Bisikan Mesramu Mencerahkan Hariku

Cahaya fajar melenyapkan kegelapan malam. Suara azan Bilal menghilangkan kesunyian Madinah. Saat itu Rasulullah tengah terlelap. Mengistirahatkan raga di waktu menjelang fajar setelah menjalankan Qiyamullail cukup lama.

Kala Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah bangun, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak dan bersiwak. Setelah itu membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya jua kita semua dibangkitkan.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah itu beliau bangun. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika perlu berwudhu maka beliau berwudhu.  Setelah itu beliau shalat sunnah dua rakaat  fajar.
Seusai shalat, jika istri beliau sudah bangun, beliau menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti apa kiranya seorang istri yang mencintai, yang memulai cahaya-cahaya hari dengan kata-kata cinta dari suaminya?
(Dikutip dari Al Yawm An Nabawy)
Lihatlah  bagaimana Rasulullah memulai harinya. Bisa jadi ini hanyalah sekitar 15 menit dari rutinitas beliau sejak bangun paginya. Betapa banyak hal kecil yang mungkin terlewat bagi kita. Atau bahkan bisa jadi sepele dan diacuhkan oleh kita, namun tak pernah ditinggalkan Rasulullah.
Siapakah di antara kita yang bangun tidurnya langsung bersiwak? Membersihkan gigi dan mulutnya sebelum berdoa kepada Rabb-nya?
Perhatikanlah, mengapa Rasulullah bersiwak dulu baru berdoa? Rasulullah berdoa setelah bersiwak karena ingin membuat Rabb-nya senang.
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,”Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.” (HR. An Nasai).
Hadits ini menunjukkan penegasan bahwa bersiwak bukan hanya untuk gigi saja, namun dimaksudkan untuk kebersihan dan memberikan aroma wangi, bukan hanya menghilangkan kotoran saja. Maka keutamakan siwak ini bukan hanya memiliki manfaat religi namun juga duniawi.
Hal detail lainnya yang sering terlewat dicermati oleh kita adalah Rasulullah itu bangun lebih dahulu dari istrinya. Yang dilakukannya ketika melihat istrinya bangun adalah membisikkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan untuk didengarkan istrinya.
Bagi pasangan yang sudah lama menikah, yang sering terjadi adalah sang suami tidak lagi suka mengungkapkan kata-kata mesra yang membahagikan istri, karena menganggap toh sang istri pasti sudah tahu perasaannya. Kata-kata itu tidak lagi penting, demikian mungkin menurut logika suami.
Namun para suami, contohlah Rasulullah… Justru karena beliau adalah orang terbaik bagi keluarganya, maka beliau memahami benar betapa pentingnya ungkapan dan kata-kata membahagiakan itu untuk para istri. Maka tidak bosan beliau mengungkapkan rasa.
Aroma mulut yang wangi berpadu harmonis dengan kata-kata mesra penuh cinta… ah, indahnya….
Sungguh mood booster luar biasa untuk memulai hari yang padat bagi para istri.
Bila para suami masih berpikir bahwa kata-kata tidaklah penting, yang penting adalah perbuatan…
Bagaimana bila dua-duanya? Karena Rasul kita mencontohkannya…
Wahai para suami, sungguh, bisikan mesramu mencerahkan pagi istrimu…

Menikah Butuh Perjuangan…

Dulu saya pikir menikah itu sederhana urusannya. asalkan ada 2 orang dah saling suka maka tinggal menjalani saja. tapi ternyata, saya mendapat banyak ilmu sejalan dengan kenyataan dan pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. bahwa menikah tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. apalagi sebagai seorang mukmin, menikah bukan sekedar kawin. menurut saya, menikah bagi seorang mukmin ada 2 nilai yang besar: Pertama, menikah itu urusan hati yang terdalam jadi kita jangan hanya menggunakan logika belaka. Kedua, menikah itu sama dengan membangun peradaban. karena rumah tangga adalah madrasah pertama dalam membangun peradaban yang lebih besar.

