Bisikan Mesramu Mencerahkan Hariku

Cahaya fajar melenyapkan kegelapan malam. Suara azan Bilal menghilangkan kesunyian Madinah. Saat itu Rasulullah tengah terlelap. Mengistirahatkan raga di waktu menjelang fajar setelah menjalankan Qiyamullail cukup lama.

Kala Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah bangun, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak dan bersiwak. Setelah itu membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya jua kita semua dibangkitkan.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah itu beliau bangun. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika perlu berwudhu maka beliau berwudhu.  Setelah itu beliau shalat sunnah dua rakaat  fajar.
Seusai shalat, jika istri beliau sudah bangun, beliau menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti apa kiranya seorang istri yang mencintai, yang memulai cahaya-cahaya hari dengan kata-kata cinta dari suaminya?
(Dikutip dari Al Yawm An Nabawy)
Lihatlah  bagaimana Rasulullah memulai harinya. Bisa jadi ini hanyalah sekitar 15 menit dari rutinitas beliau sejak bangun paginya. Betapa banyak hal kecil yang mungkin terlewat bagi kita. Atau bahkan bisa jadi sepele dan diacuhkan oleh kita, namun tak pernah ditinggalkan Rasulullah.
Siapakah di antara kita yang bangun tidurnya langsung bersiwak? Membersihkan gigi dan mulutnya sebelum berdoa kepada Rabb-nya?
Perhatikanlah, mengapa Rasulullah bersiwak dulu baru berdoa? Rasulullah berdoa setelah bersiwak karena ingin membuat Rabb-nya senang.
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,”Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.” (HR. An Nasai).
Hadits ini menunjukkan penegasan bahwa bersiwak bukan hanya untuk gigi saja, namun dimaksudkan untuk kebersihan dan memberikan aroma wangi, bukan hanya menghilangkan kotoran saja. Maka keutamakan siwak ini bukan hanya memiliki manfaat religi namun juga duniawi.
Hal detail lainnya yang sering terlewat dicermati oleh kita adalah Rasulullah itu bangun lebih dahulu dari istrinya. Yang dilakukannya ketika melihat istrinya bangun adalah membisikkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan untuk didengarkan istrinya.
Bagi pasangan yang sudah lama menikah, yang sering terjadi adalah sang suami tidak lagi suka mengungkapkan kata-kata mesra yang membahagikan istri, karena menganggap toh sang istri pasti sudah tahu perasaannya. Kata-kata itu tidak lagi penting, demikian mungkin menurut logika suami.
Namun para suami, contohlah Rasulullah… Justru karena beliau adalah orang terbaik bagi keluarganya, maka beliau memahami benar betapa pentingnya ungkapan dan kata-kata membahagiakan itu untuk para istri. Maka tidak bosan beliau mengungkapkan rasa.
Aroma mulut yang wangi berpadu harmonis dengan kata-kata mesra penuh cinta… ah, indahnya….
Sungguh mood booster luar biasa untuk memulai hari yang padat bagi para istri.
Bila para suami masih berpikir bahwa kata-kata tidaklah penting, yang penting adalah perbuatan…
Bagaimana bila dua-duanya? Karena Rasul kita mencontohkannya…
Wahai para suami, sungguh, bisikan mesramu mencerahkan pagi istrimu…

Beginikah Rasanya Menikah Tanpa Pacaran itu?

Dua manusia yang tak pernah bersentuhan sebelum menikah dan disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Saat mau berfoto diatas pelamin malu malu. Haha. Sweet…
<3 SUBHANALLAH…
Semoga bahagia sampai ke syurga.
 
Tuh kan, nikah tanpa diawali pacaran itu manis-manis gimana gitu.
Malu-malu, unyu-unyu … 😀
Mau tatap muka malu, mau pegangan malu, padahal sudah halal loh ….
So, nggak ingin nih kayak gini?
 
“Nikah tanpa diawali pacaran adalah moment penumbuhan cinta. Dan menikah jika sudah diawali pacaran adalah moment pembunuh cinta. Karena cinta yang tumbuh telah dihabiskan di masa belum terhalalkan.”
(Ust. Syafiq Riza Basalamah)
 
Yuk jadi baik … agar kita dapetnya juga yang baik-baik
 
Bantu “SHARE”
Agar jadi pacuan buat anak muda akhir zaman.
 

