Sambutan Bu Kiki Barkiah Saat Tasmi’ Qur`an Putranya, Bikin Merinding…

Renungan Pagi untuk kita para orangtua terutama dan pada generasi muda… (Semoga Allah Memberikan Hidayah-Nya Kepada Kita Semua)
 
 
Pada hari jum’at yang penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh Kiki Barkiah berhasil mengkhatamkan hafalan qur’annya sebanyak 30 juz selama setahun di sebuah pesantren di Bogor.
Yang istimewa dari acara tasmi’ kemarin adalah sambutan teh Kiki, beliau menyampaikan isi hatinya untuk seluruh santri di pesantren tersebut. Juga untuk seluruh penghafal qur’an di Indonesia. Berikut ini kutipan seluruh pidatonya. Yang beliau sampaikan dengan penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. 
 
Wahai anakku….
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.
 
Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.
 
Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.
 
Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.
 
Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.
 
Ya…. harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.
 
Namun anakku…..
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.
 
Wahai anakku….
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran….
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil menghisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?
 
Wahai anakku….. negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang “merdeka atau mati” yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.
 
Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?
 
Wahai anakku… para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku… setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku… jadilah engkau salah satu pejuangnya!
 
ALLAHU AKBAR!!!!!
 
Parung Bogor 7 Okt 2016

AYAH YANG DIRINDUKAN (AWASSS!! INI TULISAN SERIUS, GAK NYANTAI)

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)
 
Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah. Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia.
 
Yusuf, dalam ayat tersebut diceritakan mendatangi ayahnya. Bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi. Yakni tentang mimpi yang dialaminya. Sebuah hal yang menunjukkan ia hanya akan tanyakan sesuatu kepada orang yang paling ia percaya. Dan ayahnya pun memahami arti mimpi tersebut bahwa itu adalah kabar gembira dari Allah untuknya. Dan demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka ia pun menasehati anaknya agar berhati-hati dengan mimpinya terutama tak menceritakan kepada saudaranya.
 
Yang menarik dari dialog di atas adalah panggilan Yusuf kepada ayahnya menggunakan sebutan يا أبت, seolah-olah orang yang dipanggil, yakni Ya’qub ayahnya, berada di tempat yang jauh, padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh menandakan ia dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan hatinya dan perhatian terhadap sesuatu yang akan diceritakan (Hiwarul Aba’ Ma’al Abna fiil Qur’anil Kariim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah, Sarah Binti Halil Ad Dakhili)
 
Dari sinilah kita bisa mengambil dua pelajaran penting dalam konteks pengasuhan saat ini :
1. Adakah AYAH menjadi figur yang dirindukan oleh anaknya
2. Sejauh mana anak menaruh kepercayaan terhadap sang ayah
 
Ayah yang dirindukan. Ini menunjukkan ikatan hati yang terjalin sedemikian erat. Kesibukan ayah dalam mencari nafkah tak menghalanginya untuk menjalin ikatan batin kepada anaknya. Sehingga tiap pertemuan dirasa begitu berharga oleh anak. Kadang hanya singkat namun memberi makna. Ada kesan mendalam yang digoreskan dalam batin anak. Tentu hal ini terjadi jika ayah betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pengasuh sekaligus pengasih.
 
Ketidakmampuan ayah menghadirkan kerinduan dalam jiwa anak berakibat kepada beralihnya perhatian anak kepada sosok-sosok lain diluar sana. Televisi dan segala perangkat digital menjadi rujukan mereka sekaligus pengisi kekosongan jiwa anak akan hadirnya ayah. Jiwa mereka telah terikat oleh pahlawan-pahlawan rekayasa buatan media. Dampaknya, kepulangan ayah ke rumah tak lagi dianggap istimewa. Ucapan salam ayah di depan teras rumah tak menggetarkan jiwa mereka untuk menyambut. Kalah dengan teriakan tukang bakso yang kadang membuat sebagian anak histeris menyambutnya.
 
Ketidakrinduan anak kepada ayah ini menjadikan fungsi ayah terbatas hanya kepada dua hal :
1. Memberi nafkah
2. Memberi izin untuk menikah
 
Tanpa sadar, anak menganggap ayah sebatas mesin ATM. Didatangi saat kehabisan uang belanja. Kehadiran ayah dirasa ada dan tiada. Bahkan banyak yang merasa sudah yatim sebelum waktunya meski sang ayah masih ada di sekitarnya. Wal’iyadzubillah…
 
Jika ini dibiarkan terjadi, maka hilanglah rasa kepercayaan anak kepada sang ayah. Dan ini ditandai dengan banyaknya ayah yang tak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah. Kenapa demikian? Sebab anak merasa sungkan untuk bertanya akan masalah seksualitas yang dialaminya. Bayangkan! Ayah menuntut anaknya untuk sholat subuh ke mesjid. Sementara anaknya baru saja mengalami mimpi basah dan tak tahu harus mandi junub. Sholat si anak tidak sah. Tentu ayah lah sebagai penanggung jawabnya.
 