Apabila ada keinginan menikah maka ada ujian2 yang menanti. terutama ujian hati dan ujian niat yang utama. niat kita diuji sejak awal, apakah tetap lillahi ta’ala atau tidak. dan hal ini bukan perkara sederhana, karena hati itu mudah berbolak balik. kadangkala kita sudah sedemikian mantap meniatkan nikah untuk ibadah, namun tiba2 hati kita goyang kembali dan menjadi ragu.
Kemudian adalagi ujian kemantapan. apakah kita sudah mantap dengan calon atau orang yang kita pilih menjadi pasangan hidup kita. bisa jadi masalahnya sederhana, asalkan agamanya bagus maka mantapkan hati. tapi ternyata tidak sesederhana itu. karena seringkali hati ini begitu rumit. kadang ada hal2 kecil yang membuat hati ragu akan pilihan itu. kadang ada sesuatu yang mengganjal di hati, tapi itu hanya diri kita yang tau (dan Allah tentunya), dan kita gk bisa menceritakan hal itu ke orang lain. sebetulnya kuncinya mudah saja, yaitu sholat istikharah. Allah telah memberi kita kesempatan untuk meminta Keputusan-Nya, dalam sholat. dan apabila kita ragu maka kita boleh membatalkan proses. nah, inilah masalahnya, saya sering merasa ragu setelah istikharah. saya tidak tahu, ragu ini datang dari Allah atau dari bisikan setan. Astaghfirullah, ternyata iman ini masih begitu tipis untuk mengenal petunjuk-Mu, ya Allah……
Kemudian ujian2 lain menanti dalam proses menuju pernikahan. ujian bisa datang dari diri sendiri, dari calon pasangan, dari pihak2 yg terkait. karena menikah itu juga berhubungan dengan kehidupan sosial yang melibatkan org banyak, bukan hanya urusan 2 insan saja. masalah yang timbul bisa saja begitu rumit. sebagai seorang mukmin kita ingin pernikahan berjalan sesuai dengan syariat Allah dan sunnah Rasul. namun, tidak semua orang bisa paham hal demikian. maka butuh perjuangan untuk menujudkan pernikahan islami seperti itu.
Ujian lain juga menanti, antara lain memikirkan kehidupan setelah menikah. tentunya setelah menikah kita tidak lagi hidup sendiri. tidak mungkin istri kita kita tempatkan di kost2an kita yang isinya cowok semua khan? hehe…. dan aktivitas kita setelah menikah juga berubah. tadinya kita memikirkan sesuatu dengan “caraku”, maka setelah menikah berubah menjadi “cara bersama”.
Itulah, sebagian kendala yang saya rasakan hadir dalam proses pernikahan. mungkin belum semuanya, karena ada hal2 yg terlupa dan belum saya ungkapkan. namun, intinya satu hal menurut saya. ujian pernikahan yang utama adalah mengenai niat atau hati. kalau niat benar2 lillahi ta’ala, maka apa yang ditakutkan? Allah selalu siap dengan pertolongan-Nya.
Menikah Butuh Perjuangan…
TarbiyatulAulad.com

