Penghibur Orangtua untuk Anaknya Mondok

Dari orang tua santri

Untuk para ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah….

::“` SEKEPING CATATAN HATI“` ::

Anak-anak kami,
Adalah bagian dari jiwa kami..

Melepas mereka tak ubahnya seperti mencabut hati kami sendiri.

Andai bisa, tentu kami ingin mereka selalu dalam jangkauan mata.
Namun kami sadari, tangan kami saja tak cukup kuat membimbing mereka..

Kami mencintai mereka,
Tapi, cinta kami seringkali buta,
Tak sanggup melihat aib dan kurang mereka..

Kami menyayangi mereka,
Tapi kasih sayang kami terkadang tak cukup menyelamatkan mereka dari api Neraka..

Menyadari ketidakberdayaan kami,
Dengan sepenuh kesadaran, kami lepaskan anak-anak kami jauh dari rumah, tempat mereka dibesarkan..

Ada sesak yang kami tahan di dada,
Ada air mata yang diam-diam kami tumpahkan,
(Ketika) melepas kepergian mereka..

Hanya harapan yang sanggup membuat kami berpura-pura tersenyum,
Harapan kiranya perpisahan ini menjadi jalan yang akan mengantar mereka menuju ketakwaan..

Anak-anak kami,
Datang ke Pondok ini dengan segenap kekurangan mereka..

Maafkan, jika mereka kurang santun dalam berperilaku,
Kurang sopan dalam bertutur kata,
Kurang sungguh-sungguh dalam belajar,
Kurang taat pada peraturan,
Dan sederet kekurangan lainnya..

Anak-anak kami,
Bukan sepotong kain yang kami kirim untuk dijahit menjadi baju dalam hitungan hari,
Bukan adonan tepung yang hanya butuh beberapa jam untuk mengolahnya menjadi roti..

Tapi, jiwa-jiwa yang punya ego dan perasaan,
Yang perlu proses panjang untuk membentuk akhlak dan kepribadian mereka..

Mungkin, sesekali mereka akan membangkang,
Dan dengan keterbatasan ilmunya, menjerumuskan diri ke dalam dosa..

Saat itulah, kami harapkan teguran penuh kelembutan dari ustadz/ah untuk anak-anak kami..

Atau, peringatan tegas, bahkan sedikit “kekerasan” dalam batas syariat sebagai pendidikan..

Betapapun kami menyayangi anak-anak kami,
Betapapun kami ingin mereka hidup nyaman tanpa beban,
Kami masih tega melihat mereka menanggung “kesusahan” hidup sebagai santri,
Demi mendidik mereka menjadi pribadi bertakwa..

Kami rela mereka menanggung beban dunia,
Tapi kami tak sanggup melihat anak-anak kami terjerumus dalam dosa dan tersiksa dalam panasnya Neraka..

Karenanya,
Dengan segala kerendahan,
Kami mengharapkan bantuan ustadz/ah dalam membimbing mereka..

Anak-anak kami,
Pergi jauh meninggalkan orangtua dan sanak saudara,
Kami harap di Pondok mereka menemukan gantinya..

Rengkuh mereka sebagai anak,
Atau adik yang layak disayangi setulus hati..

Jangan pandang mereka dengan ketidaksempurnaan mereka saat ini,
Tapi lihatlah mereka belasan atau puluhan tahun mendatang..

Anak-anak kami,
Dengan segala kekurangannya adalah aset muslimin,
Calon penerus perjuangan masa depan..

Kami tak mengharap kesempurnaan ustadz/ah dalam memahami anak-anak kami,
Sebab kami sendiri, yang mengenal mereka sejak masih dalam kandungan-pun, seringkali gagal mengenali karakter mereka..

Hanya kesabaran dan kesungguhan dalam usaha,
Yang kami yakin tak semudah membalik telapak tangan..

Meski sebenarnya kami merasa malu,
Sebab kami tak dapat menawarkan apapun sebagai imbalan..

Hanya secuil doa,
Kiranya setiap tetes keringat akan meluruhkan dosa-dosa..

Kiranya setiap jengkal langkah dan jerih payah meninggikan derajat Antum di taman-taman Surga..

Dan kiranya setiap sesak yang menghimpit karena ulah anak-anak kami melapangkan jalan Antum menuju ridha-Nya..

Kami, dengan sepenuh usaha akan belajar ikhlas melepas anak-anak kami..
Akan kami iringi kesabaran ustadz/ah dengan ketabahan..
Akan kami imbangi kegigihan Antum dengan doa dalam sujud-sujud panjang..
Akan kami teladani keikhlasan dan kesungguhan Antum, sebab kami sadar, kami-lah yang pertama bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak kami…

Bi-idznillah, In syaa Allah..

Jika Memang Harus Menjanda

Beberapa kali dalam status saya. saya mengisahkan tentang kisah kisah pasangan suami istri yang cukup menyedihkan..
 
Karena memang Pekerjaanku yang mengharuskan berinteraksi dengan Banyak Manusia, memberi banyak hikmah dan perenungan..
 
Bahwa Masih lebih banyak Alasan untuk bersyukur daripada Mengeluh, bahwa tak selamanya Kecukupan Materi berbanding lurus dengan Bahagia, walaupun memang sangat banyak yang bisa dibeli dengan Uang..
 
Tapi bukan Bahagia…
 
Beberapa waktu lalu saya banyak bertemu dengan beberapa wanita yang rata rata berstatus Janda, Ketika ditanya “Mengapa memilih Jadi Janda ?” Jawabnya beda beda..ada yang jawab “tidak ada kecocokan”, ada yang jawab “Suami saya ndak bisa penuhi kebutuhan hidupnya”, dan adapula yang terus terang “pukulan suami kurang mantap !”
 
Dari sisi alasan cerai dan penampilan sebenarnya bisa di ketahui kok bagaimana tipikal kebanyakan wanita itu..
 
Wanita-wanita yang jauh dari tuntunan, yang tidak menjaga hak-hak suami, yang kebanyakan bergaul bebas dengan teman-temannya.. atau mereka sebelum berumah tangga bertemu dalam sebuah hobi dan kebiasaan yang menjadikan nafsu sebagai Qudwah…
 
Dan kasiannya ternyata kehidupan mereka pasca bercerai dengan suami-suaminya bukannya membaik, justru makin tidak menentu…
 
Ada yang jadi istri simpanan, padahal sebelumnya dia dijadikan Ratu oleh Suaminya yang dulu..
Ada yang hanya jadi selingkuhan..
Ada yang Jadi piaraan para cina kaya.. dll..
Bahkan ada yang dimanfaatkan jadi kurir Narkoba dengan iming-iming akan dinikahi…
 
Ada juga yang berkata “ndak lama pak saya akan dapat pengganti suami yang mantap !”, Tapi sampai saat ini masih nelangsa karena ternyata Kriteria suami idaman yang wajib lebih baik dari suaminya yang dulu belum dia temukan..
 
Mereka dihinakan Allah akibat tak mensyukuri dan tidak menjaga Nikmat Allah berupa suami..
 
Mereka berangan angan mendapatkan suami yang perfect, padahal para pria “perfect” itu juga bukan laki laki bodoh.. mereka hanya memanfaatkan para wanita itu, karena seburuk apapun mereka, pasti tetap menginginkan Ibu yang baik untuk anak anak mereka.. bukan wanita yang gampang meninggalkan suaminya hanya karena sedikit janji…
 
Disisi lain saya juga bertemu beberapa wanita yang memang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik, mereka adalah wanita-wanita yang berusaha menjaga rumah tangga nya dengan segala cara, mendambakan memiliki suami yang mereka bahasakan “Menjadi Imam yang baik” untuk mereka, mereka berharap rumah tangga mereka adalah Rumah tangga Normal seperti halnya Rumah tangga orang lain..
 
Tapi kenyataan berkata lain, Mulai dari keluhan suami tak pernah memberikan nafkah materi, Suami selingkuh dan jarang pulang, suami sering mukul dan jadi Bandar Narkoba..
 
Imbasnya adalah anak anak mereka yang kebingungan melihat tingkah pola bapak mereka, Anak anak tu kehilangan figur ayah.. atau bahkan memberi contoh yang buruk buat anak anak mereka..
 
Ayah yang diharap bisa menjadi sosok pelindung justru memperlihatkan hal hal yang tidak pantas..
 
Yang akhirnya setelah bertahun-tahun diusahakan agar baik, tapi ternyata mungkin pilihan menjadi single Parent (menjanda) adalah pilihan yang paling sulit tapi harus dijalani…
 
Dan mungkin dalam hati kecil mereka sangat sedih melihat suami wanita lain tak seburuk suami mereka yang dulu..
 
Padahal mereka tak menuntut suami mereka sebaik suami orang, mereka hanya ingin agar suami mereka tidak buruk buruk amat, dan mereka akan bersabar untuk keburukan lainnya..
 
Untuk tipe Janda pertama yang saya sebutkan pertama saya tidak terlalu peduli, toh mereka sendiri yang pilih jalan itu, tak pernah mensyukuri nikmat berupa suami yang baik.. merasa sok cantik, sok laris, dan merasa bisa dapat suami yang lebih baik..
 
Saya hanya berharap agar Para janda tipe kedua bisa digantikan Allah dengan ganti yang lebih baik, atau jika memang belum ditakdirkan untuk mendapat yang lebih baik, maka mudah-mudahan Allah menyiapkan untuk mereka suami di surga yang tak pernah lagi menzhalimi mereka…
 
Dititik inilah Kadang saya merenung.. bahwa masih banyak alasan untuk bersyukur…
 
Status ini didedikasikan untuk para wanita yang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik dari yang terpahit..
* Fathul | © JIKA MEMANG HARUS MENJANDA ©

Sekarang (Mungkin) Kamu Kecewa, Tapi Nanti…

Kembali, kita belajar dari Muhammad Al Fatih. Anak kecil yang disiapkan dengan cara yang tidak biasa agar menjadi generasi yang tidak biasa.
Muhammad Al Fatih tidak hanya sekali ditegasi dengan pukulan. Di tangan guru awalnya, Ahmad bin Ismail Al Kurani, Muhammad Al Fatih merasakan sabetan untuk pelajaran pertamanya. Sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang ayah Murad II yang mengerti pendidikan, sang guru tak segan-segan untuk melakukan ketegasan itu.
 
Sekali ketegasan untuk kemudian berjalan tanpa ketegasan. Tentu ini jauh lebih baik dan diharapkan oleh setiap keluarga, daripada dia harus tarik urat setiap hari dan menampilkan ketegasan setiap saat, karena jiwanya belum tunduk untuk kebaikan.
Mungkin, Muhammad Al Fatih kecil kecewa saat dipukul. Sangat mungkin hatinya terluka. Tapi pendidikan Islam tak pernah khawatir dengan itu, karena Islam mengerti betul cara membongkar sekaligus menata ulang. Semua analisa ketakutan tentang jiwa yang terluka tak terbukti pada hasil pendidikan Muhammad Al Fatih.
Tapi ada pukulan berikutnya dari guru berikutnya. Pukulan kedua ini yang lebih dikenang pahit oleh Muhammad Al Fatih. Kali ini pukulan datang dari gurunya yang mendampinginya hingga ia kelak menjadi sultan; Aaq Syamsuddin.
Bukti bahwa ini menjadi ‘kenangan’ yang terus berkecamuk di kepalanya adalah ketika Muhammad Al Fatih telah resmi menjadi sultan, dia bertanya kepada gurunya:
“Guru, aku mau bertanya. Masih ingatkah suatu hari guru menyabetku, padahal aku tidak bersalah waktu itu. Sekarang aku mau bertanya, atas dasar apa guru melakukannya?”
Bertahun-tahun lamanya pertanyaan itu mengendap dalam diri sang murid. Tentu tak mudah baginya menyimpan semua itu. Karena yang disimpannya bukan kenangan indah. Tetapi kenangan pahit yang mengecewakan. Karena tak ada yang mau dipukul. Apalagi dia tidak merasa bersalah.
Kini sang murid telah menjadi orang besar. Dia ‘menuntut’ gurunya untuk menjelaskan semua yang telah bertahun-tahun mengganggu kenyamanan hidupnya.
Jawaban gurunya amat mengejutkan. Jawaban yang menunjukkan memang ini guru yang tidak biasa. Pantas mampu melahirkan murid yang tidak biasa.
Jawaban yang menunjukkan metode dahsyat, yang mungkin langka dilakukan oleh metode pendidikan hari ini. Atau jangan-jangan sekadar membahasnya pun diharamkan oleh pendidikan hari ini.
Inilah jawaban Aaq Syamsuddin,
“Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman.”
Ajaib!
Konsep pendidikan yang ajaib.
Hasilnya pun ajaib. Muhammad penakluk Konstantinopel.
Maka, sampaikan kepada semua anak-anak kita. Bahwa toh kita tidak melakukan ketegasan seperti yang dilakukan oleh Aaq Syamsuddin. Semua ketegasan kita hari ini; muka masam, cubitan, jeweran, hukuman, pukulan pendidikan semuanya adalah tanaman yang buahnya adalah kebesaran mereka.
Teruslah didik mereka dengan cara pendidikan Islami. Kalau harus ada yang diluruskan maka ketegasan adalah salah satu metode mahal yang dimiliki Islam.
Semoga suatu hari nanti, saat anak-anak kita telah mencapai kebesarannya, kita akan berkata semisal Aaq Syamsuddin berkata,
“Kini kau telah menjadi orang besar, nak. Masih ingatkah kau akan cubitan dan pukulan ayah dan bunda sore itu? Inilah hari ketika kau memetik hasilnya.”
Hari ini, saat masih dalam proses pendidikan, Anda pun bisa sudah bisa berkata kepada mereka,
“Hari ini mungkin kau kecewa, tapi suatu hari nanti kau akan mengenang ayah dan bunda dalam syukur atas ketegasan hari ini.”
Oleh: Ust. Budi Ashari

Sambutan Bu Kiki Barkiah Saat Tasmi’ Qur`an Putranya, Bikin Merinding…

Renungan Pagi untuk kita para orangtua terutama dan pada generasi muda… (Semoga Allah Memberikan Hidayah-Nya Kepada Kita Semua)
 
 
Pada hari jum’at yang penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh Kiki Barkiah berhasil mengkhatamkan hafalan qur’annya sebanyak 30 juz selama setahun di sebuah pesantren di Bogor.
Yang istimewa dari acara tasmi’ kemarin adalah sambutan teh Kiki, beliau menyampaikan isi hatinya untuk seluruh santri di pesantren tersebut. Juga untuk seluruh penghafal qur’an di Indonesia. Berikut ini kutipan seluruh pidatonya. Yang beliau sampaikan dengan penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. 
 
Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.
 
Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.
 
Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.
 
Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.
 
Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
 
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
 
Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
 
Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil menghisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
 
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
 
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!
 
ALLAHU AKBAR!!!!!
 
Parung Bogor 7 Okt 2016

Membangun dan Meningkatkan Kesabaran Dalam Mengasuh dan Mendidik Anak


Tarbiyatul Aulad – Berikut beberapa prinsip yang perlu dipahami untuk membangun dan meningkatkan kesabaran dalam mengasuh dan mendidikan anak. Prinsip tersebut terangkum dalam singkatan ANAKMU LADANG SURGAMU:
A— Anak adalah anugrah dari Allah serta warisan berharga yang akan menjadi simpanan kita. Tidak semua orang memiliki anugrah ini, maka perlakukanlah mereka diatas dasar cinta dalam keadaan dan perasaan apapun agar kelak mereka dapat menjadi simpanan terbaik kita
N— Nanti kelak apa yang ditanam akan kita petik hasilnya, maka pastikan selalu menanam kebaikan kepada mereka dalam keadaan dan perasaan apapun.
A— Allah tidak akan memberikan amanah dan cobaan diluar kesanggupan hambaNya, maka dalam keadaan dan perasaan apapun, yakinlah bahwa kita bisa melakukannya meski terkadang harus melipatgandakan kekuatan.
K— Komunikasikan setiap kesulitan dan permasalahan dalam pengasuhan anak kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan petunjuk dalam penyelesaiannya
M— Mereka terlahir dalam fitrah kebaikan, jika kita menjaga kesucian dan tidak merusak fitrahnya dengan selalu mengajarkan kebaikan, insya Allah mereka akan selalu dalam kebaikan dan baik-baik saja
U— Untuk memilih sikap, manusia diilhamkan dua jalan oleh Allah, jalan fujur dan jalan taqwa, maka sangatlah wajar jika sesekali kita melihat sikap negatif anak kita meski kita merasa tidak mengajarkannya. Tetaplah istiqomah mengajarkan kebaikan dan meluruskan perilaku yang buruk tanpa peduli kapan nasihat kita akan benar-benar bekerja dan berbuah perilaku baik mereka
—–0—-
L— Lihatlah lebih dalam, apa motif dan alasan seorang anak melakukan sesuatu, sehingga kita lebih bijak dalam merespon perilakunya. Sesuatu yang mungkin terlihat salah dalam pandangan kita, bisa jadi merupakan sebuah pengalaman belajar yang mengesankan bagi mereka.
A— Atasi permasalahan anak sampai pada akarnya, karena biasanya sikap yang muncul ke permukaan belum tentu menggambarkan permasalahan yang sesungguhnya. Namun mengatasi permasalahan anak sampai pada akar masalah, insya Allah akan turut menyelesaikan permasalahan yang muncul ke permukaan
D— Dalam setiap tahapan usia, anak memiliki kapasitas intelektual dan emosional tersendiri. Memahami tahapan perkembangan kemampuan anak akan membantu kita menaruh ekspektasi yang lebih tepat.
A— Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, anak terlahir sebagai karunia dengan potensi yang unik beserta tempramen bawaannya masing-masing. Memahami keunikan potensi anak serta tempramen bawaannya akan membantu kita lebih tepat dalam merespon dan membangun lingkungan bagi tumbuh kembangnya
N— Negasi dalam berperilaku terhadap apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh orang tua adalah sebuah kewajaran bagi seorang anak di awal-awal tahun usianya. Tetaplah konsisten dan istiqomah menegakkan aturan yang diberlakukan secara bertahap sesuai tahapan usia dan kemapuan anak serta terus menjelaskan sebab dan akibat sebuah aturan ditegakkan. Bila negasi terhadap perintah cenderung masih sering dilakukan saat anak-anak berusia lebih besar, maka perlu adanya perbaikan pola komunikasi dan hubungan yang dibangun antara anak dan orang tua.
G— Gangguan eksternal, ketidaknyamanan, perasaan tidak aman, perubahan suasana, serta tidak terpenuhinya kebutuhan dasar seorang anak seperti makan dan tidur, biasanya memicu munculnya perilaku negatif. Memenuhi kebutuhan dasar serta menjalankan rutinitas standar biasanya akan mengurangi munculnya perilaku negatif. Saat perilaku negatif muncul, coba perhatikan hal-hal sederhana di sekitar mereka yang mungkin menjadi penyebab munculnya perilaku negatif.
—–0—–
S— Sampaikan nasihat dalam suasana yang tenang dan penuh kasih sayang sehingga anak dalam keadaan siap mencerna dan menerimanya. Cari waktu dan momentum yang paling pas dalam menyampaikan nasihat
U— Upayakan agar dapat menghadapi anak-anak dalam keadaan melelepas semua beban permasalahan di tempat lain. Pilah masalah yang kita hadapi serta selesaikan secara terpisah sesuai skala prioritas. Jangan melampiaskan emosi negatif akibat adanya permasalahan lain yang sedang kita hadapi ke anak-anak.
R— Rekreasilah dan lakukan hal-hal yang dapat menambah dan memperbaiki semangat kita dalam menghadapi anak-anak. Perasaan bahagia dan kesehatan mental orang tua merupakan modal penting dalam menciptakan kesehatan pola asuh anak
G— Gunakan gaya komunikasi, pilihan kalimat dan nada komunikasi yang disesuaikan dengan usia, tempramen dan karakter anak serta kasus permasalahan yang dihadapi. Gaya komunikasi, pilihan kalimat bahkan nada komunikasi akan menentukan keberhasilan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.
A— Agendakan secara rutin untuk berkomunikasi dengan pasangan terhadap perkembangan dan permasalahan seputar pengasuhan anak. Satukan visi misi, tingkatkan kapasitas ilmu bersama, serta bekerjasama secara harmoni dengan pasangan dan orang-orang disekitar anak-anak kita. Perjuangan kita dalam mencapai visi akan sangat berat jika tidak sejalan dengan orang-orang disekitar anak-anak kita
M— Mudahlah dalam memberi maaf terhadap kesalahan yang bersifat tidak disengaja atau terlupa, karena Allah pun memaafkan dosa manusia yang dilakukan dalam keadaan lupa, tidak disengaja dan terpaksa. Hal terpenting dalam menyikapi sebuah kesalahan anak adalah anak mengerti dimana letak kesalahannya serta mendapat hikmah dari kejadian yang dialaminya.
U— Ucapkan doa terbaikmu untuk anak-anak saat engkau merasa telah mencapai puncak keasabaran dan sangat ingin marah, agar kata-kata yang engkau keluarkan menjadi doa kebaikan yang diijabah oleh Allah SWT
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang Alhamdulillah masih Allah karuniakan kesabaran ditengah keadaan dan perasaaan yang dialaminya
Kiki Barkiah

Pengasuhan Anak
Baca juga Renungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

CKSPA Episode 57 – Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

Sejenak sebelum tidur….

Abang….. I love you….. And I like the way you do bla…bla….. I like the way you do bla..bla…bla… I like the way you do bla…bla… bla…. I really love you…. But….. I don’t like the way you do bla…bla..bla…. That’s really not nice/that’s not allowed to do that/that’s really danger/that’s not polite or bla…bla…bla… Because bla…bla..bla.. Terkadang jika kasusnya sangat keterlaluan, dengan nada tenang saya tambahkan “and i am mad/disappointed because of that”

Kurang lebih seperti itulah pola komunikasi yang kami bangun untuk menutup hari dimana anak-anak bertingkah sangat istimewa. Bila mereka berperilaku positif yang sangat istimewa, maka kalimat cinta, pujian, dan penghargaan yang menunjukan betapa kami sangat bangga pada mereka, kami sampaikan secara special di waktu khusus. I’m so proud of you honey, i like the way you do bla..bla..bla… Atau pernah juga disampaikan dalam sebuah surat kecil yang disimpan diatas kasur. Semua itu kami lakukan agar anak mengerti bahwa perilaku tersebut adalah perilaku yang baik dan sangat kami cintai. Kami berharap penegasan yang kami lakukan melalui komunikasi yang lebih spesial, lebih intim, akan lebih membekas dalam hati dan pikiran mereka sehingga mereka lebih bersemangat untuk kembali melakukan kebaikan tersebut di lain waktu.
Lalu bagaimana ketika mereka melakukan perilaku yang sangat tidak kami harapkan hari itu? Ya pola komunikasi diatas kami bangun sebelum menutup hari. Dimulai dari menyatakan I love you, untuk memastikan bahwa cinta kami tidak berubah dan tidak terganggu karena kekecewaan atau kemarahan kami. Kalimat itu kami nyatakan untuk membedakan bahwa kekecewaan dan kemarahan kami ditujukkan pada perbuatannya, bukan pada mereka. Sebelum kami menyatakan kekurangan mereka saat itu, kami berusaha mengawalinya dengan menyebutkan sebanyak-banyaknya kebaikan mereka, lalu kemudian membahas kekurangan dan kesalahan mereka hari itu. Hal ini kami lakukan agar mereka memahami bahwa setiap orang terkadang melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti selalu melakukan kesalahan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lihat dari setiap orang meskipun mereka memiliki kesalahan atau kekurangan. Pola komunikasi secara spesial ini kami bangun untuk memberikan penegasan, betapa kami sangat sangat tidak menyukai perbuatan tersebut disertai dengan penjelasan alasan, dalil atau akibat dari perbuatan tersebut. Biasanya anak-anak lebih siap untuk mendengar nasihat saat menjelang tidur, dibanding memberikan ceramah panjang saat kejadian baru saja berlangsung apalagi jika menyampaikan dengan cara kekerasan. Memberikan pengertian dengan jalan kekerasan hanya akan menjadi bentuk pembenaran bagi anak untuk melakukan hal yang serupa. Terkadang kita butuh suasana tenang untuk merefleksikan sebuah kejadian. Refleksi menjadi poin penting yang tidak boleh terlewatkan orang tua sebagai momentum untuk mengajarkan kebaikan dan meluruskan kesalahan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl :125)
Mengapa kami ingin anak-anak memahami dengan jelas bahwa cinta kami tidak berubah meski kami sedang marah atau kecewa? Mengapa kami begitu ingin menunjukkan bahwa yang tidak kami suka adalah perbuatan mereka dan bukan diri mereka? Mari sejenak kilas balik ke masa lalu kita, mungkin ada diantara kita yang pernah memiliki perasaan “sejenak tidak dicintai orang tua” saat kita menjadi anak-anak. Mungkin kita merasa ada saatnya orang tua kita tidak mencintai kita saat mereka marah, saat mereka sibuk dan kurang perhatian, saat mereka melarang kita akan sesuatu, saat mereka menolak permintaan kita, atau saat orang tua kita lebih memilih membela saudara yang lain dari diri kita. Mungkin masih banyak hal yang tidak sesuai harapan, terjadi dalam kehidupan bersama orang tua kita yang membuat kita kecewa, sedih, atau bahkan ingin marah dan memberontak. Perasaan itu muncul karena kesederhanaan pola pikir kita sebagai anak kecil. Sejalan dengan waktu, apabila dibekali ilmu dan hikmah, perasaan itu akan menghilang dan diganti dengan kebijaksanaan, pengertian dan pemahaman mengapa orang tua harus menasihati, melarang, menegur, bahkan memarahi kita. Sekali lagi saya tegaskan syaratnya, yaitu apabila dibekali ilmu dan hikmah. Mengapa? Karena banyak manusia yang juga tidak bertambah kebijaksanaannya seiring dengan bertambahnya usia mereka.
Pola komunikasi diatas dibangun dalam rangka mengajarkan ilmu dan hikmah, dalam sebuah suasana yang tenang agar anak-anak lebih siap mendengar nasihat. Harapannya mereka pun memiliki perasaan terbuka untuk mengakui kesalahan, menerima kritik dan saran, serta berkeinginan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Kami berharap mereka memahami bahwa kesalahan dan dosa adalah bagian dari perjalanan kehidupan manusia.
Teringat sebuah pembicaraan sederhana saya bersama Shiddiq (5 tahun)
Ummi: “shiddiq, you forget about your cloth. please put away your cloth!” (Baju kotor Shiddiq masih tergeletak di lantai kamar dan ia lupa menaruhnya di tempat laundry)
Dengan wajah merasa bersalah Shiddiq berkata
Shiddiq: “I am sorry ummi, i am really really forget!”
Ummi: “it’s ok Shiddiq, sometimes i forget too. That’s why i just remind you”
Shiddiq: “Oh that’s why we have to remind each other”
Manusia itu tempatnya salah, dosa dan lupa. Yang kita butuhkan hanyalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Proses saling menasihati antara orang tua dan anak adalah pola hubungan yang perlu dibangun sepanjang hidup. Tentunya kita berharap upaya kita dalam menasihati anak dapat membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa nasihat kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Maka diri ini ingin terus beruoaya meluruskan perilaku mereka tanpa merubah rasa cinta dengan disertai doa kepada Allah agar Allah membukakan pintu hidayah bagi mereka. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang tengah berjuang memperbaiki diri dan keluarganya
Kiki Barkiah
Sumber gambar: Teacheramira.wordpress.com

Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 56 – Kala Ada Yang Datang Mengadu

CKSPA Episode 56 – Kala Ada Yang Datang Mengadu

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 56

Kala Ada Yang Datang Mengadu

  • SOP Perdamaian Keluarga 

Makin banyak anak makin banyak yang bertengkar, benarkah? Tentu…… Terlebih saat usia mereka masih dini, saat dimana mereka belum mampu berfikir dengan penuh logika apalagi menimbang dengan penuh kebijaksaan. Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengasah pola pikir mereka sejak dini. Bukan berarti kita tidak dapat mengasah kebijaksanaan mereka sejak dini. Kebijaksanaan seseorang itu tidak ditentukan oleh seberapa tinggi batang usia seorang manusia. Kebijaksaan sangat dipengaruhi oleh seberapa sering ia berlatih mengatasi permasalahan, mengambil pelajaran dan memperbaiki kesalahannya.

Memiliki banyak anak telah melatih kami untuk terus memperbaiki cara mengelola konflik diantara mereka. Bahkan dalam perjalanannya kini kami memiliki “SOP Perdamaian Keluarga”, sebuah pola komunikasi yang kami gunakan saat anak-anak bertengkar sementara kami tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya kecuali karena ada diantara mereka yang mengadu.
Kala ada yang datang mengadu….
Sambil menangis, kesal atau bahkan marah Si A mengadu tentang perlakuan si B “ummi… B Bla…bla…bla”
Dengan tenang saya merespon “Bilang sama B dipanggil ummi”
Biasanya anak-anak patuh untuk langsung datang menghadap begitu dipanggil pertama kali, tapi ada kalanya syeitan menggoda mereka untuk sedikit menguji kesabaran saya, dan mereka pun enggan memenuhi panggilan tersebut.
“panggilan kepada B, diminta hadir menghadap ibu Kiki Barkiah” dengan tenang dan bernada kokoh kalimat itu yang biasa saya keluarkan untuk panggilan yang diabaikan. Jika B tidak juga kunjung datang manghadap, saya biasanya berkata”oke, let’s talk later, but you still have a problem!” Terkadang anak-anak memiliki penolakan untuk menyelesaikan masalah mereka saat itu juga. Oleh karena itu saya memberikan ruang dan waktu baginya untuk berfikir dan menenangkan diri.
” i am very busy right now, but i need to talk with you, let’s talk later, and you still have a problem” Kalimat ini yang biasanya saya sampaikan saat saya harus menunda diskusi penyelesaian masalah bila tengah berada dalam pekerjaan yang sulit ditinggalkan. Melatih mereka menyelesaikan konflik membutuhkan alokasi waktu tersendiri yang tidak bisa dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain.
kalimat “ok! Let’s talk later, but you still have a problem” atau kalimat “your problem is not done yet!” biasanya saya sampaikan saat mereka belum mau bekerjasama menyelesaikan persoalan, anak-anak sangat mengerti bahwa saat itu mereka sedang berada dalam sebuah masalah yang berarti akan menunda mereka mendapatkan ijin-ijin tertentu. Misal, ketika tiba saat mereka mendapat hak untuk menonton atau bermain games, saya biasanya menyampaikan “ok! but you have to finish your problem with your brother/sister” sehingga biasanya saat mereka sudah tenang, meereka bersedia bekerjasama menjelaskan duduk persoalan diantara mereka dan menyelesaikannya.
Saat anak-anak siap bekerjasama untuk berdiskusi
Ummi: “do you have a problem with A?”
Lalu saya membiarkan B mengemukakan pendapatnya, biasanya disinilah mulai terjadi saling menyalahkan. Biasanya masing-masing memiliki pandangan sesuai dengan versimereka masing-masing.
Saat B menunjukkan kesalahan A, dengan tenang saya bertanya kepada A “is that right?” Biasanya A pun masih sibuk membela diri. Saat diskusi tidak mampu menemukan titik temu saya biasanya berkata “it’s ok if you are not ready to talk with me now. let’s talk later but your problem is not done yet!” biasanya anak-anak merasa keberatan jika saya menunda penyelesaian masalah karena menunda penyelesaian masalah berarti menunda turunnya hak-hak kesenanangan mereka. Dari situ mulailah satu persatu mereka berbicara lebih jujur terhadap permasalahan yang sebenernya.
“so in your opinion, what is your own mistake?” biasanya saya bertanya tentang kesalahan mereka masing-masing dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyebutkan kesalahan mereka. “So what you should do now?” biasanya mereka sendiri yang menjawab cara menyelesaikan masalahnya, misal dengan meminta maaf. “So what the lesson that you get from this case?” biasanya saya minta mereka sendiri yang mengurai hikmahnya, apa yamg seharusnya mereka lakukan saat menghadapi kasus yang sama. Setiap anak menjawab masing-masing setiap pertanyaan ini. Hanya mereka yang menjawab semua pertanyaan ini yang dinyatakan selesai keluar dari masalah. Lalu biasanya secara berurutan mereka meminta maaf sesuai urutan kejadian kesalahan. ” Ok guys your problem done!”
Kami sangat mengerti bahwa perkelahian diantara anak-anak usia kecil bukanlah menunjukan kenakalan mereka. Mereka hanya belum mampu mengurai dan menyelesaikan masalah secara bijaksana. Disinilah kesempatan besar bagi kami untuk mengajarkan kebijaksanaaan. Membiarkan mereka menilai kesalahan mereka sendiri serta solusi yang ingin mereka ambil. Tidak ada kamus yang besar harus mengalah kecuali dengan memberikan sebuah pertanyaan “Siapa yang mau memudahkan urusan kita kali ini?” “Siapa yang mau dapat pahala dari Allah dengan memudahkan urusan ini?” lalu biasanya diantara mereka ada yang berlomba-lomba untuk memudahkan urusan. Pelukan, ciuman, pujian kami berikan bagi siapa saja yang ingin mengalah dan memudahkan urusan, entah itu kakak atau adik, entah itu yang muda atau yang tua. Jika dalam sebuah kasus kami sangat berharap kakak lebih mengerti dan mau mengalah biasanya tanpa mengeluarkan perintah bahwa yang besar harus mengalah, saya menyampaikan “Ummi sangat berharap yang lebih besar lebih bisa mengerti, lebih bisa kerjasama. Siapa lagi yang bisa lebih ummi harapkan untuk kerjasama kalo gak sama yang lebih besar?” biasanya anak-anak yang usianya lebih besar akhirnya mau mengalah.
Begitulah kira-kira suasana persidangan di rumah kami yang terkadang bisa menghabiskan waktu 30 menit sampai 1 jam untuk sebuah kesempatan menggali hikmah. Bahkan terkadang ditengah kesibukan, persidangan harus kami tunda di waktu malam menjelang tidur. Atau bahkan terpaksa harus memberhentikan mobil di pinggir jalan jika permasalahan betul-betul harus diselesaikan saat itu juga. Kami sadar bahwa kehidupan hanyalah rangkaian masalah dan penyelesaian masalah. Untuk itu kami ingin sekali mengasah kebijaksanaan mereka sejak usia dini, mulai dari perkelahian-perkelahian diantara mereka
Ditulis di San Jose California, Korea, dan Singapura, diselesaikan di Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang terus belajar dan mengajarkan tentang kebijaksanaan mengelola masalah
Kiki Barkiah

Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 55 – Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

CKSPA Episode 55 – Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 55

Ketika Shiddiq Bertanya “How About Girls and Boys Sleep Over?”

Semakin renyah rasanya diskusi dalam keluarga kami, atau mungkin Allah sengaja menghadirkan diskusi-diskusi ini agar menjadi jalan untuk membuka diskusi-diskusi dalam keluarga lainnya melalui curahan hati yang saya tulis.

Suatu malam, saya sedang memberikan pengertian kepada anak-anak agar mereka lebih siap menerima perbedaan kondisi sarana prasarana yang akan kami miliki di tanah air saat kami hijrah nanti. Diskusi ini memang sering saya lontarkan supaya anak-anak lebih siap, lebih lapang dada, dan lebih bisa menyesuaikan kondisi saat berada di tanah air nanti.

Ummi: “nanti rumah kita di bandung, kamarnya hanya 2, kalo bapak lagi gak di bandung, teteh tidur di kamar ummi, anak laki-laki tidur satu kamar, tapi kalo bapak sedang ke bandung, bapak tidur di kamar ummi, teteh tidur di kamar satu lagi, dan pakai kasur yang terpisah, tapi aa harus tidur di ruang tamu”
Shafiyah: “why is aa not allowed to sleep with me, but shiddiq is allowed?”
Ummi: “karena aa sudah lebih dari selupuh tahun, kata rasulullah anak laki-laki dan perempuan harus dipisahkan tidurnya kalo sudah berumur 10 tahun. Bahkan kata rasul anak laki-laki dengan anak laki-laki atau anak perempuan dengan anak perempuan tidak boleh tidur satu selimut kalo sudah 10 tahun.
Shafiyah:.”how about in different bed but still in one blanket? Because sometimes Shiddiq with aa do like that!”
Shiddiq “yes sometimes i do like that because the blanket is so big!”
Ummi: “iya gak papa, yang penting ranjangnya pisah. Gak usah bobo peluk-pelukan”
Shiddiq: “but why husband and wife can sleep together?”
Ummi: “kalo suami istri boleh, kata Allah halal. Sodara kandung juga boleh, tapi sebelum umur 10 tahun”
Shiddiq:” how about with friends when they sleepover?”
Ummi: “kalo laki-laki sama temen laki-laki, dan perempuan sama temen perempuan boleh, tapi kalo diatas 10 tahun gak boleh satu selimut”
Shiddiq: “How about boys and girls sleep over? Like two boys with one girl”
Ummi: “ya gak boleh atuh, sama sodara juga kalo sudah besar gak boleh apalagi sama orang lain, kecuali suami sama istri”
Shiddiq: “how about if 100 boys with one girl sleep over, hahahah oh my God!”
Ummi: “shiddiq…shiddiq…. ya gak boleh atuh, jangankan boys and girls sleep over, bersentuhan kulit aja kata rasulullah gak boleh, salaman aja gak boleh!”
Shafiyah: “really ummi? Even when we make a mistake?” (Salaman minta maaf maksudnya)
Ummi: “ya kalo mau minta maaf salamannya dari jauh aja gak usah kena”
Shafiyah: “or we can just say sorry”
Ummi: “pokoknya anak laki-laki dan perempuan boleh main bareng-bareng yang gak boleh saling bersentuhan, trus mainnya rame-rame gak usah berdua”
Shiddiq: “how about if i accidently touch the girls?”
Ummi: “ya kalau gak sengaja gak papa”
Shiddiq: “how about if I touch the boys?”
Ummi: “ya boleh asal sentuhannya biasa aja gak berlebihan”
Shiddiq: “how about if take a bath together?”
Ummi: “ya kalau bayi sama bayi boleh kalo udah agak besar gak boleh”
Begitulah sederetan pertanyaan anak-anak yang memberikan peluang bagi kami untuk mengenalkan aturan Allah. Alhamdulillah biasanya ketika mereka tau bahwa perintah itu datang dari Allah dan Rasulullah salallahu alaihi wassalam, anak-anak cederung lebih sami’na waato’na (kami dengar kami taat). Berbeda ketika peraturan itu muncul dari orang tua, pertanyan “why ” akan lebih banyak bermunculan dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain sampai kemudian mereka sepakat.
Bagi keluarga kami, pertanyaan menjadi sebuah kesempatan besar untuk terbukanya kunci-kunci ilmu baik ayat kauniyah maupun kauliyah Allah.
Sebelum mereka terjun kedunia remaja, sebelum mereka banyak berinteraksi dengan orang lain, alhamdulillah Allah memberikan banyak kesempatan bagi kami untuk berikhtiar membangun imunitas mereka sehingga mereka tau mana yang baik mana yang buruk. Semoga Allah menundukkan hati kita dan keturunan kita untuk menerima perintah Allah dengan sami’na wa ato’na, kami dengar kami taat. Kelak sejalan dengan bertambahnya ilmu, mereka akan mengerti hikmah dibalik aturan Allah dan rasulNya.
Namun apakah pengertian dalam sudut pandang agama sudah cukup untuk menghindarkan mereka dari bahaya pergaulan bebas? Apakah pemahaman mereka tentang larangan Allah ini
telah menjamin mereka terbebas dari dosa? Kenyataannya, saya sulit sekali untuk memberi jawaban iya. Mengingat begitu besar godaan kemaksiatan di kalangan remaja saat ini. Mengingat hal tersebut juga telah terjadi dalam lingkungan orang-orang beragama bahkan dalam lingkungan pendidikan yang kental dengan nilai agama. Tidak….! Pengertian tentang halal dan haram belum mampu sepenuhnya menghindarkan kita untuk terlepas darinya.
Maka selain hati dan lisan ini terus meminta kepada Sang Penggenggam Jiwa anak-anak, agar mereka senantiasa dalam kebaikan, dijauhkan dari segala keburukan dan kemaksiatan, kami ingin berusaha memberikan benteng terbaik dalam keluarga bagi anak-anak kami tercinta. Kami berusaha untuk memberikan cinta, kasih sayang dan perhatian dalam keluarga. Semoga dengannya anak-anak tidak terlalu haus mencari perhatian, cinta, dan kasih sayang dari pihak lainnya. Kami berusaha untuk menghargai dan menerima mereka seutuhnya dan apa adanya. Semoga dengannya anak-anak tidak perlu bersikap berlebihan di luar kewajaran demi mendapatkan pengakuan dalam Iingkungannya. Kami berusaha membantu menemukan potensi, minat dan bakat mereka sedari dini, serta menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangannya. Semoga dengannya mereka senantiasa melampiaskan energi mereka pada hal yang positif, serta mendapatkan kepuasan batin dalam sebuah eksistensi yang positif. Kami berusaha menjadi tempat yang nyaman baginya untuk bercerita di masa kecil, menghargai setiap pemikiran dan keinginannya. Semoga dengan itu mereka tetap nyaman untuk dekat dan berbagi dengan kami ketika mereka beranjak dewasa, saat dimana kami harus lebih berdiskusi lebih detail tentang kebaikan dan keburukan. Kami berusaha memperkaya pengalaman masa kecil mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat, meminimalisir kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Semoga dengannya kelak mereka menemukan kesibukan diri yang produktif sehingga mereka tidak lagi memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi bermaksiat kepada Allah. Kami berusaha menghadirkan sosok lawan jenis yang penuh cinta bagi mereka, menjadi ibu yang dekat dan menyayangi anak-anak laki-laki, menjadi ayah yang dekat dan menyayangi anak-anak perempuan. Semoga dengannya mereka merasa terpenuhi kebutuhan akan sosok lawan jenis, sehingga mereka tidak perlu haus mencari sosok pengganti untuk mereka apalagi harus berperilaku yang menyimpang karena kebencian mereka terhadap gender tertentu. Kami juga berusaha menjadi teladan dalam memperlakukan orang lain khususnya pasangan. Suami menunjukkan kasih sayang dan kelembutan kepada istrinya, agar anak-anak laki-laki belajar memperlakukan perempuan dengan penuh penghargaan. Istri menunjukkan bakti dan penghormatan kepada suami, agar anak-anak perempuan belajar untuk menghormati laki-laki. Semoga dengannya kelak mereka belajar memperlakukan pasangan mereka dengan baik. Kami berusaha memberikan teladan dalam menutup aurat serta mengajarkan mereka tentang adab dan konsep aurat, memakaikan mereka pakaian-pakaian yang sesuai dengab syariat. Semoga dengannya anak-anak dapat menutup aurat dengan baik serta menjaga pandangan mata mereka dari sesuatu yang haram untuk mereka lihat. Kami berusaha memilihkan mereka lingkungan bergaul yang baik, meminimalisir pengaruh buruk yang bisa merusak fitrah mereka. Semoga dengannya mereka memiliki teman-teman yang mendekatkan mereka pada jalan kebaikan serta pandai menempatkan diri dalam lingkungan yang tidak sejalan dalam nilai-nilai yang kami anut. Kami berusaha mengenalkan mereka dengan kisah-kisah teladan dari orang-orang baik yang gemar melakukan kebaikan. Semoga dengannya mereka bisa mengidolakan orang-orang yang akan memotivasinya untuk selalu lebih baik dalam jalan kebaikan. Kami berusaha untuk mengajarkan kemandirian dan kematangan karakter sejak dini sehingga kelak jika hasrat mereka terhadap lawan jenis tidak mampu lagi ditahan melalui ibadah memperbanyak shaum, maka mereka telah siap untuk menyalurkannya dalam jalan yang benar melalui pernikahan.
Ya Allah, kami memang bukanlah seorang yang terbebas dari dosa. Namun ijinkan kami bertaubat dan memperbaiki kesalahan kami. Berikhtiar dengan ikhtiar terbaik dalam mendidik anak-anak kami agar mereka menjadi generasi yang senantiasa menjaga kesucian dirinya dan terlepas dan segala keburukan bebasnya pergaulan saat ini. Aamiin
Catatan:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh An Nawawi dalamRiyadhus Shalihin dan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
“Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishohihkan oleh syeikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 226
San Jose, California
Dari seorang hamba yang berusaha mensucikan diri dan keluarganya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 54 – Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

CKSPA Episode 54 – Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

Saat sahur bersama keluarga Ali berkata pada adik-adiknya “guys, for now you just learn how to fasting, you can break your fast if you feel really want to break your fast. Allah wants to make easy and Allah doesn’t want to make you hard. That’s what Allah says in the surah al baqarah” lalu ia pun sedikit berceramah tetang isi surat al baqoroh pada kami.

Jujur, pengetahuan Ali (11 tahun) tentang tafsir quran, sirah rasulullah dan sahabat beserta kolerasi hikmahnya di masa kini, serta sejarah dunia dan dunia islam jauh melebihi saya, atau paling tidak setara dengan sang ayah yang juga gemar membaca. Ternyata salah satu peran yang perlu kami jalankan sebagai orang tua di awal-awal kehidupan seorang anak adalah membangun lingkungan yang kondusif untuk menjadikan mereka seorang manusia pembelajar. Setiap anak memiliki fitrah agama dan fitrah pembelajar. Fitrah ini pula yang mendorong mereka untuk terus belajar mendalami agama dengan kecepatannya sendiri.
Dulu ketika ia masih kecil, sirah rasulullah, kisah nabi dan sirah sahabat menjadi salah satu menu yang kami sajikan dalam santapan ilmu hariannya. Namun meski ia sudah menamatkan buku-buku yang membahas tentang itu, ternyata tidak membuatnya bosan untuk kembali mempelajarinya. Pertemuannya dengan seorang syeikh yang begitu dalam ilmunya membuat ia begitu jatuh cinta mempelajari islam darinya, meski hanya melalui 1-2 jam kuliah melalui internet setiap harinya. Seperti halnya mengafal quran, mendengarkan kuliah Yasir Qodhi di youtube menjadi salah satu santapan harian Ali.Setelah Ali menamatkan 100 episode sirah Yasir Qodhi ia pernah menyampaikan pada saya bahwa ia begitu menikmati mempelajari islam. Dari sirah yang ia pelajari ia bisa mengetahui asbabul nuzul dan tafsir-tafsir sebagian ayat quran. Maka ia begitu tertarik mempelajari tafsir quran. Ia menyatakan sendiri pada kami bahwa ia ingin meneruskan kebiasaannya mendengarkan kuliah agama setiap hari di youtube untuk mengikuti kuliah tafsir. Maka beberapa minggu kebelakang ia sedang begitu sangat menikmati kuliah tafsir Yasir Qodhi atau Nouman Ali Khan. Ia begitu haus akan ilmu sehingga ia belajar begitu cepat, begitu dalam, bahkan sering sekali mengajarkan kami dan adik-adiknya tentang agama.
Namun berbeda dengan ilmu dunia, ilmu agama tidak cukup jika dipelajari hanya dari buku atau media tanpa adanya guru. Bagaimanapun Ali tetap membutuhkan komunitas muslim dan merasakan persaudaraan islam. Sehingga kami tetap mengikutkannya dalam sekolah akhir pekan (sunday school) meskipun pada awalnya ada pertentangan yang memicu perkelahian antara kami dengan Ali setahun yang lalu (saat ia berusia 10 tahun).
Kami mengerti bahwa Ali merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan belajarnya akan islam di Sunday School. Tapi kami tidak ingin membiarkan ia bersikap menyepelekan dan tidak menghargai forum ilmu yang ia jalani. Kami tidak ingin ada sebiji zarah pun kesombongan dalam dirinya ketika ia berada dalam sebuah forum ilmu yang ia wujudkan dengan pengabaian terhadap materi di kelas. Pertengkaran kami diawali oleh perintah ayahnya untuk belajar mempersiapkan ujian akhir sunday school. Ali yang terlihat menyepelekan dan tidak bersemangat mempersiapkan ujian membuat ayahnya sedikit marah. Awalanya saya hanya menyimak saat ayahnya menasihatinya. Saya pun sedang sibuk menyusui dan sudah setengah tidur karena lelah. Ali menangis dan menghampiri saya, berkata “This is not my idea to go to sunday school” Saya yang pada saat itu sedang sangat mengantuk berat pun terpancing marah dan berkata “Yes this is our idea!!! Because we are your parent!!” Setelah istigfar dan menangkan diri, saya berbicara padanya bahwa keputusan mengikutkannya pada Sunday School adalah salah satu ikhtiar kami untuk menjaga fitrahnya dalam beragama. Kami tidak mampu mendaftarkan mereka ke sekolah islam di Amerika yang luar biasa mahalnya, sementara kami juga tidak merasa mampu untuk menjadi satu-satunya guru yang membimbingnya dalam hal agama. Bagaimanapun ia membutuhkan guru dan komunitas muslim. “Oke Aa, sekarang begini saja…. Aa pikirin apa ide dari aa untuk belajar agama, kalau memang aa punya cara yang lebih baik untuk menjaga fitrah aa dan mendekatkan diri aa ke surga, ummi ikut cara aa. Silahkan aa pikirin, besok kita bicara lagi”
Keesokan harinya diskusi kami lanjutkan dalam suasana yang lebih tenang. Namun ia pun belum terlalu memiliki ide yang lebih baik kecuali mengikuti ide kami untuk belajar islam di Sunday School. “Ummi mengerti kamu punya kebutuhan yang berbeda untuk belajar agama, ummi tau kamu bosan dengan pelajaran di sunday school. Begini saja, aa niatkan sunday school sebagai forum ilmu untuk mencari keberkahan, disana kamu bisa bertemu saudara-saudaramu seislam. Ummi hanya minta kamu bersikap baik dan menghormati gurumu di dalam kelas. Sementara untuk belajar yang sesuai dengan aa inginkan, aa bisa dalami via online bersama ummi. Ummi minta aa bersabar, terkadang Allah menginginkan kebaikan di balik sesuatu meski saat ini kita berat melaksanakannya”
Setelah itu ia kami minta untuk membuat rencananya sendiri dalam mendalami agama sebagai bekal utama kehidupannya. Dari mana saja sumber yang ingin ia pelajari, berapa banyak kuliah yang ia ingin ikuti setiap pekan, kapan ia memiliki taget untuk menjadi hafidz quran, lalu berapa baris quran yang ingin ia upayakan untuk mencapai targetnya.
Sayapun meminta maaf atas sikap kemarahan saya padanya malam itu. Saya begitu sangat lelah sehingga tidak dapat mengontrol emosi saya. Ali pun sempat menutup pembicaraan kami dengan berkata “ummi i will try to not make you mad more than 3 times in 10 years” hahahaha rupanya ia menghitung kemarahan dasyat saya dalam 10 tahun kehidupannya. Seingatnya ada 3 kali kemarahan seperti ini, yaitu saat ia berbohong dan saat ia tidak bertanggungjawab.
Pada awalnya ia menjalankan rencananya sendiri dengan tidak mudah. Ia masih harus terus diingatkan untuk melaksanakannya, juga masih sulit mencapai target yang ia buat sendiri. Tapi masya Allah atas ijin Allah, lama kelamaan kesulitan itu menjadi lebih mudah. Lama kelamaan kewajiban itu menjadi kebiasaan. Lama kelamaan kebiasaan itu menjadi kebutuhan. Sehingga ketika saya bertanya di pagi hari tentang kegiatan apa yang ingin ia lakukan terlebih dahulu, ia sering memilih untuk menghafal quran. Ketika cuaca sangat dingin dan semua orang malas bergerak sarapan pagi, maka ia biasa mendengarkan kuliah di youtube di dalam selimutnya.
Saya pun sangat bersyukur pada Allah, setelah pertengkaran itu, sikapnya di Sunday School semakin lebih baik. Ia pun semakin menikmati kebersamaannya dengan saudara-saudara seiman. Apalagi saat itu ia sudah menjalankan homeschooling, sehingga sunday school menjadi ajang untuk sosialisasinya. Ketika gurunya bertanya apakah ia mau dipindahkan ke kelas khusus untuk mata pelajaran quran ke level yang lebih tinggi, Ali pun menolak dan memilih tetap bersama teman teman sekelasnya karena ia meniatkan kelas tersebut untuk memurojaah hafalan lamanya. Alhamdulillah di akhir tahun ia pun dapat kesempatan memenangkan juara 1 islamic quiz yang diselenggarakan di sekolahnya.
Ada ruang dimana kita bisa memberikan kebebasan untuk memilih antara menjalankan atau tidak menjalankan. Namun adakalanya tidak ada ruang pilihan yang bisa kita berikan kepada anak-anak ketika hal itu sudah menjadi kewajiban. Namun kita masih bisa mencari cara terbaik yang kita sepakati bersama dalam menjalankan kewajiban itu. Memiliki bekal ilmu agama adalah kewajiban setiap manusia. Jauh lebih penting dari ilmu-ilmu lainnya. Tidaklah berguna sekian keahlian yang dimiliki anak-anak kita yang mereka dapat dari sekian kursus dan lembaga pendidikan jika tidak memiliki ilmu dasar agama. Bagi kami, memberikan kesempatan bagi anak-anak dalam memperdalam ilmu agama bukan berarti mengarahkan mereka harus menjadi ahli dalam ilmu syariat. Paling tidak cukup memberikan bekal yang akan menuntun kehidupan mereka agar selamat di dunia dan akhirat. Namun ketika kami memilih cita-cita untuk mendapat kedudukan istimewa di akhirat, maka jalan dakwah adalah jalan terbaik yang paling memudahkan kita untuk meraihnya. Kita adalah dai sebelum apapun. Kita adalah dai yang pedagang, kita adalah dai yang ilmuwan, kita adalah dai yang insinyur, kita adalah dai yang menjadi guru, kita adalah dai yang direktur, apapun…apapun peran yang kelak mereka akan jalankan semoga dai adalah peran mereka yang utama.
Ya Allah alhamdulillah, terimakasih atas pertengkaran yang membawa keberkahan.
San Jose, California
Dari seorang ibu yang belajar agama bersama dan dari anak-anaknya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 53 – Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

CKSPA Episode 53 – Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 53

Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

Entah bagaimana mereka mengawali candaan di dalam kamar, tiba-tiba saya yang tengah memasak mencuri-curi dengar. Saat itu Shiddiq sedang bercerita hayalan panjang lebar tentang kisah seseorang yang menikah kemudian istrinya meninggal kemudian menikah lagi kemudian meninggal lagi. Namun lucunya konseppernikahan ala Shiddiq dalam hayalannya itu menyebutkan beberapa benda seperti kucing, kambing, laptop, dll. Kakak- kakak tertawa terbahak-bahak, mereka berkomentar bahwa mana mungkin manusia bisa menikah dengan hewan atau barang karena menikah itu harus sesama satu spesies. Di sela-sela candaan itu saya mendengar Shiddiq berkata “and then he married with a boy, and the boy died too bla..bla..” Terdengar kakaknya berkomentar “How could men merried with men?”, sambil saling tertawa semuanya. Ah….. !!! Alhamdulillah ini kesempatan emas bagi saya membuka pembicaraan tentang wacana fenomena LGBT kepada anak-anak, pikir saya.
Di malam hari usai berbuka puasa saya pun membuka pembicaraan
“Btw ummi denger cerita idiq tadi siang soal menikah terus mati terus menikah lagi, kok menikahnya sama laptop, kucing, kambing sih?” Saudara-saudaranya pun kembali tertawa “Shiddiq menikah itu cuma bisa dengan spesies satu jenis, manusia dengan manusia, kucing dengan kucing, kodok denga kodok” kata saya sedikit mengajarkan materi sains. Lalu Shiddiq berkomentar “So Ocean can married with ocean!!” Semua keluargapun tertawa “no married is just for living thing, ocean is non living thing” kata Aa Ali.
Saya pun menyampaikan bahwa menikah itu hanya bisa dilakukan oleh makhluk dengan spesies yang sama tetapi antara laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Pernikahan antara sesama jenis tidak bisa dan tidak boleh dilakukan.
“eh tapi ada lho kaum yang suka menikah dengan sesama jenis, kaumnya nabi luth, siapa yang mau mendengar kisah nabi luth?” Ummi pun becerita singkat tentang kisah kaum nabi luth.
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”(TQS. Al-A’raf [7]: 80-81).
Shiddiq: “Why they want to do that ummi?”
Ummi: “Ya karena mereka lebih memilih untuk ngikutin ajakan syeitan”
Saya menjawab dengan sangat abstrak karena bingung. Alhamdulillah guru asisten saya ikut membantu menjelaskan.
Ali: “syeitan always wanted to invite us to do the opposite of what Allah said, for example when the prophet saw commanded us to eat with our right hand, syeitan eat with the left hand. When people called by their father’s name (example,Ali bin Abi Thalib), in the world of the jinn they called by their maother’s name. That’s why in the sihr they use the mother’s name”
Shiddiq pun mengangguk-angguk
Ummi:”nah Shiddiq, kaum seperti kaum nabi luth yang di azab oleh Allah ini, sampai sekarang pun masih ada. Bahkan di Amerika banyaaaaaaaak sekali.”
Shiddiq dan Shafiyah: “really???”
Bapak: ” iya diq, mungkin kamu nanti liat di jalan ada bapak-bapak berdua jalan sama anaknya”
Ummi: “mungkin juga nanti idiq nemuin temen idiq yang orang tuanya dua-dua ibunya atau dua-duanga bapaknya, mereka itu orang yang gak mau nurutin perintah Allah dalam Al-quran padahal hal itu dilarang”
Shafiyah:”but, how they could have children if they are the same?”
Ali:”They addopt the children! They can’t have their own children”
Ummi:”nah yang kayak begitu gak boleh dalam islam”
Pembicaraan dengan Shafiyah dan Shiddiq hanya difokuskan sampai mereka tahu keberadaan fenomena tersebut dan bahwa itu dilarang dalam islam. Sementara pembicaraan saya terhadap Ali masih berlanjut.
Ummi:” Aa sekarang orang-orang itu banyak ngajarin hal seperti itu sama anak-anak agar mereka merasa bahwa hal seperti itu menjadi biasa aja. Sekarang banyak lho komik-komik yang beredar di anak-anak Indonesia yang nyontohin kayak gitu.”
Ali:”really??”
Ummi:”makanya aa gak bisa sembarangan baca apa yang lagi temen-temen aa baca, begitu juga nanti kalo kita lagi pulang ke Indonesia. Aa harus tanya dulu sama ummi dan bapak, biar kita bisa pelajari reviewnya apakah buku itu baik atau nggak, bermanfaat atau nggak, kalo gak, ummi dan bapak akan carikan buku lain yang bermafaat dan aa juga suka. Aa juga perlu lebih hati-hati kalo bertemen walau sama sesama jenis karena kita kan gak tau apa mereka punya pemikiran seperti kaum luth atau tidak. Kita kan gak tau buku apa yang mereka baca, film apa yang mereka tonton. Pokoknya kalo aa merasa ada perlakuan temen laki-laki aa yang dirasa gak wajar, ya aa harus hati-hati. Jaga aurat dan pandangan kamu gak cuma ke temen perempuan, tapi juga ke temen laki-laki”
Pembicaraan pun masih berlanjut di keesokan harinya. Setelah selesai salat subuh di masjid, saat adik-adiknya kembali tidur setelah sahur, saya meminta Ali menonton bersama wawancara syeikh Yasir Qodhi dalam the deen show tentang islam dan homosexual. Intinya syeikh yasir qodhi menerangkan beberapa point berikut ini:
1. Setiap manusia itu punya hasrat, seperti halnya beliau dan lelaki pada umumnya yang sangat tertarik jika melihat wanita cantik, namun apakah itu berarti bahwa kita berhak untuk mengikuti keinginan kita? Misal kita melihat barang, kita ingin sekali mencurinya, apakah dorongan itu berarti membolehkan kita mengikuti hawa nafsu kita? Perumpamaan ini yang beliau utarakan bagi mereka yang merasa bahwa hasrat menyukai lawan jenis merupakan fitrah bawaan, buka berarti kita harus mengikuti dan menyalurkannya. Ada perintah Allah yang membatasinya sehingga manusia harus berupaya melawan hasrat tersebut.
2. Menyukai sesama jenis tidak berarti membatalkan keislaman, seperti halnya seorang muslim yang meminum Alkohol tidak membatalkan keislaman. Namun terhadap orang seperti ini harus kita pahamkan bahwa mereka melanggar syariat islam.
Dalam ceramahnya syeikh Yasir Qodhi juga mengisahkan tentang seorang jamaah muslim yang berkonsultasi dengan beliau. Jamaah tersebut memiliki kecenderungan terhadapsesama jenis melebihi kecenderungannya terhadap lawan jenis. Namun karena ia mengerti tentang larangan Allah, ia berusaha untuk melawan keinginan tersebut ke.udian ia menikah dengan perempyan, dan masih baik sampai sekarang
Setelah mendengar ceramah, saya membuka kembali pembicaraan bersama Ali.
Ummi: “gimana tanggapan aa tentang ceramah tadi? ”
Ali:”if everyone becomes a thief, does not mean we should be thieves also”
Ummi:”betul sekali Ali, dunia ini sudah mengerikan nak, kebenaran itu tidak lagi tergatung pada apa yang memang benar tertulis dalam al-quran atau sunnah. Jaman sekarang kalo semua orang mengangap itu benar, walaupun itu salah, orang akan menganggap yang salah itu menjadi benar. Dan menganggap orang-orang yang mempertahankan kebenaran sebagai orang yang aneh bahkan salah. Nah dulu dalam sejarahnya, di dunia kedokteran menyatakan bahwa perilaku homosexual ini merupakan suatu penyimpangan. Nah kemudian di era tahun 70an kalo gak salah, tiba-tiba hal ini tidak lagi terdapat dalam literatur kedokteran sebagai suatu penyakit, jadi hal ini dianggap wajar menjadi bagian dari jenis-jenis kepribadian manusia. Bahkan ianehnya jaman sekarang, bagi mereka yang menentang keberadaan homosexual justru dianggap aneh, dianggap tidak menghargai kesetaraan hak asasi manusia, dianggap mendiskriminasikan kelompok”
Pembicaraan dengan tema ini masih berlanjut pajang mendominasi suasana homeschooling bersama Ali hari itu. Ia menonton film harun yahya tentang becana kaum sodom, kemudian sesekali mendiskusikannya dengan saya. Seharian kami berdiskusi tentang bagaimana bergesernya nilai-nilai kebenaran yang dianut masyarakat khususnya remaja. Saya pun mengingatkan Ali untuk tetap percaya diri mempertahakan keyakinan yang ia anut meski ia akan sedikit merasa berbeda pada beberapa hal dengan teman-teman lainnya.
Di malam hari Ali menutup pembicaraan kami dengan sebuah pertayaan. “Ummi, Nouman Ali Khan said that nowadays people make opinions and then they look for Quran verses to support their thought. We should read and study the Qur’an and then we could have a view from Quran!”
Ya Allah, semoga lisan ini tidak salah dalam menyampaikan kepada mereka.
Saya lebih memilih untuk memulai pembicaraan ini lebih dulu kepada anak-anak sebelum pandangan lain memberikan pandangannya kepada anak-anak. Saya lebih memilih untuk mengenalkan fenomena yang ada di masyarakat di balik jendela kemurnian fitrah mereka yang kami jaga di dalam rumah, sebelum mereka terjun langsung merasakan realita. Saya harus memilih, walau mungkin tidak tepat waktu atau caranya, tapi paling tidak yang saya sampaikan pada mereka adalah sebuah kebenaran. Sementara diluar sana banyak orang yang dengan percaya diri menyampaikan pemikiran kosong dan tanpa dasar di dunia publik.
Ya Allah, saya memang bukanlah saintis yang mampu berdebat membicarakan tentang kromosom Xq28, berdebat tentang apakah homosexual natural atau nurture. Saya juga sedang tidak memiliki banyak energi menjadi aktivis ham yang mampu menarik urat berdebat panjang dengan mereka yang memperjuangakan kesetaraan. Saya hanyalah hamba Allah yang berusaha untuk taat terhadap perintah Allah. Saya hanyalah seorang ibu yang ingin menjaga fitrah anak-anaknya dan ingin mengajak para orang tua lainnya untuk berpegangan erat dengan pasangan kita dan memeluk erat anak-anak kita dalam emnjaga fitrah mereka ditengah jaman yang wong edan ini. Saya hanyalah seorang ibu yang berusaha mendidik anak perempuan untuk menjaga fitrahnya sebagai perempuan, dan mendidik anak laki-laki untuk menjaga fitrahnya sebagai laki-laki.
Ya Allah jagalah kami dan keturunan kami dari siksa api neraka. Ya Allah jagalah kami dan keturunan kami dari fitnah dunia dan fitnah dajjal di akhir zaman ini.
San Jose, California
Dari seorang hamba yang berharap penjagaan Rabbnya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 52 – Satpam Gadget yang Cerewet