Menjadi ayah yang dirindukan memang tak mudah. Layaknya menanam benih hingga menjadi tanaman padi yang bernas, butuh ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Namun kelak ayah akan memanen hasilnya. Yakni berupa kepercayaan dari anak. Saat anak betah berlama-lama bercerita di hadapan ayah akan kegiatan sehari-harinya. Menjadikan ayah rujukan informasi pertama. Bahkan saat anak hadapi suatu masalah, ia tahu kepada siapa ia mencari solusi. Tak lain adalah ayahnya.
 
Bagi anak yang telah timbul rasa kepercayaan kepada ayahnya, sang ayah telah menjelma menjadi ‘super hero’ pertamanya. Memberi inspirasi di sepanjang perjalanan usia anak. Bahkan hingga ia berusia dewasa dan menua.
Tidakkah ini menjadi hal yang begitu menggembirakan bagi sang ayah? Saat petuah dan nasehat ayah senantiasa didengarkan dan dipatuhi anak. Bahkan saat ayah meninggal dunia, tak henti-hentinya anak mendoakannya seraya memohon ampun bagi sang ayah. Dan hal ini berdampak kepada kebahagiaan ayah di akherat. Perhatikanlah hadits berikut ini :
 
إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول : أنى لي هذا ؟ فيقال : باستغفار ولدك لك . ‌
 
“Sesungguhnya ada seorang AYAH yang diangkat derajatnya di surga, maka iapun heran dan berkata : Bagaimana ini bisa untukku? Maka dikatakan : disebabkan anakmu beristighfar (memohonkan ampun) untukmu” (HR. Ahmad, Al Baihaqi)
 
Subhanallah. Maka, jadilah ayah yang dirindukan. Ayah yang tak sekedar mengurus kebutuhan fisik anak namun juga jiwanya. Luangkan waktu untuk berbincang mesra bersama mereka. Tak boleh ada media lain yang membuat kekhidmatan obrolan menjadi rusak. Abaikan dulu HP, laptop dan segala jenis media yang selalu menempel di dekat ayah. Sebab anak juga punya perasaan. Tak ingin diduakan.
 
Kelak ayah akan menjadi sosok layaknya Ya’qub. Yang begitu dekat dengan anak-anaknya. Menjadi figur yang utama dalam kehidupan mereka. Mengiringi perjalanan hidup anak hingga mereka dewasa. Meski raga terpisah namun hati terikat dalam jalinan cinta. Seraya berharap terkumpul bersama di surga.
 
Ya, negeri ini sedang darurat ayah. Dengan kata lain anak-anak kita butuh hadirnya sosok ayah. Ayah yang siap mengorbankan kesenangannya menonton bola di malam hari untuk membacakan cerita sebelum anak tidur. Ayah yang siap mengeluarkan segala jurus untuk mengikat hati anaknya. Ayah yang menjadi pahlawan pertama bagi mereka. Agar tak ada lagi anak-anak yang begitu ditanya : dimana ayahmu? Mereka cuma bisa menjawab ‘tau’ ah gelap’.
 

Ibu Rumah Tangga

1. saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Muslim | papi sempat menasihati saya perihal “Ibu Rumah Tangga”
2. “lix, selama papimu masih bisa mencukupi keluarga, mamimu tugasnya di rumah” | tegas papi berpendapat soal IRT
3. padahal saat itu isu feminisme sedang santer | wacana wanita karir sedang panas-panasnya | arus genderisme mewabah
4. tapi papi tenang aja lalu menyampaikan | bahwa dia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya | dan itu berarti perhatian full dari ibu mereka
5. hidup kala itu tidak mudah, dan akal lebih mudah seandainya mami bekerja | tapi papi sudah mengambil pilihan, dan itulah yang ia jalani
6. karena semua manusia punya pilihan | apa yang didapat dan apa yang dikorbankan | semua selalu tentang pilihan
7. sebelum Muslim pun saya tumbuh dengan memahami | lelaki dan wanita tidaklah sama | mereka punya kelebihan di bidang masing-masing
8. posisi ibu dalam dunia anak itu tidak tergantikan | perhatian seorang ibu pada anaknya takkan terbeli sebanyak apapun harta
9. dan posisi ibu itu tidak bisa diulang kembali | karena umur anak takkan bisa diputar lagi
10. maka ketika memilih calon ibu dari anak-anak kami syaratkan | “maukah engkau menjadi fulltime-mother bagi anak-anak?”
11. “saya nggak mau ketika anak dewasa lalu bermaksiat, kita menyesal ‘mengapa dulu tidak habiskan lebih banyak waktu bersamanya?!'”
12. itu pemahaman sebelum Muslim | saat sudah mengenal Islam | kami memahami betul Islam paling memuliakan wanita
13. feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses
14. feminisme menganggap waniat modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan
15. feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat dll
16. wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme | wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak | kerja lebih asyik
17. menurut pandangan feminis | IRT itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita
18. wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga
19. US misalnya yang jadi kampiun feminisme | angka perceraian mencapai 50% per 2012 sila rujuk http://t.co/OUvEkdUY8L
20. “nearly 80% cited financial problems as the leading cause of the marital demise” (Carr, 2003, p.10) | http://t.co/zQFsyYQuqe
21. feminisme mangaburkan fungsi ayah dan ibu dalam rumah tangga | hanya semata-mata demi mendapat lebih banyak materi
22. akhirnya meningkatlah angka single parents http://t.co/k9eNybXtq7 | dan jelas broken home http://t.co/yUvU499gT9 http://t.co/qAjjFfHBQJ
23. banyak juga studi-studi yang menperingatkan | sangat sulit untuk memadukan ibu dan karir sekaligus | http://t.co/mu5t6N2u3m
24. sebagai tambahan, US yang melahirkan gerakan feminisme saja | sudah banyak bermunculan gerakan anti-feminisme sebagai gantinya
25. di US, sudah banyak wanita sadar bahwa feminisme mengorbankan keluarga | mereka ingin kembali menjalankan peran ibu rumah tangga
26. karena seberapa banyak waktu pun yang didedikasikan untuk mendidik anak | tiada pernah akan ada waktu yang cukup untuknya
27. “saya ibu sekaligus karyawan, anak saya baik-baik saja” | di-sambi aja sudah baik, apalagi bila fulltime-mother? tentu sangat baik 😀
28. lalu pertanyaan prinsipil | “apakah Islam melarang wanita bekerja?” | “apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?”
29. dalam Islam hukum wanita bekerja itu mubah (boleh) | sedangkan menjadi “ibu dan pengelola rumah tangga” itu kewajiban
30. jadi sah-sah saja wanita memilih bekerja | namun beres juga kewajibannya | tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama
31. hidup memang perkara pilihan | dan Islam memerintahkan untuk memaksimalkan waktu ibu untuk anak-anaknya | urusan uang biar ayahnya
32. bagaimana dengan wanita yang ditinggal suami apapun alasannya | maka bekerja menafkahi anak tentu amal pahala besar baginya 🙂
33. maka karir terbaik wanita | adalah menjadi ibu sepenuhnya
34. tentang pendidikan? | tidak bosan-bosan saya sampaikan | bahwa seorang ibu HARUS terdidik sempurna, tinggi dan luasnya
35. bahkan wanita Muslimah WAJIB lebih terdidik daripada lelaki | karena ialah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) anak-anaknya
36. maka jangan tanya “untuk apa pendidikan tinggi bila hanya jadi IRT?” | jadi IRT justru perlu pendidikan tinggi
37. karena di tangan kaum ibu generasi Muslim berada | bukan di tangan ayah generasi Muslim dibentuk
38. banyak wanita yang seb
etulnya bisa menggapai dunia lebih dari lelaki | tapi mereka mengorbankan segalanya demi anaknya | MULIA
39. dari ibunda MULIA semisal itulah | menjadilah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad
40. rata-rata ulama besar menghabiskan masa kecil dalam yatim | ibu merekalah yang mendidik dan mendaras Al-Qur’an setiap waktu
41. sembah sujud kami pada Allah yang selalu menjaga dunia dengan para ibunda MULIA | yang mau mengorbankan semua buat kami anak-anaknya
42. hormat khidmat kami padamu wahai ibu | yang gadaikan semua waktu tanpa sesal dan keluh | membina kami jadi yang terbaik dalam agama
43. pada para bunda MULIA doa kami | “Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduanya TELAH MENDIDIK AKU WAKTU KECIL” (QS 17:24)
44. kembali lagi semua masalah pilihan | part-time mother or full-time mother? | you decide 😀
===============

Mengendalikan Marah Kepada Anak (Tips Parenting)