Wanita Shalihah Taat Kepada Suami

✿ Wanita Shalihah Taat Kepada Suami ✿

Wanita shalihah pada hakikatnya mengakui bahwa keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bergantung kepada keridhaan suaminya, oleh karena itu ia senantiasa berusaha maksimal taat dan memenuhi hak-hak suaminya. Mengharap keridhaan suaminya dan menjauhi kemurkaan suaminya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda :
“Wahai sekalian kaum wanita, bertaqwalah kepada Allah dan peganglah keridhaan suamimu.Sesungguhnya seorang istri jika mengetahui hak-hak suaminya, niscaya ia akan berdiri selama makan siang dan makan malamnya.” (H.R. Abu Nu’aim).
Taat yang dimaksud adalah taat yang diselaraskan dengan ketaatanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika ia berhadapan dengan perintah maka ia segera melaksanakan dengan penuh hati dan keikhlasan.Dan ketika berhadapan dengan larangan Allah Subhananu wa Ta’ala, maka ia pun segera meninggalakanya segala larangan tersebut.
Demikian juga wanita shalihah dengan ketaatannya dengan suami selama perintah dan larangannya selaras dengan apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka akan berusaha memenuhi semua hak-hak suaminya. Tapi bila suaminya lalai dalam menunaikan perintah Allah Subhanhu wa Ta’ala. Dia selalu mengingatkan suaminya.
Dalam Ajaran Islam hak dan kewajiban suami istri telah ditentukan, diantara sekian banyak ayat dan hadist mengenai hak seorang suami terhadap istrinya, pada intinya adalah bahwa seorang istri hendaknya menjaga ketaatannya pada suami, menjaga kehormatan dirinya, menjaga harta suaminya, dan menjaga lisannya terhadap suami dengan tidak menyakiti suaminya dengan perkataannya. Ada beberapa adab-adab yang bisa dilakukan seorang istri untuk menyenangkan suaminya diantaranya yaitu :
❀❀.•• (`’•.¸ •.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•¸*¤* ﷲ¸¸.•*¨*•♫¸✿¸.
1.Ketika suami sedang berbicara,dengarkanlah dengan baik,diam dan tidak memotong pembicaraannya.
2. Ketika suami bersikap (marah mendidik) hendaknya diterima dengan syukur, tidak menjawab apa-apa dan bersabar,karena terkadang suami sengaja menguji kesabaran.
3. Ketika suami hendak memerlukan, dahulukan kehendaknya dari pada yang lain.
4. Ketika berhadapan dengan suami senantiasa berwajah manis dan berhias dengan aroma wewangian.
5. Ketika dengan keluarga suami, muliakan dan hormati kedua orang tuanya sebagaimana kita memuliakan orang tua sendiri, karena orang tua suami adalah juga merupakan orang tua kedua.
6.Ketika suami dirundung masalah. Jaga ketentraman hatinya dan membantu menyelasaikan masalah suami sekurang-kurangnya menunjukkan sikap gembira.
7. Ketika suami dirundung duka, memahami perasaan suami, dengan ikut merasakan dukanya dengan memberikan motivasi sehingga kegembiraannya muncul kembali
8. Ketika berhadapan dengan materi’ berusaha menjaga harta suami dengan baik dan mempergunakannya ke hal-hal yang manfaat.
9. Ketika suami jadi kepala rumah tangga, memahi suami jika dia pemimpin, maka bantu dia dengan mengerti segala hal kebaikan, jika ia guru maka lengkapilah dia dengan ilmu, hendaknya menerima dengan apa adanya.
10. Ketika berhadapan dengan keinginan, tidak menyusahkan suami dengan keinginan pribadi yang berlebihan, karena lebih bijak mendahulukan kebutuhan mendesak yang prioritas utama, dan keinginan bisa ditunda.
11.Pastikan niat kita melayani suami dengan niat ikhlas semata-mata mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan senantiasa mendoakan suami.
12. Senantiasa mendorong suami agar giat dalam beribadah serta bersungguh-sungguh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ciptakanlah kasih sayang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
13. Senantiasa merasa cukup dengan apa-apa yang ada (qana’ah).dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
14. Ketika suami bersalah. Tunjukanlah sikap kasih sayang serta hormat pada suami dan mengerti bahwa pada hakekatnya semua manusia tidak luput dari khilaf dan kesalahan, dan tidak menghukumnya berlebihan dengan kesalahan yang dilakukannya.
Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, . Mudah-mudahan untaian catatan sederhana diatas bisa memberi manfaat buat kita semua,baik yang sudah menjalani keluarga maupun yang akan menyongsong keluarga kelak menuju Sakinah Mawadah Wa Rahmah.
Yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di Ridhai dan di Cintai-Nya..Aamiin Allahuma AAmiin…
❀.••Walhamdulillah Rabbil’alamin ••.❀
Abdul Haris Muenthazzar

