Hutang Kepada Anak-Anak Kita

Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka… Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiaka. Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita. Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, “Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan. Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya. Lebih baik dari sebelumnya”.

Penghibur Orangtua untuk Anaknya Mondok

Dari orang tua santri

Untuk para ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah….

::“` SEKEPING CATATAN HATI“` ::

Anak-anak kami,
Adalah bagian dari jiwa kami..

Melepas mereka tak ubahnya seperti mencabut hati kami sendiri.

Andai bisa, tentu kami ingin mereka selalu dalam jangkauan mata.
Namun kami sadari, tangan kami saja tak cukup kuat membimbing mereka..

Kami mencintai mereka,
Tapi, cinta kami seringkali buta,
Tak sanggup melihat aib dan kurang mereka..

Kami menyayangi mereka,
Tapi kasih sayang kami terkadang tak cukup menyelamatkan mereka dari api Neraka..

Menyadari ketidakberdayaan kami,
Dengan sepenuh kesadaran, kami lepaskan anak-anak kami jauh dari rumah, tempat mereka dibesarkan..

Ada sesak yang kami tahan di dada,
Ada air mata yang diam-diam kami tumpahkan,
(Ketika) melepas kepergian mereka..

Hanya harapan yang sanggup membuat kami berpura-pura tersenyum,
Harapan kiranya perpisahan ini menjadi jalan yang akan mengantar mereka menuju ketakwaan..

Anak-anak kami,
Datang ke Pondok ini dengan segenap kekurangan mereka..

Maafkan, jika mereka kurang santun dalam berperilaku,
Kurang sopan dalam bertutur kata,
Kurang sungguh-sungguh dalam belajar,
Kurang taat pada peraturan,
Dan sederet kekurangan lainnya..

Anak-anak kami,
Bukan sepotong kain yang kami kirim untuk dijahit menjadi baju dalam hitungan hari,
Bukan adonan tepung yang hanya butuh beberapa jam untuk mengolahnya menjadi roti..

Tapi, jiwa-jiwa yang punya ego dan perasaan,
Yang perlu proses panjang untuk membentuk akhlak dan kepribadian mereka..

Mungkin, sesekali mereka akan membangkang,
Dan dengan keterbatasan ilmunya, menjerumuskan diri ke dalam dosa..

Saat itulah, kami harapkan teguran penuh kelembutan dari ustadz/ah untuk anak-anak kami..

Atau, peringatan tegas, bahkan sedikit “kekerasan” dalam batas syariat sebagai pendidikan..

Betapapun kami menyayangi anak-anak kami,
Betapapun kami ingin mereka hidup nyaman tanpa beban,
Kami masih tega melihat mereka menanggung “kesusahan” hidup sebagai santri,
Demi mendidik mereka menjadi pribadi bertakwa..

Kami rela mereka menanggung beban dunia,
Tapi kami tak sanggup melihat anak-anak kami terjerumus dalam dosa dan tersiksa dalam panasnya Neraka..

Karenanya,
Dengan segala kerendahan,
Kami mengharapkan bantuan ustadz/ah dalam membimbing mereka..

Anak-anak kami,
Pergi jauh meninggalkan orangtua dan sanak saudara,
Kami harap di Pondok mereka menemukan gantinya..

Rengkuh mereka sebagai anak,
Atau adik yang layak disayangi setulus hati..

Jangan pandang mereka dengan ketidaksempurnaan mereka saat ini,
Tapi lihatlah mereka belasan atau puluhan tahun mendatang..

Anak-anak kami,
Dengan segala kekurangannya adalah aset muslimin,
Calon penerus perjuangan masa depan..

Kami tak mengharap kesempurnaan ustadz/ah dalam memahami anak-anak kami,
Sebab kami sendiri, yang mengenal mereka sejak masih dalam kandungan-pun, seringkali gagal mengenali karakter mereka..

Hanya kesabaran dan kesungguhan dalam usaha,
Yang kami yakin tak semudah membalik telapak tangan..

Meski sebenarnya kami merasa malu,
Sebab kami tak dapat menawarkan apapun sebagai imbalan..

Hanya secuil doa,
Kiranya setiap tetes keringat akan meluruhkan dosa-dosa..

