Jika Suami Tak Seperti Yang Diharapkan

Kepadamu wahai saudariku yang sudah menikah
Janganlah mudah untuk membuka aib suamimu
Bagaimanapun juga, ia adalah imam pilihanmu
Pemimpin yang harus kau jaga kehormatannya
Lelaki yg menjadi ayah dari darah dagingmu…
 
Lelaki ibarat seekor singa yang buas…
Ia dapat luluh tergantung dari pawang yang menjinakkannya…
Lelaki kasar bisa menjadi lembut dan tunduk pada istrinya tergantung dari sifat istrinya yang pandai mengurusnya…
 
Ketahuilah….
Suamimu adalah orang lain…
Ia bukan seperti ayah dan ibumu…
Bukan pula saudara kandungmu yang cinta dan kasih sayangnya akan terus mengalir untukmu..
 
Ia adalah orang lain…
Yang kadang mencintaimu…
Namun bisa pula membencimu….
Tak selalu lembut tuturnya…
Bahkan tak pelak bisa mudah terbawa emosi hingga tangannya melayang…..
 
Maafkanlah ia… jika masih ada keimanan dalam dadanya, jika ketidaksengajaan itu ia lakukan hanya sekali bukan kebiasaan atau memang sifat bawaannya…
 
Bersabarlah…..
Dan terus berdoa pada Allah yang menggenggam nyawa manusia
Berdoalah karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia
 
Jangan berkeluh kesah tentang bahteramu karena masalah dapat selesai dengan ikhtiar bukan dengan keluh kesah…
Berdoalah…. hanya pada Allah karena senjata orang beriman adalah doa…
 
Semoga kita dikumpulkan kembali di jannah bersama orang-orang yang kita cintai karena Allah bukan karena urusan duniawi

Wanita Shalihah Taat Kepada Suami

✿ Wanita Shalihah Taat Kepada Suami ✿

Wanita shalihah pada hakikatnya mengakui bahwa keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergantung kepada keridhaan suaminya, oleh karena itu ia senantiasa berusaha maksimal taat dan memenuhi hak-hak suaminya. Mengharap keridhaan suaminya dan menjauhi kemurkaan suaminya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Wahai sekalian kaum wanita, bertaqwalah kepada Allah dan peganglah keridhaan suamimu.Sesungguhnya seorang istri jika mengetahui hak-hak suaminya, niscaya ia akan berdiri selama makan siang dan makan malamnya.” (H.R. Abu Nu’aim).
Taat yang dimaksud adalah taat yang diselaraskan dengan ketaatanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika ia berhadapan dengan perintah maka ia segera melaksanakan dengan penuh hati dan keikhlasan.Dan ketika berhadapan dengan larangan Allah Subhananu wa Ta’ala, maka ia pun segera meninggalakanya segala larangan tersebut.
Demikian juga wanita shalihah dengan ketaatannya dengan suami selama perintah dan larangannya selaras dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan berusaha memenuhi semua hak-hak suaminya. Tapi bila suaminya lalai dalam menunaikan perintah Allah Subhanhu wa Ta’ala. Dia selalu mengingatkan suaminya.
Dalam Ajaran Islam hak dan kewajiban suami istri telah ditentukan, diantara sekian banyak ayat dan hadist mengenai hak seorang suami terhadap istrinya, pada intinya adalah bahwa seorang istri hendaknya menjaga ketaatannya pada suami, menjaga kehormatan dirinya, menjaga harta suaminya, dan menjaga lisannya terhadap suami dengan tidak menyakiti suaminya dengan perkataannya. Ada beberapa adab-adab yang bisa dilakukan seorang istri untuk menyenangkan suaminya diantaranya yaitu :
❀❀.•• (`’•.¸ •.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•¸*¤* ﷲ¸¸.•*¨*•♫¸✿¸.
1.Ketika suami sedang berbicara,dengarkanlah dengan baik,diam dan tidak memotong pembicaraannya.
2. Ketika suami bersikap (marah mendidik) hendaknya diterima dengan syukur, tidak menjawab apa-apa dan bersabar,karena terkadang suami sengaja menguji kesabaran.
3. Ketika suami hendak memerlukan, dahulukan kehendaknya dari pada yang lain.
4. Ketika berhadapan dengan suami senantiasa berwajah manis dan berhias dengan aroma wewangian.
5. Ketika dengan keluarga suami, muliakan dan hormati kedua orang tuanya sebagaimana kita memuliakan orang tua sendiri, karena orang tua suami adalah juga merupakan orang tua kedua.
6.Ketika suami dirundung masalah. Jaga ketentraman hatinya dan membantu menyelasaikan masalah suami sekurang-kurangnya menunjukkan sikap gembira.
7. Ketika suami dirundung duka, memahami perasaan suami, dengan ikut merasakan dukanya dengan memberikan motivasi sehingga kegembiraannya muncul kembali
8. Ketika berhadapan dengan materi’ berusaha menjaga harta suami dengan baik dan mempergunakannya ke hal-hal yang manfaat.
9. Ketika suami jadi kepala rumah tangga, memahi suami jika dia pemimpin, maka bantu dia dengan mengerti segala hal kebaikan, jika ia guru maka lengkapilah dia dengan ilmu, hendaknya menerima dengan apa adanya.
10. Ketika berhadapan dengan keinginan, tidak menyusahkan suami dengan keinginan pribadi yang berlebihan, karena lebih bijak mendahulukan kebutuhan mendesak yang prioritas utama, dan keinginan bisa ditunda.
11.Pastikan niat kita melayani suami dengan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan senantiasa mendoakan suami.
12. Senantiasa mendorong suami agar giat dalam beribadah serta bersungguh-sungguh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ciptakanlah kasih sayang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
13. Senantiasa merasa cukup dengan apa-apa yang ada (qana’ah).dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
14. Ketika suami bersalah. Tunjukanlah sikap kasih sayang serta hormat pada suami dan mengerti bahwa pada hakekatnya semua manusia tidak luput dari khilaf dan kesalahan, dan tidak menghukumnya berlebihan dengan kesalahan yang dilakukannya.
Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, . Mudah-mudahan untaian catatan sederhana diatas bisa memberi manfaat buat kita semua,baik yang sudah menjalani keluarga maupun yang akan menyongsong keluarga kelak menuju Sakinah Mawadah Wa Rahmah.
Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahuma AAmiin…
❀.••Walhamdulillah Rabbil’alamin ••.❀
Abdul Haris Muenthazzar

Renungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

Episode LDR kembali mewarnai kehidupan kami. Alhamdulillah anak-anak semakin mandiri, semakin dapat mengurusi keperluan sendiri. Sehingga meski dirumah tanpa suami yang kini bekerja di luar kota, juga tanpa anak sulung Ali yang kini sedang menuntut ilmu di pesantren, juga tanpa bibi yang hanya bekerja setangah hari, alhamdulillah tidak ada perasaan repot berlebihan dalam mengurus keperluan anak-anak.
Tetapi perubahan kondisi emosi anak-anak tetap memberi pekerjaan tersendiri. Kini giliran Fatih (1,5) yang merasa sangat kehilangan. Fatih selalu menangis hebat saat berpisah dengan ayahnya. Lalu jika ayahnya berkunjung ke Bandung, ia bahkan tidak mau lepas dari sang ayah. Ia bahkan hanya ingin di bantu oleh ayahnya dalam memenuhi keperluannya. Sering sekali menolak tawaran saya dalam melayani kebutuhannya saat ada ayahnya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain, jika merasa sedih, kecewa atau frustasi, sering sekali menangis ingin berkumpul dengan ayahnya. Alhamdulillah ini menunjukkan bahwa suami saya benar-benar menjadi ayah yang dirindukkan oleh anak-anaknya.
Peristiwa ini membuat saya merenung, betapa tidak mudah membagi waktu, pikiran dan tenaga dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Bayangkan jika hanya terbagi dengan urusan mencari nafkah saja, keadilan itu sulit sekali terjaga, bagaimana dengan keadilan saat seorang suami membangun lebih dari satu keluarga? Karena keadilan tak sekedar urusan harta, keadilan juga buka sekedar urusan perasaan istri-istrinya. Namun ada sekian anak dibawah pemeliharaan dan tanggung jawabnya yang juga menanti giliran mereka untuk dapat berinteraksi dengan ayahnya.
Sebagai seorang istri dari suami yang memiliki banyak anak, saya tau betul bagaimana suami perlu melipatgandakan kekuatan untuk meluangkan waktu agar seluruh anak-anaknya dapat mendapat hak akan perhatian yang sama. Sementara waktu yang harus dibagi hanyalah berkaitan dengan urusan mencari nafkah atau menuntut ilmu. Masya Allah betapa para laki-laki yang memilih poligami harus betul-betul melipatgandakan kekuatan untuk membagi seluruh cinta, perhatian dan waktu yang dimilikinya. Karena jatah giliran tak melulu persoalan pemenuhan kebutuhan biologis setiap pasangannya. Disana ada anak-anak yang menanti bimbingan dan nasihat, serta menanti canda tawa dan bercengkrama dengan ayahnya.
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua pun harus mengatur porsi waktu dalam karirnya agar keseimbangan perannya dalam keluarga dapat terjaga.
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua harus mengatur beban pikirannya agar masih dapat mencurahkan pikirannya dalam memikirkan keadaan keluarga .
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan kepala keluarga harus mengatur keuangan dengan sangat bijaksana agar keseimbangan finansial dapat terjaga. Menjadi adil untuk satu keluarga saja begitu berat pertanggungjawabannya. Maka hanyalah orang-orang yang luar biasa yang pantas untuk berani mengambil tanggungjawab lebih untuk dapat berbuat adil dalam memimpin lebih dari satu keluarga. Maka lipatgandakanlah ketakwaanmu sebelum engkau membagi cinta. Lipatgandakanlah keuatan dan kemampuanmu sebelun engkau membagi cinta.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri biasa yang bersuamikan suami biasa, yang masih berupaya untuk dapat adil kepada satu keluarganya
Kiki Barkiah
Sumber gambar kompasiana.com

 

Renungan Pasutri 10 – Karena Ia adalah Suamimu


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 01
“oke…. oke…. bapak suami ummi, ummi ikut kata bapak”
Begitulah kira-kira kalimat penutup yang saya sampaikan jika diskusi yang saya bangun memiliki perbedaan pendapat dengan suami. Alhamdulillah pola komunikasi yang kami bangun selama ini selalu memberi ruang bagi saya untuk menyampaikan pendapat dan pandangan meski terkadang sedikit berbeda dengan suami. Kami terbiasa memutuskan masalah bersama, menganalisis setiap pendapat, berbagi referensi ilmu untuk menguatkan pendapat, mempertimbangkan maslahat dan mudhorot dari setiap pandangan, bahkan terkadang melakukan perhitungan matematika untuk membuat sebuah keputusan. Tidak jarang keputusan dan pandangan suami berubah setelah mendengar pertimbangan istri yang mungkin lebih banyak menggunakan emosi dalam menilai seuatu permasalahan. Tak jarang juga saya yang kemudian berubah pandangan setelah mendengar pertimbangan suami yang mungkin lebih banyak menimbang dengan logika. Namun terkadang ada kalanya suami terlihat teguh dengan pandangannya sementara saya masih merasa yakin dengan pendapat yang saya miliki. Alhamdulillah islam begitu sempurna mengatur segalanya. Dalam islam sangat jelas bahwa suami adalah pemimpin bagi istrinya. Kepala rumah tangga adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang istri bisa mendapatkan surga karena ketaatan pada suaminya. Tugas istri hanyalah taat selama pandangan, pendapat, keputusan dan perintah suami adalah sesuatu yang bukan dalam rangka bermaksiat pada Allah. Saya percaya bahwa meski kita memiliki pendapat yang berbeda, bahkan ketika kita merasa bahwa pendapat kita benar, ada keberkahan yang akan mengalir ketika kita memilih untuk taat kepada suami. Andai saja perintah taat kepada suami ini tidak ada, mungkin angka pertengkaran dalam rumah tangga, KDRT, dan perceraian rumah tangga akan lebih besar dari kenyataan yang ada saat ini.
Tak jarang seiring dengan waktu ternyata terbukti bahwa dalam kasus tertentu pendapat saya lebih benar, sementara saat itu kami telah mengambil keputusan berdasarkan pandangan suami. Tetapi saya sadar bahwa menyalahkan dan menyesali tidak akan memperbaiki keadaan. Saya juga sadar bagaimana makhluk yang bernama laki-laki itu memiliki pride yang sangat tinggi. Laki-laki cenderung tidak suka disalahkan secara langsung. Mereka tidak suka bila perannya diabaikan, keberadaanya dinafikan. Jika perempuan akan merasa tidak dihargai ketika perasaannya tidak diakui dan didengarkan, berbeda dengan lelaki, mereka akan merasa tidak dihargai jika keberadaannya tidak dibutuhkan dan bantuannya tidak diharapkan. Saat dimana kami menyadari bahwa keputusan yang kami ambil berdasarkan pertimbangan suami itu kurang tepat, maka makhluk bernama laki-laki tidak lagi membutuhkan penegasan tentang dimana letak kesalahan, apalagi diungkit kesalahannya. Ketika nasi sudah menjadi bubur, tanpa perlu kita mengabari pun para laki-laki sudah mengerti bahwa nasi telah menjadi bubur. Mereka sudah tau bahwa pertimbangannya salah, langkahnya kurang tepat. Maka tugas seorang istri hanyalah membuat bagaimana bubur tersebut menjadi bubur ayam yang lezat, lengkap dengan cakue, kerupuk dan sambal agar kenikmatan dan kelezatannya bisa dirasakan bersama.
Sebagai seorang manusia yang berkepribadian dominan, berkeluarga telah memberikan saya sarana latihan untuk menahan diri agar tidak terlalu memberi pendapat secara dominan. Lebih banyak bersabar untuk mendengar dan merelakan hati ketika sebagai istri harus menaati perintah suami yang terkadang berbeda pandangan. Saya akui, lama berkencimung di organisasi kampus dalam bidang studi yang mayoritas berisi laki-laki–terlebih karena sering menduduki posisi pemimpin, membuat saya harus banyak berlatih untuk secara otomatis tunduk dan taat kepada suami pada kali pertama ia memberi perintah. Ah…jadi teringat komentar sahabat kampus yang mengabarkan bahwa para ikhwan kampus cenderung merasa “segan” kepada saya. Mungkin saya bukanlah tipe akhwat masuk dalam daftar list calon istri ideal bagi mereka. Pernah suami pun berkomentar kalau terkadang dari sikap saya muncul penyakit “bossy”, sesuatu yang mungkin secara alamiah muncul dari pribadi saya meskipun saya selalu berusaha menempatkan diri sebagai seorang istri yang wajib mentaati suami.
Jika dibandingkan dengan saya bertahun-tahun yang lalu, memiliki suami telah banyak mengubah kepribadiaan saya, begitu juga suami. Saya yang terlalu banyak bicara menjadi lebih dapat menahan diri, suami yang sangat pendiam kini mampu banyak mengeluarkan pendapat bahkan bisa mengajar anak-anak dengan seru dan penuh canda. Namun sebagai seorang manusia yang berkepribadian dominan, saya harus terus berusaha menyadari dan menempatkan diri sebagai seorang makmum dari suami. Berusaha untuk tidak lupa meminta ijin atas keputusan-keputusan penting dalam keluarga, termasuk urusan penggunaan keuangan diluar nominal yang sewajarnya.
Sesungguhnya pintu surga seorang istri sangat dekat. Ketika ia telah melaksanakan ibadah shalat, puasa di bulan Ramadhan,serta memelihara kemaluannya, maka tiket surga dapat ia tebus dengan menaati suaminya. Maka berapapun besar penghasilan sang istri, berapapun tinggi kedudukan sang istri di masyarakat, tidak akan menggurkan kewajibannya untuk taat kepada suaminya selama perintah tersebut tidak dalam rangka kemaksiatan kepada Allah.
Batu jajar Jawa Barat
Dari seorang istri yang terus belajar menjadi istri
Kiki Barkiah
Sumber gambar onislam.net
Baca juga – Renungan Pasutri 09

Renungan Pasutri 09 – Formasi Pahala Siang


Tarbiyatul Aulad – Renungan Pasutri 09
Suatu hari saat jam makan malam Shiddiq yang saat itu berusaha 5 tahun protes.
Shiddiq: “ummi, why we have to get our food by ourselves, but you always help bapak?”
Ummi: “ya nanti kalo sudah besar Shiddiq juga di siapin makannya sama istrinya, sekarang mah Shiddiq latihan ambil makan sendiri”
Shiddiq: “that’s not fair! I have to wait until I grow up”
Ada satu masa dimana saya melakukan banyak kekhilafan sebagai istri. Saya terlalu sibuk dengan anak-anak dan kurang perhatian terhadap kebutuhan suami sepulang kantor. Suami juga bukan tipikal laki-laki yang selalu menunggu dilayani. Jika beliau melihat saya kerepotan mengurus anak saat sepulang kantor, tanpa banyak bicara beliau sering sekali menyiapkan makanan dan minuman sendiri. Sering sekali saya terlambat dan merasa malu saat memergoki beliau menyiapkan keperluan sendiri. Kala saya minta maaf suami hanya bilang “gak papa mi… sudah dimasakin saja sudah alhamdulillah”
Tapi Allah tidak ingin saya begitu. Allah ingin saya lebih baik lagi. Allah ingin saya berusaha menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi. Alhamdulillah teguran seorang kerabat telah menyadarkan saya. “Mungkin Adi tidak apa-apa, tapi belum tentu Allah ridho” kalimat teguran itu masih teringat dalam pikiran saya sampai hari ini. Sejak saat itu saya berusaha memperbaiki pelayanan saya kepada suami. Karena seorang suami sesungguhnya memiliki hak terbesar untuk mendapatkan perlakuan terbaik kita sebagai istri.
Akhirnya saya pun berdiskusi, mencari formulasi yang tepat dalam menjalankan keseharian keluarga agar hak suami tetap terpenuhi sementara pengasuhan anak-anak tetap berlangsung. Kami memilih untuk melakukan “Formasi Pahala Silang“. Sejenak saya menyerahkan pekerjaan pengasuhan anak sementara saya mengambil ladang pahala untuk sekedar memberi sedikit perhatian kepada suami dengan menyiapkan keperluannya. Terkadang di pagi hari bayi masih ingin menyusui. Suami akan berusaha menggendong dan mengalihkan perhatiannya agar saya bisa memasak, menyiapkan sarapan dan bekal bekerja. Sepulang kantor anak-anak diasuh oleh ayahnya agar saya bisa memberikan sedikit perhatian dengan menyiapkan keperluan makan malam.
Jika pahala formasi silang ini tidak dilakukan maka hanya ada satu kesempatan pahala bagi kami. Pahala ibu mengurus anaknya. Namun jika formasi pahala silang ini dilakukan, kami memiliki kesempatan untuk mendapat 2 pahala, pahala ayah mengurus anaknya dan pahala istri mengurus suaminya.
Meskipun begitu ada saja kelupaan emak rempong dalam melayani suaminya.
Bapak: ” kalo teh manis bapak teh udah dibikin?”
Saya: “aduh pak lupa! Sudah dibikin masih nyangkut di microwave, barusan si adek nangis pengen nyusu, yaaa udah dingin lagi deh!”
Dan suamipun menghangatkan teh manisnya kembali sendiri, seperti masa lajang dahulu….
Kini kami memiliki ART, tambahan pemain dalam keluarga cukup meminimalisir kelupaan-kelupaan itu. Saya menjadi lebih bisa konsentrasi memenuhi keperluan setiap anak dan melayani suami lebih baik lagi. Saat bapak ditinggal saya hijrah lebih awal ke Indonesia, di Amerika bapak kurus sekali. Berat badan bapak hilang 15 pound. Setelah sebulan pulang ke Indonesia badan bapak kembali berisi. Alhamdulillah keberadaan pemain tambahan seperti ART dalam keluarga, insya Allah memberi kesempatan bagi seorang istri dan ibu untuk bisa beribadah lebih baik lagi dalam melakukan pelayanan terhadap keluarga.
Buah Batu, Bandung Jawa Barat
Dari seorang istri yang berharap akan ridho Allah dan suaminya
Kiki Barkiah
Baca juga – Renungan Pasutri 08

Renungan Pasutri 08 – Karena Cinta Tak Hanya…..

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 08

Karena Cinta Tak Hanya…..

Malam itu, tepat satu malam sebelum ulang tahun pernikahan kami, Allah memberi sebuah peristiwa untuk membuat saya lebih bersyukur dan memaknai arti Cinta dalam sebuah pernikahan. Saat itu perut saya sudah sangat besar karena mengandung anak kelima. Sementara saya masih mengasuh 2 balita laki-laki yang aktif tanpa ART dengan segala tingkah laku khas balita. Saat tantrum, bertengkar, berebut mainan, alhamdulillah Allah masih memberi kesabaran untuk tidak marah dan tetap berusaha menghadapi tingkah laku kedua jagoan saya sesuai dengan ilmu parenting yang saya pelajari. Padahal disaat yang sama saya sedang menahan rasa sakit kontraksi dan sakit yang secara rutin kekambuh saat hamil.
Setiap hamil, penyakit atritis tulang pada pelvis biasanya kambuh. Untuk bangun setiap hari suami harus sedikit mengungkit tubuh saya kemudian menopang sebagian tubuh saya agar bisa menyeret kaki ke kamar mandi. Sampai pinggul saya dapat berhasil menumpu kedua kaki. Kalo tidak ada yang membantu mengangkat tubuh saya, terkadang untuk bisa duduk sendiri pun tidak mampu. Selama bertahun-tahun suamilah yang sabar merawat saya jika saya kambuh. Kalau sedang kambuh, otomatis semua program mengajar anak-anak dilakukan di atas kasur. Sementara pekerjaan rumah ditunda sampai saya bisa bisa berdiri. Sebagian dikerjakan suami, sebagian dikerjakan sambil duduk jika sudah dapat duduk. Sebagian dikerjakan sambil berbaring jika sangat tidak mampu menggerakkan kaki.
Sebelum terlelap suami berkata “ummi….sabarmu tiada habisnya..” Malam itu saya tidak bisa tidur, sakiiiiiit sekali. Sakit dengan sakit yang tidak tertahankan. Air mata saya menetes menahan rasa sakit dengan tingkat sakit belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya berbisik membangunkan suami karena ingin ke kamar mandi. Saya katakan bahwa rasanya sakit sekali. Suami mencoba mengungkit tubuh saya, tapi tidak satupun posisi tubuh dapat temukan dimana rasa nyeri itu dapat berkurang agar saya bisa menguatkan diri untuk bangun. “Tidak bisa bangun pak…. Tidak bisa!” Saya sudah tidak kuat untuk buang air, dan akhirnya kasur pun basah malam itu. Melihat kesabaran suami mengurus saya, air mata pun membasahi pipi saya. Dalam hati saya berkata “bapak…. Sabar mu pun tiada habisnya” Ini bukan kali pertama bapak direpotkan saat saya sakit. Kesabaran beliau mendapingi sayalah yang membuat kami sampai hari ini terus kompak dalam meraih mimpi.
Hadiah terindah di malam itu ternyata sebuah hikmah. Sebuah peristiwa yang mengajarkan saya tentang makna cinta dalam sebuah pernikahan. Cinta tidak hanya berfikir tentang apa yang akan kita terima. Cinta selalu menyibukkan diri untuk berfikir tentang apa yang masih bisa kita beri. Cinta juga tidak sekedar menikmati kebahagiaan atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki pasangan kita. Cinta selalu siap untuk menerima paket lengkap karunia Allah berserta segala kekurangan dari mereka yang kita cintai. Cinta tak hanya canda tawa saat kita menikmati kelapangan dan menjalani kesenangan bersama. Cinta selalu membuat kita tetap dapat tersenyum tulus saat kesulitan menerpa bahkan badai menerjang. Cinta tak sekedar berdiri disamping dengan penuh rasa bangga saat pasangan kita berada di atas puncak. Cinta selalu siap menopang dan bersedia terinjak saat pasangan kita berada dibawah dalam perputaran roda kehidupan. Cinta tak hanya sekedar menjabarkan idealitas yang kita harapkan. Cinta selalu bersedia membimbing dan menempa agar pasangan kita dapat menjadi seperti apa yang kita harapkan. Cinta tidak hanya bersedia menerima pujian dan sanjungan tetapi juga bersedia menerima teguran, kritikan dan saran dari pasangan. Cinta tidak hanya bersedia menerima kasih sayang dan kelembutan tetapi juga bersedia menerima amarah dalam rangka kebaikan. Cinta tidak hanya bersedia menerima bantuan tetapi juga bersedia menerima dan memenuhi keinginan pasangan. Tidak ada sesuatu yang sempurna yang dapat kita cintai kecuali Allah. Tapi kita masih dapat menyempurnakan ikhtiar kita dalam pembuktian cinta.
Batujajar Jawa Barat
Dari seseorang yang merasa dicintai
Kiki Barkiah

Baca juga – Renungan Pasutri 07

Renungan Pasutri 07 – Ketika Shiddiq Bertanya “Do We Have To Marry With Pretty Girl?”


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 07
Saat membacakan kisah tentang perjalanan hidup bunda Khadijah R.a, Shiddiq (6 tahun) memotong cerita saya sampai pada bab pernikahan baliau dengan Rasulullah SAW.
Shiddiq : Ummi, Do we have to marry with pretty girl?
Saya pun tersenyum tenang
Ummi: Kata Rasulullah SAW wanita itu dinikahi karena 4 hal yang pertama kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan yang terakhir karena agamanya”
Shiddiq :”ooooooooooow cooooooool”
Ekspresinya kemudian mendadak berbinar kala saya menyebut karena agamanya.
Ummi: Menurut Shiddiq mana yang paling baik?”
Shiddqi: “Karena agamanya!!!!”
Ummi: “ya kata Rasulullah yang paling utama itu karena agamanya.Shiddiq mau gak punya istri cantik tapi kerjaannya marah-maraaaaaah terus?”
Shiddiq: “No..no…”
Ummi: “memangnya Shiddiq kalo sudah besar mau punya istri yang seperti apa?
Shiddiq: “Yang sholihah (seyum) yang cantik (senyum-senyum), yang jago masaknya dan bisa masak sosis, yang kaya, yang rumahnya besar kamarnya ada 13 dan kamar mandinya ada 14”
Ummi: “Waaaah atuh itu mah Shiddiq aja yang jadi anak pinter, jadi bisa cari uang dan bisa buatkan rumah yang besar buat istrinya, kok kamarnya banyak, memang anaknya mau berapa?”
Shiddiq: “12. I need a big house so every kids can have their own bed room”
Shiddiq: “Someday i wanna pick my wife by myself”
Ummi: “iya yang penting shalihah ya, mau yang pinter gak?”
Shiddiq: “iya mau yang pinter, nanti ngajar anaknya homeschooling juga kayak ummi”
Shafiyah dan Faruq yang tengah berada dalam kelas membaca mata pelajaran islam pun tertawa-tawa mendengar jawaban Shiddiq”
Ummi: “Memangnya Shafiyah pengen suami yang kayak apa?”
Shiddiq: “Handsome…handsome….”
Saya tak kuat menahan tawa sambil terheran dari mana anak-anak itu mengerti konsep cantik dan cakep
Shafiyah: “sholeh, mmmmm…….and handsome too. i want to have 10 kids. no..no actually 30 kids”
Ummi: “aamiiin waaaaaah ummi bisa punya cucu seratus dong kalo semua anak ummi anaknya banyak”
Begitulah sepenggal diskusi dalam homeschooling kami yang memberi gelak tawa sekaligus mengajak saya merenung. Betapa fitrah seorang manusia itu memang menginkan keindahan, kecantikan, kekayaan, dan kedudukan yang baik dimiliki oleh calon pasangan kita. Bahkan banyak pemuda-pemudi yang membutuhkan waktu yang lebih lama, lama, bahkan terlalu lama untuk menimbang apa yang terbaik bagi mereka. Tidak sedikit mereka yang membutuhkan waktu lebih lama itu karena berharap keempat aspek ini termuat dalam satu sosok pasangan kita. Ya Shalihah, ya cantik, ya kaya, dan dari keturunan yang terpandang.
jika kecantikan menjadi faktor penentu kebahagiaan sebuah pernikahan, maka yang paling bahagia adalah pasangan para selebritis yang rupawan. Sayangnya, banyak sekali berita perceraian para selebritis yang menghiasi berita layar kaca. Banyaknya problematika rumah tangga yang dialami pasangan yang rupawan memberikan kesimpulan bahwa kecantikan pasangan bukanlah faktor utama yang dapat memberi kebahagiaan dan kepuasan, bahkan hal ini belum tentu menjadi penghalang bagi pasangannya untuk menahan diri dari bermaksiat kepada Allah. Kasus-kasus perselingkuhan yang diceritakan kepada saya pun banyak disampaikan oleh para ibu-ibu muda yang cantik jelita. Padahal mungkin bagi para lajang, kecantikan pasangan ini adalah sesuatu yang diharapkan dan dibanggakan. Padahal kebanyakan postur tubuh para ibu berubah saat kali pertama melahirkan anaknya. Kecantikan pun dapat memudar seiring dengan pertambahan usia.
Jika kekayaan dan kemapanan calon pengantin menjadi faktor penentu kebahagiaan sebuah pernikahan, maka yang paling bahagia itu pernikahan orang-orang yang sejahtera secara finansial. Tapi data menunjukan angka perceraian di Amerika mencapai 50% padahal rata rata kehidupan mereka sangat sejahtera. Banyak juga kasus dimana cobaan finansial menimpa pasangan yang berumah tangga, kehilangan pekerjaan atau usaha yang gulung tikar. Sesuatu yang akan lebih berat dijalani bagi pasangan yang memiliki niat dan motivasi menikah karena harta. Tidak sedikit juga alasan istri yang meminta cerai saat finansial suami dalam keadaan yang tidak baik.
Kekayaan dan kedudukan orang tua calon pasangan yang mungkin menjadi harapan dan kebanggaan pun, tidak akan mampu mengangkat derajat sebuah keluarga jika pasangan yang kita miliki tidak memiliki etos kerja,keahlian dan kreatifitas yang bisa menjadi sumber mata pencaharian, kegigihan meraih cita, kesabaran merintis dari bawah, serta sifat qonaah yang membawa manusia untuk selalu bersyukur dalam apapun keadaanya. Hampir setiap rumah tangga baru yang memilih mandiri harus mau dan mampu melewati masa-masa sulit itu. Hanya orang-orang yang bersedia melewati masa-masa sulit yang akan mampu bertahan sampai kelak Allah mengkaruniakan kemampanan dan kesejahteraan.
Bagi kita yang saat ini sedang banyak menghadapi problematika rumah tangga. Mari kita sejenak mengok ke belakang adakah yang salah dala niat awal saat kita mneikah? Sebelum semakin jauh, sebelum semakin rumit, sebelum hancur dan kandas, mari kita perbaiki niat kita dan mengejar ketertinggalan kita. Mintalah pada Allah dalam perbaikan agama kita dan pasangan kita, mintalah pada Allah dalam perbaikan akhlak kita dan pasangan kita, mintalah perbaikan pada setiap lini kehidupan kita.
Maka teruntuk sahabat yang belum menikah, mencari pasangan sholih sholihah yang baik akhlaknya adalah prioritas utama. Kekayaan, pekerjaan, penghasilan, pendidikan, status sosial, bahkan frekuensi ibadah dan hafalan quran insya Allah bisa di upgrade atas ijin Allah. Namun tabiat buruk pasangan lebih sulit untuk dirubah meski bukan tidak mungkin atas ijin Allah. Sayangnya, frekuensi ibadah seseorang juga belum menjadi jaminan kebaikan akhlaknya. Namun manusia yang berakhlak baik insya Allah memiliki peluang yang besar untuk diajak menuju kebaikan termasuk meningkatkan frekuensi ibadahnya. Maka berhati-hatilah dalam memilih pasangan, libatkanlah Allah dalam memutuskan sebuah keputusan besar. Mintalah pada Allah kemudahan pada apa-apa yang melahirkan kebaikan di dunia dan akhirat meski beberapa harapan dan keinginan tak dapat terpuaskan dalam satu sosok pasangan.
Batu Jajar Jawa Barat
Dari seorang hamba yang sangat bersyukur atas pasangan yang Allah hadiahkan untuknya
Kiki Barkiah
sumber gambar drthomasphillips.com
Baca juga – Renungan Pasutri 06

Renungan Pasutri 06 – Semoga Allah Mencukupi Kebahagianmu Dengan Satu


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 06
Tanpa angin…. tanpa hujan, tiba tiba saya membuka pembicaraan selepas menjawab curhat ibu-ibu via inbox
Saya: Pak, kalo bapak merasa tidak cukup “satu” jangan melanggar syariah ya pak, di islam kan jelas aturannya.
Suami: “apa sih mi…… (Sambil senyum tertawa kecil), pasti abis ada yang curhat ya di facebook”
Saya: “iya pak, astagfirullah, macem-macem problematika rumah tangga teh, banyak yang curhat kasus selingkuh. Ari selingkung sekali bilangnya khilaf, tapi terus weeee….dua tiga empat kali, atuh masa nu kitu khilaf? Makanya pak jaga pandangan kata Rasul juga, di depan, belakang, kanan, kiri perempuan kan syaitan, makanya disuruh segera menemui istri kalo sedang digoda syaitan”
Suami: iyaaaaa……
Dengan santai suami menjawab
Saya: “eeeeeeeeh kita teh jangan merasa seolah-olah yang kayak gitu teh akan jauh dari kehidupan kita pak, jangan merasa kita teh suci karena syeitan mah gak pernah langsung menggoda manusia dengan seribu langkah pak”
Suami: “iya ya mi ya…. syetan mah ngegoda kita selangkah demi selangkah”
Saya: “makanya pak kudu saling ngingetin urang teh…. Kita teh gak tau kehidupan kita besok seperti apa, masih istiqomah atau nggak, makanya pak kita saling bimbing, saling ngingetin kalo ada yang salah. Mungkin ummi mah percaya sama bapak, tapi gak percaya sama yang diluar sana, makanya harus terus saling menguatkan”
Sedih, terheran-heran, kaget, dan sekian banyak perasaan campur aduk lainnya yang saya rasakan ketika membaca curhatan ibu-ibu yang memiliki permasalahan rumah tangga karena kasus perselingkuhan. Kalau saya saja merasa seperti mimpi mendengar kisah-kisah mereka, apalagi mereka sendiri yang merasakannya. Saya yakin tidak ada satupun pasangan yang menikah karena berniat ibadah karena Allah akan membayangkan pada saat mereka melaksanakan ijab qabul bahwa pernikahannya akan dihiasi dengan kesakithatian karena perselingkuhan bahkan harus berakhir karenanya. Tapi mengapa perselingkuhan ternyata bisa terjadi pada pasangan-pasangan yang pada awalnya baik-baik, bahkan mengawali pernikahan mereka dengan niat dan cara yang baik?
Ya! Karena syeitan tidak pernah menggoda manusia langsung dalam seribu langkah. Sedikit demi sedikit menghembuskan peluang-peluang kesempatan dalam melaksanakan kemaksiatan. Maka diri ini hanya dapat berlindung kepada Allah SWT agar Allah senantiasa menjaga dan merawat cinta kami dalam ketaatan kepada Allah. Takut…. Takut….. Takut berjalan sendiri jika tanpa perlindungan Allah ditengah dunia yang yang penuh kerusakan moral bahkan kebiadaban. Takut….takut….takut….jika tanpa kasih sayang Allah kami gagal mempertahankan keistiqomahan dalam ketakwaan sampai menemui ajal. Maka diri ini hanya ingin berlindung kepada Allah, agar Allah senantiasa menjaga kami dalam katakwaan dan mengijinkan kami berkeluarga kembali dalam jannah-Nya.
Selain meminta penjagaan kepada Allah Sang Penjaga, maka diri ini ingin terus berjuang lebih baik lagi menjadi sebaik-baiknya perhiasan didunia bagi suami tercinta. Memberikan pelayanan dan bakti yang lebih baik lagi. Mempererat komunikasi yang menguatkan cinta. Ya Allah ijinkanlah kami para istri, menjadi sebaik-baik perhiasan di dunia bagi suami kami. Jadikanlah lisan kami lisan yang memberi ketentraman bagi suami. Jadikanlah kami para istri yang sedap dipandang dan kehadirannya selalu dirindukan. Jadikanlah kami para istri yang dukungannya terhadap suami selalu menguatkan. Jadikanlah kami para istri yang menjadi obat kelelahan dan penghilang kepenatan saat para suami kami lelah pulang mencari nafkah. Jadikanlah kami para istri yang dengan kasih sayang dan kelembutannya memberikan energi bagi para suami dalam berjuang. Jadikanlah kami para istri yang bersyukur dalam menerima apapun yang suami berikan. Jadikanlah kami para istri yang senantiasa sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami dalam keadaan suka, duka, susah, dan senang. Jadikanlah kami para istri yang amanah dalam mengelola harta suami. Jadikanlah kami para istri yang amanah dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Jadikanlah kami para istri yang piawai mengurus rumah tangga agar suami bahagia ketika pulang ke rumah melepas lelah. Jadikanlah rumah kami rumah yang dirindukan suami pulang. Ya Allah berkahilah rumah tangga kami dengan menjaga kesetiaan kami agar kami bisa bahagia hidup berkeluarga di dunia dan kelak di surga. Aamiin
Semoga dirumahmu kau miliki sebaik-baik perhiasan di dunia, dan semoga Allah mencukupi kebahagiaanmu dengan satu.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri yang berusaha lebih baik lagi, dan menitipkan diri dan suaminya pada Sebaik-Baik Penjaga
Kiki Barkiah
Baca juga – Renungan Pasutri 05

Renungan Pasutri 05 – Agar Istrimu Bahagia Beribadah Di Dalam Rumah


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 05 – Agar Istrimu Bahagia Beribadah Di Dalam Rumah

Suatu hari tiba-tiba suami berkata pada saya
Suami: ummi…. terimakasih ya ummi sudah mau di rumah!
Ummi: ya pak, doain dan bantu ummi ya walau di rumah tetap bisa bermanfaat untuk ummat. Ummi ingin sekali bisa mengajar minimal 1000 orang setiap hari.

Ada pancaran senyum ketulusan dan kebahagiaan dari suami karena saya tau hanya itulah yang ia minta pada saya saat masa taaruf pernikahan kami. Anak-anak diurus dan dididik langsung oleh ibunya. Hanya itu yang ia minta dari seorang mahawiswi yang tak pernah berada di rumah kecuali di malam hari, karena selalu menghabiskan waktu untuk sekolah dan berorganisasi. Hampir tak percaya juga bahwa saya bisa menikmatinya saat dulu di masa taaruf saya berkata “kalau kemarin kan saya masih mahasiswa, ya saya ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang mahasiswa. Kalo besok kan saya istri dan ibu, maka saya pun akan berusaha yang terbaik menjalankan amanah baru” inilah jawaban dari sebuah pertanyaan keraguan beliau pada saya di masa taaruf “kalau sibuknya kayak begini, kapan ngurus anaknya?” Setelah beliau membaca sederetan aktifitas dari biodata saya.
Meminta saya di rumah telah diiringi berbagai upaya terbaik dari suami agar saya senyaman mungkin dapat beribadah di rumah sekaligus memenuhi harapan yang menjadi kebahagiaan beliau. Ia tau saya adalah seorang aktifis yang sangat tidak bisa menahan diri untuk tidak aktif berkontribusi di masyarakat. Ia juga tau bahwa saya tetap ingin memiliki sumber penghasilan sendiri sebagai persiapan masa janda. Ia sangat menyadari tentang sebuah permintaan yang saya ajukan saat akan menikah. Satu saja…. beliau bersedia bersama saya berjuang di jalan dakwah. Sebuah jalan yang belum pernah beliau kenal sebelumnya. Karena menurut pengakuannya, ia baru saja mendekatkan diri kepada Allah dan kepada mesjid tepat beberapa hari sebelum pertemuan kami di sebuah mesjid atau kira-kira dua bulan sebelum pernikahan kami.
Alhamdulillah ia masih berusaha melaksanakan hafalan quran surat as-shaf yang ia lantunkan di malam pertama kami, sebagai permintaan saya sebelum menikah dengan beliau. Sebuah ikrar untuk bersama-sama menuntut ilmu islam dan berjuang membela agama Allah. Ia yang tidak sering bersentuhan dengan kajian islam menjadi bersedia dan kini rajin mendalami islam, jauh melebihi ilmu yang saya miliki.
Ia minta saya di rumah, mengurus dan mendidik anak-anak, maka ia pun berusaha agar nafkah tercukupi tanpa saya harus keluar rumah. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta diijinkan untuk berkarya dari rumah. Ia pula yang menyokong setiap rintisan usaha kami dari dalam rumah. Ia yang bangun sebelum subuh membantu membuat kue dan menghias kue hias, saat saya merintis usaha bakery. Ia yang terjun langsung mendukung saat saya merintis sekolah dinkota Batam lengkap berupa dukungan moril dan materil. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta dibekali sekian buku dan sekian sarana prasarana yang membantu saya mendidik dan mendampingi aktifitas anak di rumah, maka ia pun selalu meluangkan hartanya untu investasi pendidikan anak agar saya senang dan nyaman mendidik anak di rumah . Ia minta saya di rumah, tapi saya minta dukungannya saat harus aktif dalam dakwah. Ia yang menjaga anak saat saya harus mengikuti atau mengisi kajian islam. Ia juga turut membantu segala tek-tek bengek keperluan acara dakwah yang sedang saya kerjakan. Ia yang membantu mendukung dana pada setiap proyek amal yang saya inginkan. Ia berusaha selalu memenuhi janjinya untuk mendukung saya memberi kebermanfaatan kepada ummat sehingga saya pun semakin bahagia memenuhi perintah Allah dan permintaan beliau untuk berada di dalam rumah. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta diantar keluar rumah setiap akhir pekan untuk mengumpulkan energi dan semangat dalam mengurus anak-anak. Maka ia pun selalu pergi di akhir pekan di tengah kelelahannya demi membahagiakan saya dan anak-anak. Ia minta saya di rumah, tapi saya ingin tetap bisa mempelajari agama. Ia pun membelikan buku-buku untuk saya menuntut ilmu, menyediakan akses internet untuk saya belajar, dan membantu agar sesekali dapat menuntut ilmu di luar.
Ia minta saya di rumah, ia tau bahwa minat dan bakan saya dalam dunia menagajar dan tulis menulis, maka beliau pun meluangkan waktunya untuk mengedit tulisa dan memanage blog dimana saya sudah tak memiliki waktu melakukannya. Ia minta saya di rumah, dan ia tau betapa saya tidak pede mengajar homeschooling anak-anak yang sudah usia smp. Maka karena beliau meminta saya untuk homescooling anak-anak, maka beliau pun meluangkan waktu mengajar anak-anak pada mata pelajaran yang saya tidak menhuasainya. Ia minta saya dirumah, dan ia tau terkadang suasana penat terasa saat menghadapi berbagai tingkah laku anak-anak. Maka telinga beliau setia mendengar setiap curahan hati saya meski terkadang kelelahannya membawa matanya terpejam. Ia minta saya di rumah, dan ia tau terkadang saya lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya, maka sepulang kantor ia sering memegang sapu dan pel untuk mengurangi kelelahan saya. Ia minta saya dirumah, ia tau terkadang saya kehabisan ide mengolah masakan di dalam rumah dan ingin sesekali merasakan citarasa masakan yang lain. Maka sesekali ia menemani saya memasak masakan ribet atau membawa kami makan di restoran yang terjangkau baginya.
Ia minta saya di rumah, maka ia mendukung apa saja yang masih mampu ia lakukan agar saya dapat mengaktualisasikan diri, meningkatkan kapasitas diri, beribadah lebih baik pada Allah, mengamalkan ilmu, menyalurkan minat dan bakat, memiliki tambahan penghasilan, dan apa saja yang bisa membuat saya bahagia dan menikmati salah satu perintah Allah dalam Al-quran untuk tetap berada di rumah.
Perintah berada di rumah adalah perintah Allah
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Q.S Al ahzab 33
Namun pelaksanaan ibadah ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan terbesar adalah suami tercinta yang membantu agar sang istri merasa mudah dan bahagia menjalankan perintah Allah untuk berada dirumah. Maaf sahabat, jika tulisan ini dirasa terlalu jujur. Saya hanya ingin menyampaikan para suami betapa dukungan suami begitu dibutuhkan agar para istri dan ibu dapat dengan baik melaksanakan perintah Allah untuk berada di rumah. Kecukupan, kenyamanan, perasaan aman, dan apa saja yang membuat para wanita merasa bahagia dan bisa menikmati keberadaanya di dalam rumah. Bukan hanya tuntutan lalu membiarkannya berjuang sendirian. Betapa beratnya menjadi seorang suami dan ayah itulah mengapa menikqh adalah salah satu mitsaqon ghaliza atau perjanjian teguh dalam al quran
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang aktifis yang bahagia melaksanakan perintah Allah untuk berada di dalam rumah
Kiki Barkiah

