Penghibur Orangtua untuk Anaknya Mondok

Dari orang tua santri

Untuk para ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah….

::“` SEKEPING CATATAN HATI“` ::

Anak-anak kami,
Adalah bagian dari jiwa kami..

Melepas mereka tak ubahnya seperti mencabut hati kami sendiri.

Andai bisa, tentu kami ingin mereka selalu dalam jangkauan mata.
Namun kami sadari, tangan kami saja tak cukup kuat membimbing mereka..

Kami mencintai mereka,
Tapi, cinta kami seringkali buta,
Tak sanggup melihat aib dan kurang mereka..

Kami menyayangi mereka,
Tapi kasih sayang kami terkadang tak cukup menyelamatkan mereka dari api Neraka..

Menyadari ketidakberdayaan kami,
Dengan sepenuh kesadaran, kami lepaskan anak-anak kami jauh dari rumah, tempat mereka dibesarkan..

Ada sesak yang kami tahan di dada,
Ada air mata yang diam-diam kami tumpahkan,
(Ketika) melepas kepergian mereka..

Hanya harapan yang sanggup membuat kami berpura-pura tersenyum,
Harapan kiranya perpisahan ini menjadi jalan yang akan mengantar mereka menuju ketakwaan..

Anak-anak kami,
Datang ke Pondok ini dengan segenap kekurangan mereka..

Maafkan, jika mereka kurang santun dalam berperilaku,
Kurang sopan dalam bertutur kata,
Kurang sungguh-sungguh dalam belajar,
Kurang taat pada peraturan,
Dan sederet kekurangan lainnya..

Anak-anak kami,
Bukan sepotong kain yang kami kirim untuk dijahit menjadi baju dalam hitungan hari,
Bukan adonan tepung yang hanya butuh beberapa jam untuk mengolahnya menjadi roti..

Tapi, jiwa-jiwa yang punya ego dan perasaan,
Yang perlu proses panjang untuk membentuk akhlak dan kepribadian mereka..

Mungkin, sesekali mereka akan membangkang,
Dan dengan keterbatasan ilmunya, menjerumuskan diri ke dalam dosa..

Saat itulah, kami harapkan teguran penuh kelembutan dari ustadz/ah untuk anak-anak kami..

Atau, peringatan tegas, bahkan sedikit “kekerasan” dalam batas syariat sebagai pendidikan..

Betapapun kami menyayangi anak-anak kami,
Betapapun kami ingin mereka hidup nyaman tanpa beban,
Kami masih tega melihat mereka menanggung “kesusahan” hidup sebagai santri,
Demi mendidik mereka menjadi pribadi bertakwa..

Kami rela mereka menanggung beban dunia,
Tapi kami tak sanggup melihat anak-anak kami terjerumus dalam dosa dan tersiksa dalam panasnya Neraka..

Karenanya,
Dengan segala kerendahan,
Kami mengharapkan bantuan ustadz/ah dalam membimbing mereka..

Anak-anak kami,
Pergi jauh meninggalkan orangtua dan sanak saudara,
Kami harap di Pondok mereka menemukan gantinya..

Rengkuh mereka sebagai anak,
Atau adik yang layak disayangi setulus hati..

Jangan pandang mereka dengan ketidaksempurnaan mereka saat ini,
Tapi lihatlah mereka belasan atau puluhan tahun mendatang..

Anak-anak kami,
Dengan segala kekurangannya adalah aset muslimin,
Calon penerus perjuangan masa depan..

Kami tak mengharap kesempurnaan ustadz/ah dalam memahami anak-anak kami,
Sebab kami sendiri, yang mengenal mereka sejak masih dalam kandungan-pun, seringkali gagal mengenali karakter mereka..

Hanya kesabaran dan kesungguhan dalam usaha,
Yang kami yakin tak semudah membalik telapak tangan..

Meski sebenarnya kami merasa malu,
Sebab kami tak dapat menawarkan apapun sebagai imbalan..

Hanya secuil doa,
Kiranya setiap tetes keringat akan meluruhkan dosa-dosa..

Kiranya setiap jengkal langkah dan jerih payah meninggikan derajat Antum di taman-taman Surga..

Dan kiranya setiap sesak yang menghimpit karena ulah anak-anak kami melapangkan jalan Antum menuju ridha-Nya..

Kami, dengan sepenuh usaha akan belajar ikhlas melepas anak-anak kami..
Akan kami iringi kesabaran ustadz/ah dengan ketabahan..
Akan kami imbangi kegigihan Antum dengan doa dalam sujud-sujud panjang..
Akan kami teladani keikhlasan dan kesungguhan Antum, sebab kami sadar, kami-lah yang pertama bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak kami…

Bi-idznillah, In syaa Allah..

Cuplikan Untaian Nasihat Ibnu al-Jauzi Teruntuk Anak Tercintanya

Seandainya seorang dari kita mencermati lama masa hidupnya di dunia, taruhlah sepanjang enam puluh tahun. Kurang lebih tiga puluh tahun dari itu dihabiskan untuk tidur. Masa kanak-kanak dan remaja sekitar lima belas tahun. Jika sisanya dihitung, bagian terbesarnya habis digunakan untuk mengikuti dorongan syahwat, makan dan mencari penghidupan. Yang tersisa untuk akhirat pun masih tercampur riya dan kelalaian. Jadi, dengan apa Ananda akan membeli kehidupan abadi di akhirat?
 
Telah kau ketahui, Wahai Anakku! Bahwa aku telah menulis sebanyak seratus kitab. Di antaranya adalah Tafsir Kabir sebanyak dua puluh jilid. Kitab Tarikh sebanyak dua puluh jilid. Tahdzibul Musnad sebanyak dua puluh jilid. Selebihnya ada yang berjumlah lima, empat, tiga dan dua jilid. Ada pula yang kurang atau lebih dari jumlah tadi. Aku telah mencukupkanmu dengan karya-karya tulisku ini dari meminjam buku dan memfokuskan perhatianmu untuk menulis. Maka, berupayalah menghapal (kitab-kitab itu). Menghapal adalah modal utama. Menata-kelola usaha dengan baik akan menentukan keuntungan yang akan kau peroleh. Jujurlah dalam memohon bimbingan dari Allah Ta’ala.
 
Ketahuilah, Wahai Anakku! Semoga Allah senantiasa memberimu taufik, tidaklah manusia diistimewakan dari makhluk lain dengan akal melainkan agar ia berbuat sesuai dengan rasionya. Maka, hadirkan akalmu, gunakan pikiranmu, dan renungkan. Pelajarilah bahwa dirimu adalah makhluk yang dibebani tanggung jawab. Dirimu bertanggungjawab untuk menjalankan sejumlah kewajiban. Kedua malaikat selalu mencatat kata-kata yang kau ucapkan juga gerak-gerikmu dan sesungguhnya langkah menuju ajalmu dan masa hidupmu di dunia ini amat lah singkat. Sementara, dirimu akan tertahan di dalam kubur dalam masa yang cukup panjang. Dan azab yang sebabnya adalah mengikuti hawa nafsu tentu sangat menyengsarakan. Maka, di mana kelezatan yang kemarin engkau nikmati saat engkau telah pergi dan meninggalkan penyesalan? Di mana dorongan syahwat dalam jiwamu saat ini di kala kau menundukkan kepala dan tergelincir (ke dalam siksa)?!
 
Tidak ada yang berbahagia selain mereka yang sanggup mengekang hawa nafsu dan tidaklah sengsara melainkan mereka yang terlalu mementingkan urusan dunia. Ambillah pelajaran dari para penguasa dan ahli zuhud terdahulu. Di mana kelezatan yang mereka rasakan saat ini? Di mana keletihan yang dulu dirasakan oleh mereka? Nama baik orang-orang salih akan selalu kekal, sedang cacian dan umpatan akan terus lekat pada orang yang doyan bermaksiat, seakan orang yang kenyang tidak pernah kenyang dan yang lapar pun demikian.
Alee Massaid
Cuplikan Untaian Nasihat Ibnu al-Jauzi Teruntuk Anak Tercintanya
.

Here is a collection of places you can buy bitcoin online right now.

Sambutan Bu Kiki Barkiah Saat Tasmi’ Qur`an Putranya, Bikin Merinding…

Renungan Pagi untuk kita para orangtua terutama dan pada generasi muda… (Semoga Allah Memberikan Hidayah-Nya Kepada Kita Semua)
 
 
Pada hari jum’at yang penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh Kiki Barkiah berhasil mengkhatamkan hafalan qur’annya sebanyak 30 juz selama setahun di sebuah pesantren di Bogor.
Yang istimewa dari acara tasmi’ kemarin adalah sambutan teh Kiki, beliau menyampaikan isi hatinya untuk seluruh santri di pesantren tersebut. Juga untuk seluruh penghafal qur’an di Indonesia. Berikut ini kutipan seluruh pidatonya. Yang beliau sampaikan dengan penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. 
 
Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.
 
Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.
 
Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.
 
Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.
 
Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
 
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
 
Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
 
Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil menghisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
 
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
 
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!
 
ALLAHU AKBAR!!!!!
 
Parung Bogor 7 Okt 2016

Pendelegasian yang Kebablasan

Meskipun kekuatan doa memiliki peran penting dalam proses membentuk anak-anak sholih, bagaimanapun membentuk anak sholeh berkaitan erat dengan proses pendidikan. Sebagian orang tua memahami bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Mendidik anak dengan baik identik dengan menyekolahkan mereka ke lembaga pendidikan terbaik.

Jika kita melihat konsep pendidikan di negara Indonesia, cita-cita mulia dari proses pendidikan nasional akan lebih sulit dicapai tanpa adanya proses pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat.
Menurut Undang Undang no 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Undaang-Undang no 20 Pasal 1 ayat 11, 12, 13,14, komponen pendidikan terdiri dari:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
4. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Banyak kita temui masyarakat Indonesia yang sering mengeluhkan kekurangan sistem pendidikan nasional. Sebagian menilai bahwa sistem pendidikan nasional tidak sampai mampu melahirkan generasi yang memiliki kualitas unggul. Dengan menyimak kutipan undang-undang diatas jelas terlihat bahwa cita-cita pendidikan nasional dapat dicapai dengan adanya peran dari komponen-komponen tersebut. Maka cita-cita pendidikan nasional akan sulit tercapai tanpa adanya pendidikan keluarga dan lingkungan yang baik. Pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan peletak dasar proses pendidikan seorang anak. Pendidikan formal di Indonesia tidak dirancang untuk menggarap semua peran tersebut. Justru yang mengherankan adalah adanya pergeseran pemahaman di dalam masyarakat tentang siapa yang seharusnya yang paling utama memikul tanggung jawab pendidikan bagi seorang anak. Pendidikan, kini indentik dengan menyekolahkan. Tidak menyekolahkan anak, kini identik dengan tidak memperhatikan pendidikan anak. Menjalankan pendidikan berbasis keluarga atau home eduction, kini menjadi barang yang cukup langka. Melaksanakan pendidikan dengan metode homeschooling dianggap sebagai pilihan yang sangat “istimewa”.
Jauh sebelum adanya sekolah formal, metode pendidikan berbasis keluarga atau home education adalah metode pendidikan yang telah dijalankan banyak manusia selama berabad-abad. Namun setelah masyarakat mendapat berbagai kemudahan dengan adanya bantuan dari lembaga pendidikan seperti sekolah, kamudahan ini cukup melenakan para orang tua. Pendelegasian proses pendidikan anak menjadi cenderung kebablasan, salah satunya ditandai dengan fenomena sebagai berikut:
1. Bergesernya pemahaman tanggung jawab pengasuhan. Dimana tanggung jawab pengasuhan anak dimaknai sekedar pemenuhan kebutuhan fisik dan penyediaan materi untuk membayar pemenuhan kebutuhan rohani dan akal
2. Adanya pengalihan terhadap tanggung jawab pendidikan dari orang tua ke lembaga pendidikan. Sekolah kini seolah menjadi penanggung jawab utama proses pendidikan anak.
3. Sekolah dianggap mesin pencetak anak sholih dan pintar. Orang tua berharap output yang dihasilkan dengan menyekolahkan anak-anak adalah berupa anak-anak yang sholih dan pintar. Sebagian orang tua bahkan berharap hasil yang instan. Sekolah dianggap tidak memiliki kualitas yang baik jika tidak mempu melahirkan output ini secara instan.
4. Semakin mahalnya harga waktu kebersamaan bersama anak. Orang tua disibukkan oleh pekerjaan seputar mencari nafkah, sementara proses pendidikan diserahkan ke berbagai pihak.
5. Orang tua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup untuk melakukan pendidikan di dalam rumah sehingga hubungan yang dibangun dalam suasana pengasuhan tidak mengandung nilai pendidikan.
6. Orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun ikatan yang kuat dengan anak-anak mereka karena anak-anak telah disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah sejak dini. Bahkan porsi waktu interaksi anak-anak dengan lingkungan sekolah lebih besar dari interaksi dengan lingkungan keluarga. Padahal kebersaman yang bermakna di awal-awal tahun usia anak-anak adalah investasi berharga bagi masa depan mereka.
7. Orang tua tidak menyadari bahwa ada ilmu dasar yang harus dimiliki manusia dalam mengarungi kehidupan sehingga anak-anak kelak dapat hidup secara mandiri dan bermartabat. Ilmu tersebut salah satunya harus dipenuhi melalui pendidikan di dalam keluarga. Sehingga ketika orang tua hanya mengandalkan proses pendidikan formal sebagai satu-satunya proses pendidikan bagi anak, muncul berbagai permasalahan tingkah laku dan pola pikir anak yang berpengaruh kepada tatanan sosial secara umum.
Pendelegasian proses pendidikan yang cenderung kebablasan ternyata menimbulkan berbagai problematika sosial. Sebagian sekolah atau lembaga pendidikan bahkan harus bekerja keras untuk mengambil alih berbagai peran yang seharusnya dilakukan dalam pendidikan keluarga.
Fungsi pendidikan keluarga diantaranya
1. Membangun fondasi kecerdasan spiritual seorang anak
Membangun fondasi kehidupan beragama seorang anak
2. Membangun fondasi kehidupan sosial seorang anak
3. Membangun fondasi kecerdasan emosional anak
4. Membangun fondasi akhlakul karimah
5. Memenuhi kebutuhan akan cinta kasih dan perasaan aman
Sementara fungsi pendidikan sekolah formal secara umum mencakup hal berikut:
Memberikan tambahan pengetahuan serta mengembangkan kecerdasan berfikir anak didik
Melaksanakan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
Melakukan efisiensi dalam proses pendidikan kerena pendidikan dilakukan dalam program yang sistematis dan ditujukkan untuk peserta didik dalam jumlah yang banyak.
Sarana berosialisasi bagi anak yang merupakan proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Proses trasmisi dan konservasi budaya dalam masyarakat
Sarana transisi dari lingkungan rumah ke lingkungan masyarakat yang memberi kesempatan bagi anak untuk berlatih kemandirian dan tanggung jawab sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.
Oleh karena itu, tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukkan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren. Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik. Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang diterpa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?
Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interkasi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.
Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya! Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya! Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

 
Kiki Barkiah

CKSMA B-19 Ummi.. Bapak.. Terimakasih Karena Masih Percaya, Padahal….


