Udah Putusin Aja

banyak yang takut dapet suami yang nggak bener | tapi nyari suami dengan cara yang nggak bener
seperti banyak yang takut masuk neraka | tapi beramal dengan amalan ahli neraka
nyari suami pake pacaran, ya dapetnya yang nggak serius | kan pacaran nggak perlu komitmen dan tanggung jawab
mau suami yang bisa jadi imam yang baik tapi pake pacaran | yang pacaran itu ya yang nggak ngerti agama, maksiat gitu loh..
pacaran itu ibarat, cewek ngempanin diri ke cowok buat dimaksiatin | lalu ceweknya berharap cowoknya tanggung jawab.. lha..!!??
di dalam Islam, jangankan pacaran, khalwat (berdua-duaan) cowok-cewek bukan mahram aja dilarang | kehormatan cewek bener-bener dijaga 

nah, kalo kehormatan dan kemuliaan cewek dijaga sama Islam | tentu pernikahan itu adalah cara mengambil cinta dengan terhormat bagi cowok
nggak sembarang cowok yang berani ngelamar cewek ke bapaknya | yang jelas harus yang berani, tanggung jawab, dewasa, dan tentu karena Allah
nggak sembarang juga cowok yang diterima lamarannya | yang pasti yang mampu ngasi yang baik, kayak bapaknya ngasi baik ke anak ceweknya
prosesnya pun bukan pacaran, tapi ta’aruf, dijaga tetep syar’i | nggak pake khalwat, nggak pake sayang-sayangan, nggak pake nafsu
yang dijaga syar’i begini, masyaAllah, cintanya karena Allah, dengan izin Allah, dengan cara Allah | rahmat, barakah, ridha Allah 

betul, yang ta’aruf juga nggak jamin nikahnya langgeng, setidaknya awalnya udah baik | itu aja belum tentu, apalagi yang awalnya maksiat?
dan alhamdulillah, setau saya, semua yang ta’aruf dan menikah karena Allah | rumah tangganya bahagia sempurna, indah dan apik
tapi inget juga, ta’aruf bukan modus pacaran syariah, jangan disamain | lebih lengkapnya, baca deh buku >> ‪#‎UdahPutusinAja‬, promo hehehe..
jangan berharap indah kalo dijalani dengan maksiat | jangan berharap berkah kalo diawali dosa #UdahPutusinAja
——————-