Kiranya setiap jengkal langkah dan jerih payah meninggikan derajat Antum di taman-taman Surga..

Dan kiranya setiap sesak yang menghimpit karena ulah anak-anak kami melapangkan jalan Antum menuju ridha-Nya..

Kami, dengan sepenuh usaha akan belajar ikhlas melepas anak-anak kami..
Akan kami iringi kesabaran ustadz/ah dengan ketabahan..
Akan kami imbangi kegigihan Antum dengan doa dalam sujud-sujud panjang..
Akan kami teladani keikhlasan dan kesungguhan Antum, sebab kami sadar, kami-lah yang pertama bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak kami…

Bi-idznillah, In syaa Allah..

Juragan Rezeki Pembantu

Berapa banyak dari kita yang mungkin merasakan hal ini. Maaf banget, saya harus sampaikan. Ternyata tentang hal ini banyak yang mengabaikan.
 
Saya merasakan 6 tahun menjadi PNS. Berangkat jam 6 pagi dan nyampe rumah setelah jam 6 ba’da maghrib. Menjadi manusia yang hidupnya sebagian besar habis di jalan. Gak ada yang salah saya pikir saat itu, sampe istri saya hamil di usia 3 bulan pernikahan kami. Alhamdulillah anak pertama kami, Ukassyah, sudah mulai ada di rahim istri tercantik.
 
Kami nikah tanggal 10-10-2010. Tanggal yang sama dengan beberapa artis kondang, salah satunya indra bekti. Karena merasa tanggal cantik. Eh istri indra bekti juga namanya Dilla, sama dengan istri saya. Hehe. 😀 Saya minta per januari, istri resign dari kerjaan dan fokus di rumah aja. Berangkat ngurusin keperluan suami dan pulang menyambut dengan segala jenis ujicoba makanan, yang special dibuat untuk saya. PR saya satu, apapun rasanya, saya harus bilang, enuaaakkk!!! Wkwkwk
 
Kami memang sudah komit, gak akan pake asisten. Walau sempet sebentar, tapi ngurus anak gak mau kami serahkan ke asisten. Karena bagi kami, sentuhan kami kepada anak, becanda kami kepada krucil-krucil dan pendidikan kami kepada para jagoan, lebih total kami berikan, ketimbang kami titipkan ke asisten. Nggak asisten, nggak juga mertua. Bagi kami, mertua, atau org tua juga bukan orang yang jadi sasaran ketika kami mencari uang. Anak-anak dititipkan, bahkan mungkin jadi posisi antara kita dengan orang tua, seolah-olah tinggian kita, karena sepulang dari kita titipin anak-anak, biasanya ada salam tempel dari kami.
 
Belajar dari ustadz Yusuf Mansur dan tim Wisata Hati Business School, ketika kita memposisikan orang tua sbg “pembantu” yang mengurus anak kita, menurut beliau, maka rezeki kita akan rejeki pembantu. Secara logika, kalo orang tuanya aja diperlakukan seperti pembantu, maka rejeki yang dia dapatkan bakalan seperti rejeki pembantu.
 
Solusinya apa? Jadikan orang tua seperti raja dan ratu. Salam tempel tetep lakukan, tapi gak usah lah mereka dijadikan tempat penitipan anak. Percaya deh, anak juga bakalan lebih seneng ikut dengan kita. Punya anak di usia-usia awal, selalu saya ajak kemanapun saya pergi. Mau dalam kota, mau luar kota, melu terussss..
 
Dan terbukti, ketika kita jadikan orang tua kita raja, maka rezeki kita naik menjadi level rezeki raja. Banyak hal mengejutkan yang hadir di hidup kita, sebagai raja yang mendapatkan kiriman dari berbagai arah yang tidak kita duga. Kami merasakan sendiri. Walau di lembah kebangkrutan terdalampun, kami gak merasakan rezeki pembantu. Mungkin ada saatnya kami gak punya uang, tapi posisi kami adalah posisi terhormat, sebagai raja. Karena Allah memberikan itu, sebagai hadiah atas perlakuan raja yang kami berikan kepada orang tua dan mertua kami.
 