Begitulah cuplikan isi surat yang Ali tulis di usia 12 tahun pada saat ia tengah berkonsentrasi menghafal quran di sebuah Pesantren. Begitu haru perasaan saya membacanya, karena bagi saya kalimat itu memberi gambaran sebuah penyesalan diri seorang anak yang pernah berbohong pada orang tuanya. Juga memberi gambaran rasa enggan untuk melakukan kebohongan lagi kepada orang tua yang masih terus menerus percaya padanya meski pernah ia bohongi. Kalimat itu juga memberikan gambaran bahwa diantara kita sedang tidak ada penghalang untuk mengakui kesalahan di masa lalu. Entah apa yang terjadi di Pesantren sehingga mendorongnya untuk menuliskan itu pada kami. Hanya doa keberkahan yang dapat kami panjatkan bagi siapapun para guru yang menjadi perantara hidayah anak-anak kami.
Ada satu masa saat kami belum bersemangat mencari ilmu pengasuhan anak, kami merespon kebohongan Ali pertama kali dengan tangisan histeris kekecewaan sambil memeluknya dengan erat. Sambil terus mempererat pelukan saya berteriak “kenapa kamu bohong??? kenapa kamu harus bohong sama ummi? Kenapa anak ummi yang sholih harus bohong??” Peristiwa itu adalah kali pertamanya saya marah pada Ali dengan suara meninggi. Saat itu ia berusia 7 tahun. Namun sejak peristiwa itu, kami malah menemukannya berkali-kali takut untuk berkata jujur kepada kami.Lalu saya pun mengingat masa lalu saya. Keadaan seperti apa yang membuat saya memilih berbohong dihadapan orang tua. Saya pun teringat, bahwa semakin keras orang tua saya menentang, semakin takut bagi saya berbuat jujur dihadapan mereka. Sekali saya berbohong, maka saya akan menutup kebohongan dengan kebohongan lain.Kami tidak ingin hal ini terulang pada anak-anak kami. Kami tidak ingin anak-anak memiliki perasaan takut untuk mengakui kesalahan mereka dihadapan kami. Kami tidak ingin anak-anak enggan untuk terbuka dengan keadaan mereka kepada kami. Kami ingin hadir bagi mereka sebagai orang tua yang memahami perasaan mereka, menghargai pendapat mereka, menanti proses kedewasaan mereka, serta menerima kesalahan-kesalahan mereka sebagai bagian dari perjalanan kehidupan mereka.
Kami tidak ingin kemarahan kami dalam hal-hal yang tidak kami sepakati dengan mereka, membuat kami kehilangan kesempatan untuk menggali hikmah dibalik kesalahan dan kegagalan yang dialami anak-anak kami. Karena keberkahan dari sebuah kegagalan adalah bagaimana kegagalan tersebut menjadi cambuk bagi kita untuk semakin lebih baik lagi.
Mencoba menyelami perasaan saya sebagai seorang anak, ternyata hal yang sangat penting yang saya butuhkan dari orang tua adalah rasa percaya. Rasa percaya bahwa sesungguhnya saya tidak berniat buruk meski terkadang saya melakukan kekhilafan. Rasa percaya bahwa saya sedang mencoba untuk menyelesaikan persoalan dengan mandiri meski terkadang banyak salah langkah. Rasa percaya bahwa saya telah berusaha melakukan yang terbaik meski kadang belum sempurna. Rasa percaya bahwa saya terus belajar untuk lebih baik meski saat ini hasilnya belum dapat dilihat orang tua. Rasa percaya bahwa perbedaan- pandangan diantara kami adalah upaya-upaya perbaikan dan bukan bentuk pembangkangan. Rasa percaya dari orang tua memberikan energi tersendiri bagi saya untuk terus bangkit dari kegagalan, mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua. Namun jika rasa percaya itu hilang, seringkali keikhlasan amal tergoda dan berubah menjadi pembuktian demi pengakuan. Ketika rasa percaya itu hilang, seringkali muncul keinginan untuk menyembunyikan kekurangan dan perbedaan, bahkan ingin menutupi kesalahan-kesalahan.
Setelah menemukannya berkali-kali ragu untuk berkata jujur kepada kami, saya berusaha untuk tidak fokus pada kebohongannya. Saya berusaha mencari tahu akar masalah yang menyebabkan ia banyak melakukan kekhilafan dan memilih untuk berbohong demi menyembunyikan kesalahannya. Setelah berusaha merumuskan akar masalah yang kami temui saat ia berusia 7 tahun dulu, maka didapatlah sebuah kesimpulan bahwa Ali mengalami ketidakcocokan sekolah dengan metode formal. Bersamaan dengan itu, ia pun mengalami kecemburuan karena berkurangnya perhatian sejak saya memiliki adik-adik barunya.
Satu persatu solusi kami tempuh, perbaikan kami lakukan agar mengurangi hal yang menyebabkannya melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan. Sejak saat itu, meski membutuhkan waktu yang cukup panjang, kami barusaha memperbaiki hubungan kami. Kami berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan yang membuat ia takut untuk mengakui kesalahan. Kami berusaha untuk fokus memintanya mengupayakan solusi paska terjadi kesalahan, baru kemudian setelah tenang memintanya untuk mengurai sendiri hikmah dibalik kejadian. Setiap kali selesai menggali hikmah saat ia melakukan kesalahan besar, saya selalu mengatakan padanya “ummi percaya kamu bisa lebih baik lagi”.
Setiap mencurigainya berbohong, kami tetap mengundangnya untuk berkata jujur, sambil mengingatkan tentang bagaimana pandangan Allah terhadap kebohongan dan kejujuran. Kami juga meyakinkan dirinya bahwa kejujuran tetap lebih baik meski konsekuansinya terkadang pahit, sementara kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain yang membuat keadaan lebih sulit. Kemudian saat ia mengubah perkataannya menjadi sebuah kejujuran, kami memberikan apresiasi atas kejujurannya, lalu fokus memintanya mempertanggungjawabkan kesalahan.
Setelah proses ini kami lalui, perbaikan-perbaikan pun kami temui. Ia lebih terbuka untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Ia pun percaya bahwa kami terus mempercainya dalam menjalani proses pembelajaran sebagai insan manusia. Sehingga kondisinya kini jauh lebih baik. Sejalan dengan itu, komunikasi intim untuk mengetahui perasaan dan pandangannya sebagai seorang anak yang beranjak menjadi baligh sering kami bangun. Alhamdulillah kini Ali lebih memilih untuk mengungkapkan kesalahan dengan penuh kejujuran meski dengan wajah merasa bersalah dan penuh rasa menyesal dibanding memilih berbohong untuk kepentingan sesaat.
Kiki Barkiah
Dari seorang ibu yang mengejar ketertinggalan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu

CKSMA B-18 Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian

Karena Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian
 
Suatu hari saat homeschooling sedang berlangsung, Shafiyah berkata “Ummi, Shiddiq is smarter than me at math, but i’m better at reading” Saya pun tersenyum haru karena pernyataan yang Shafiyah sampaikan tidak terkesan bahwa ia merasa minder dengan kemampuannya dalam hal matematika. Bahkan ia berusaha untuk menemukan keunggulan miliknya. Shiddiq memang memiliki kecerdasan yang unggul dalam matematika sehingga saat ini level matematika Shiddiq sama dengan Shafiyah. Bahkan Shiddiq memiliki kecepatan menganalis yang lebih baik dari Shafiyah. Shafiyah sering menjadi murid Shiddiq pada pelajaran matematika. Sebaliknya, saya sering mendelegasikan pelajaran latihan membaca untuk Shiddiq, baik bahasa Inggris maupun Indonesia, kepada Shafiyah. Di usia yang sama dengan Shiddiq, Shafiyah mampu membaca buku bahasa Inggris dengan tulisan yang banyak sementara Shiddiq membutuhkan waktu yang lama untuk membaca satu kalimat “Ya…. everybody has their own potensial, teh…. teteh juga pinter kok matematikanya, walau gak secepat Shiddiq. Tapi teteh lebih rajin dan tekun dalam belajar” balas saya menyemangatinya.
 
Suatu hari saat berkunjung ke Pesantren, guru pendamping Ali menyampaikan bahwa pencapaian hafalan Ali menurun. Saat tulisan ini dibuat, kemampuan Ali dalam menghafal menjadi 2 halaman sehari, padahal sebelumnya ia sering mencapai 4 halaman sehari. Saya berusaha membuka pembicaraan untuk mencari tau penyebab penurunannya.
 
“Aa, ummi tidak berani menuntut Aa untuk menjadi hafidz quran, ummi juga tidak berani memasang target berapa lembar yang harus Aa capai setiap hari. Ummi sadar, ummi bukan seorang hafizhah. Ummi juga ngos-ngosan untuk menghafal satu ayat saja. Ummi cuma bisa berdoa semoga Allah memudahkan Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi dan bapak cuma bisa bantu dengan doa dan sedekah. Ummi cuma minta Aa do the best aja. Aa adalah Aa dengan kemampuan khas milik Aa. Kamu tidak usah liat orang lain yang lebih hebat dari kamu dalam menghafal. Ummi hanya ingin melihat diri kamu kebelakang . Kamu harus lebih baik dari diri kamu yang kemarin. Kalau kemarin Aa mampu mencapai 4 halaman per hari, berarti harus dicari tahu penyebabnya mengapa sekarang pencapaian Aa menurun. Ummi tidak sedih tentang berapa lembar yang Aa mampu capai, ummi cuma merasa sedih kalau kamu menurun dari kamu yang kemarin. Ummi cuma merasa sedih kalau Aa gak do your best” Kata saya menegaskan ketika ia mulai membandingkan dimana posisi kemampuannya dibanding teman-temannya.
 
Ada banyak teman-temannya yang luar biasa dalam menghafal, meski kemampuannya bukan yang terendah diantara siswa yang ada. Saya tidak peduli bagaimana kemampuan anak-anak lain. Saya hanya ingin anak saya melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepadanya.
 
“Sekarang terserah Aa, Aa yang punya cita-cita menjadi hafizh di usia sebelum 15 tahun. Silahkan Aa yang menentukan kecepatannya. Kalau Aa mau berlama-lama menghafal di pesantren, insya Allah ummi dan bapak terus berjuang mencari biayanya. Kalau Aa mau segera pulang dan berkumpul kembali, silahkan berjuang menyelesaikanya”
 
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya dan ayahnya masih mencari tahu penyebab kemundurannya. Analisis sementara kami, sepertinya Ali sedang membutuhkan variasi kegiatan karena setiap anak memiliki gaya khas berbeda dalam belajar termasuk dalam menghafal quran. Bagaimanapun mengkarantina diri untuk fokus menghafal quran membuatnya kehilangan beberapa kegiatan yang ia gemari. Namun saya tidak ingin ia menyerah. Saya ingatkan terus cita-citanya untuk menyelesaikan hafalan quran lebih cepat agar setelah itu ia bisa fokus mengejar cita-citanya.
 
“Ummi gak mau berharap Aa pulang cepet, daripada nanti ummi merasa kecewa. Lebih baik dalam bayangan ummi, ummi akan menunggu Aa pesantren selama 2 tahun. Jadi kalau Aa pulang lebih cepet kan jadi kejutan” kata saya. Rupanya ia merasa kesal dengan pernyataan saya. Dengan perasaan yang terbakar ia berkata “No i don’t want it! I want to finish it before my birthday” “ya terserah, Aa sendiri yang menetukan, ummi cuma minta satu saja, do your best!” Timpal saya.
 
“Ummi both of them are so hard. If I go slow it will make me ‘bosan’ and it takes a long time to go back and homeschool with you. But if I go fast, it is hard” kata Ali. ” Ali gak ada sesuatu yang mudah di dunia ini kecuali yang Allah yang memudahkan. Ummi hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan bagi Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi cuma berharap jangan sampai menyerah meraih cita-cita itu. Kalau Aa merasa sedang jenuh dan membutuhkan istirahat tidak apa-apa. Because this is a long journey in your life. Yang penting kamu terus mengejar cita-cita itu” jawab saya. “I know ummi, and if I finish memorize the quran, it doesn’t mean i’m done. I just start it!” Kata Ali.
 
Anak-anakku……
Kalian adalah kalian dengan potensi khusus yang Allah anugrahkan dalam diri kalian masing-masing. Kami hanya sedang berjuang untuk menggali lebih dalam tentang apa yang kalian miliki. Kami hanya sedang berjuang untuk menanamkan visi misi hidup yang mulia, agar apapun yang kalian miliki saat ini kalian gunakan untuk meraih cita-cita hidup mulia itu. Kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami pun tak berani menaruh cita-cita kami yang kandas untuk kalian wujudkan. Karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami hanya ingin menjaga gawang untuk memastikan bahwa setiap pilihan kalian hari ini adalah dalam rangka meraih cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga.
 
Namun anak-anakku….
Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak dihadapkan pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang kita mampu dengan baik melakukannya, memilih sesuatu yang sesuai dengan potensi yang kita miliki. Ada kalanya kita harus melakukan sesuatu meski kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya. Anak-anakku jika kalian tidak mampu meraih sesuatu dengan berlari seperti orang lain, maka lakukanlah dengan berjalan. Meskipun kalian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai, namun pada akhirnya kalian mencapai satu titik yang sama dengan orang lain. Jika kalian tidak mampu melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan dengan berdiri seperti orang lain, maka lakukanlah dengan duduk. Jika kalian tidak juga mampu melakukannya dengan duduk, maka lakukanlah dengan berbaring. Prestasi kalian adalah seberapa besar kalian mampu mendobrak diri, menembus batas, menguras habis semua potensi yang kalian miliki untuk melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan, perlu kalian lakukan dan ingin kalian lakukan. Satu hal saja pinta kami, lakukan apapun itu asalkan itu semakin mendekatkan kalian pada cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga. Jadilah diri kalian apa adanya karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berjuang dengan keterbatasan potensi yang dimilikinya
 
Sumber gambar: www.discoverstandrews.com

CKSMA B-17 Ketika Ummi Lupa Menyetting Panggung

Suatu hari seorang sahabat yang berdomisili di Jepang datang berkunjung ke rumah. Seperti biasa bila ada teman berkunjung membawa anaknya, anak-anak akan mengeluarkan berberapa mainan untuk mengajak anak tamu bermain. Terus terang, beragam mainan dengan kualitas premium memang terpajang di ruang tamu kami. Maklum, harta yang kami bawa sepulang hijrah dari Amerika hanya buku dan mainan anak. Diantara tumpukan mainan istimewa ada mainan yang baru saja kami beli di Indonesia. Motor-motoran kecil yang bisa ditarik mundur agar dapat melaju sendiri. Adalah kewajaran dalam dunia anak jika setiap ada mainan baru, mereka akan memainkan mainan baru sampai puas dan bosan, dan melupakan sejenak mainan-mainan lamanya sebagus apapun itu.
 
Ketika sang tamu datang dengan membawa anaknya yang berumur menjelang 2 tahun, awalnya anak-anak bermain dengan ceria bersama sang tamu. Ditambah lagi, sang tamu membawa sekian oleh-oleh makanan khas Jepang serta permainan rakyat ala Jepang. Suasana menjadi berubah tegang saat anak sang tamu menginginkan mainan motor kecil anak-anak, bahkan ingin membawanya pulang. Ia pun merengek menolak pulang sebelum dapat membawa motor kecil itu, Saya sangat mengerti di usia anak sang tamu yang berusia menjelang 2 tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap benda tertentu, sementara ia masih belajar untuk mengerti konsep tentang kepemilikan barang. Sehingga sangatlah wajar jika ia menganggap bahwa barang-barang disekitarnya adalah miliknya. Dilain sisi, saya juga sangat mengeri bahwa anak-anak akan cenderung posesif terhadap mainan baru mereka. Berkali-kali sang anak merengek meminta mainan tersebut, sementara Faruq terus membujuk anak tersebut untuk memainkan mainan Faruq yang lain saja, tetapi tidak motornya.
 
Sahabat saya terus membujuk anaknya untuk bermain mainan miliknya. Sebagai tuan rumah, saya juga membantu ibunya untuk terus membujuk anak sang tamu untuk memainkan mainan lain, sambil juga menawarkan kepada anak-anak saya sekiranya mereka mau meminjamkan beberapa saat mainan tersebut. Tidak berhasil membujuk kepada anak-anak saya yang kecil, maka saya pun membujuk Ali yang juga memiliki mainan yang sama. Awalnya saya sangat berharap ia dapat bekerjasama memberikan mainan tersebut pada adik kecil tamu kami dengan menawarkan bahwa saya akan membelikan jenis motor yang sama di supermarket didepan komplek rumah kami Rupanya respon Ali tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ia sangat kecewa dengan permintaan saya karena motor kecil itu merupakan hadiah dari sepupu tercitanya. Berbeda dengan adik-adiknya, dimana saya sendiri yang membelikan mereka masing-masing sebuah motor kecil karena merasa iri hati dengan mainan baru milik Ali yang tidak dimiliki sodaranya.
 
Suasana jadi sulit, antara sangat paham dengan pertimbangan masing-masing anak, tetapi juga bingung karena segala macam bujukkan belum juga bekerja. Alhamdulillah setelah sekitar 30 menit suasana menegang, akhirnya sang ibunda berhasil membujuk anaknya untuk mau pulang dan berhenti merengek.
 
Anak-anak oh anak-anak……
Hal yang seperti ini memang sangat mungkin terjadi, dan jika sudah terjadi maka akan menggiring kita semua dalam keadaan yang sulit. Maka sebagai orang dewasa seharus saya dapat menyetting panggung terlebih dahulu agar keadaan seperti ini dapat dihindari.
 
Setelah tamu pulang, saya kumpulkan semua anak. Saya akui masing-masing perasaan mereka. Tentang rasa sayang mereka dengan barang baru, tentang betapa berharganya motor kecil pemberian sepupu Ali yang membuat ia hampir meneteskan air mata karena permintaan tolong saya. Saya pun meminta maaf kepada anak-anak jika permintaan kepada mereka untuk sejenak mengalah membuat mereka merasa tidak diakui keinginan dan perasaannya. Kemudian saya pun membuat pengumuman.
 
“Oke anak-anak ummi sangat mengerti kalo kalian saat ini belun mau meminjamkan mainan baru kalian. Ummi pun sebenernya lupa bahwa kalian sedang punya mainan baru. Ummi juga bingung, kok kebetulan adik kecilnya justru mau mainan kalian yang baru ini padahal banyak mainan lain yang dipajang. Sekarang begini saja, ayo coba sebutkan mana saja mainan yang belum kalian mau pinjamkan ke orang lain saat ini. Nanti setiap kali akan ada tamu, ummi akan bikin pengumuman, lalu silahkan kalian simpen beberapa mainan yang belum ingin kalian pinjamkan. Berarti semua yang disimpan di ruang tamu, sudah harus siap kita bagi, kita pinjamkan. Bagaimana setuju?”
 
Anak-anak pun setuju lalu mereka sibuk memilih mana saja barang yang belum ingin mereka pinjamkan saat tamu atau temannya datang. “Aku masih mau mainin truk ini, nanti ini disimpan ya” begitu kata Shiddiq misalnya.
 
Berbagi oh berbagi….. berbagi adalah sebuah proses bagi seorang anak. Anak-anak yang posesif dan sedang tak ingin berbagi merupakan sesuatu yang wajar dalam tahapan perkembangan anak. Kita tidak perlu menghukum mereka atau melebeli mereka dengan sebutan “pelit” karena perilaku mereka yang belum dapat berbagi sesuatu yang dalam pandangannya amat berharga. Hukuman, pendisiplinan atau sekedar lebel negatif hanya akan menumbuhkan perasaan tidak suka dan tidak menumbuhkan kemurahan hati. Tidak masalah ketika seorang anak memutuskan untuk tidak berbagi sesuatu, karena dalam kehidupan memang ada hal-hal yang harus kita pertahankan kepemilikannya. Kelak ketika mereka dewasapun mereka akan lebih memahami keindahan berbagi dibanding menyimpan kesenangan untuk dirinya sendiri.
 
Ketika anak kita menemukan temannya tidak mau berbagi maninannya, berikan ia pengertian bahwa mungkin saat ini ia sedang sangat menyukai mainan tersebut dan belum ingin berbagi. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui perasaan anak lainnya, dan perasaan yang mungkin juga pernah mereka alami. Saat anak tidak mau berbagi, ajak mereka bicara kenapa, bisa jadi kasusnya seperti gambaran peristiwa diatas, ketika anak kami yang sudah berusia besar enggan berbagi karena merasa bahwa barang itu begitu istimewa baginya.
 
Saat orang lain sedang ingin meminjam barang anak kita, hargai kepemilikannya dengan bertanya apakah anak kita bersedia meminjamkannya. Hargai mereka saat mereka menolak untuk memberikannya dan pastikan bahwa kerabat kita dapat mengerti keputusan sang anak. Saat sang adik ingin memakai barang milik kakaknya, terkadang banyak orang tua memaksa anak yang lebih tua untuk mengalah. “kamu kakak, kamu harus mengalah” Aturan keluarga seperti ini sering sekali mengabaikan perasaan dan menafikan keberadaan sang kakak. Akhirnya timbulan perasaan kesal yang berkepanjangan kepada sang adik yang menyemai bibit-bibit permusuhan dan persaingan antar saudara. Hargailah kepemilikan mereka, berikan mereka kebebasan untuk memilih ingin berbagi atau sedang enggan melakukannya. Anak-anak yang berusia lebih kecil biasanya lebih mudah dialihkan dengan sesuatu yang lain, namun perasaan kakak yang terluka karena pengabaian akan lebih memberikan pekerjaan tambahan kedepannya. Tawarkan pilihan pada sang kakak apakah saat itu ia bersedia berbagi, apresiasilah dan tunjukkan betapa kita bangga saat ia memilih untuk mengalah dengan adiknya.
 
Dengan berbagai pengalaman kasus, biasanya kita dapat memperkirakan suasana seperti apa yang kira-kira akan menimbulkan konflik perebutan mainan, maka langkah antisipasi perlu kita lakukan. Keluarga kami memiliki kebiasaan membawa satu container mainan setiap hari ke mesjid untuk dimainkan anak-anak kompleks sambil menunggu giliran mengaji di TPA, biasanya saya akan bertanya tentang mainan apa yang ingin mereka bagi hari ini. Terkadang ada anak yang menolak jenis mainan tertentu dan menginginkan jenis yang lain “hari ini hotwheel track aja gak usah lego”. Maka saya membawa box container yang sesuai dengan kesepakatan anak-anak, dengan catatan semua mainan yang dibawa berarti siap dibagikan oleh semua teman-teman, jika tidak siap berbagi maka tidak usah membawa apapun. Saat kita berkunjung ke rumah teman, biasnya anak-anak akan bersemangat meminjam mainan milik temannya karena bagi mereka hal itu adalah hal yang baru. Maka biasanya kemanapun kami berkunjung, kami membawa mainan kami. Tujuannya agar temannya pun tertarik memainkan mainan yang baru sehingga lebih rela untuk saling berbagi.
 
Melatih anak untuk berbagi dapat dilakukan dengan memberikan teladan dari hal-hal yang sederhana. Misalnya ketika kita membeli sesuatu, kita dapat ,mengatakan “ini punya bunda, tapi bunda ingin berbagi untuk kalian semua”. Kita juga dapat memberi teladan dengan membiasakan anak-anak bergantian dalam berkegiatan. sebagai contoh ketika membaca “sekarang giliran kamu baca halaman ini, nanti halaman selanjutnya bunda lagi ya” Pembiasaan juga bisa dilakukan dengan seringnya melakukan kegiatan dengan papan bermain seperti ular tangga, monopoli, dll. Biasanya dalam keluarga kami, kami memiliki aturan bahwa ketika kita perlu bergantian maka urutan dimulai dari anak yang paling kecil. Beri jatah waktu yang jelas serta dapat dimengerti anak, sebagai contoh kita menggunakan timer yang beralarm untuk mengatur jatah waktu penggunaan sesuatu. Melatih anak berbagi juga dapat dilakukan dengan sering melibatkan mereka dalam proyek amal sedekah yang kita lakukan. Libatkan mereka saat memberikan sedekah kepada para mustahik agar anak-anak mendapatkan teladan dalam kedermawanan.
 
Berbagi adalah sebuah proses, maka kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instan. Saat anak-anak masih dalam usia sulit berbagi dan belum paham arti berbagi, maka managemen lingkungan lebih efektif dibanding memberikan pengertian melalui komunikasi secara terus menerus. Mungkin membelikan 2 buah mainan yang sama percis saat mereka masih sangat kecil akan lebih tepat dibanding membeli satu mainan dan mengkondisikan mereka untuk berbagi. Akan ada masa dimana mereka lebih dapat mengerti tentang arti berbagi yang disampaikan melalui komunikasi verbal. Pada saat itulah nasihat-nasihat akan lebih efektif bekerja. Namun sebelum tahapan itu, menyetting panggung agar meminimalisir terjadi konflik adalah jauh lebih utama daripada memberi pengertian secara verbal.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari ibu beranak lima yang berusaha menjaga perdamaian keluarga setiap saat
 
http://www.babycentre.co.uk/a1021960/how-to-teach-your-child-to-share-ages-3-to-4
http://www.whattoexpect.com/playroom/ask-heidi/sharing-toys.aspx
Sumber gambar www.hippowallpaper.com
 

CKSMA B-16 Karena Sabar Tak Berarti Tak Berkata “Tidak”

Beberapa kali melihat Fatih 1.8 tahun mengungkapkan rasa frustasinya dengan memukul atau mencakar Faruq. Meski saya mengerti bahwa hal ini wajar dilakukan oleh seorang balita yang masih memiliki keterbatasan untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya, tetapi bukan berarti sikap pemahaman itu hanya melahirkan pemakluman-pemakluman “ah mereka kan masih kecil” “namanya juga anak kecil”. Justru karena mereka masih kecil, ini adalah kesempatan kita untuk sebanyak-banyaknya memberikan pemahaman tentang kebaikan.
 
