Surat Untuk Presiden Negeri Kami Tercinta Indonesia

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 
Semoga salam rahmat dan berkah Allah selalu menyertai ayahanda Jokowi tercinta…aamiin. SubhanAllah ayahanda terpilih dan mengemban amanah Allah sebagai presiden negeri tercinta ini. Sungguh jabatan yg ayah emban hakekatnya amanah Allah yg ayah akan pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Ingat ayah, ayah adalah hamba Allah, seorang Muslim yang punya tugas utama mengabdikan kepada Allah sebagai “Kholifah fil ardhi” ( QS Adz Dzariyat 56). 
Sadarilah ayahanda, kita semua tidak lama hidup di dunia ini, jabatan yg ayah emban juga tidak lama. Sungguh kita akan hidup selama lamanya di akhirat. Dunia ini memang sebentar tetapi menentukan keadaan kita selama lamanya, memang sebentar tetapi resikonya terlalu besar. Ayahanda, jangan sia siakan kesempatan hidup ini, ingat segala keputusan ayahanda berimplikasi pada kedudukan ayahanda di akhirat kelak. Bacalah Kalam Allah surah An Nisa ayat 85, “Barang siapa memutuskan keputusan yg benar lalu banyak yg mengikutnya maka sebanyak itulah pahala yg ia peroleh, dan barang siapa memutuskan yg buruk lalu banyak yg mengikutnya maka sebanyak itulah dosa yg ia pikul…”. 
Sungguh jika ayahanda jujur amanah maka ayah meraih kedudukan mulia lebih mulia dari para syuhada dan satu derazat dibawah kedudukan para nabi (QS An Nisa 69), dan di akhirat kelak menjadi hamba utama yg meraih perlindungan Allah, “Imam yg ‘adil akan dinaungi oleh Allah (pada hari kiamat) di bawah naungan-Nya” (HR Bukhoii Muslim) tetapi kalau ayah hianat, berdusta. Mohon ayah baca dg hati yg dalam peringatan Rasulullah ini, ”Pemimpin mana saja yg menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka” (HR Ahmad), ”Barangsiapa yg diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga” (HR Bukhari Muslim]. Dalam lafadh yg lain disebutkan : ”Ia mati dimana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga”, “Barangsiapa yg melakukan perbuatan jahat atau melindungi pelaku kejahatan, maka baginya laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya amal wajib maupun amal sunnah (yg ia kerjakan)” (HR Bokhori Muslim). 
Ayahanda sekarang presiden negeri ini, mayaoritas penduduk negeri menunggu bukti janji ayahanda. Kini ayahanda bukan petugas partai lagi, bukan pelaksana koalisi, bukan pembela kepentingan kelompok siapapun bukan pembawa pesan siapapun. Ayah presiden, ayah harus punya kemandirian sikap,tegas, berani, jujur, jangan takut kepada siapapun. Takutlah hanya kepada Allah yg masih mengizinkan ayahanda bernafas. Mayaoritas penduduk negeri ini susah, sogok menyogok dan korupsi membudaya, ma’siyat dimana mana, inilah tugas utama ayahanda, ayahanada harus kuat dg dukungan aparat yang kuat juga, menteri yg jujur, tentara yg kuat, polisi yg bersih, KPK yg berani. 
Ayahanda waktu terus berjalan, tumpukan kekecwaan, marah dan susah sudah bercampur yg bisa tumpah. Segeralah ayah bersikap sebagai presiden negeri yg takut kepada Allah, berani, jujur, amanah dan mandiri memutuskan untuk kepentingan kemamkmuran kesejahteraan rakyat ini. “Takutlah ayah kepada Allah dan Hari PembalasNya, ajaklah kami rakyat bangsa ini takut kepada Allah, hidup bahagia dalam hidayah Syariat dan Sunnah NabiNya yg ayah dan nanda cintai bersama. “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah turunkan keberkahan dari langit dan bumi, tetapi kalau menggunakan ni’matNya untuk berbuat zholim, maka kami azab mereka karena kejahatan mereka” (QS Al ‘raf 96). .
Allahumma ya ALLAH kami rindu pemimpin yg berwibawa, yg sangat takut kepadaMU dan mengajak kami takut kepadaMU…pemimpin yg mengajak kami hidup dalam SyariatMU dan bahagia dalam Sunnah NabiMU. Allahumm ya ALLAH selamat kami, negeri kami dari murkaMU…aamiin. Dari rintihan hati seorang anak bangsa yg mencintai umat dan negeri ini.
sumber => http://on.fb.me/1tfOwtU