Sampe sekarang, kalo mertua saya dateng ke rumah kami, beliau cuci piring, cuci baju dll, selalu kami larang. Karena kami tau, rezeki kami akan jadi rezeki raja ketika memang kita menempatkan mertua sebagai raja. Setuju? Yang masih menjadikan orangtua sbg pembantu, percayalah, rezeki mu akan tetap begitu, kecuali engkau mengubah orangtua dan mertuamu jadi raja dan ratu.
 
Aditya Nugroho
Akademi Pengusaha
 
 Silahkan di-SHARE jika bermanfaat
.

Cuplikan Untaian Nasihat Ibnu al-Jauzi Teruntuk Anak Tercintanya

Seandainya seorang dari kita mencermati lama masa hidupnya di dunia, taruhlah sepanjang enam puluh tahun. Kurang lebih tiga puluh tahun dari itu dihabiskan untuk tidur. Masa kanak-kanak dan remaja sekitar lima belas tahun. Jika sisanya dihitung, bagian terbesarnya habis digunakan untuk mengikuti dorongan syahwat, makan dan mencari penghidupan. Yang tersisa untuk akhirat pun masih tercampur riya dan kelalaian. Jadi, dengan apa Ananda akan membeli kehidupan abadi di akhirat?
 
Telah kau ketahui, Wahai Anakku! Bahwa aku telah menulis sebanyak seratus kitab. Di antaranya adalah Tafsir Kabir sebanyak dua puluh jilid. Kitab Tarikh sebanyak dua puluh jilid. Tahdzibul Musnad sebanyak dua puluh jilid. Selebihnya ada yang berjumlah lima, empat, tiga dan dua jilid. Ada pula yang kurang atau lebih dari jumlah tadi. Aku telah mencukupkanmu dengan karya-karya tulisku ini dari meminjam buku dan memfokuskan perhatianmu untuk menulis. Maka, berupayalah menghapal (kitab-kitab itu). Menghapal adalah modal utama. Menata-kelola usaha dengan baik akan menentukan keuntungan yang akan kau peroleh. Jujurlah dalam memohon bimbingan dari Allah Ta’ala.
 
Ketahuilah, Wahai Anakku! Semoga Allah senantiasa memberimu taufik, tidaklah manusia diistimewakan dari makhluk lain dengan akal melainkan agar ia berbuat sesuai dengan rasionya. Maka, hadirkan akalmu, gunakan pikiranmu, dan renungkan. Pelajarilah bahwa dirimu adalah makhluk yang dibebani tanggung jawab. Dirimu bertanggungjawab untuk menjalankan sejumlah kewajiban. Kedua malaikat selalu mencatat kata-kata yang kau ucapkan juga gerak-gerikmu dan sesungguhnya langkah menuju ajalmu dan masa hidupmu di dunia ini amat lah singkat. Sementara, dirimu akan tertahan di dalam kubur dalam masa yang cukup panjang. Dan azab yang sebabnya adalah mengikuti hawa nafsu tentu sangat menyengsarakan. Maka, di mana kelezatan yang kemarin engkau nikmati saat engkau telah pergi dan meninggalkan penyesalan? Di mana dorongan syahwat dalam jiwamu saat ini di kala kau menundukkan kepala dan tergelincir (ke dalam siksa)?!
 
Tidak ada yang berbahagia selain mereka yang sanggup mengekang hawa nafsu dan tidaklah sengsara melainkan mereka yang terlalu mementingkan urusan dunia. Ambillah pelajaran dari para penguasa dan ahli zuhud terdahulu. Di mana kelezatan yang mereka rasakan saat ini? Di mana keletihan yang dulu dirasakan oleh mereka? Nama baik orang-orang salih akan selalu kekal, sedang cacian dan umpatan akan terus lekat pada orang yang doyan bermaksiat, seakan orang yang kenyang tidak pernah kenyang dan yang lapar pun demikian.
Alee Massaid
Cuplikan Untaian Nasihat Ibnu al-Jauzi Teruntuk Anak Tercintanya
.

Here is a collection of places you can buy bitcoin online right now.

Air Mata Rasulullah Menetes Karena Kejadian Ini…

*Air mata Rasulullah Menetes karena kejadian ini…*
 
*MENCURI UANG ANAK SENDIRI*
 
*Seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan ayahnya yang menghabiskan uang miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya* .
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ayah orang itu ke hadapan beliau. Ketika lelaki jompo itu datang dengan tertatih-tatih bersandar pada tongkatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:
 
*“Betulkah kau mengambil uang anakmu tanpa seizinnya?”*
 
“Wahai Nabi Allah,” lelaki itu menangis, “ketika aku kuat dan anakku lemah, ketika aku kaya dan dia miskin, aku tidak membelanjakan uangku kecuali utk memberi makan kepadanya, bahkan terkadang aku membiar kan diriku kelaparan asalkan dia bisa makan.”
 
*”Sekarang aku telah tua dan lemah sementara anakku tumbuh kuat. Aku telah jatuh miskin sementara anakku menjadi kaya. Dia mulai menyembunyikan uangnya dariku”*
 
“Dahulu aku menyediakan makan untuknya tapi sekarang dia hanya menyiapkan makan untuk dirinya. Aku tak pernah seperti dia memperlakukan aku.”
 
“Jika saja aku masih sekuat dulu, aku masih akan merelakan uangku untuk dia.”
 
*Ketika mendengar hal ini, air mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh berlinang seperti untaian mutiara menimpa janggutnya* .
 
“Baiklah,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Habiskan seluruh uang anakmu sekehendak hatimu. Uang itu milikmu…”
 
Anta wa maaluka li abika ( al hadits )… engkau dan seluruh hartamu adalah kepunyaan kedua orangtuamu.
 
*Apakah orang tua Anda masih hidup?? Mungkin kesempatan Anda untuk berbakti kepada mereka tidak begitu lama lagi. Sangat dianjurkan Anda yang tinggal jauh dari orang tua, pulanglah. Temui dan pandang wajah mereka dengan penuh cinta yang tulus, karena boleh jadi wajah itu tidak akan lama lagi menghilang dari pandangan Anda untuk selama-lamanya..* .
 
*Semoga bermanfaat*
🍃🌸🍃😭😭😭
 .

Jika Suami Tak Seperti Yang Diharapkan

Kepadamu wahai saudariku yang sudah menikah
Janganlah mudah untuk membuka aib suamimu
Bagaimanapun juga, ia adalah imam pilihanmu
Pemimpin yang harus kau jaga kehormatannya
Lelaki yg menjadi ayah dari darah dagingmu…
 
Lelaki ibarat seekor singa yang buas…
Ia dapat luluh tergantung dari pawang yang menjinakkannya…
Lelaki kasar bisa menjadi lembut dan tunduk pada istrinya tergantung dari sifat istrinya yang pandai mengurusnya…
 
Ketahuilah….
Suamimu adalah orang lain…
Ia bukan seperti ayah dan ibumu…
Bukan pula saudara kandungmu yang cinta dan kasih sayangnya akan terus mengalir untukmu..
 
Ia adalah orang lain…
Yang kadang mencintaimu…
Namun bisa pula membencimu….
Tak selalu lembut tuturnya…
Bahkan tak pelak bisa mudah terbawa emosi hingga tangannya melayang…..
 
Maafkanlah ia… jika masih ada keimanan dalam dadanya, jika ketidaksengajaan itu ia lakukan hanya sekali bukan kebiasaan atau memang sifat bawaannya…
 
Bersabarlah…..
Dan terus berdoa pada Allah yang menggenggam nyawa manusia
Berdoalah karena hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia
 
Jangan berkeluh kesah tentang bahteramu karena masalah dapat selesai dengan ikhtiar bukan dengan keluh kesah…
Berdoalah…. hanya pada Allah karena senjata orang beriman adalah doa…
 
Semoga kita dikumpulkan kembali di jannah bersama orang-orang yang kita cintai karena Allah bukan karena urusan duniawi

Hijrah Dalam Satu Malam !!!

Satu ketika, ada cerita seseorang kontraktor dengan segala persoalan hidupnya yang kompleks.
Hutang, mau pisah, rumah mau kesita hubungan keluarga berantakan, bisnis berantakan, pokoknya kompleks dah.
 
Kalo ini kita pecahkan 1 per 1 secara teknis, bisa berapa lama buat nuntaskan nya, karena setiap Case punya cerita yang panjang.
 
Kebayangkan kalo harus ditanya, kok bisa ngutang? Terus kok digugat cerai? Kenapa bisa rumah mau kesita? Terus kenapa berantem dengan keluarga? Bisa jadi sinetron buat nyelsaikan nya
 
Jika udah kayak gini pastilah kita ingin urusan urusannya cepat kelar.
 
Sibuk, cari solusi yang dapat malah lelah, ngebenerin hutang ngak beres2
Ngedamaikam rumah tangga , malah tambah runyam, makin kesini makin ruwet dah.
 
Sampai satu moment ni orang sadar bahwa semua terjadi karena dosa-dosa nya.
 
Sebagai mana ALLAH beritakan
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
مَاۤ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَاۤ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّـفْسِكَ ؕ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ؕ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا
“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”
(QS. An-Nisa’: Ayat 79).
 
Sampai disini, kita mesti paham benar, bahwa semua keburukan dalam hidup ya karena kita sedang diHUKUM, karena kita bersalah itu kuncinya
 
Yang namanya terdakwa ya mesti dihukum,
 
Yang buat kita ngak terima karena kita ngak paham Aturan nya.
 
Kita lebih ingat aturan jam kantor, aturan lalulintas, aturan di komplek.
 
Tapi kita lalai dari Dasar dari semua aturan kehidupan yang ALLAH berita kan di Al-Quran. Itulah sumber masalah nya
 
Terus yang udah terlanjur melanggar gimana, kayak cerita diatas tadi. Yang kompleks.. tadi.
 
TOBAT solusinya!!!
 
Namun karena ni orang mungkin udah HOPELESS, ia putuskan untuk mengakhiri hidupnya.. seperti kejadian di film-film dah
 
Namun ketika hendak mengakhiri hidupnya, ia coba buat berbenah malam itu.
 
Ia coba melakukan sesuatu yang sudah bertahun-tahun ngak pernah dikerjakan, ia ambil wudhu, ia shalat Maghrib lanjut isya dirumahnya sendiri
 
Selepas shalat ia coba mengeksekusi dirinya dengan gantung diri, namun terlihat Al-Quran tua dan ia tunda karena ingin coba ngaji dulu, Tanpa sadar ia ngaji dan lanjut dzikir hingga larut malam dan tertidur diatas sejadah
 
Terbangun saat adzan subuh, ketika hendak mengeksekusi dirinya ia jadi ingin kemesjid terakhir kalinya,
 
Sebelum berangkat kemesjid ia, liat ada barang perabot rumah dari pada ngak kepakai mending disedekahkan.
 
Akhirnya pas dimesjid , ia ketemu dengan tetangga dan pesan suruh ngambil barang dirumah katanya
 
Selepas subuh Pulang lah iya, dan bersiap mengeksekusi dirinya.
 
Saat detik-detik mau gantung diri, tiba-tiba ada yang gedor rumahnya.
 
Setelah dibuka, ternyata ada tamu dari luar kota teman lama.
 
Singkat cerita mi teman-teman lama baru nyampai pakai kereta, pagi2 datang untuk ngasi rejeki
 
Si kontraktor yang punya keahlian, diminta tolongin untuk apprisal nilai projects dan sebagai komisinya dikasi fee yang lumayan
 
Dalam perbincangan bisnis yang mendadak tadi. Jadi lupa perihal bunuh diri. Karena fee yang diberikan oleh sahabat yang datang tadi ternyata cukup buat bayar hutang,melunasi rumah dan menafkahi istri yang rencana nya menggugat cerai, dan Alhamdulillah ending nya ngak jadi.
 
—————————————————————————–
 
Cerita diatas menunjukkan betapa hebat nya Kun fayakun nya ALLAH,
 
Jadi salah satu shortcut buat nyelsaikan masalah yakni Hijrah mulai dengan TOBAT!!!
 
Bahkan pernah ada yang tanya saya. ” Masih ada kah, kesempatan buat saya dapat ampunan dari ALLAH? Mengingat begitu banyak maksiat yang telah saya buat”
 
Jika ada diantara, teman-teman yang punya cerita yang sama dan sampai dilevel sadar bahwa, ” Iya, saya berdosa”
 
Selamat, tandanya masalah anda bentar lagi ada jalan keluar nya.
 
Karena jarak antara masalah dan solusi itu sama jaraknya antara lutut dan sajadah.
 
Setiap dari kita pasti sebenarnya memiliki kesadaran sendiri. Menyadari kesadaran itu kuncinya,
 
Sebandel-bandelnya manusia, tetap ada iman dalam dirinya. Istilahnya sensangar sangarnya singa, ngak akan makan anaknya sendiri.
 
Sama dengan kita, sebandel-bandelnya kita kita sebenarnya sadar bahwa kita pingin jadi orang baik
 
Yang sedang dalam kubangan zina, dihati kecilnya sadar dan pasti ingin lepas, dari dunia malam ataupun hubungan tanpa akad yang halal.
 
Yang sedang dikubangan riba juga sadar dan lelah sebenarnya untuk bayar bunga tiap bulan
 
Yang dalam kubangan Khamr (minuman keras) ingin lepas dari kecanduan
 
Dan semuanya yang sedang dalam kubangan maksiat, sepersekian detik dalam keseharian nya , dihati kecilnya pasti ingin keluar
 
Itulah tanda IMAN!!! Karena pada dasarnya setiap diri kita ini orang Baik!!!
 
Kita semua ini, keturunan penghuni Surga.
 
Dan kakek nenek kita juga ngalamin yang sama, tergelincir gara-gara salah makan buah. Namun dalam kesadaran nya, Adam dan hawa Segera Bertobat dan move On
 
Berarti kita cukup, ngulangin ceritanya aja. Krn nenek moyang kita juga melakukan hal yang sama.
 
Buat teman-teman yang sedang diepisode susah, karena ini semua. Ngak perlu nyerah.. selama masih bisa bernafas tandanya masih ada kesempatan!!!
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ؕ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
[QS. Az-Zumar (39): Ayat 53]
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ
“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,”
[QS. Asy-Syura(42): Ayat 25]
 
Kita mungkin ahli maksiat, dosa kita banyak, amal kita dikit, tapi percayalah bahwa Rahmat dan ampunan Allah jauh lebih Luas
 
Mumpung masih bisa bernafas hari ini
Mumpung masih melihat matahari hari ini
Mumpung jantung masih berdetak
 
Ini waktunya kita putuskan Hijrah!!!
Mulai dari pertobatan, lanjutkan dengan tindakan untuk curi perhatian ALLAH.
Seperti kisah kak Mirani Mauliza di buku Hijrah Ekstrim
 
STW, One day One page, Inspiring, hiduppin Sunnah dan jangan bosan jadi orang baik
 
 .

Apakah Ini Balasan Dari Sikapku Terhadap Mertua?

Semenjak 30 tahun yang lalu aku adalah wanita yang menjunjung tinggi kebebasan perempuan dan memandang pernikahan hanya sebatas hubungan biasa yang tidak mengandung pemenuhan kewajiban terhadap pasangan.
 
Allah menghendakiku untuk tinggal bersama ibu mertua hingga suamiku menyediakan kami rumah dengan fasilitas-fasilitas yang aku inginkan. Dan tahun-tahun kebersamaanku dengan mertuaku adalah tahun-tahun terburukku dengan wanita penyabar itu.
 
Saat itu aku lebih banyak mendengar saran dari rekan-rekan wanitaku agar bersikap keras dan tegas kepada ibu mertua sejak awalnya. Karena itu, aku membatasi ruang geraknya hanya sebatas di kamarnya saja.
 
Aku bersikap seperti ratu di rumah dan memperlakukan mertuaku seolah-olah tamu. Aku mencuci pakainnya di akhir-akhir cucian sehingga beliau keluar dengan pakaian apa adanya. Pula, hanya sekali sebulan aku membersihkan dan membereskan kamarnya.
 
Aku tidak begitu perhatian dalam menyiapkan makanan khas yang sesuai dengan kebutuhan penyakitnya
 
Ibu mertuaku seperti gunung tinggi menjulang kokoh dalam sabarnya. Selalu saja tersenyum kepadaku. Beliau melewati hari-harinya dalam kamar dengan shalat dan membaca Al-Qur’an.
 
Dan tidak keluar kecuali untuk berwudhu atau mengambil makanan yang kusiapkan di atas meja makan. Aku terkadang mengetuk pintu kamarnya dengan keras agar keluar dan mengambil makanan.
 
Suamiku begitu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi dan mertuaku pun tidak pernah mengeluhkan kepada suami tentang sikapku. Bahkan saat suami bertanya kepada beliau tentang hubungannya denganku, ibu mertua menjawab dengan pujian kepada Allah.
 
Ibu mertua mengangkat tangannya ke langit mendoakanku agar mendapat hidayah dan kebahagiaan. Dan aku sungguh tidak memahami tafsiran kesabaran dan ketiadaan keluhannya kepada suami atas perlakuanku kepadanya.
 
Tibalah suatu ketika sakitnya bertambah parah dan beliau merasakan maut sebentar lagi menemuinya.
 
Beliau memanggilku dan berpesan saat aku gelisah berada di hadapannya:
 
“Aku tak ingin bersikap jahat kepadamu dengan harapan agar kondisi rumah anakku kondusif dan sikapmu menjadi lebih baik. Doaku agar engkau mendapat hidayah sengaja kuperdengarkan di hadapanmu agar engkau kembali mengevaluasi diri.
 
Karena itu aku menasehatimu –sebagai ibu- agar engkau berhenti dari sikap tidak baikmu setidaknya di hari-hari terakhirku. Aku memaafkanmu. .”
 
Beliau mengucapkan kalimat-kalimatnya itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan beliau tak sempat melihat air mataku yang menggenangi wajahku.
 
Beliau pun meninggal dan aku tak sempat berbakti dan menjelaskan dosa-dosaku di hadapannya. Beliau meninggal dan suamiku menyangka bahwa aku adalah menantu berbakti.
 
Anak lelakiku telah dewasa dan menikah. Dia tidak menyediakan rumah bagi istrinya. Karena itu aku mengajaknya guna tinggal bersamaku di rumahku yang luas dan aku tempati sendiri setelah ayahnya meninggal.
 
Aku tersentak seolah-olah waktu berputar ke masa lalu. Istrinya memperlakukan aku seperti aku dahulu memperlakukan ibu mertuaku sebelumnya. Aku berpikir inilah qishah adil dan balasan yang Allah segerakan.
 
Aku berlindung di balik kesabaran agar menuntunku dalam doa. Semoga Allah mengampuniku. Cukuplah sikap menantuku ini sebagai neraka dunia yang aku lalui bersamanya sebagai ganti ganasnya neraka akhirat.
 
Semoga Allah juga menguatkanku dalam memikul kepiluan hati terhadap pertanyaan anakku yang tidak bisa aku jawab tentang hubunganku dengan menantuku.
 
____
Alih bahasa: Yani Fahriansyah
Sumber: page Khash lil Mutazawwijin Faqath.

Jika Memang Harus Menjanda

Beberapa kali dalam status saya. saya mengisahkan tentang kisah kisah pasangan suami istri yang cukup menyedihkan..
 
Karena memang Pekerjaanku yang mengharuskan berinteraksi dengan Banyak Manusia, memberi banyak hikmah dan perenungan..
 
Bahwa Masih lebih banyak Alasan untuk bersyukur daripada Mengeluh, bahwa tak selamanya Kecukupan Materi berbanding lurus dengan Bahagia, walaupun memang sangat banyak yang bisa dibeli dengan Uang..
 
Tapi bukan Bahagia…
 
Beberapa waktu lalu saya banyak bertemu dengan beberapa wanita yang rata rata berstatus Janda, Ketika ditanya “Mengapa memilih Jadi Janda ?” Jawabnya beda beda..ada yang jawab “tidak ada kecocokan”, ada yang jawab “Suami saya ndak bisa penuhi kebutuhan hidupnya”, dan adapula yang terus terang “pukulan suami kurang mantap !”
 
Dari sisi alasan cerai dan penampilan sebenarnya bisa di ketahui kok bagaimana tipikal kebanyakan wanita itu..
 
Wanita-wanita yang jauh dari tuntunan, yang tidak menjaga hak-hak suami, yang kebanyakan bergaul bebas dengan teman-temannya.. atau mereka sebelum berumah tangga bertemu dalam sebuah hobi dan kebiasaan yang menjadikan nafsu sebagai Qudwah…
 
Dan kasiannya ternyata kehidupan mereka pasca bercerai dengan suami-suaminya bukannya membaik, justru makin tidak menentu…
 
Ada yang jadi istri simpanan, padahal sebelumnya dia dijadikan Ratu oleh Suaminya yang dulu..
Ada yang hanya jadi selingkuhan..
Ada yang Jadi piaraan para cina kaya.. dll..
Bahkan ada yang dimanfaatkan jadi kurir Narkoba dengan iming-iming akan dinikahi…
 
Ada juga yang berkata “ndak lama pak saya akan dapat pengganti suami yang mantap !”, Tapi sampai saat ini masih nelangsa karena ternyata Kriteria suami idaman yang wajib lebih baik dari suaminya yang dulu belum dia temukan..
 
Mereka dihinakan Allah akibat tak mensyukuri dan tidak menjaga Nikmat Allah berupa suami..
 
Mereka berangan angan mendapatkan suami yang perfect, padahal para pria “perfect” itu juga bukan laki laki bodoh.. mereka hanya memanfaatkan para wanita itu, karena seburuk apapun mereka, pasti tetap menginginkan Ibu yang baik untuk anak anak mereka.. bukan wanita yang gampang meninggalkan suaminya hanya karena sedikit janji…
 
Disisi lain saya juga bertemu beberapa wanita yang memang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik, mereka adalah wanita-wanita yang berusaha menjaga rumah tangga nya dengan segala cara, mendambakan memiliki suami yang mereka bahasakan “Menjadi Imam yang baik” untuk mereka, mereka berharap rumah tangga mereka adalah Rumah tangga Normal seperti halnya Rumah tangga orang lain..
 
Tapi kenyataan berkata lain, Mulai dari keluhan suami tak pernah memberikan nafkah materi, Suami selingkuh dan jarang pulang, suami sering mukul dan jadi Bandar Narkoba..
 
Imbasnya adalah anak anak mereka yang kebingungan melihat tingkah pola bapak mereka, Anak anak tu kehilangan figur ayah.. atau bahkan memberi contoh yang buruk buat anak anak mereka..
 
Ayah yang diharap bisa menjadi sosok pelindung justru memperlihatkan hal hal yang tidak pantas..
 
Yang akhirnya setelah bertahun-tahun diusahakan agar baik, tapi ternyata mungkin pilihan menjadi single Parent (menjanda) adalah pilihan yang paling sulit tapi harus dijalani…
 
Dan mungkin dalam hati kecil mereka sangat sedih melihat suami wanita lain tak seburuk suami mereka yang dulu..
 
Padahal mereka tak menuntut suami mereka sebaik suami orang, mereka hanya ingin agar suami mereka tidak buruk buruk amat, dan mereka akan bersabar untuk keburukan lainnya..
 
Untuk tipe Janda pertama yang saya sebutkan pertama saya tidak terlalu peduli, toh mereka sendiri yang pilih jalan itu, tak pernah mensyukuri nikmat berupa suami yang baik.. merasa sok cantik, sok laris, dan merasa bisa dapat suami yang lebih baik..
 
Saya hanya berharap agar Para janda tipe kedua bisa digantikan Allah dengan ganti yang lebih baik, atau jika memang belum ditakdirkan untuk mendapat yang lebih baik, maka mudah-mudahan Allah menyiapkan untuk mereka suami di surga yang tak pernah lagi menzhalimi mereka…
 
Dititik inilah Kadang saya merenung.. bahwa masih banyak alasan untuk bersyukur…
 
Status ini didedikasikan untuk para wanita yang mungkin menjanda adalah pilihan terbaik dari yang terpahit..
* Fathul | © JIKA MEMANG HARUS MENJANDA ©