1| Hal yg mesti menjadi fokus orangtua adalah bagaimana melatih diri untuk bisa mengasuh anak tanpa marah
2| Tak marah bukan berarti membiarkan perilaku negatif anak. Orangtua harus tegas untuk meluruskan anak jika menyimpang
3| Rasulullah mengatakan “jangan marah” dan menjanjikan surga bagi yg bisa melakukannya tersebab perilaku marah tak pantas dibiasakan
4| Marah yg diselimuti ekspresi menyeramkan serta kasar, alih-alih membuat anak berubah, justru malah trauma yg dirasakan anak. Anak pun terluka
5| Anak pun belajar untuk meluapkan marah dari cara kita mengekspresikannya. Sehingga kemarahan itu adalah emosi negatif yang menular
6| Marah juga mematikan daya berpikir anak. Sebab, menstimulasi batang otak anak. Alhasil anak berperilaku dengan batang otak tanpa berpikir
7| Anak yg berperilaku dengan batang otak atau otak reptil, maka bertindak secara reflek saat tertekan : melawan atau kabur. Ini buah dari marah yang tak tepat
sunglasses emoticon Lantas bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Apakah dibiarkan? Tentu tidak. Kita harus tegas, tapi tak perlu marah-marah
9| Tegas bermakna mengikat anak kepada aturan. Maka perlu aturan yang jelas dan tersampaikan kepada anak. Agar kita tidak perlu marah
10| Mulailah dengan ingatkan anak kepada aturan yg sudah dibuat secara tegas. Agar kita tak perlu marah yang jelas-jelas merugikan kita termasuk anak-anak
11| Kalau boleh jujur, kadang ortu mencampuradukkan masalah di luar saat menangani anak yang berperilaku salah. Marah pun tak terbendung
12| Padahal bisa jadi kesalahan anak tak seberapa, namun ‘sampah’ emosi yang kita bawa dari luar tertumpah di hadapan anak
13| Maka sadari diri sebelum marah, apakah kita yang bermasalah ataukah anak yg jadi penyebabnya?
14| Pengakuan jujur bahwa emosi kita sebenarnya sudah kotor sejak awal sebelum bertemu anak, menunjukkan sayang kita, tak ingin lukai anak
15| Maka menghindarlah dari anak untuk sementara atau minta pasangan kita ambil alih penanganan kepada anak
16| Redakan marah yang mau tertumpah dengan cara segera berwudhu, berpindah tempat dan menghirup udara yang segar
17| Pandangi foto anak kita saat bayi dan katakan : ‘Tegakah dirimu menyakiti bayi ini yang kehadirannya kamu nantikan hingga berbulan-bulan?
18| Jika sudah nyaman dan emosi positif tumbuh, segera datangi anak dan katakan perasaan kita. Contoh : ayah kecewa, bunda kesal, dan lain lain
19| Sebutkan perilaku anak yang membuat kita kecewa dan kesal agar tak melabelling anak sebagai pelaku yg selalu salah. Anak merasa dihargai
20| Ingatkan anak dengan lembut namun tegas akan aturan yg sudah dibuat. Tak perlu marah. Agar anak menyadari kesalahannya
21| Boleh berikan konsekuensi atas perilaku anak yang salah agar anak berpikir. Konsekuensi terbaik adalah menunda kesenangannya
22| Lihatlah bagaimana cara Allah memberikan konsekuensi kepada Nabi Adam atas pelanggaran yg dilakukannya utk tidak dekati pohon terlarang
23| Allah ingatkan Adam akan aturannya. Dan saat Adam melanggar maka Allah berikan konsekuensi dengan diambil kesenangannya yakni surga
24| Maka adam pun menyadari kesalahannya dgn ucapkan doa “Rabbana zholamna anfusana”. Ini adalah pengakuan akan salah
25| Kisah lengkap ada di Alquran (7:11-25). Hendaknya, begitulah cara kita mengelola marah kepada anak agar yang muncul adalah perbaikan jiwa
26| Marah hanya memuaskan syahwat liar kita. Tak peduli dampaknya. Namun tegas, yang kita inginkan perbaikan perilaku anak. Amat beda
27| Semoga kita bisa belajar kendalikan marah kita namun tetap tegas akan perilaku anak yg menyimpang. Mohon maaf jika kurang berkenan
==========================

Mengajarkan “Membaca” Memang Sejak Lahir

Sebelumnya saya pernah posting tulisan ini, tetapi belum utuh karena masih menunggu pemuatan di majalah Hidayatullah. Ini merupakan bentuk menjaga etika menulis. Tulisan utuh berikut ini dimuat di majalah Hidayatullah edisi Juni 2015.
***
“Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.
Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.
Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an. Pertama,memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untuk menghafal (memorizing) di kemudian hari. Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar. Ketiga,mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).
Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan. Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca. Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.
Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama,pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifatreciting aloud maupun reading aloud. Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.
Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.
Jadi, dapatkah kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak kanak-kanak?  Jika yang dimaksud adalah reciting aloud atau pun reading aloud, bahkan sejak bayi pun kita dapat mengenalkannya. Ini merupakan salah satu cara mengakrabkan anak dengan membaca yang sangat baik. Tetapi jika yang dimaksud dengan adalah mengajarkan simbol (huruf dan tanda baca) secara terstruktur kepada anak,maka kita perlu menunggu hingga mereka mencapai kesiapan membaca (reading readiness). Kesiapan ini memang bukan sesuatu yang kita hanya dapat kita tunggu kedatangannya secara pasif. Kita dapat member rangsang kepada mereka dengan banyak member pengalaman pra-membaca.
Apa yang terjadi jika kita mengajarkan membaca secara terstruktur pada saat anak belum memiliki kesiapan? Banyak hal. Salah satu akibat yang sangat mungkin terjadi adalah hilangnya antusiasme belajar pada saat anak memasuki usia sekolah. Dalam hal ini, ada tiga titik usia yang sangat penting, yakni 6, 10 dan 14 tahun.Kesalahan proses yang terjadi pada saat anak di play-group atau TK, mendatangkan masalah di saat anak usia 6 atau 10 tahun. Jika muncul di usia 6 tahun, kita lebih mudah menangani. Semisal, saat TK sangat bersemangat membaca, begitu masuk SD tak punya gairah sama sekali.  Yang lebih sulit adalah jika masalah itu baru muncul di saat anak berusia sekitar 10 tahun. Awalnya cemerlang, tetapi kemudian kehilangan motivasi secara sangat drastis. Nah.
Apalah arti mampu membaca jika anak tidak punya “mau”….
Sebaliknya jika kita lebih menitikberatkan pada upaya membangun kemauan membaca, memanfaatkan kegiatan bermainnya untuk belajar,menanamkan cinta ilmu, membangun adab serta dorongan untuk siap berpayah-payah belajar demi memperoleh ilmu, maka anak akan lebih antusias terhadap belajar. Bersebab tingginya antusiasme belajar, sangat boleh jadi anak mampu membaca di usia dini melalui proses yang lebih alamiah. Di antara bentuk rangsangan belajar yang sangat baik adalah memberi pengalaman pra-membaca dalam bentuk reciting aloud (mengucapkan serangkaian ayat), lalu anak menirukannya.
Jika ada memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main).
Tingginya rangsangan membaca dalam bentuk melantunkan “bacaan” (reciting aloud)untuk ditirukan anak atau pun membacakan teks Al-Qur’an kepada anak (reading aloud)lalu anak ikut mengucapkannya, memudahkan anak menghafal. Jika proses itu dilakukan dengan baik, diikuti pengucapan yang benar dan fasih, anak ibarat memiliki blue print(cetak biru) ketika kelak benar-benar belajar membaca teks Al-Qur’an beserta kaidah-kaidahnya. Ia mudah memahami karena ia telah memiliki “bacaan” yang benar, sehingga tidak sulit baginya untuk melafalkan.
Alhasil, benar bahwa kita memang dapat mengajarkan membaca kepada anak semenjak usia dini dan bahkan bayi, tetapi bukan berarti mengajarkan keterampilan memahami huruf dan mengucapkannya secara tepat sesuai kaidah-kaidah membaca. Yang perlu kita lakukan adalah membacakan untuk ditirukan atau melantunkan bacaan sehingga anak akrab dengannya dan mampu mengucapkannya dengan benar. Ini sangat bermanfaat di kemudian hari.
———

Apa Istimewanya Dari Seorang Wanita?

Seorang anak yang sudah remaja bertanya pada ayahnya.

Anak : “Ayah, mengapa seorang wanita itu sangat mudah menangis?”
Ayah : “Seorang wanita itu mudah menangis karena Allah menciptakan bahu yang cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberi kenyamanan!”
Anak : “Menopang dunia?”
Ayah : “Iya, karena wanita memiliki peranan sangat penting di dunia ini!”
Anak : “Bisa ayah jelaskan apa yang istimewa dari seorang wanita?”
Ayah : “Allah memberikan kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak, dan menerima penolakan yang sering datang dari anak-anaknya. Allah memberi kekerasan untuk membuatnya tegar saat orang lain menyerah, namun dia mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”
Anak : “Seistimewa itu yah.?”
Ayah : “Bukan hanya itu, Allah juga memberikan kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan. Bahkan ketika anak-anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”
Anak : “Ternyata wanita itu sungguh luar biasa ya, ayah?!”
Ayah : “Masih ada lagi keistimewaan yang dimilik seorang wanita.”
Anak : “Apa itu yah?”
Ayah : “Allah memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan dan melengkapi tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya. Allah memberi kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa suami yang baik tak akan pernah menyakiti istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu.”
Anak : “Lalu bagaimana dengan lelaki?”
Ayah : “Lelaki harus membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi saat berada disampingnya. Jangan pernah membuat hati wanita terluka, jika lelaki berniat mempermainkan wanita, ingatlah pengorbanan wanita yang telah melahirkannya.”
=========

Bunda, Kakak Udah Hafal al-Qur-an

.::Bunda, Kakak Udah Hafal al-Qur-an

Dalam sebuah acara buka puasa, di tahun-tahun yang lewat, seorang anak membacakan surat-surat yang dihafalnya, termasuk hadits dan do’a-do’a nabawi di hadapan para tamu. Mereka kagum dengan anak kecil tersebut.
Sang ayah mengakui bahwa anaknya tersebut diajarkan oleh ibunya. Sang anak sering mendengar hafalan Al-Qur-an, hadits maupun do’a-do’a yang dibacakan sang Bunda.
Ini adalah salah satu bukti betapa mudahnya mereka, anak-anak, menghafal dari bacaan orang lain. Ini disebabkan kekuatan pendengaran mereka yang lebih tajam dari penglihatan.
Terdapat beberapa riwayat tentang ini diantaranya dari sahabat Samurah bin Jundub dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Samurah bin Jundub bertutur, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Di zaman Nabi, aku adalah seorang anak kecil. Namun, aku turut pula menghafalkan hadits dari beliau, sementara orang-orang yang ada di sekelilingku semuanya lebih tua dariku.”
Ibnu ‘Abbas bertutur:
“Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah radhiyallahu ‘anha. Terdengarlah suara mu’adzdzin mengumandangkan adzan. Nabi pun keluar untuk melaksanakan shalat, dan ketika itu beliau berdo’a:
اللهم اجعل في قلبي نورا واجعل في لساني نورا واجعل في سمعي نورا واجعل في بصري نورا واجعل خلفي نورا ومن أمامي نورا واجعل من فوقي نورا ومن تحتي نورا اللهم أعظم لي نورا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku, jadikanlah cahaya di bawahku dan besarkanlah cayaha untukku, ya Allah.”[2]
Kedua riwayat di atas memberikan penguatan kepada Bunda bahwa anak-anak begitu cepat dan mudah menghafal dari pendengaran mereka.
Lihatlah Samurah bin Jundub kecil yang menghafal hadits dari lisan sang Nabi. Lihatlah Ibnu ‘Abbas kecil yang menghafal do’a berjalan menuju masjid dari lisan sang Nabi.
Dengarlah ungkapan Hasan bin ‘ali bin Abi Thalib yang bertutur:
“Kuhafal (sebuah kalimat) dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam:
دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
‘Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju sesuatu yang tak membuatmu ragu.”[3]
Kembali ke anak kecil tadi, tak hanya Al-qur’an, ia juga terlihat menghafal hadits dan do’a nabawi. Maka begitulah kiranya salah satu bentuk pengajaran sang Bunda kepada buah hati mereka yaitu mengajarkan hadits dan do’a, minimal memperdengarnya.
Begitu tersentuh hati sang anak ketika melihat sang Bunda sedang berdo’a dan menangis sambil bersujud, atau ketika sang Bunda memperlihatkan antusiasnya terhadap hadits nabi, atau ketika sang Bunda mengulang-ngulang hafalan hadits yang dia hafal sebelum nikah dahulu.
Lebih dari itu, marilah beralih ke bahasa arab. Ketika pasangan suami istri yang sedang melanjutkan studi mereka ke Erofa, ini menjadikan sang anak mampu berbahasa inggris, minimal memahaminya atau memudahkan sang anak untuk mempelajari bahasa inggris. Ini dikarenakan, salah satunya, kedua orang tua merutinkan diri untuk menggunakan bahasa inggris di rumah kontrakan mereka di negara tempat melanjutkan studi.
Sekarang, bagaimana sekiranya jika pasangan suami istri di rumah mengganti bahasa inggris dengan menggunakan bahasa arab sehingga anak-anak terbiasa dengan bahasa ini dan juga lahjah-nya? Tentu ini akan memberikan pengaruh yang luar biasa.
يا أمي أين قلمي؟ أريد أن أكتب لك شيء
“Ya ummie. Aina qalamie? Uridu an aktuba syai-an laki?”
(Bu, mana pulpen adik? adik pengen nulis sesuatu untuk ibu)
أمي أين أبي؟ ما رأيته اليوم
“Ummie, Aina abie? Ma ra-aituhu al-yaum”
(ummii, abi mana? Kakak ngga liat abi hari ini).
أمي إن تبسمك جميل أجمل من القمر
“ummie, inna tabassumaki jamiil ajmalu min alqamar”
(mama.. senyum mama begitu cantik, lebih cantik dari rembulan)
Begitu senang dan ceria hati sang Bunda ketika ngobrol bersama si kecil seperti kalimat di atas. Apalagi kelak, di masa-masa mendatang pada episode kehidupan selanjutnya, mereka akan bertutur di hadapan Bunda mereka atau via telephon:
أمي قد حفظت القرآن كله
“Ummiiiiiiie. Qad hafidztu Al-qur’ana kullahu”
(Bundaaaaa, aku telah menghafal Al-Qur-an semuanya)
أمي أنا أستطيع أن أتكلم معهم باللغة العربية جيدا
“umiiiie. Ana astathi’u an atakallama ma’ahum billughati al-‘arabiyyah jayyidan.”
(Mamaaaa, aku udah bisa ngomong bersama mereka dengan baik pakai bahasa arab)
أمي قد حفظت كثيرا من أحاديث قدوةنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ummiiiieee. Qad hafidztu katsiran min ahaaditsi qudwatinaa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(Ibu, adik udah hafal banyak hadits-hadits Rasulillah, teladan kita, shallallahu ‘alaihi wasallam)
Lantas, senyum dan air mata Bunda yang mengalir menandakan terbitnya kebahagiaan di hatinya
***
Subhanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
________
End Notes:
[1] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Juz 7 hal. 1240.
[2] HR Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya (1/229) dengan dua sanad, salah satunya shahih.
[3] HR Tirmidzi dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata “Hadits ini berstatus hasan shahih”
_____
Disarikan dari naskah buku kami yang berjudul Hingga Engkau Mekar Jadi Mawar

Ayah Kepala Sekolah [Bagian 02] Bahagiakan Pasanganmu

Untuk kali ini, izinkan saya bicara kepada para ayah dari hati ke hati. Soalnya kalau dari Jakarta ke bekasi lama sampainya hehe…Kira-kira apa yang jadi pertimbangan utama ayah dalam memilihkan sekolah bagi anaknya? Tentu yang pertama kali adalah keamanan dan kenyamanan sekolah sebagai salah satu pertimbangannya. Anak akan betah berlama-lama di dalamnya. Kalau perlu sampai nginap di sana. Fokus dalam belajar. Gak suka nongkrong di luar. Apalagi mencoba untuk kabur dan minggat lantas kemudian mencari tempat lain yang lebih nyaman bagi mereka.
Dalam konteks pengasuhan, sekolah pertama bagi anak adalah ibu. Ya. Ibu adalah sekolah pertama dan terbaik bagi anak. Selain karena tak ada biaya formulir dan uang gedung, anak juga bebas dari tagihan SPP dan tuntutan PR smile emoticon. Ini adalah sekolah idaman. Setidaknya bagi saya yang dulu saat sekolah paling malas ngerjain PR hehe.. Namun di luar itu, peran ibu sebagai sekolah tak lain memberikan rasa nyaman bagi anak agar betah berlama-lama di dekatnya. Tidak suka keluyuran di luar. Menjadi tempat untuk curhat di saat anak resah. Mengadukan segala gundah. Dan terutama memberikan nilai pengajaran bagi anak agar tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Kesemua hal di atas akan dapat dipenuhi oleh ibu jika peran kepala sekolah yang dipikul oleh ayah berjalan dengan maksimal. Ayah sebagai kepala sekolah bertanggung jawab menyamankan sekolah. Dalam hal ini adalah ibu dari anak-anaknya. Sebab, sulit bagi ibu membuat anak betah ada di sisinya kalau sang ibu tak mendapatkan dukungan. Mudah stress. Hanyut dalam perasaannya sendiri. Terlebih jika hujan turun, ibu makin galau. Pengennya muter-muterin tiang listrik atau pohon bak artis india kemudian teriak histeris meratap sambil habisin mie goreng dua piring hehe… lebay ah. Intinya, Ibu yang tak nyaman biasanya gampang marah. Emosinya meledak-ledak kayak petasan di malam tahun baru. Alhasil, anak lebih betah nongkrong berlama-lama di mall dan warnet. Atau tempat hiburan lainnya. Malas untuk pulang bertemu ibunya. Sebab terbayang akan bertemu dengan sosok yang meskipun cantik, kulit putih, rambut panjang terurai namun ternyata punggungnya bolong dan ketawanya mengerikan. Ups ini mah kuntilanak.., Maaf, maaf. Maksudnya sosok yang menyeramkan dan angker bagi jiwa anak. Inilah gejala munculnya mother distrust di kalangan anak-anak saat ini akibat ibu yang dirasa tak lagi memberikan kenyamanan bagi mereka.
Semua hal tersebut, lagi-lagi karena peran ayah sebagai kepala sekolah yang hilang. Tanggungjawab menciptakan suasana nyaman sekolah seharusnya ada di tangan ayah. Ayah lah yang seharusnya berpikir untuk membuat anak betah bersama ibunya. Dalam hal ini, tugas ayah adalah memperhatikan kebutuhan batin sang ibu. Hakekatnya, ibu akan bisa memberikan rasa nyaman kalau kebutuhan batinnya terpenuhi. Ada ruang baginya untuk bicara mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Sebab, menurut sebuah penelitian, wanita yang sehat jiwanya minimal mengeluarkan 20000 kata perhari. Ini benar lho. Makanya kalau mau aman, nikahilah penyiar radio atau MC hehe. Dua puluh ribu kata mah udah terlampaui mereka ucapkan sebagai tuntutan profesi.
Ibu yang jarang diajak bicara oleh ayah, maka bahasa tubuhnya tidak mengenakkan. Menyusui anak sambil resah. Tak mampu mendengarkan curhatan anak. Tak sabar saat bicara sebab emosi yang tak terkontrol. Akibatnya anak hanya dapat ‘sampah emosi’ dari ibunya. Anakpun akhirnya lebih memilih menghindar dan menjauh dari ibunya. Inilah petaka pertama dalam pengasuhan : ketika ibu tak lagi dirindukan oleh buah hatinya.
Maka, tugas wajib ayah sebagai kepala sekolah adalah memberikan waktu dan ruang setiap hari bagi ibu untuk bicara sebagai upaya menyehatkan jiwanya. Dengarkanlah keluh kesahnya. Kalaupun ibu mau marah-marah dan nangis silahkan ke ayah aja. Ibarat kata, biarkan ibu membuang sampah emosinya ke ayah agar ibu bisa memberi bunga cinta untuk anaknya.
Ibu yang sehat jiwanya dapat menjalankan tugasnya sebagai sekolah terbaik bagi anak. Ia bisa tahan berjam-jam mendengarkan keluh kesah anak. Ia mudah memberikan maaf sekaligus senyuman saat anak melakukan kesalahan hingga anak pun selalu merindukan ada di dekatnya. Dan hal ini harus didukung oleh ayah yang memperhatikan kondisi batinnya. Selain juga kebutuhan fisiknya. Agar ibu sehat luar dan dalam. Maka, ayah yang hebat bermula dari suami yang dahsyat. Peka akan kebutuhan pasangan. Peduli setiap saat. Kesimpulannya, bahagiakan pasangan kita. Sebab, ia adalah sekolah pertama untuk anak-anak kita (bersambung)
Artikel seri sebelum ini adalah AYAH KEPALA SEKOLAH (bag. 1)

Ayah Kepala Sekolah [Bagian 01]

Jika kita bicara tentang masalah anak, nama ibu pasti dibawa-dibawa. Apalagi kalau anak udah bikin ulah. Mecahin kaca jendela tetangga, cabut dari sekolah, nongkrong ampe malam di luar rumah, nempelin permen karet di bangku guru, ngintipin orang mandi. Sampai yang paling ekstrim: jadi pecandu narkoba, maniak pornografi, hingga menghilangkan nyawa orang lewat aksi tawuran atau pemalakan.
Kita akan berteriak “Ibunya mana nih? Bisa gak sih ngurus anak?”. Sampai-sampai si ayah juga ikut nyalahin ibu sambil ngancam “Kalau gak bisa urus anak, apa perlu aku buka cabang kayak alfamart?”. Modus poligami nih. Cari-cari kesalahan istri biar bisa nikah lagi hehe.. Lagian pada dasarnya semua istri siap dimadu kok. Asal suaminya siap diracun 😀 .
Tapi inti pembicaraan kita bukan tentang poligami. Kita lagi bicarakan dilema ibu yang sering disalahkan jika anak bermasalah. Hal ini karena dogma yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa “ibu madrasah pertama seorang anak”. Ini benar. Tidak diragukan lagi. Pertanyaannya, peran ayah bagaimana? Padahal layaknya madrasah, tidak akan berjalan sukses kalau tidak ada kepala sekolahnya. Itulah kenapa pepatah di atas mestinya berbunyi begini “Ibu madrasah pertama seorang anak dan ayah adalah kepala sekolahnya”. Nah ini lebih adil. Masing-masing punya peran. Ayah jadi tahu tugasnya bahwa ia punya Madrasah yang akan menentukan kesuksesan anaknya di masa depan. Madrasah ini namanya ibu.
Kondisi saat ini, banyak madrasah yang tak punya kepala sekolah. Sebab ayah yang seharusnya menjalankan tugas ini tak paham perannya. Jadilah ibu mengurus anak seorang diri tanpa orientasi, arahan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sehingga mengasuh anak sekedar menghabiskan waktu saja seraya berkeluh kesah “Mengasuh anak kok susah banget ya?”. Dan saya biasanya menjawab : Iya, mengasuh anak memang susah sebab hadiahnya adalah surga. Kalau mengasuh anak itu mudah, maka hadiahnya cuma voucher pulsa 😀
Yang saya bahas disini tentu keluarga yang status ayah dan ibunya masih bersama. Bukan yang single parent. Itu lain perkara. Nah, kembali ke pembahasan Ayah kepala sekolah, maka sudah semestinya ayah jalankan fungsi ini di dalam rumah. Sebagaimana umumnya kepala sekolah yang memang jarang berinteraksi dengan anak, namun tetap jalankan tugasnya selaku kepala sekolah. Minimal ada 4 tugas kepala sekolah yang menjadi tanggung jawab ayah demi terwujudnya kualitas anak yang unggul. Keempat tugas itu di antaranya : 
1. Membuat suasana aman dan nyaman sekolah 
2. Menentukan visi dan misi 
3. Melakukan evaluasi 
4. Menegakkan aturan
Keempat hal ini akan kita bahas satu persatu di tulisan berikutnya. Keempat tugas inilah yang sejatinya harus ditunaikan oleh ayah sebagai bentuk kepedulian terhadap anak. Anak sebagai siswa didik merasakan kehadiran kepala sekolah yang mengurus pertumbuhan mereka baik secara fisik, psikis maupun spiritual. Begitu juga ibu. Memiliki pemandu yang mengarahkan tercapainya tujuan pengasuhan. Tak merasa dibiarkan seorang diri mengurus anak.
Itulah kenapa, jika ayah hanya mengurusi masalah fisik rumah semisal genteng bocor, TV rusak, lampu mati, maka sejatinya ini bukan ayah kepala sekolah. Lebih tepatnya disebut ayah marbot atau penjaga sekolah. Maka, para ayah, mari tingkatkan derajat diri menjadi ayah kepala sekolah (bersambung)
Oleh: Bendri Jaisyurrahman

Islam Asyik Deh [Seri 03]

TANYA JAWAB with Bendri Jaisyurrahman
TANYA : Apa penyebab remaja jaman sekarang sering terjangkit virus GALAU ? (Nicky Gita Aryani ~ Jakarta)
JAWAB :
Adek Nicky yang shalihah, fenomena GALAU saat ini tentu dikarenakan banyak anak remaja yang belum memahami tujuan mereka hidup. Mau ngapain saat hidup? Dan apa yang dilakukan setelah mati? Banyak yang mikir mumpung muda, puas-puasin diri aja dengan bersenang-senang. Akhirnya lupa deh kewajiban dasar sebagai hamba Allah (adz dzariyat : 56).
Akibatnya, jiwa mereka kosong dari cahaya Allah. Begitu ada masalah sedikit langsung bête, ngunci diri dalam kamar terus dengerin lagu Cita Citata “Sakitnya Tuh disini” ampe berulang-ulang. Kalau hujan datang, mereka pun langsung keluar rumah sambil main hujan-hujanan terus berputar-putar di bawah pohon sambil ngikutin gaya Briptu Norman (masih pada ingat kan?) Ini udah galau tingkat provinsi namanya.
Nah, perilaku lebay bin alay itu lagi-lagi karena mereka lupa hakikat hidup dan siapa pemilik kehidupan. Andai saja mereka tau mereka punya Allah. Hidup ini diatur sama Allah. Buat apa galau? Mending nonton film Andy Lau (eh pada kenal gak ya?). Karena itu jika galau segera berobat dengan perbanyak dzikir dan tilawah. Sebab jiwa yang galau tanda jiwa yang sakit. Obatnya ya alquran. Sebab alquran itu obat bagi manusia-manusia penggalau,
Makanya, kalau ada temen kamu yang lagi galau bacain alquran aja. Tapi yang sopan bacanya, ntar dia tersinggung sambil bilang “emang gw kesurupan apa?”. Atau ajak dia ikut majelis ta’lim. Misalnya ke AQL Islamic Center. Kan ada saya di situ. Kali aja pas udah ketemu saya udah gak galau lagi (emang gw siapa??!! Hehe).
So, tetap senyum dan semangat ya!
—————————————–