Baca juga – Renungan Pasutri 04

Renungan Pasutri 04 – Management Konfilk Dalam Rumah Tangga

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 04 – Management Konfilk Dalam Rumah Tangga

Tidak ada rumah tangga yang tidak memiliki konflik di dalamnya. Namun masih banyak rumah tangga yang merasa bahagia ditengah konflik yang dihadapinya. kehadiran konflik dalam rumah tangga adalah sebuah keniscayaan namun kebahagiaan adalah hak yang bisa diterima bagi siapa saja yang ingin memperjuangkannya. Rumah tangga yang berbahagia adalah rumah tangga yang mampu mengelola konflik yang dihadapi menjadi tambahan-tambahan kebaikan bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Berikut beberapa prinsip yang bermanfaat untuk diingat dalam mengelola konflik dalam rumah tangga. Beberapa prinsip tersebut dirangkum dalam sebuah kalimat MENIKAH KARENA ALLAH.
M – Mengawali niat pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Banyak konflik dalam rumah tangga yang muncul karena kesalahan niat awal pernikahan. Jika konflik yang kita alami dalam rumah tangga terasa terus melebar dan berkepanjangan, ada baiknya untuk mengevaluasi kembali niat awal dalam menikah. Jika terlanjur salah atau ternoda dalam niat menikah di awal, sebaiknya segera mengajak pasangan bertobat bersama kepada Allah dan menata hati untuk meluruskan kembali niat pernikahan. Memaksakan melanjutkan pernikahan dengan niat awal yang salah akan lebih banyak menguras energi dan membutuhkan banyak pengorbanan dibanding energi dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan.
E- Evaluasi akar permasalahan rumah tangga. Lihat tanda-tanda penyakit penyebab konflik rumah tangga. Adakah tanda- tanda tersebut terjadi dalam rumah tangga kita? (Lihat Renungan Pasutri 03)
N- Notifikasi akar permasalahan yang kita rasakan kepada pasangan dalam komunikasi yang terencana dan dilakukan dalam suasana yang spesial. Bersiaplah dengan segala macam kemungkinan respon yang akan diberikan. Apa yang kita pandang sebagai permasalahan belum tentu disadari sebagai sebuah permasalahan bagi pasangan kita. Lakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan diatas itikad baik dalam melakukan perbaikan bersama, terutama bila sumber permasalahan berasal dari pasangan.
I- Itikad baik dalam menyelesaikan konflik rumah tangga sebaiknya di awali oleh permintaan maaf atas kontribusi kesalahan yang kita lakukan kepada
pasangan sebelum menuntut pasangan meminta maaf dan melakukan perbaikan diri
K – Klasifikasi permasalahan berdasarkan tingkat urgensi dan besarnya dampak. Pilah mana yang akan menjadi prioritas untuk diselesaikan. Prioritaskan akar permasalahan yang akan lebih dulu diselesaikan terutama jika saat kita menyelesaikannya maka akan turut menyelesaikan permasalahan yang lain
A – Ajak pasangan berkomitmen bersama memperbaiki salah satu sumber penyakit yang menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Bisa jadi dalam bentuk mengubah pandangan atau membangun kebiasaan baru. Sepakati waktu yang dibutuhkan untuk “latihan” memperbaiki rumah tangga. Tentukan kapan waktu evaluasi akan dilakukan. Selama masa “latihan”, semua pihak sebaiknya bersikap terbuka terhadap “peringatan” yang disampaikan pasangan bila kebiasaan atau kesalahan lama masih sering dilakukan. Lakukan perbaikan secara bertahap dan satu-satu agar perkembangannya dapat lebih mudah untuk di evaluasi.
H – Hargai setiap perkembangan perbaikan sikap pasangan meski hanya sedikit. Sampaikan rasa syukur kita kepada Allah dan kepada pasangan kita dengan menyampaikan perbaikan keadaan yang dilahirkan dari perbaikan sikapnya. Sebagai contoh jika permasalahan utama selama ini karena penyakit “asma” asal menyapa, maka hargailah saat pasangan kita bersedia mengobrol dengan pembicaraan berkualitas walau hanya 15 menit satu hari.
K – Komunikasi yang sehat adalah kunci keberhasilan dalam menyelesaikan konflik dalam tumah tangga dan membangun rumah tangga sehat yang minim konflik. Pasangan kita yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik serta memiliki pandangan yang baik, pandangannya belum tentu dapat diterima dengan baik jika komunikasi tidak dilakukan dengan cara yang baik dan tepat. Begitu juga sebaliknya, pandangan kita yang baik belum tentu diterima dengan baik oleh pasangan kita. Karena komunikasi yang tidak baik, banyak muncul problematika rumah tangga pada pernikahan pasangan yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik.
A – Alokasikan waktu untuk berkomunikasi secara khusus bersama pasangan kita, sesibuk apapun aktifitas kita. Kesibukan kita mencari nafkah tidak boleh sampai menghilangkan alokasi waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan kita karena komunikasi dengan pasangan adalah sarana dalam memberi nafkah batin kepada pasangan. Melalui komunikasi pula seorang imam keluarga dapat melaksanakan kewajiban membimbing dan menjaga keluarga dari api neraka. Jika sampai tidak ada waktu berkomunikasi secara khusus dengan pasangan bagi seorang imam keluarga, maka ia harus mencari cara lain untuk menggugurkan kewajibannya dalam membimbing dan menjaga keluarga dari api neraka.
E – Efektifkan komunikasi bersama pasangan, dengan tidak mengharapkan pasangan mengerti perasaan dan pandangan kita melalui sikap-sikap yang tidak dewasa atau sikap yang tidak secara eksplisit disampaikan. Jangan berharap suami dapat mengerti apa yang istri inginkan jika istri tidak mengatakan secara lugas keinginannya. Pada umumnya para lelaki kesulitan menangkap pesan secara implisit. Sampaikan secara terbuka dengan penuh rasa hormat tentang apa yang kita harapkan. Para lelaki sangat tidak suka bila kemampuannya diragukan, keberadaannya diabaikan, kehadirannya tidak diperlukan, pertolongannya tidak diharapkan. Oleh karena itu gunakan pesona wanita yang penuh kelembutan dan tunjukkanlah betapa peran dan keberadaannya sangat berarti sehingga para istri dapat menarik hati para suami.
N – Nasihat, pendapat, pandangan, kritik, saran, dan bimbingan suami kepada istri akan dapat diterima dengan baik bila disampaikan dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan pengertian. Awali pesan yang ingin disampaikan dengan mendengar dan memahami keluh kesah istri. Pada umumnya para istri lebih mengharapkan para suami mendengarkan dan memahami apa yang ia rasakan dibanding memberi masukan apalagi menentang secara lugas dengan mengabaikan perasaannya. Maka sebelum menyampaikan pesan, pikatlah perasaan istri dengan mengakui perasaaannya. “Mas mengerti perasaanmu, tapi dalam pandangan mas….” Jika kebutuhan istri untuk mengungkapkan perasaaannya tidak dapat dipenuhi oleh suami, pada umumnya para istri akan mencari jalan lain untuk mengungkapkan perasaan mereka.
