalam kantong. Para guru yang mengajarkan, mendampingi dan memberi contoh bagaimana menakar dan memperkirakan agar ukurannya seimbang.
Para siswi membagi-bagi dalam kantong. Para guru yang mengajarkan, mendampingi dan memberi contoh bagaimana menakar dan memperkirakan agar ukurannya seimbang.

—————–

Nakal Itu Ada Tahapnya

Awalnya perilaku tidak patut atau “sekedar” perilaku yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, misalnya mengantuk saat pelajaran sedang berlangsung. Ini tampaknya biasa, tetapi jika tidak segera memperoleh penanganan yang memadai dapat berkembang menjadi perilaku yang mengganggu atau berubah menjadi kenakalan. Ini dua arah yang mungkin akan terjadi manakala perilaku tidak patut (inappropriate behavior) dibiarkan terjadi, yakni menjadi perilaku mengganggu (disturbing behavior) yang arahnya kepada penyimpangan atau perilaku nakal (challenging behavior) yang jika dibiarkan dapat menjadi bibit kriminalitas.
Mengantuk tampaknya merupakan hal yang sangat lumrah ketika kita sudah benar-benar perlu tidur. Tetapi mengantuk di kelas adalah hal yang sangat berbeda. Kita tidak dapat serta-merta menganggapnya wajar. Ada banyak kemungkinan yang menyebabkan anak mengantuk di kelas; boleh jadi karena kurang tidur, boleh jadi karena ada problem emosi, persoalan dengan teman sekelas atau berbagai kemungkinan lain yang harus digali dulu oleh guru untuk memastikan sebabnya. Bahkan seandainya anak mengantuk karena kurang tidur, bukan berarti masalah telah selesai. Kita perlu telusuri atas sebab apa anak kurang tidur. Jika sebabnya merupakan hal yang dapat dimaklumi, maka sekolah perlu memastikan agar masalah tersebut (mengantuk di kelas) tidak berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Dengan demikian, masalah tidak perlu berkembang lebih parah dan menular ke teman-temannya.
Contoh terbaik tentang mengatasi masalah sejak masih berupa gejala itu kita dapati pada diri Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.  Mari kita ingat sejenak hadis berikut ini:
Dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu anhu dia berkata: Dulu aku adalah anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Ketika makan, tanganku berpindah-pindah ke sana kemari di atas piring. Maka beliau bersabda kepadaku:
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Wahai Anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Mari kita perhatikan hadis ini. Ada hal yang tidak patut, meskipun wajar dilakukan oleh anak-anak, tetapi segera diluruskan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan. Kekeliruan segera diperbaiki tanpa mencela sehingga tidak perlu berlarut-larut dan menulari yang lain. Kekeliruan itu memang wajar dan kita menyadari hal tersebut. Justru di situlah terdapat kewajiban untuk segera memperbaiki sebagai salah satu tugas pendidik.