Mengapa Anak Mengabaikan Nasehat Orangtua

Kapankah saat terbaik menyampaikan nasehat kepada anak? Kapankah masa yang tepat untuk mempengaruhi jiwa anak? Menurut sebagian orang, saat terbaik itu adalah ketika anak menjelang tidur. Mengapa demikian? Konon, otak anak berada dalam keadaan gelombang alpha. Pada saat itu, otak lebih siap menerima nasehat. Di luar persoalan benar tidaknya anggapan tersebut, ada berbagai kerepotan jika untuk mempengaruhi jiwa anak harus menunggu ia hampir tertidur. Jangan-jangan kitalah yang justru tertidur lebih dulu dibanding anak yang mau kita pengaruhi jiwanya.
Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar nasehat dan mentaati perintah orangtua meskipun dia sedang dalam keadaan capek dan baru saja tiba di rumah. Lalu apa bedanya dengan anak-anak di masa sekarang?
Sebagian orang mengatakan bahwa anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Tampaknya pernyataan ini benar, tetapi jika kita meyakini begitu saja, sesungguhnya kita hampir-hampir tergelincir dalam syubhat yang besar. Bukankah setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah? Ini berlaku untuk masa dulu, masa kini maupun masa yang akan datang. Artinya, di zaman apa pun anak lahir dalam keadaan yang sama. Orangtuanya yang mempengaruhi dan menentukan akan seperti apa anak-anaknya kelak.
Ini berarti, jika anak-anak kita kurang menghormati nasehat orangtua dan tidak memperhatikan pengajaran yang kita berikan kepada mereka, yang pertama kali perlu kita lakukan adalah memeriksa diri sendiri. Kita menelisik apa yang salah dalam diri kita sebelum kita berusaha memahami apa yang terjadi pada anak.
Raih Kepercayaannya Sebelum Berkomunikasi
Pergilah sejenak ke masjid Nabawi dan saksikan bagaimana orang-orang dengan tekun menuntut ilmu dari para syaikh. Mereka duduk sembari menyimak baik-baik huraian syaikh tentang ilmu yang sedang diajarkan. Seorang syaikh duduk dengan tenang, menyampaikan ilmu dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang atraktif dan memukau. Tetapi mengapa para penuntut ilmu tetap menyimaknya sepenuh kesungguhan? Bukankah hari-hari ini kita sering mendapatkan penjelasan dari para trainer bahwa agar murid mau memperhatikan apa yang kita ajarkan, kita harus menyampaikan dengan cara yang fun, atraktif dan menggembirakan?
Serupa perhatian para penuntut ilmu kepada seorang syaikh yang mengajar dengan tenang tanpa teknik penyampaian yang memukau, begitu pula perhatian anak-anak kepada kita jika mereka memiliki sekurangnya dua hal. Apa itu? Pertama, adanya kepercayaan (tsiqah) yang sangat kuat dari anak kepada orangtua atau dari murid kepada gurunya. Kedua, keyakinan bahwa apa yang disampaikan oleh orangtua maupun guru merupakan kebaikan yang sangat berharga.
Kepercayaan yang besar membuat anak mau mendengarkan dengan baik setiap yang kita sampaikan. Mereka menerimanya. Adapun jika ada hal-hal yang menurut pengetahuan mereka menyelisihi kebenaran, mereka akan bertanya untuk memperoleh penjelasan. Jadi, bukan langsung menolaknya.
Sangat berbeda jika mereka tidak percaya kepada orangtua. Nasehat yang baik pun akan mereka ragukan. Atau mereka mengetahui bahwa itu baik, tetapi mereka tidak menerima nasehat tersebut karena menganggap orangtua tidak dapat dipercaya. Itu sebabnya, meraih kepercayaan anak jauh lebih penting daripada memperoleh perhatian mereka. Jika anak percaya, mereka mudah memperhatikan. Sebaliknya, sekedar memperhatikan pada saat-saat tertentu, tak membuat membuat mereka serta merta percaya kepada kita.
Selebihnya, keyakinan bahwa apa yang kita sampaikan merupakan kebaikan yang sangat berharga buat mereka akan membuat anak bersemangat menyimak dan bersungguh-sungguh memperhatikan. Keyakinan ini dapat tumbuh apabila anak percaya bahwa kita tulus dan sungguh-sungguh meng
inginkan mereka menjadi baik. Adakalanya kita member nasehat dengan sungguh-sungguh, tetapi anak merasakan bahwa itu bukan untuk kebaikan anak, melainkan hanya untuk kepentingan orangtua. Itu sebabnya, kita perlu menunjukkan bahwa kita menasehati dan bersungguh-sungguh mendidiknya tidak lain adalah untuk kebaikan anak. Bahkan ketika menasehatkan tentang birrul walidain pun, itu tetap untuk kebaikan anak di dunia dan kelak di akhirat. Jadi bukan semata karena kita ingin dihormati anak.
Lalu apa yang perlu kita lakukan agar anak mempercayai kita? Mari kita renungi firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9:
ﻭَﻟْﻴَﺨْﺶَ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻮْ ﺗَﺮَﻛُﻮا۟ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺔً ﺿِﻌَٰﻔًﺎ ﺧَﺎﻓُﻮا۟ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺘَّﻘُﻮا۟ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻟْﻴَﻘُﻮﻟُﻮا۟ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳﺪًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (qaulan sadiidan).” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Apa yang dapat kita petik dari ayat tersebut? Salah satu kunci mendidik anak adalah berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan). Kita berbicara jujur dan apa adanya kepada anak-anak. Tidak menutup-nutupi kebenaran, tidak pula mengandung kebohongan.
Berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadiidan) membawa konsekuensi kesediaan untuk mengakui kesalahan. Berlapang hatilah jika anak kita mengingatkan dan mengoreksi kesalahan. Berterima-kasihlah, karena yang ia lakukan sesungguhnya merupakan kebaikan dan menjauhkan kita dari kesalahan. Jangan menutupi-nutupi seraya menyangkalnya, padahal anak telah tahu kesalahan yang kita perbuat. Misalnya, teguran anak saat kita makan sambil berdiri.
Semoga catatan ringkas ini bermanfaat dan barakah.
—————–

