CKSMA B-8 Kenalilah Anakmu Sehingga Engkau Lebih Tepat Dalam Memilikh Sikap!

Ini adalah cuplikan kisah tentang kesalahan saya dalam mengambil sikap sebagai orang tua yang kemudian memuculkan permasalahan yang lebih kompleks setelahnya. Menurut teori parenting yang pernah saya baca, anak akan memburuk terlebih dahulu perilakunya saat kita konsisten mendisiplinkan, menunjukkan ketidak sepakatan kita terhadap sikap mereka, sebelum akhirnya bisa membaik dan bisa kerjasama. Mereka sebenarnya ingin menguji sejauh mana kita konsisten dan tidak luluh atau berubah keputusan setelah mereka membuat keadaan menjadi lebih buruk, seperti nangis yang semakin menjadi-jadi atau melempar barang misalnya. Sekali kita menjadi tidak konsisten saat mereka memperburuk keadaan, maka itulah senjata yang akan mereka pakai selanjutnya.
Selama tidak berbahaya, kita bisa memilih teknik ignore untuk menunjukkan bahwa mereka tidak berhasil mendapat keinginan mereka dengan cara yang tidak baik. Atau sesekali melakukan komunikasi singkat seperti “tidak ada yang berhasil mendapat sesuatu yang diinginkan jika Meminta dengan cara yang tidak baik, ibu hanya akan membantu jika kamu memperbaiki caramu dalam meminta”. Tetapi ketika mereka melakukan bahaya, maka bahaya itu harus kita hilangkan terlebih dahulj, dengan tetap cool, calm and confident, menotifikasi dengan kalimat singkat padat, jelas dan menggunakan nada yang kokoh tanpa terkesan kita memelas dan mengubah keputusan kita karena mereka semakin menjadi-jadi untuk menguji kekonsistenan kita.
Saya bukan seorang psikolog, saya juga bukan seorang ustadzah saya hanya ibu yang suka menulis dan berbagi kisah serta perasaan saya. Anak-anak saya juga bukanlah malaikat yang bisa dengan otomatis berbuat kebaikan dan memberi teladan. Bayangkan, anak ibu kiki yang “katanya” suka menulis dan mengisi seminar tentang parenting itu semakin menjadi-jadi saat marahnya hanya di respon dengan permintaan sang ibu untuk menyampaikan pesan dengan cara yang baik. Saat keinginannya tidak dipenuhi karena sang ibu ingin ia mengganti caranya dalam meminta dengan sesuatu yang lebih baik. Ternyata anak saya, yang diajak pulang tidak mau karena marah, berani nekad kabur ke lantai dua dan pura-pura mau melangkah kan kaki dari balkon masjid, hanya untuk mencari perhatian saya. Sang ibu pun beristigfar di dalam hati sambil meminta perlindungan pada Allah untuk menjaga anaknya, tetapi bersih kukuh untuk tidak segera kepanikan memelas-melas minta anaknya turun. Sang ibu hanya berkata “I love you but i dont like the way you do that!” alhamdulillah kalimat cinta itu mampu membuat kakinya kembali masuk dan kembali ke balkon. Lalu perlahan saya sampaikan konsekuensi dari perbuatannya sambil menawarkan solusi-solusi logis atas permasalahannya saat itu. Akhirnya ia turun tangga sedikit demi sedikit dan mau menerima keadaan lalu pulang. Barulah saat tenang sambil berjalan bersama berbagai komunikasi saya lakukan untuk memberikan ia pemahaman akan konsekuensi dari perbuatannya serta bagaimana seharusnya kita semua bersikap saat perasaan kecewa melanda. Sepulang ke rumah ternyata ia langsung tertidur setelah kami berdiskusi singkat. Ternyata rasa kantuk juga turut menjadi penyebab ketidakbijaksanaanya dalam bersikap.
Tapi sebenarnya, ada kesalahan saya yang turut andil mengapa konfliknya menjadi lebih kompleks. Biasanya saya melakukan i message sebelum menunjukkan kekonsistenan terhadap sesuatu, yaitu mengakui perasaannya terlebih dahulu baru kemudian menggiring opini anak untuk bersikap yang sepantasnya. Namun sepanjang perjalanan berangkat, saya lebih memilih diam untuk menahan amarah saat ia rewel sepanjang jalan karena merasa saya dan saudaranya menjadi penyebab keterlambatan shalat berjamaah. Selain itu kami juga terburu-buru mengejar ketertinggalan shalat. Begitu sampai di masjid, saya dan Shafiyah langsung masbuk. Saya tidak meluangkan waktu untuk mengakui perasaan kecewanya, menenangkan hatinya lalu kemudian mengajaknya untuk mengejar ketertinggalan shalat. Saya salah, tapi memang saat itu saya sedang menahan amarah karena perilaku rewelnya memang sangat “menyebalkan” Saya tidak menyangka bahwa ia memilih untuk marah di masjid dan justru tidak ikut shalat.
Astagfirullah, saya hanya bisa beristigfar dan menerima dengan ikhlas bahwa Allah sudah menitipkan anak ini kepada saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya tau anak saya yang satu ini sedang berlatih untuk lebih bijaksana. saya sadar bahwa saya membutuhkan kesabaran dan waktu dalam proses mengasah kecerdasan emosinya. Tetapi sayapun seharusnya ingat bahwa anak-anak dengan tempramen seperti itu tidak boleh terlalu dihadapkan banyak konflik yang memicu permasalahan. Saya harus membuat keadaan sedemikian hingga dapat meminimalisir konflik. Kalau ia sering marah berlebihan hanya karena terlambat shalat maka kedepannya saya harus mengatur waktu lebih baik agar keterlambatan ini tidak terjadi lagi.
Ya Allah, saya memang bersedih ketika anak saya yang satu ini belum memiliki kecerdasan emosi seperti anak-anak saya yang lainnya. Tapi Engkau telah menganugrahkan ia untukku. Maka apapun dan bagaimanapun ia, ia adalah ladang surgaku. hanya doa dan keistiqomahan mengasah kepribadiannya yang dapat saya lakukan saat ini. Saya percaya, kecerdasannya yang unggul akan bermanfaat bagi ummat jika kami terus bersabar dan konsisten membimbing akhlaknya.
Anakku…. Ummi masih percaya bahwa kamu bukanlah anak yang nakal. Ummi hanya merasa kamu membutuhkan lebih banyak waktu dibanding saudaramu yang lain untuk melatih kecerdasan emosimu. Ummi percaya nak…. ummi percaya kelak kamu akan lebih baik lagi. ummi percaya bahwa nasihat-nasihat kebaikan yang telah disampaikan kelak akan bekerja dan menyelamatkanmu atas ijin Allah. Ummi titipkan kamu pada Allah dengan doa, sedekah dan ikhtiar ummi untuk terus memberi nasihat dan hikmah setiap harinya dalam sekolah rumah kita. Tapi ummi….. Kenalilah anakmu sehingga engkau lebih tepat dalam memilih sikap.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang manusia biasa yang penuh khilaf, ibu dari manusia-manusia biasa yang penuh khilaf.
Kiki Barkiah

CKSMA B-7 Balita Minim Tantrum

Salah satu keunggulan memiliki anak banyak adalah adanya percepatan belajar bagi anak-anak selanjutnya. Berpayah -payah membangun kebiasaan baik biasanya hanya terjadi pada anak pertama. Setelah itu, adik-adiknya akan lebih mudah meneladani kebiasaan baik yang telah diterapkan pada kakaknya. Konsekuensinya, kesadaran bahwa dirinya adalah individu yang berbeda juga dapat terjadi lebih cepat. Sehingga dalam keluarga kami, Fatih anak kelima mulai menunjukan keinginan dirinya dengan sangat tegas lebih awal dibanding anak-anak kami lainnya. Ketika kemampuan masih terbatas namun keinginan untuk melakukan berbagai hal sangat banyak, maka munculan frustasi yang kemudian memicu tantrum. Kesimpulannya, masa tantrum Fatih muncul di usia 1 tahun sementara rata-rata anak-anak kami lainnya baru mulai secara tegas menunjukan keinginan mereka di usia sekitar 1,5 sampai 2 tahun.
 
Pada awalnya, saat masa-masa frustasi itu datang, seperti anak-anak lainnya Fatih sering mengamuk. Alhamdulillah dengan berbekal pengalaman mengurus keempat kakaknya, kami paham bahwa ketika bentuk frustasi itu muncul, kami berusaha mencari tau apa yang menjadi keinginanya sambil terus mengajarkan Fatih untuk mengungkapkan dengan kata-kata dan memberikan isyarat jika ia mengingkan sesuatu.
 
Ummi: “Mau apa sayang? mau ini? bukan? mau ini? bukan? mau ini? bukan? Mau ini? iya? ooooo mau minum…. mau ambil minum sendiri. ini namanya minum… minum…minum apa? minum…bilang ya ummi… mau…minum”
 
Begitu misalnya saat kami membantu menerjemahkan keinginannya. Lalu kami libatkan ia memegang gelas dan menuangkan air. Saat ia menunjukan keinginannya kami mengajak ia menunjuk atau menggiring kami ke ruangan dimana keinginannya berada. Pada awalnya kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui keinginannya. Tetapi ketika kepercayaan Fatih terbangun bahwa kami berusaha membantu keperluannya, rengekan dan tangisan semakin berkurang. Kini diusia 1,5 tahun ia terlatih untuk memanggil kami, menggandeng tangan kami ke ruangan tertentu lalu menunjuk saat ia menginginkan sesuatu. Lalu ia belajar mengungkapkan dengan kata-kata pada beberapa hal yang telah ia kuasai. Di usia 1,5 tahun Fatih dapat menjabarkan beberapa keinginannya seperti “ummi mau bobo” sambil menunjuk dada saya. “Ummi mau kuku” maksudnya mau susu sambil menunjuk meja makan misalnya.
 
Setiap anak memiliki fitrah kemandirian, saat Fatih telah masuk fasa dimana ia sadar bahwa ia adalah individu yang berbeda dari lainnya, ia mulai menunjukkan keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Makan sendiri, mandi sendiri, sampai membuat susunya sendiri. Berbekal keyakinan bahwa ini adalah sebuah proses melatih kemandirian anak, maka kami cenderung memberikan ruang baginya untuk mencoba melakukan segala sesuatunya sendiri. Meskipun konsekuensinya akan ada pekerjaan-pekerjaan ekstra yang harus kami lakukan setelahnya. Saat mandi misalnya, ia akan meminta jatah sabun cair untuk diusap pada bagian tubuh yang dapat ia jangkau. Pada saat makan ia tidak mau disuapi, saya membantunya untuk membuat gunung-gunung nasi kecil agar ia mudah memakan makanannya sendiri, atau membuatkan makanan yang mudah ia genggam. Bahkan sekarang ia selalu ingin membuat susunya sendiri. Menarik kursi ke meja makan, menaiki kursi, meminta saya mengambilkan susu bubuk. Saya siapkan gelas, dan susu bubuk, lalu air secukupnya dalam teko kecil. Ia tuang sendiri susu bubuk ke dalam gelas dibawah pengawasan saya, lalu kemudian menuang air dari teko sendiri dan mengaduknya sendiri dengan sedotan. Ada tumpahan? pasti! tapi pekerjaan ekstra yang dilakukan akan terbayar dengan senyuman kebanggaannya.
 
Keberhasilan-keberhasilan kecil dalam memecahkan masalah ini akan semakin meningkat menjadi keberhasilan dalam mengerjakan proyek-proyek yang lebih kompleks. Sehingga di usia 4 tahun, Faruq dan Shiddiq kakaknya terbiasa mengaduk mixer sendiri untuk membuat kue, dibawah pengawasan kami disamping mereka. Bahkan Faruq (4 tahun) dan Fatih (1,5 tahun) pernah bekerja sama membuat puding susu dengan potongan strawberi hanya berdua saja. Kami hanya membantu memasak dan menuangkan puding saat panas, sementara hampir seluruhnya dikerjakan mereka berdua dibawah pengawasan kami. Seiring dengan waktu Fatih semakin mahir membuat susu dalam gelas tanpa tumpah, begitu juga Faruq semakin mahir membuat puding sendiri tanpa banyak tumpah. Dan semua itu bermula dari kesabaran kita mencari tahu apa yang mereka inginkan, memfasilitasi dan mengawasi saat mereka ingin melakukan pekerjaannya sendiri.
 
Alhamdulillah hanya sekitar 3 bulan saja Fatih mengalami masa tantrum yang hebat, semakin hari ia semakin mudah mengungkapkan keinginannya. Kami juga tidak terlalu mengalami banyak konflik karena biasanya kami berusaha mengikuti keinginannya terlebih dahulu sejenak baru kemudian mengalihkannya pada pekerjaan lain yang dirasa lebih aman dilakukan. Kami juga memfasilitasi berbagai sarana untuk ia “mengoprek” seperti memberikan wortel untuk memberi makan kelinci, menyiapkan air dalam botol spray untuk menyiram tanaman-tanaman dalam pot, menyiapkan ember besar dan mainan untuk bereksplorasi dengan air, bahkan sesekali menginvestasikan beberapa genggam tepung untuk melatih motorik halusnya. Itulah sekolah Fatih setiap hari, saat saya sibuk mengajar anak-anak lainnya. Baru sesekali saat saya tidak sedang mengajar, saya meluangkan waktu untuk duduk secara khusus dengan Fatih dan membaca buku. Alhamdulillah, Fatih pun sangat “anteng” menjalankan sekolahnya tanpa banyak menggangu proses belajar kakak-kakaknya.
 
Jujur saja memang membutuhkan banyak tenaga dan kesabaran dalam membimbing Fatih yang cenderung banyak mengeksplorasi alam, bahkan terkadang ia harus mandi dan mengganti baju sebanyak 6 kali sehari karena rajin bereksplorasi dengan air. Kami juga harus mengunci gerbang setiap saat agar ia hanya bereksplorasi di taman jika ingin keluar. Kami juga harus mengunci kulkas dengan “Child lock” Agar ia tidak membuka tutup kulkas dan mengeluarkan isinya. Kami juga harus memasang pengganjal pintu khusus yang dirancang agar anak-anak tidak terjepit karena Fatih sudah mulai tertarik membuka tutup pintu. Kami juga mulai harus menjauhkan barang-barang tertentu agar ia tidak meraih dan merusaknya.
 
Terkadang Fatih juga memukul kakaknya saat ia kesal dan tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Biasanya saya mengangkat fatih, mendudukannya di kasur, lalu dengan kalimat kokoh saya berkata “no! tidak memukul dipukul itu sakit” saya menatapnya dengan tatapan serius, untuk mengabarkan bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Awalnya ia tidak memahami ekspresi saya, tapi saat kejadian diulang saya lakukan kembali. Sehingga ia mengerti bahwa memisahkannya dalam tempat khusus kemudian menyempaikan kalimat singkat, pada, jelas, dengan nada yang kokoh, adalah cara saya untuk memberi pesan penting. Ia pun kini mulai memahami ketika saya memintanya untuk meminta maaf. Ia akan bersalaman lalu mencium tangan kakaknya dengan bunyi “mmmmuaaaah”.
 
Insya Allah dengan kesabaran dan kelapangan hati untuk bersedia sedikit memiliki pekerjaan ekstra, anak-anak balita kita bisa menjadi balita yang minim tantrum. Tantrum adalah hal yang alamiah terjadi pada anak-anak balita, dengan membuat jadwal hidup yang teratur, memenuhi kebutuhan dasarnya seperti saat lapar atau mengantuk, merespon dengan aktif saat ia memiliki keinginan tertentu, serta bersedia secara fokus mendampingi dan mengajarinya agar berperilaku wajar dan pantas, insya ALlah frekuensi tantrum balita akan dapat kita minimalisir sehingga balita-balita kita menjadi baliya yang minim tantrum
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang rumahnya dihiasi balita hampir 2 tahun sekali

CKSMA B-6 Ketika Shiddiq Bertanya Dari Mana Bayi Keluar?

 
Buku adalah salah satu investasi prioritas dalam keuangan keluarga kami. Membedah buku adalah satu kegiatan wajib dalam homeschooling kami setiap hari. Bahkan sebagian besar harta yang kami bawa pulang saat hijrah kembali ke tanah air adalah ratusan buku.
 
Hari itu kami sedang membedah buku yang berjudul “how you were born?” Buku ini membahas proses pembentukan janin dari mulai pertemuan sel telur dan sperma sampai bayi terakhir kedunia. Lengkap disertai foto-foto usg 4D yang menggambarkan setiap perkembangan bayi. Buku ini dirancang untuk anak dengan bahasa yang mudah dimengerti. Anak-anak sangat merasa takjub saat saya menjelaskan proses keluarnya kepala bayi dari tubuh ibu sambil menunjukkan ilustrasi gambar (bukan foto asli)
 
Shiddiq: “Ummi where do we come out from your body?”
Ummi: “dari lubang kelahiran di tubuh Ummi, tapi kalo teteh Shafiyah dikeluarin dari perut Ummi yang di operasi, jadi teteh gak keluar dari lubang kelahiran seperti Shiddiq”
 
Setelah mata pelajaran reading comprehension selesai, Shiddiq ternyata masih penasaran.
 
Shiddiq: “Ummi I was thinking about where the lubang kelahiran is? Is that here?”
Sambil menunjukkan kaki bagian atas saya. Dengan tenang saya menjawab,
 
Ummi: “lubang kelahiran itu letaknya dekat lubang tempat keluar pipis, tempatnya ada di bagian tubuh yang merupakan aurat, makanya ummi gak bisa tunjukkan sama Shiddiq”
Shiddiq: “ooooh OK!”
Dengan wajah yang santai pertanda pertanyaannya sudah selesai terjawab.
 
Alhamdulillah dalam tahapan usia Shiddiq dan Shafiyah mereka tidak sampai kritis bertanya bagaimana sperma dan sel ovum bisa bertemu. Kalau memang ia bertanya insya Allah saya akan menjawab “materi yang lebih detail tentang ini akan dibahas di tahapan homeschooling selanjutnya nanti kalau sudah besar”
 
Anak-anak memang sangat kritis. Mereka juga seringnya bertanya seputar organ tubuh miliknya. Setiap kali bertanya saya berusaha menjelaskan dari sudut sains, membahas fungsi jika mereka bertanya, membahasakan setiap bagian tubuh manusia dengan istilah sebenarnya sesuai istilah sains, bahasa inggris atau Indonesia, bukan dengan bahasa kiasan seperti burung misalnya. Serta memberikan keterangan apakah bagian tubuh tersebut adalah bagian dari aurat atau tidak. Saya berusaha menjelaskan dengan gaya mengajar yang wajar layaknya sedang mengajar materi lainnya.
 
Buku tersebut memang diterbitkan dari Amerika pengarangnya bukan seorang muslim, sehingga tidak meyakini tentang konsep aurat. Sehingga terkadang sangat detail dalam memberikan ilustrasi. Dalam buku tersebut ada gambar saat sang ibu sedang melahirkan didampingi suami dan bidan di dalam rumahnya. Sebagian foto saya tutup dengan sepidol permanen untuk mensensor sesuatu.
 
Shafiyah: “ummi kenapa ini di coret?”
Ummi: “pada bagian ini mereka ingin menjelaskan bahwa saat ibu melahirkan mereka butuh bantuan bidan atau dokter, tapi karena pengarangnya bukan muslim, jadi dia tidak tau tentang konsep aurat. Karena kita dilarang Allah melihat aurat orang lain maka ummi tutup”
 
Alhamdulillah anak-anak memang sering diingatkan bahwa kita tidak boleh melihat dan memperlihatkan aurat tubuh. Melihat aurat orang lain akan menyebabkan kerusakan otak. Kami mencoba meminimalisir dengan tidak memberikan tayangan siaran televisi sama sekali. Anak-anak selalu diminta tidak melihat iklan apapun di youtube. Saya selalu bilang “tutup dulu ya khawatir memperlihatkan aurat”. Anak-anak selalu minta persetujuan terhadap film yang akan mereka lihat. Beberapa film pengetahuan yang dibutuhkan sebagai penunjang materi, biasanya saya dampingi secara langsung. Anak-anak juga diminta untuk menundukkan pandangan jika tak sengaja melihat aurat orang lain. Kami juga memfilter jaringan internet dengan aplikasi parental controller yang akan memblok semua situs yang beresiko memiliki konten dewasa.
 
Inilah salah satu ikhtiar yang dapat kami lakukan sebagai orang tua dalam menjaga anak-anak dari perilaku menyimpang. Kami berusaha secara aktif menjaga pandangan dan pendengaran mereka dari hal yang dapat merusak fitrahnya, sampai kelak dimana mereka mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta menjaga dirinya. Kami memilih untuk membahas pendidikan seks dari dalam rumah secara ilmiah dengan memadupadankan konsep agama dan tinjauan ilmu pengetahuan sebelum mereka mendapat informasi dari pihak lain yang belum tentu benar. Kami berusaha menjawab pertanyaan mereka sesuai kebutuhan, dengan jawaban yang benar namun memperhatikan batasan yang diatur dalam syariat. Kami berusaha menjauhkan hal-hal yang dapat menstimulus gairah seksual dalam diri anak-anak, termasuk menjaga adab berpakaian di dalam rumah meski mereka adalah mahrom ayah ibunya. Tapi kami tetap memilih untuk menjadikan hal ini sebagai bagian dari mata pelajaran homeschooling kami, karena pertanyaan anak-anak adalah gerbang dari terbukanya cakrawala.
 
Teruslah bertanya wahai anak-anakku!
 
Batujajar Jawa Barat
Dari guru mata pelajaran pendidikan seksual bagi anak-anaknya
Sumber gambar www.123rf.com

CKSMA B-5 Jika Anakmu “Hanya” Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ini adalah sebuah pembicaraan antara 2 orang ibu yang berbeda generasi.
 
Kiki: Mah, banyak follower Kiki yang bertanya, bagaimana mamah bisa ikhlas menerima anak yang sudah mamah kuliahkan sampai ke ITB ternyata ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga? “
 
Sebuah pertanyaan yang saya lontarkan kepada ibunda tercinta, seorang wanita karir dan pekerja keras yang bertahun-tahun menjadi tulang punggung keluarga.
 
Mamah: neng, buat mamah mah yang terpenting itu masa depan anak-anak yang baik kedepan. Kepinteran itu bisa disalurkan dalam bentuk apa saja, tidak harus dalam bentuk karir dalam pekerjaan. Jaman sekarang sudah berubah, sudah ngeri, ini sudah mau kiamat, ibu-ibu jaman sekarang yang terbaik itu berada di rumah, mengurus dan mengawasi anak-anak. Sekarang mah harus dipikirkan bagaimana kalian bisa menyalurkan kepintaran dari dalam rumah sambil ngurus anak-anak. Duh…. Ngeri…. Sekarang mah pergaulan anak-anak.
Sudah…. Tidak perlu terlalu mengejar dunia. Sekarang yang paling penting kita menyelamatkan keluarga ditengah jaman yang sudah rusak ini. Keun we…. rezeki mah ngikutin. Mamah mah nyekolahin kalian semua sampai pinter-pinter ke ITB supaya punya pola pikir yang baik saja. Abis itu mah sudah ngurus anak saja di rumah. Mamah mah tidak merasa sayang menyekolahkan kalian walau tidak kerja, karena buat mamah mah kalian itu sukses kalo bisa melahirkan generasi yang lebih baik”
 
Kiki: “jadi gak sayang kan mah ijazah aku masih tersimpan rapi di map gak pernah dipakai ngelamar kerja?”
 
Mamah: “alaaaaah nu penting mah ijazah ti Allah”
 
Kiki: “nah tapi gak semua orang tua teh kayak mamah, banyak yang khawatir katanya kalo anak-anak perempuannya gak mandiri, gimana nanti kalo jadi janda katanya?”
 
Mamah: “pan ada Allah atuh!”
 
Yaa… Demikianlah sepenggal pembicaraan antara dua ibu yang berbeda generasi, yang hidup di jaman yang berbeda keadaannya, yang memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda, namun memiliki kesamaan visi. Sama-sama ingin memiliki generasi keturunan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
 
Betapa indahnya sebuah keluarga yang menjalin hubungan karena Allah, yang menahan ego karena Allah, yang berjuang karena Allah, yang bertujuan untuk Allah, yang berkorban karena Allah, dan yang begantung sepenuhnya pada Allah.
 
Ya beliau lah ibu saya, yang selalu menahan diri mendengar omongan orang-orang sekitar yang berkomentar tentang pilihan-pilihan hidup anak-anak perempuannya. Ya beliau lah ibu saya, yang selalu memberi kepercayaan pada kami untuk memilih apa yang terbaik bagi kami, asalkan tetap dalam koridor syariat. Beliau lah ibu sekaligus guru fisika SMA dan guru kehidupan saya, yang selalu mengajarkan hikmah dan kebijaksaan, menanamkan visi yang luhur dan mulia dalam kehidupan, memotivasi kami saat semangat kami melemah, menjadi orang yang paling terakhir membela kami saat kami gagal dan terjatuh, menjadi orang yang tetap percaya dan sabar menanti perubahan-perubahan kebaikan kami dalam kehidupan. Meski saat kami kecil, kami hanya dapat bertemu 1 jam saja setiap hari sebelum tidur menutup mata, ditengah kesibukan beliau mengajar fisika setiap hari. Beliau lah ibu yang sibuk bekerja berangkat dari bada subuh dan pulang jam 9 malam, demi menyekolahkan kami agar berpendidikan tinggi. Dan beliau lah ibu yang berbahagia yang mengeluarkan keringat ditengah kelelahan demi mengantarkan anak-anak perempuannya menjadi ibu rumah tangga.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu rumah tangga yang menyimpan sementara ijazahnya
 
Sumber gambar vectorstock.com

CKSMA B-4 ART Para Homeschooler

Ummi: “jangan bi! jangan! Biar saja Faruq yang bereskan!”
 
Bibi yang tengah mengumpulkan sayur mayur makanan kelinci pun menghentikan pekerjaan. Sayur mayur itu berhambur di sekitar garasi rumah karena ulah Faruq (4 tahun). Ia merasa kesal karena kelinci nya kembali di masukkan kedalam kandang. Sementara ia masih ingin bermain dengannya.
 
Ummi: “ummi baru akan pergi ke supermarket, kalo makanan kelinci yang berserak disini sudah dirapihkan” kata saya dengan nada kokoh tanpa marah.
 
Faruq pun segera membersihkannya, ia tau kami tidak akan jadi pergi sebelum ia bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan saat bibi mau membantunya, Faruq menolak dan berkata “No…no… I can do it by myself”
 
Bi Siti adalah seorang ART para homeschooler. Sejak pertama kali ia datang kerumah, saya sudah berpesan. “Bibi, bibi itu kerja disini membantu pekerjaan saya bukan membantu anak- anak. Yang bisa dan harus dikerjakan anak-anak tidak boleh dibantu oleh bibi, kecuali saya yang meminta. Jangan membereskan mainan anak-anak atau buku setelah mereka selesai sekolah. Jangan membereskan bekas makanan anak, baju kotor mereka, atau apa saja bekas aktifitas mereka. Tanya saja bi ‘ayo ini punya siapa?’ biar mereka yang kerjakan sendiri, baru sisanya dirapihkan bibi”
 
Kadang bibi terlupa karena asyik membereskan rumah, maka jika kebetulan saya melihat bibi membantu, saya minta bibi menghentikannya lalu memanggil para tersangka yang harus bertanggungjawab dengan pekerjaan tersebut.
 
Ya! bi siti adalah ART para homeschooler, maka ia juga adalah gurunya anak-anak.
 
Ummi:” ok faruq, ummi masih ngajar yang lain, sekarang kamu ambil kelas memasak sama bibi ya”
 
Maka faruq pun sibuk di dapur mengambil kelas kesukaannya bersama bibi.
 
Ya, Bi Siti adalah ART para homeschooler, yang juga turut dibekali ilmu parenting.
 
Ummi: “Bibi, sabar ya bi, ini teh anak pinter, insya Allah nanti mau jadi ahli bahari yang memajukkan kelautan Indonesia”
Bibi: “duuuh pinter….pinter!”
 
Kala beliau harus berkali-kali membantu mengeringkan air yang tumpah, baik air minum yang dimainkan, air bekas cucian yang dieksplorasi, selang yang dinyalakan dan di semprotkan ke tanaman, bahkan air pel yang tumpah saat Fatih sang ahli air melakukan “sekolahnya”.
 
Ummi: “Bibi, sabar ya bi, ini teh anak pinter, insya Allah nanti mau jadi pengusaha makanan terbesar di seluruh dunia, yang dermawan dan paling banyak sedekahnya”
Bibi:.”sabar….sabar”
 
Kala beliau harus menyelesaikan sisa-sisa hasil prakarya Faruq dalam kelas memasak.
 
Seringkali juga bibi tiba-tiba memergoki Faruq yang sedang inisiatif memanjat kursi dan sibuk mengambil susu dan meraciknya sendiri.
 
Bibi: “astagfirullah… Ujang….lagi apa? Mmmm… Sabar….sabar” kata beliau saat melihat tetesan tumpahan susu atau serbuk-serbuk susu yang berserak.
 
Saya pun tidak ingin menambah beban pekerjaan bibi sebagai ART dari keluarga homeschooler, yang mungkin pekerjaannya sedikit lebih banyak dibanding keluarga yang anggotanya pergi ke sekolah atau keluarga yang lebih banyak menghabiskan banyak waktu di depan gadjet. Maka diluar waktu, menyusui, mengajar dan menulis saya pun tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa, terutama mengerjakan pekerjaan sisa hasil eksplorasi anak-anak.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler, maka ritme kerja pun teratur mengikuti jadwal sekolah kami. Hanya dapat sempurna membersihkan seluruh lantai saat kami pergi ke masjid, lalu bersiap kembali kotor dan berserak saat kami mulai sekolah lagi.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler yang lama kelamaan mampu mengadop cara komunikasi dan langkah-langkah saya dalam menghadapi perilaku negatif anak-anak.
 
Bibi: “bu, barudak mah memang aya nu hese dibejaan. Untung ibu mah sabar, pan ibu mah nanya ka barudak ‘mau apa?’ batur mah mun barudak mararacem langsung we di ciwit” (ibu, anak-anak memang ada yang sulit diberitahu. Untung saja ibu sabar. Kalo ibu kan selalu nanya sama anak-anak ‘mau apa?’ Orang lain mah kalo anak-anak macam-macam langsung saja dicubit”
 
Lalu saya pun menjelaskan bahwa pada fasa-fasa tersebut anak masih kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Maka jika penyelelesaiannya hanya di cubit, anak-anak tidak akan belajar bersikap yang seharusnya. Alhamdulillah selama mendampingi kami, bibi tidak pernah berbicara dengan pilihan kata yang “membunuh karakter” anak. Beliau pun banyak mengadop pilihan komunikasi yang biasa saya lakukan dalam merespon perilaku anak. Saya sadar bahwa cita-cita saya terhadap anak-anak akan lebih berat untuk dicapai jika lingkungan sekitar tidak mendukungnya. Salah satu pihak yang perlu diajak mengerti tentang visi dan misi keluarga kami adalah bibi, karena bibi yang setiap hari berinteraksi secara langsung dengan anak-anak.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler yang kadang tersenyum, tertawa, memuji, takjub, geleng-geleng, atau mengusap dada saat melihat segala tingkah laku para murid di sekolah rumah kami. Beliau yang kelak akan menjadi saksi bagaimana anak-anak ini belajar dengan segala tingkah laku dan keunikannya. Semoga kelak anak-anak dapat membalas kebaikan beliau serta mengenang kudapan lezat yang selalu bibi siapkan sebagai hadiah di sela-sela pelajaran. Ada cireng, bakwan, gehu, otak-otak, semangka, pepaya, ice cream, yogurt dll
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang ingin melahirkan generasi yang mandiri meskipu memiliki rezeki ART dalam rumahnya
 
Sumber gambar: Majalahdia.net

CKSMA B-3 Orang Tua Sukses Itu …


Tarbiyatul Aulad – Saya ingin sedikit berbagi perasaan saya, tanpa bermaksud menyampaikan kekurangan seseorang yang hanya Allah lah yang tau kemuliaan dirinya. Tidak juga kemudian mengurangi rasa hormat, kagum dan bakti saya pada beliau. Setelah melepas kepergian Ali (12 tahun) ke pesantren tahfidz, ada rasa ragu terbesit dalam hati. Bukan ragu bahwa dia tidak akan mampu menjalaninya, karena Ali sendiri yang suatu hari pernah menuliskan cita-citanya. Satu diantara visi hidupnya adalah menjadi hafidz Quran. Ali sendiri juga yang menentukan targetnya, di usia kapan ia ingin menjadi hafidz quran. Ali sendiri pula yang menghitung berapa baris Al-Quran yang harus ia hafal setiap hari untuk mengejar cita-citanya. Meski ada tangisan saat perpisahan, serta kegelisahan menuju suasana baru, saya yakin insya Allah ia akan baik-baik saja dalam penjagaan Allah. Terlebih saat melihat raut muka kegelisahan dan kesedihan yang berubah saat kami melepasnya pergi ketika saya mengatakan “Kalau kamu sedang bersedih dan terasa ingin pulang, ingat saja ibumu (Almarhum) dan ingat saja cita-citamu” Lalu ayahnya pun menambahkan “Ali mau kasih mahkota kan?” Ali pun terlihat lebih kuat dan mantap, memeluk saya sebelum berpisah. Saya memang tidak mengantarnya, tapi ayahnya bisa melihat antusiasmenya saat tiba di Pesantren dan melihat aktifitas akhir pekan yang mengasyikan yang dilakukan para santri laki-laki. Ya! saya merasa ragu bukan karena itu. Saya ragu untuk menjawab pertanyaan apakah saya merasa pantas untuk dihadiahi seorang anak penjaga Al-quran, sementara saya….. sementara saya…. cukuplah Allah yang Maha Tau kelamnya masa lalu saya dan betapa sampai saat ini pun masih terseok-seok untuk bisa beribadah kepada Allah dengan baik. Pantaskah saya memiliki anak hafizh quran? itulah pertanyaan dalam benak saya yang Allah beri jawabannya pada hari itu juga.
Saat saya membuka Al-quran untuk bertilawah, tiba-tiba beberapa ayat yang saya baca adalah langsung menjawabnya
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? [al-Qomar 54:17]”
Beberapa ayat ini pun diulang dalam surat yang sama. Saya pun terharu mengapa Allah menggerakkan saya untuk membuka halaman tersebut, padahal bukan batas tilawah saya saat itu. Lalu Allah memberikan jawaban lain pada saya.
Hari itu, ibu saya berkunjung untuk menengok cucu yang baru di sunnat. Selepas shalat maghrib berjamaah, tiba-tiba Allah mengilhamkan saya untuk mengajukan sebuah pertanyaan. “Mamah, maukah mulai saat ini setiap kali berjunjung ke rumah ini, mamah belajar membaca iqro?” Ibunda pun mengangguk tanda setuju.
Astagfirullah… astagfirullah… Alhamdulillah…alhamdulillah….. Allahu Akbar…. Allahu Akbar!. Betapa malu diri ini pada Allah, berpindah tempat, berhijrah dan melanglang buana mengikuti suami sambil mengajarkan Al-quran tetapi tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengajar Al-quran pada ibunda sendiri. Saat itu shafiyah sedang disamping neneknya, saya berkata “Shafiyah…. waktu nin kecil, nin tidak pernah punya kesempatan belajar mengaji Al-quran. Tidak ada yang mengajarkan nin membaca Al-quran. Lalu nin berdoa pada Allah ingin sekali punya anak-anak sholih meski nin saat itu belum mengerti tentang islam. Lalu Allah mempertemukan nin sama Aki yang mengerti islam dan pandai mengaji. Lalu sekarang semua anak-anak nin bisa mengaji Al-quran. Nin selama ini mengaji pakai tulisan latin. Sekarang nin mau belajar bareng Shafiyah yah”
Shafiyah pun mendampingi sang nenek yang mengucap satu per satu huruf hijaiyah. Berulang kali salah dan di perbaiki makhrojnya oleh saya. Lalu air mata itu menetes. Setelah bertahun-tahun berjuang menjadi tulang punggung keluarga, pulang di malam hari karena ayah bertahun-tahun berbaring sebelum mengkahiri hayatnya, akhirnya kami bisa duduk bersama untuk belajar mengaji. Saya belajar mengaji pada orang lain (semoga Allah merahmati semua guru yang mengajarkan saya Al-quran). Saya memperdalam tahsinul tilawah saat saya kuliah. Tidak ada kesempatan mengajarkan ibu sendiri untuk belajar quran karena kesibukan di kampus dan kesibukan mamah mencari nafkah keluarga. Kemudian setelah itu saya segera berhijrah melanglang buana mengikuti suami. Selama ini mengajar Al-quran pada orang lain, ada doa yang saya ucapp agar Allah pun berkenan kelak memberi kesempatan pada ibunda untuk belajar quran. Saya tidak meragukan ketakwaan beliau, karenak etakwaanya telah melahirkan berbagai kesabaran dan kegigihan beliau mengarungi pahitnya kehidupan. Meski tidak banyak ayat yang di hafal, saya yakin banyak sekali apa yang tertuang dalam Al-quran telah beliau amalkan dalam kesehariannya. Terbukti dengan banyaknya kaum fakir, miskin, dan murid-murid yang mencintai beliau. Beliau hanya tidak pernah mendapat kesempatan untuk belajar membaca Al-quran dan memdalaminya.
“Ya Allah mah…. maaf, selama ini kiki mengajar al-quran pada orang lain, baru kali ini punya kesempatan mengajar mamah” kata saya. “Kiki mungkin ini kata Allah kenapa kamu harus pulang dulu dan dekat mamah. Kamu harus mengajarkan mamah mengaji” sambil menahan tetesan air mata beliau berkata. “Kiki, apa mamah boleh selama ini membaca quran dengan huruf latin?” tanya beliau. Saya tau beliau rajin berdzikir, rajin qiyamul lail, tapi selama ini beliau hanya membaca huruf latin dari ayat-ayat quran. “tidak apa-apa mah, yang penting mamah tidak berhenti belajar, Insya Allah mamah tetep dapat dua pahala meski mengaji terbata-bata, jadi kalo Allah menutup usia mamah, semoga mamah sudah bisa mengaji Al-quran atau sedang mempelajarinya”
Selama jauh berpisah saya berusaha mencari guru untuk mamah, tapi mamah selalu khawatir dengan banyaknya penyimpangan-penyimpangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam mendakwahi islam. Selama ini proses dakwah dalam keluarga hanya dapat dilakukan jarak jauh. Tapi kini Allah mendamparkan saya ke tempat ini, saat saya meminta pada Allah untuk mendamparkan keluarga kami ke tempat dimana kami bisa lebih dekat pada surga. Allah damparkan keluarga kami dengan menghilangkan pekerjaan suami di Amerika. Dan hari itu pula Allah telah memberi saya harapan bahwa saya berhak memiliki cita-cita memiliki anak-anak yang hafizh quran meski pengetahuan saya akan islam alakadarnya. Allah pun telah memberi karunia kepada ibu saya berupa anak-anak yang insya Allah selalu Allah jaga, dan pada akhirnya semua bisa membaca Al-quran bahkan mengajarkannya. Hanya bermodal doa dan keihlasan beliau menerima seorang suami sholih yang berbeda usia 25 tahun, demi perbaikan kehidupannya dalam agama.
Barakallah mah…. barakallah karena Insya Allah mamah telah menjadi orang tua yang sukses ketika mamah telah mengantarkan kami menjadi pribadi yang lebih baik dari mamah dan bapak. Semoga Allah mengistiqomahkan kami agar mamah dan bapak menjadi sebenar-benarnya orang tua yang sukses di dunia dan akhirat. Allahu Akbar!!
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang hamba yang berharap generasi yang dilahirkannya lebih baik dari dirinya
Kiki Barkiah
sumber gambar business.financialpost.com

Baca juga Kala Tangan Kita Diayun

CKSMA B-2 Kala Tangan Kita Diayun

Tarbiyatul Aulad – “Ya Allah ibu…..ibu sabar pisaaaaan, ibu teh gak pernah mukul? Kalo di kampung mah anak kayak gitu udah dipukulin bu?” Komentar seorang bibi tukang pijit yang sedang silaturrahim ke rumah yang terheran-heran melihat bagaimana saya menghadapi Faruq yang sedang marah saat itu. Setahap demi setahap saya telusuri keinginannya, setahap demi setahap saya membantunya menahan amarah, menenangkan diri, lalu menyelesaikan permasalahannya. Tanpa teriakan tanpa kekerasan. Dan ternyata masalahnya hanya karena ia ingin bersama saya dan tak ingin jika saya dipijit. Jika Bibi tukang pijit terheran-heran melihat sikap saya maka saya pun balik terheran, memang kenakalan apa saja yang biasa dilakukan anak-anak sedemikian hingga seorang ibu memiliki alasan untuk memukul anaknya?
Ya saya akui, meski bagi saya anak-anak saya tetaplah anugrah yang istimewa dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, beberapa kerabat memang menyimpulkan bahwa sebagian besar anak-anak saya adalah anak super aktif, yang gigih kemauan, dan cukup menguras kesabaran. Entah karena keaktifannya atau karena kegigihan akan kemauannya. Pernah bibi yang membantu di rumah curhat dengan neneknya anak-anak.
bibi: aduuh ibu! eta mah barudak teh, aduuuuh, ngan ibuna we sabaaaaaar pisan (Aduh ibu, itu anak-anak, aduuuh, tapi ibunya sabar sekali)
nin: enya eta… indungna sabar pisan, mun hampang leungeun mah barudak geus digebukkan (iya itu dia, ibunya sabar sekali, kalau ringan tangan, anak-anak itu sudah pasti dipukuli)*
(*seperti yang diceritakan ulang oleh bibi kepada saya)
Mungkin imajinasi sahabat pembaca berkeliaran tentang bagaimana suasana di dalam rumah saat anak-anak sedang “bermasalah”, sampai-sampai para kerabat berpendapat bahwa kondisi yang serupa diluar sana, anak-anak sudah dipukul oleh orang tua mereka. Tapi yang paling mengerti betapa mereka tidak layak untuk mendapat pukulan adalah saya sendiri, ibunya. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka saat neoron-neoron otak mereka sedang saling terhubung ketika mereka melakukan berbagai percobaan yang terkadang mengotori dan membasahi lantai, merusak barang dan sedikit membuang sumber daya alam. Tangan ini hanya ingin menggiring mereka melakukannya dengan lebih aman, dalam batasan jumlah sumber daya alam yang diijinkan. Atau kadang tangan ini hanya ingin menggiring mereka melakukan sesuatu yang lain, yang lebih pantas dan wajar dilakukan dalam proses belajar. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka yang sedang belajar menyelesaikan perselisihan. Bukankah pukulan yang diayun saat mereka bertengkar antar saudara, hanya akan kembali memberi pelajaran tentang cara terbaik dalam menyesesaikan masalah?. Tangan ini hanya ingin menggiring mereka keluar dari ruangan, memisahkan mereka, memberi mereka ruang dan waktu untuk menenangkan diri, lalu tangan ini dipakai untuk memeluk mereka saat mereka sudah tenang dan mau mendengarkan nasihat. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul saat mereka marah meronta-ronta mempertahankan keinginan mereka, sementara saat itu kami sedang ingin mengajarkan mereka tentang arti bersabar dan menahan keinginan. Bukankah memukul mereka yang sedang belajar bersabar hanya akan mengajarkan tentang arti ketidaksabaran? Tangan ini hanya ingin memeluk mereka, memberi dekapan yang menenangkan, memberi keyakinan bahwa mereka baik-baik saja meski keinginannya belum dapat terpuaskan. Lalu lisan ini mengajak mereka berfikir tentang hal-hal yang membahagiakan yang sudah bisa mereka dapatkan saat itu. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul saat mereka merengek menangis karena membutuhkan pelukan pengantar tidur atau karena rindu menginginkan orang tua yang memperhatikan mereka? Bukankah sangat meyakitkan jika berharap air susu namun air tuba yang diterima? Maka tangan ini hanya ingin menggiring mereka ke atas tempat tidur, mendekap dan meninabobokan. Atau tangan ini hanya ingin mengambil beberapa buku atau mainan untuk melengkapi kebersamaan. Bagaimana mungkin tangan ini tega memukul mereka yang sedang kesulitan mengungkapkan kekecewaan dan keinginan dengan lisannya sehingga yang dilakukan hanya meronta dan memukul-mukul ibunya. Sementara saat itu kami sedang ingin mengajarkan mereka untuk mengungkapkan keinginan dengan kata-kata baiknya, bukan dengan tangan mereka. Bukanlah memukul mereka yang sedang belajar berucap dengan lisan hanya akan mengajarkan mereka berbahasa dengan tangan?. Alasan apa? alasan apa yang membuat mereka layak untuk dipukul?
Ya! saya pernah memukul Ali saat usianya sudah 10 tahun, saat ia lupa mengerjakan shalat fardu “maaf ya nak, ini bukan keinginan ummi, ini perintah dari Allah supaya aa mengerti betapa seriusnya perintah shalat” Paaak! pukulan ringan pun diayun pada bagian belakang tubuhnya. Ya! saya pernah memukulnya karena itu perintah Allah untuk memukul anak yang meninggalkan shalat jika ia telah berusia 10 tahun. Adakah perintah lain selain itu untuk memukul? Tapi saya pun seorang manusia, bukanlah malaikat yang tanpa dosa. Pernah suatu ketika, satu kali, tangan ini memukul Shiddiq saat ia mengungkapkan kekecewaanya dengan berbicara yang bernada tidak sopan terhadap ibunya (mwnyolot). Paaaak! tanpa sadar tangan saya mengayun memukul pipinya, meski tak keras rasanya. lalu seketika “Astagfirullah i’m sorry Shiddiq that was not me! That was syaitan! I dont know why i did that! I am so sorry honey” Saya sangat menyesal melakukannya, tapi saya pun terkaget-kaget mengapa tangan ini mengayun memukulnya. Tahukah sahabat bagimana reaksi Shiddiq yang belum pernah dipukul sebelumnya? “Ummi if you hit me, that’s mean you teach me to do that again!” Astagfirullah, lalu saya pun segera membalasnya dengan pelukan dan ciuaman maaf. Ya betul! saya sedang mengajarkan kepada mereka tentang ketidakbijaksanaan. Tahukah sahabat ternyata kejadian yang hanya sekali itu sangat membekas dalam ingatan shiddiq, sangat membekas, sangat membekas. Setahun kemudian saat saya menasihati Faruq yang memukul saudaranya saat frustasi saya bertanya “kenapa abang Faruq pukul-pukul? dari ana abang belajar, ummi kan gak pernah mukulin abang” Tiba-tiba shiddiq menghampiri saya sambil tersenyum “remember ummi! you do that to me one time! but you said that was an accident. You like after drink wine at that time hahahah” Saya pun tertawa karena tambahan alasannya, sekaligus menyesal, sekaligus menyesal, sekaligus menyesal, bahwa saya tak bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus kembali satu pukulan itu, yang hanya satu, hanya satu. Maafkan hamba ya Allah, maafkan ummi nak.
Kenyataannya, kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita tengah mengajarkan mereka tentang hak untuk melakukan hal yang sama. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, mungkin mereka menghentikan perilakunya, namun luka dalam hatinya akan membahayakan masa depan mereka dan merusak hubungan antara kita dengan mereka. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita menghilangkan kesempatan belajar bagi mereka tentang kebijaksanaan menyelesaikan masalah yang berperikemanusiaan. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, syeitan masuk dalam kemarahan yang akan memungkinkan kita melakukan yang lebih berbahaya bagi mereka. Kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, yang ada hanyalah rasa sakit dalam lahir dan membekas dalam batin
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berusaha menahan tangannya
Kiki Barkiah

 

CKSMA B-1 Ketika Doa Mulai Bekerja

Tarbiyatul Aulad – Ada satu masa dimana saya begitu cemas dan khawatir. Dibalik segala kenyamanan dan kebahagiaan merasakan berbagai fasilitas pendidikan dan rekreasi di Amerika, ada hal yang sangat mengiris perasaan saya. Tentang masjid dan tentang shalat anak-anak. Cemburu rasanya melihat cerita anak-anak sahabat-sahabat di Indonesia yang gemar ke masjid setiap hari untuk menegakan shalat. Sementara anak kami??? Butuh perjalanan yang hampir sejauh Jakarta-Bogor untuk pergi ke mesjid besar melaksanakan sekolah islam akhir pekan. Butuh perjalanan menggunakan mobil bila ingin pergi shalat ke mushola kecil dekat rumah kami. Perasaan saya semakin miris melihat kondisi sulitnya kami dapat shalat di awal waktu. Mengapa? jujur saja, hidup di Amerika membutuhkan penyesuaian jadwal yang tidak mudah. Setiap musim durasi terangnya matahari selalu berubah-ubah, maka jadwal shalat selalu bergeser setiap saat. Bahkan pada saat summer kami harus menunggu sampai pukul 10.00 malam untuk dapat shalat isya. Lalu harus bangun sangat pagi untuk shalat subuh sekitar pukul 4.00. Tubuh kami harus terus menyesuaikan perubahan-perunahan yang kadang terasa sangat melelahkan. Bagaimanapun ketika matahari masih terang pada pukul 9.00 malam, kami pun tidak bisa memaksa tubuh kami untuk memiliki ritme seperti malam hari yang sudah harus berbaring istirahat. Kami masih harus menunggu adzan magrib dan isya. Bukan hanya perlu memasang adzan yang akan berbunyi secara otomatis dengan jadwal yang berubah-ubah, tetapi kadang ritme pola hidup pun harus terus menerus menyesuaikan diri. Terus terang hal itu tidak mudah. terkadang sering kami tidak menyadari bahwa waktu shalat sudah bergeser jauh, sementara ritme kerja belum disesuaikan berubah. Hidup seperti kejar-kejaran dengan waktu, baru selesai menyesuaikan ritme kerja agar dapat shalat di awal waktu, jadwal shalatpun kembali berubah.
Saat itu ada hal lain pula yang membuat saya begitu sedih. Sampai usia sebelum 7 tahun Shafiyah anak kami yang kedua belum juga mau melaksanakan shalat. Setiap kali diajak shalat ia selalu menolak. Ia mau mengaji, ia mau menghafal quran, ia gemar mendengar cerita tentang agama islam, tapi entah kenapa hatinya belum tergerak untuk shalat. Beragam materi pengantar tentang Shalat saya berikan terutama tentang mengapa manusia harus menegakkan shalat. Setiap kali kami shalat, kami terus mengajaknya, sesekali ia mau ikut, tapi ia lebih banyak menolak. Mengacu pada hadist yang memerintahkan kita untuk memberikan pendidikan shalat di usia 7 tahun, maka kami tidak pernah memaksa Shafiyah untuk melakukan shalat. Setiap kali Shafiyah menolak melakukan shalat saya hanya berkata padanya “Oke kalo sekarang belum mau belajar shalat tidak apa-apa, tapi kalo sudah 7 tahun insya Allah teteh mau mulai ya, karena ummi disuruh Allah untuk mulai ngajarin anak belajar shalat di usia 7 tahun, bukan dari ummi lho perintahnya, itu dari Allah” Shafiyah sangat mengingat kalimat itu, pernah saat beberapa minggu mengjelang usianya yang ketujuh Shafiyah berkata “actually i am affraid to be 7” Saat itu perasaan saya sangat khawatir, khawatir memberikan kesan yang sangat berat baginya untuk mulai melaksanakan pembebanan ibadah untuk pertama kali. Namun hati ini terus berdoa agar Allah menjadikan anak-anak keturunan kami sebagai hamba yang menenggakan shalat, meneggakan shalat di awal waktu dan sangat berharap kelak mereka dekat hatinya dengan masjid.
Sampailah hari dimana ulang tahun Shafiyah yang ketujuh pada tanggal 2 Maret 2015 lalu. Tepat satu hari sebelumnya, saya menutup hari dengan kalimat yang mengingatkan bahwa mulai besok, Allah sudah memberikan perintah bagi kami untuk mengajarkannya shalat lebih serius. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa kami. tepat di hari ulang tahunnya ia mau bangun di waktu subuh untuk menngerjakkan shalat. Sejak saat itu, kami meluangkan waktu untuk mengajarkan bacaan shalat lebih keras setiap hari saat ia shalat subuh. Sementara shalat lainnya ia lakukan berjamaah bersama anggota keluarga lainnya. Alhamdulillah sejak hari ulang tahunnya ia sangat berkomitmen mengerjakan shalat 5 kali sehari tanpa sulit diperintah. Meskipun pada awalnya ia belum bisa shalat di awal waktu. Hal ini terjadi lebih karena kesalahan saya yang kurang mudah melakukan penyesuaian ritme jadwal homeschooling dan kerja rumah tangga, dengan perubahan jadwal adzan setiap harinya. Namun demikian, setiap kali saya mengumandangkan iqomah dengan suara yang membesar, kedua anak kami yang sudah wajib shalat, terutama Shafiyah yang sangat baik dalam hal pendengaran, akan segera berlari meninggalkan pekerjaannya dan mengambil air wudhu untuk shalat berjamaah. Lalu bagaimana dengan adik-adiknya? tentu masih membutuhkan proses untuk memulai shalat. Bahkan pernah saat mengajak Shiddiq shalat ia hanya menjawab “can i do it when I seven?” lalu saya hanya memberikan pengertian “tidak apa-apa kalo bang Shiddiq dan Faruq tidak mau belajar shalat sekarang, duduk saja disekitar sini, tetapi tidak boleh menganggu ya!” Meskipun begitu, menjadi kuda-kudaan saat shalat adalah bagian dari cerita sehari-hari.
Kini episode kehidupan kami yang baru kembali di mulai. Alhamdulillah atas ijin Allah, Allah kembali mengabulkan doa saya. Doa saat kami menginginkan anak-anak semakin dekat dengan mesjid dan dapat berkomitmen shalat di awal waktu dengan berjamaah di masjid. Alhamduliah bahagia sekali rasanya tergopoh-gopong mendorong sepeda bayi atau stroller ganda, mengejar sepeda anak-anak yang melaju mengejar iqomah minimal 4 waktu shalat setiap harinya. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya melihat mereka yang selalu sibuk ketika adzan berkumandang, “I heard adzan, come on!” lalu berebut mengambil air wudhu dan berhamburan dengan sepedanya masing-masing. mereka begitu bersemangat bersepeda ke masjid, karena sekolah kami hanya di rumah. Bahkan di satu waktu Shiddiq pernah marah pada saya karena saya menyebabkan ia terlambat mengejar iqomah. Alhamdulillah doa yang saya panjatkan kini tengah bekerja, meski untuk mengabulkannya Allah memberikan takdir terbaikNya. Bapak harus kehilangan pekerjaan di Amerika karena kantornya yang tutup. Atas kehendak Allah pula, jenis visa yang kami miliki tidak mudah untuk memperoleh perusahaan baru yang dapat memberi sponsormeskipun tawaran pekerjaan baru terbuka. Alhamdulillah melalui takdirNya, insya Allah, Allah tengah memberikan kebaikan-kebaikan baru sebagai jawaban dari doa-doa terbaik kami. Damparkan kami ya Allah! Damparkan kami ya Allah! ke tempat dimana Engkau semakin mendekatkan diri kami pada surga! Kuatkan, mampukan, dan mudahkan ditempat mana Engkau berkehendak mendamparkan kami selanjutnya.
Doa…Doa…Doa… Doalah senjata ibu yang istimewa. Kala lisan tak mampu mengarahkan dan tangan tak mempu menuntun mereka, maka doalah senjata yang utama. maka diri yang lemah ini masih menanti kelak doa yang diucapkan kembali bekerja.
Setiap kali menyapa mereka, atau menjawab panggilan mereka, maka kata sapaan yang diucapkan adalah doa “iya anak sholih, calon hafizh quran, calon ahli quran, calon alim ulama!”
Saat melihat balita yang tantrum berguling-guling mempertahankan keinginannya, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anak-anakku, hamba-hambaMu yang penyabar, mampukan ia menyampaikan keinginan dengan cara yang baik, beri hambaMu kemampuan untuk mengerti maksudnya. Jadikanlah kegigihan yang dimiliknya menjadi kegigihan untuk membela agamaMu ya Allah”
Saat melihat balita yang sering menyelesaikan masalah dengan memukul, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Anak sholih, calon ahli quran, jadilah engkau sebaik-baik pemuda di jamanmu, jadilah engkau pemuda yang paling penyayang, menyayangi orang misikin dan anak yatim, penegak perdamaian di dunia”
Saat melihat anak yang berperilaku menyulitkan, saya alihkan kemarahan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anakku, anak yang memudahkan urusan orang lain, sehingga dengannya Engkau mudahkan urusannya di dunia dan akhirat”
Saat menyuruh anak bangun subuh namun belum juga bergegas mengambil wudhu dan pergi ke masjid, saya alihkan kekesalan ini dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anakku anak-anak yang menegakan shalat di awal waktu, jadikanlah mereka pemuda yang memiliki waktu subuh yang berkah”
Saat menghadapi anak-anak yang bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah “ya Allah lembutkanlah lunakkanlah hati anak-anak hamba ya Allah jadikanlah mereka hambaMu yang memudahkan setiap urusan”
Saat Shiddiq rewel menyebalkan, memanggil dengan suara rewelnya” Ada apa anak sholih? Calon hafidz quran! calon ahli quran, calon ilmuwan, calon penemu dan pembukti kebenaran quran melalui penemuan-penemuannya”
Saat Faruq selalu mengotori dapur dengan ekplorasi pembuatan makanan atau susu yang tidak pernah mau dibantu “Anak sholiiiiiiih, calon ahli quran, calon pengusaha makanan terbesar di dunia yang kaya rayaaaaaa, yang dermawan, yang menginfakkan hartanya untuk perjuangan islam, udah dulu yaaaaaaaa eksplorasinya ini makanannya tumpah kemana-mana anak sholih, sayang, mubadzir!”
Saat Fatih sering sekal ditemui sedang memainkan air, baik di kamar mandi maupun di ember rendaman atau pel lantai “anak soliiih, calon ahli bahari yang akan memajukan perikanan dan kelautan Indonesia… Udah dulu ya main airnya”
Saat terkaget-kaget melihat suasana rumah yang hancur lebur karena eksplorasi anak-anak yang tak terduga, saya mengalihkan kekesalan dengan memanjatkan doa “Ya Allah jadikanlah anak-anakku ahli ilmu, ahli dalam beramal, ahli dalam berkarya, yang dengan karyanya mereka menolog agamaMu, yang dengan karyanya mereka menjadi manusia yang paling bermanfaat”
Apa saja…. Apa saja… Apa saja yang membuat dada ini hampir bergejolak, maka kemarahan ini segera diubah menjadi doa-doa kebaikan sesuai dengan apa yang sedang kami harapkan saat itu terhadap anak-anak kami. Kami masih menanti dan terus menanti, kelak doa-doa itu akan bekerja untuk kami, Insya Allah, Insya Allah
Batujajar, Jawa Barat
Dari Seorang Ibu yang tak bosan berdoa untuk anak-anaknya
Kiki Barkiah
Sumber gambar (islamgreatreligion.wordpress.com)

Membangun dan Meningkatkan Kesabaran Dalam Mengasuh dan Mendidik Anak


Tarbiyatul Aulad – Berikut beberapa prinsip yang perlu dipahami untuk membangun dan meningkatkan kesabaran dalam mengasuh dan mendidikan anak. Prinsip tersebut terangkum dalam singkatan ANAKMU LADANG SURGAMU:
A— Anak adalah anugrah dari Allah serta warisan berharga yang akan menjadi simpanan kita. Tidak semua orang memiliki anugrah ini, maka perlakukanlah mereka diatas dasar cinta dalam keadaan dan perasaan apapun agar kelak mereka dapat menjadi simpanan terbaik kita
N— Nanti kelak apa yang ditanam akan kita petik hasilnya, maka pastikan selalu menanam kebaikan kepada mereka dalam keadaan dan perasaan apapun.
A— Allah tidak akan memberikan amanah dan cobaan diluar kesanggupan hambaNya, maka dalam keadaan dan perasaan apapun, yakinlah bahwa kita bisa melakukannya meski terkadang harus melipatgandakan kekuatan.
K— Komunikasikan setiap kesulitan dan permasalahan dalam pengasuhan anak kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan petunjuk dalam penyelesaiannya
M— Mereka terlahir dalam fitrah kebaikan, jika kita menjaga kesucian dan tidak merusak fitrahnya dengan selalu mengajarkan kebaikan, insya Allah mereka akan selalu dalam kebaikan dan baik-baik saja
U— Untuk memilih sikap, manusia diilhamkan dua jalan oleh Allah, jalan fujur dan jalan taqwa, maka sangatlah wajar jika sesekali kita melihat sikap negatif anak kita meski kita merasa tidak mengajarkannya. Tetaplah istiqomah mengajarkan kebaikan dan meluruskan perilaku yang buruk tanpa peduli kapan nasihat kita akan benar-benar bekerja dan berbuah perilaku baik mereka
—–0—-
L— Lihatlah lebih dalam, apa motif dan alasan seorang anak melakukan sesuatu, sehingga kita lebih bijak dalam merespon perilakunya. Sesuatu yang mungkin terlihat salah dalam pandangan kita, bisa jadi merupakan sebuah pengalaman belajar yang mengesankan bagi mereka.
A— Atasi permasalahan anak sampai pada akarnya, karena biasanya sikap yang muncul ke permukaan belum tentu menggambarkan permasalahan yang sesungguhnya. Namun mengatasi permasalahan anak sampai pada akar masalah, insya Allah akan turut menyelesaikan permasalahan yang muncul ke permukaan
D— Dalam setiap tahapan usia, anak memiliki kapasitas intelektual dan emosional tersendiri. Memahami tahapan perkembangan kemampuan anak akan membantu kita menaruh ekspektasi yang lebih tepat.
A— Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, anak terlahir sebagai karunia dengan potensi yang unik beserta tempramen bawaannya masing-masing. Memahami keunikan potensi anak serta tempramen bawaannya akan membantu kita lebih tepat dalam merespon dan membangun lingkungan bagi tumbuh kembangnya
N— Negasi dalam berperilaku terhadap apa yang diperintahkan atau dianjurkan oleh orang tua adalah sebuah kewajaran bagi seorang anak di awal-awal tahun usianya. Tetaplah konsisten dan istiqomah menegakkan aturan yang diberlakukan secara bertahap sesuai tahapan usia dan kemapuan anak serta terus menjelaskan sebab dan akibat sebuah aturan ditegakkan. Bila negasi terhadap perintah cenderung masih sering dilakukan saat anak-anak berusia lebih besar, maka perlu adanya perbaikan pola komunikasi dan hubungan yang dibangun antara anak dan orang tua.
G— Gangguan eksternal, ketidaknyamanan, perasaan tidak aman, perubahan suasana, serta tidak terpenuhinya kebutuhan dasar seorang anak seperti makan dan tidur, biasanya memicu munculnya perilaku negatif. Memenuhi kebutuhan dasar serta menjalankan rutinitas standar biasanya akan mengurangi munculnya perilaku negatif. Saat perilaku negatif muncul, coba perhatikan hal-hal sederhana di sekitar mereka yang mungkin menjadi penyebab munculnya perilaku negatif.
—–0—–
S— Sampaikan nasihat dalam suasana yang tenang dan penuh kasih sayang sehingga anak dalam keadaan siap mencerna dan menerimanya. Cari waktu dan momentum yang paling pas dalam menyampaikan nasihat
U— Upayakan agar dapat menghadapi anak-anak dalam keadaan melelepas semua beban permasalahan di tempat lain. Pilah masalah yang kita hadapi serta selesaikan secara terpisah sesuai skala prioritas. Jangan melampiaskan emosi negatif akibat adanya permasalahan lain yang sedang kita hadapi ke anak-anak.
R— Rekreasilah dan lakukan hal-hal yang dapat menambah dan memperbaiki semangat kita dalam menghadapi anak-anak. Perasaan bahagia dan kesehatan mental orang tua merupakan modal penting dalam menciptakan kesehatan pola asuh anak
G— Gunakan gaya komunikasi, pilihan kalimat dan nada komunikasi yang disesuaikan dengan usia, tempramen dan karakter anak serta kasus permasalahan yang dihadapi. Gaya komunikasi, pilihan kalimat bahkan nada komunikasi akan menentukan keberhasilan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.
A— Agendakan secara rutin untuk berkomunikasi dengan pasangan terhadap perkembangan dan permasalahan seputar pengasuhan anak. Satukan visi misi, tingkatkan kapasitas ilmu bersama, serta bekerjasama secara harmoni dengan pasangan dan orang-orang disekitar anak-anak kita. Perjuangan kita dalam mencapai visi akan sangat berat jika tidak sejalan dengan orang-orang disekitar anak-anak kita
M— Mudahlah dalam memberi maaf terhadap kesalahan yang bersifat tidak disengaja atau terlupa, karena Allah pun memaafkan dosa manusia yang dilakukan dalam keadaan lupa, tidak disengaja dan terpaksa. Hal terpenting dalam menyikapi sebuah kesalahan anak adalah anak mengerti dimana letak kesalahannya serta mendapat hikmah dari kejadian yang dialaminya.
U— Ucapkan doa terbaikmu untuk anak-anak saat engkau merasa telah mencapai puncak keasabaran dan sangat ingin marah, agar kata-kata yang engkau keluarkan menjadi doa kebaikan yang diijabah oleh Allah SWT
Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang Alhamdulillah masih Allah karuniakan kesabaran ditengah keadaan dan perasaaan yang dialaminya
Kiki Barkiah

Pengasuhan Anak
Baca juga Renungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

Renungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta


Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

Episode LDR kembali mewarnai kehidupan kami. Alhamdulillah anak-anak semakin mandiri, semakin dapat mengurusi keperluan sendiri. Sehingga meski dirumah tanpa suami yang kini bekerja di luar kota, juga tanpa anak sulung Ali yang kini sedang menuntut ilmu di pesantren, juga tanpa bibi yang hanya bekerja setangah hari, alhamdulillah tidak ada perasaan repot berlebihan dalam mengurus keperluan anak-anak.
Tetapi perubahan kondisi emosi anak-anak tetap memberi pekerjaan tersendiri. Kini giliran Fatih (1,5) yang merasa sangat kehilangan. Fatih selalu menangis hebat saat berpisah dengan ayahnya. Lalu jika ayahnya berkunjung ke Bandung, ia bahkan tidak mau lepas dari sang ayah. Ia bahkan hanya ingin di bantu oleh ayahnya dalam memenuhi keperluannya. Sering sekali menolak tawaran saya dalam melayani kebutuhannya saat ada ayahnya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain, jika merasa sedih, kecewa atau frustasi, sering sekali menangis ingin berkumpul dengan ayahnya. Alhamdulillah ini menunjukkan bahwa suami saya benar-benar menjadi ayah yang dirindukkan oleh anak-anaknya.
Peristiwa ini membuat saya merenung, betapa tidak mudah membagi waktu, pikiran dan tenaga dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Bayangkan jika hanya terbagi dengan urusan mencari nafkah saja, keadilan itu sulit sekali terjaga, bagaimana dengan keadilan saat seorang suami membangun lebih dari satu keluarga? Karena keadilan tak sekedar urusan harta, keadilan juga buka sekedar urusan perasaan istri-istrinya. Namun ada sekian anak dibawah pemeliharaan dan tanggung jawabnya yang juga menanti giliran mereka untuk dapat berinteraksi dengan ayahnya.
Sebagai seorang istri dari suami yang memiliki banyak anak, saya tau betul bagaimana suami perlu melipatgandakan kekuatan untuk meluangkan waktu agar seluruh anak-anaknya dapat mendapat hak akan perhatian yang sama. Sementara waktu yang harus dibagi hanyalah berkaitan dengan urusan mencari nafkah atau menuntut ilmu. Masya Allah betapa para laki-laki yang memilih poligami harus betul-betul melipatgandakan kekuatan untuk membagi seluruh cinta, perhatian dan waktu yang dimilikinya. Karena jatah giliran tak melulu persoalan pemenuhan kebutuhan biologis setiap pasangannya. Disana ada anak-anak yang menanti bimbingan dan nasihat, serta menanti canda tawa dan bercengkrama dengan ayahnya.
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua pun harus mengatur porsi waktu dalam karirnya agar keseimbangan perannya dalam keluarga dapat terjaga.
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua harus mengatur beban pikirannya agar masih dapat mencurahkan pikirannya dalam memikirkan keadaan keluarga .
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan kepala keluarga harus mengatur keuangan dengan sangat bijaksana agar keseimbangan finansial dapat terjaga. Menjadi adil untuk satu keluarga saja begitu berat pertanggungjawabannya. Maka hanyalah orang-orang yang luar biasa yang pantas untuk berani mengambil tanggungjawab lebih untuk dapat berbuat adil dalam memimpin lebih dari satu keluarga. Maka lipatgandakanlah ketakwaanmu sebelum engkau membagi cinta. Lipatgandakanlah keuatan dan kemampuanmu sebelun engkau membagi cinta.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri biasa yang bersuamikan suami biasa, yang masih berupaya untuk dapat adil kepada satu keluarganya
Kiki Barkiah
Sumber gambar kompasiana.com