Pendelegasian yang Kebablasan

Meskipun kekuatan doa memiliki peran penting dalam proses membentuk anak-anak sholih, bagaimanapun membentuk anak sholeh berkaitan erat dengan proses pendidikan. Sebagian orang tua memahami bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Mendidik anak dengan baik identik dengan menyekolahkan mereka ke lembaga pendidikan terbaik.

Jika kita melihat konsep pendidikan di negara Indonesia, cita-cita mulia dari proses pendidikan nasional akan lebih sulit dicapai tanpa adanya proses pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat.
Menurut Undang Undang no 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Undaang-Undang no 20 Pasal 1 ayat 11, 12, 13,14, komponen pendidikan terdiri dari:
1. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
2. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
3. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
4. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Banyak kita temui masyarakat Indonesia yang sering mengeluhkan kekurangan sistem pendidikan nasional. Sebagian menilai bahwa sistem pendidikan nasional tidak sampai mampu melahirkan generasi yang memiliki kualitas unggul. Dengan menyimak kutipan undang-undang diatas jelas terlihat bahwa cita-cita pendidikan nasional dapat dicapai dengan adanya peran dari komponen-komponen tersebut. Maka cita-cita pendidikan nasional akan sulit tercapai tanpa adanya pendidikan keluarga dan lingkungan yang baik. Pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan peletak dasar proses pendidikan seorang anak. Pendidikan formal di Indonesia tidak dirancang untuk menggarap semua peran tersebut. Justru yang mengherankan adalah adanya pergeseran pemahaman di dalam masyarakat tentang siapa yang seharusnya yang paling utama memikul tanggung jawab pendidikan bagi seorang anak. Pendidikan, kini indentik dengan menyekolahkan. Tidak menyekolahkan anak, kini identik dengan tidak memperhatikan pendidikan anak. Menjalankan pendidikan berbasis keluarga atau home eduction, kini menjadi barang yang cukup langka. Melaksanakan pendidikan dengan metode homeschooling dianggap sebagai pilihan yang sangat “istimewa”.
Jauh sebelum adanya sekolah formal, metode pendidikan berbasis keluarga atau home education adalah metode pendidikan yang telah dijalankan banyak manusia selama berabad-abad. Namun setelah masyarakat mendapat berbagai kemudahan dengan adanya bantuan dari lembaga pendidikan seperti sekolah, kamudahan ini cukup melenakan para orang tua. Pendelegasian proses pendidikan anak menjadi cenderung kebablasan, salah satunya ditandai dengan fenomena sebagai berikut:
1. Bergesernya pemahaman tanggung jawab pengasuhan. Dimana tanggung jawab pengasuhan anak dimaknai sekedar pemenuhan kebutuhan fisik dan penyediaan materi untuk membayar pemenuhan kebutuhan rohani dan akal
2. Adanya pengalihan terhadap tanggung jawab pendidikan dari orang tua ke lembaga pendidikan. Sekolah kini seolah menjadi penanggung jawab utama proses pendidikan anak.
3. Sekolah dianggap mesin pencetak anak sholih dan pintar. Orang tua berharap output yang dihasilkan dengan menyekolahkan anak-anak adalah berupa anak-anak yang sholih dan pintar. Sebagian orang tua bahkan berharap hasil yang instan. Sekolah dianggap tidak memiliki kualitas yang baik jika tidak mempu melahirkan output ini secara instan.
4. Semakin mahalnya harga waktu kebersamaan bersama anak. Orang tua disibukkan oleh pekerjaan seputar mencari nafkah, sementara proses pendidikan diserahkan ke berbagai pihak.
5. Orang tua tidak memiliki bekal ilmu yang cukup untuk melakukan pendidikan di dalam rumah sehingga hubungan yang dibangun dalam suasana pengasuhan tidak mengandung nilai pendidikan.
6. Orang tua tidak memiliki waktu yang cukup untuk membangun ikatan yang kuat dengan anak-anak mereka karena anak-anak telah disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah sejak dini. Bahkan porsi waktu interaksi anak-anak dengan lingkungan sekolah lebih besar dari interaksi dengan lingkungan keluarga. Padahal kebersaman yang bermakna di awal-awal tahun usia anak-anak adalah investasi berharga bagi masa depan mereka.
7. Orang tua tidak menyadari bahwa ada ilmu dasar yang harus dimiliki manusia dalam mengarungi kehidupan sehingga anak-anak kelak dapat hidup secara mandiri dan bermartabat. Ilmu tersebut salah satunya harus dipenuhi melalui pendidikan di dalam keluarga. Sehingga ketika orang tua hanya mengandalkan proses pendidikan formal sebagai satu-satunya proses pendidikan bagi anak, muncul berbagai permasalahan tingkah laku dan pola pikir anak yang berpengaruh kepada tatanan sosial secara umum.
Pendelegasian proses pendidikan yang cenderung kebablasan ternyata menimbulkan berbagai problematika sosial. Sebagian sekolah atau lembaga pendidikan bahkan harus bekerja keras untuk mengambil alih berbagai peran yang seharusnya dilakukan dalam pendidikan keluarga.
Fungsi pendidikan keluarga diantaranya
1. Membangun fondasi kecerdasan spiritual seorang anak
Membangun fondasi kehidupan beragama seorang anak
2. Membangun fondasi kehidupan sosial seorang anak
3. Membangun fondasi kecerdasan emosional anak
4. Membangun fondasi akhlakul karimah
5. Memenuhi kebutuhan akan cinta kasih dan perasaan aman
Sementara fungsi pendidikan sekolah formal secara umum mencakup hal berikut:
Memberikan tambahan pengetahuan serta mengembangkan kecerdasan berfikir anak didik
Melaksanakan spesialisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran
Melakukan efisiensi dalam proses pendidikan kerena pendidikan dilakukan dalam program yang sistematis dan ditujukkan untuk peserta didik dalam jumlah yang banyak.
Sarana berosialisasi bagi anak yang merupakan proses perkembangan individu menjadi makhluk sosial yang mampu beradaptasi dengan masyarakat.
Proses trasmisi dan konservasi budaya dalam masyarakat
Sarana transisi dari lingkungan rumah ke lingkungan masyarakat yang memberi kesempatan bagi anak untuk berlatih kemandirian dan tanggung jawab sebagai persiapan untuk terjun ke masyarakat.
Oleh karena itu, tugas sekolah kini menjadi sangat berat ketika para orang tua tidak melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses pendidikan di dalam keluarga. Bahkan pendelegasian yang kebablasan ini menuntut didirikannya lembaga-lembaga pendidikan yang ditujukkan untuk anak usia sangat dini yang mampu menggantikan peran orang tua dalam melakukan pendidikan keluarga sebagai peletak dasar berbagai hal dalam kehidupan. Ditambah lagi, kegagalan proses pendidikan keluarga yang menimbulkan permasalahan anak-anak dalam tahapan kehidupan selanjutnya, sering kali diselesaikan dengan memasukkan mereka ke dalam pesantren. Pesantren mengalami perubahan fungsi dan peran, kini tidak hanya berperan sebagai sarana mencetak para alim ulama yang faqih dalam urusan agama, namun juga berfungsi sebagai sarana rehabilitasi mental dan akhlak bagi anak-anak yang tidak mendapatkan proses pendidikan dan pengasuhan yang baik. Lalu bagaimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang diterpa dan dibina di pesantren tidak sepenuhnya berasal dari mereka yang ikhlas berniat mengabdikan diri untuk berdakwah di jalan Allah? Lalu bagimanakah kualitas alim ulama masa depan jika bibit-bibit yang menjalani proses pengkaderan adalah anak-anak yang diserahkan oleh orang tua yang merasa sudah tidak sanggup lagi membimbing dan membina anak-anaknya?
Inilah fenomena yang kini ada dalam masyarakat Indonesia. Bahkan fenomena ini diperparah dengan banyaknya pengasuhan yang diserahkan kepada multimedia seperti televisi, games dan internet. Kini banyak orang tua yang tidak melaksanakan fungsi dan perannya sebagai orang tua. Bahkan diantara mereka ada yang hanya berperan sebagai mesin pencetak uang bagi kebutuhan hidup anak-anak mereka. Interkasi orang tua dengan anak bahkan hampir mirip dengan interaksi manusia dengan mesin ATM, yang hanya akan berkunjung saat sudah membutuhkan uang.
Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Mari kita garap ladang yang menjadi milik kita! Mari kita sirami dan pupuki bibit-bibit yang telah kita tanam agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon yang kuat akarnya, sehat tubuhnya serta baik buahnya! Ayah, ibu mari kita pulang kepangkuan keluarga! Penuhi hati mereka dengan cinta dan kasih sayang, bentuk pribadi mereka dengan perhatian dan keteladanan! Bantu mereka untuk menjadi anak-anak yang dapat berbakti kepada kita di dunia dan di akhirat sehingga kelak kita akan dapat memetik hasilnya! Bagaimanakah kita akan mempertanggungjawabkan amanah kita dihadapan Allah jika pendelegasian yang kita lakukan untuk pendidikan anak-anak kita adalah pendelegasian yang kebablasan?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

 
Kiki Barkiah

CKSMA B-19 Ummi.. Bapak.. Terimakasih Karena Masih Percaya, Padahal….


Begitulah cuplikan isi surat yang Ali tulis di usia 12 tahun pada saat ia tengah berkonsentrasi menghafal quran di sebuah Pesantren. Begitu haru perasaan saya membacanya, karena bagi saya kalimat itu memberi gambaran sebuah penyesalan diri seorang anak yang pernah berbohong pada orang tuanya. Juga memberi gambaran rasa enggan untuk melakukan kebohongan lagi kepada orang tua yang masih terus menerus percaya padanya meski pernah ia bohongi. Kalimat itu juga memberikan gambaran bahwa diantara kita sedang tidak ada penghalang untuk mengakui kesalahan di masa lalu. Entah apa yang terjadi di Pesantren sehingga mendorongnya untuk menuliskan itu pada kami. Hanya doa keberkahan yang dapat kami panjatkan bagi siapapun para guru yang menjadi perantara hidayah anak-anak kami.
Ada satu masa saat kami belum bersemangat mencari ilmu pengasuhan anak, kami merespon kebohongan Ali pertama kali dengan tangisan histeris kekecewaan sambil memeluknya dengan erat. Sambil terus mempererat pelukan saya berteriak “kenapa kamu bohong??? kenapa kamu harus bohong sama ummi? Kenapa anak ummi yang sholih harus bohong??” Peristiwa itu adalah kali pertamanya saya marah pada Ali dengan suara meninggi. Saat itu ia berusia 7 tahun. Namun sejak peristiwa itu, kami malah menemukannya berkali-kali takut untuk berkata jujur kepada kami.Lalu saya pun mengingat masa lalu saya. Keadaan seperti apa yang membuat saya memilih berbohong dihadapan orang tua. Saya pun teringat, bahwa semakin keras orang tua saya menentang, semakin takut bagi saya berbuat jujur dihadapan mereka. Sekali saya berbohong, maka saya akan menutup kebohongan dengan kebohongan lain.Kami tidak ingin hal ini terulang pada anak-anak kami. Kami tidak ingin anak-anak memiliki perasaan takut untuk mengakui kesalahan mereka dihadapan kami. Kami tidak ingin anak-anak enggan untuk terbuka dengan keadaan mereka kepada kami. Kami ingin hadir bagi mereka sebagai orang tua yang memahami perasaan mereka, menghargai pendapat mereka, menanti proses kedewasaan mereka, serta menerima kesalahan-kesalahan mereka sebagai bagian dari perjalanan kehidupan mereka.
Kami tidak ingin kemarahan kami dalam hal-hal yang tidak kami sepakati dengan mereka, membuat kami kehilangan kesempatan untuk menggali hikmah dibalik kesalahan dan kegagalan yang dialami anak-anak kami. Karena keberkahan dari sebuah kegagalan adalah bagaimana kegagalan tersebut menjadi cambuk bagi kita untuk semakin lebih baik lagi.
Mencoba menyelami perasaan saya sebagai seorang anak, ternyata hal yang sangat penting yang saya butuhkan dari orang tua adalah rasa percaya. Rasa percaya bahwa sesungguhnya saya tidak berniat buruk meski terkadang saya melakukan kekhilafan. Rasa percaya bahwa saya sedang mencoba untuk menyelesaikan persoalan dengan mandiri meski terkadang banyak salah langkah. Rasa percaya bahwa saya telah berusaha melakukan yang terbaik meski kadang belum sempurna. Rasa percaya bahwa saya terus belajar untuk lebih baik meski saat ini hasilnya belum dapat dilihat orang tua. Rasa percaya bahwa perbedaan- pandangan diantara kami adalah upaya-upaya perbaikan dan bukan bentuk pembangkangan. Rasa percaya dari orang tua memberikan energi tersendiri bagi saya untuk terus bangkit dari kegagalan, mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua. Namun jika rasa percaya itu hilang, seringkali keikhlasan amal tergoda dan berubah menjadi pembuktian demi pengakuan. Ketika rasa percaya itu hilang, seringkali muncul keinginan untuk menyembunyikan kekurangan dan perbedaan, bahkan ingin menutupi kesalahan-kesalahan.
Setelah menemukannya berkali-kali ragu untuk berkata jujur kepada kami, saya berusaha untuk tidak fokus pada kebohongannya. Saya berusaha mencari tahu akar masalah yang menyebabkan ia banyak melakukan kekhilafan dan memilih untuk berbohong demi menyembunyikan kesalahannya. Setelah berusaha merumuskan akar masalah yang kami temui saat ia berusia 7 tahun dulu, maka didapatlah sebuah kesimpulan bahwa Ali mengalami ketidakcocokan sekolah dengan metode formal. Bersamaan dengan itu, ia pun mengalami kecemburuan karena berkurangnya perhatian sejak saya memiliki adik-adik barunya.
Satu persatu solusi kami tempuh, perbaikan kami lakukan agar mengurangi hal yang menyebabkannya melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan. Sejak saat itu, meski membutuhkan waktu yang cukup panjang, kami barusaha memperbaiki hubungan kami. Kami berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan yang membuat ia takut untuk mengakui kesalahan. Kami berusaha untuk fokus memintanya mengupayakan solusi paska terjadi kesalahan, baru kemudian setelah tenang memintanya untuk mengurai sendiri hikmah dibalik kejadian. Setiap kali selesai menggali hikmah saat ia melakukan kesalahan besar, saya selalu mengatakan padanya “ummi percaya kamu bisa lebih baik lagi”.
Setiap mencurigainya berbohong, kami tetap mengundangnya untuk berkata jujur, sambil mengingatkan tentang bagaimana pandangan Allah terhadap kebohongan dan kejujuran. Kami juga meyakinkan dirinya bahwa kejujuran tetap lebih baik meski konsekuansinya terkadang pahit, sementara kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain yang membuat keadaan lebih sulit. Kemudian saat ia mengubah perkataannya menjadi sebuah kejujuran, kami memberikan apresiasi atas kejujurannya, lalu fokus memintanya mempertanggungjawabkan kesalahan.
Setelah proses ini kami lalui, perbaikan-perbaikan pun kami temui. Ia lebih terbuka untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Ia pun percaya bahwa kami terus mempercainya dalam menjalani proses pembelajaran sebagai insan manusia. Sehingga kondisinya kini jauh lebih baik. Sejalan dengan itu, komunikasi intim untuk mengetahui perasaan dan pandangannya sebagai seorang anak yang beranjak menjadi baligh sering kami bangun. Alhamdulillah kini Ali lebih memilih untuk mengungkapkan kesalahan dengan penuh kejujuran meski dengan wajah merasa bersalah dan penuh rasa menyesal dibanding memilih berbohong untuk kepentingan sesaat.
Kiki Barkiah
Dari seorang ibu yang mengejar ketertinggalan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu

Agar Dirimu Menjadi Ibu Tangguh

Ibu tangguh…
Pantang mengeluh!!
Ibu tangguh….
Bersungguh-sungguh!!

Agar Dirimu Menjadi IBU TANGGUH

I – Ingatlah bahwa kontrak amanah kita sebagai seorang ibu adalah kepada Allah, bukan kepada suami, atau kepada anak. Baik atau tidaknya sikap suami, lapang atau tidak lapangnya nafkah suami, dukung atau tidak dukungnya suami, bantu atau tidak bantunya suami, tidak akan mempengaruhi persembahan terbaik kita dalam menjalankan amanah kita sebagai seorang ibu. Begitu juga kepada anak, apapun kekurangan dan kelebihan yang dimiliki anak, tidak akan mempengaruhi kasih sayang dan persembahan terbaik pengasuhan kita kepada mereka.

B-Berbagilah segala keluh kesah dan perasaanmu kepada Allah. Hanya Allah yang paling tau hasil akhir dari segala cerita yang kita jalani. Hanya Allah pula yang paling tau jalan pencerahan termudah dari setiap permasalahan yang kita hadapi. Hanya Allah pula yang mampu melipatkgandakan kemampuan, kekuatan, dan kesabaran kita dalam menjalani setiap permasalahan kehidupan. Hanya Allah pula yang mampu memberi sebaik-baik petunjuk bagi kita.

U- Utamakanlah pandangan Allah meski penduduk langit dan bumi dapat memiliki dari sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu yang kita yakini. Pastikan bahwa keyakinan yang kita miliki adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah serta sejalan dengan nilai-nilai yang telah digariskan syariah.

T- Tentukan target-target hidup yang disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dan keadaan, bukan sekedar ego dan ambisi pribadi. Ketangguhan bukan berarti memaksakan diri terhadap apa-apa yang belum memungkinkan untuk kita capai saat itu. Ketangguhan adalah keistiqomahan kita mencapai target-target yang bertahap dalam sebuah proses panjang meraih tujuan akhir kehidupan yang terkadang memiliki perbedaan tingkat pencapaian dalam setiap tahapnya.

A- Alokasikan waktu untuk mempertebal kapasitas ketangguhan diri. Baik dari sisi kebutuhan tambahan ilmu, penyucian kembali jiwa, maupun penyegaran kembali raga. Ketangguhan sangat ditentukan oleh kebijaksanaan mengelola dan menambah asupan energi yang kita perlukan. Bagaimana energi tersebut dapat kita atur sedemikian hingga dapat mengantar kita sampai titik akhir tujuan.

N- Nasihat menasihati dalam hal kesabaran dan kebenaran adalah sesuatu yang senantiasa kita butuhkan untuk terus mempertahankan ketangguhan diri. Karena kualitas iman naik turun, semangat diri terkadang menguat dan melemah. Maka nasihat yang terus menerus meski dengan tema yang berulang adalah sebuah kebutuhan bagi mereka yang ingin memiliki ketangguhan diri.

G- Gangguan, hambatan, dan tantangan, adalah bentuk kasih sayang Allah untuk membuat kita melipatgandakan kemampuan diri, mendobrak kapasitas diri yang selama ini belum kita sadari dan meraih derajat yang lebih tinggi. Maka nikmatilah kasih sayang Allah ini, sambil terus berusaha membuktikan kepada Allah bahwa kita adalah hambaNya yang layak untuk dipilih mendapat kebaikan dan perbaikan.

G- Galau, gelisah, ragu, khawatir dan cemas berlebihan, serta perasaan ingin menyerah adalah sekian cara setan untuk menggagalkan manusia meraih cita-cita kebaikan. Segeralah menuju Allah dengan banyak mengingat-Nya agar hati kita kembali tenang. Ingatlah cita-cita akhir yang telah kita pancangkan dan sadarilah bahwa istirahat sebenar-benarnya hanyalah di Surga

U- Unggul sendiri seringkali membuat kita mudah runtuh. Karena kerapuhan-kerapuhan dari orang-orang sekitar kita akan menularkan kerapuhan kepada kita. Maka selain meningkatkan ketangguhan diri, kita perlu membantu meningkatkan ketangguhan orang-orang disekitar kita. Ketangguhan bersama akan membangun ikatan yang saling menguatkan dan semakin memperkuat.

H- Hargailah diri kita dan setiap pencapaian yang kita raih sekecil apapun itu. Bagaimana kita berharap orang lain akan menghargai diri kita jika kita tidak menghargai diri kita. Sadarilah bahwa kita adalah manusia biasa yang bisa lelah dan salah. Bangkit dan teruslah maju walau selangkah demi selangkah. Karena berhenti berbuat kebaikan dan melakukan perbaikan adalah sebuah kehinaan.

Ibu tangguh….
Pantang mengeluh!!!
Ibu tangguh….
Bersungguh-sungguh!!!

Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berusaha untuk tetap tangguh dan mempertangguh diri
Kiki Barkiah

Tips Menghadapi Balita Stress atau Frustasi

Berikut ini Tips Menghadapi Balita Stress atau Frustasi
 
1. Install dalam pikiran kita bahwa balita mengalami frustasi atau stress adalah sebuah kewajaran. Sehingga kita tidak perlu ikut merasa stress atau frustasi juga. Hal ini terjadi karena adanya gap antara keinginan dan kemampuan.
 
2. Bantu balita stress untuk lebih mampu melakukan yang diinginkan. Seperti melepas bantuan secara bertahap sambil melatih mereka melakukan sesuatu yg diinginkannya. Tidak melepas bantuan seluruhnya secara mendadak, tidak juga dengan membantu mereka terus-menerus.
 
3. Bantu balita stress untuk mengungkapkan keinginannya dengan cara yang baik
 
4. Bantu balita stress untuk mengalihkan keinginannya menjadi sesuatu yang lain bila dirasa saat itu tidak memungkinkan untuk direalisasikan
 
5. Dalam kasus tertentu beri kesempatan kepada balita stress untuk menenangkan diri sampai ia siap untuk mengungkapkan keinginannya atau merealisasikan keinginannya
 
6. Jangan bantu balita stress demi menghentikan stressnya tanpa memberi kesempatan baginya untuk belajar bersikap yang wajar dan belajar menghadapi masalah
 
7. Bersabar dan konsisten dalam melatih mereka untuk menunda beberapa keinginan yang tidak mungkin atau tidak perlu direalisasikan saat itu juga. Anak perlu dilatih untuk menghadapi dunia nyata kelak bahwa tidak semua keinginan mereka akan dapat direalisasikan saat itu juga. Tentunya dengan membangun komunikasi disertai alasan konkret yang dapat diterima oleh perkembangan otaknya.
 
8. Tingkatkan terus kesabaran kita dalam membimbing dan melatih mereka untuk berperilaku lebih tepat, memiliki keinginan yang lebih wajar, serta meningkatkan kemampuan mereka untuk merealisasikan keinginan-keinginan mereka.
 
9. Berikan teladan kepada mereka dalam menegemen stress. Seperti menempatkan keinginan sesuai dengan kemampuan, terutama keinginan yang berkaitan dengan pencapaian anak-anak. Beberapa balita mengalami stress diakibatkan oleh tekanan yang diberikan orang tua mereka.
 
10. Berikan mereka teladan yang baik saat menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan harapan atau keinginan. Mereka mungkin dapat salah mencerna terhadap kalimat yang kita sampaikan, tetapi mereka akan lebih mudah mencerna contoh konkrit kita dalam menyelesaikan masalah.
 

CKSMA B-18 Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian

Karena Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian
 
Suatu hari saat homeschooling sedang berlangsung, Shafiyah berkata “Ummi, Shiddiq is smarter than me at math, but i’m better at reading” Saya pun tersenyum haru karena pernyataan yang Shafiyah sampaikan tidak terkesan bahwa ia merasa minder dengan kemampuannya dalam hal matematika. Bahkan ia berusaha untuk menemukan keunggulan miliknya. Shiddiq memang memiliki kecerdasan yang unggul dalam matematika sehingga saat ini level matematika Shiddiq sama dengan Shafiyah. Bahkan Shiddiq memiliki kecepatan menganalis yang lebih baik dari Shafiyah. Shafiyah sering menjadi murid Shiddiq pada pelajaran matematika. Sebaliknya, saya sering mendelegasikan pelajaran latihan membaca untuk Shiddiq, baik bahasa Inggris maupun Indonesia, kepada Shafiyah. Di usia yang sama dengan Shiddiq, Shafiyah mampu membaca buku bahasa Inggris dengan tulisan yang banyak sementara Shiddiq membutuhkan waktu yang lama untuk membaca satu kalimat “Ya…. everybody has their own potensial, teh…. teteh juga pinter kok matematikanya, walau gak secepat Shiddiq. Tapi teteh lebih rajin dan tekun dalam belajar” balas saya menyemangatinya.
 
Suatu hari saat berkunjung ke Pesantren, guru pendamping Ali menyampaikan bahwa pencapaian hafalan Ali menurun. Saat tulisan ini dibuat, kemampuan Ali dalam menghafal menjadi 2 halaman sehari, padahal sebelumnya ia sering mencapai 4 halaman sehari. Saya berusaha membuka pembicaraan untuk mencari tau penyebab penurunannya.
 
“Aa, ummi tidak berani menuntut Aa untuk menjadi hafidz quran, ummi juga tidak berani memasang target berapa lembar yang harus Aa capai setiap hari. Ummi sadar, ummi bukan seorang hafizhah. Ummi juga ngos-ngosan untuk menghafal satu ayat saja. Ummi cuma bisa berdoa semoga Allah memudahkan Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi dan bapak cuma bisa bantu dengan doa dan sedekah. Ummi cuma minta Aa do the best aja. Aa adalah Aa dengan kemampuan khas milik Aa. Kamu tidak usah liat orang lain yang lebih hebat dari kamu dalam menghafal. Ummi hanya ingin melihat diri kamu kebelakang . Kamu harus lebih baik dari diri kamu yang kemarin. Kalau kemarin Aa mampu mencapai 4 halaman per hari, berarti harus dicari tahu penyebabnya mengapa sekarang pencapaian Aa menurun. Ummi tidak sedih tentang berapa lembar yang Aa mampu capai, ummi cuma merasa sedih kalau kamu menurun dari kamu yang kemarin. Ummi cuma merasa sedih kalau Aa gak do your best” Kata saya menegaskan ketika ia mulai membandingkan dimana posisi kemampuannya dibanding teman-temannya.
 
Ada banyak teman-temannya yang luar biasa dalam menghafal, meski kemampuannya bukan yang terendah diantara siswa yang ada. Saya tidak peduli bagaimana kemampuan anak-anak lain. Saya hanya ingin anak saya melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepadanya.
 