Jika sekolah dan khususnya guru sigap menangani perilaku tidak patut yang ditunjukkan siswa sejak awal kemunculannya, maka tidak perlu terjadi situasi memusingkan akibat banyaknya anak yang harus ditangani setiap hari. Pembelajaran juga lebih kondusif sehingga guru tidak sampai kelelahan menangani anak-anak yang kehilangan gairah belajar maupun para siswa yang bertingkah menjengkelkan. Penanganan lebih awal juga memungkinkan terciptanya iklim belajar yang menyejukkan hati dan menjadikan siswa maupun guru senantiasa rindu untuk hadir di kelas.
Pembicaraan tentang perilaku tidak patut ini sebenarnya bukan hanya untuk guru sebab beragam perilaku tidak patut dapat terjadi baik di sekolah maupun di rumah. Saya membahasnya dari sisi seorang guru semata karena contoh yang saya gunakan, yakni mengantuk, lebih mudah mudah membayangkan sebagai hal tak wajar di kelas. Tetapi perilaku tidak patut itu dapat beragam bentuknya.
Apa yang terjadi jika perilaku yang tidak pada tempatnya itu kita biarkan? Pertama, perilaku tidak patut (inappropriate behavior) tersebut bukan saja tidak berhenti, lebih dari itu dapat berkembang serius sehingga lebih sulit mengatasinya. Kedua, masalah yang awalnya terjadi pada satu orang dapat menular ke anak-anak lain, setidaknya mengganggu anak-anak yang lain. Ketiga, perilaku tidak patut yang awalnya sederhana dapat berkembang lebih parah kepada dua kemungkinan, yakni yang mengarah pada penyimpangan dan yang mengarah p
ada kriminalitas.
Selengkapnya, mari kita perbincangkan lebih rinci.
Penyimpangan Itu Bermula dari Sini
Pada mulanya, perilaku tidak patut itu ada yang dilakukan secara sengaja, ada pula yang tidak sengaja. Anak memperoleh keasyikan dari perilaku tersebut sehingga mendorongnya untuk melakukan kembali, meskipun hal tersebut tidak menyenangkan orang lain. Bisa juga anak melakukan berulang kali bukan karena menemukan keasyikan, tetapi tak ada yang meluruskan perilakunya yang tidak sesuai tersebut sehingga berkembang menjadi perilaku yang mengganggu orang lain (disturbing behavior), meskipun ia tidak bermaksud mengganggu. Anak memiliki kebiasaan yang tidak menyenangkan, menjengkelkan atau sangat mengganggu orang lain. Kebiasaan ini berkembang, sekali lagi, bukan dimaksud untuk menyerang orang lain. Anak mungkin memperoleh keasyikan dan mengabaikan bahwa hal itu menjengkelkan orang lain.
Contoh tentang ini, misalnya buang ingus dan mengeluarkan bunyi tak menyenangkan saat membersihkan ingus. Ini awalnya tindakan wajar. Tetapi karena tak diluruskan, ia mengulang-ulang perilaku itu, terlebih jika anak senang melihat reaksi jijik dari orang lain. Pada akhirnya lekat pada dirinya perilaku yang sesungguhnya sangat mengganggu orang lain (disturbing behavior) tersebut.
Jika perilaku mengganggu itu masih berlanjut dan tak diluruskan, boleh jadi berkembang lebih serius, meskipun ada kemungkinan untuk terhenti hanya sebagai perilaku mengganggu. Tingkat lebih parah dari perilaku mengganggu adalah perilaku menyimpang(deviant). Ini lebih parah dibanding perilaku mengganggu yang sifatnya berulang, tetapi masih ada peluang untuk ditangani oleh ahli. Dalam hal ini, orangtua maupun guru sudah memerlukan bantuan dari orang yang benar-benar ahli untuk mengatasinya.