AYAH YANG DIRINDUKAN (AWASSS!! INI TULISAN SERIUS, GAK NYANTAI)

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf : 4-5)
 
Lihatlah dialog yang terjadi antara ayah dan anak dalam ayat di atas. Sungguh adalah dialog yang indah. Dialog yang menggambarkan begitu dekatnya hubungan antara anak dan ayah. Sesuatu yang sekarang begitu jarang kita lihat. Ayah dan anak seringkali merasa asing. Bertegur sapa sebatas perlu. Layaknya orang yang sedang menunggu antrean busway. Isinya pun seputar PR anak, makan dan biaya kuliah. Fisik mereka serumah namun jiwa mereka terpisah lain dunia.
 
Yusuf, dalam ayat tersebut diceritakan mendatangi ayahnya. Bertanya tentang sesuatu yang sangat pribadi. Yakni tentang mimpi yang dialaminya. Sebuah hal yang menunjukkan ia hanya akan tanyakan sesuatu kepada orang yang paling ia percaya. Dan ayahnya pun memahami arti mimpi tersebut bahwa itu adalah kabar gembira dari Allah untuknya. Dan demi menjaga hal yang tidak diinginkan, maka ia pun menasehati anaknya agar berhati-hati dengan mimpinya terutama tak menceritakan kepada saudaranya.
 
Yang menarik dari dialog di atas adalah panggilan Yusuf kepada ayahnya menggunakan sebutan يا أبت, seolah-olah orang yang dipanggil, yakni Ya’qub ayahnya, berada di tempat yang jauh, padahal dia ada di depannya. Orang yang ada di depannya dibuat seakan-akan berada di tempat yang jauh menandakan ia dinantikan kehadirannya, karena yang dimaksudkan adalah menghadirkan hatinya dan perhatian terhadap sesuatu yang akan diceritakan (Hiwarul Aba’ Ma’al Abna fiil Qur’anil Kariim wa Tathbiqotuhut Tarbawiyah, Sarah Binti Halil Ad Dakhili)
 
Dari sinilah kita bisa mengambil dua pelajaran penting dalam konteks pengasuhan saat ini :
1. Adakah AYAH menjadi figur yang dirindukan oleh anaknya
2. Sejauh mana anak menaruh kepercayaan terhadap sang ayah
 
Ayah yang dirindukan. Ini menunjukkan ikatan hati yang terjalin sedemikian erat. Kesibukan ayah dalam mencari nafkah tak menghalanginya untuk menjalin ikatan batin kepada anaknya. Sehingga tiap pertemuan dirasa begitu berharga oleh anak. Kadang hanya singkat namun memberi makna. Ada kesan mendalam yang digoreskan dalam batin anak. Tentu hal ini terjadi jika ayah betul-betul menjalankan fungsinya sebagai pengasuh sekaligus pengasih.
 
Ketidakmampuan ayah menghadirkan kerinduan dalam jiwa anak berakibat kepada beralihnya perhatian anak kepada sosok-sosok lain diluar sana. Televisi dan segala perangkat digital menjadi rujukan mereka sekaligus pengisi kekosongan jiwa anak akan hadirnya ayah. Jiwa mereka telah terikat oleh pahlawan-pahlawan rekayasa buatan media. Dampaknya, kepulangan ayah ke rumah tak lagi dianggap istimewa. Ucapan salam ayah di depan teras rumah tak menggetarkan jiwa mereka untuk menyambut. Kalah dengan teriakan tukang bakso yang kadang membuat sebagian anak histeris menyambutnya.
 