Udah Putusin Aja

1. apa bedanya, lelaki yang sudah beristri lalu selingkuh sama lelaki yang lagi berpacaran? | hakikatnya sama, mereka sama-sama maksiat

2. lelaki beristri pegang selingkuhannya, lelaki pacaran pegang pacarnya | sama-sama pegang cewek yang belum dinikahi kan? sama maksiat

3. anehnya, banyak cewek ngarep dapet suami setia, tapi mulai dengan pacaran | lha gimana, dari awal dia sudah latian maksiat ama kamu

4. sama Allah aja berani | apalagi cuma sama istri

5. perkara yang aneh, ngarep cowok soleh tapi pacaran | sama anehnya, ngarep jadi imam dirimu, tapi dianya nggak taat Allah

6. jadi ya wajar banget selepas nikah kamu punya banyak masalah | sebab dari awal hubungannya bukan karena Allah

7. maksiat itu bikin ketagihan, dan selalu menuntut level yang lebih tinggi | latihannya sama kamu pas pacaran, besoknya sudah ahli dia

8. kalau kamu bener-bener ngarep lelaki yang bisa jadi imam, tanggung jawab, baik, bisa diandalin | cari yang taat sama Allah Swt

9. kalo dia taat sama Allah, dia pasti gentle, pasti bahagiain kamu | minimal dia nggak akan nyusahin kamu dengan maksiat

10. cari suami itu yang mirip-mirip Rasulullah Muhammad, itu baru lelaki | lelaki yang memuliakan Allah, akan memuliakan wanita, insyaAllah

11. cari lelaki baik, yang taat pada Allah | bukan yang berani maksiat, nyesel nanti ‪#‎UdahPutusinAja‬