A – Atur waktu dan momen yang tepat saat membuka komunikasi yang serius, terutama saat menyesaikan konflik dalam rumah tangga. Biasanya para istri sangat berharap segera mengungkapkan perasaannya ketika suami pulang ke rumah. Di saat yang sama suami membutuhkan waktu sejenak untuk melepas lelah. Begitu juga anak-anak yang terkadang merindukan ayahnya untuk segera bercengkrama. oleh karena itu, waktu di mana para suami pulang kerja biasanya menjadi waktu yang kritis yang cukup menentukan suasana keluarga setelahnya. Meminta pengertian dan kerjasama anak-anak biasanya lebih sulit dilakukan dibanding meminta pengertian dan kerjasama orang dewasa. Selelah apapun ayah sepulang bekerja, usahakan meluangkan waktu dan tenaga untuk sejenak bercengkrama dengan anak-anak. Sebesar apapun keinginan istri untuk segera meluapkan perasaaannya, usahakan menahan diri dan memberi waktu agar suami bisa bercengkrama dengan anak-anak dan sejenak melepas lelahnya. Pada umumnya para pria memiliki kebutuhan untuk mengerjakan hobby dan kegemarannya sebagai sarana melepas lelah sepulang kerja. Sebagian diantara mereka melampiaskannya dengan membuka gadjet untuk membaca berita, baik politik, olahraga atau teknologi. Saat emosi istri sedang tidak sehat, melihat para suami sibuk dengan gadjet biasanya memperburuk suasana. Oleh karena itu, para suami hedaknya dapat lebih peka melihat ekspresi wajah istri sepulang kerja, tanyakan apakah istri sedang memiliki kebutuhan untuk di dengar dengan segera. Di sisi lain, sebaiknya para istri segera meminta waktu kepada suami bila merasa membutuhkan mereka untuk segera mendengar keluh kesah. Jangan berharap suami mengerti ekspresi istri dengan sendirinya.
A – Alihkan energi negatif dengan menyibukkan diri para kegiatan positif saat merasa emosi sedang memuncak. Membaca al-quran merupakan terapi yang sangat efektif untuk menenangkan diri. Jika perasaan sudah tenang, bukalah komunikasi dengan pasangan kita. Jangan menemui dan berbicara dengan pasangan dalam kadaan emosi memuncak, apalagi bertengkar di hadapan anak-anak. Bagaimana anak-anak akan belajar menghargai dan menghormati orang lain. Jika istri tidak menghormati suaminya, jika suami tidak menghargai istrinya sementara suami dan istri bertengkar dihadapan anak-anak.
L – Lakukan upaya penyelesaian konflik secara bertahap dan berproses. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepribadian seseorang, oleh karena itu butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubahnya. Bantu pasangan kita untuk bisa bersikap sesuai dengan yang diharapkan bersama, dibanding menyalahkan dan menuntut perubahannya. Terkadang sifat dan sikap yang sudah menjadi karakter dasar seseorang sudah sulit untuk diubah, namun kita bisa memilih sikap yang tepat dalam menghadapi tabiat tersebut serta membuat kesepakatan untuk meminimalisir dampaknya agar konflik dalam rumah tangga tidak melebar dan berkepanjangan. Tetaplah percaya bahwa atas ijin Allah kita dan pasangan kita bisa berubah menjadi lebih baik. Meski terkadang perubahan itu membutuhkan waktu yang panjang bahkan sampai bertahun-tahun.
L – Lihatlah keadaan rumah tangga orang lain yang jauh lebih bermasalah, sehingga lebih banyak hal yang sudah kita miliki dapat kita syukuri. Perasaan syukur itu bukan berarti menjadikan kita terlena dan membiarkan masalah, karena kebahagiaan adalah hak yang harus kita perjuangkan. Perasaan syukur akan memberi energi dan motifasi bagi kita bahwa bersama Allah kita mampu melewatinya. Selama problematika yang kita hadapi bukan dalam bentuk musibah agama, berbahagialah! Karena problematika merupakan bagian dari kasih sayang Allah untuk meningkatkan derajat hamba-hambaNya.
A – Apabila problematika rumah tangga yang kita hadapi berupa musibah dalam hal agama, herhati-hatilah! Karena itu adalah musibah terbesar bagi seorang manusia di dunia. Bersegeralah mengupayakan perubahan-perubahannya jika kita benar-benar merindukan untuk berkumpul kembali di surga. Jika kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan dosa kepada Allah, bersegeralah mencari ampunan Allah. Namun jika kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan manusia, bersegeralah menyambung dan memperbaiki kembali silaturahim dengan mereka jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.
H – Hadirkan Allah selalu dalam pernikahan kita, insya Allah kita akan bahagia meski konflik dalam rumah tangga datang silih berganti untuk menguji keimanan kita. Hadirkan Allah dalam pernikahan kita dengan menjadikan niat menikah karena Allah, karena mencari keridhoan Allah. Kita menikah dengan pasangan yang dipilihkan Allah, maka apapun keadaan pasangan kita, jadikan itu sebagai sarana beribadah kepada Allah serta meraih surganya Allah. Menikah karena Allah berarti menjalankan pernikahan diatas hukum Allah, maka apapun konflik yang kita hadapi, hadapilah dengan cara yang Allah ridhoi. Menikah karena Allah berarti menyelesaikan permasalahan dengan hukum Allah. Jikalau pada akhirnya, kita memilih menyelesaikan konflik dengan berpisah, maka berpisahlah karena Allah lebih kita pilih dari apapun juga. Mintalah kemudahan dan pertolongan kepada Allah agar dapat menyelesaikan konflik dalam rumah tangga serta mengganti konflik tersebut dengan karunia yang lebih baik. Oleh karena itu senantiasalah menjaga hak-hak Allah agar Allah pun berkenan menyegerakan pertolongan-Nya.
Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap konflik rumah tangga yang kita alami. Sehingga apapun konflik yang kita hadapi menjadi tambahan kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allah melindungi rumah tangga kita dari konflik yang hanya akan memberikan tambahan keburukan bagi kehidupan di dunia dan akhirat.
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang istri yang senantiasa berusaha mengelola konflik dalam rumah tangganya
Kiki Barkiah
sumber gambar www.opendbteam.com
Baca juga – Renungan Pasutri 03 – Beberapa Penyakit Penyebab Konflik Dalam Rumah Tangga