Nasehat Untuk Diriku Dan Sahabatku Para Da’i

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..
Arifin mohon maaf lahir batin.
Ikhwah fillah
Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisis ukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.
Ikhwah fillah
Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)
Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.
Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.
Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebih afdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.
Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.
Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,
…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…
(Ali ‘Imran, 3: 152)
Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ikhwah
Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.
Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gakdiundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.
Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(Ash-Shaff, 61: 3)
Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.
Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.
Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyahahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalu khususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyahtablighta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.
Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.
Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.
Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.
Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayanclear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.
Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).
Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?
Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.
Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.
Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.
Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah, tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.
Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathila walau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orangmujrimun itu.
Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
(Al Furqan, 25: 63)
Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…
(Fushshilat, 41: 30)
Lihat setelah itu,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Fushshilat, 41: 33)
Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,
Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.
Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.
Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ
Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
(Ukasyah/arrahmah.com)

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini..
—————

Kebahagiaan

Assalaamu alaikumwa rahmatullaahi wa barkaaatuhu. 
 
Sahabat sholehku, kita tidak akan pernah bahagia selama kita masih berdusta, suka gosip, buruk sangka, marah, dendam, dengki, riya, bangga diri, menipu, makan yg haram, malas ibadah apalagi hidup dalam ma’siyat. Karena KEBAHAGIAAN itu hanya pada KESUNGGUHAN TAAT. Baca dg iman Kalam Allah ini, “Ketahuilah sesungguhnya kekasih kekasih ALLAH itu, tidak akan takut apa yg akan terjadi dan tidak bersedih apa yg sudah terjadi, karena KESUNGGUHAN IMAN dan KESUNGGUHAN TAAT mereka kepada ALLAH, untuk mereka kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, itu pasti untuk mereka, itulah KEMENANGAN BESAR (QS Yunus 62 – 64). 
 
Sahabatku yg ingin bahagia, segeralah bertaubat dan taat sungguh sungguh. “Allahumma ya Allah ampunilah semua dosa dosa kami, bahagikanlah kami dalam kesenangan ibadah dan taat di JalanMu…aamiin”. Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu jaga wudhu, hati selalu zikir, senyumlah, dan untuk pria mu’min siapkan diri sholat ke mesjid tanpa terlambat.

—————-
Kebahagiaan
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Kenalan Dengan Nafsu

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 
 
Sahabat sholehku Mari kenali “nafsu” yg bersemai pada setiap insan dan diri kita, 
1. Nafsu Ammarah (QS Yusuf 53), ini adalah nafsu yg hanya puas kalau sudah ma’siyat, sangat tidak suka ibadah, benci nasehat kebaikan & ketaatan kpd Allah. Seperti, senang berzina, sangat pemarah, hobby mabuk, benci ulama, ketagihan makan haram, korupsi dsb. 
 
2. Nafsu Lawwamah (QS al Qiyamah 2), nafsu standar ganda, dari kata “laima” mencela dirinya setelah berbuat ma’siyat lalu sangat menyesal tetapi tidak lama kemudian ketagihan lagi. Seperti, sholatnya rajin tetapi masih suka berzina, tentu yg salah bukan sholatnya, pelakunya yg belum faham tujuan, makna dan hikmah sholat kecuali sholat sekedar. Kalau sholat itu benar benar dihayati buahnya jauh dari ma’siyat, “Sesungguhnya sholat itu mencegah zina dan mungkar” (QS al Ankabut 45) atau sudah haji tetapi korupsi dsb, 
 
3. Nafsu muthmainnah, ini nafsu hamba Allah yg sholeh (QS Ar Ro’du 28) “almuqorrobuun” (QS al Waqiah 88) senangnya ibadah, semangatnya beramal, hatinya lebut, dermawan, rendah hati, istiqomah, suka sekali duduk di mesjid, majlis ilmu, cinta ulama, amat sangat takut ma’siyat, malah ia heran melihat orang berani ma’siyat, sedih sekali kalau bangun terlambat sholat malam, muhasabah diri sama sekali tidak tertarik melihat aib orang lain, air matanya mudah menetes ta’kala sholat, membaca Alqur’an dan berzikir. “Allahumma ya Allah jauhkan kami dari nafsu yg membuat kami ma’siyat kpdMu dan bimbinglah nafsu kami menjadi muthmainnah nafsu mendekat kpdMU…aamiin”.
————-

Seorang Yang Beriman

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu.