Udah Putusin Aja
Ustadz Felix Siauw

Mencari Berkah Pasca Nikah

1| Ini bukan tentang barca versus madrid. Tapi bagaimana mencari barca (alias berkah) pasca married
2| Berkah itu penting. Jika tak ada dalam rumah tangga, suasana bisa genting. Masalah datang menambah pusing
3| Rasul menegur sahabat yang mendoakan pengantin : ‘bir rifa-i wal banin’. Semoga kalian rukun dan banyak anak. Ini bukan ajaran addin
4| Doa yang utama bagi pengantin adalah mendapat berkah. Sebab berkah mendatangkan sakinah. Setiap penghuni merasa betah di rumah
5| Doa yang hanya fokus kepada banyak anak dan kerukunan adalah doa jahiliyah. Sebab urusan nikah terkait dengan ibadah. Maka yang dicari adalah berkah
6| Berkah bermakna ziyadatul khair ‘bertambahnya kebaikan’. Jika kebaikan bertambah, maka keburukan terusir sudah. Lenyaplah masalah
7| Rumah tangga ibarat tanah lapang. Jika tak ditanam pepohonan, yang tumbuh rumput ilalang. Kebaikan hilang, keburukan datang
sunglasses emoticon Jika anak mulai berulah, pasangan suka marah-marah, orang lain ikut campur masalah, hati gelisah, semua bermula dari tak adanya berkah
9l Jangan buru-buru datang ke psikolog, jika nilai anak di sekolah jeblok. Jangan buru-buru ke konselor jika dengan pasangan tak saling tegor
10| Sebelum minta bantuan orang tuk tangani masalah rumah tangga kita, mari tengok apakah berkah telah tumbuh subur dalam keluarga kita
11| Sebab perkara rumah tangga bukan sekedar bahas aspek teknis, namun juga aspek non teknis. Saat nilai agama menjadi basis
12| Bagaimana memulainya? Jadikan taqwa sebagai visi utama. Keberkahan bermula dari ketakwaan yang terukir dalam sikap dan perbuatan
13| Bagaimana mungkin mengaku takwa jika dalam rumah tangga yang dibicarakan seputar kemana liburan, jadwal makan, dan rumah idaman
14| Padahal tema pembicaraan dalam keluarga menentukan visi rumah tangga. Jika ortu lebih banyak bicara harta, anak pun jauh dari agama
15| Apa yang sering dibicarakan tunjukkan visi asli kepemimpinan (ath thobari). Jika memiliki visi taqwa, lebih banyak bincangkan seputar agama
16| Maka periksa dialog antar anak. Jika masih seputar mainan atau uang yang banyak, tanda nilai taqwa belum sampai kepada mereka
17| Bermula dari sekedar tema pembicaraan, menentukan datangnya keberkahan. Maka bicarakan kepada anak tentang agama dengan cara menyenangkan
18| Jika taqwa telah rutin dibincangkan, kemudian jadikan bangun pagi sebagai kebiasaan. Hanya keluarga yang rutin bangun pagi yang diberkahi
19| Rasul mendoakan umatnya yang aktif bangun pagi agar dapat berkah. Sebab orang yg bangun kesiangan tanda pribadi yang bermasalah
20| Masalah keluarga bermula dengan menganggap bangun kesiangan sebagai hal biasa. Padahal ini adalah petaka rumah tangga
21| Sebagian besar anak yang candu narkoba dan terpapar pornografi memiliki ciri susah bangun pagi. Sudah terbiasa kesiangan sejak dini
22| Maka, jadikan bangun pagi sebagai kebiasaan di dalam keluarga. Agar keberkahan datang menyapa. Masalah perlahan sirna
23| Dan setelahnya mari perbanyak keberkahan lewat interaksi terhadap quran. Sebab quran sebagai bukti keberkahan dari Allah Ar Rahman
24| Rumah tangga tanpa quran ibarat kuburan. Nampak sepi dan menyeramkan. Malaikat datang merasa sungkan. Masuk rumah pun enggan
25| Jangan biasakan musik lebih terdengar daripada quran. Keberkahan kian terusik berganti hingar bingar kesia-siaan
26| Telinga anak yang terbiasa mendengarkan quran, kan lebih mudah terajak kebaikan. Saat di luar rumah tak terpengaruh teman
27| Dan harus pula jadi fokus orang tua tuk cari tempat tinggal yang diberkahiNya. Salah satunya dekat dengan masjid atau musholla
28| Salah memilih tempat tinggal awal dari pengasuhan yg gagal. Padahal anak dipengaruhi oleh lingkungan, maka cari tempat tinggal yang aman
29| Jika rumah lebih dekat dengan masjid maka anak terdidik menjadi ‘abid. Jika lebih dekat dengan pasar, ia terlatih puaskan syahwatnya yang liar
30| Saat pilih lokasi rumah, jangan terpesona investasi tanah. Tanyakan dimana masjid tempat ibadah. Ini awal keluarga berkah
31| Sebagaimana Ibrahim Ayah teladan memberi pengajaran. Lebih pilih rumah jauh di tanah tak bertuan asal dekat dengan masjid baiturrahman
32| Jika masalah datang berulang kali, bisa jadi saat berkeluarga salah milih lokasi. Keberkahan akhirnya pergi enggan tuk kembali
33| Selanjutnya, jangan abaikan kebiasaan bermain hujan. Dalam air hujan ada keberkahan. Ini janji Ar Rahman yg tertulis dalam quran (50:9)
34| Dalam hujan gerimis tercipta suasana romantis. Dalam hujan lebat, cinta makin tertambat. Ajak keluarga main hujan supaya datang keberkahan
35| Bagi yang hendak bercerai, cobalah dulu bermain hujan dengan pasangan. Hubungan yang retak tiba-tiba terganti cinta yang menghentak
36| Sebagai penutup, pintu keberkahan keluarga mengucur deras dalam aktivitas makan
bersama. Ini adalah ajaran rasul yang mulia
37| Bukan sekedar maknyuss nya makanan yang kau rasa. Tapi kebersamaan saat makan itu yang jadi tujuan utama. Berkah selalu dalam keluarga
38| Luangkan waktu dalam sepekan untuk makan bersama. Ini juga sebagai upaya tuk cairkan suasana. Saling berbagi cerita. Tercipta mesra
39| Tips berkah ini silahkan dicoba bagi yang sudah berumah tangga. Yang masih jomblo, ya imajinasikan aja. Siapa tau jodoh datang segera
40| Jadi sebelum minta bantuan pihak ketiga dalam masalah rumah tangga anda, ajak keluarga mencari berkah bersama. Viva Barca 😀 Sila share jika berguna 