Ketidakrinduan anak kepada ayah ini menjadikan fungsi ayah terbatas hanya kepada dua hal :
1. Memberi nafkah
2. Memberi izin untuk menikah
 
Tanpa sadar, anak menganggap ayah sebatas mesin ATM. Didatangi saat kehabisan uang belanja. Kehadiran ayah dirasa ada dan tiada. Bahkan banyak yang merasa sudah yatim sebelum waktunya meski sang ayah masih ada di sekitarnya. Wal’iyadzubillah…
 
Jika ini dibiarkan terjadi, maka hilanglah rasa kepercayaan anak kepada sang ayah. Dan ini ditandai dengan banyaknya ayah yang tak tahu kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah. Kenapa demikian? Sebab anak merasa sungkan untuk bertanya akan masalah seksualitas yang dialaminya. Bayangkan! Ayah menuntut anaknya untuk sholat subuh ke mesjid. Sementara anaknya baru saja mengalami mimpi basah dan tak tahu harus mandi junub. Sholat si anak tidak sah. Tentu ayah lah sebagai penanggung jawabnya.
 
Menjadi ayah yang dirindukan memang tak mudah. Layaknya menanam benih hingga menjadi tanaman padi yang bernas, butuh ketekunan, keseriusan dan kesabaran. Namun kelak ayah akan memanen hasilnya. Yakni berupa kepercayaan dari anak. Saat anak betah berlama-lama bercerita di hadapan ayah akan kegiatan sehari-harinya. Menjadikan ayah rujukan informasi pertama. Bahkan saat anak hadapi suatu masalah, ia tahu kepada siapa ia mencari solusi. Tak lain adalah ayahnya.
 
Bagi anak yang telah timbul rasa kepercayaan kepada ayahnya, sang ayah telah menjelma menjadi ‘super hero’ pertamanya. Memberi inspirasi di sepanjang perjalanan usia anak. Bahkan hingga ia berusia dewasa dan menua.
Tidakkah ini menjadi hal yang begitu menggembirakan bagi sang ayah? Saat petuah dan nasehat ayah senantiasa didengarkan dan dipatuhi anak. Bahkan saat ayah meninggal dunia, tak henti-hentinya anak mendoakannya seraya memohon ampun bagi sang ayah. Dan hal ini berdampak kepada kebahagiaan ayah di akherat. Perhatikanlah hadits berikut ini :
 
إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول : أنى لي هذا ؟ فيقال : باستغفار ولدك لك . ‌
 
“Sesungguhnya ada seorang AYAH yang diangkat derajatnya di surga, maka iapun heran dan berkata : Bagaimana ini bisa untukku? Maka dikatakan : disebabkan anakmu beristighfar (memohonkan ampun) untukmu” (HR. Ahmad, Al Baihaqi)
 
Subhanallah. Maka, jadilah ayah yang dirindukan. Ayah yang tak sekedar mengurus kebutuhan fisik anak namun juga jiwanya. Luangkan waktu untuk berbincang mesra bersama mereka. Tak boleh ada media lain yang membuat kekhidmatan obrolan menjadi rusak. Abaikan dulu HP, laptop dan segala jenis media yang selalu menempel di dekat ayah. Sebab anak juga punya perasaan. Tak ingin diduakan.
 
Kelak ayah akan menjadi sosok layaknya Ya’qub. Yang begitu dekat dengan anak-anaknya. Menjadi figur yang utama dalam kehidupan mereka. Mengiringi perjalanan hidup anak hingga mereka dewasa. Meski raga terpisah namun hati terikat dalam jalinan cinta. Seraya berharap terkumpul bersama di surga.
 
Ya, negeri ini sedang darurat ayah. Dengan kata lain anak-anak kita butuh hadirnya sosok ayah. Ayah yang siap mengorbankan kesenangannya menonton bola di malam hari untuk membacakan cerita sebelum anak tidur. Ayah yang siap mengeluarkan segala jurus untuk mengikat hati anaknya. Ayah yang menjadi pahlawan pertama bagi mereka. Agar tak ada lagi anak-anak yang begitu ditanya : dimana ayahmu? Mereka cuma bisa menjawab ‘tau’ ah gelap’.
 

Ibu Rumah Tangga

1. saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Muslim | papi sempat menasihati saya perihal “Ibu Rumah Tangga”
2. “lix, selama papimu masih bisa mencukupi keluarga, mamimu tugasnya di rumah” | tegas papi berpendapat soal IRT
3. padahal saat itu isu feminisme sedang santer | wacana wanita karir sedang panas-panasnya | arus genderisme mewabah
4. tapi papi tenang aja lalu menyampaikan | bahwa dia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya | dan itu berarti perhatian full dari ibu mereka
5. hidup kala itu tidak mudah, dan akal lebih mudah seandainya mami bekerja | tapi papi sudah mengambil pilihan, dan itulah yang ia jalani
6. karena semua manusia punya pilihan | apa yang didapat dan apa yang dikorbankan | semua selalu tentang pilihan
7. sebelum Muslim pun saya tumbuh dengan memahami | lelaki dan wanita tidaklah sama | mereka punya kelebihan di bidang masing-masing
8. posisi ibu dalam dunia anak itu tidak tergantikan | perhatian seorang ibu pada anaknya takkan terbeli sebanyak apapun harta
9. dan posisi ibu itu tidak bisa diulang kembali | karena umur anak takkan bisa diputar lagi
10. maka ketika memilih calon ibu dari anak-anak kami syaratkan | “maukah engkau menjadi fulltime-mother bagi anak-anak?”
11. “saya nggak mau ketika anak dewasa lalu bermaksiat, kita menyesal ‘mengapa dulu tidak habiskan lebih banyak waktu bersamanya?!'”
12. itu pemahaman sebelum Muslim | saat sudah mengenal Islam | kami memahami betul Islam paling memuliakan wanita
13. feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses
14. feminisme menganggap waniat modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan
15. feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat dll
16. wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme | wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak | kerja lebih asyik
17. menurut pandangan feminis | IRT itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita
18. wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga
19. US misalnya yang jadi kampiun feminisme | angka perceraian mencapai 50% per 2012 sila rujuk http://t.co/OUvEkdUY8L
20. “nearly 80% cited financial problems as the leading cause of the marital demise” (Carr, 2003, p.10) | http://t.co/zQFsyYQuqe
21. feminisme mangaburkan fungsi ayah dan ibu dalam rumah tangga | hanya semata-mata demi mendapat lebih banyak materi
22. akhirnya meningkatlah angka single parents http://t.co/k9eNybXtq7 | dan jelas broken home http://t.co/yUvU499gT9 http://t.co/qAjjFfHBQJ
23. banyak juga studi-studi yang menperingatkan | sangat sulit untuk memadukan ibu dan karir sekaligus | http://t.co/mu5t6N2u3m
24. sebagai tambahan, US yang melahirkan gerakan feminisme saja | sudah banyak bermunculan gerakan anti-feminisme sebagai gantinya
25. di US, sudah banyak wanita sadar bahwa feminisme mengorbankan keluarga | mereka ingin kembali menjalankan peran ibu rumah tangga
26. karena seberapa banyak waktu pun yang didedikasikan untuk mendidik anak | tiada pernah akan ada waktu yang cukup untuknya
27. “saya ibu sekaligus karyawan, anak saya baik-baik saja” | di-sambi aja sudah baik, apalagi bila fulltime-mother? tentu sangat baik 😀
28. lalu pertanyaan prinsipil | “apakah Islam melarang wanita bekerja?” | “apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?”
29. dalam Islam hukum wanita bekerja itu mubah (boleh) | sedangkan menjadi “ibu dan pengelola rumah tangga” itu kewajiban
30. jadi sah-sah saja wanita memilih bekerja | namun beres juga kewajibannya | tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama
31. hidup memang perkara pilihan | dan Islam memerintahkan untuk memaksimalkan waktu ibu untuk anak-anaknya | urusan uang biar ayahnya
32. bagaimana dengan wanita yang ditinggal suami apapun alasannya | maka bekerja menafkahi anak tentu amal pahala besar baginya 🙂
33. maka karir terbaik wanita | adalah menjadi ibu sepenuhnya
34. tentang pendidikan? | tidak bosan-bosan saya sampaikan | bahwa seorang ibu HARUS terdidik sempurna, tinggi dan luasnya
35. bahkan wanita Muslimah WAJIB lebih terdidik daripada lelaki | karena ialah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) anak-anaknya
36. maka jangan tanya “untuk apa pendidikan tinggi bila hanya jadi IRT?” | jadi IRT justru perlu pendidikan tinggi
37. karena di tangan kaum ibu generasi Muslim berada | bukan di tangan ayah generasi Muslim dibentuk
38. banyak wanita yang seb
etulnya bisa menggapai dunia lebih dari lelaki | tapi mereka mengorbankan segalanya demi anaknya | MULIA
39. dari ibunda MULIA semisal itulah | menjadilah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad
40. rata-rata ulama besar menghabiskan masa kecil dalam yatim | ibu merekalah yang mendidik dan mendaras Al-Qur’an setiap waktu
41. sembah sujud kami pada Allah yang selalu menjaga dunia dengan para ibunda MULIA | yang mau mengorbankan semua buat kami anak-anaknya
42. hormat khidmat kami padamu wahai ibu | yang gadaikan semua waktu tanpa sesal dan keluh | membina kami jadi yang terbaik dalam agama
43. pada para bunda MULIA doa kami | “Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduanya TELAH MENDIDIK AKU WAKTU KECIL” (QS 17:24)
44. kembali lagi semua masalah pilihan | part-time mother or full-time mother? | you decide 😀
===============

Mengendalikan Marah Kepada Anak (Tips Parenting)

1| Hal yg mesti menjadi fokus orangtua adalah bagaimana melatih diri untuk bisa mengasuh anak tanpa marah
2| Tak marah bukan berarti membiarkan perilaku negatif anak. Orangtua harus tegas untuk meluruskan anak jika menyimpang
3| Rasulullah mengatakan “jangan marah” dan menjanjikan surga bagi yg bisa melakukannya tersebab perilaku marah tak pantas dibiasakan
4| Marah yg diselimuti ekspresi menyeramkan serta kasar, alih-alih membuat anak berubah, justru malah trauma yg dirasakan anak. Anak pun terluka
5| Anak pun belajar untuk meluapkan marah dari cara kita mengekspresikannya. Sehingga kemarahan itu adalah emosi negatif yang menular
6| Marah juga mematikan daya berpikir anak. Sebab, menstimulasi batang otak anak. Alhasil anak berperilaku dengan batang otak tanpa berpikir
7| Anak yg berperilaku dengan batang otak atau otak reptil, maka bertindak secara reflek saat tertekan : melawan atau kabur. Ini buah dari marah yang tak tepat
sunglasses emoticon Lantas bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Apakah dibiarkan? Tentu tidak. Kita harus tegas, tapi tak perlu marah-marah
9| Tegas bermakna mengikat anak kepada aturan. Maka perlu aturan yang jelas dan tersampaikan kepada anak. Agar kita tidak perlu marah
10| Mulailah dengan ingatkan anak kepada aturan yg sudah dibuat secara tegas. Agar kita tak perlu marah yang jelas-jelas merugikan kita termasuk anak-anak
11| Kalau boleh jujur, kadang ortu mencampuradukkan masalah di luar saat menangani anak yang berperilaku salah. Marah pun tak terbendung
12| Padahal bisa jadi kesalahan anak tak seberapa, namun ‘sampah’ emosi yang kita bawa dari luar tertumpah di hadapan anak
13| Maka sadari diri sebelum marah, apakah kita yang bermasalah ataukah anak yg jadi penyebabnya?
14| Pengakuan jujur bahwa emosi kita sebenarnya sudah kotor sejak awal sebelum bertemu anak, menunjukkan sayang kita, tak ingin lukai anak
15| Maka menghindarlah dari anak untuk sementara atau minta pasangan kita ambil alih penanganan kepada anak
16| Redakan marah yang mau tertumpah dengan cara segera berwudhu, berpindah tempat dan menghirup udara yang segar
17| Pandangi foto anak kita saat bayi dan katakan : ‘Tegakah dirimu menyakiti bayi ini yang kehadirannya kamu nantikan hingga berbulan-bulan?
18| Jika sudah nyaman dan emosi positif tumbuh, segera datangi anak dan katakan perasaan kita. Contoh : ayah kecewa, bunda kesal, dan lain lain
19| Sebutkan perilaku anak yang membuat kita kecewa dan kesal agar tak melabelling anak sebagai pelaku yg selalu salah. Anak merasa dihargai
20| Ingatkan anak dengan lembut namun tegas akan aturan yg sudah dibuat. Tak perlu marah. Agar anak menyadari kesalahannya
21| Boleh berikan konsekuensi atas perilaku anak yang salah agar anak berpikir. Konsekuensi terbaik adalah menunda kesenangannya
22| Lihatlah bagaimana cara Allah memberikan konsekuensi kepada Nabi Adam atas pelanggaran yg dilakukannya utk tidak dekati pohon terlarang
23| Allah ingatkan Adam akan aturannya. Dan saat Adam melanggar maka Allah berikan konsekuensi dengan diambil kesenangannya yakni surga
24| Maka adam pun menyadari kesalahannya dgn ucapkan doa “Rabbana zholamna anfusana”. Ini adalah pengakuan akan salah
25| Kisah lengkap ada di Alquran (7:11-25). Hendaknya, begitulah cara kita mengelola marah kepada anak agar yang muncul adalah perbaikan jiwa
26| Marah hanya memuaskan syahwat liar kita. Tak peduli dampaknya. Namun tegas, yang kita inginkan perbaikan perilaku anak. Amat beda
27| Semoga kita bisa belajar kendalikan marah kita namun tetap tegas akan perilaku anak yg menyimpang. Mohon maaf jika kurang berkenan
==========================

Udah Putusin Aja

1. apa bedanya, lelaki yang sudah beristri lalu selingkuh sama lelaki yang lagi berpacaran? | hakikatnya sama, mereka sama-sama maksiat

2. lelaki beristri pegang selingkuhannya, lelaki pacaran pegang pacarnya | sama-sama pegang cewek yang belum dinikahi kan? sama maksiat

3. anehnya, banyak cewek ngarep dapet suami setia, tapi mulai dengan pacaran | lha gimana, dari awal dia sudah latian maksiat ama kamu

4. sama Allah aja berani | apalagi cuma sama istri

5. perkara yang aneh, ngarep cowok soleh tapi pacaran | sama anehnya, ngarep jadi imam dirimu, tapi dianya nggak taat Allah

6. jadi ya wajar banget selepas nikah kamu punya banyak masalah | sebab dari awal hubungannya bukan karena Allah

7. maksiat itu bikin ketagihan, dan selalu menuntut level yang lebih tinggi | latihannya sama kamu pas pacaran, besoknya sudah ahli dia

8. kalau kamu bener-bener ngarep lelaki yang bisa jadi imam, tanggung jawab, baik, bisa diandalin | cari yang taat sama Allah Swt

9. kalo dia taat sama Allah, dia pasti gentle, pasti bahagiain kamu | minimal dia nggak akan nyusahin kamu dengan maksiat

10. cari suami itu yang mirip-mirip Rasulullah Muhammad, itu baru lelaki | lelaki yang memuliakan Allah, akan memuliakan wanita, insyaAllah

11. cari lelaki baik, yang taat pada Allah | bukan yang berani maksiat, nyesel nanti ‪#‎UdahPutusinAja‬

Udah Putusin Aja
Ustadz Felix Siauw

Setetes Darah Istri Tercinta

SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambakberas, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. “Sudah bukaan lima,” kata Bu Sri.
 
Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.
 
Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.
 
Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.
 
Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa berikutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).
 
Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala menggunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa takut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.
 
Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, “Anak yang dilahirkan dengan darah dan airmata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinistakan.” Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.
 
Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.
 
Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terbentuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia mendampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian. 
 
Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?
 

Apa Istimewanya Dari Seorang Wanita?

Seorang anak yang sudah remaja bertanya pada ayahnya.

Anak : “Ayah, mengapa seorang wanita itu sangat mudah menangis?”
Ayah : “Seorang wanita itu mudah menangis karena Allah menciptakan bahu yang cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberi kenyamanan!”
Anak : “Menopang dunia?”
Ayah : “Iya, karena wanita memiliki peranan sangat penting di dunia ini!”
Anak : “Bisa ayah jelaskan apa yang istimewa dari seorang wanita?”
Ayah : “Allah memberikan kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak, dan menerima penolakan yang sering datang dari anak-anaknya. Allah memberi kekerasan untuk membuatnya tegar saat orang lain menyerah, namun dia mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”
Anak : “Seistimewa itu yah.?”
Ayah : “Bukan hanya itu, Allah juga memberikan kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan. Bahkan ketika anak-anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”
Anak : “Ternyata wanita itu sungguh luar biasa ya, ayah?!”
Ayah : “Masih ada lagi keistimewaan yang dimilik seorang wanita.”
Anak : “Apa itu yah?”
Ayah : “Allah memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan dan melengkapi tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya. Allah memberi kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa suami yang baik tak akan pernah menyakiti istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu.”
Anak : “Lalu bagaimana dengan lelaki?”
Ayah : “Lelaki harus membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi saat berada disampingnya. Jangan pernah membuat hati wanita terluka, jika lelaki berniat mempermainkan wanita, ingatlah pengorbanan wanita yang telah melahirkannya.”
=========

Untuk Suamiku…

 
Jangan khawatir suamiku, aku akan menutup mata dari mereka yang memiliki rumah lebih megah, kendaraan yang lebih mewah, dan harta yang lebih berlimpah dari milikmu.
 
Aku juga akan menutup telinga dari para istri yang menceritakan penghasilan suami mereka yang lebih besar darimu, atau mengabarkan bahwa mereka dibelikan ini dan itu oleh suami mereka.
 
Aku hanya akan memandangmu, membawa segenggam rezeki yang kau peroleh dari pekerjaan halalmu, berapapun nilainya, itu sudah membuatku sangat bahagia.
 
Suamiku, apapun pekerjaanmu, berapapun penghasilanmu, aku akan selalu bersyukur dan mendukungmu, selama engkau masih berada di jalan Rabb-mu.
 

*Untuk Suamiku…*Jangan khawatir suamiku, aku akan menutup mata dari mereka yang memiliki rumah lebih megah,…
Posted by Buah Hatiku on Sunday, March 15, 2015

Bunda, Kakak Udah Hafal al-Qur-an

.::Bunda, Kakak Udah Hafal al-Qur-an

Dalam sebuah acara buka puasa, di tahun-tahun yang lewat, seorang anak membacakan surat-surat yang dihafalnya, termasuk hadits dan do’a-do’a nabawi di hadapan para tamu. Mereka kagum dengan anak kecil tersebut.
Sang ayah mengakui bahwa anaknya tersebut diajarkan oleh ibunya. Sang anak sering mendengar hafalan Al-Qur-an, hadits maupun do’a-do’a yang dibacakan sang Bunda.
Ini adalah salah satu bukti betapa mudahnya mereka, anak-anak, menghafal dari bacaan orang lain. Ini disebabkan kekuatan pendengaran mereka yang lebih tajam dari penglihatan.
Terdapat beberapa riwayat tentang ini diantaranya dari sahabat Samurah bin Jundub dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Samurah bin Jundub bertutur, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Di zaman Nabi, aku adalah seorang anak kecil. Namun, aku turut pula menghafalkan hadits dari beliau, sementara orang-orang yang ada di sekelilingku semuanya lebih tua dariku.”
Ibnu ‘Abbas bertutur:
“Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah radhiyallahu ‘anha. Terdengarlah suara mu’adzdzin mengumandangkan adzan. Nabi pun keluar untuk melaksanakan shalat, dan ketika itu beliau berdo’a:
اللهم اجعل في قلبي نورا واجعل في لساني نورا واجعل في سمعي نورا واجعل في بصري نورا واجعل خلفي نورا ومن أمامي نورا واجعل من فوقي نورا ومن تحتي نورا اللهم أعظم لي نورا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku, jadikanlah cahaya di bawahku dan besarkanlah cayaha untukku, ya Allah.”[2]
Kedua riwayat di atas memberikan penguatan kepada Bunda bahwa anak-anak begitu cepat dan mudah menghafal dari pendengaran mereka.
Lihatlah Samurah bin Jundub kecil yang menghafal hadits dari lisan sang Nabi. Lihatlah Ibnu ‘Abbas kecil yang menghafal do’a berjalan menuju masjid dari lisan sang Nabi.
Dengarlah ungkapan Hasan bin ‘ali bin Abi Thalib yang bertutur:
“Kuhafal (sebuah kalimat) dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam:
دع ما يريبك إلى ما لا يريبك
‘Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju sesuatu yang tak membuatmu ragu.”[3]
Kembali ke anak kecil tadi, tak hanya Al-qur’an, ia juga terlihat menghafal hadits dan do’a nabawi. Maka begitulah kiranya salah satu bentuk pengajaran sang Bunda kepada buah hati mereka yaitu mengajarkan hadits dan do’a, minimal memperdengarnya.
Begitu tersentuh hati sang anak ketika melihat sang Bunda sedang berdo’a dan menangis sambil bersujud, atau ketika sang Bunda memperlihatkan antusiasnya terhadap hadits nabi, atau ketika sang Bunda mengulang-ngulang hafalan hadits yang dia hafal sebelum nikah dahulu.
Lebih dari itu, marilah beralih ke bahasa arab. Ketika pasangan suami istri yang sedang melanjutkan studi mereka ke Erofa, ini menjadikan sang anak mampu berbahasa inggris, minimal memahaminya atau memudahkan sang anak untuk mempelajari bahasa inggris. Ini dikarenakan, salah satunya, kedua orang tua merutinkan diri untuk menggunakan bahasa inggris di rumah kontrakan mereka di negara tempat melanjutkan studi.
Sekarang, bagaimana sekiranya jika pasangan suami istri di rumah mengganti bahasa inggris dengan menggunakan bahasa arab sehingga anak-anak terbiasa dengan bahasa ini dan juga lahjah-nya? Tentu ini akan memberikan pengaruh yang luar biasa.
يا أمي أين قلمي؟ أريد أن أكتب لك شيء
“Ya ummie. Aina qalamie? Uridu an aktuba syai-an laki?”
(Bu, mana pulpen adik? adik pengen nulis sesuatu untuk ibu)
أمي أين أبي؟ ما رأيته اليوم
“Ummie, Aina abie? Ma ra-aituhu al-yaum”
(ummii, abi mana? Kakak ngga liat abi hari ini).
أمي إن تبسمك جميل أجمل من القمر
“ummie, inna tabassumaki jamiil ajmalu min alqamar”
(mama.. senyum mama begitu cantik, lebih cantik dari rembulan)
Begitu senang dan ceria hati sang Bunda ketika ngobrol bersama si kecil seperti kalimat di atas. Apalagi kelak, di masa-masa mendatang pada episode kehidupan selanjutnya, mereka akan bertutur di hadapan Bunda mereka atau via telephon:
أمي قد حفظت القرآن كله
“Ummiiiiiiie. Qad hafidztu Al-qur’ana kullahu”
(Bundaaaaa, aku telah menghafal Al-Qur-an semuanya)
أمي أنا أستطيع أن أتكلم معهم باللغة العربية جيدا
“umiiiie. Ana astathi’u an atakallama ma’ahum billughati al-‘arabiyyah jayyidan.”
(Mamaaaa, aku udah bisa ngomong bersama mereka dengan baik pakai bahasa arab)
أمي قد حفظت كثيرا من أحاديث قدوةنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ummiiiieee. Qad hafidztu katsiran min ahaaditsi qudwatinaa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
(Ibu, adik udah hafal banyak hadits-hadits Rasulillah, teladan kita, shallallahu ‘alaihi wasallam)
Lantas, senyum dan air mata Bunda yang mengalir menandakan terbitnya kebahagiaan di hatinya
***
Subhanaka allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
________
End Notes:
[1] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Juz 7 hal. 1240.
[2] HR Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya (1/229) dengan dua sanad, salah satunya shahih.
[3] HR Tirmidzi dan An-Nasa’i. At-Tirmidzi berkata “Hadits ini berstatus hasan shahih”
_____
Disarikan dari naskah buku kami yang berjudul Hingga Engkau Mekar Jadi Mawar