“buk!!” buk!”
Faruq: “ummi Fatihnya mukul”
ummi: “No hitting!! that’s hurt”
saya angkat Fatih, saya bawa Fatih ke dalam kamar, mendudukannya di atas kasur, sementara saya hanya berdiri di sampingnya dengan hanya sekali atau dua kali berkata “gak boleh mukul, sakit!” saya diam…… saya hanya diam menatapnya. Sikap diam yang memberi sinyal bahwa saya tidak suka dengan perbuatannya. Diam……. dan terus menatapnya…….dan sekali berkata dengan nada yang kokoh “tidak memukul! sakit!”
 
Fatih menatap dengan perasaan bersalah, ia mulai mengerti bahwa saya sedang menunjukkan ekspresi ketidaksukaan saya terhadap sikapnya. Saya hanya diam menemaninya sekitar 5 menit. Biasanya ia merasa tidak nyaman dengan pengabaian saya, ia bangkit dan memeluk saya untuk minta maaf. Lalu saya mengajaknya keluar untuk minta maaf pada kakaknya. Ia pun mengeti, ia menghampiri Faruq kemudian bersalaman dan mencium tangan kakaknya “mmmuaaaaah” barulah kemudian saya memberikan ekspresi kebahagian yang menunjukkan bahwa saya menyukai perbuatannya saat ia mau meminta maaf pada kakaknya.
 
Beberapa kali saya juga menemukan Faruq (4 tahun) berperilaku agresif dalam mengungkapkan rasa frustasi dan kekecewaannya terhadap sodaranya. Meski saya mengerti bahwa hal ini “masih” wajar untuk usianya yang masih 4 tahun, namun penegakan kedisiplinan tetap harus dilakukan. Saya angkat Faruq saya bawa ia ke dalam kamar lalu saya sampaikan”silahkan tenangkan diri dulu disini, kalo sudah tenang kita bicara” Biasanya ia masih memberontak, dengan nada kokoh saya sampaikan “Mohon maaf abang tetap disini, sampai abang bisa kembali aman bergabung bermain dengan yang lain” Dalam kasus tidak sangat agresif saya tidak menutup pintu kamar, saya hanya berdiri di depan kamar atau di sampingnya. Biasanya ia mengadu dengan nada menangis dan rewel “mohon maaf ummi gak ngerti, abang belum siap bicara dengan tenang sama ummi. silahkan bicara kembali kalo abang sudah tenang” biasanya ia berusaha menghapus air mata dan menghentikan tangisannya. “i’m done ummi, i’m done!” baru kemudian ia menjelaskan duduk persoalannya dengan lebih tenang, lalu saya mengakui perasaan kecewa dan marahnya sambil kemudian menuntunnya menyelesikan persoalan dengan bijak dan menasihatinya bagaimana seharusnya ia bersikap saat ia menemukan perasaan yang sama di lain waktu. Kadang begitu saya pisahkan ke dalam kamar sambil berkata “kalo sudah bisa aman bergabung dengan yang lain, kamu boleh kembali bergabung main” Faruq langsung merasa tidak nyaman karena dipisahkan. Kemudian ia spontan berkatan “aman…aman… sudah ummi, auk janji”
 
Pernah juga kasus terjadi dimana Faruq sangat agresif mengungkapkan rasa kecewanya bahkan saya yang tidak memiliki salah pun ikut dipukulnya. Jika ini terjadi saya terpaksa menutup pintu, bukan karena menghukumnya dengan mengurung diri di kamar, tetapi karena harus memberikan ia kesempatan untuk menenangkan diri. Saya akan tetap berdiri di depan pintu untuk membuatnya merasa aman bahwa saya tidak kemana-mana. “Abang…. ummi sayang sama abang tapi ummi takut karena abang sedang sangat marah. Kalo abang sudah tenang dan tidak menyerang, ummi buka lagi pintunya” Saat ia sudah berjanji dan menenagkan diri, barulah saya membuka pintu lalu membantunya menyelesaikan masalah.
 
Teknik ini saya gunakan bukan dalam rangka menghukum mereka. Teknik ini saya gunakan untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk berada dalam suasana yang lebih tenang agar membuka kesempatan bagi kami berbicara untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam suasana yang lebih tenang, saya merasa lebih efektif untuk menyampaikan pesan ketidaksetujuan atas sikap mereka dan membimbing mereka untuk menyelesaikan masalah dengan bijak. Tidak peduli siapa yang salah, ketika kali pertama perkelahian terjadi maka yang akan saya lakukan adalah memisahkan mereka dari kasus untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Tidak peduli siapa yang pertama kali salah, sebelum melakukan persidangan terhadap persoalan anak-anak, anak yang berperilaku agresif harus dapat ditenangkan terlebih dahulu. Saya juga harus memastikan bahwa dimata mereka sikap ini bukanlah sebuah hukuman. Maka nada komunikasi yang saya pilih tidak mengesankan kemarahan atau ancaman. Saya berusaha memberikan kesan di mata mereka bahwa saya ada untuk membantu mereka keluar dari masalah, dengan syarat mereka harus bersikap tenang terlebih dahulu. Adakalanya anak-anak tetap menangis bahkan agresif, biasanya saya berkata “oke kalo masih mau nangis, silahkan disini dulu. Kalau sudah siap berbicara sama ummi panggil ummi ya”
 
Anak harus mengerti tentang batasan perilaku, tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Bersikap sabar bukan berarti tidak berkata “tidak”. Bersikap sabar bukan berarti mengalah dengan kemauan anak. Bersikap sabar bukan berarti mengikuti segala keinginannya. Bersikap sabar bukan berarti mengiyakan semua pandangannya. Banyak orang tua yang terlihat keras, galak dan kasar tetapi akhirnya luluh dengan sikap negatif anak. Namun orang tua yang bijaksana adalah mereka yang tetap teguh dengan kebernaran namun meneguhkan kebenaran mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
 
Sabar begitu dibutuhkan dalam membimbing mereka ke jalan yang benar. Sabar begitu dibutuhkan dalam meluruskan perilaku mereka. Sabar begitu dibutuhkan dalam melatih mereka bersikap bijaksana. Sabar begitu dibutuhkan dalam tantangan-tantangan yang dialami dalam pengasuhan.
 
Namun berkata “tidak” bukan berarti dilakukan dengan kekerasan. Menyatakan ketidaksetujuan bukan berarti dilakukan dengan penindasan. Kekerasan tidak berarti diluruskan dengan kekerasan pula. Kedzholiman tidak berarti harus dihapuskan dengan kedzholiman. Katakan “tidak” karena cinta. Katakan “tidak”dengan penuh cinta. Tetaplah yakin bahwa dengan ijin Allah Sang Pengenggam Jiwa, nasihat dan upaya kita meluruskan perilaku mereka kelak akan bekerja. Meski terkadang upaya-upaya itu harus kita lakukan berkali-kali, seolah tidak ada ujungnya. Yang Allah minta dari kita hanyalah menyeru kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Sementara hasilnya kita serahkan kepada Sang Pemilik Jiwa. Fitrah mereka itu suci, mereka hanya membutuhkan latihan-latihan untuk bersikap lebih bijaksana dan semakin dewasa.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu 4 jagoan

CKSMA B-15 Perhatian! Perhatian! Kurang Perhatian Oh Kurang Perhatian

Di suatu pagi saya sedang mengajar homeschool. Saat itu sedang mata pelajaran menghafal quran untuk Shiddiq. Sementara Shiddiq menghafal quran, Shafiyah mengerjakan tugas menulis arab dan Faruq sedang sibuk dengan mainannya.
 