“Sekarang terserah Aa, Aa yang punya cita-cita menjadi hafizh di usia sebelum 15 tahun. Silahkan Aa yang menentukan kecepatannya. Kalau Aa mau berlama-lama menghafal di pesantren, insya Allah ummi dan bapak terus berjuang mencari biayanya. Kalau Aa mau segera pulang dan berkumpul kembali, silahkan berjuang menyelesaikanya”
 
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya dan ayahnya masih mencari tahu penyebab kemundurannya. Analisis sementara kami, sepertinya Ali sedang membutuhkan variasi kegiatan karena setiap anak memiliki gaya khas berbeda dalam belajar termasuk dalam menghafal quran. Bagaimanapun mengkarantina diri untuk fokus menghafal quran membuatnya kehilangan beberapa kegiatan yang ia gemari. Namun saya tidak ingin ia menyerah. Saya ingatkan terus cita-citanya untuk menyelesaikan hafalan quran lebih cepat agar setelah itu ia bisa fokus mengejar cita-citanya.
 
“Ummi gak mau berharap Aa pulang cepet, daripada nanti ummi merasa kecewa. Lebih baik dalam bayangan ummi, ummi akan menunggu Aa pesantren selama 2 tahun. Jadi kalau Aa pulang lebih cepet kan jadi kejutan” kata saya. Rupanya ia merasa kesal dengan pernyataan saya. Dengan perasaan yang terbakar ia berkata “No i don’t want it! I want to finish it before my birthday” “ya terserah, Aa sendiri yang menetukan, ummi cuma minta satu saja, do your best!” Timpal saya.
 
“Ummi both of them are so hard. If I go slow it will make me ‘bosan’ and it takes a long time to go back and homeschool with you. But if I go fast, it is hard” kata Ali. ” Ali gak ada sesuatu yang mudah di dunia ini kecuali yang Allah yang memudahkan. Ummi hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan bagi Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi cuma berharap jangan sampai menyerah meraih cita-cita itu. Kalau Aa merasa sedang jenuh dan membutuhkan istirahat tidak apa-apa. Because this is a long journey in your life. Yang penting kamu terus mengejar cita-cita itu” jawab saya. “I know ummi, and if I finish memorize the quran, it doesn’t mean i’m done. I just start it!” Kata Ali.
 
Anak-anakku……
Kalian adalah kalian dengan potensi khusus yang Allah anugrahkan dalam diri kalian masing-masing. Kami hanya sedang berjuang untuk menggali lebih dalam tentang apa yang kalian miliki. Kami hanya sedang berjuang untuk menanamkan visi misi hidup yang mulia, agar apapun yang kalian miliki saat ini kalian gunakan untuk meraih cita-cita hidup mulia itu. Kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami pun tak berani menaruh cita-cita kami yang kandas untuk kalian wujudkan. Karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami hanya ingin menjaga gawang untuk memastikan bahwa setiap pilihan kalian hari ini adalah dalam rangka meraih cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga.
 
Namun anak-anakku….
Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak dihadapkan pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang kita mampu dengan baik melakukannya, memilih sesuatu yang sesuai dengan potensi yang kita miliki. Ada kalanya kita harus melakukan sesuatu meski kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya. Anak-anakku jika kalian tidak mampu meraih sesuatu dengan berlari seperti orang lain, maka lakukanlah dengan berjalan. Meskipun kalian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai, namun pada akhirnya kalian mencapai satu titik yang sama dengan orang lain. Jika kalian tidak mampu melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan dengan berdiri seperti orang lain, maka lakukanlah dengan duduk. Jika kalian tidak juga mampu melakukannya dengan duduk, maka lakukanlah dengan berbaring. Prestasi kalian adalah seberapa besar kalian mampu mendobrak diri, menembus batas, menguras habis semua potensi yang kalian miliki untuk melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan, perlu kalian lakukan dan ingin kalian lakukan. Satu hal saja pinta kami, lakukan apapun itu asalkan itu semakin mendekatkan kalian pada cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga. Jadilah diri kalian apa adanya karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berjuang dengan keterbatasan potensi yang dimilikinya
 
Sumber gambar: www.discoverstandrews.com