“SUBHANALLAH, alangkah indahnya, bahagianya & berkahnya hidup seorang mu’min itu, tiada hari yg ia lalui dg sia sia karena hidupnya dalam KETERATURAN TAAT. Ia mulai bangun malam dg mandi untuk SHOLAT MALAM, MUHASABAH diri diiringi dg ISTIQFAR & TADABBARUL QUR’AN menjelang fajar, kakinya ia langkahkan untuk sholat subuh berJAMAAH di MESJID, sebelum mencari rizki yg halal ia lebih dahulu SHOLAT DHUHA, ia jaga kehormatan dirinya dg RAPI INDAH AURATNYA IA TUTUPI, TIDAK MAU MENYENTUH & DISENTUH BUKAN MAHRAMNYA, wajahnya bersih & nyaman dipandang buah selalu TERJAGA WUDHU, MURAH SENYUM & RENDAH HATINYA, ia selalu syukuri nikmat ALLAH dg sedekah, HATI & LISANNYA BERGERAK BASAH & ASYIK dalam DZIKRULLAH. 

Inilah awal KETERATURAN keseharian orang beriman yg terjadi setiap hari. Ia pun berazam mengamalkan hingga Allah mewafatkannya. Allahumma ya ALLAH tancapkan dihati kami, keluarga kami & sahabat FB kami kekuatan & keindahan iman, hiasilah hidup kami dg kemuliaan akhlak & selamatkan kami dari berbagai fitnah hidup di dunia sebentar ini…aamiin”.
—————
Seorang Yang Beriman
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Kematian Itu Pasti

Pasti mati kok malas sholat

Pasti mati kok jahat pada keluarga

Pasti mati kok menipu

Pasti mati kok berani berzina

Pasti mati kok sombong tidak minta maaf padahal tidak akan selesai walau ia minta ampun pada Allah, sampai yg disakiti memaafkannya.

Pasti mati kok ngga taubat juga
Pasti mati kok santai banget
Pasti mati kok pelit, memangnya dibawa mati
Pasti mati kok serakah
Pasti mati kok bisa ngga tahajud, kok ngga baca Alqur’an, kok ngga ke berjamaah di mesjid, kok ngga sedekah, kok ngga banyak zikir, kok ngga jaga wudhu., kok, kok, kok…?!


Sungguh umur bertambah usia berkurang, semakin hari semakin dekat dg jadwal kematian, semestinya semakin bersiap siap.


Sahabat FB tercinta, mari kita renungi Kalam Allah surah Al. Hasyr ayat 18, ”Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok ( akherat ), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu semua kerjakan”. 


Foto ketika abang menguburkan tetangga abang, Engkong Hasbi 81 tahun seorang hamba Allah yg selalu berjamaah di mesjid. Dan beliau mohon kalau wafat nanti abang yg memandikan, mengapani, Imam sholat mayit dan menguburkan beliau. Alhamdulillah abang tunaikan wasiat beliau. Semoga kita semua, Allah wafatkan husnul khotimah…aamiin

————-
Kematian Itu Pasti
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Hikmah dari Sakit

SubhanAllah sebelum rehat malam ini, mari kita renungi tentang hikmah sakit. 
Sakit, adalah ujian. Maka bagi dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yg selalu sehat takjub. Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yg lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta. Dan atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah bercermin kepadanya. Hari ini pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yg pernah juga sakit. Sakit, yg di ujung penggal kehidupan mereka ditemukan adalah kemuliaan serta terus bertambah derajat kemuliaanya di mata Allah. 

Imam As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yg menyelusup melalui celah gigi yg patah di perang Uhud. Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia. Sakit itu zikrullah. Mereka yg menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yg akan terus digetar? Sakit itu muhasabah. Dia yg sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. 

Sakit itu jihad. Dia yg sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya. Bahkan sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit. Sakit itu nasihat. Yg sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yg sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya. Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yg jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah. Sakit itu gugur dosa, anggota badan yg sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab doa. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yg sakit. 

Sakit itu salah satu keadaan yg menyulitkan syaitan; diajak maksiat tak mampu-tak mau; dosa lalu malah disesali kemudian diampuni. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yg disukai Nabi dan para makhluk langit. Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu. 

Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit. Wallahu A’lam. Abang share saat malam ini menjenguk abah yg sedang disayang Allah berbaring sakit di Rumah Sakit Banjarmasin, mohon doa kalian juga.
————-

Mu’min yang Kuat

SubhanAllah mengapa seorang mu’min itu selalu kuat, tegar, pantang menyerah menghadapi segala persoalan kehidupan ini?! Karena bukan hanya ia faham benar DUNIA INI SEBENTAR, dan bukan hanya karena ia MENIKMATI KETAATAN kepada Kekasihnya Allah, tetapi segala persoalan ia KEMBALIKAN dan BERSANDAR hanya kepada Kekasihnya Allah. 

Dengarlah aduan rintihannya kepada Kekasihnya, “Allahumma innaa la nasaluka roddal qodhoi wa laakinna alluthfa fiihi” Allahumma ya Allah hamba bukan menolak taqdirMu, taqdirMu adalah taqdirMu, tetapi berilah kekuatan, keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan dan “alluthfu” KECERDASAN MENANGKAP BAHASA HIKMAH DIBALIK SEGALA TAQDIRMU…aamiin
——————
Mu’min yang Kuat
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Tujuan Nikah

Bang bagaimana Islam memandang sebuah pernikahan? 

Abang kembali ingatkan diantara TUJUAN NIKAH bagi seorang mu’min, 
1. Benar benar ingin Ridho ALLAH (QS Al Bayyinah : 5), 
2. Bukti taat, karena zina dosa besar yg terkutuk (QS Al Isro : 32) dan sungguh sekali berzina “tudhiuun arbaiinassannah” membakar 40 thn amal ibadah, demikian kecam Rasul bagi pezina, sebaliknya dg nikah telah meraih “nishfaddiin” separuh nilai kemuliaan agama, SubhanALLAH, 
3. Bukti cinta Rasulullah, “Nikah sunnahku, siapa yg membencinya bukan umatku”, tentu berbeda yg tidak mau nikah dg yg belum menikah, atau sudah banyak ikhtiar tetapi belum juga berjodoh. Sungguh gagal dalam pernikahan lebih baik daripada tdk mau nikah, 
4. Untuk mewujudkan hasrat cinta biologs-psikologs yg dihalalkan dan diberkahi ALLAH, 
5. Meraih kebahagiaan dan ketenangan hidup sakiinah mawaddah wa rahmah (QS Ar Ruum : 21), 
6. Demi memperbanyak umat Rasulullah, 
7. Menjaga “iffah” kehormatan diri sebagai manusia beriman, 
8. Selamat dari berbagai penyakit dan fitnah sosial, 
9. Mempersiapkan keturunan sebagai regenerasi dakwah.

Karena tujuan inilah kita bangga sekali dan sangat bahagia nikah, sahabatku. “Semoga ALLAH membuka jalan terbaik bagi kita untuk meraih pernikahan yg penuh dg BERKAHNYA…aamiin”. 

Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu terjaga wudhu dan senyumlah…duhai sahabat sholehku.
————
Tujuan Nikah
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Kebahagiaan

Assalaamu alaikumwa rahmatullaahi wa barkaaatuhu. 

Sahabat sholehku, kita tidak akan pernah bahagia selama kita masih berdusta, suka gosip, buruk sangka, marah, dendam, dengki, riya, bangga diri, menipu, makan yg haram, malas ibadah apalagi hidup dalam ma’siyat. Karena KEBAHAGIAAN itu hanya pada KESUNGGUHAN TAAT. 

Baca dg iman Kalam Allah ini, “Ketahuilah sesungguhnya kekasih kekasih ALLAH itu, tidak akan takut apa yg akan terjadi dan tidak bersedih apa yg sudah terjadi, karena KESUNGGUHAN IMAN dan KESUNGGUHAN TAAT mereka kepada ALLAH, untuk mereka kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, itu pasti untuk mereka, itulah KEMENANGAN BESAR (QS Yunus 62 – 64). 

Sahabatku yg ingin bahagia, segeralah bertaubat dan taat sungguh sungguh. “Allahumma ya Allah ampunilah semua dosa dosa kami, bahagikanlah kami dalam kesenangan ibadah dan taat di JalanMu…aamiin”. 

Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu jaga wudhu, hati selalu zikir, senyumlah, dan untuk pria mu’min siapkan diri sholat ke mesjid tanpa terlambat.
———–
Kebahagiaan
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham