Jika Memang Harus Menjanda

Beberapa kali dalam status saya. saya mengisahkan tentang kisah kisah pasangan suami istri yang cukup menyedihkan..
 
Karena memang Pekerjaanku yang mengharuskan berinteraksi dengan Banyak Manusia, memberi banyak hikmah dan perenungan..
 
Bahwa Masih lebih banyak Alasan untuk bersyukur daripada Mengeluh, bahwa tak selamanya Kecukupan Materi berbanding lurus dengan Bahagia, walaupun memang sangat banyak yang bisa dibeli dengan Uang..
 
Tapi bukan Bahagia…
 
Beberapa waktu lalu saya banyak bertemu dengan beberapa wanita yang rata rata berstatus Janda, Ketika ditanya “Mengapa memilih Jadi Janda ?” Jawabnya beda beda..ada yang jawab “tidak ada kecocokan”, ada yang jawab “Suami saya ndak bisa penuhi kebutuhan hidupnya”, dan adapula yang terus terang “pukulan suami kurang mantap !”
 
Dari sisi alasan cerai dan penampilan sebenarnya bisa di ketahui kok bagaimana tipikal kebanyakan wanita itu..
 
Wanita-wanita yang jauh dari tuntunan, yang tidak menjaga hak-hak suami, yang kebanyakan bergaul bebas dengan teman-temannya.. atau mereka sebelum berumah tangga bertemu dalam sebuah hobi dan kebiasaan yang menjadikan nafsu sebagai Qudwah…
 
Dan kasiannya ternyata kehidupan mereka pasca bercerai dengan suami-suaminya bukannya membaik, justru makin tidak menentu…
 
Ada yang jadi istri simpanan, padahal sebelumnya dia dijadikan Ratu oleh Suaminya yang dulu..
Ada yang hanya jadi selingkuhan..
Ada yang Jadi piaraan para cina kaya.. dll..
Bahkan ada yang dimanfaatkan jadi kurir Narkoba dengan iming-iming akan dinikahi…
 
Ada juga yang berkata “ndak lama pak saya akan dapat pengganti suami yang mantap !”, Tapi sampai saat ini masih nelangsa karena ternyata Kriteria suami idaman yang wajib lebih baik dari suaminya yang dulu belum dia temukan..
 
Mereka dihinakan Allah akibat tak mensyukuri dan tidak menjaga Nikmat Allah berupa suami..
 
Mereka berangan angan mendapatkan suami yang perfect, padahal para pria “perfect” itu juga bukan laki laki bodoh.. mereka hanya memanfaatkan para wanita itu, karena seburuk apapun mereka, pasti tetap menginginkan Ibu yang baik untuk anak anak mereka.. bukan wanita yang gampang meninggalkan suaminya hanya karena sedikit janji…
 
Disisi lain saya juga bertemu beberapa wanita yang memang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik, mereka adalah wanita-wanita yang berusaha menjaga rumah tangga nya dengan segala cara, mendambakan memiliki suami yang mereka bahasakan “Menjadi Imam yang baik” untuk mereka, mereka berharap rumah tangga mereka adalah Rumah tangga Normal seperti halnya Rumah tangga orang lain..
 
Tapi kenyataan berkata lain, Mulai dari keluhan suami tak pernah memberikan nafkah materi, Suami selingkuh dan jarang pulang, suami sering mukul dan jadi Bandar Narkoba..
 
Imbasnya adalah anak anak mereka yang kebingungan melihat tingkah pola bapak mereka, Anak anak tu kehilangan figur ayah.. atau bahkan memberi contoh yang buruk buat anak anak mereka..
 
Ayah yang diharap bisa menjadi sosok pelindung justru memperlihatkan hal hal yang tidak pantas..
 
Yang akhirnya setelah bertahun-tahun diusahakan agar baik, tapi ternyata mungkin pilihan menjadi single Parent (menjanda) adalah pilihan yang paling sulit tapi harus dijalani…
 
Dan mungkin dalam hati kecil mereka sangat sedih melihat suami wanita lain tak seburuk suami mereka yang dulu..
 
Padahal mereka tak menuntut suami mereka sebaik suami orang, mereka hanya ingin agar suami mereka tidak buruk buruk amat, dan mereka akan bersabar untuk keburukan lainnya..
 
Untuk tipe Janda pertama yang saya sebutkan pertama saya tidak terlalu peduli, toh mereka sendiri yang pilih jalan itu, tak pernah mensyukuri nikmat berupa suami yang baik.. merasa sok cantik, sok laris, dan merasa bisa dapat suami yang lebih baik..
 
Saya hanya berharap agar Para janda tipe kedua bisa digantikan Allah dengan ganti yang lebih baik, atau jika memang belum ditakdirkan untuk mendapat yang lebih baik, maka mudah-mudahan Allah menyiapkan untuk mereka suami di surga yang tak pernah lagi menzhalimi mereka…
 
Dititik inilah Kadang saya merenung.. bahwa masih banyak alasan untuk bersyukur…
 
Status ini didedikasikan untuk para wanita yang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik dari yang terpahit..
* Fathul | © JIKA MEMANG HARUS MENJANDA ©

Sekarang (Mungkin) Kamu Kecewa, Tapi Nanti…

Kembali, kita belajar dari Muhammad Al Fatih. Anak kecil yang disiapkan dengan cara yang tidak biasa agar menjadi generasi yang tidak biasa.
Muhammad Al Fatih tidak hanya sekali ditegasi dengan pukulan. Di tangan guru awalnya, Ahmad bin Ismail Al Kurani, Muhammad Al Fatih merasakan sabetan untuk pelajaran pertamanya. Sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang ayah Murad II yang mengerti pendidikan, sang guru tak segan-segan untuk melakukan ketegasan itu.
 
Sekali ketegasan untuk kemudian berjalan tanpa ketegasan. Tentu ini jauh lebih baik dan diharapkan oleh setiap keluarga, daripada dia harus tarik urat setiap hari dan menampilkan ketegasan setiap saat, karena jiwanya belum tunduk untuk kebaikan.
Mungkin, Muhammad Al Fatih kecil kecewa saat dipukul. Sangat mungkin hatinya terluka. Tapi pendidikan Islam tak pernah khawatir dengan itu, karena Islam mengerti betul cara membongkar sekaligus menata ulang. Semua analisa ketakutan tentang jiwa yang terluka tak terbukti pada hasil pendidikan Muhammad Al Fatih.
Tapi ada pukulan berikutnya dari guru berikutnya. Pukulan kedua ini yang lebih dikenang pahit oleh Muhammad Al Fatih. Kali ini pukulan datang dari gurunya yang mendampinginya hingga ia kelak menjadi sultan; Aaq Syamsuddin.
Bukti bahwa ini menjadi ‘kenangan’ yang terus berkecamuk di kepalanya adalah ketika Muhammad Al Fatih telah resmi menjadi sultan, dia bertanya kepada gurunya:
“Guru, aku mau bertanya. Masih ingatkah suatu hari guru menyabetku, padahal aku tidak bersalah waktu itu. Sekarang aku mau bertanya, atas dasar apa guru melakukannya?”
Bertahun-tahun lamanya pertanyaan itu mengendap dalam diri sang murid. Tentu tak mudah baginya menyimpan semua itu. Karena yang disimpannya bukan kenangan indah. Tetapi kenangan pahit yang mengecewakan. Karena tak ada yang mau dipukul. Apalagi dia tidak merasa bersalah.
Kini sang murid telah menjadi orang besar. Dia ‘menuntut’ gurunya untuk menjelaskan semua yang telah bertahun-tahun mengganggu kenyamanan hidupnya.
Jawaban gurunya amat mengejutkan. Jawaban yang menunjukkan memang ini guru yang tidak biasa. Pantas mampu melahirkan murid yang tidak biasa.
Jawaban yang menunjukkan metode dahsyat, yang mungkin langka dilakukan oleh metode pendidikan hari ini. Atau jangan-jangan sekadar membahasnya pun diharamkan oleh pendidikan hari ini.
Inilah jawaban Aaq Syamsuddin,
“Aku sudah lama menunggu datangnya hari ini. Di mana kamu bertanya tentang pukulan itu. Sekarang kamu tahu nak, bahwa pukulan kedzaliman itu membuatmu tak bisa melupakannya begitu saja. Ia terus mengganggumu. Maka ini pelajaran untukmu di hari ketika kamu menjadi pemimpin seperti sekarang. Jangan pernah sekalipun mendzalimi masyarakatmu. Karena mereka tak pernah bisa tidur dan tak pernah lupa pahitnya kedzaliman.”
Ajaib!
Konsep pendidikan yang ajaib.
Hasilnya pun ajaib. Muhammad penakluk Konstantinopel.
Maka, sampaikan kepada semua anak-anak kita. Bahwa toh kita tidak melakukan ketegasan seperti yang dilakukan oleh Aaq Syamsuddin. Semua ketegasan kita hari ini; muka masam, cubitan, jeweran, hukuman, pukulan pendidikan semuanya adalah tanaman yang buahnya adalah kebesaran mereka.
Teruslah didik mereka dengan cara pendidikan Islami. Kalau harus ada yang diluruskan maka ketegasan adalah salah satu metode mahal yang dimiliki Islam.
Semoga suatu hari nanti, saat anak-anak kita telah mencapai kebesarannya, kita akan berkata semisal Aaq Syamsuddin berkata,
“Kini kau telah menjadi orang besar, nak. Masih ingatkah kau akan cubitan dan pukulan ayah dan bunda sore itu? Inilah hari ketika kau memetik hasilnya.”
Hari ini, saat masih dalam proses pendidikan, Anda pun bisa sudah bisa berkata kepada mereka,
“Hari ini mungkin kau kecewa, tapi suatu hari nanti kau akan mengenang ayah dan bunda dalam syukur atas ketegasan hari ini.”
Oleh: Ust. Budi Ashari

Bisikan Mesramu Mencerahkan Hariku

Cahaya fajar melenyapkan kegelapan malam. Suara azan Bilal menghilangkan kesunyian Madinah. Saat itu Rasulullah tengah terlelap. Mengistirahatkan raga di waktu menjelang fajar setelah menjalankan Qiyamullail cukup lama.

Kala Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah bangun, dan hal pertama yang beliau lakukan adalah mengambil siwak dan bersiwak. Setelah itu membaca:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya jua kita semua dibangkitkan.” (HR. Bukhari Muslim)
Setelah itu beliau bangun. Jika perlu mandi, beliau mandi. Jika perlu berwudhu maka beliau berwudhu.  Setelah itu beliau shalat sunnah dua rakaat  fajar.
Seusai shalat, jika istri beliau sudah bangun, beliau menuturkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan. Seperti apa kiranya seorang istri yang mencintai, yang memulai cahaya-cahaya hari dengan kata-kata cinta dari suaminya?
(Dikutip dari Al Yawm An Nabawy)
Lihatlah  bagaimana Rasulullah memulai harinya. Bisa jadi ini hanyalah sekitar 15 menit dari rutinitas beliau sejak bangun paginya. Betapa banyak hal kecil yang mungkin terlewat bagi kita. Atau bahkan bisa jadi sepele dan diacuhkan oleh kita, namun tak pernah ditinggalkan Rasulullah.
Siapakah di antara kita yang bangun tidurnya langsung bersiwak? Membersihkan gigi dan mulutnya sebelum berdoa kepada Rabb-nya?
Perhatikanlah, mengapa Rasulullah bersiwak dulu baru berdoa? Rasulullah berdoa setelah bersiwak karena ingin membuat Rabb-nya senang.
Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,”Siwak itu membersihkan mulut dan membuat Rabb senang.” (HR. An Nasai).
Hadits ini menunjukkan penegasan bahwa bersiwak bukan hanya untuk gigi saja, namun dimaksudkan untuk kebersihan dan memberikan aroma wangi, bukan hanya menghilangkan kotoran saja. Maka keutamakan siwak ini bukan hanya memiliki manfaat religi namun juga duniawi.
Hal detail lainnya yang sering terlewat dicermati oleh kita adalah Rasulullah itu bangun lebih dahulu dari istrinya. Yang dilakukannya ketika melihat istrinya bangun adalah membisikkan kata-kata yang menyenangkan dan membahagiakan untuk didengarkan istrinya.
Bagi pasangan yang sudah lama menikah, yang sering terjadi adalah sang suami tidak lagi suka mengungkapkan kata-kata mesra yang membahagikan istri, karena menganggap toh sang istri pasti sudah tahu perasaannya. Kata-kata itu tidak lagi penting, demikian mungkin menurut logika suami.
Namun para suami, contohlah Rasulullah… Justru karena beliau adalah orang terbaik bagi keluarganya, maka beliau memahami benar betapa pentingnya ungkapan dan kata-kata membahagiakan itu untuk para istri. Maka tidak bosan beliau mengungkapkan rasa.
Aroma mulut yang wangi berpadu harmonis dengan kata-kata mesra penuh cinta… ah, indahnya….
Sungguh mood booster luar biasa untuk memulai hari yang padat bagi para istri.
Bila para suami masih berpikir bahwa kata-kata tidaklah penting, yang penting adalah perbuatan…
Bagaimana bila dua-duanya? Karena Rasul kita mencontohkannya…
Wahai para suami, sungguh, bisikan mesramu mencerahkan pagi istrimu…

Menikah Butuh Perjuangan…

Dulu saya pikir menikah itu sederhana urusannya. asalkan ada 2 orang dah saling suka maka tinggal menjalani saja. tapi ternyata, saya mendapat banyak ilmu sejalan dengan kenyataan dan pengalaman, baik diri sendiri maupun orang lain. bahwa menikah tidak sesederhana yang dibayangkan sebelumnya. apalagi sebagai seorang mukmin, menikah bukan sekedar kawin. menurut saya, menikah bagi seorang mukmin ada 2 nilai yang besar: Pertama, menikah itu urusan hati yang terdalam jadi kita jangan hanya menggunakan logika belaka. Kedua, menikah itu sama dengan membangun peradaban. karena rumah tangga adalah madrasah pertama dalam membangun peradaban yang lebih besar.

Apabila ada keinginan menikah maka ada ujian2 yang menanti. terutama ujian hati dan ujian niat yang utama. niat kita diuji sejak awal, apakah tetap lillahi ta’ala atau tidak. dan hal ini bukan perkara sederhana, karena hati itu mudah berbolak balik. kadangkala kita sudah sedemikian mantap meniatkan nikah untuk ibadah, namun tiba2 hati kita goyang kembali dan menjadi ragu.
Kemudian adalagi ujian kemantapan. apakah kita sudah mantap dengan calon atau orang yang kita pilih menjadi pasangan hidup kita. bisa jadi masalahnya sederhana, asalkan agamanya bagus maka mantapkan hati. tapi ternyata tidak sesederhana itu. karena seringkali hati ini begitu rumit. kadang ada hal2 kecil yang membuat hati ragu akan pilihan itu. kadang ada sesuatu yang mengganjal di hati, tapi itu hanya diri kita yang tau (dan Allah tentunya), dan kita gk bisa menceritakan hal itu ke orang lain. sebetulnya kuncinya mudah saja, yaitu sholat istikharah. Allah telah memberi kita kesempatan untuk meminta Keputusan-Nya, dalam sholat. dan apabila kita ragu maka kita boleh membatalkan proses. nah, inilah masalahnya, saya sering merasa ragu setelah istikharah. saya tidak tahu, ragu ini datang dari Allah atau dari bisikan setan. Astaghfirullah, ternyata iman ini masih begitu tipis untuk mengenal petunjuk-Mu, ya Allah……
Kemudian ujian2 lain menanti dalam proses menuju pernikahan. ujian bisa datang dari diri sendiri, dari calon pasangan, dari pihak2 yg terkait. karena menikah itu juga berhubungan dengan kehidupan sosial yang melibatkan org banyak, bukan hanya urusan 2 insan saja. masalah yang timbul bisa saja begitu rumit. sebagai seorang mukmin kita ingin pernikahan berjalan sesuai dengan syariat Allah dan sunnah Rasul. namun, tidak semua orang bisa paham hal demikian. maka butuh perjuangan untuk menujudkan pernikahan islami seperti itu.
Ujian lain juga menanti, antara lain memikirkan kehidupan setelah menikah. tentunya setelah menikah kita tidak lagi hidup sendiri. tidak mungkin istri kita kita tempatkan di kost2an kita yang isinya cowok semua khan? hehe…. dan aktivitas kita setelah menikah juga berubah. tadinya kita memikirkan sesuatu dengan “caraku”, maka setelah menikah berubah menjadi “cara bersama”.
Itulah, sebagian kendala yang saya rasakan hadir dalam proses pernikahan. mungkin belum semuanya, karena ada hal2 yg terlupa dan belum saya ungkapkan. namun, intinya satu hal menurut saya. ujian pernikahan yang utama adalah mengenai niat atau hati. kalau niat benar2 lillahi ta’ala, maka apa yang ditakutkan? Allah selalu siap dengan pertolongan-Nya.
Menikah Butuh Perjuangan…
TarbiyatulAulad.com

Lelaki Hebat Itu …

Kamu tahu? Laki-laki hebat itu tak cukup hanya dengan menaklukan hati seorang wanita. Kemudian berani datang kerumahnya, lalu meminangnya dan hidup bersamanya.
 
Laki-laki hebat itu, ia yang tetap bertahan untuk setia, meski ia telah menemukan sifat buruk dari pasangannya. Kemudian melengkapi kekurangan itu, dengan ikhlas demi mengharap Wajah Allah Azza Wa Jalla di akhirat kelak.
 
Lelaki hebat itu bukan ia yang sanggup membuat pasangannya bahagia karna harta yang diberi olehnya. Melainkan yang mampu memberikan pemahaman ilmu Agama.
 
Lelaki hebat itu bukan hanya dilihat dari matangnya pemikiran akan masa depan. Melainkan seberapa besar orientasinya akan perkara akhirat.
 lelaki hebat
Lelaki hebat itu bukan yang berhasil memberikan pasangannya kesempurnaan hidup di dunia. Melainkan kebahagiaan hakiki dengan mengenalkannya pada syariat Islam.
 
Lelaki hebat itu yang memilih tetap bersabar meski ujian datang bertubi tubi. Langkahnya takkan goyah meski badai terus menghantamnya. Ia terus mempertahankan kapal miliknya yang akan karam. Ia terus berjuang menyelamatkannya dengan sekuat tenaga yang dimilikinya.
Ia sadar, menemukanmu tak mudah. Ia paham, menjadikanmu penyempurna agamanya butuh perjuangan.
 
Maka sebab itu, ia bertahan dalam sabarnya karena ia tahu saat sabar menjadi pilihannya; ada kebersamaan dengan Allah yang akan selalu menjaganya.