CKSPA Episode 52 – Satpam Gadget yang Cerewet

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 52

Satpam Gadget yang Cerewet

Di pagi hari sebelum jam 8…..
Ali: “ummi i am done with my standard, can i have my one hour?”

Setiap pagi ada hadiah 1 jam bermain games multimedia atau menonton film non kurikulum homeschooling bagi anak-anak yang telah berhasil menyelesaikan seluruh tugas standar harian di hari sebelumnya. Diantaranya menyelesaikan sekolah, belajar islam, tilawah quran, menghafal quran, membantu orang tua serta mandi di hari mandi (terkait cuaca, rata-rata orang amerika tidak mandi setiap hari, kami membuat jadwal mandi 3 kali dalam setiap minggunya). Hadiah ini dapat diambil setelah menyelesaikan standar tugas pagi sebelum jam 8 pagi. Jika terlambat mempersiapkan standar pagi berarti durasi hadiah disesuaikan dengan waktu yang tersisa. Standar pagi adalah berseka, sarapan, gosok gigi, ganti baju, membereskan kasur. Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, perjanjian bersama didalam keluarga memang dibuat agar semua orang melaksanakan rutinitasnya sehingga kelak menjadi sebuah gaya hidup keluarga.

Kala ada anak yang bermalas-masalan di pagi hari dan belum mau bergerak untuk sarapan, ummi mengangkutnya ke ruang keluarga lalu menyalakan film yang terkait dengan kurikulum belajar islam mereka. Sehingga walau bermalas-masalan dan masih mengantuk, anak-anak biasanya menjadi lebih segar setelah memutar 1 tayangan. Setelah selesai 1 tayangan, ummi memberhentikan sejenak, lalu meminta mereka menyelesaikan standar pagi. Sambil sarapan, biasanya ummi memanfaatkan waktu untuk berdiskusi dari tayangan yang disajikan pagi itu. Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, ummi juga tidak suka melihat anak-anak menganggur tanpa aktifitas. Maka ummi lebih memilih menyalakan multimedia pembelajaran untuk membuat mata anak-anak segar di pagi hari dibanding marah-marah meminta anak-anak bergerak. Toh jika anak tidak juga bergerak, maka 1 jam hadiah itupun berlalu. “ummi i am done with my standard” kata anak-anak yang terlambat mempersiapkan standar pagi. “ok! masih ada waktu 15 menit setelah itu kita mulai sekolahnya”

Kala cuaca sangat dingin bada subuh, biasanya semua orang enggan keluar selimut. “ummi, can i have password, i want to watch Syeikh Yasir Qodhi” kata Ali. Ali mengerti jatah bermain multimedia baru bisa ia dapat setelah menyelesaikan standar pagi, maka jika belum mau menyelesaikannya, ia akan memilih membaca atau menonton salah satu sumber pelajaran yang harus ia pelajari hari itu.

“ummi can i have my one hour, today?”
“sorry, kemarin kamu belum selesai kan tugas sekolahnya” kata ummi pada anak yang tidak menyelesaikan standar hariannya. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet. Jika anak-anak tidak menyelesaikan standar harian di hari kemarin, anak-anak akan kehilangan hadiah 1 jam bersama multimedia.

“ummi i am done hafalan, can i have my 15 minutes?” “yup!” lalu ummi pun membukakan password gadget mereka. “ummi can i have my 15 minutes?” tanya anak yang sudah selesai menghafal. “mmmm… kalo capek mau istirahat boleh main dulu, tapi kalo mau dapat 15 menit games komputer nambah sampai ayat ini ya” kata ummi ketika hafalan harian masih tercapai sedikit. Ah….ummi memang satpam gadget yang cerewet. Diluar 1 jam hadiah multimedia harian, jam multimedia baru didapat setelah hafalan anak-anak ada perkembangan atau setelah selesai murojaah gabungan ayat-ayat yang beberapa hari lalu dihafal. Dulu saat awal-awal menghafal hadiah 15 menit diberikan saat menyelesaikan 1 ayat quran, tapi setelah anak-anak begitu cepat dalam menghafal maka 15 menit baru bisa dicapai setelah beberapa baris hafalan baru tercapai. Suatu hari Shiddiq bertanya “ummi why we change our rules?, i have to hafalan more to get my 15 minutes” Ummi menjawab ” karena kalian sekarang menghafal semakin cepat. Kalo 1 ayat 15 menit sementara 1 ayat kalian hafal hanya sebentar maka akan lebih banyak menonton daripada menghafal quran” lalu saya pun balik bertanya apakah mereka mengetahui alasan saya mengapa saya membatasi jam menonton serta memilihkan jenis tontonan yang dapat mereka lihat. Shiddiq dan Shafiyah pun menjawab, tanda mereka mengerti tentang mengapa peraturan ini harus diberlakukan dalam keluarga.

Pernah ada sebuah pengalaman yang membuat saya tertawa, saat mereka berkunjung untuk playdate ke rumah teman, teman mereka menawarkan untuk menonton film, lalu Shiddiq menjawab “we can’t watch now, we did’t hafalan yet” hahahaha….

“Ummi can i watch this one?” kata anak yang memilih menghabiskan 15 menitnya dengan menonton. “sorry, kayaknya yang ini gak usah deh, gak terlalu banyak manfaatnya, yang di channel ini, ini, ini semua boleh” jawab ummi. Ah….ummi memang satpam gadget yang cerewet, tidak hanya jumlah waktu yang diatur tapi juga jenis games yang diijinkan di install atau judul film yang diijinkan untuk ditonton.

Saat ummi sibuk dan anak-anak diijinkan menonton multimedia pembelajaran. “ummi can we watch another?” tanya anak-anak. “Ya boleh setelah kalian presentasi isi film barusan” Jawab ummi. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat ummi sibuk di dapur dan anak-anak menonton, anak-anak harus berhenti setiap 1 film selesai untuk menjawab quiz atau mempresentasikan isi film, atau mendiskusikan, atau terkadang sesekali ummi menerangkan ulang dengan tambaan alat peraga. Setelah itu ummi pun kembali ke dapur dan anak-anak kembali menonton materi selanjutnya.

Saat berselancar di dunia maya untuk mengerjakan tugas, tiba-tiba keluar peringatan bahwa domain tersebut di blok. Ah… ummi memang satpam gadget yang cerewet. Ummi tidak hanya memberi password semua gadget di dalam rumah tapi juga memfilter semua situs yang dapat berbahaya bagi anak-anak.

Saat malam hari pukul 9.00, semua aplikasi dalam handphone anak-anak menghilang dan baru akan menyala bada subuh. Ah.. ummi memang satpam gadget yang cerewet, bahkan semua device yang digunakan anak-anak memiliki jam kerja tersendiri dan akan mati secara otomatis pada jam yang ditentukan.

Ah…ummi memang satpam gadget yang cerewet. saat ummi sibuk dan tidak bisa mendampingi anak-anak berselancar di youtube, ummi hanya memberikan akses youtube kids dengan durasi waktu yang sudah ditentukan, aplikasi tersebut secara otomatis akan berhenti saat jadwalnya habis dan dapat dibuka kembali setelah ummi membukanya.

Ah….. ummi memang satpam gadget yang cerewet. Setiap pagi ummi akan mengabsen anak-anak yang sedang bermain indoor apakah anak-anak sudah memegang device masing-masing untuk menghafal quran. Ummi pun membuatkan group-group ayat yang akan diputar selama masa menghafal berlangsung. Semua anak menghafal sambil bermain dan sesekali ummi memanggil untuk duduk disampinya dan mentalaqi ayat yang sedang dihafal. Sesekali ditengah anak-anak menghafal, ummi memberikan worksheet-worksheet tugas untuk pelajaran umum di homeschooling anak-anak.

Ah…..ummi memang satpam gadget yang cerewet. Saat anak-anak sudah terlihat bosan dengan kegiatan indoor yang tenang sambil menghafal quran, saat mereka sudah berari-lari dan ingin bermain bebas tanpa memegang device masing-masing, ummi pun akan memutar juz al quran yang sedang dihafal untuk murojaah anak-anak, lalu diputar dalam speaker keras yang terdengar meskipun anak-anak bermain di backyard.

Ah… ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat terdengar suara hening dirumah sementara ummi terlanjur sibuk mencuci piring dan lupa menyalakan quran untuk murojaah anak-anak, maka ummi pun akan berperan sebagai murottal bagi anak-anak dengan lisannya.

Saat anak-anak sedang keasyikan berlama-lama di depan komputer meski untuk urusan belajar, ummi berkata “sudah dulu nak belajarnya, istirahat dulu matanya, ayo keluar main, olahraga!” Ah… ummi memang satpam gajet yang cerewet, bahkan untuk urusan belajar, mendesain atau ekplorasi pun anak-anak tidak boleh terlalu lama-lama didepan layar multimedia.

Ah…. ummi memang satpam gadget yang cerewet, saat perjalanan dalam mobil, ummi akan meminta setiap anak memutarkan group ayat yang sedang dihafalnya dalam gadget mereka masing-masing. Kadang ummi menyalakan kajian sirah atau storytime agar perjalanan tidak terbuang percuma. Bahkan terkadang ummi meminta anak-anak mematikan semua gadget jika ada nasihat yang ingin ummi ceritakan sepanjang perjalanan. Ah… Ummi memang satpam gadget yang cerewet, ummi tidak pernah rela membiarkan waktu terbuang untuk sekedar melamun saja.

Memang dulu ummi tidak memberikan semua anak gadget, hanya mp3 player yang diisi 6000 sekian ayat al-quran. Kadang ummi memutarkan satu surat yang dihafal secara full, kadang dipenggal dalam group ayat. Tapi mengelompokan ayat yang dihafal dalam bentuk playlist cukup memakan waktu. Alhamdulillah kebetulan ummi mendapat rezeki handphone-handphone bekas tanpa nomer dari orang-orang amerika yang sudah menyelesaikan 2 tahun berlangganan nomer. Handphonenya masih sangat baik tetapi nomernya tidak aktif. Maka handphone inilah yang mereka gunakan untuk menghafal quran dengan aplikasi quran yang memungkinkan anak-anak memilih ayat yang sedang dihafal, mengulang-ngulang hingga bilangan yang tak terbatas sampai mereka hafal dan siap menyetorkan hafalannya kepada ummi. Handphone ini juga yang anak-anak gunakan untuk membaca ebook sebagai tugas pelajaran reading setiap hari dalam homeschooling mereka melalui aplikasi seperti epic dan amazon kindle. Ya, keluarga kami memang tidak bisa terpisahkan dari gadget untuk kepentingan belajar. Tapi keluarga kami memiliki satpam gadget yang cerewet.

