Ibu Rumah Tangga

1. saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Muslim | papi sempat menasihati saya perihal “Ibu Rumah Tangga”
2. “lix, selama papimu masih bisa mencukupi keluarga, mamimu tugasnya di rumah” | tegas papi berpendapat soal IRT
3. padahal saat itu isu feminisme sedang santer | wacana wanita karir sedang panas-panasnya | arus genderisme mewabah
4. tapi papi tenang aja lalu menyampaikan | bahwa dia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya | dan itu berarti perhatian full dari ibu mereka
5. hidup kala itu tidak mudah, dan akal lebih mudah seandainya mami bekerja | tapi papi sudah mengambil pilihan, dan itulah yang ia jalani
6. karena semua manusia punya pilihan | apa yang didapat dan apa yang dikorbankan | semua selalu tentang pilihan
7. sebelum Muslim pun saya tumbuh dengan memahami | lelaki dan wanita tidaklah sama | mereka punya kelebihan di bidang masing-masing
8. posisi ibu dalam dunia anak itu tidak tergantikan | perhatian seorang ibu pada anaknya takkan terbeli sebanyak apapun harta
9. dan posisi ibu itu tidak bisa diulang kembali | karena umur anak takkan bisa diputar lagi
10. maka ketika memilih calon ibu dari anak-anak kami syaratkan | “maukah engkau menjadi fulltime-mother bagi anak-anak?”
11. “saya nggak mau ketika anak dewasa lalu bermaksiat, kita menyesal ‘mengapa dulu tidak habiskan lebih banyak waktu bersamanya?!'”
12. itu pemahaman sebelum Muslim | saat sudah mengenal Islam | kami memahami betul Islam paling memuliakan wanita
13. feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses
14. feminisme menganggap waniat modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan
15. feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat dll
16. wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme | wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak | kerja lebih asyik
17. menurut pandangan feminis | IRT itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita
18. wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga
19. US misalnya yang jadi kampiun feminisme | angka perceraian mencapai 50% per 2012 sila rujuk http://t.co/OUvEkdUY8L
20. “nearly 80% cited financial problems as the leading cause of the marital demise” (Carr, 2003, p.10) | http://t.co/zQFsyYQuqe
21. feminisme mangaburkan fungsi ayah dan ibu dalam rumah tangga | hanya semata-mata demi mendapat lebih banyak materi
22. akhirnya meningkatlah angka single parents http://t.co/k9eNybXtq7 | dan jelas broken home http://t.co/yUvU499gT9 http://t.co/qAjjFfHBQJ
23. banyak juga studi-studi yang menperingatkan | sangat sulit untuk memadukan ibu dan karir sekaligus | http://t.co/mu5t6N2u3m
24. sebagai tambahan, US yang melahirkan gerakan feminisme saja | sudah banyak bermunculan gerakan anti-feminisme sebagai gantinya
25. di US, sudah banyak wanita sadar bahwa feminisme mengorbankan keluarga | mereka ingin kembali menjalankan peran ibu rumah tangga
26. karena seberapa banyak waktu pun yang didedikasikan untuk mendidik anak | tiada pernah akan ada waktu yang cukup untuknya
27. “saya ibu sekaligus karyawan, anak saya baik-baik saja” | di-sambi aja sudah baik, apalagi bila fulltime-mother? tentu sangat baik 😀
28. lalu pertanyaan prinsipil | “apakah Islam melarang wanita bekerja?” | “apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?”
29. dalam Islam hukum wanita bekerja itu mubah (boleh) | sedangkan menjadi “ibu dan pengelola rumah tangga” itu kewajiban
30. jadi sah-sah saja wanita memilih bekerja | namun beres juga kewajibannya | tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama
31. hidup memang perkara pilihan | dan Islam memerintahkan untuk memaksimalkan waktu ibu untuk anak-anaknya | urusan uang biar ayahnya
32. bagaimana dengan wanita yang ditinggal suami apapun alasannya | maka bekerja menafkahi anak tentu amal pahala besar baginya 🙂
33. maka karir terbaik wanita | adalah menjadi ibu sepenuhnya
34. tentang pendidikan? | tidak bosan-bosan saya sampaikan | bahwa seorang ibu HARUS terdidik sempurna, tinggi dan luasnya
35. bahkan wanita Muslimah WAJIB lebih terdidik daripada lelaki | karena ialah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) anak-anaknya
36. maka jangan tanya “untuk apa pendidikan tinggi bila hanya jadi IRT?” | jadi IRT justru perlu pendidikan tinggi
37. karena di tangan kaum ibu generasi Muslim berada | bukan di tangan ayah generasi Muslim dibentuk
38. banyak wanita yang seb
etulnya bisa menggapai dunia lebih dari lelaki | tapi mereka mengorbankan segalanya demi anaknya | MULIA
39. dari ibunda MULIA semisal itulah | menjadilah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad
40. rata-rata ulama besar menghabiskan masa kecil dalam yatim | ibu merekalah yang mendidik dan mendaras Al-Qur’an setiap waktu
41. sembah sujud kami pada Allah yang selalu menjaga dunia dengan para ibunda MULIA | yang mau mengorbankan semua buat kami anak-anaknya
42. hormat khidmat kami padamu wahai ibu | yang gadaikan semua waktu tanpa sesal dan keluh | membina kami jadi yang terbaik dalam agama
43. pada para bunda MULIA doa kami | “Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduanya TELAH MENDIDIK AKU WAKTU KECIL” (QS 17:24)
44. kembali lagi semua masalah pilihan | part-time mother or full-time mother? | you decide 😀
===============

Mengendalikan Marah Kepada Anak (Tips Parenting)

1| Hal yg mesti menjadi fokus orangtua adalah bagaimana melatih diri untuk bisa mengasuh anak tanpa marah
2| Tak marah bukan berarti membiarkan perilaku negatif anak. Orangtua harus tegas untuk meluruskan anak jika menyimpang
3| Rasulullah mengatakan “jangan marah” dan menjanjikan surga bagi yg bisa melakukannya tersebab perilaku marah tak pantas dibiasakan
4| Marah yg diselimuti ekspresi menyeramkan serta kasar, alih-alih membuat anak berubah, justru malah trauma yg dirasakan anak. Anak pun terluka
5| Anak pun belajar untuk meluapkan marah dari cara kita mengekspresikannya. Sehingga kemarahan itu adalah emosi negatif yang menular
6| Marah juga mematikan daya berpikir anak. Sebab, menstimulasi batang otak anak. Alhasil anak berperilaku dengan batang otak tanpa berpikir
7| Anak yg berperilaku dengan batang otak atau otak reptil, maka bertindak secara reflek saat tertekan : melawan atau kabur. Ini buah dari marah yang tak tepat
sunglasses emoticon Lantas bagaimana jika anak melakukan kesalahan? Apakah dibiarkan? Tentu tidak. Kita harus tegas, tapi tak perlu marah-marah
9| Tegas bermakna mengikat anak kepada aturan. Maka perlu aturan yang jelas dan tersampaikan kepada anak. Agar kita tidak perlu marah
10| Mulailah dengan ingatkan anak kepada aturan yg sudah dibuat secara tegas. Agar kita tak perlu marah yang jelas-jelas merugikan kita termasuk anak-anak
11| Kalau boleh jujur, kadang ortu mencampuradukkan masalah di luar saat menangani anak yang berperilaku salah. Marah pun tak terbendung
12| Padahal bisa jadi kesalahan anak tak seberapa, namun ‘sampah’ emosi yang kita bawa dari luar tertumpah di hadapan anak
13| Maka sadari diri sebelum marah, apakah kita yang bermasalah ataukah anak yg jadi penyebabnya?
14| Pengakuan jujur bahwa emosi kita sebenarnya sudah kotor sejak awal sebelum bertemu anak, menunjukkan sayang kita, tak ingin lukai anak
15| Maka menghindarlah dari anak untuk sementara atau minta pasangan kita ambil alih penanganan kepada anak
16| Redakan marah yang mau tertumpah dengan cara segera berwudhu, berpindah tempat dan menghirup udara yang segar
17| Pandangi foto anak kita saat bayi dan katakan : ‘Tegakah dirimu menyakiti bayi ini yang kehadirannya kamu nantikan hingga berbulan-bulan?