Tiba-tiba………………………
“Gedebuuk”
Fatih (1.5 tahun) terjatuh tersandung lapisan lantai yang sedikit meninggi pada bagian pintu. “Aw” katanya. Saya tau jatuhnya pelan, pelaaaaaan sekali dan tidak menyakitkan. Biasanya saat terjatuh yang lebih parah pun ia memang tidak mudah menangis dan langsung bangun sendiri. Saya yang tengah melantunkan quran hanya berkomentar
“Fatih sakit ya….. ati-ati ya nak… ayo sini!”
Lalu saya kembali melanjutkan menghafal Al-Quran bersama Shiddiq tanpa bergerak menghampirinya. Rupanya Fatih masih tengkurap di tempat sama sambil acting layaknya pemain film, berkata dengan nada datar dan sangat terlihat berpura-pura. “Aw…aw” sambil melihat ke arah saya. “Aw…aw” dia perkeras lagi. Saya baru sadar kalau Fatih masih tetap di tempatnya. Saya pun tersenyum menahan tawa. Saya tau ia sedang memberi sinyal agar saya menghampirinya, menolongnya dan memperhatikannya. Namun saya tidak menyangka bahwa di usianya yang berumur 1.5 tahun ia sudah mampu memanipulasi keadaan untuk mencari perhatian saya. “Fatih…. fatih… kamu lagi pengen diperhatiin ummi ya” Saya pun sejenak berhenti mengajar lalu menggendongnya. Lalu ia pun tertawa dan kembali bermain dengan ceria.
 
Kurang perhatian….oh……kurang perhatian. Memiliki banyak anak memang otomatis menjadikan waktu kita lebih banyak dibagi untuk memastikan bahwa setiap anak terpenuhi kebutuhannya, baik fisik, akal maupun emosional. Setiap anak-anak akan berlomba-lomba agar dapat merebut perhatian orang tuanya dengan berbagai cara. Sebagai pengajar utama homeschooling anak-anak, kegiatan belajar personal otamatis memaksa saya untuk berinteraksi secara personal dengan setiap anak. Adakalanya anak-anak melakukan kegiatan bersama, adakalanya mereka melakukan kegiatan berbeda secara pararel namun ada pula kegiatan yang betul-betul harus fokus melakukan bimbingan personal. Namun meskipun anak-anak hampir 24 jam berada di sekitar saya, melakukan sebagian besar aktifitas dengan dampingan saya, namun sikap-sikap dalam rangka mencari perhatian tetap menjadi bumbu tersendiri dalam keseharian kami.
 
Melihat peristiwa tadi mengingatkan saya pada memori beberapa tahun lalu saat saya menjadi remaja. Karena kesibukan mamah dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, maka saya jarang sekali bisa berinteraksi dengan mamah kecuali pada waktu singkat di malam hari. Sebagai seorang anak yang paling sering sakit, ada perasaan bahagia saat sakit saya kambuh. Karena dengan cara itu saya bisa lebih berlama-lama berinteraksi dengan mamah saat mamah memijat kaki saya. Menunjukkan perasaan sakit menjadi cara saya untuk meminta perhatian mamah. Sebagai keluarga dengan 5 bersaudara kami juga memiliki kekhasan cara untuk menarik perhatian orang tua. Dari mulai menunjukkan eksistensi diri melalui prestasi sekolah, sampai membuat berbagai sensasi-sensasi yang membuat orang tua akan memperhatikan kami. Karena kursi eksistensi sebagai anak yang paling pintar telah direbut lebih dahulu oleh kakak saya, maka saya pun memilih tema eksistensi lain dimata orang tua. Saat remaja saya memilih eksistensi sebagai anak yang paling aktif berorganisasi. Maka saya pula yang paling banyak diperhatikan dalam bentuk kemarahan karena tidak pernah ada di rumah. Hehehe
 
Perhatian oh perhatian…… Adalah sebuah kebutuhan bagi seorang anak untuk merasa diakui, diperhatikan dan dihargai keberadaannya. Adalah sesuatu yang wajar ketika anak-anak mencari perhatian dan meminta persetujuan kepada orang dewasa di sekitar mereka khususnya orang tua. Sikap mencari perhatian menjadi sebuah masalah ketika hal ini terjadi setiap saat baik berupa sikap yang positif maupun sikap yang negatif. Sebagai contoh sering kali anak-anak saya bolak balik menunjukkan karya lego mereka, atau pesawat terbang kertas hasil kreasi mereka. Tetapi hal tersebut dilakukan berulang-ulang karena ia tau bahwa dengan itu saya akan memperhatikan mereka dengan mengapresiasi karyanya. Namun karena tidak ingin saya berpaling dan mengerjakan yang lain, maka anak-anak terus menerus meminta saya melihat bagaimana cara kerja karya-karya mereka. Kadang saya terpaksa harus menyela mereka ” keren banget masya Allah, tapi sudah dulu ya karena ummi mau lihat pekerjaan teteh dulu, nanti kita teruskan lagi ngobrolnya” Memiliki 5 anak berarti membagi waktu secara bergiliran agar dapat memperhatikan mereka semua secara spesial. Tugas kita adalah menyeimbangkan antara jumlah perhatian yang anak butuhkan dengan kemampuan kita memberikan perhatian kepada mereka.
 
Sering terjadi kasus dalam keluarga dimana anak-anak cenderung sering berperilaku negatif. Ketika seorang anak tidak berhasil merebut perhatian orang tua saat ia berkelakuan positif, maka ia bisa berbalik memilih untuk melakukan perbuatan negatif demi mendapat perhatian orang tua. Anak-anak yang sering berperilaku negatif demi mendapatkan perhatian orang tua, jika tidak ditangani dapat menjadi cikal bakal permasalahan kedisiplinan dan penyimpangan perilaku saat mereka beranjak dewasa. Tugas kita bukanlah mengurangi kebutuhan akan perhatian anak. Karena jika kebutuhan akan perhatian dapat ditangani dengan benar, hal ini akan membantu kita untuk membentuk dan meningkatkan perilaku-perilaku positif seorang anak. Tugas kita hanya mengurangi perilaku berlebihan saat mereka mencari perhatian serta mengarahkan mereka berperilaku dengan wajar.
 
Jangan biarkan kebutuhan anak-anak kita akan perhatian berubah menjadi tuntutan akan perhatian. Ketika anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang cukup, mereka menggunakan ledakan, amukan, mengomel, menggoda, serta melakukan perilaku menjengkelkan lainnya. Mereka akan berpikir, “Jika saya tidak bisa mendapatkan perhatian dengan menjadi baik, maka saya akan berbuat keburukan untuk mendapatkan perhatian Ibu.”
 
Saat anak-anak meminta dengan mengamuk, merengek bahkan berguling-guling, pastikan kita tidak diperintah dengan perilaku negatif mereka. Sekali mereka merasa berhasil mendapatkan sesuatu dengan menggunakan cara negatif, mereka akan cenderung mengulanginya.
 
“ummi tahu kamu sedang mencari perhatian, tetapi ummi tidak suka caramu meminta. Ayo ulang, minta dengan cara yang baik” kata saya misalnya saat ada balita yang meminta sesuatu dengan cara merengek. Sementara saya baru akan menolongnya setelah ia memperbaiki caranya dalam meminta.
 
Perhatian dan persetujuan orang tua adalah reward utama bagi seorang anak. Sehingga ketika kita memberikan perhatian dan persetujuan kepada anak-anak terhadap perilaku yang positif, maka mereka sedang mendapat perhatian positif. Perhatian positif berarti fokus pada perilaku positif dan menangkap sebanyak-banyaknya perilaku positif anak untuk kita apresiasi. Perhatian positif dapat diwujudkan dalam bentuk kata-kata pujian, dorongan, kedekatan, tepuk tangan, pelukan, telukan di punggung atau belaian lembut di rambut. Perhatian positif akan meningkatkan perilaku positif.
 
Sebaliknya ketika kita fokus pada perilaku negatif, dan baru memberikan perhatian saat anak-anak berlaku negatif, artinya kita sedang memberikan perhatian negatif. Perhatian negatif dapat diungkapkan dengan kemarahan, ancaman, introgasi, dan ceramah. Menurut ilmu psikologi, perhatian negatif pada hakikatnya tidak menghukum perilaku bahkan justru semakin meningkatkannya. Mengapa? Karena anak-anak akan berfikir cara termudah untuk menangkap perhatian orang tuanya. Ketika anak-anak tidak mendapat perhatian dengan cara yang positif, mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan perhatian kita.
 
Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memanipulasi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka belajar untuk merepotkan, dan menganggu orang tua. Mereka belajar bagaimana mengontrol dan memerintah kita. Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memperburuk keadaan dan membuat kita merasa kesal. Secara tidak langsung kita sedang mengajarinya melalui sikap kita yang tidak pernah peduli saat mereka berperilaku positif sementara baru memperhatikan mereka saat mereka berperilaku negatif.
 
Ya sebagai manusia biasa, tidak mungkin kesempurnaan dalam memberi perhatian dapat saya lakukan kepada semua anak. Tapi paling tidak, keberadaan saya di dalam rumah bersama mereka selalu memastikan bahwa setiap hari ada interaksi-interaksi personal yang spesial bersama mereka. Biasanya secara spesial saya menarik salah seorang anak untuk membaca cerita hanya berdua saja, sementara anak-anak yang lain sedang melakukan kegiatan yang lain. Setiap anak biasanya memiliki jenjang pelajaran baca yang sesuai dengan usianya, maka disitulah kesempatan saya untuk hanya berdua dengan mereka. Begitu juga untuk pelajaran personal lainnya seperti tahsin dan tahfidz.
 
Saya tau, Shiddiq sangat sulit mengerjakan worksheet dengan penuh konsentrasi jika saya tidak disampingnya, maka biasanya saya berbisik untuk mengatakan betapa saya sangat bangga dan senang saat ia sedang fokus mengerjakan worksheet meski tanpa bimbingan saya. Saya tau, Faruq masih sering berebut mainan dengan Fatih karena usianya yang masih balita, maka saya berusaha mengekspresikan apresiasi saya dengan istimewa saat saya menangkap momen dimana Faruq bersedia mengalah, memberikan mainan yang dimainkannya atau bahkan memberikan lego yang sudah ia buat kepada adiknya. Saya tau Shafiyah paling telat bangun untuk shalat subuh dibanding adiknya, maka saya mengungkapkan apresiasi kepadanya saat sesekali saya mendapatinya bangun lebih awal. Saya tau anak-anak masih sesekali bertengkar saat bermain bersama, maka ketika saya menemukan mereka bermain dengan anteng dan saling bekerjasama, saya sesekali menghentikan pekerjaan saya untuk menghampiri mereka dan mengapresiasi ketertiban mereka.
Perhatian negatif sering kali hanya mengajarkan tentang hal yang tidak boleh dilakukan. Namun tidak sampai mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan dan sikap apa yang kita harapkan. Namun perhatian positif akan memberikan tanda persetujuan terhadap sikap-sikap yang kita harapkan dari mereka serta memotivasi mereka untum terus meningkatkannya.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang masih terus berusaha membagi adil perhatian positifnya untuk semua anak-anaknya.
 
Referensi
Good Behavior, Stepehen W. Gerber
http://life.familyeducation.com/behavioral-problems/punishment/42962.html

CKSMA B-14 Selagi Masih Ada Waktu…..

Tiba-tiba saya terkaget, terbangun pukul 11 malam karena deringan telepon rumah. Saya merasa pasti ada berita penting. Saat itu handphone memang mati, dan seseorang yang menelpon ke rumah di malam hari pasti ingin menyampikan pesan penting saat itu juga.

Bapak: “assalamu’alaikum mi tolong bukain pintu!”
Ummi: “wa’alaikumsalam haaaah bukain pintu?”
Bapak: “iya bapak pulang, sekarang diluar”

Saya tidak menduga bapak pulang hanya karena ada libur tahun baru Muharram. Tidak ada rencana pulang ke Bandung karena libur hanya satu hari.
Kejutan pagi hari bagi anak-anak adalah kedatangan sang ayah yang diluar rencana. Lalu bapak seharian mengajak anak melakukan kegiatan kunjungan belajar. Bapak mengajar anak-anak homeschooling dengan berkunjung ke pusat alat peraga iptek. Masya Allah, ternyata bapak tidak hanya menjadi ayah yang dirindukkan anak-anaknya, tetapi bapak adalah ayah yang merindukan anak-anaknya.
Awalnya saya menyangka bahwa kerepotan akibat LDR akan lebih banyak dialami oleh saya dan anak-anak. Kenyataannya justru sebaliknya. Saya tidak terlalu merasakan perbedaan kerepotan yang berarti, karena repot mengurus anak adalah pekerjaan sehari-hari. Justru bapak yang merasa “kerepotan” berpisah dengan anak-anak. Berkali-kali terdengar curahan hati dari beliau bahwa LDR dan hidup di kostan itu terasa sepi.
Ummi: “jadi pak enakkan mana? Tinggal barengan sama Ummi dengan repot ngurus anak-anak, atau istirahat dan tidur nyenyak di kostan sendirian? Hehehe”
Bapak: “enakan di rumah mi sama anak-anak”
Ummi: “walau capek dan repot pak?”
Bapak: “iya mi….. Abis nanti juga anak-anak kalo sudah besar kan akan pergi berpisah, masa sih sekarang mereka masih kecil sudah juga berpisah sama bapak”
Cinta anak oh cinta anak……
Cinta yang selalu menimbulkan kerinduan. Bahkan sang ayah rela berlelah-lelah hanya untuk sebuah waktu berkualitas bersama anak-anak. Mengajak anak-anak kunjungan belajar hampir setiap akhir pekan saat bertemu keluarga itu adalah pekerjaan yang membutuhkan energi besar. Kadang bapak harus berjalan sambil menggendong anak-anak yang kelelahan. Belum lagi sampai rumah, anak-anak masih juga ingin bermain kuda-kudaan dengan sang ayah.
Kami memang tidak pernah tau, seberapa lama lagi sisa waktu yang Allah berikan untuk bercengrama dengan mereka. Kami tidak pernah tau berapa banyak lagi kesempatan yang Allah berikan untuk mendidik dan menanamkan kebaikan bagi mereka. Maka sesibuk apapun kami, selelah apapun kami, kami berkomitmen untuk tetap memiliki interaksi dalam kegiatan positif dan berkualitas bersama anak-anak. Terutama kegiatan dalam rangka mentransfer ilmu yang bermanfaat bagi masa depan mereka. Kami tidak dapat menjamin bahwa warisan dalam bentuk harta bagi anak-anak akan tetap ada dan bermanfaat secara berkah selamanya bagi anak-anak. Tetapi kami yakin bahwa menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus menjaga mereka meski kelak kami telah tiada. Kami sadar bahwa kebersamaan dengan mereka tidak akan lama. Kelak mereka akan pergi satu persatu meraih impiannya. Tetapi kami ingin kebersamaan kami bersama mereka hari ini menjadi bekal hidup dan kenangan kisah yang takkan terlupa selama-lamanya. Mencari dunia tidak pernah akan ada puasnya. Mencari harta dengan banyak meninggalkan keluarga juga tidak akan pernah mencapai batas kecukupannya. Maka selagi ada waktu, selagi ada usia, selagi ada kesempatan untuk bersama, disitulah masa dimana kami menanamkan benih kebaikan dan memperkuat cinta diantara keluarga.
Ya, kami memang keluarga homeschoolers. Hampir sebagian besar transfer ilmu untuk anak-anak hadir melalui pengajaran kami berdua. Pernah terlintas berfikir bahwa bagaimana jika sewaktu-waktu saya dipanggil Allah SWT, bagaimana sekolah anak-anak? Astagfirullah, was-was syeitan sering kali berniat menggelincirkan niat baik seorang hamba. Apalagi yang perlu dikhawatirkan ketika sesuatu telah dititipkan kepada Sebaik-baik Penjaga. Allah pula yang kelak akan mengganti dengan sekian guru terbaik untuk anak-anak saat kami tak lagi mampu mengajar mereka. Tetapi biarlah kami terus berburu pahala menjadi pendidik pertama dan utama sampai batas akhir kami tak lagi mampu melakukannya. Selagi masih ada waktu….. Selagi masih ada waktu….. Tak ingin pahala-pahala yang seharusnya dapat kami miliki diambil oleh pihak-pihak lain yang menggantikan beberapa tugas kami. Selagi masih ada waktu…. Selagi masih ada waktu… Kami ingin terjun sendiri mendidik anak-anak kami meski disela-sela kelelahan kami. Semoga Allah segera mengabulkan doa kami untuk kembali berkumpul dalam satu rumah bersama bapak.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berbahagia memiliki keluarga yang saling merindukan
Kiki Barkiah