Contoh, pada awalnya anak hanya main-main mengenakan pakaian lawan jenis, tetapi lama-lama menyukai. Ia makin sering mengenakan pakaian lawan jenis. Karena tak ada penanganan agar menghentikan, apalagi jika justru memperoleh dukungan berupa sambutan orang-orang sekelilingnya, maka ia dapat mengalami penyimpangan. Bukan hanya semakin menyukai pakaian lawan jenis, ia pun berperilaku, bertutur dan bersikap seperti lawan jenis.
Ini merupakan tahap yang benar-benar sangat serius dan mengkhawatirkan, tetapi masih memungkinkan untuk diatasi. Jika sampai tingkatan sangat parah ini pun masih dibiarkan, bukan tidak mungkin berlanjut sampai tingkat paling parah, yakni abnormal. Dan ini berawal dari menganggap perilaku tidak patut sebagai hal yang wajar, lalu membiarkan terjadi.
Bahkan Lebih Menakutkan dari Nakal
Adakalanya perilaku tidak sesuai itu berkembang ke arah abnormalitas sehingga perlu seorang ahli untuk melakukan terapi secara tuntas, meskipun tentu saja tetap berbeda keadaannya antara “barang yang pernah rusak” dengan “barang yang tak pernah bermasalah”. Tetapi adakalanya perilaku tidak sesuai itu berkembang menjadi kenakalan. Anak sengaja menyakiti atau mengganggu orang lain. Sebabnya bisa bermacam-macam. Selengkapnya, silakan baca kembali tulisan saya di majalah Hidayatullah berjudul Anak Nakal Itu Ada serta Memahami Perilaku Anak.
Sebagaimana perilaku tidak patut yang berkembang ke arah penyimpangan, kenakalan anak juga tidak tiba-tiba. Awalnya perilaku tidak patut, lalu berkembang menjadi perilaku nakal (challenging behavior) yang bertingkat-tingkat keadaannya, dari kenakalan yang ringan hingga cukup berat. Tetapi sejauh itu masih bersifat kenakalan, ada cara untuk mengatasinya. Yang paling pokok kesadaran kita bahwa itu merupakan kenakalan dan menyertainya dengan upaya mengatasi.
Menyadari kenakalan anak sangat berbeda dengan menjuluki (apalagi mengolok) nakal. Kadang ada orangtua yang ringan menyebut nakal, tetapi sesungguhnya menganggap kenakalan itu tidak ada. Ia hanya ringan mengucap nakal. Di sisi lain, menjuluki nakal bukanlah cara mengatasi kenakalan.
Apa yang terjadi jika perilaku naka
l itu tak diatasi? Ia dapat berkembang lebih parah sehingga menjadi delinkuensi, satu bentuk kenakalan sangat serius yang sudah mengarah pada kriminalitas. Jika ini terjadi, perlu upaya benar-benar serius dan terpadu untuk mengatasinya. Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh, delinkuensi itu dapat meningkat menjadi kejahatan (crime). Ini merupakan berita sangat buruk dan ironisnya telah terjadi di negeri kita; di negeri dimana para pakar dan trainernya banyak yang menganggap kenakalan itu tidak ada.
Sesungguhnya, kenakalan itu tidak hilang karena menghapus kata nakal. Kenakalan itu diatasi dengan mengetahui sebabnya dan menangani gejalanya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
——————————–

Anak Perlu Belajar Mandiri

Secara alamiah, anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. Ia berusaha menyuapi diri sendiri, meniru kita memasak, pakai sepatu atau pakai baju sendiri, meskipun masih terbalik. Ini semua merupakan kecenderungan awal yang apabila memperoleh kesempatan dari orangtua menjadikan anak memiliki kemandirian, secara luas maupun terbatas. Lebih-lebih jika orangtua memberi dukungan kepada anak untuk melakukan berbagai hal, termasuk yang masih relatif sulit, secara mandiri.
Tetapi kerap terjadi, orangtua tidak tega melihat anak mengalami kesulitan, sehingga alih-alih sayang anak justru merebut kesempatan anak untuk belajar. Tak jarang orangtua melakukan itu bukan karena sayang, tapi karena tidak sabar atau bahkan gengsi. Menyuapi anak makan misalnya, kadang karena sayang. Tapi tak dapat dipungkiri kerap orangtua menyuapi anak di saat anak sedang ingin belajar menyuapi diri sendiri karena orangtua tidak sabar, menganggap anak kelamaan, atau hanya karena tidak ingin lantainya kotor.
Sikap orangtua yang semacam ini akan memperburuk keadaan jika di saat yang sama anak sedang mengembangkan perilaku merajuk demi memperoleh perhatian yang lebih. Adakalanya anak tidak mau melakukan sesuatu sendiri juga bersebab keasyikan terhadap sesuatu, misalnya nonton TV atau main game. Jika ini dibiarkan, maka bukan saja kemandirian sulit diraih, meskipun untuk perkara yang sederhana. Lebih dari itu juga dapat mendorong anak menjadi pemalas atau mengembangkan rasa tak berdaya karena menganggap diri ‘ajiz (lemah karena sial).
Lalu apa saja yang perlu mendapat perhatian kita? Beberapa hal berikut ini semoga bermanfaat:
Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam soal ini adalah memberi kesempatan. Bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan. Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.
Makan misalnya, kita melihatnya sebagai keterampilan yang sangat biasa dan tidak istimewa. Tetapi Anda akan terkejut manakala mendapati orang dewasa tidak terampil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena orangtua terlalu memanjakan sehingga senantiasa menyuapi anak hingga dewasa. Ini memang jarang terjadi, tapi kasus anak benar-benar tidak memiliki keterampilan makan hingga ia dewasa itu sungguh-sungguh terjadi.
Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja member rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.
Kemandirian Psikososial
Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalanya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.
Apa yang terjadi jika kita
bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal. Salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Anak tidak berani menolak ketika temannya mengajak merokok atau mencoba minuman keras. Mengapa? Karena ia dididik untuk tidak berani menghadapi konflik. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka: principles over harmony.
Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.
Di antara yang dapat kita lakukan dalam kaitan konflik anak dengan temannya adalah menunjukkan kepada mereka tindakan-tindakan yang patut dilakukan oleh anak. Dalam hal ini, aturan dan prosedur sangat membantu anak dalam bertindak. Kita kenalkan anak pada etika agama.
Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih mereka ke toilet sendiri berikut adab-adabnya, mengajari mereka untuk mencari informasi pada saat sedang berada di luar rumah (semisal di bandara), termasuk komplain yang santun ke Customer Service. Bahkan berbelanja sendiri pun adakalanya perlu kita latihkan agar anak dapat melakukan transaksi dengan baik dan benar.
Apa yang terjadi jika kita layani anak dalam banyak hal? Salah kemungkinannya adalahaffluenza. Ini banyak terjadi pada anaknya orang-orang yang sangat kaya sehingga mereka pada akhirnya justru sangat lemah. Mereka hanya terbiasa dituruti. Dalam soal belanja tak terbiasa mengendalikan diri sesuai kebutuhan, bahkan sulit membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga cenderung impulsif. Dan ini mulai banyak terjadi.
Tampaknya bukan masalah. Tapi ketidakmampuan mengendalikan keinginan justru menyebabkan manusia sulit bahagia.
Kemandirian Belajar
Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan untuk membaca dan bangga dengan kegiatan tersebut. Anak belum mampu membaca saat kelas 1 SD bukan masalah jika mereka telah memiliki antusiasme belajar. Ini jauh lebih penting.
Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Mereka memiliki semangat yang semakin menggebu. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca dan berhitung, maka usia 10 tahun justru menjadi titik balik. Awalnya menggebu-gebu selama kelas 1, berangsur luntur, lalu benar-benar enggan belajar saat memasuki kelas 4 atau 5 SD. Maksudnya, ada yang mencapai titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar di awal kelas 4, ada yang pertengahan atau akhir kelas 4, ada pula yang kelas 5 baru mengalami.
Kemandirian Emosional
Bekal pokoknya adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.
Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Konon anak kecil pasti akan rewel jika sedang mengantuk sampai-sampai banyak orangtua yang meyakini bahwa rewel merupakan pertanda anak perlu tidur. Tetapi ternyata anak tidak perlu mengalami situasi tersebut jika ia mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Setidaknya ini yang saya catat dari anak saya mulai dari anak ketiga, khususnya lagi sejak anak keempat hingga ketujuh.
Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.
Wallahu a’lam bish-shawab.
***
Tulisan ini dimuat di majalah Hidayatullah edisi November 2014.
——————————————

Mengajari Membaca Tak Harus Mahal

Alhamdulillah, Allah Ta’ala karuniakan kepada kami tujuh orang anak (semoga Allah Ta’ala jadikan mereka barakah sejak lahirnya, hidupnya, matinya dan hari ketika dibangkitkan). Ini menjadikan pengalaman mengasuh anak lebih beragam, termasuk dalam soal mengajari mereka membaca semenjak dini. Ada pelajaran yang dapat diambil dari cara mengajarkan membaca pada anak pertama, lalu berusaha memperbaiki pada saat mengajari anak-anak berikutnya. Berbagai teori sekaligus alat bantu pendukung untuk mengajarkan membaca, berusaha kami penuhi. Dan itu semua membawa pada kesimpulan bahwa bekal terbaik mengajarkan anak membaca adalah kesungguhan, antusiasme dan kesabaran. WPB alias buku penuh gambar sedikit kata memang sangat bermanfaat. Buku jenis ini mudah menarik perhatian anak. Tetapi untuk menjadikan anak suka membaca, tidak harus melimpahi mereka dengan buku yang umumnya berharga mahal atau bahkan sangat mahal itu. Apa saja yang dapat dibaca, juga apa saja yang dapat digunakan sebagai media untuk menulis, merupakan sarana yang baik untuk mengajarkan membaca kepada anak. Tak peduli apakah itu buku bacaan sedikit gambar yang lebih pas untuk orang dewasa, majalah, sobekan koran atau apa pun.
Bukan berarti buku-buku yang khusus dirancang untuk anak tidak ada manfaatnya. Tetapi yang perlu kita ingat adalah, hal terpenting dalam menanamkan kegemaran membaca adalah tersedianya bahan-bahan bacaan dan kerelaan orangtua untuk membacakan buku serta mendampingi mereka bermain dengan buku. Bagi saya, jauh lebih penting memilihkan buku bergizi yang isinya benar-benar bermanfaat, meski kemasannya belum sesuai umurnya daripada buku sangat menarik, tapi isinya tak bermutu atau bahkan merusak.
10 Sahabat Nabi Dijamin Masuk Surga karya Muhammad Ahmad ‘Isa adalah contoh buku yang sangat bagus isinya. Kemasan buku ini jelas bukan untuk anak SD. Apalagi TK dan playgroup. Tetapi isinya shahih, dasarnya kuat, keteladanannya dapat diambil oleh anak maupun orang dewasa. Maka membacakan buku yang sebenarnya dikemas untuk orang dewasa ini, sangat bermanfaat bagi anak. Alhamdulillah, buku ini termasuk salah satu yang paling diminati oleh anak saya nomor lima, Muhammad Navies Ramadhan. Ia membaca buku tebal ini dalam waktu hanya kurang dari dua hari tatkala ia kelas 2 SD.
Saya memperhatikan, jika anak akrab dengan beragam buku semenjak dini, tak hanya yang kemasannya dikhususkan bagi balita, ia lebih mudah menyukai bacaan lebih serius di usia-usia berikutnya. Akan tetapi memaksakan anak membaca buku-buku serius tanpa mendampingi, dapat menjadikan anak kehilangan gairah membaca. Ini berarti, kesediaan menemani anak membaca itulah yang sangat penting.
Di sisi lain, jika anak-anak terbiasa bersentuhan dengan pemikiran atau cara berpikir yang lebih dewasa, ia juga akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik. Inilah salah satu hikmah melibatkan anak dalam berbagai majelis orang dewasa sebagaimana yang kita jumpai pada sirah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Jika dikaitkan dengan membaca, tidak masalah anak bersentuhan dengan bacaan bergizi untuk orang dewasa, terlebih yang menanamkan iman, mengokohkan aqidah dan menata cara berpikir. Anak boleh jadi tidak memahami isi bacaan secara sempurna atau bahkan sedikit sekali yang dipahami, tetapi jika anak menikmati kegiatan tersebut, itu sudah cukup sebagai bekal untuk memudahkannya menerima kelak ketika usianya telah lebih matang. Apa yang didengar dan diserapnya ibarat cetak biru (blue print) dalam dunia arsitektur. Inilah salah satu pelajaran berharga yang dapat kita renungi dari generasi emas Islam yang tidak sedikit di antara mereka telah menunjukkan kematangan berpikir di usia sangat belia.
Salah satu kesukaan anak saya nomor lima.

Ibu untuk Anak Kita

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta’ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.
Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.
Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.
Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.
Astaghfirullahal ‘adziim….
Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.
Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.
Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?
Tetapi…
Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak wa
ktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.
Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.
Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.
Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.
Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.
Nah.
Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?
Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.
Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.
Ya… ya… ya…, cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!
————————————

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.
Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.
Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.
Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?
Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.
Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.
Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.
Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).
Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.
Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.
Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.
Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.
Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ini juga berlaku bagi kita.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:
“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”
Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.
Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.
***
Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.
Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.
=====================