Memproteksi gadget dengan memfilter situs yang bisa di akses, membuat password pengaman dalam setiap gadget, mengatur jam akses aplikasi di handphone anak-anak, memasang stop watch saat anak-anak menggunakan multimedia, hanyalah salah satu cara ikhtiar saja dalam mengatur penggunaan gadget dalam keluarga. Jauh yang lebih penting dari itu, anak-anak harus mengerti mengapa kami memilih kehidupan dengan cara seperti ini. Jauh yang lebih penting dari itu, adalah bagaimana anak-anak bersedia patuh terhadap aturan main bersama serta perintah dari orang tuanya. Ada kalanya syeitan menggoda anak-anak, saat tengah asyik bermultimedia, sementara ummi berbicara tidak didengar oleh mereka. Maka ummi pun berdoa dengan keras kepada Allah dihadapan mereka. “Ya Allah jadikanlah lisan kami lisan yang benar dan mengajak kepada kebenaran, lisan yang kalimatnya didengar dan dipatuhi anak-anak” dug…dug.dug lalu anak-anak berhamburan bergerak mengerjakan tugas yang diminta.

Ya…. Ummi memang satpam gadget yang cerewet. Ummi pun hanya mengijinkan jenis games yang bersifat merancang atau mendesain pada jam multimedia yang bersifat hadiah. Ummi pun hanya mengijinkan film-film yang bernuansa islami, memiliki nilai moral atau menambah wawasan pengetahuan pada jam multimedia yang bersifat hadiah. Ummi menginvestasikan hartanya untuk membayar chanel-chanel dan akses ebook pengetahuan yang bisa digunakan pada jam bersantai keluarga.

Suatu hari anak-anak mendapat hadiah akses games beserta karakter monster dari bazar reward PTA sunday school. Mereka pun bersemangat ingin mengecek jenis permainan apa gerangan. Setelah bapak mempelajarinya bapak berkata “perang-perangan mi!” Lalu ummi berkata pada anak-anak “maaf ya nak ummi gak bisa ijinkan kita buang saja hadiah ini” Alhamdulillah anak-anak mengerti mereka tidak marah ataupun bersedih “it is oke” kata mereka. “Nak….. Maaf ya nak keluarga kita memang berbeda tidak semua yang diijinkan keluarga lain diijinkan dirumah ini. Hadiah ini dari seorang muslim. Hadiah ini tidak haram tapi ini sia-sia. Kalian tau kenapa mereka membeli games seperti itu tapi kita tidak? Karena tidak semua keluarga muslim bercita-cita seperti kita menjadikan anak-anak mereka alim ulama dan orang yang ahli di bidangnya”

Anak-anakku…. Kita harus memilih. Ummi ingin kalian menjadi ahli ilmu dan ahli berkarya di bidangnya, maka saat ini ummi harus berperan menjadi satpam gadget yang cerewet.

San Jose, California
Dari satpam gadget yang cerewet
Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 51 – Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

CKSPA Episode 51 – Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

Shiddiq (5) anak ketiga kami, memang anak yang berkarakter keras dan belum memiliki kecerdasan emosi dalam menghadapi masalah jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya. Bentuk frustasinya sering sekali menguji konsistensi dan kesabaran kami sebagai orang tua. Suatu hari, Shiddiq sedang memiliki keinginan terhadap saya. Namun saat itu saya pun bersih keras berjanji baru akan membantunya jika ia sudah meminta maaf dan menyelesaikan masalah sebelumnya dengan Shafiyah. Rupanya tawar menawar itu membuat Shiddiq sangat marah. Ia mengancam akan memanjat jendela seperti pencuri jika saya tidak memenuhi keinginannya. Tentu saya mengerti ini adalah bentuknya untuk mencari perhatian. Saya pun mengabaikannya.
Merasa gagal ia semakin beraksi. Ia keluar membawa kursi, berteriak meminta adiknya membuka jendela kamar dari dalam. Kami pun terus mengabaikannya. Ia terus berteriak mengancam, lalu ia tingkatkan kehebohannya dalam mencari perhatian. Ia ambil perkakas di garasi sambil mengancam akan memecahkan jendela. Sementara kami pun terus mengabaikannya sambil saya berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari segala mara bahaya. Dia pun terus mencari perhatian “Ummi come here, i have surprise!” Saat Shafiyah (7) terpancing untuk melihat, ia pun tertawa sambil menunjukkan perkakas yang ia siapkan untuk memecahkan kaca. Betul saja bahwa ia hanya sedang mencari sensasi dan perhatian. Saya pun melarang semua anak merespon Shiddiq saat itu. Lalu saya berteriak dari balik kamar “Shiddiq, ummi sayang sama Shiddiq tapi ummi tidak suka cara Shiddiq minta perhatian ummi. Tidak akan ada orang di rumah ini yang berhasil meminta sesuatu dengan cara mengancam, ummi tau kamu sedang cari perhatian, kalo minta perhatian dengan cara ini, ummi akan abaikan, kalo Shiddiq mau diperhatikan ummi, lebih baik masuk ayo kita bikin Pizza bersama”. Merasa tidak berhasil menghabiskan waktu bermenit-menit diluar, ia pun menyerah masuk kedalam. Akhirnya ia pun meminta maaf atas perlakuan buruknya pada Shafiyah, kemudian saya memeluk dan menasihatinya.
Shiddiq….. Shiddiq…… memang ia anak yang lebih sering rewel saat meminta sesuatu, tapi saya dan ayahnya pun tetap bersikeras tidak akan memenuhinya kecuali ia menenangkan diri dan memperbaiki cara ia meminta. Bahkan ia pernah guling-guling di lorong mesjid karena menangis kecewa, sementara saya dengan muka “badak” terus meminta ia memperbaiki caranya dalam meminta. Tidak semua keinginannya kami kabulkan, sehingga ia sering berhenti setelah marah dalam waktu yang cukup lama karena menyerah, lalu kembali ikut aturan main dalam keluarga.
Ketika kesal menghadapi Shiddiq yang rewel, saya sering mengalihkan lisan saya dengan berdoa, walau dengan suara keras untuk menyalurkan kekesalan saya juga. Sampai suatu hari Ali pernah bilang “Ummi aku mau tantrum aja kayak Shiddiq biar didoain terus sama ummi kayak gini” Saya pun memperbaiki cara saya berdoa, menambahkan doa itu untuk anak-anak lainnya, serta mengucapkan dalam hati agar tidak menjadi seperti “hadiah” dalam berbuat kesalahan.
Saya yakin, saya masih percaya, bahwa Shiddiq melakukan itu bukan karena ia anak yang tidak baik. Ia hanya belum memiliki kesempurnaan pikiran dalam memutuskan sesuatu dengan cara yang bijaksana. Maka selain beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai orang tua, juga beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai seorang anak, kami terus berusaha menyampaikan nasihat dan ajaran agama dalam sesi homeschooling islamic study setiap harinya. Pernah bahkan saya bertanya pada suami, saat Shiddiq sedang berulah “Pak, insya Allah kita gak lupa berdoa kan saat kita ‘membuat’ Shiddiq?” Insya Allah kata bapak. Saya yakin dan saya percaya, nasihat-nasihat itu insya Allah kelak akan bermanfaat bagi masa depannya, meski saat ini ia masih belum terlalu bijaksana dalam mengambil sikap saat ia menghadapi masalahnya.
Ditengah kesedihan saya melihat sikap Shiddiq, tiba-tiba lamunan saya membawa pada memori sekitar 25 tahun silam saat saya masih kecil. Teringat saat pembantu saya membasuh dan mengeluarkan pecahan kaca dari kaki kakak saya Mohammad Ibrahim yang bersimpuh darah. Kakak saya kala itu mengamuk karena ditinggal ibu bekerja. Aa aim, sapaan untuk kakak, mengamuk sejadi-jadinya kemudian menendang kaca jendela sampai pecah hanya karena ingin menyusul sang ibu yang pergi bekerja. Lalu saya teringat bagaimana kondisi kakak saat ini, apakah ketidakbijaksanaan nya menyelesaikan masalah saat ia kecil berlanjut sampai dewasa? Ternyata tidak, dibawah “gemblengan” pendidikan ayah dan ibu, ia tumbuh menjadi pemuda yang matang di usia muda. Ia adalah pengganti ayah saat sudah tidak ada, juga seorang kakak dan pemimpin keluarga yang sangat bijaksana. Ia pun kini menjadi pemimpin yang berprestasi di kantornya meski usianya masih relatif muda bila dibandingkan jejeran pemimpin lainnya. Lalu saya pun teringat bahwa saat Aa Aim seusia Shiddiq ia pun tidak mau belajar di dalam kelas saat TK, mogok masuk kedalam kelas dan lebih suka bereksplorasi di luar kelas. Tapi setelah itu ia mengukir prestasi sepanjang penjalanan belajarnya. Hampir seluruh rapor nya ia hias dengan angka 1 dalam kolom peringkat kelas.
Saya pun teringat masa-masa saat melihat karakter keras dari saudara-saudara saya saat mereka masih kecil, ternyata karakter itu kini menjelma menjadi sebuah potensi di masa depan. Mereka yang gigih mempertahankan kemauannya di masa kecil ternyata kini adalah saudara yang sangat gigih meraih prestasi dan cita-cita mereka. Kegigihan itu pula yang membuat mereka bangkit dari kegagalan saat usaha mereka bangkrut sejadi-jadinya, sehingga alhamdulillah kini mereka berada pada kondisi kemampanan.
Memori itu memberikan saya harapan dan kepercayaan bahwa dengan kesabaran, keistiqomahan memberi nasihat dan terus memberikan teladan, saya yakin Shiddiq akan lebih baik dan baik-baik saja. Saya yakin, saya percaya tidak ada anak-anak usia dini yang nakal, yang ada hanyalah mereka yang masih membutuhkan bimbingan dalam bersikap menghadapi kehidupan, serta membutuhkan waktu dalam menyempurnakan pola pikir mereka pada masa usia dimana otak mereka masih terus berkembang. Insya Allah dengan doa dan ikhtiar kita menjaga fitrahnya, mereka akan lebih baik dan baik-baik saja. Selama kita terus menjaga kehalalan harta yang masuk dalam perut mereka dan mengawali proses pembuatan mereka dengan berdoa agar syaitan tidak turut andil saat proses penciptaan mereka.
San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berusaha beristigfar
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 50

Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Hari ini Allah kembali menghibur saya, karena Allah tau saat ini saya sedang menghadapi banyak tantangan. Salah satu diantara sekian ujian kenaikan kelas jurusan kesabaran dan ketakwaan, saya diberi amanah Shiddiq yang istimewa dalam cara belajar. Sampai saat ini saya masih mencari jurus yang paling pas saat homeschooling agar Shiddiq mau berpartisipasi dalam pelajaran yang sesuai kurikulim wajib pemerintah. Beberapa hari lalu saya yang juga manusia biasa dan berjenis kelamin perempuan sedang merasa sangat melankolis. Saya mencurahkan perasaan saya saat fitness berdua bersama bapak. Saya mengutarakan keraguan saya dalam memilih homeschooling untuk Shiddiq. Saya merasa tidak cukup pintar dan menarik untuk membuat Shiddiq mau belajar bersama saya. Kemudian saya tiba-tiba merasa tidak percaya diri jika harus dibandingkan dengan para guru di Amerika yang bisa mengajar lebih menarik dan memiliki totalitas tenaga untuk membuat pelajaran menjadi sangat menarik dan mudah di mengerti. Sementara saya yang walau kadang memiliki banyak ide kreatif dalam belajar, merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk melaksanakannya jika sudah dihadapkan pada amanah 5 anak dan urusan rumah tangga. Suami saya yang bijaksana berceramah ditengah nafas yang terengah saat berlari di atas treadmill.