18| Jika sudah nyaman dan emosi positif tumbuh, segera datangi anak dan katakan perasaan kita. Contoh : ayah kecewa, bunda kesal, dan lain lain
19| Sebutkan perilaku anak yang membuat kita kecewa dan kesal agar tak melabelling anak sebagai pelaku yg selalu salah. Anak merasa dihargai
20| Ingatkan anak dengan lembut namun tegas akan aturan yg sudah dibuat. Tak perlu marah. Agar anak menyadari kesalahannya
21| Boleh berikan konsekuensi atas perilaku anak yang salah agar anak berpikir. Konsekuensi terbaik adalah menunda kesenangannya
22| Lihatlah bagaimana cara Allah memberikan konsekuensi kepada Nabi Adam atas pelanggaran yg dilakukannya utk tidak dekati pohon terlarang
23| Allah ingatkan Adam akan aturannya. Dan saat Adam melanggar maka Allah berikan konsekuensi dengan diambil kesenangannya yakni surga
24| Maka adam pun menyadari kesalahannya dgn ucapkan doa “Rabbana zholamna anfusana”. Ini adalah pengakuan akan salah
25| Kisah lengkap ada di Alquran (7:11-25). Hendaknya, begitulah cara kita mengelola marah kepada anak agar yang muncul adalah perbaikan jiwa
26| Marah hanya memuaskan syahwat liar kita. Tak peduli dampaknya. Namun tegas, yang kita inginkan perbaikan perilaku anak. Amat beda
27| Semoga kita bisa belajar kendalikan marah kita namun tetap tegas akan perilaku anak yg menyimpang. Mohon maaf jika kurang berkenan
==========================

Cinta

 1. cinta tidak sama dengan kebutaan, cinta itu penglihatan | cinta itu tidak sama dengan mabuk, cinta itu kesadaran
2. bukan cinta, tapi nafsulah yang akan menyesatkan bila dituruti | bukan cinta, tapi nafsulah yang menistakan bila tidak dikemudi
3. akan tetapi cinta, dia berwujud ketika akal yang mengambil alih jiwa | cinta itu ajeg, kalem, adem, tidak menggebu, memburu dan sia-sia
4. maka cinta pada Allah barul didapat saat kita gunakan akal | menilik alam semesta dan tak ada barang sedikitpun hal yang batil
5. cinta Rasulullah kita dapatkan apabila tahu pengorbanan beliau | kasih sayangnya dan akhlaknya, memesona siapapun yang berilmu
6. cinta itu logis, cinta itu tentang bahagia masa dijelang | bukan soalan tentang nikmat sesaat dan sekarang
7. maka apakah itu cinta? bila justru maksiat? | apakah itu cinta bila dengan Allah saja tidak taat?
8. lalu apakah cinta apabila akalmu engkau abaikan | lalu biarkan perasaan mengambil alih kehidupan?
9. dan apakah cinta seseorang yang mengabaikan hak Tuhannya | lalu engkau berencana jadikan dirinya pasangan hidup, adakah bahagia?
10. tidak masuk akal, engkau katakan semua itu karena cinta | sementara engkau setiap waktu melanggar peringatan Nabi
11. tidak masuk akal, engkau katakan dialah cinta yang setia | sementara kata-kata penuh maksiat diumbar sebelum waktunya
12. mencari suami yang taat, lewat cara pacaran yang maksiat | sama seperti berdoa inginkan surga, tapi tak mau lepas dari dosa
13. padahal Allah sudah tunjukkan bagimu jalan yang halal dan indah | namun engkau lebih percaya nafsu dan beralasan lakukan yang salah
14. sesiapa yang mengenal Allah, Allah kenalkan pada hamba-Nya | yang mengenal-Nya juga, dan yang mencintai-Nya lebih dari segalanya

Mengajarkan “Membaca” Memang Sejak Lahir

Sebelumnya saya pernah posting tulisan ini, tetapi belum utuh karena masih menunggu pemuatan di majalah Hidayatullah. Ini merupakan bentuk menjaga etika menulis. Tulisan utuh berikut ini dimuat di majalah Hidayatullah edisi Juni 2015.
***
“Marilah kita akhiri acara kita dengan sama-sama membaca do’a penutup majelis.” Anda pernah mendengar ungkapan semacam itu? Apakah yang dimaksud dengan membaca pada kalimat tersebut? Apakah kita kemudian mengambil secarik kertas yang berisi tulisan do’a, lalu membacanya? Tidak. Yang dimaksud dengan membaca pada perkataan tersebut adalah reciting, yakni mengucapkan satu kalimat atau serangkaian kalimat yang kita bahkan telah menghafalnya. Sama halnya dengan penggunaan kata membaca dalam ungkapan “pembacaan do’a yang akan dipimpin oleh…” sama sekali tidak merujuk kepada tindakan seseorang untuk mengambil secarik kertas atau buku yang berisi serangkaian do’a, membacanya, lalu orang lain juga melakukan hal yang sama, yakni membaca tulisan yang dipimpin orang tersebut. Yang terjadi adalah, seseorang berdo’a sementara yang lain mengaminkannya. Tetapi kegiatan ini kita menyebutnya dengan membaca.
Berkait dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, kita mengenal kegiatan membaca bil ghaib dan bil nadzri. Yang dimaksud dengan membaca Al-Qur’an bil ghaib adalah “membaca” tanpa melihat mushhaf. Jika diterapkan pada anak-anak, misalnya kita melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu anak menirukannya. Atau pada tahapan lebih awal lagi cukup dengan memperdengarkan. Tetapi kita mengenalnya dengan istilah membaca, padahal yang terjadi adalah memperdengarkan. Adapun membaca bil nadzri adalah membaca Al-Qur’an dengan melihat mushhaf, memahami kaidah-kaidah membaca, mengenali huruf-hurufnya serta hukum bacaannya.
Di sini kita melihat sekurangnya ada tiga arti membaca Al-Qur’an. Pertama,memperdengarkan kepada bayi ayat-ayat yang kita hafal (reciting aloud) atau kita baca dengan melihat mushhaf (reading aloud). Dalam hal ini, proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan baginya untuk menghafal (memorizing) di kemudian hari. Kedua, memperdengarkan kepada anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Proses memperdengarkan tersebut dapat berbentuk reciting aloud, dapat pula berupa reading aloud. Hanya saja anak kita minta untuk menirukan. Dalam hal ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar. Ketiga,mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah kegiatan yang secara umum disebut mengajarkan membaca (reading).
Pengertian ketiga tentang membaca Al-Qur’an itulah yang dikenal sebagai kegiatan membaca (reading) dalam diskusi tentang literasi, pun pembahasan tentang persekolahan. Adapun pengertian pertama maupun kedua biasa dikenal dalam kegiatan pembelajaran membaca sebagai pre-reading experience (pengalaman pra-membaca). Saya sempat membahas tentang pengalaman pra-membaca ini di buku Membuat Anak Gila Membaca. Jika Anda ingin anak senang membaca, salah satu hal yang dapat kita berikan sejak usia dini adalah pengalaman pra-membaca. Tetapi saya tidak sedang mendiskusikan hal tersebut saat ini. Saya ingin lebih fokus pada pembahasan tentang berbagai makna membaca tersebut. Semoga dengan demikian kita dapat memberikan rangsang mendidik yang tepat kepada anak.
Saya merasa perlu membahas ini agar kita tidak gegabah menyalahkan maupun membela. Sebagian saudara kita ada yang dengan gegabah menganggap bahwa menunda mengajarkan membaca dalam pengertian reading (menangkap simbol berupa huruf, mengolah dan mengucapkannya menjadi kata maupun kalimat) hingga usia anak cukup matang sebagai makar Yahudi dan sikap yang menyalahi salafush shalih. Padahal yang kita dapati pada sejarah para ulama,pembelajaran membaca yang dimaksud lebih bersifatreciting aloud maupun reading aloud. Sampai saat ini kita masih mendapati berbagai contoh bagaimana seorang syaikh membacakan suatu ayat, lalu anak menirukannya. Ini merupakan metode warisan Islam yang sangat bagus. Melalui cara ini anak belajar secara alamiah untuk mengucapkan (reciting) ayat-ayat dengan benar, makharijul huruf yang tepat dan menghafal banyak surat bahkan sebelum ia mampu membaca. Hanya saja hafalan Al-Qur’an mereka kerap disebut dengan ungkapan “anak sudah memiliki bacaan Al-Qur’an yang sangat bagus” atau “anak memiliki disiplin membaca Al-Qur’an semenjak dini”, meskipun yang dimaksud adalah reciting.
Barangkali, inilah resiko tinggal di negeri yang miskin bahasa. Apalagi jika diperparah dengan keengganan membaca dengan tenang, menelaah dengan jernih dan memahami dengan baik. Dua sikap yang kita sangat perlu berhati-hati adalah ifrath dan tafrith.
Jadi, dapatkah kita mengajarkan membaca kepada anak semenjak kanak-kanak?  Jika yang dimaksud adalah reciting aloud atau pun reading aloud, bahkan sejak bayi pun kita dapat mengenalkannya. Ini merupakan salah satu cara mengakrabkan anak dengan membaca yang sangat baik. Tetapi jika yang dimaksud dengan adalah mengajarkan simbol (huruf dan tanda baca) secara terstruktur kepada anak,maka kita perlu menunggu hingga mereka mencapai kesiapan membaca (reading readiness). Kesiapan ini memang bukan sesuatu yang kita hanya dapat kita tunggu kedatangannya secara pasif. Kita dapat member rangsang kepada mereka dengan banyak member pengalaman pra-membaca.
Apa yang terjadi jika kita mengajarkan membaca secara terstruktur pada saat anak belum memiliki kesiapan? Banyak hal. Salah satu akibat yang sangat mungkin terjadi adalah hilangnya antusiasme belajar pada saat anak memasuki usia sekolah. Dalam hal ini, ada tiga titik usia yang sangat penting, yakni 6, 10 dan 14 tahun.Kesalahan proses yang terjadi pada saat anak di play-group atau TK, mendatangkan masalah di saat anak usia 6 atau 10 tahun. Jika muncul di usia 6 tahun, kita lebih mudah menangani. Semisal, saat TK sangat bersemangat membaca, begitu masuk SD tak punya gairah sama sekali.  Yang lebih sulit adalah jika masalah itu baru muncul di saat anak berusia sekitar 10 tahun. Awalnya cemerlang, tetapi kemudian kehilangan motivasi secara sangat drastis. Nah.
Apalah arti mampu membaca jika anak tidak punya “mau”….
Sebaliknya jika kita lebih menitikberatkan pada upaya membangun kemauan membaca, memanfaatkan kegiatan bermainnya untuk belajar,menanamkan cinta ilmu, membangun adab serta dorongan untuk siap berpayah-payah belajar demi memperoleh ilmu, maka anak akan lebih antusias terhadap belajar. Bersebab tingginya antusiasme belajar, sangat boleh jadi anak mampu membaca di usia dini melalui proses yang lebih alamiah. Di antara bentuk rangsangan belajar yang sangat baik adalah memberi pengalaman pra-membaca dalam bentuk reciting aloud (mengucapkan serangkaian ayat), lalu anak menirukannya.
Jika ada memiliki adab dan antusiasme belajar, di usia dini ia bermain sambil belajar. Tiap waktu adalah kesempatan untuk belajar. Tetapi jika anak hanya memiliki kemampuan, sementara antusiasme tak terbangun, sudah usia sekolah pun ia masih cenderung belajar sambil bermain. Sekilas sama, tetapi sangat berbeda antara bermain sambil belajar (ia berusaha belajar bahkan di saat bermain) dengan belajar sambil bermain (bahkan di saat seharusnya belajar pun, ia masih main-main).
Tingginya rangsangan membaca dalam bentuk melantunkan “bacaan” (reciting aloud)untuk ditirukan anak atau pun membacakan teks Al-Qur’an kepada anak (reading aloud)lalu anak ikut mengucapkannya, memudahkan anak menghafal. Jika proses itu dilakukan dengan baik, diikuti pengucapan yang benar dan fasih, anak ibarat memiliki blue print(cetak biru) ketika kelak benar-benar belajar membaca teks Al-Qur’an beserta kaidah-kaidahnya. Ia mudah memahami karena ia telah memiliki “bacaan” yang benar, sehingga tidak sulit baginya untuk melafalkan.
Alhasil, benar bahwa kita memang dapat mengajarkan membaca kepada anak semenjak usia dini dan bahkan bayi, tetapi bukan berarti mengajarkan keterampilan memahami huruf dan mengucapkannya secara tepat sesuai kaidah-kaidah membaca. Yang perlu kita lakukan adalah membacakan untuk ditirukan atau melantunkan bacaan sehingga anak akrab dengannya dan mampu mengucapkannya dengan benar. Ini sangat bermanfaat di kemudian hari.
———

Hikmahnya Dituduh Syiah

Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari. Inilah ‘alim besar ahlussunnah yang sangat disegani di masanya. Seorang mufassir pilih tanding dan ahli sejarah yang luar biasa mumpuni. Tetapi ia dituduh Syiah dan dihukum karenanya. Tuduhan tak berhenti meskipun tidak menemukan bukti. Justru semakin menjadi bahkan ketika Imam Ath-Thabari terbukti ahlussunnah.
Tuduhan disertai kezaliman terhadap Imam Ath-Thabari tak mengenai kata putus hingga kematian menghampiri. Fitnah tiada henti bertubi-tubi. Tuduhan Syiah tak selesai sampai di situ. Imam Ath-Thabari juga dilarang mengajar. Majelis ilmu yang diampu, ditutup paksa karena dianggap menebarkan Syiah. Ini berlangsung hingga wafatnya di usia 85. Selama 40 tahun, Imam Ath-Thabari menghabiskan waktu untuk menulis. Setiap hari 40 halaman. Tak kurang dari 500 ribu halaman kitab penuh hikmah yang telah ia telah tulis selama 40 tahun dikucilkan.
Meskipun sampai wafatnya tetap dituding Syiah sehingga jenazahnya tak boleh dikuburkan di siang hari, tetapi kelak namanya harum. Imam Ath-Thabari merupakan rujukan sangat terpercaya. Ia menulis banyak buku yang menakjubkan, baik ketajaman pembahasan maupun tebalnya. Salah kitabnya yang sangat legendaris adalah Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ayi al-Qur’an atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Ath-Thabari. Kitab lain yang sangat legendaris, antara lain Tarikh ar-Rusul wal Anbiya’ wal Muluk wal Khulafa’ atau dikenal dengan Tarikh Ath-Thabari.
Kisah Imam Muhammad bin Jarir Abu Ja’far Ath-Thabari ini mengingatkan kita pada kisah Imam Syafi’i yang juga difitnah sebagai Syiah Rafidhah. Tapi tuduhan tak melemahkan. Ia difitnah, tapi namanya semakin harum dan kian tampak keunggulannya. Ia direndahkan, tapi Allah Ta’ala kian tinggikan derajatnya.
Ia dihalangi untuk mengajar dengan tuduhan Syiah, tapi karya-karyanya melampaui batas usianya dan menjadi pengajaran bagi ahlussunnah. Serangkaian fitnah dan berita bohong tentang Imam Ath-Thabari mengingatkan kita pada ayat tentang haditsul ifk. Alangkah dekat kemiripannya. …لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُم… “Jangan kamu kira berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia baik bagi kamu.”
Orang-orang yang dituduh, bagi mereka tidak ada kerugian akhirat. Bahkan banyak kebaikan di balik fitnah yang gelap gulita itu. Tetapi fitnah dengan melemparkan tuduhan dusta akan menjadi bencana bagi yang menuduh dan turut menyebarkannya. Renungilah firman Allah:
ﺇِﻥَّ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺃَﻥ ﺗَﺸِﻴﻊَ ٱﻟْﻔَٰﺤِﺸَﺔُ ﻓِﻰ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَاﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ﻓِﻰ ٱﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَٱﻻْءَﺧِﺮَﺓِ ۚ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur, 24: 19).
Alangkah gelapnya azab yang menimpa. Tak cukup hanya di dunia, di akhirat masih menanti siksa yang amat pedih. Adakah kita penyebarnya? Ada dosa yang hukuman di dunia menjadi penggugur azab di akhirat. Tetapi tuduhan keji, hukumannya ganda: di dunia dan di akhirat. Nah.
Pertanyaannya, pernahkah kita kotori lisan dan jemari kita untuk menuduh atau menyebar tuduhan? Padahal tidak ada bukti yang sangat kuat. Ingatlah, memudah-mudahkan menyebar berita bohong akan menjadi musibah bagi yang menyebarkan. Jika terhadap Aisyahradhiyallahu ‘anha saja fitnah dan berita bohong mudah terjadi, padahal ia nyata-nyata istri Rasulullah shallaLlahu alaihi wa sallam, bagaimana dengan orang lain?
Apakah kita akan memudah-mudahkan menyebar fitnah dan dusta tanpa bukti nyata hanya karena mendengar perkataan “aku lihat sendiri”? Bukankah itu pula yang terjadi dalam peristiwa haditsul ifk? Semoga kita dapat mengambil pelajaran. Semoga Allah Ta’ala selamatkan kita.

Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.
Salah satu karya legendaris dari Imam Ath-Thabari. Dikucilkan dan tetap istiqamah menjadi jalan bagi Imam Ath-Thabari untuk menuliskan kitab yang kelak sangat berguna bagi muslimin hingga berabad-abad kemudian. Ia meninggal tahun 310 hijriyah, tapi sampai hari ini karyanya menebar manfaat.Hikmahnya Dituduh SyiahOleh: Mohammad Fauzil Adhim