Benahi Niat Sebelum Menikah

Perbaiki niat saat menikah. Janganlah salah niat menyebabkan melemahnya keyakinan kepada sifat-sifat Allah Ta’ala. Mengharap suami atau menantu kaya karena mengangankan kehormatan dari hartanya, dapat menjadikan kita lupa yang lebih mendasar, sekaligus melalaikan bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala yang Maha Kaya. Disamping itu, buruknya niat dapat menjadikan seseorang lemah dan hina, bahkan sebelum ia meraih apa yang ia impian sepenuh harapan.
Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Sufyan bin Uyainah. Ia berkata,  “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sufyan bin Uyainah), aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah (istrinya sendiri). Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. 
Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?” 
“Benar, wahai Abu Muhammad,” tegas lelaki tersebut. 
Ibnu Uyainah berkata, “Barangsiapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Barangsiapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Tetapi barangsiapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama.”
Nasehat Ibnu Uyainah kepada lelaki yang mengadukan nasibnya tersebut kian terasa membekas manakala saya menghadapi kasus demi kasus pernikahan. Qadarullah, terutama sebelum saya membatasi konsultasi pernikahan, banyak yang datang kepada saya untuk meminta pendapat terkait masalah rumah-tangganya. Ada yang tampaknya sangat rumit, tapi ternyata penyelesaiannya sangat sederhana karena kedua memiliki niat yang baik terhadap masalah yang membelitnya. Ada pula yang tampaknya sangat sederhana, tapi penyelesaiannya jauh lebih rumit daripada yang saya bayangkan karena salah satu (apalagi jika keduanya) salah niat saat melangsungkan pernikahan, termasuk salah niat dalam memilih pendamping hidup.
Sungguh, sama orangnya beda niat akan sangat membedakan apa yang akan diraih seseorang dalam pernikahan. Menikah dengan orang yang memiliki harta berlimpah misalnya, bukan merupakan kesalahan jika niatnya benar. Tetapi berapa banyak yang harus mengalami kekecewaan sangat mendalam karena salah niat saat menentukan pilihan.
Suatu saat seorang lelaki datang mengadukan nasibnya. Jauh sebelum menikah, ia memang telah menetapkan kriteria pokok perempuan yang patut dinikahi dan bila perlu dikejar-kejar sampai teraih, yakni cantik, putih, kaya dan syukur kalau cerdas. Empat kriteria ini yang pokok. Adapun kalau luas pengetahuan agamanya, itu bonus saja. Ia memegang prinsipnya itu sejak bertahun-tahun sebelum menikah dan ia konsisten dengan itu. Allah Ta’ala pun rupanya mengabulkan apa yang menjadi impiannya. Ia mendapatkan yang cantik, kulitnya putih, kaya dan cerdas. Ia mendapatkan semuanya, termasuk bonus yang tak terduga. Mertuanya sangat baik kepada dia, tetapi ia tidak siap menerima bonus berupa kenyataan bahwa istrinya sakit jiwa.
—————

Status Facebook Anak Kita

SEKALI waktu, tengoklah status Facebook anakmu. Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.
Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi di Facebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.
Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.
Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.
Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.
Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.
Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka
Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.
Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.
Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.
Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.
Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.
Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi
Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang—sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan b
erusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.
Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.
Pacaran Online Pun Terjadi
Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.
Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.
Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.
Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Wallahu a’lam bishawab
———————–

Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa

Ini bukan yang pertama. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya. Anak tak lagi sanggup menyelesaikan pendidikan karena pacaran online. Cemerlangnya otak tiada bermanfaat manakala pikiran sudah tak mampu konsentrasi karena hanyut dalam gejolak perasaan yang dibiarkan liar saat pacaran melalui social media.
Menyegerakan nikah itu sangat baik, tapi bukan tergesa-gesa. Apalagi semata karena sudah tak dapat berpikir yang lain selain pikirkan pacar. Menyegerakan nikah hendaklah karena alasan iman demi memuliakan sunnah. Bukan karena terlalu larut dalam obrolan asmara di social media.
Kita mengharap lahirnya generasi tangguh dari orangtua yang menikah di usia dini karena alasan iman. Masa muda mereka tak terkotori maksiat. Tetapi akan sangat berbeda kalau dua orang muda menikah tergesa-gesa karena sudah tidak mampu memikirkan yang lain dengan baik dan tenang.
Alhamdulillah, saya menikah ketika saya maupun istri saya masih sama-sama kuliah. Tetapi sedari awal saya berniat nikah saat masih kuliah. Artinya, semenjak awal kuliah memang telah mempersiapkan diri secara mental untuk mampu bertanggung-jawab jika menikah saat masih kuliah. Ini tidak sama, sama sekali tidak sama, dengan muda-mudi yang menikah karena sudah terlalu intens mengumbar perasaan di social media.
Pertanyaannya, apakah yang kita ketahui tentang pikiran dan perasaan anak kita di facebook? Mari sejenak kita berbincang kembali, catatan sederhana saya tentang status facebook anak-anak kita: Baca Disini => Status Facebook Anak Kita
—————
Segerakan, Tapi Bukan Tergesa-gesa
Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim

Renungan Buat Orang Tua

Anak-anak memerlukan ketulusan cinta kita kepada mereka. Tetapi itu saja tidak cukup. Betapa banyak orangtua yang mencintai anak-anaknya sepenuh kesungguhan dan memberi perhatian dari waktu ke waktu, tetapi anak tetap merasa tidak dicintai. Apalagi di zaman ini kian banyak anak yang bahkan tak sempat merasai belaian tulus penuh kelembutan dari ibunya. Mereka memang lahir dari keluarga terdidik, tapi bukan keluarganya yang paling banyak mengasuhnya. Mereka memang lahir dari ibu yang terpandang, tapi bukan senyuman ibu yang paling sering mereka pandang.
Di luar itu, ada anak-anak yang tetap memperoleh limpahan kasih-sayang orangtua, tetapi tak merasa dicintai. Sebabnya, orangtua tak memperhatikan anak-anak dengan baik dan enggan membekali diri dengan ilmu sebagai orangtua. Ini menyebabkan orangtua tak mengenal anak-anaknya dengan baik, tak memahami apa yang menjadi kerisauan anak dan tak memberi perlakuan yang sesuai dengan keadaan anak.
Semoga dapat kita renungkan bersama.
————-

Harapan Seorang Ayah


01. masih tersimpan imaji wajahmu di dinding kamarku | tak pernah kupercaya bahwa pernah kau semungil itu

02. sekarang kau telah tumbuh dengan ambisi yang besar | tinggi untuk digapai juga rentan tuk terkapar

03. dulu, engkau selalu memerlukanku dalam segala hal | namun sekarang engkau berdiri diatas kedua kakimu dan lakukan semua hal

04. dulu, namaku kau sebut saat kau meminta apapun | namun sekarang kau punya teman seluruh dunia yang siap membantu kapanpun

05. tapi, bila langitmu suatu saat runtuh, tiada siapapun yang tersisa | tengoklah kebelakangmu anakku, bersamaku engkau terasa
06. kemanapun pengembaraanmu, tengoklah anakku, kebelakangmu | dan ingatlah, kau takkan pernah sendiri, abi selalu mendukungmu
07. abi selalu berpesan kepadamu, bahwa cinta yang sejati adalah mencintai Allahmu | jangan pernah lupakan hal itu
08. bila engkau menjaga hatimu agar selalu pada-Nya | tiada sesal dan sedih, engkau akan selalu jauh dari semuanya
09. engkau dapat melaju terbang setinggi langit, sejauh yang mampu engkau pandang | namun ingat bumi akan selalu menarikmu datang
10. ada satu masa engkau akan merasa bahwa dunia adalah milikmu seorang | namun ingatlah bahwa semua yang fana pasti akan hilang
11. akan pula kau temukan masa dimana kau berjalan melawan arus dunia | dihempaskan arus kekejian, seolah terputus dari karunia
12. bila seakan tak ada lagi harapan yang bisa kau saksikan | tengoklah di balik punggungmu, anakku, disana dirimu abi nantikan
13. sejauh apapun kesalahanmu, tengoklah anakku, dibalik punggungmu | abi akan menerimamu dengan pelukan terbaikku
14. abi tak bisa bersamamu selamanya, ada waktunya abi pergi | atau engkau yang akan lebih dulu pergi, karena tiada yang pasti
15. akan berat melepasmu bila tiba masa itu | katakan padaku saat itu dengan manis “abi, saatnya bagiku membina hidupku”
16. abi hanya bisa berharap | semoga abi telah mendidikmu dengan baik | menjadikanmu layak menjadi pendamping kekasih Allah
————

Nasehat Untuk Diriku Dan Sahabatku Para Da’i

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..
Arifin mohon maaf lahir batin.
Ikhwah fillah
Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisis ukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.
Ikhwah fillah
Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)
Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.
Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.
Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebih afdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.
Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.
Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,
…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…
(Ali ‘Imran, 3: 152)
Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ikhwah
Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.
Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gakdiundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.
Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
(Ash-Shaff, 61: 3)
Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.
Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.
Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyahahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalu khususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyahtablighta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.
Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.
Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.
Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.
Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayanclear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.
Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).
Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?
Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.
Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.
Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.
Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah, tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.
Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathila walau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orangmujrimun itu.
Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
(Al Furqan, 25: 63)
Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…
(Fushshilat, 41: 30)
Lihat setelah itu,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Fushshilat, 41: 33)
Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,
Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.
Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.
Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ
Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
(Ukasyah/arrahmah.com)

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini..
—————

Kebahagiaan

Assalaamu alaikumwa rahmatullaahi wa barkaaatuhu. 
 
Sahabat sholehku, kita tidak akan pernah bahagia selama kita masih berdusta, suka gosip, buruk sangka, marah, dendam, dengki, riya, bangga diri, menipu, makan yg haram, malas ibadah apalagi hidup dalam ma’siyat. Karena KEBAHAGIAAN itu hanya pada KESUNGGUHAN TAAT. Baca dg iman Kalam Allah ini, “Ketahuilah sesungguhnya kekasih kekasih ALLAH itu, tidak akan takut apa yg akan terjadi dan tidak bersedih apa yg sudah terjadi, karena KESUNGGUHAN IMAN dan KESUNGGUHAN TAAT mereka kepada ALLAH, untuk mereka kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat, itu pasti untuk mereka, itulah KEMENANGAN BESAR (QS Yunus 62 – 64). 
 
Sahabatku yg ingin bahagia, segeralah bertaubat dan taat sungguh sungguh. “Allahumma ya Allah ampunilah semua dosa dosa kami, bahagikanlah kami dalam kesenangan ibadah dan taat di JalanMu…aamiin”. Jangan lupa sholat dhuha, tetap selalu jaga wudhu, hati selalu zikir, senyumlah, dan untuk pria mu’min siapkan diri sholat ke mesjid tanpa terlambat.

—————-
Kebahagiaan
Oleh: KH. Muhammad Arifin Ilham

Kenalan Dengan Nafsu

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. 
 
Sahabat sholehku Mari kenali “nafsu” yg bersemai pada setiap insan dan diri kita, 
1. Nafsu Ammarah (QS Yusuf 53), ini adalah nafsu yg hanya puas kalau sudah ma’siyat, sangat tidak suka ibadah, benci nasehat kebaikan & ketaatan kpd Allah. Seperti, senang berzina, sangat pemarah, hobby mabuk, benci ulama, ketagihan makan haram, korupsi dsb. 
 
2. Nafsu Lawwamah (QS al Qiyamah 2), nafsu standar ganda, dari kata “laima” mencela dirinya setelah berbuat ma’siyat lalu sangat menyesal tetapi tidak lama kemudian ketagihan lagi. Seperti, sholatnya rajin tetapi masih suka berzina, tentu yg salah bukan sholatnya, pelakunya yg belum faham tujuan, makna dan hikmah sholat kecuali sholat sekedar. Kalau sholat itu benar benar dihayati buahnya jauh dari ma’siyat, “Sesungguhnya sholat itu mencegah zina dan mungkar” (QS al Ankabut 45) atau sudah haji tetapi korupsi dsb, 
 
3. Nafsu muthmainnah, ini nafsu hamba Allah yg sholeh (QS Ar Ro’du 28) “almuqorrobuun” (QS al Waqiah 88) senangnya ibadah, semangatnya beramal, hatinya lebut, dermawan, rendah hati, istiqomah, suka sekali duduk di mesjid, majlis ilmu, cinta ulama, amat sangat takut ma’siyat, malah ia heran melihat orang berani ma’siyat, sedih sekali kalau bangun terlambat sholat malam, muhasabah diri sama sekali tidak tertarik melihat aib orang lain, air matanya mudah menetes ta’kala sholat, membaca Alqur’an dan berzikir. “Allahumma ya Allah jauhkan kami dari nafsu yg membuat kami ma’siyat kpdMu dan bimbinglah nafsu kami menjadi muthmainnah nafsu mendekat kpdMU…aamiin”.
————-