“Ummi jangan bandingkan pendidikan kita dengan pendidikan sekuler! Yang perlu ummi yakini adalah yakinlah bahwa kita berada di jalan yang benar dan suatu hari usaha kita akan membuahkan hasil untuk Shiddiq. Jangan berharap apa yang kita lakukan sekarang ini akan langsung kita lihat hasilnya saat ini juga. Kalo ummi ragu apakah jalan ini yang terbaik untuk Shiddiq, jangan tanya bapak karena bapak tidak tau. Lebih baik ummi istikhoroh lagi dan tanya pada Allah” kata beliau.
Saya pun mengangguk-angguk tersadarkan. Lalu teringat bahwa dulu saya hampir melalui cerita yang sama saat awal-awal mencari bentuk yang paling pas dalam metode pendidikan untuk Ali. Saya pun bertanya pada bapak saat itu apakah bapak merasa pilihan yang kami pilih untuk mendampingi Ali belajar mulai menunjukan hasilnya saat ini. Saya hampir lupa bahwa mengeluarkan Ali dari sekolah formal 4 tahun yang lalu pun masih memberi banyak cerita lika-liku hingga saat ini, meskipun sedikit demi sedikit titik terang itu mulai muncul.
Hari ini Ali mengikuti berbagai kegiatan workshop teknologi. Saat ia masuk dalam kelas programming video games, Ali yang memang belajar otodidak memiliki sedikit pengetahuan yang bisa ia bagi pada orang lain. Saat saya menemui Ali seorang ibu yang anaknya dibantu oleh Ali berkomentar. Ia mengatakan bahwa Ali sangat pintar, lalu ia bertanya dimanakah Ali bersekolah. Dengan penuh rasa syukur saya menjawab “he is a homeschooler. I have 5 kids and we are homeschooler” ibu itupun kaget, ia tau bahwa mengasuh banyak anak di Amerika tidaklah mudah apalagi memilih homeschooling. Ia tanya bagaimana saya mengajar mereka semua. Saya pun menjawab bahwa saya tidak mengajar Ali tetapi Ali mengajar dirinya sendiri. “When kids love to learn, they can learn anything by themselves” kata saya dengan penuh haru.
Seringkali kita sebagai orang tua berharap perubahan yang instan dalam meluruskan perilaku negatif anak termasuk dalam mendampingi mereka belajar. Meskipun sudah berusaha mencoba sekian langkah teori parenting dan metode pendidikan serta melengkapinya dengan doa, namun terkadang hasilnya masih jauh dari harapan kita. Apalagi jika meluruskan san membimbing dengan cara kekerasan lahir batin, bukan malah melakukan perubahan, tapi justru memperburuk keadaan.
Sebagian orang tua yang putus asa, mengakhiri upayanya dengan pelabelan terhadap anak. “Ah dasar kamu memang tidak pintar”, “Sudahlah memang dia pemalas”, “Emang bawaanya dia itu anak keras kepala, mau diapain lagi?”, “Dia memang anak pemalu”. Padahal pelabelan terhadap anak hanya akan membatasi karakter anak itu sendiri. Sikap pelabelan biasanya melahirkan pengabaian sehingga akhirnya kita menyerah meluruskan perilaku anak. Bahkan, ucapan pelabelan dari orang tua, terutama ibu, secara sadar atau tidak, dapat menjadi doa yang ampuh untuk diijabah. Belajar dari kesabaran Rasulullah saw dalam berdakwah, tidak semua orang yang beliau seru menjadi beriman secara instan. Tidak sedikit kasus dimana perubahannya justru muncul ketika Rasulullah telah tiada. Bahkan ada pula, kaum kerabat yang secara intensif beliau bina, namun tetap dalam kekafirannya sampai akhir hayatnya. Seperti paman Rasulullah saw, Abu Thalib yang begitu mendukung dakwah Rasulullah saw namun tetap dalam kekafirannya.
Tentunya kita berharap upaya kita membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa bimbingan kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Teruslah berupaya dengan disertai doa kepada Allah. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).
Jika keputusasaan mulai muncul dalam diri kita, ingatlah masa lalu kita, betapa orang tua kita juga bersabar lebih lama dalam menanti perubahan diri kita, yang kebanyakan berubah diwaktu dewasa.
San Jose, California
Dari seorang yang jatuh bangun membimbing putra-putrinya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

CKSPA Episode 49 – Perempuan-Perempuan Masa Depan

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 49

Perempuan-Perempuan Masa Depan

Perjalanan saya menjalani peran sebagai seorang ibu rumah tangga telah mengubah beberapa pemikiran saya dalam mendidik anak perempuan. Hal-hal yang tidak tercapai, belum tercapai, atau bahkan sudah terlewat masanya untuk dicapai, memberi peringatan tersendiri bagi diri saya untuk lebih mempersiapkan anak gadis kami yang insya Allah kelak di masa yang akan datang akan memerankan peran yang hampir sama yaitu ibu dan istri.

Alhamdulillah ditengah banyaknya anak laki-laki, Allah masih mempercayakan kami memiliki anak perempuan. Shafiyah (7 tahun) yang lembut, penuh kasih sayang, berjiwa keibuan, sangat perhatian terhadap keperluan saudara-saudaranya, penurut dan tertib mengikuti aturan, mandiri, serta cerdas dan tekun dalam belajar, sering menjadi penghibur hati saya ditengah tantangan-tantangan pengasuhan anak laki-laki yang penuh energi. Sejauh ini kekurangan dalam dirinya pun merupakan sifat yang sangat wajar bahkan dapat menjadi potensi yang baik untuk dimiliki oleh seorang perempuan, sangat pemalu dan terlalu perasa. Melihat perkembangannya memberikan harapan tersendiri bagi saya untuk lebih banyak mempersiapkan generasi wanita yang sholihah dan cerdas. Generasi para wanita yang kelak dari rahim mereka terlahir mujahid yang cerdas dan sholih serta mujahidah pendamping para mujahid yang melahirkan mujahid dan mujahidah lainnya. Jujur, seandainya Allah masih percaya, ingin sekali rasanya melahirkan banyak mujahidah dari rahim ini. Yang kelak insya Allah kami persiapkan untuk menjadi ibu rumah tangga pendamping dan pendukung para mujahid yang bermanfaat bagi ummat. Aamiin
Menjadi ibu rumah tangga?? Mengapa hanya ibu rumah tangga?? Follower pun pernah bertanya pada saya, “apa gak sayang ijazah teknik elektro nya hanya jadi ibu rumah tangga?”
Semakin menjalani peran ibu rumah tangga, saya semakin mengerti mengapa dalam pandangan syariah tempat terbaik bagi seorang wanita ada dalam rumahnya. Meskipun begitu dalam sirah yang kita pelajari tergambar cuplikan kisah aktifitas sahabiyah di luar rumah seperti saat mereka menuntut ilmu dan mendampingi para sahabat dalam peperangan. Semakin menjalani peran ibu rumah tangga saya semakin mengerti mengapa wanita menjadi unsur penting dalam peradaban sebuah bangsa, jika kondisi wanita rusak maka rusaklah masyarakatnya.
Namun apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh menghasilkan uang? Bahkan Zainab binti Jahsy istri Rasulullah saw pun membuat sesuatu dari dalam rumahnya agar ia memiliki uang dari hasil keringatnya agar dapat bersedekah. Apakah ada larangan syariah yang menyebutkan bahwa wanita tidak boleh berkiprah dan bermanfaat bagi masyarakat? Bahkan Aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah saw pun mendidik ummat ini dengan menjadi perawi pada sebagian besar hadist Rasulullah saw.
Ya! Kami ingin anak-anak perempuan kami menjadi ibu rumah tangga yang memiliki keahlian dan ilmu yang cukup dalam menjalankan kelima perannya. Sebagai hamba Allah, anak, ibu, istri, dan anggota masyarakat. Kami berharap dalam perjalanan mendidiknya, kami mempersiapkan dirinya untuk memiliki keahlian dasar dalam mengelola rumah tangga. Kelak akan ada masa dimana tidak ada lagi orang yang akan mau menjadi asisten rumah tangga. Seperti halnya di negara maju seperti Amerika, kelak tenaga kerja akan menjadi sangat mahal. Semua pekerjaan rumah tangga akan di delegasikan pada lembaga-lembaga profesional yang dibayar dengan tidak murah. Maka baik anak laki-laki dan khususnya perempuan, harus memiliki keahlian dasar ini. Bahkan anak perempuan diharapkan mahir menggunakan perkakas pertukangan untuk pekerjaan perbaikan sederhana. Kami berusaha mempersiapkan anak perempuan kami menjadi manusia pembelajar yang cerdas, menempuh pendidikan yang baik sedemikian hingga memiliki kemampuan untuk menjadi pendamping dan pendukung para mujahid cerdas yang bermanfaat bagi ummat. Kami juga tidak ingin anak-anak perempuan Kami harus mengalami masa-masa “galau” seperti yang dialami para perempuan berpendidikan tinggi yang merasa terjebak harus berada di dalam rumah. Untuk itu sejak kecil kami memberi wacana kepadanya untuk berusaha memberikan kebermanfaatan kepada umat manusia dari dalam rumahnya. Pernah Shafiyah ditanya ingin menjadi apa jika kelak ia dewasa. Ia mengatakan bahwa ia menjadi ibu yang ada di dalam rumah seperti ummi. Kami berniat mengarahkannya pada bidang-bidang keahlian yang dapat diaktuliasasikan dari dalam rumah. Karena Kami juga mengerti bahwa kemandirian perempuan dalam finansial adalah hal yang penting, mengingat belum tentu selamanya mereka berada dalam pemeliharaan suaminya. Jika takdir Allah membawanya masuk pada ranah kinerja yang membutuhkan kiprah perempuan dan harus dilakukan diluar rumah, maka artinya kami pun harus berupaya menjadi salah satu supporting sistem pada wilayah domestik yang ia tinggalkan. Kami juga berusaha merawat tubuh mereka melalui asupan gizi yang baik dan aktifitas olahraga, agar anak-anak perempuan kami dapat tumbuh dengan sehat. Karena ternyata menjalankan amanah sebagai ibu rumah tangga membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Namun bagaimanapun, tidak mungkin kesempurnaan akan terkumpul pada seorang manusia. Maka Kami berdoa kepada Allah, semoga kekurangannya tidak terletak dalam hal akhlak dan agamanya.
Merenungi peran saya saat ini sebagai seorang ibu, barulah kini saya sadar bahwa ternyata bekal terpenting yang dibutuhkan seorang manusia adalah pemahaman agamanya. Pemahaman yang mampu berbuah amal nyata. Karena dari situlah kerja -kerja ikhlas dalam rangka penghambaan diri kepada Allah akan terlahir dalam apapun peran kekhalifahan yang ia emban. Terlebih bagi seorang perempuan yang kelak akan mendidik keturunannya. Andai saja bisa kembali ke masa kecil, rasanya saya ingin mengulang masa-masa keemasan dimana otak ini lebih memiliki kemampuan untuk menyimpan memori harapan Al-quran. Rasanya beruntung sekali menjadi ibu rumah tangga yang hafidzah. Ia bisa menyapu, menyetrika pakaian, memasak, mengepel lantai dan melakukan pekerjaan lainnya sambil terus melafadzkan ayat suci Al-quran tanpa harus memegang mushaf. Maka diri ini ingin berdoa dan berusaha untuk mendidik perempuan-perempuan masa depan yang memahami dan mengamalkan agamanya, yang menjaga al-quran dalam dada-dada mereka serta mampu menjadi manusia yang bermanfaat dari dalam rumahnya.
San Jose, california
Untuk Shafiyah dan calon mujahidah-mujahidahku lainnya, inilah doa ummi untuk kalian. aamiin
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 48 – Kala Ummi Hampir Menyerah

CKSPA Episode 48 – Kala Ummi Hampir Menyerah

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48

Kala Ummi Hampir Menyerah

“Bang… ayo bang belajar!” Ajak saya
“Wait! I want to dig a hole to China!” Kata Shiddiq sambil berlari meninggalkan worksheet sekolahnya menuju ke taman kecil tempat eksplorasi di halaman belakang rumah kami. Lalu ia mengambil pacul dan menghabiskan berjam-jam di kebun sampai bajunya kotor dihiasi tanah. Dan sekolah pun tertunda……
Dilain waktu……
“Bang terusin yuk projectnya! Tolong ambil dulu guntingnya” pinta saya. “Kemana anak ini, diminta ambil gunting kok lama sekali” pikir saya. Berapa belas menit kemudian ia sudah kembali dengan membawa sesuatu ditangannya. “Look ummi what I made! I made it for canoeing!” Kata Shiddiq dengan antusias sambil menujukan beberapa potongan rangka besi untuk tenda camping yang ia ikat dan sambung dengan tape untuk membuat dayung perahu. Dan sekolah pun kembali tertunda…..
Di lain waktu…….
“Bang ayo bang terusin sekolahnya” ajak saya. Saya cari kemana ia berada, rupanya ia memanjat lemari baju bersembunyi di dalam ruang kecil (closet). “Hi ummi! I am here!” Dan sekolah pun kembali tertunda……
Wait ummi! I wanna play robotic first! Wait ummi! I want to water the plant with my water gun! Wait ummi! I want to make tea first! Wait ummi! I want to go to the roof and rake the leaves! Wait ummi! Wait ummi! Wait ummi!…..
Begitulah suasana yang hampir setiap hari saya hadapi bersama anak saya Shiddiq yang kini berusia 5 tahun. Ia memang lahir pada tanggal yang menjadi batas terakhir usia untuk wajib bersekolah di Amerika. Meski saya tau ia belum mau bersekolah, tapi hukum yang berlaku mewajibkan kami mengikutkan sekolah atau menjalankan program homeschooling yang setara dengan level kindergarten. Lalu bagaimana ia dulu di sekolah sebelum kami memutuskannya homeschooling? Apakah ia menghabiskan kelebihan energinya dengan cara seperti ini? Ternyata tidak!! Ia adalah anak yang hampir setiap hari mendapat penghargaan dengan level tertinggi dari gurunya karena sikap manisnya di kelas. Namun ketika saya bertanya apa yang menjadi kriteria penilaian guru untuk mendapat penghargaan tersebut, rupanya karena ia selalu duduk manis dan tenang. Belakangan saya jadi mengerti bahwa ternyata ketika ia dulu bersekolah di dalam kelas ia cenderung diam, pasif, tidak aktif bertanya, tidak aktif menjawab, pikiran menerawang, lalu menguap dan mengantuk. Karena hal ini pula yang terjadi saat kini ia mengikuti live lesson languange art dan math dalam kelas virtualnya bersama guru dan teman-teman homeschooler. Sementara sebaliknya, meski banyak sekali iklan-iklan yang ia lakukan diantara waktu duduk menjalankan pelajaran homeschooling dengan metode diskusi, membaca atau menulis, Alhamdulillah proses belajar secara personal memastikan ia mengerti pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah lesson plan. Alhamdulillah, bagaimanapun semua iklan-iklan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajarannya.
Apakah saya pernah mengalami kekesalan atau stress dalam mengajar Shiddiq? Oh tentu!! Karena saya pun seorang manusia. Apalagi murid yang saya hadapi adalah anak sendiri. Bukan hanya kesal atau stress, bahkan sesekali memeluk suami dan melampiaskan perasaan saya untuk meminta dukungan agar tidak menyerah dalam mengajarnya. Bahkan awal-awal beberapa kali menyatakan pengunduran diri saya sebagai guru kepada Shiddiq dengan menawarkannya untuk kembali bersekolah. “Bang…. Sekolah lagi aja ya! Teteh aja sama Aa yang homeschooling. Ummi gak sanggup Abang kan bisa belajar dengan tertib kalo di sekolah” pinta saya. Namun berkali-kali juga Shiddiq menolak untuk kembali bersekolah. “No I don’t want to go to school anymore. I just want to do home school. So I can learn what I want to learn and I can play what I want to play. If you put me back to school, I will make me late everyday!” Kata Shiddiq.
Butuh waktu mengumpulkan alasan untuk meyakinkan diri bahwa pilihan ini lebih baik untuk Shiddiq dibanding menyekolahkannya ke sekolah formal. Galau?? Pasti!! Kegalauan yang muncul karena kekhawatiran jika tidak dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Tapi bagaimanapun kaki ini harus terus melangkah, raga ini harus terus bergerak, dan jiwa ini harus terus bangkit. Meskipun begitu, sebagai orang tua, kami terus berusaha memperbaiki keadaan ini
Meskipun proses perbaikan ini masih terus berlangsung namun beberapa langkah perbaikan dibawah ini berusaha kami terapkan untuk membuat kondisi belajar Shiddiq lebih baik, diantaranya:
1. Pengaturan jadwal dengan win-win solution agar keinginannya untuk bereksplorasi tetap terpenuhi namun kewajibannya dalam belajar tetap ia laksanakan. Dalam kasus Shiddiq, saya memberikan kesempatan baginya untuk memilih kegiatan di pagi hari sesuai keinginannya sampai batas waktu tertentu lalu kemudian mulai belajar setelah energinya sedikit tersalurkan.
2. Melaksanakan lesson plan yang bersifat diskusi secara paralel bersama kegiatan penyaluran energinya. Dalam kasus Shiddiq misalnya, saya berdiskusi membedah buku untuk pelajaran language art sambil berkebun atau menyapu daun kering.
3. Memanggil sesekali untuk duduk beristirahat ditengah kegiatan bermain atau aktifitas fisik untuk mengerjakan worksheetnya. Misalnya, saya membawa worksheet yang harus dikerjakan Shiddiq ke kebun.
4. Tawar-menawar reward dan punishment jika kesepakatan jadwal dan tugas dalam hari itu dilaksanakan dengan baik atau tidak. Reward dan punishment didiskusikan dengan Shiddiq untuk memastikan bahwa ia tertantang dengan hal tersebut. Dalam kasus Shiddiq ia memilih reward berupa point tabungan yang bisa ia kumpulkan untuk membeli mainan kesukaannya.
5. Menyediakan sebanyak-banyaknya outlet untuk menyalurkan energi secara positif tanpa harus meminta keterlibatan kita. Sehingga meskipun Shiddiq sedang tidak mengikuti kegiatan belajar sesuai lesson plan, ia tetap berada dalam kegiatan belajar secara mandiri.
6. Menyederhanakan lesson plan yang sudah ia kuasai. Tidak berlama-lama, bertele-tele, ribet dan melelahkan agar ia merasa bosan. Kemudian menggantinya dengan kegiatan yang lebih menantang. Untuk itu, tidak semua arahan dalam lesson plan sekolah virtualnya kami kerjakan.
7. Memberikan pelajaran atau melaksanakan assessment tanpa ia disadari. Sebagai contoh, dalam kurikulum matematika kindergarten, siswa diminta mengidentifikasi objek dengan membandingkan ukuran. Maka kegiatan itu bisa dilakukan dalam konteks aktifitas yang sedang ia lakukan. Sebagai contoh membandingkan ukuran perkakas kebun yang kita gunakan.
8. Mencari sebanyak-banyaknya kegiatan yang menarik baginya, dengan memberikan syarat bahwa kegiatan tersebut dapat dilakukan setelah tugas sekolahnya selesai. Sebagai contoh, kita insya Allah pergi ke park setelah worksheet ini selesai.
9. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya motivasi untuk memperkuat keikhlasan saya menerima kondisi anak dengan segala keunikan, kelebihan, serta kekurangannya.
10. Terus berdiskusi dan bekerjasama dengan suami dalam menghadapi keunikan Shiddiq agar saya tidak merasa berjuang sendirian.
11. Senantiasa meminta kekuatan, kemudahan, petunjuk, serta limpahan keberkahan dan akhir yang baik kepada Allah dalam menjalankan takdir yang Allah berikan berupa keunikan anak-anak.
Suatu hari saya sedang ingin menangis dan hampir menyerah mendampingi Shiddiq belajar. Saya meluangkan waktu untuk mempelajari biografi Benjamin Franklin. Seorang manusia yang memiliki banyak jasa dalam peradaban manusia dan ilmu pengetahuan. Benjamin kecil pun hanya sekolah formal sebentar, tapi ia tidak pernah berhenti belajar. Ia tidak pernah berhenti mengeksplorasi alam sekitar dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan agar lebih baik, lebih efisien, dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang ada atau menggali dan memunculkan ilmu pengetahuan baru. Benjamin kecil pun adalah anak yang dianggap “sulit dan berbeda” oleh orang tuanya. Berkali-kali memiliki perbedaan pilihan dengan orang tuanya. Namun ia terus berkarya dan pada akhirnya memberi kebanggaan bagi orang tuanya. Setelah mempelajari biografi Benjamin Franklin saya kembali bangkit membimbing Shiddiq. Maka seorang ibu yang lemah ini ingin terus berdoa dan berusaha mendampingi Shiddiq. Semoga kelak Allah menjadikan ia sebagai hamba sholeh yang bermanfaat bagi manusia.
Satu hal yang sangat menghibur hati saya untuk tetap bertahan menjalankan homeschooling baginya, adalah ketertarikannya yang begitu luar biasa dalam mempelajari agama. Ia sangat bersemangat saat pelajaran islamic study. Ia bisa duduk berkonsentrasi saat saya berkisah baik dari buku atau berdiskusi. Ia sangat antusias saat sesi belajar islam baik melalui film atau audio book. Hal inilah yang tidak dapat diberika oleh public school di negara sekuler seperti Amerika.
Meskipun begitu, galau, kesal, atau bahkan marah, adalah hal yang sesekali mewarnai sekolah rumah kami. Sekolah yang gurunya adalah manusia, dan muridnya juga manusia.
Santa Clara, California
Dari seorang homeschooler yang terus menerus tambal sulam melaksanakan sekolah rumahnya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 47 [Part 2] – I believe you, I still believe you, and in syaa Allah I always believe you!

CKSPA Episode 47 [Part 2] – I believe you, I still believe you, and in syaa Allah I always believe you!

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]

I believe you,
I still believe you,
and in syaa Allah I always believe you!

Sejak kemarahan itu, baik Ali dan kami sebagai learning coach melipatgandakan kekuatan untuk menyelesaikan tugas kami di minggu terakhir semester 1. Dalam seminggu terakhir kami mendampingi Ali dengan ekstra ketat dari pagi sampai malam. Kami memastikan ia mengumpulkan semua portofolio yang besifat wajib, assessment online dan offline semaksimal yang ia bisa lakukan dari bangun tidur hingga sebelum tidur. Sebagai seorang ibu yang lebih halus perasaannya, rasanya saya ingin memilih mengorbankan nilai semeseternya saja. Biarlah ia belajar dari kesalahannya dengan melihat nilai rapor yang tidak memuaskan. Tapi ternyata tidak bagi ayahnya! Tidak bagi laki-laki. “Tidak!! Kerjakan semaksimal sampai batas terakhir harus mengumpulkan!”
Maka Ali melewatkan minggu itu dengan kerja keras. Bahkan kami mendampinginya sampai pukul 00:00 pada batas waktu ia harus menyelesaikan kewajiban sekolahnya. Sampai batas terakhir semester 1, masih ada beberapa kewajiban yang belum selesai. Sistem sekolah virtual memberikan celah-celah pilihan untuk melewatkan beberapa materi atau tugas pendalaman, sehingga tidak semua program harus dijalankan sepenuhnya. Namun saat itu, ayahnya betul-betul ingin memberikan pelajaran berharga baginya. Ayahnya tetap meminta ia terus menyelesaikan kewajibannya meski batas waktu pengumpulannya telah habis.
Melewatkan waktu 2 minggu dengan kerja ekstra tidak hanya melelahkan fisik namun juga emosi. Tidak hanya Ali begitu juga kami sebagai orang tua. Penyesalan dan perasaan kesal Ali terhadap keadaan ini memunculkan emosi-emosi negatif saat bersikap. Ia begitu sangat sensitif dan uring-uringan. Saya terus berusaha menahan lisan saya untuk tidak menyerang menyalahkannya. Setiap kali ia terlihat menyerah saya berusaha mengingatkannya bahwa ia telah memilih menyelesaikan kewajibannya dengan cara seperti ini. Maka saya terus memintanya untuk menyelesaikan pilihannya. Sikapnya menjadi kurang ramah terhadap saya. Bahkan pelukan saya pun dibalas dengan penolakannya.
Sampai suatu hari kejadian bersejarah kami alami. Diawali dengan tantrum Ali yang mendorongnya bersikap kasar kepada adiknya saat ia memiliki sedikit perselisihan. Ali tidak pernah seperti itu, maka saya mengerti bahwa sikapnya muncul dari kelelahan emosinya. Namun ternyata tidak hanya Ali yang mengalami kelelahan emosi, tapi juga sang Ayah. Melihat kejadian itu sang ayah menjadi marah. Marah dengan kemarahan yang tidak pernah kami lihat seumur hidup kami. Kemarahan yang tidak hanya sekedar saya ingatkan dengan beristigfar tapi dengan “A’udzubillahi Minas syaitonirrojiim” Kemarahan yang mungkin telah beliau tahan hampir berminggu-minggu lamanya.
Alhamdulillah Allah masih sayang pada keluarga kami. Hampir saja syaitan merenggut keharmonisan keluarga kami. Allah masih menjaga keluarga kami sehingga kedua belah pihak segera menahan amarahnya dan menenangkan diri. Namun Ali menangis sejadi-jadinya ke luar pintu rumah. Saya begitu khawatir kemarahan sang ayah melukai hatinya. Saya ijin kepada suami untuk keluar menemuinya. Namun sang ayah memerintahkan saya untuk tetap dirumah dan memberikan kesempatan bagi Ali untuk menenangkan dirinya. Sebagai istri tidak ada pilihan selain taat. Namun sebagai seorang ibu saya begitu khawatir kesedihan Ali akan membuat ia melakukan hal-hal yang tidak wajar. Hanya doa yang bisa saya ucapkan saat itu agar Allah senantiasa menjaga keluarga kami dan memberikan keberkahan serta akhir yang baik dari masalah ini.
Bapak pun meminta ijin keluar rumah untuk menenangkan dirinya. Namun saya memohon padanya untuk tetap menenangkan dirinya didalam rumah dan memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbicara pada Ali. “Tolong ijinkan ummi berbicara pada anak kita” pinta saya.
Alhamdulillah ternyata Ali sedang menangis didalam mobil. Menangis dengan tangisan sejadi-jadinya. Saya membujuknya untuk masuk ke dalam rumah tetapi ia tidak mau. Saya begitu khawatir kemarahan kami melukai hatinya. Namun ternyata tangisan itu bukanlah karena karena kemarahan kami.
Ali: “this is all my fault! But I didn’t mean to cheat you about my prosentage. I take my lesson in semester 2 before you said that was not allowed. But you kept talking”
Ummi: oke ummi minta maaf soal itu. Ini juga bukan salah kamu sepenuhnya, ini salah ummi juga”
Ali: “no you didn’t. This is all my fault ”
Ummi: “no, ini salah ummi juga. Peristiwa ini gak akan terjadi kalo ummi selalu detail memeriksa pekerjaan dan progres sekolah kamu”
Ali: “No this is all my fault! That just because I always make you believe me!”
Ummi: “ya tentu ummi percaya kamu, karena kamu anak ummi. No! Ini salah ummi, seharusnya ummi lebih detail memeriksa pekerjaanmu”
Ali: “No! This is all my fault! That just because I told you that there was no offline assessment in that day”
Setelah ia jujur bahwa selama ini ada yang ia sembunyikan untuk menghindari kewajibannya. Lalu saya menceritakan bahwa setiap orang pernah salah, dan yang terpenting ia mau belajar dari kesalahannya. Lalu saya pun bercerita tentang kisah masa lalu saya bahwa saya pun pernah berbuat salah.
Ummi: “semua orang pernah salah, yang penting kita mau belajar dari kesalahan itu. Yuuk, sudah kita pulang yuk!”
Ali masih tetap menangis tersedu-sedu.
Ali: “but I didn’t learn from my mistake”
Ummi: “I believe you can learn from your mistakes”
Ali: “but I didn’t learn from my mistake”
Ummi: “but I believe from now and on you can learn from your mistake. I believe you! I still believe you and insya Allah I always believe you, because you are my son!”
Pembicaraan itu diulang berkali-kali. Berkali-kali ia menghukum dirinya dan menunjukan penyesalannya bahwa ia tidak belajar dari kesalahannya. Namun berkali-kali juga saya menjawab bahwa saya mempercayainya karena dia anak saya.
Akhirnya Ali bersedia masuk kerumah. Segera saja saya menceritakan percakapan kami dengan ayahnya. Lalu memohon kepadanya untuk mengakhirkan “pelajaran” berharga ini dengan tidak meminta Ali menyelesaikan sekolahnya. Alhamdulillah, memang hanya ini yang ayahnya inginkan. Ali belajar dari kesalahannya.
Kami menemuinya di dalam kamar dalam keadaan sedang menangis. Seketika kami datang Ali memeluk ayahnya dan berkata “I am so sorry”. Tak kuat air mata ini menangis ketika sang ayah memeluknya kembali dan berkata “bapak juga minta maaf tadi sangat marah. Bapak itu tidak tahan akhir-akhir ini kamu bersikap tidak ramah sama ummi dan barusan kasar pada Shiddiq. Kalo kamu sedang tantrum dan kesal, apalagi keadaan ini terjadi karena pilihan kamu, jangan kamu lampirkan kekesalan pada semua orang di rumah ini” Lalu kami pun mengakhiri dengan berpelukan dan menangis bertiga serta menutup peristiwa ini dengan liburan keluarga.
Sebulan kemudian sebuah surat datang kerumah. Surat itu adalah rapor semester dari sekolah virtual Ali. Ketika kertas itu dibuka, tidak ada huruf lain dalam nilainya selain huruf A.
Ummi: “Ali kerja kerasmu terbayar, barakallah nak semua nilainya A” kami pun berpelukan bahagia.
Ummi: “tapi Ali masih mau menebus nilai ini dengan mengakhirkan di akhir semester dan begadang lagi?”
Alhamdulillah ia tidak mau mengulanginya. Kini kami pindah sekolah ke sekolah virtual yang lain. Sekolah yang kegiatan dan kurikulumnya lebih disukai Ali. Sistem pengontrolannya lebih baik sehingga tidak memungkinkan terjadi ketidakimbangan porsi pengambilan lesson plan seperti sekolah sebelumnya karena orang tua selalu mendapat informasi bila ada overdue lesson yang tidak diselesaikan anak dalam satu minggu. Kini program homeschooling Ali dipegang sepenuhnya oleh ayahnya. Sementara saya hanya fokus pada program homeschooling anak-anak lainnya. Alhamdulillah 2 bulan sudah berlalu, kini Ali tidak pernah menunda sekolahnya, tidak terlalu banyak menjeda sekolahnya dengan kegiatan lain sebelum ia menyelesaikannya, serta selalu berusaha menyelesaikan semua lesson plan mingguannya tanpa ada yang ditunda. Setiap hari ia sesekali menelpon ayahnya di kantor membicarakan perkembangan sekolahnya, terutama mengabarkan bahwa seluruh tugasnya sudah selesai dan ia bisa bermain. Ia juga sekolah di kantor ayahnya setiap hari jumat agar bisa shalat jumat bersama. Insya Allah peristiwa ini semakin menguatkan ikatan mereka berdua.
Terkadang kita semua melakukan kesalahan. Apalagi anak-anak yang masih jauh dari kesempurnaan ilmu dan kebijaksanaan dalam mengambil langkah kehidupan. Tapi siapa lagi yang akan memberi kepercayaan kepada mereka jika orang tua mereka tidak lagi mau mempercainya. Serta siapa lagi yang akan mereka percaya jika orang tua mereka tidak dapat mereka percaya? Anakku….. jika hanya ada 2 orang manusia yang masih mempercaimu, insya Allah itulah kami. Namun bagi ummi tetaplah “this is my fault!”
San Jose, California
Semoga tulisan ini dapat diambil ibroh nya agar tidak melakukan kesalahan seperti kesalahan yang kami lakukan.
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 47 [Part 1] – Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang

CKSPA Episode 47 [Part 1] – Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 1]

Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang

“Ali….. Kalau Ali hanya mengambil materi yang tugasnya mudah-mudah dulu, hanya sekedar mengejar presentase progress mingguan, maka akan ada masa dimana semua tugasmu yang sulit menumpuk dalam satu waktu”
Begitulah pesan saya suatu hari pada Ali saat memeriksa perkembangan tugas dan assessment sekolah virtualnya. Sebuah pesan yang saya sampaikan dengan menarik sebuah nafas panjang, menahan lisan dari keinginan untuk marah dan mengatur secara otoriter.
Sekolah virtual Ali memang memiliki daily plan yang rapi dan sistematis. Setiap minggu kami memiliki target prosentase yang harus dicapai agar semua kurikulum dapat terkuasai dalam kurun waktu yang direncanakan. Terkadang ada masa dimana Ali enggan mengerjakan tugas-tugas sekolah, sehingga ia memenuhi prosentase progres pelajaran dengan mengambil materi-materi yang menjadi daily plan di kemudian hari. Sebuah cara jalan pintas yang ia pilih untuk sekedar memenuhi kewajiban sekolah agar prosentase progress mingguan tetap tercapai.
Saya tau, cara ini akan menimbulkan kesulitan di kemudian hari. Namun ini bukan kali pertama saya mengingatkannya. Saya hanya berusaha menyederhanakan nasihat, dan memberinya kesempatan untuk belajar dari konsekuensi yang menjadi pilihannya. Kami memang memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih dari potongan mana “kue” kurikulum dalam satu semester akan ia habiskan. Kami ingin ia belajar mengatur strategi belajar yang paling pas baginya. Sehingga kami hanya memantau hasil pekerjaan dan pencapai prosentasenya setiap pekan.
Akhir semesterpun semakin dekat. Apa yang kami khawatirkan terjadi. Semua lesson plan dengan bobot yang berat dan tugas yang banyak menumpuk semua di akhir semester. Kesal? Tentu! Ingin marah dan mengomel? Tentu!. Tapi lagi-lagi kami berusaha menahan lisan ini. Ali kini bukanlah anak balita yang lebih mudah dipengaruhi oleh pendapat orang tuanya. Kini ia adalah anak yang beranjak dewasa menuju akil baligh yang mulai memiliki pandangannya sendiri, pendapatnya sendiri, dan caranya sendiri.
Membimbing anak berjiwa pembelajar dalam belajar memang memiliki tantangan tersendiri. Tantangannya bukan terletak pada memotivasi mereka dalam belajar. Namun pada perjalanan mencari jalan terbaik yang paling pas dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak yang berjiwa pembelajar. Mencari sekolah yang paling pas dan sesuai, metode yang paling pas dan sesuai, serta kurikulum yang paling pas dan sesuai, bukanlah perkara sederhana bagi kami yang ingin mengoptimalkan karunia potensi yanh Allah berikan kepada anak-anak yang berjiwa pembelajar.
Singkat cerita, bertahun-tahun Ali sekolah, bertahun-tahun pula ia bermasalah dengan komitmen mengerjakan tugas sesuai kurikulum sekolah. Meskipun prestasinya selalu gemilang baik di Indonesia maupun di Amerika, namun perjalanan kami mendampinginya belajar begitu penuh lika-liku. Dari mulai ikut sekolah formal di Indonesia, ikut sekolah komunitas, mendirikan sekolah sendiri di kota Batam, lalu bersekolah formal di Amerika, dan kini kami kembali bersekolah rumah di Amerika, adalah mata rantai perjalanan panjang mencari cara belajar yang paling sesuai dengan keinginan Ali.
Ali sangat gemar belajar, ia hampir menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar, tapi ia tidak suka sekolah, tidak suka diatur dengan sistem. Suatu hari ia berkata pada saya “aa mah kalo homeschooling sebenernya pengen yang jenis unschooling, yang gak sekolah sama sekali” Saya pun berharap kelak suatu hari kami mampu melakukan perencanaan kurikulum secara mandiri. Namun keterbatasan waktu dan ketidakmampuan kami dalam membimbingnya “secara bebas” terpaksa membuat kami memilih untuk mengikutkannya pada sekolah virtual yang tetap bersistem, tetap berkurikulum, tetap bertugas. Dan tentunya, tetap menimbulkan debat-debat kecil tentang “belajar sesuai kurikulum”
Bulan itu, bulan dimana ujian akhir akan berlangsung. Namun Ali masih harus terus mempercepat kayuhannya untuk menyelesaikan tugas-tugas wajibnya. Bahkan beberapa tugas sunnah yang bukan bersifat assessment atau work sample sudah banyak ia tinggalkan. Konsekuensi dari pilihannya mulai terasa. Suasana dirumah mulai tegang. Baik Ali maupun kami semakin panik. Tapi kami tetap berusaha menahan diri untuk tidak mengomel dan mengatur secara detail bagaimana ia menghabiskan sisa “kue kurikulum” semester ini. “Ali, sebentar lagi sudah masuk ujian semester akhir, kalo Aa tidak melipatgandakan usaha, ummi khawatir kamu tidak akan terkejar. Ummi tau kamu selalu berkegiatan positif dan belajar, tapi tolong lakukan prioritas! lakukan prioritas!” begitulah kira-kira pesan saya berkali-kali setiap kali merasa “greget” saat melihat gaya belajarnya yang begitu santai dan sering terdistraksi pada pilihan tema belajar lain diluar tugas sekolah. Gemes? Tentu! Ingin marah? Tentu! Rasanya lisan ini sudah ingin memilih metode otoriter yang memerintah secara detail dalam suasana gawat darurat. Namun bapak selalu menahan diri saya untuk melakukannya karena bapak ingin Ali belajar dari konsekuensi pilihannya.
Suasana 2 minggu itu selalu dipenuhi oleh emosi negatif yang saya tahan. Apalagi saat melihat gerak-gerik santainya bersekolah ala profesor Ali. Sesekali ia membuat saya tersenyum saat menunjukan diagram progress sekolah. “Ummi liat mi, aa dah hampir 50 % semuanya” kata Ali. “Bagus a, tapi jangan sampai ambil materi semester 2 ya buat menuhin prosentase, karena yang akan dinilai hanya untuk semester 1” pesan saya. Cerobohnya, saya tidak melihat secata detail bagaimana ia memenuhi prosentase yang tertinggal. Sampai suatu hari saat mengecek pekerjaannya, barulah saya sadar bahwa akhir-akhir ini ia memenuhi diagram prosentase dengan mengambil materi-materi mudah tanpa tugas di semester kedua.
Meledaklah saya marah, karena merasa dibohongi. Marah yang sudah tertahan selama berminggu-minggu. Meledak!!.teriak!!.seperti ledakan kemarahan orang tua jaman dulu memarahi anaknya. “Kenapa aa bohongin ummi dengan mengambil materi semester 2??? Hanya karena aa ingin mengejar prosentase pelajaran!!!! Ummi sumpahin ya kamu!!! Jadi hafidz quran!!!!!.jadi islamic scholar!!!!.Jadi pemuda terbaik di jamanmu!!!!.Jadi penemu yang karyanya bermanfaat bagi ummat manusia dan agama islam! Ggghhrrr!”
(Bersambung…..bersambung…. Tunggu ya kelanjutanya… Sangat bersejarah dalam hidup kami dan insya Allah berhikmah)
San Jose, California
Dari ibu yang juga sesekali marah
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 46 – Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu

CKSPA Episode 46 – Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46

Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu

Malam itu, insya Allah malam yang diberkahi. Malam yang terindah yang saya lewati berdua dengan Ali yang kini hampir memasuki usia akil baligh. Malam dimana kami sebagai orang tua diberi sekian kali kesempatan oleh Allah untuk terus memperbaiki diri. Malam dimana tangisnya tertumpah, perasaannya tercurah, ganjalannya terurai dan keinginannya terucapkan. Sebuah pembicaraan yang saya mulai karena keingintahuan saya tentang apa yang menjadi harapannya sebagai seorang anak saat itu dan mengapa ia terus menerus ingin memainkan games multimedia yang tidak kami ijinkan. Sebuah games peperangan yang sedang marak dikalangan anak-anak seusianya saat itu.
Adalah sebuah pilihan kami sebagai orang tua untuk memilah dan memilih agar anak-anak selalu berada dalam kegiatan yang berfikir dan berdzikir namun tetap dalam suasana yang menyenangkan. Sehingga tidak semua hal yang populer dikalangan teman bermain anak-anak, kami berikan di dalam rumah. Sebagai orang tua kami selalu berusaha menyediakan berbagai fasilitas belajar dan bermain yang positif untuk menyalurkan bakat dan minat anak-anak. Sebagai orang tua kami berusaha menyediakan dan mengarahkan mereka pada berbagai kegiatan positif sehingga anak-anak tidak menyalurkan energi mereka pada hal-hal yang sia-sia apalagi bermaksiat kepada Allah. Namun dalam perjalanannya tentu ada berbagai tantangan yang harus kami hadapi.
Adalah sebuah hal yang alamiah bahwa perilaku dan pemikiran manusia dalam menjalankan kehidupan sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang diadopsi dari lingkungannya. Begitu juga dengan anak-anak, terlebih bagi mereka yang menginjak usia menjelang baligh. Saya sangat mengerti karena saya pun pernah berada pada usia ini. Saya sangat mengerti bahwa di usia menjelang akil baligh, anak-anak mulai berkelompok dalam bermain. Mereka mulai mencari sebuah tema eksistensi diri yang membuat diri mereka terlihat “keren”. Ada kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak seusia ini ketika mereka memiliki tema pembicaraan yang sama, kesukaan yang sama, kegiatan yang sama, termasuk dalam pilihan games multimedia. Hanya saja sekali lagi, sebagai sebuah keluarga kami harus memilah dan memilih kegiatan apa saja yang dapat dilakukan anak-anak bersama teman-temannya. Kami berusaha mencari kegiatan yang membuat mereka tetap dapat merasakan kebersamaan bersama teman-teman tanpa harus mengorbankan keyakinan yang kami anut dalam keluarga. Dan sekali lagi kami tegaskan, bahwa tidak semua hal yang populer di kalangan anak-anak seusia mereka dapat menjadi kegemaran, kebiasaan, apalagi pola hidup anak-anak. Terkadang hal ini tidak mudah diterima anak-anak. Butuh kesempatan untuk memberikan pengertian tentang mengapa kita memilih dan memilah hal-hal tertentu. Butuh menyediakan berbagai aktifitas alternatif yang dapat memberikan kebahagiaan lebih bagi anak-anak yang tetap sesuai dengan keyakinan yang kami anut.
Lalu mengapa? Mengapa Ali masih juga ingin menjadikan bermain games multimedia bertema peperangan sebagai hiburan baginya. Bukankan ia bisa memilih olahraga apa saja dengan fasilitas publik yang tersedia di tempat kami tinggal ? Bukankah peralatan olahraga juga kami sediakan untuk ia mainkan? Bukankah berbagai mainan edukatif juga kami sediakan di rumah? Bukankan software-software games edukatif yang bersifat merancang juga kami sediakan di dalam rumah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong saya untuk mengawali pembicaraan kami malam itu. Hampir setengah malam kami lewati untuk mendengarkan semua perasaannya, mendengarkan berbagai cuplikan kisah yang terekam dalam memorinya. Alhamdulillah sebuah kesimpulan berharga saya dapat dari pembicaraan kami malam itu. Bahwa ia begitu merindukan bermain kembali bersama ayahnya sebagaimana ia bermain bersama ayahnya sewaktu kecil. “I just remember that before I was 7 years old, bapak played with me and after that we have a lot of new member in family….. bla…bla…bla” Tangis saya pun tumpah. Pemudaku merindukan bermain bersama ayahnya. Sementara selama ini, bukan karena sang ayah tidak memiliki waktu bermain bersama anak-anaknya. Namun terlalu banyak anggota keluarga baru yang harus bermain bersamanya dalam waktu singkat yang ia miliki. Pembicaraan itu saya tutup dengan sebuah janji, bahwa saya akan menyampaikan perasaannya kepada sang ayah.
Malam itu juga, saya tak mampu membendung kata-kata untuk segera mengungkapkan kepada sang ayah. Dengan sangat hati-hati saya menyampaikan kepada sang ayah agar pembicaraan ini dapat dilakukan tanpa menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Mata sang ayah pun berkaca-kaca dan dengan terbata-bata ia berkata “bapak bukan tidak mau bermain bersama Ali, ummi ingatkan bahwa apa yang bapak mainkan bersama adik-adiknya Ali adalah sama dengan apa yang bapak lakukan dulu saat ia kecil. Bapak membacakan buku untuk adik-adiknya, kita pun dulu membacakan buku sebelum ia bisa membaca. Bapak hanya bingung harus bermain apa sama Ali karena ia sudah semakin besar. Maka selama ini kita hanya membelikan mainannya saja” Alhamdulillah kini saya mengerti dimana letak masalahnya. Bukanlah segunung fasilitas mainan yang diperlukan untuk memuaskan kebahagiaan anak-anak. Tapi mereka ingin waktu istimewa untuk melakukan kegiatan bersama dengan orang tuanya.
Keesokan paginya Ali menemui saya, ia bertanya apakah saya sudah menyampaikan perasaannya terhadap ayahnya. Lalu ia tersenyum dan tertawa saat ia mendengar jawaban sang ayah. Ketika keluar rumah, ternyata sebuah box paket besar pun datang berisi mainan untuknya. “Tuh kan….. bapak sayang kan sama aa, tuh buktinya bapak belikan lagi kejutan mainan baru untuk aa”
Sejak saat itu, saya rapat bersama bapak. Kami mencari tema permainan apa yang bisa menjadi kesamaan hobby antara bapak dan Ali. Sebuah tema kegiatan dimana mereka memiliki bahan pembicaraan dan diskusi diluar urusan prestasi dan pelajaran sekolah. Agar pertanyaan yang digulirkan malam hari ketika ayah pulang tidak melulu seputar bertanya tentang bagaimana tugasnya, bagaimana sekolahnya, bagaimana hafalan Al-qurannya. Kebetulan kedua pangeran saya sangat hobby “ngoprek”, baik software maupun hardware. Sejak saat itu kami menginvestasikan beberapa fasilitas robotic agar Ali dan ayahnya bisa “mengoprek” bersama, mendiskusikan rancangan, mencoba dan memperbaiki rancangan. Hampir setiap pulang kantor, dengan semangat dan tak sabar ia berdiskusi tentang rancangan robotiknya. Baik yang ia pelajari dari orang lain maupun hasil inovasinya. Mereka kini menemukan bahasa yang sama untuk melewati kehangatan malam dalam acara kumpul keluarga. Bukan sekedar duduk dalam ruang keluarga dan sibuk mengerjakan pekerjaan atau permainannya masing-masing. Telah berbulan-bulan berlalu, tanpa ia mencari games multimedia yang hampir saja menjadi obat bagi rasa kesepiannya. Dan tidak hanya itu, berbagai perilaku positif pun muncul menggantikan perilaku yang selama ini menjadi PR kami sebagai orang tua.
Setiap manusia akan memilih peran sebagai eksistensinya dalam kehidupan. Semoga Allah senantiasa mencukupkan kepuasan hati anak-anak kami dengan eksistensi mereka sebagai manusia pembelajar yang sholih, muslih, penjaga Al-quran yang produktif berkaya dan memberi kebermanfaatan bagi ummat manusia tanpa harus selalu menjadi sama dengan apa yang populer di kalangan mereka. Terimakasih Allah, untuk sekian permasalahan yang Engkau berikan kepada kami melalui anak-anak, yang membuat kami senantiasa berusaha menjadi orang tua lebih baik lagi. Maafkan kami nak!
San Jose, California
Dari orang tua yang berkali-kali salah sebagai orang tua
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 45 – Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad

CKSPA Episode 45 – Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 45

Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad

Suatu malam setelah semua anak tidur, Faruq (3.5 tahun) masih terjaga. Tiba-tiba dengan suara lembut dan penuh iba. Ia berkata “ummi, when you work, sometimes i feel so bad” Saya terhentak. Langsung seketika saya lepaskan handphone dari genggaman. Faruq memang sering tidur lebih larut dari saudaranya. Maka ia mengerti jika malam tiba itu adalah waktu saya bisa secara full menuntut ilmu dan berdzikir melalui handphone.
Saya terseyum dan mengelus wajahnya
Ummi: “maksudnya saat ummi ngajar homeschool teteh dan abang?”
Faruq mengangguk sambil tersenyum, tapi senyumannya membuat air mata saya hampir menetes.
Ummi: “Faruq cemburu ya! Faruq sayang, nanti kalau teteh sudah besar, teteh bisa belajar sendiri seperti Aa. Kalau Shiddiq sudah besar, Shiddiq juga bisa belajar sendiri. Nanti gantian Ummi yang mengajar Faruq”
Faruq pun mengangguk sambil tersenyum. Pembicaraan malam itu saya tutup dengan membacakan 2 buku kembali untuknya sambil memeluk dan memangkunya.
Saya sangat mengerti perasaannya. Ternyata itu pula yang membuat ia mengalami regresi akhir-akhir ini. Menjadi lebih sering meminta bantuan pada hal-hal yang sudah bisa ia lakukan. Bahkan pernah beberapa kali buang air besar di celana padahal sudah lama ia lulus toilet training. Ia juga semakin lebih banyak meminta kegiatan di depan video, sebagai obat kesepiannya. Memang ada banyak hal yang berubah saat saya memutuskan untuk menghomeschooling semua anak. Faruq tidak lagi sepenuhnya bisa memiliki saya di pagi hari seperti dulu. Ia kehilangan beberapa jadwal belajar dan kegiatan secara khusus bersama saya. Durasi kegiatan hands on learning bersamanya menjadi jauh berkurang karena saya menyederhanakan beberapa metode pembelajaran. Hal yang tidak mudah bagi seorang anak adalah menerima kenyataan bahwa ia harus berbagi ibu dengan saudara-saudaranya. Apalagi kini ibunya harus bergantin mengajar semua anak-anaknya.
Sebaliknya sejak homeschooling, frekuensi kecemburuan Shiddiq terhadap Faruq pun jauh berkurang. Shiddiq kini lebih memiliki waktu bersama saya sehingga ia tidak lagi sering menganggu Faruq. Pernah suatu hari saya bertanya pada Shiddiq mengapa ia sering membuat kekacauan di rumah dengan ulahnya. “Karena Faruq bisa lama main sama ummi tapi Shiddiq nggak karena sekolah, jadi kalo pulang sekolah Shiddiq maunya ganggu Faruq”
Cemburu oh cemburu……..
Saya menyampaikan kepada semua angota keluarga tentang perasaan yang Faruq rasakan. Terlebih pernah 2 kali saya menemuinya duduk di sofa sendirian saat semua anak sibuk dengan kegiatan belajar dan laboratoriumnya. Saya bertanya mengapa Faruq tidak bermain dan duduk sendiri “I don’t have a friend”. Maka saya meminta kerjasama semua pihak didalam rumah untuk secara bergantian membimbing kegiatan bermain dan belajar saudara yang lain saat saya sedang fokus mengajar salah satu anak.
Jadwal kegiatan belajar anak-anak saya atur sedemikian hingga semua anak memiliki kegiatan. Jika anak-anak pra sekolah sedang mau bermain mandiri, maka kegiatan belajar saya buat secara pararel. Biasanya untuk tugas-tugas yang tidak membutuhkan banyak diskusi seperti matematika. Terkadang saat kegiatan belajar tidak memungkinkan dilakukan secara pararel, maka anak yang tidak sedang belajar boleh mengambil kegiatan eksplorasi sesuai dengan bakat dan minatnya, dengan catatan sambil mendengarkan tugas hafalan Quran mereka. Anak-anak yang sedang bereksplorasi saya minta untuk melibatkan adik-adiknya yang berusia pra sekolah. Kadang Shiddiq mengasuh Faruq dan Fatih dengan mengajak bermain saat saya mengajar Shafiyah. Kadang Shafiyah membacakan buku untuk Faruq atau mengajaknya bermain saat saya mengajar Shiddiq. Saat daily plan dari sekolah virtual Ali berbobot ringan, Ali sering secara sukarela mengajar adik-adiknya sehingga kegiatan sekolah bisa berjalan pararel dan cepat selesai. Saat ketiga anak sibuk belajar kadang Faruq mengasuh Fatih. Saat bapak sudah pulang maka barulah saya bisa sepenuhnya melakukan pekerjaan rumah tangga. Alhamdulillah sedikit demi sedikit Faruq mulai bisa menikmati kegiatan eksplorasi mandiri atau bermain bersama saudaranya. Sehingga kini iatidak banyak merengek meminta nonton video sebagai obat kesepiannya. Namun dimalam hari ia lebih banyak ingin dipeluk sebagai obat kerinduannya kepada saya.
Dengan formasi kegiatan seperti ini, jadwal belajar memang tidak mungkin dilakukan selayaknya anak yang duduk dibangku sekolah. Namun karena belajar secara personal membutuhkan waktu yang lebih singkat, maka rata-rata anak-anak usia sd hanya menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 4 jam untuk menyelesaikan daily plan mereka. Sisa waktunya dapat digunakan untuk mempelajari hal lain yang ingin dipelajari. Jika tugas harian kami diibaratkan dengan sebuah kue, maka dalam satu hari kami tidak memotong kue secara berurutan kemudian memakannya secara berurutan pula sampai habis. Tapi bagaimana kue tersebut dapat kami habiskan dari setiap sisi yang paling memungkinkan untuk dimakan saat itu secara terus menerus dan berkesinambungan. Dan semua pihak turut andil demi menghabiskan jatah kue harian dengan cara apapun yang ia bisa.
Terkadang kegiatan belajar harus beralih sementara kepada pilihan kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan di dalam kamar saat waktu menyusui bayi tiba. Misalnya, membaca buku bersama atau mentalaqi hafalan quran. Lalu kegiatan belajar kembali dilanjutkan saat bayi sudah tertidur. Saya tau hal ini tidak mudah, tapi saya percaya bahwa bukan hanya pelajaran sekolah yang mereka terima dengan kondisi ini. Kepedulian mereka untuk mengajar saudara, melibatkan saudara dalam kegiatan mereka akan menjadi pembelajaran yang berharga bagi kehidupan mereka.
Meskipun begitu, anak-anak tetaplah anak-anak. Adakalanya mereka tetap menuntut untuk memiliki ibunya secara utuh dan tidak bersedia menerima bantuan saudaranya. Biasanya saat dimana mereka sangat merindukan perhatian saya, mereka bersikap regresi dengan meminta bantuan pada hal-hal yang seharusnya sudah dapat mereka lakukan sendiri. “Abang lagi pengen diperhatiin ummi ya! Abang sudah bisa pakai baju sendiri, ummi merhatiinnya dengan bacain buku aja ya” kata saya misalnya saat merespon anak merengek minta pertolongan. Terkadang berhasil namun terkadang tidak. Maka sesekali saya membantunya untuk sekedar menunjukan perhatian. Misalnya membantu menyuapkan makanan beberapa suap lalu setelah ia merasa terobati kerinduannya, mereka meneruskan melakukannya sendirian.
Ya… Saya pun manusia biasa. Maka terkadang ketika anak-anak bersikap rewel meminta perhatian, saya sering mengatakan. “Tangan ummi hanya dua, tapi anak ummi ada lima, jika mau dibantu ummi, harus sabar menunggu” Terkadang ada juga balita yang menangis menunggu saya sampai selesai mengurus yang lain. Ketika tiba giliran saya melayaninya, saya memeluknya untuk mengobati perasaannya. Ya begitulah warna kehidupan seorang ibu dengan banyak anak. Sebuah cerita yang saya harapkan kelak menjadi indah. Namun bukan hanya kenangan indah yang menjadi harapan utama, tapi keberkahan atas semua perjuangan ini.
San Jose, California
Dari seorang manusia yang bertangan dua
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 44 – And Shiddiq in His Own Time Too

CKSPA Episode 44 – And Shiddiq in His Own Time Too

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 44

And Shiddiq in His Own Time Too

Secara fitrah orang tua akan merasa bersyukur dan berbahagia ketika melihat anak-anak mereka mencapai sebuah
peningkatan dalam proses belajar. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa melakukan menjadi bisa memberi manfaat.
Setiap anak memiliki keunikan potensinya. Ada kalanya pada satu sisi, sebuah tahapan belajar dicapai pada waktu yang
normal. Ada kalanya pada sisi lain, dicapai dalam waktu yang lebih cepat. Namun ada sisi sisi tertentu yang dicapai
dalam waktu yang lambat.
Sebuah hal yang alamiah jika perasaan bahagia muncul lebih kuat saat anak-anak mencapai sebuah peningkatan dalam proses
belajar lebih cepat dari kebanyakan anak-anak seusianya. Meski para orang tua memiliki cara yang berbeda dalam
mewujudkan rasa syukurnya. Sebuah hal yang lumrah jika para orang tua ingin anak-anak mereka mengalami perkembangan
yang sesuai dengan tahapan usianya. Mampu melakukan apa yang dilakukan anak-anak lain dalam perkembangan usia yang
sama. Sehingga tidak perlu memiliki tambahan pikiran dan pekerjaan dalam menemani tumbuh kembang anak. Sebuah hal yang
manusiawi jika ada perasaan yang perlu kita kelola untuk menerima kenyataan jika anak kita belum mencapai sebuah
tahapan yang seharusnya sudah diraih oleh anak-anak pada tahapan usianya.
Begitu pula saya saat ini yang sedang mengelola perasaan saya dalam menerima kenyataan bahwa anak saya Shiddiq yang
sudah berusia wajib sekolah, menolak untuk sekolah serta belum bersemangat untuk belajar dengan topik pembelajaran
sebagaimana layaknya murid-murid sekolah. Dengan mengucapkan bismillah kami memutuskan untuk menghomeschooling semua
anak-anak kami dengan mengikutkan mereka pada sekolah virtual di Amerika lengkap dengan kurikulum, buku dan fasilitas
penunjang yang diberikan secara cuma-cuma dari pemerintah setempat.
Memang butuh banyak-banyak menarik nafas panjang untuk menemani Shiddiq belajar. Pada akhirnya saya memilih untuk
menunggunya menyatakan “ok sekarang shiddiq mau belajar” dibanding membuang energi untuk membujuknya menghentikan
pilihan kegiatannya agar ia mau mengerjakan lesson plan. Meskipun kata “oke” darinya terkadang baru muncul setelah
matahari tepat berada diatas bumi California. Sementara ia menghabiskan masa paginya dengan melakukan hobby yang ia
gemari sambil menyalakan murottal tugas hafalan al-qurannya hari itu. Dari pada sibuk membujuknya sekolah di pagi hari
yang akan berujung pada stress dan ingin marah, kini kami lebih memilih untuk meninggalkan beberapa gambar instruksi
perakitan lego robotic yang dapat ia kerjakan sampai ia puas sambil menghafal Al-quran. Sementara saya dapat mengajar
materi homeschooling untuk anak lainnya. Masya Allah seorang anak memang sangat gigih untuk mempelajari apa yang
benar-benar saat itu ingin ia pelajari. Begitu juga Shiddiq, yang cenderung mandiri “mengoprek” dan membangun robotnya
dengan membaca gambar instruksi meskipun peralatan itu diperuntukan untuk anak lebih dari usia 10 tahun. Sementara
sebaliknya ia belum terlihat bersemangat mengerjakan worksheet sesuai kurikulum sekolah. Insya Allah pada waktunya,
saya percaya kelak ia akan mau dan mampu mengerjakannya.
Ada sebuah buku anak yang menginspirasi saya untuk bisa memperpanjang sumbu kesabaran saya menemani proses belajar
Shiddiq saat ini. Buku yang berjudul Ruby in her own time, akan membuat kita lebih menghargai keunikan anak-anak yang
akan mencapai titik perkembangannya pada waktunya sendiri. “Ya Shiddiq! tidak ada pilihan bagi ummi kecuali ikhlas dan
bersabar menemanimu belajar, ummi percaya hari-hari ini kelak akan menjadi sebuah kenangan untuk kita semua” Ya kalau
tidak kita, siapa lagi yang selayaknya menghargai anak-anak sesuai keunikan potensinya?. Jikalau ada seorang guru yang
secara privasi mendampinginya, sudah selayaknya ia mendapatkan penghargaan terbaik dari pekerjaannya. Mengajar dan
mendidik anak itu bukan perkara sederhana. Itulah yang mungkin harus selalu diingat oleh para orang tua sebelum ia
berkoar-koar mengkritik institusi pendidikan apalagi jika tanpa disertai solusi. Mengajar dan mendidik anak itu bukan
perkara sederhana yang jelas tak mampu terbayar seimbang dengan gaji para guru yang sangat sederhana kecuali dengan
mengiringinya dengan doa tulus untuk keberkahan kehidupannya dan keturunannya.
Nb: cerita dalam buku ruby in her own time bisa dibaca melalui link youtube berikut
Ruby in Her Own Time: http://youtu.be/CHAJHhtlGAk
San Jose, California 13 Februari 2015
Dari seorang ibu beranak lima tanpa ART yang sedang meminta petunjuk dan pertolongan Allah dalam meracik formula
kegiatan hariannya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 43 – Ada Pahala Dibalik Pahala