MENCARI BERKAH PASCA NIKAH
by: Bendri Jaisyurrahman 

Calon Suami Yang Baik

cari calon suami itu yang rekam jejaknya bagus walau tak sempurna | ibadah dia segera, taubat nggak ditunda, cinta akhirat tak lupa dunia
lelaki yang santun pada orangtuanya, pandai bahagiakan keduanya | kemungkinan besar santun-ramah pada istrinya, dan bahagiakan istrinya
lelaki yang menomorsatukan Allah, dan senantiasa taat saat dia sendiri | akan jauh dari maksiat dan selalu dirindukan saat sudah beristri
lelaki yang senantiasa berdakwah, karena tak mau sendiri dalam taat | nantinya mengajakmu taat berdua, dan menjaga keluarga dari maksiat
lelaki yang hatinya terikat pada masjid, lisannya basah oleh Al-Qur’an | nantinya jadikan rumah tangga ibadah, syahdu penuh ketenangan
yang celaka, lelaki yang sudah rekam jejaknya jelek, enggan memperbaiki | maksiat dipelihara, kebaikan diolok-olok, sudah taubat kumat lagi
lelaki begini jangan diharap-harap, sudah dinikahi bikin susah | ibunya yang sudah melahirkan saja diabaikan, apalagi kamu
lelaki begini hanya bisa PHP, jangankan janji ke kamu | janjinya kepada Sang Pencipta saja bisa diingkari
lelaki begini minim tanggung jawab, pacaran terus | menikahi belum sanggup, maksiat jalan terus
lelaki begini, shalatnya ditinggal, puasa sekenanya, ibadah lalai | wajar nanti istrinya ditinggal, nafkah sekenanya, bahagia cuma mimpi
calon suami baik, itu rekam jejaknya baik, juga sebaliknya | cari rekam jejak ke ustadznya, bapak-ibunya | bukan dipacari, itu maksiat
calon suami baik itu dilihat dari rekam jejak hidupnya | kalo sekarang berani maksiat, sudah nikah lebih parah lagi
kalau dia taat dia nggak pacaran, kalau pacaran dia berani maksiat | kalau kamu cari calon suami baik lewat pacaran, jelas salah fatal
kalau rekam jejaknya baik, kemungkinan besar calon yang baik | kalau rekam jejaknya hancur, kemungkinan besar calon yang hancur
tentu ada pengecualian yang rekam jejaknya jelek tapi calon suami baik | tapi ya itu, melibatkan rekam jejak lain, taubat-taubat-taubat
‪#‎UdahPutusinAja‬, cari ridha Allah, taat pada Allah | kalau kamu yakin jodoh ditangan Allah, maka taat Allah jalan terbaik dapat suami baik
============

Islam Asyik Deh [Seri 04]

TANYA JAWAB with Bendri Jaisyurrahman
TANYA :
Apa yang membuat remaja lebih memilih pacaran daripada menikah muda? (Andika Bagus Yulianto ~ Jogjakarta)
JAWAB :
Akhi andika yang gak kangen band hehe, banyaknya remaja yang lebih memilih pacaran daripada nikah muda, bisa jadi karena syahwat menyala-nyala namun gak berani tanggung jawab di hadapan Allah. Beraninya ngerayu doang, namun nyali untuk berumah tangga gak ada. Segala kitab rayuan dihafal ampe berbusa-busa. “Bapak Kamu Kabareskrim ya? Soalnya kamu tiba-tiba menyergap isi hatiku saat aku berangkat sekolah” ‪#‎yiiihaaa‬. Si wanita pun klepek-klepek dibuatnya. Tapi pas diminta ngucapin 3 kata doang gak berani. Tiga kata yang dimaksud adalah “saya terima nikahnya”. Nah, 3 kata inilah yang dihindari banyak anak muda pengecut. Makanya, kalau berani, nikahin aja. Atau kalau belum berani, jangan pacaran. Kumpulin keberanian buat ngucapin 3 kata tadi.
Alhamdulillah saya sih udah berani. Bahkan kalau ada yang nantangin sekali lagi? Hmmm, ntar dulu deh. Berani cukup sekali aja. Kalau berkali-kali nekat namanya hehe..
So, apakah dirimu berani?

Benahi Niat Sebelum Menikah

Perbaiki niat saat menikah. Janganlah salah niat menyebabkan melemahnya keyakinan kepada sifat-sifat Allah Ta’ala. Mengharap suami atau menantu kaya karena mengangankan kehormatan dari hartanya, dapat menjadikan kita lupa yang lebih mendasar, sekaligus melalaikan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala yang Maha Kaya. Disamping itu, buruknya niat dapat menjadikan seseorang lemah dan hina, bahkan sebelum ia meraih apa yang ia impian sepenuh harapan.
Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Sufyan bin Uyainah. Ia berkata,  “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sufyan bin Uyainah), aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah (istrinya sendiri). Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. 
Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?” 
“Benar, wahai Abu Muhammad,” tegas lelaki tersebut. 
Ibnu Uyainah berkata, “Barangsiapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Barangsiapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Tetapi barangsiapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama.”
Nasehat Ibnu Uyainah kepada lelaki yang mengadukan nasibnya tersebut kian terasa membekas manakala saya menghadapi kasus demi kasus pernikahan. Qadarullah, terutama sebelum saya membatasi konsultasi pernikahan, banyak yang datang kepada saya untuk meminta pendapat terkait masalah rumah-tangganya. Ada yang tampaknya sangat rumit, tapi ternyata penyelesaiannya sangat sederhana karena kedua memiliki niat yang baik terhadap masalah yang membelitnya. Ada pula yang tampaknya sangat sederhana, tapi penyelesaiannya jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan karena salah satu (apalagi jika keduanya) salah niat saat melangsungkan pernikahan, termasuk salah niat dalam memilih pendamping hidup.
Sungguh, sama orangnya beda niat akan sangat membedakan apa yang akan diraih seseorang dalam pernikahan. Menikah dengan orang yang memiliki harta berlimpah misalnya, bukan merupakan kesalahan jika niatnya benar. Tetapi berapa banyak yang harus mengalami kekecewaan sangat mendalam karena salah niat saat menentukan pilihan.
Suatu saat seorang lelaki datang mengadukan nasibnya. Jauh sebelum menikah, ia memang telah menetapkan kriteria pokok perempuan yang patut dinikahi dan bila perlu dikejar-kejar sampai teraih, yakni cantik, putih, kaya dan syukur kalau cerdas. Empat kriteria ini yang pokok. Adapun kalau luas pengetahuan agamanya, itu bonus saja. Ia memegang prinsipnya itu sejak bertahun-tahun sebelum menikah dan ia konsisten dengan itu. Allah Ta’ala pun rupanya mengabulkan apa yang menjadi impiannya. Ia mendapatkan yang cantik, kulitnya putih, kaya dan cerdas. Ia mendapatkan semuanya, termasuk bonus yang tak terduga. Mertuanya sangat baik kepada dia, tetapi ia tidak siap menerima bonus berupa kenyataan bahwa istrinya sakit jiwa.
—————

Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa

Ini bukan yang pertama. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Anak tak lagi sanggup menyelesaikan pendidikan karena pacaran online. Cemerlangnya otak tiada bermanfaat manakala pikiran sudah tak mampu konsentrasi karena hanyut dalam gejolak perasaan yang dibiarkan liar saat pacaran melalui social media.
Menyegerakan nikah itu sangat baik, tapi bukan tergesa-gesa. Apalagi semata karena sudah tak dapat berpikir yang lain selain pikirkan pacar. Menyegerakan nikah hendaklah karena alasan iman demi memuliakan sunnah. Bukan karena terlalu larut dalam obrolan asmara di social media.
Kita mengharap lahirnya generasi tangguh dari orangtua yang menikah di usia dini karena alasan iman. Masa muda mereka tak terkotori maksiat. Tetapi akan sangat berbeda kalau dua orang muda menikah tergesa-gesa karena sudah tidak mampu memikirkan yang lain dengan baik dan tenang.
Alhamdulillah, saya menikah ketika saya maupun istri saya masih sama-sama kuliah. Tetapi sedari awal saya berniat nikah saat masih kuliah. Artinya, semenjak awal kuliah memang telah mempersiapkan diri secara mental untuk mampu bertanggung-jawab jika menikah saat masih kuliah. Ini tidak sama, sama sekali tidak sama, dengan muda-mudi yang menikah karena sudah terlalu intens mengumbar perasaan di social media.
Pertanyaannya, apakah yang kita ketahui tentang pikiran dan perasaan anak kita di facebook? Mari sejenak kita berbincang kembali, catatan sederhana saya tentang status facebook anak-anak kita: Baca Disini => Status Facebook Anak Kita
—————
Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Tujuan Nikah

Bang bagaimana Islam memandang sebuah pernikahan? 

Abang kembali ingatkan diantara TUJUAN NIKAH bagi seorang mu’min, 
1. Benar benar ingin Ridho ALLAH (QS Al Bayyinah : 5), 
2. Bukti taat, karena zina dosa besar yg terkutuk (QS Al Isro : 32) dan sungguh sekali berzina “tudhiuun arbaiinassannah” membakar 40 thn amal ibadah, demikian kecam Rasul bagi pezina, sebaliknya dg nikah telah meraih “nishfaddiin” separuh nilai kemuliaan agama, SubhanALLAH, 
3. Bukti cinta Rasulullah, “Nikah sunnahku, siapa yg membencinya bukan umatku”, tentu berbeda yg tidak mau nikah dg yg belum menikah, atau sudah banyak ikhtiar tetapi belum juga berjodoh. Sungguh gagal dalam pernikahan lebih baik daripada tdk mau nikah, 
4. Untuk mewujudkan hasrat cinta biologs-psikologs yg dihalalkan dan diberkahi ALLAH, 
5. Meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup sakiinah mawaddah wa rahmah (QS Ar Ruum : 21), 
6. Demi memperbanyak umat Rasulullah, 
7. Menjaga “iffah” kehormatan diri sebagai manusia beriman, 
8. Selamat dari berbagai penyakit dan fitnah sosial, 
9. Mempersiapkan keturunan sebagai regenerasi dakwah.

Karena tujuan inilah kita bangga sekali dan sangat bahagia nikah, sahabatku. “Semoga ALLAH membuka jalan terbaik bagi kita untuk meraih pernikahan yg penuh dg BERKAHNYA…aamiin”. 

Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu terjaga wudhu dan senyumlah…duhai sahabat sholehku.
————
Tujuan Nikah
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham