CKSMA B-19 Ummi.. Bapak.. Terimakasih Karena Masih Percaya, Padahal….


Begitulah cuplikan isi surat yang Ali tulis di usia 12 tahun pada saat ia tengah berkonsentrasi menghafal quran di sebuah Pesantren. Begitu haru perasaan saya membacanya, karena bagi saya kalimat itu memberi gambaran sebuah penyesalan diri seorang anak yang pernah berbohong pada orang tuanya. Juga memberi gambaran rasa enggan untuk melakukan kebohongan lagi kepada orang tua yang masih terus menerus percaya padanya meski pernah ia bohongi. Kalimat itu juga memberikan gambaran bahwa diantara kita sedang tidak ada penghalang untuk mengakui kesalahan di masa lalu. Entah apa yang terjadi di Pesantren sehingga mendorongnya untuk menuliskan itu pada kami. Hanya doa keberkahan yang dapat kami panjatkan bagi siapapun para guru yang menjadi perantara hidayah anak-anak kami.
Ada satu masa saat kami belum bersemangat mencari ilmu pengasuhan anak, kami merespon kebohongan Ali pertama kali dengan tangisan histeris kekecewaan sambil memeluknya dengan erat. Sambil terus mempererat pelukan saya berteriak “kenapa kamu bohong??? kenapa kamu harus bohong sama ummi? Kenapa anak ummi yang sholih harus bohong??” Peristiwa itu adalah kali pertamanya saya marah pada Ali dengan suara meninggi. Saat itu ia berusia 7 tahun. Namun sejak peristiwa itu, kami malah menemukannya berkali-kali takut untuk berkata jujur kepada kami.Lalu saya pun mengingat masa lalu saya. Keadaan seperti apa yang membuat saya memilih berbohong dihadapan orang tua. Saya pun teringat, bahwa semakin keras orang tua saya menentang, semakin takut bagi saya berbuat jujur dihadapan mereka. Sekali saya berbohong, maka saya akan menutup kebohongan dengan kebohongan lain.Kami tidak ingin hal ini terulang pada anak-anak kami. Kami tidak ingin anak-anak memiliki perasaan takut untuk mengakui kesalahan mereka dihadapan kami. Kami tidak ingin anak-anak enggan untuk terbuka dengan keadaan mereka kepada kami. Kami ingin hadir bagi mereka sebagai orang tua yang memahami perasaan mereka, menghargai pendapat mereka, menanti proses kedewasaan mereka, serta menerima kesalahan-kesalahan mereka sebagai bagian dari perjalanan kehidupan mereka.
Kami tidak ingin kemarahan kami dalam hal-hal yang tidak kami sepakati dengan mereka, membuat kami kehilangan kesempatan untuk menggali hikmah dibalik kesalahan dan kegagalan yang dialami anak-anak kami. Karena keberkahan dari sebuah kegagalan adalah bagaimana kegagalan tersebut menjadi cambuk bagi kita untuk semakin lebih baik lagi.
Mencoba menyelami perasaan saya sebagai seorang anak, ternyata hal yang sangat penting yang saya butuhkan dari orang tua adalah rasa percaya. Rasa percaya bahwa sesungguhnya saya tidak berniat buruk meski terkadang saya melakukan kekhilafan. Rasa percaya bahwa saya sedang mencoba untuk menyelesaikan persoalan dengan mandiri meski terkadang banyak salah langkah. Rasa percaya bahwa saya telah berusaha melakukan yang terbaik meski kadang belum sempurna. Rasa percaya bahwa saya terus belajar untuk lebih baik meski saat ini hasilnya belum dapat dilihat orang tua. Rasa percaya bahwa perbedaan- pandangan diantara kami adalah upaya-upaya perbaikan dan bukan bentuk pembangkangan. Rasa percaya dari orang tua memberikan energi tersendiri bagi saya untuk terus bangkit dari kegagalan, mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua. Namun jika rasa percaya itu hilang, seringkali keikhlasan amal tergoda dan berubah menjadi pembuktian demi pengakuan. Ketika rasa percaya itu hilang, seringkali muncul keinginan untuk menyembunyikan kekurangan dan perbedaan, bahkan ingin menutupi kesalahan-kesalahan.
Setelah menemukannya berkali-kali ragu untuk berkata jujur kepada kami, saya berusaha untuk tidak fokus pada kebohongannya. Saya berusaha mencari tahu akar masalah yang menyebabkan ia banyak melakukan kekhilafan dan memilih untuk berbohong demi menyembunyikan kesalahannya. Setelah berusaha merumuskan akar masalah yang kami temui saat ia berusia 7 tahun dulu, maka didapatlah sebuah kesimpulan bahwa Ali mengalami ketidakcocokan sekolah dengan metode formal. Bersamaan dengan itu, ia pun mengalami kecemburuan karena berkurangnya perhatian sejak saya memiliki adik-adik barunya.
Satu persatu solusi kami tempuh, perbaikan kami lakukan agar mengurangi hal yang menyebabkannya melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan. Sejak saat itu, meski membutuhkan waktu yang cukup panjang, kami barusaha memperbaiki hubungan kami. Kami berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan yang membuat ia takut untuk mengakui kesalahan. Kami berusaha untuk fokus memintanya mengupayakan solusi paska terjadi kesalahan, baru kemudian setelah tenang memintanya untuk mengurai sendiri hikmah dibalik kejadian. Setiap kali selesai menggali hikmah saat ia melakukan kesalahan besar, saya selalu mengatakan padanya “ummi percaya kamu bisa lebih baik lagi”.
Setiap mencurigainya berbohong, kami tetap mengundangnya untuk berkata jujur, sambil mengingatkan tentang bagaimana pandangan Allah terhadap kebohongan dan kejujuran. Kami juga meyakinkan dirinya bahwa kejujuran tetap lebih baik meski konsekuansinya terkadang pahit, sementara kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain yang membuat keadaan lebih sulit. Kemudian saat ia mengubah perkataannya menjadi sebuah kejujuran, kami memberikan apresiasi atas kejujurannya, lalu fokus memintanya mempertanggungjawabkan kesalahan.
Setelah proses ini kami lalui, perbaikan-perbaikan pun kami temui. Ia lebih terbuka untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Ia pun percaya bahwa kami terus mempercainya dalam menjalani proses pembelajaran sebagai insan manusia. Sehingga kondisinya kini jauh lebih baik. Sejalan dengan itu, komunikasi intim untuk mengetahui perasaan dan pandangannya sebagai seorang anak yang beranjak menjadi baligh sering kami bangun. Alhamdulillah kini Ali lebih memilih untuk mengungkapkan kesalahan dengan penuh kejujuran meski dengan wajah merasa bersalah dan penuh rasa menyesal dibanding memilih berbohong untuk kepentingan sesaat.
Kiki Barkiah
Dari seorang ibu yang mengejar ketertinggalan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu

CKSMA B-18 Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian

Karena Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian
 
Suatu hari saat homeschooling sedang berlangsung, Shafiyah berkata “Ummi, Shiddiq is smarter than me at math, but i’m better at reading” Saya pun tersenyum haru karena pernyataan yang Shafiyah sampaikan tidak terkesan bahwa ia merasa minder dengan kemampuannya dalam hal matematika. Bahkan ia berusaha untuk menemukan keunggulan miliknya. Shiddiq memang memiliki kecerdasan yang unggul dalam matematika sehingga saat ini level matematika Shiddiq sama dengan Shafiyah. Bahkan Shiddiq memiliki kecepatan menganalis yang lebih baik dari Shafiyah. Shafiyah sering menjadi murid Shiddiq pada pelajaran matematika. Sebaliknya, saya sering mendelegasikan pelajaran latihan membaca untuk Shiddiq, baik bahasa Inggris maupun Indonesia, kepada Shafiyah. Di usia yang sama dengan Shiddiq, Shafiyah mampu membaca buku bahasa Inggris dengan tulisan yang banyak sementara Shiddiq membutuhkan waktu yang lama untuk membaca satu kalimat “Ya…. everybody has their own potensial, teh…. teteh juga pinter kok matematikanya, walau gak secepat Shiddiq. Tapi teteh lebih rajin dan tekun dalam belajar” balas saya menyemangatinya.
 
Suatu hari saat berkunjung ke Pesantren, guru pendamping Ali menyampaikan bahwa pencapaian hafalan Ali menurun. Saat tulisan ini dibuat, kemampuan Ali dalam menghafal menjadi 2 halaman sehari, padahal sebelumnya ia sering mencapai 4 halaman sehari. Saya berusaha membuka pembicaraan untuk mencari tau penyebab penurunannya.
 
“Aa, ummi tidak berani menuntut Aa untuk menjadi hafidz quran, ummi juga tidak berani memasang target berapa lembar yang harus Aa capai setiap hari. Ummi sadar, ummi bukan seorang hafizhah. Ummi juga ngos-ngosan untuk menghafal satu ayat saja. Ummi cuma bisa berdoa semoga Allah memudahkan Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi dan bapak cuma bisa bantu dengan doa dan sedekah. Ummi cuma minta Aa do the best aja. Aa adalah Aa dengan kemampuan khas milik Aa. Kamu tidak usah liat orang lain yang lebih hebat dari kamu dalam menghafal. Ummi hanya ingin melihat diri kamu kebelakang . Kamu harus lebih baik dari diri kamu yang kemarin. Kalau kemarin Aa mampu mencapai 4 halaman per hari, berarti harus dicari tahu penyebabnya mengapa sekarang pencapaian Aa menurun. Ummi tidak sedih tentang berapa lembar yang Aa mampu capai, ummi cuma merasa sedih kalau kamu menurun dari kamu yang kemarin. Ummi cuma merasa sedih kalau Aa gak do your best” Kata saya menegaskan ketika ia mulai membandingkan dimana posisi kemampuannya dibanding teman-temannya.
 
Ada banyak teman-temannya yang luar biasa dalam menghafal, meski kemampuannya bukan yang terendah diantara siswa yang ada. Saya tidak peduli bagaimana kemampuan anak-anak lain. Saya hanya ingin anak saya melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepadanya.
 
“Sekarang terserah Aa, Aa yang punya cita-cita menjadi hafizh di usia sebelum 15 tahun. Silahkan Aa yang menentukan kecepatannya. Kalau Aa mau berlama-lama menghafal di pesantren, insya Allah ummi dan bapak terus berjuang mencari biayanya. Kalau Aa mau segera pulang dan berkumpul kembali, silahkan berjuang menyelesaikanya”
 
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya dan ayahnya masih mencari tahu penyebab kemundurannya. Analisis sementara kami, sepertinya Ali sedang membutuhkan variasi kegiatan karena setiap anak memiliki gaya khas berbeda dalam belajar termasuk dalam menghafal quran. Bagaimanapun mengkarantina diri untuk fokus menghafal quran membuatnya kehilangan beberapa kegiatan yang ia gemari. Namun saya tidak ingin ia menyerah. Saya ingatkan terus cita-citanya untuk menyelesaikan hafalan quran lebih cepat agar setelah itu ia bisa fokus mengejar cita-citanya.
 
“Ummi gak mau berharap Aa pulang cepet, daripada nanti ummi merasa kecewa. Lebih baik dalam bayangan ummi, ummi akan menunggu Aa pesantren selama 2 tahun. Jadi kalau Aa pulang lebih cepet kan jadi kejutan” kata saya. Rupanya ia merasa kesal dengan pernyataan saya. Dengan perasaan yang terbakar ia berkata “No i don’t want it! I want to finish it before my birthday” “ya terserah, Aa sendiri yang menetukan, ummi cuma minta satu saja, do your best!” Timpal saya.
 
“Ummi both of them are so hard. If I go slow it will make me ‘bosan’ and it takes a long time to go back and homeschool with you. But if I go fast, it is hard” kata Ali. ” Ali gak ada sesuatu yang mudah di dunia ini kecuali yang Allah yang memudahkan. Ummi hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan bagi Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi cuma berharap jangan sampai menyerah meraih cita-cita itu. Kalau Aa merasa sedang jenuh dan membutuhkan istirahat tidak apa-apa. Because this is a long journey in your life. Yang penting kamu terus mengejar cita-cita itu” jawab saya. “I know ummi, and if I finish memorize the quran, it doesn’t mean i’m done. I just start it!” Kata Ali.
 
Anak-anakku……
Kalian adalah kalian dengan potensi khusus yang Allah anugrahkan dalam diri kalian masing-masing. Kami hanya sedang berjuang untuk menggali lebih dalam tentang apa yang kalian miliki. Kami hanya sedang berjuang untuk menanamkan visi misi hidup yang mulia, agar apapun yang kalian miliki saat ini kalian gunakan untuk meraih cita-cita hidup mulia itu. Kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami pun tak berani menaruh cita-cita kami yang kandas untuk kalian wujudkan. Karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami hanya ingin menjaga gawang untuk memastikan bahwa setiap pilihan kalian hari ini adalah dalam rangka meraih cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga.
 
Namun anak-anakku….
Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak dihadapkan pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang kita mampu dengan baik melakukannya, memilih sesuatu yang sesuai dengan potensi yang kita miliki. Ada kalanya kita harus melakukan sesuatu meski kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya. Anak-anakku jika kalian tidak mampu meraih sesuatu dengan berlari seperti orang lain, maka lakukanlah dengan berjalan. Meskipun kalian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai, namun pada akhirnya kalian mencapai satu titik yang sama dengan orang lain. Jika kalian tidak mampu melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan dengan berdiri seperti orang lain, maka lakukanlah dengan duduk. Jika kalian tidak juga mampu melakukannya dengan duduk, maka lakukanlah dengan berbaring. Prestasi kalian adalah seberapa besar kalian mampu mendobrak diri, menembus batas, menguras habis semua potensi yang kalian miliki untuk melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan, perlu kalian lakukan dan ingin kalian lakukan. Satu hal saja pinta kami, lakukan apapun itu asalkan itu semakin mendekatkan kalian pada cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga. Jadilah diri kalian apa adanya karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berjuang dengan keterbatasan potensi yang dimilikinya
 
Sumber gambar: www.discoverstandrews.com

CKSMA B-17 Ketika Ummi Lupa Menyetting Panggung

Suatu hari seorang sahabat yang berdomisili di Jepang datang berkunjung ke rumah. Seperti biasa bila ada teman berkunjung membawa anaknya, anak-anak akan mengeluarkan berberapa mainan untuk mengajak anak tamu bermain. Terus terang, beragam mainan dengan kualitas premium memang terpajang di ruang tamu kami. Maklum, harta yang kami bawa sepulang hijrah dari Amerika hanya buku dan mainan anak. Diantara tumpukan mainan istimewa ada mainan yang baru saja kami beli di Indonesia. Motor-motoran kecil yang bisa ditarik mundur agar dapat melaju sendiri. Adalah kewajaran dalam dunia anak jika setiap ada mainan baru, mereka akan memainkan mainan baru sampai puas dan bosan, dan melupakan sejenak mainan-mainan lamanya sebagus apapun itu.
 
Ketika sang tamu datang dengan membawa anaknya yang berumur menjelang 2 tahun, awalnya anak-anak bermain dengan ceria bersama sang tamu. Ditambah lagi, sang tamu membawa sekian oleh-oleh makanan khas Jepang serta permainan rakyat ala Jepang. Suasana menjadi berubah tegang saat anak sang tamu menginginkan mainan motor kecil anak-anak, bahkan ingin membawanya pulang. Ia pun merengek menolak pulang sebelum dapat membawa motor kecil itu, Saya sangat mengerti di usia anak sang tamu yang berusia menjelang 2 tahun, ia sudah mulai menunjukkan ketertarikan terhadap benda tertentu, sementara ia masih belajar untuk mengerti konsep tentang kepemilikan barang. Sehingga sangatlah wajar jika ia menganggap bahwa barang-barang disekitarnya adalah miliknya. Dilain sisi, saya juga sangat mengeri bahwa anak-anak akan cenderung posesif terhadap mainan baru mereka. Berkali-kali sang anak merengek meminta mainan tersebut, sementara Faruq terus membujuk anak tersebut untuk memainkan mainan Faruq yang lain saja, tetapi tidak motornya.
 
Sahabat saya terus membujuk anaknya untuk bermain mainan miliknya. Sebagai tuan rumah, saya juga membantu ibunya untuk terus membujuk anak sang tamu untuk memainkan mainan lain, sambil juga menawarkan kepada anak-anak saya sekiranya mereka mau meminjamkan beberapa saat mainan tersebut. Tidak berhasil membujuk kepada anak-anak saya yang kecil, maka saya pun membujuk Ali yang juga memiliki mainan yang sama. Awalnya saya sangat berharap ia dapat bekerjasama memberikan mainan tersebut pada adik kecil tamu kami dengan menawarkan bahwa saya akan membelikan jenis motor yang sama di supermarket didepan komplek rumah kami Rupanya respon Ali tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Ia sangat kecewa dengan permintaan saya karena motor kecil itu merupakan hadiah dari sepupu tercitanya. Berbeda dengan adik-adiknya, dimana saya sendiri yang membelikan mereka masing-masing sebuah motor kecil karena merasa iri hati dengan mainan baru milik Ali yang tidak dimiliki sodaranya.
 
Suasana jadi sulit, antara sangat paham dengan pertimbangan masing-masing anak, tetapi juga bingung karena segala macam bujukkan belum juga bekerja. Alhamdulillah setelah sekitar 30 menit suasana menegang, akhirnya sang ibunda berhasil membujuk anaknya untuk mau pulang dan berhenti merengek.
 
Anak-anak oh anak-anak……
Hal yang seperti ini memang sangat mungkin terjadi, dan jika sudah terjadi maka akan menggiring kita semua dalam keadaan yang sulit. Maka sebagai orang dewasa seharus saya dapat menyetting panggung terlebih dahulu agar keadaan seperti ini dapat dihindari.
 
Setelah tamu pulang, saya kumpulkan semua anak. Saya akui masing-masing perasaan mereka. Tentang rasa sayang mereka dengan barang baru, tentang betapa berharganya motor kecil pemberian sepupu Ali yang membuat ia hampir meneteskan air mata karena permintaan tolong saya. Saya pun meminta maaf kepada anak-anak jika permintaan kepada mereka untuk sejenak mengalah membuat mereka merasa tidak diakui keinginan dan perasaannya. Kemudian saya pun membuat pengumuman.
 
“Oke anak-anak ummi sangat mengerti kalo kalian saat ini belun mau meminjamkan mainan baru kalian. Ummi pun sebenernya lupa bahwa kalian sedang punya mainan baru. Ummi juga bingung, kok kebetulan adik kecilnya justru mau mainan kalian yang baru ini padahal banyak mainan lain yang dipajang. Sekarang begini saja, ayo coba sebutkan mana saja mainan yang belum kalian mau pinjamkan ke orang lain saat ini. Nanti setiap kali akan ada tamu, ummi akan bikin pengumuman, lalu silahkan kalian simpen beberapa mainan yang belum ingin kalian pinjamkan. Berarti semua yang disimpan di ruang tamu, sudah harus siap kita bagi, kita pinjamkan. Bagaimana setuju?”
 
Anak-anak pun setuju lalu mereka sibuk memilih mana saja barang yang belum ingin mereka pinjamkan saat tamu atau temannya datang. “Aku masih mau mainin truk ini, nanti ini disimpan ya” begitu kata Shiddiq misalnya.
 
Berbagi oh berbagi….. berbagi adalah sebuah proses bagi seorang anak. Anak-anak yang posesif dan sedang tak ingin berbagi merupakan sesuatu yang wajar dalam tahapan perkembangan anak. Kita tidak perlu menghukum mereka atau melebeli mereka dengan sebutan “pelit” karena perilaku mereka yang belum dapat berbagi sesuatu yang dalam pandangannya amat berharga. Hukuman, pendisiplinan atau sekedar lebel negatif hanya akan menumbuhkan perasaan tidak suka dan tidak menumbuhkan kemurahan hati. Tidak masalah ketika seorang anak memutuskan untuk tidak berbagi sesuatu, karena dalam kehidupan memang ada hal-hal yang harus kita pertahankan kepemilikannya. Kelak ketika mereka dewasapun mereka akan lebih memahami keindahan berbagi dibanding menyimpan kesenangan untuk dirinya sendiri.
 
Ketika anak kita menemukan temannya tidak mau berbagi maninannya, berikan ia pengertian bahwa mungkin saat ini ia sedang sangat menyukai mainan tersebut dan belum ingin berbagi. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui perasaan anak lainnya, dan perasaan yang mungkin juga pernah mereka alami. Saat anak tidak mau berbagi, ajak mereka bicara kenapa, bisa jadi kasusnya seperti gambaran peristiwa diatas, ketika anak kami yang sudah berusia besar enggan berbagi karena merasa bahwa barang itu begitu istimewa baginya.
 
Saat orang lain sedang ingin meminjam barang anak kita, hargai kepemilikannya dengan bertanya apakah anak kita bersedia meminjamkannya. Hargai mereka saat mereka menolak untuk memberikannya dan pastikan bahwa kerabat kita dapat mengerti keputusan sang anak. Saat sang adik ingin memakai barang milik kakaknya, terkadang banyak orang tua memaksa anak yang lebih tua untuk mengalah. “kamu kakak, kamu harus mengalah” Aturan keluarga seperti ini sering sekali mengabaikan perasaan dan menafikan keberadaan sang kakak. Akhirnya timbulan perasaan kesal yang berkepanjangan kepada sang adik yang menyemai bibit-bibit permusuhan dan persaingan antar saudara. Hargailah kepemilikan mereka, berikan mereka kebebasan untuk memilih ingin berbagi atau sedang enggan melakukannya. Anak-anak yang berusia lebih kecil biasanya lebih mudah dialihkan dengan sesuatu yang lain, namun perasaan kakak yang terluka karena pengabaian akan lebih memberikan pekerjaan tambahan kedepannya. Tawarkan pilihan pada sang kakak apakah saat itu ia bersedia berbagi, apresiasilah dan tunjukkan betapa kita bangga saat ia memilih untuk mengalah dengan adiknya.
 
Dengan berbagai pengalaman kasus, biasanya kita dapat memperkirakan suasana seperti apa yang kira-kira akan menimbulkan konflik perebutan mainan, maka langkah antisipasi perlu kita lakukan. Keluarga kami memiliki kebiasaan membawa satu container mainan setiap hari ke mesjid untuk dimainkan anak-anak kompleks sambil menunggu giliran mengaji di TPA, biasanya saya akan bertanya tentang mainan apa yang ingin mereka bagi hari ini. Terkadang ada anak yang menolak jenis mainan tertentu dan menginginkan jenis yang lain “hari ini hotwheel track aja gak usah lego”. Maka saya membawa box container yang sesuai dengan kesepakatan anak-anak, dengan catatan semua mainan yang dibawa berarti siap dibagikan oleh semua teman-teman, jika tidak siap berbagi maka tidak usah membawa apapun. Saat kita berkunjung ke rumah teman, biasnya anak-anak akan bersemangat meminjam mainan milik temannya karena bagi mereka hal itu adalah hal yang baru. Maka biasanya kemanapun kami berkunjung, kami membawa mainan kami. Tujuannya agar temannya pun tertarik memainkan mainan yang baru sehingga lebih rela untuk saling berbagi.
 
Melatih anak untuk berbagi dapat dilakukan dengan memberikan teladan dari hal-hal yang sederhana. Misalnya ketika kita membeli sesuatu, kita dapat ,mengatakan “ini punya bunda, tapi bunda ingin berbagi untuk kalian semua”. Kita juga dapat memberi teladan dengan membiasakan anak-anak bergantian dalam berkegiatan. sebagai contoh ketika membaca “sekarang giliran kamu baca halaman ini, nanti halaman selanjutnya bunda lagi ya” Pembiasaan juga bisa dilakukan dengan seringnya melakukan kegiatan dengan papan bermain seperti ular tangga, monopoli, dll. Biasanya dalam keluarga kami, kami memiliki aturan bahwa ketika kita perlu bergantian maka urutan dimulai dari anak yang paling kecil. Beri jatah waktu yang jelas serta dapat dimengerti anak, sebagai contoh kita menggunakan timer yang beralarm untuk mengatur jatah waktu penggunaan sesuatu. Melatih anak berbagi juga dapat dilakukan dengan sering melibatkan mereka dalam proyek amal sedekah yang kita lakukan. Libatkan mereka saat memberikan sedekah kepada para mustahik agar anak-anak mendapatkan teladan dalam kedermawanan.
 
Berbagi adalah sebuah proses, maka kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instan. Saat anak-anak masih dalam usia sulit berbagi dan belum paham arti berbagi, maka managemen lingkungan lebih efektif dibanding memberikan pengertian melalui komunikasi secara terus menerus. Mungkin membelikan 2 buah mainan yang sama percis saat mereka masih sangat kecil akan lebih tepat dibanding membeli satu mainan dan mengkondisikan mereka untuk berbagi. Akan ada masa dimana mereka lebih dapat mengerti tentang arti berbagi yang disampaikan melalui komunikasi verbal. Pada saat itulah nasihat-nasihat akan lebih efektif bekerja. Namun sebelum tahapan itu, menyetting panggung agar meminimalisir terjadi konflik adalah jauh lebih utama daripada memberi pengertian secara verbal.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari ibu beranak lima yang berusaha menjaga perdamaian keluarga setiap saat
 
http://www.babycentre.co.uk/a1021960/how-to-teach-your-child-to-share-ages-3-to-4
http://www.whattoexpect.com/playroom/ask-heidi/sharing-toys.aspx
Sumber gambar www.hippowallpaper.com
 

CKSMA B-16 Karena Sabar Tak Berarti Tak Berkata “Tidak”

Beberapa kali melihat Fatih 1.8 tahun mengungkapkan rasa frustasinya dengan memukul atau mencakar Faruq. Meski saya mengerti bahwa hal ini wajar dilakukan oleh seorang balita yang masih memiliki keterbatasan untuk mengungkapkan perasaan dan keinginannya, tetapi bukan berarti sikap pemahaman itu hanya melahirkan pemakluman-pemakluman “ah mereka kan masih kecil” “namanya juga anak kecil”. Justru karena mereka masih kecil, ini adalah kesempatan kita untuk sebanyak-banyaknya memberikan pemahaman tentang kebaikan.
 
“buk!!” buk!”
Faruq: “ummi Fatihnya mukul”
ummi: “No hitting!! that’s hurt”
saya angkat Fatih, saya bawa Fatih ke dalam kamar, mendudukannya di atas kasur, sementara saya hanya berdiri di sampingnya dengan hanya sekali atau dua kali berkata “gak boleh mukul, sakit!” saya diam…… saya hanya diam menatapnya. Sikap diam yang memberi sinyal bahwa saya tidak suka dengan perbuatannya. Diam……. dan terus menatapnya…….dan sekali berkata dengan nada yang kokoh “tidak memukul! sakit!”
 
Fatih menatap dengan perasaan bersalah, ia mulai mengerti bahwa saya sedang menunjukkan ekspresi ketidaksukaan saya terhadap sikapnya. Saya hanya diam menemaninya sekitar 5 menit. Biasanya ia merasa tidak nyaman dengan pengabaian saya, ia bangkit dan memeluk saya untuk minta maaf. Lalu saya mengajaknya keluar untuk minta maaf pada kakaknya. Ia pun mengeti, ia menghampiri Faruq kemudian bersalaman dan mencium tangan kakaknya “mmmuaaaaah” barulah kemudian saya memberikan ekspresi kebahagian yang menunjukkan bahwa saya menyukai perbuatannya saat ia mau meminta maaf pada kakaknya.
 
Beberapa kali saya juga menemukan Faruq (4 tahun) berperilaku agresif dalam mengungkapkan rasa frustasi dan kekecewaannya terhadap sodaranya. Meski saya mengerti bahwa hal ini “masih” wajar untuk usianya yang masih 4 tahun, namun penegakan kedisiplinan tetap harus dilakukan. Saya angkat Faruq saya bawa ia ke dalam kamar lalu saya sampaikan”silahkan tenangkan diri dulu disini, kalo sudah tenang kita bicara” Biasanya ia masih memberontak, dengan nada kokoh saya sampaikan “Mohon maaf abang tetap disini, sampai abang bisa kembali aman bergabung bermain dengan yang lain” Dalam kasus tidak sangat agresif saya tidak menutup pintu kamar, saya hanya berdiri di depan kamar atau di sampingnya. Biasanya ia mengadu dengan nada menangis dan rewel “mohon maaf ummi gak ngerti, abang belum siap bicara dengan tenang sama ummi. silahkan bicara kembali kalo abang sudah tenang” biasanya ia berusaha menghapus air mata dan menghentikan tangisannya. “i’m done ummi, i’m done!” baru kemudian ia menjelaskan duduk persoalannya dengan lebih tenang, lalu saya mengakui perasaan kecewa dan marahnya sambil kemudian menuntunnya menyelesikan persoalan dengan bijak dan menasihatinya bagaimana seharusnya ia bersikap saat ia menemukan perasaan yang sama di lain waktu. Kadang begitu saya pisahkan ke dalam kamar sambil berkata “kalo sudah bisa aman bergabung dengan yang lain, kamu boleh kembali bergabung main” Faruq langsung merasa tidak nyaman karena dipisahkan. Kemudian ia spontan berkatan “aman…aman… sudah ummi, auk janji”
 
Pernah juga kasus terjadi dimana Faruq sangat agresif mengungkapkan rasa kecewanya bahkan saya yang tidak memiliki salah pun ikut dipukulnya. Jika ini terjadi saya terpaksa menutup pintu, bukan karena menghukumnya dengan mengurung diri di kamar, tetapi karena harus memberikan ia kesempatan untuk menenangkan diri. Saya akan tetap berdiri di depan pintu untuk membuatnya merasa aman bahwa saya tidak kemana-mana. “Abang…. ummi sayang sama abang tapi ummi takut karena abang sedang sangat marah. Kalo abang sudah tenang dan tidak menyerang, ummi buka lagi pintunya” Saat ia sudah berjanji dan menenagkan diri, barulah saya membuka pintu lalu membantunya menyelesaikan masalah.
 
Teknik ini saya gunakan bukan dalam rangka menghukum mereka. Teknik ini saya gunakan untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk berada dalam suasana yang lebih tenang agar membuka kesempatan bagi kami berbicara untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam suasana yang lebih tenang, saya merasa lebih efektif untuk menyampaikan pesan ketidaksetujuan atas sikap mereka dan membimbing mereka untuk menyelesaikan masalah dengan bijak. Tidak peduli siapa yang salah, ketika kali pertama perkelahian terjadi maka yang akan saya lakukan adalah memisahkan mereka dari kasus untuk menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Tidak peduli siapa yang pertama kali salah, sebelum melakukan persidangan terhadap persoalan anak-anak, anak yang berperilaku agresif harus dapat ditenangkan terlebih dahulu. Saya juga harus memastikan bahwa dimata mereka sikap ini bukanlah sebuah hukuman. Maka nada komunikasi yang saya pilih tidak mengesankan kemarahan atau ancaman. Saya berusaha memberikan kesan di mata mereka bahwa saya ada untuk membantu mereka keluar dari masalah, dengan syarat mereka harus bersikap tenang terlebih dahulu. Adakalanya anak-anak tetap menangis bahkan agresif, biasanya saya berkata “oke kalo masih mau nangis, silahkan disini dulu. Kalau sudah siap berbicara sama ummi panggil ummi ya”
 
Anak harus mengerti tentang batasan perilaku, tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Bersikap sabar bukan berarti tidak berkata “tidak”. Bersikap sabar bukan berarti mengalah dengan kemauan anak. Bersikap sabar bukan berarti mengikuti segala keinginannya. Bersikap sabar bukan berarti mengiyakan semua pandangannya. Banyak orang tua yang terlihat keras, galak dan kasar tetapi akhirnya luluh dengan sikap negatif anak. Namun orang tua yang bijaksana adalah mereka yang tetap teguh dengan kebernaran namun meneguhkan kebenaran mereka dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
 
Sabar begitu dibutuhkan dalam membimbing mereka ke jalan yang benar. Sabar begitu dibutuhkan dalam meluruskan perilaku mereka. Sabar begitu dibutuhkan dalam melatih mereka bersikap bijaksana. Sabar begitu dibutuhkan dalam tantangan-tantangan yang dialami dalam pengasuhan.
 
Namun berkata “tidak” bukan berarti dilakukan dengan kekerasan. Menyatakan ketidaksetujuan bukan berarti dilakukan dengan penindasan. Kekerasan tidak berarti diluruskan dengan kekerasan pula. Kedzholiman tidak berarti harus dihapuskan dengan kedzholiman. Katakan “tidak” karena cinta. Katakan “tidak”dengan penuh cinta. Tetaplah yakin bahwa dengan ijin Allah Sang Pengenggam Jiwa, nasihat dan upaya kita meluruskan perilaku mereka kelak akan bekerja. Meski terkadang upaya-upaya itu harus kita lakukan berkali-kali, seolah tidak ada ujungnya. Yang Allah minta dari kita hanyalah menyeru kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Sementara hasilnya kita serahkan kepada Sang Pemilik Jiwa. Fitrah mereka itu suci, mereka hanya membutuhkan latihan-latihan untuk bersikap lebih bijaksana dan semakin dewasa.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu 4 jagoan

CKSMA B-15 Perhatian! Perhatian! Kurang Perhatian Oh Kurang Perhatian

Di suatu pagi saya sedang mengajar homeschool. Saat itu sedang mata pelajaran menghafal quran untuk Shiddiq. Sementara Shiddiq menghafal quran, Shafiyah mengerjakan tugas menulis arab dan Faruq sedang sibuk dengan mainannya.
 
Tiba-tiba………………………
“Gedebuuk”
Fatih (1.5 tahun) terjatuh tersandung lapisan lantai yang sedikit meninggi pada bagian pintu. “Aw” katanya. Saya tau jatuhnya pelan, pelaaaaaan sekali dan tidak menyakitkan. Biasanya saat terjatuh yang lebih parah pun ia memang tidak mudah menangis dan langsung bangun sendiri. Saya yang tengah melantunkan quran hanya berkomentar
“Fatih sakit ya….. ati-ati ya nak… ayo sini!”
Lalu saya kembali melanjutkan menghafal Al-Quran bersama Shiddiq tanpa bergerak menghampirinya. Rupanya Fatih masih tengkurap di tempat sama sambil acting layaknya pemain film, berkata dengan nada datar dan sangat terlihat berpura-pura. “Aw…aw” sambil melihat ke arah saya. “Aw…aw” dia perkeras lagi. Saya baru sadar kalau Fatih masih tetap di tempatnya. Saya pun tersenyum menahan tawa. Saya tau ia sedang memberi sinyal agar saya menghampirinya, menolongnya dan memperhatikannya. Namun saya tidak menyangka bahwa di usianya yang berumur 1.5 tahun ia sudah mampu memanipulasi keadaan untuk mencari perhatian saya. “Fatih…. fatih… kamu lagi pengen diperhatiin ummi ya” Saya pun sejenak berhenti mengajar lalu menggendongnya. Lalu ia pun tertawa dan kembali bermain dengan ceria.
 
Kurang perhatian….oh……kurang perhatian. Memiliki banyak anak memang otomatis menjadikan waktu kita lebih banyak dibagi untuk memastikan bahwa setiap anak terpenuhi kebutuhannya, baik fisik, akal maupun emosional. Setiap anak-anak akan berlomba-lomba agar dapat merebut perhatian orang tuanya dengan berbagai cara. Sebagai pengajar utama homeschooling anak-anak, kegiatan belajar personal otamatis memaksa saya untuk berinteraksi secara personal dengan setiap anak. Adakalanya anak-anak melakukan kegiatan bersama, adakalanya mereka melakukan kegiatan berbeda secara pararel namun ada pula kegiatan yang betul-betul harus fokus melakukan bimbingan personal. Namun meskipun anak-anak hampir 24 jam berada di sekitar saya, melakukan sebagian besar aktifitas dengan dampingan saya, namun sikap-sikap dalam rangka mencari perhatian tetap menjadi bumbu tersendiri dalam keseharian kami.
 
Melihat peristiwa tadi mengingatkan saya pada memori beberapa tahun lalu saat saya menjadi remaja. Karena kesibukan mamah dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, maka saya jarang sekali bisa berinteraksi dengan mamah kecuali pada waktu singkat di malam hari. Sebagai seorang anak yang paling sering sakit, ada perasaan bahagia saat sakit saya kambuh. Karena dengan cara itu saya bisa lebih berlama-lama berinteraksi dengan mamah saat mamah memijat kaki saya. Menunjukkan perasaan sakit menjadi cara saya untuk meminta perhatian mamah. Sebagai keluarga dengan 5 bersaudara kami juga memiliki kekhasan cara untuk menarik perhatian orang tua. Dari mulai menunjukkan eksistensi diri melalui prestasi sekolah, sampai membuat berbagai sensasi-sensasi yang membuat orang tua akan memperhatikan kami. Karena kursi eksistensi sebagai anak yang paling pintar telah direbut lebih dahulu oleh kakak saya, maka saya pun memilih tema eksistensi lain dimata orang tua. Saat remaja saya memilih eksistensi sebagai anak yang paling aktif berorganisasi. Maka saya pula yang paling banyak diperhatikan dalam bentuk kemarahan karena tidak pernah ada di rumah. Hehehe
 
Perhatian oh perhatian…… Adalah sebuah kebutuhan bagi seorang anak untuk merasa diakui, diperhatikan dan dihargai keberadaannya. Adalah sesuatu yang wajar ketika anak-anak mencari perhatian dan meminta persetujuan kepada orang dewasa di sekitar mereka khususnya orang tua. Sikap mencari perhatian menjadi sebuah masalah ketika hal ini terjadi setiap saat baik berupa sikap yang positif maupun sikap yang negatif. Sebagai contoh sering kali anak-anak saya bolak balik menunjukkan karya lego mereka, atau pesawat terbang kertas hasil kreasi mereka. Tetapi hal tersebut dilakukan berulang-ulang karena ia tau bahwa dengan itu saya akan memperhatikan mereka dengan mengapresiasi karyanya. Namun karena tidak ingin saya berpaling dan mengerjakan yang lain, maka anak-anak terus menerus meminta saya melihat bagaimana cara kerja karya-karya mereka. Kadang saya terpaksa harus menyela mereka ” keren banget masya Allah, tapi sudah dulu ya karena ummi mau lihat pekerjaan teteh dulu, nanti kita teruskan lagi ngobrolnya” Memiliki 5 anak berarti membagi waktu secara bergiliran agar dapat memperhatikan mereka semua secara spesial. Tugas kita adalah menyeimbangkan antara jumlah perhatian yang anak butuhkan dengan kemampuan kita memberikan perhatian kepada mereka.
 
Sering terjadi kasus dalam keluarga dimana anak-anak cenderung sering berperilaku negatif. Ketika seorang anak tidak berhasil merebut perhatian orang tua saat ia berkelakuan positif, maka ia bisa berbalik memilih untuk melakukan perbuatan negatif demi mendapat perhatian orang tua. Anak-anak yang sering berperilaku negatif demi mendapatkan perhatian orang tua, jika tidak ditangani dapat menjadi cikal bakal permasalahan kedisiplinan dan penyimpangan perilaku saat mereka beranjak dewasa. Tugas kita bukanlah mengurangi kebutuhan akan perhatian anak. Karena jika kebutuhan akan perhatian dapat ditangani dengan benar, hal ini akan membantu kita untuk membentuk dan meningkatkan perilaku-perilaku positif seorang anak. Tugas kita hanya mengurangi perilaku berlebihan saat mereka mencari perhatian serta mengarahkan mereka berperilaku dengan wajar.
 
Jangan biarkan kebutuhan anak-anak kita akan perhatian berubah menjadi tuntutan akan perhatian. Ketika anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang cukup, mereka menggunakan ledakan, amukan, mengomel, menggoda, serta melakukan perilaku menjengkelkan lainnya. Mereka akan berpikir, “Jika saya tidak bisa mendapatkan perhatian dengan menjadi baik, maka saya akan berbuat keburukan untuk mendapatkan perhatian Ibu.”
 
Saat anak-anak meminta dengan mengamuk, merengek bahkan berguling-guling, pastikan kita tidak diperintah dengan perilaku negatif mereka. Sekali mereka merasa berhasil mendapatkan sesuatu dengan menggunakan cara negatif, mereka akan cenderung mengulanginya.
 
“ummi tahu kamu sedang mencari perhatian, tetapi ummi tidak suka caramu meminta. Ayo ulang, minta dengan cara yang baik” kata saya misalnya saat ada balita yang meminta sesuatu dengan cara merengek. Sementara saya baru akan menolongnya setelah ia memperbaiki caranya dalam meminta.
 
Perhatian dan persetujuan orang tua adalah reward utama bagi seorang anak. Sehingga ketika kita memberikan perhatian dan persetujuan kepada anak-anak terhadap perilaku yang positif, maka mereka sedang mendapat perhatian positif. Perhatian positif berarti fokus pada perilaku positif dan menangkap sebanyak-banyaknya perilaku positif anak untuk kita apresiasi. Perhatian positif dapat diwujudkan dalam bentuk kata-kata pujian, dorongan, kedekatan, tepuk tangan, pelukan, telukan di punggung atau belaian lembut di rambut. Perhatian positif akan meningkatkan perilaku positif.
 
Sebaliknya ketika kita fokus pada perilaku negatif, dan baru memberikan perhatian saat anak-anak berlaku negatif, artinya kita sedang memberikan perhatian negatif. Perhatian negatif dapat diungkapkan dengan kemarahan, ancaman, introgasi, dan ceramah. Menurut ilmu psikologi, perhatian negatif pada hakikatnya tidak menghukum perilaku bahkan justru semakin meningkatkannya. Mengapa? Karena anak-anak akan berfikir cara termudah untuk menangkap perhatian orang tuanya. Ketika anak-anak tidak mendapat perhatian dengan cara yang positif, mereka akan melakukan apapun demi mendapatkan perhatian kita.
 
Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memanipulasi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka belajar untuk merepotkan, dan menganggu orang tua. Mereka belajar bagaimana mengontrol dan memerintah kita. Perhatian negatif mengajarkan anak-anak bagaimana memperburuk keadaan dan membuat kita merasa kesal. Secara tidak langsung kita sedang mengajarinya melalui sikap kita yang tidak pernah peduli saat mereka berperilaku positif sementara baru memperhatikan mereka saat mereka berperilaku negatif.
 
Ya sebagai manusia biasa, tidak mungkin kesempurnaan dalam memberi perhatian dapat saya lakukan kepada semua anak. Tapi paling tidak, keberadaan saya di dalam rumah bersama mereka selalu memastikan bahwa setiap hari ada interaksi-interaksi personal yang spesial bersama mereka. Biasanya secara spesial saya menarik salah seorang anak untuk membaca cerita hanya berdua saja, sementara anak-anak yang lain sedang melakukan kegiatan yang lain. Setiap anak biasanya memiliki jenjang pelajaran baca yang sesuai dengan usianya, maka disitulah kesempatan saya untuk hanya berdua dengan mereka. Begitu juga untuk pelajaran personal lainnya seperti tahsin dan tahfidz.
 
Saya tau, Shiddiq sangat sulit mengerjakan worksheet dengan penuh konsentrasi jika saya tidak disampingnya, maka biasanya saya berbisik untuk mengatakan betapa saya sangat bangga dan senang saat ia sedang fokus mengerjakan worksheet meski tanpa bimbingan saya. Saya tau, Faruq masih sering berebut mainan dengan Fatih karena usianya yang masih balita, maka saya berusaha mengekspresikan apresiasi saya dengan istimewa saat saya menangkap momen dimana Faruq bersedia mengalah, memberikan mainan yang dimainkannya atau bahkan memberikan lego yang sudah ia buat kepada adiknya. Saya tau Shafiyah paling telat bangun untuk shalat subuh dibanding adiknya, maka saya mengungkapkan apresiasi kepadanya saat sesekali saya mendapatinya bangun lebih awal. Saya tau anak-anak masih sesekali bertengkar saat bermain bersama, maka ketika saya menemukan mereka bermain dengan anteng dan saling bekerjasama, saya sesekali menghentikan pekerjaan saya untuk menghampiri mereka dan mengapresiasi ketertiban mereka.
Perhatian negatif sering kali hanya mengajarkan tentang hal yang tidak boleh dilakukan. Namun tidak sampai mengajarkan apa yang seharusnya dilakukan dan sikap apa yang kita harapkan. Namun perhatian positif akan memberikan tanda persetujuan terhadap sikap-sikap yang kita harapkan dari mereka serta memotivasi mereka untum terus meningkatkannya.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang masih terus berusaha membagi adil perhatian positifnya untuk semua anak-anaknya.
 
Referensi
Good Behavior, Stepehen W. Gerber
http://life.familyeducation.com/behavioral-problems/punishment/42962.html

CKSMA B-14 Selagi Masih Ada Waktu…..

Tiba-tiba saya terkaget, terbangun pukul 11 malam karena deringan telepon rumah. Saya merasa pasti ada berita penting. Saat itu handphone memang mati, dan seseorang yang menelpon ke rumah di malam hari pasti ingin menyampikan pesan penting saat itu juga.

Bapak: “assalamu’alaikum mi tolong bukain pintu!”
Ummi: “wa’alaikumsalam haaaah bukain pintu?”
Bapak: “iya bapak pulang, sekarang diluar”

Saya tidak menduga bapak pulang hanya karena ada libur tahun baru Muharram. Tidak ada rencana pulang ke Bandung karena libur hanya satu hari.
Kejutan pagi hari bagi anak-anak adalah kedatangan sang ayah yang diluar rencana. Lalu bapak seharian mengajak anak melakukan kegiatan kunjungan belajar. Bapak mengajar anak-anak homeschooling dengan berkunjung ke pusat alat peraga iptek. Masya Allah, ternyata bapak tidak hanya menjadi ayah yang dirindukkan anak-anaknya, tetapi bapak adalah ayah yang merindukan anak-anaknya.
Awalnya saya menyangka bahwa kerepotan akibat LDR akan lebih banyak dialami oleh saya dan anak-anak. Kenyataannya justru sebaliknya. Saya tidak terlalu merasakan perbedaan kerepotan yang berarti, karena repot mengurus anak adalah pekerjaan sehari-hari. Justru bapak yang merasa “kerepotan” berpisah dengan anak-anak. Berkali-kali terdengar curahan hati dari beliau bahwa LDR dan hidup di kostan itu terasa sepi.
Ummi: “jadi pak enakkan mana? Tinggal barengan sama Ummi dengan repot ngurus anak-anak, atau istirahat dan tidur nyenyak di kostan sendirian? Hehehe”
Bapak: “enakan di rumah mi sama anak-anak”
Ummi: “walau capek dan repot pak?”
Bapak: “iya mi….. Abis nanti juga anak-anak kalo sudah besar kan akan pergi berpisah, masa sih sekarang mereka masih kecil sudah juga berpisah sama bapak”
Cinta anak oh cinta anak……
Cinta yang selalu menimbulkan kerinduan. Bahkan sang ayah rela berlelah-lelah hanya untuk sebuah waktu berkualitas bersama anak-anak. Mengajak anak-anak kunjungan belajar hampir setiap akhir pekan saat bertemu keluarga itu adalah pekerjaan yang membutuhkan energi besar. Kadang bapak harus berjalan sambil menggendong anak-anak yang kelelahan. Belum lagi sampai rumah, anak-anak masih juga ingin bermain kuda-kudaan dengan sang ayah.
Kami memang tidak pernah tau, seberapa lama lagi sisa waktu yang Allah berikan untuk bercengrama dengan mereka. Kami tidak pernah tau berapa banyak lagi kesempatan yang Allah berikan untuk mendidik dan menanamkan kebaikan bagi mereka. Maka sesibuk apapun kami, selelah apapun kami, kami berkomitmen untuk tetap memiliki interaksi dalam kegiatan positif dan berkualitas bersama anak-anak. Terutama kegiatan dalam rangka mentransfer ilmu yang bermanfaat bagi masa depan mereka. Kami tidak dapat menjamin bahwa warisan dalam bentuk harta bagi anak-anak akan tetap ada dan bermanfaat secara berkah selamanya bagi anak-anak. Tetapi kami yakin bahwa menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus menjaga mereka meski kelak kami telah tiada. Kami sadar bahwa kebersamaan dengan mereka tidak akan lama. Kelak mereka akan pergi satu persatu meraih impiannya. Tetapi kami ingin kebersamaan kami bersama mereka hari ini menjadi bekal hidup dan kenangan kisah yang takkan terlupa selama-lamanya. Mencari dunia tidak pernah akan ada puasnya. Mencari harta dengan banyak meninggalkan keluarga juga tidak akan pernah mencapai batas kecukupannya. Maka selagi ada waktu, selagi ada usia, selagi ada kesempatan untuk bersama, disitulah masa dimana kami menanamkan benih kebaikan dan memperkuat cinta diantara keluarga.
Ya, kami memang keluarga homeschoolers. Hampir sebagian besar transfer ilmu untuk anak-anak hadir melalui pengajaran kami berdua. Pernah terlintas berfikir bahwa bagaimana jika sewaktu-waktu saya dipanggil Allah SWT, bagaimana sekolah anak-anak? Astagfirullah, was-was syeitan sering kali berniat menggelincirkan niat baik seorang hamba. Apalagi yang perlu dikhawatirkan ketika sesuatu telah dititipkan kepada Sebaik-baik Penjaga. Allah pula yang kelak akan mengganti dengan sekian guru terbaik untuk anak-anak saat kami tak lagi mampu mengajar mereka. Tetapi biarlah kami terus berburu pahala menjadi pendidik pertama dan utama sampai batas akhir kami tak lagi mampu melakukannya. Selagi masih ada waktu….. Selagi masih ada waktu….. Tak ingin pahala-pahala yang seharusnya dapat kami miliki diambil oleh pihak-pihak lain yang menggantikan beberapa tugas kami. Selagi masih ada waktu…. Selagi masih ada waktu… Kami ingin terjun sendiri mendidik anak-anak kami meski disela-sela kelelahan kami. Semoga Allah segera mengabulkan doa kami untuk kembali berkumpul dalam satu rumah bersama bapak.
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berbahagia memiliki keluarga yang saling merindukan
Kiki Barkiah

CKSMA B-13 Mereka Itu Tidak Nakal, Mereka Itu Hanya ….

Hari itu kami sekeluarga sedang menginap di rumah nin Ani. Disana tinggal seorang keponakan saya yang berumur 1 tahun 2 bulan, Nadine namanya. Saat itu kami sedang duduk-duduk di lantai sambil menunggu tukang bakso membuatkan hidangan bakso untuk kami sekeluarga. Tiba-tiba…….
 
Gedebuk!!! “Woaaaaaaaaaaaaa”
 
Nadine menangis karena terjatuh. Tepat di belakang kaki nadine yang sedang tengkurap, ada kaki abang Shiddiq.
 
Ummi: “innalillahi, sakit ya nak!”
 
Segera saya menggendong dan memberikan Nadine pada ibunya.
 
Ummi: “abang, Nadine tersandung bang, ati-ati ya bang.”
Abang Shiddiq tersenyum kikuk dan merasa bersalah sambil berkata “sorry”
 
Ummi: “abang itu barusan sengaja atau gak sengaja sih?”
Tanya saya penasaran karena melihat ekspresi wajahnya
Shiddiq: “i did it in purpose”
Dengan terheran-heran sambil berusaha untuk tidak terpancing emosi saya bertanya pada Shiddiq”
Ummi: “kenapa abang sengaja bikin adek Nadine jatuh?”
Shiddiq pun tersenyum-senyum dengan penuh rasa bersalah tapi belum mau mengungkapkan alasannya
Ummi: “abang, ummi pengen tau apa yang abang pikirin kenapa abang sengaja membuat nadine tersandung?”
Shiddiq masih belum juga mau menyampaikan alasannnya
Ummi: ” oke abang ummi tunggu ya sampai abang mau kasih tau alasannya, your problem is not done yet ya… sampai abang mau cerita kenapa abang ngelakuin itu”
Akhirnya Shiddiq bersedia mengaku
Shiddiq: “i just want to know, is Nadine can jump over my leg by herself?”
Sambil menahan diri antara ingin tertawa dan marah saya meresponnya
Ummi: “astagfirullah bang, next time think before acting bang….. yang abang lakuin itu sangat berbahaya, jadi sekarang kesimpulannya gimana? Nadine sudah bisa jump over belum?”
Shiddiq: “belum…..”
Ummi: “bang, nadine itu masih kecil, lain kali kalo mau percobaan pikirin dulu bang bahayanya. Dah… sekarang selesaikan masalahnya. Abang harus jelasin sama bi mery (ibunya Nadine) apa alasan abang ngelakuin yang tadi”
Akhirnya abang bersedia menyeleaaikan masalahnya, menjelaskan alasan lalu meminta maaf pada Nadine.
 
Anak-anak……… anak-anak…….
 
Mungkin sering sekali kita melihat perilaku seorang anak yang terkesan buruk, dan membuat kita mudah melabelisasi mereka sebagai anak nakal. Namun seandainya kita mau bersabar dan mendengar alasan dan melihat sudut pandang lain atas perbuatan yang mereka lakukan insya Allah kita akan bisa bersikap lebih bijaksana dalam merespon setiap perbuatan yang tidak kita harapkan.
 
Mereka itu tidak nakal, mereka hanya masih dalam tahap menyempurnakan perkembangan otak. Sehingga sering kali ide-ide yang dalam pandangan mereka merupakan sebuah ide yang baik, namun di mata kita hal itu terlihat konyol. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya belum matang dalam melahirkan sikap yang bijaksana. Sehingga sering kali dalam pandangan kita, anak-anak terlahir dengan tempramen yang buruk padahal yang dibutuhkan hanyalah berbagai latihan kebijaksaan memilih sikap dalam merespon keadaan. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya ingin tahu berbagai hal. Sehingga sering kali ide-ide eksplorasi yang dalam pandangan mereka merupakan sebuah ide yang menakjubkan, namun di mata kita hal itu begitu membahayakan. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya masih memiliki banyak keterbatasan untuk mengungkapkan pandangan dan perasaan mereka. Sehingga sering kali komunikasi non verbal saat mereka meluapkan perasaan, dipandang sebagai sifat negatif yang melekat pada dirinya. Padahal mereka hanya butuh terus berlatih mengungkapkan keinginan dan perasaan dengan cara yang baik dan wajar. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya memiliki keterbatasan kemapuan fisik dalam melaksanakan ide-ide hebat mereka. Sehingga terkadang kecelakaan dan kerusakan atas hasil eksplorasi mereka dipandang sebagai perilaku yang lahir dari niat buruk diri mereka. Padahal mereka hanya perlu sedikit bantuan, arahan, dan fasilitas yang memudahkan untuk merealisasikan ide-ide hebat mereka. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya tengah melewati masa-masa egosentris. Sehingga terkadang sifat egoisme mereka dipandang sebagai sifat yang tidak memiliki kepekaan sosial. Padahal dalam hati mereka yang memiliki fitrah kebaikan, telah tertanam nilai-nilai kebaikan sosial. Mereka hanya butuh untuk semakin sadar bahwa mereka hidup dalam lingkungan sosial lalu terus berlatih untuk dapat membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitar. Mereka itu tidak nakal, mereka hanya memiliki ide-ide khas sebagai anak-anak. Sehingga terkadang ide-ide yang dalam pandangan mereka merupakan sebuah ide yang istimewa, namun dalam pandangan kita hal itu sebahai ide yang biasa, tidak menarik, aneh bahkan terkesan buruk. Padahal mereka hanyalah membutuhkan apresiasi dari orang-orang sekitar mereka agar mereka terus bersemangat meningkatkan ide-ide sederhana mereka menjadi sesuatu yang lebih kompleks dan lebih bermakna. Mereka itu tidak nakal, mereka hanyalah masih anak-anak yang membutuhkan arahan, bimbingan dan didikan kita. Tetapi kita bukan lagi anak-anak. Kita telah menjadi orang dewasa yang seharusnya dapat lebih bersabar menunggu mereka untuk semakin besar, semakin berkembang, semakin mampu, semakin cerdas, semakin bijaksana, semakin tepat dan wajar dalam bersikap, serta semakin berprestasi dalam berkarya.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang menanti perkembangan anak-anaknya

CKSMA B-12 Kemana Pun Kelak Mengembara, Kita Pernah Punya Cerita Yang Sama

Pagi itu saya menelpon Ali, bahwa sepulang mengisi seminar di Bekasi saya akan menengoknya ke pesantren. Terharu rasanya sebagai ibu, karena ketika kami tiba, ternyata ia telah membeli beberapa permen lolipop susu dan beberapa jajanan pasar di warung pesantren untuk adik-adiknya. Spontan saja sang adik bahagia menerima tanda cinta berupa permen dari kakaknya. Anak-anak memang sangat dekat dengan saudaranya. Bahkan saat 2 minggu sebelumnya kami hanya dapat bertemu Ali dengan durasi singkat, Fatih (1.5y) menangis tantrum di dalam mobil dan berteriak “Aa……Aa……”
 
Siang itu, Ali bercerita tentang asiknya aktifitas di pesantren. Tentang jurit malam, menyembelih kambing, memanah, tifan, memancing atau berenang. Lama sekali ia bercerita pengalamannya bersama teman-teman di pesantren saat pergi berenang ke sebuah waterboom. Kini giliran adiknya yang bercerita. Bahwa 2 minggu yang lalu Shiddiq dan Shafiyah tasmih quran di depan panggung pada sebuah acara ulang tahun di sebuah waterboom, di daerah Majalaya.
 
Ali: “iiiiiiih kalian ke waterboom. Aaaaaaa…… aa gak ikut”
Kata Ali dengan kecewa, padahal sebelumnya sudah hampir satu jam kami menyimak cerita tentang waterboom yang dikunjunginya”
Shiddiq: “you go to the waterboom too. But your story is better than us”
Kata Shiddiq dengan ekspresi cemburu dengan cerita Ali.
 
Mendadak air mata saya ingin menetes. Ternyata, anak-anak bukan hanya membutuhkan pergi ke sebuah tempat yang menyenangkan. Namun mereka juga perlu memiliki cerita yang sama, bahagia yang sama, suka duka yang sama. Pembicaraan mereka membuat saya sangat bersyukur bahwa ternyata ikatan persaudaraan di antara mereka begitu dekat. Memang kelak setiap anak kan tumbuh dewasa. Kelak mereka kan memiliki jalan cerita yang berbeda. Namun mengumpulkan mereka dalam pengasuhan di masa kecil adalah modal dalam membangun ikatan cinta.
 
Kumpulkanlah mereka dalam pengasuhan yang sama, dalam pengasuhan yang menjaga fitrah jiwa. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah berbuat kekhilafan, ikatan ini kan menarik mereka untuk berpegangan erat kembali untuk menapaki jalan kebenaran. Kumpulkan mereka dalam pengasuhan yang sama, dalam pengasuhan yang menanamkan ketauhidan kepada Allah SWT. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah berbuat lalai dan menjauh dari Allah, ikatan ini kan menarik mereka untuk kembali berbaris dalam kumpulan orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah semata. Kumpulkan mereka dalam pengasuhan yang sama, dalam pengasuhan yang menyemai benih-benih kebaikan. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah enggan berbuat kebaikan, ikatan ini kan menjerat mereka agar menahan diri dari perbuatan maksiat dan kesia-siaan belaka. Kumpulkan mereka dalam pengasuhan yang sama. Dalam pengasuhan yang mengasah diri dan melatih kemandirian. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah kesusahan dan menyusahkan, ikatan ini kan mendorong mereka untuk mendukung satu sama lain agar setiap mereka dapat hidup diatas kemandirian perjuangannya masing-masing. Kumpulkan mereka dalam pengasuhan yang sama. Dalam sebuah pengasuhan yang menanamkan mimpi-mimpi besar membangun peradaban manusia. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah enggan menebar kebermanfaatan, ikatan ini kan merangkul kembali mereka untuk bersemangat mengoptimalkan potensi dalam menjalankan setiap peran kekhalifahan sesuai takdir hidup mereka. Kumpulkan mereka dalan pengasuhan yang sama. Dalam pengasuhan yang bernafaskan nilai-nilai islam. Sehingga kelak jika diantara mereka ada yang tengah menapaki jalan kefujuran, ikatan cinta ini kan menyelematkan mereka untuk kembali bersama-sama menapaki jalan ketakwaan.
 
Setiap anak memiliki cerita hidup yang berbeda, bahkan kelak sebagian dari mereka mungkin kan pergi mengembara. Kemanapun kelak mereka mengembara, mereka pernah punya cerita yang sama. Cerita apapun yang mereka ukir di masa dewasa, semoga kelak akhirnya berkumpul kembali di surga. Jangan pisahkan seorang anak dengan orang tuanya, tidak juga dengan saudara-saudaranya. Kecuali ketika bekal hidup telah terkumpul cukup untuk mengembara, biarlah mereka meraih jalan surganya. Biarlah semua bersemangat menapaki keunikan kisah hidupnya, namun tetaplah kita semua bercita-cita bahwa kelak kita semua harus kembali berkumpul di surga.
 
Batujajar JawaBarat
Dari serang ibu yang sedang mempersiapkan bekal kehidupan semua anak-anaknya, sebelum kelak mereka mengembara

CKSMA B-11 Aku Ingin Mengantarkanmu Hingga Engkau Terlanjur Mencintai Kebaikan

Suatu ketika di Amerika kami bermain di park, ada segerombolan anak muda dengan gaya pakaian yang hampir serupa, memakai celana longgar yang hampir merosot. Semua anak-anak muda ini menggunakan tato pada tubuhnya membawa radio kecil lalu memasang musik keras-keras.
 
Ummi: Liat tuh anak-anak, kalian mau gak kayak gitu? kata mereka pakaian mereka itu cool, keren. Setel musik keras-keras sambil jalan, buat mereka itu cool. Kalian mau gak kayak mereka? kata mereka yang kayak gitu itu keren lho
 
Anak-anak pun spontan merespon dengan jawaban No…… Alhamdulillah mereka sangat tidak tertarik menjadi “keren” dan “eksis” dengan pilihan tema seperti itu.
 
Di waktu yang lain……
 
Shafiyah: “Ummi why my friends in TPA just wear hijab when they go to the mesjid? But i wear hijab every time i go outside?
Ummi: “Karena memang mereka belum wajib memakai hijab, Shafiyah juga belum wajib memakai hijab. Jadi terserah shafiyah, mau pakai jilbab terus boleh, mau kadang-kadang dibuka seperti temen-temen juga boleh kalo belum baligh”
Shafiyah: “no i don’t want it, i want to wear hijab every time i go outside”
 
Begitulah Shafiyah, ia selalu sibuk mencari hijabnya saat ia akan keluar teras rumah. Bahkan kala saya memintanya memanggil tukang buah yang lewat, dia pun panik berkata
 
“wait ummi i have to find my jilbab first”
 
Alhamdulillah Shafiyah telah memilih untuk terus menggunakan hijabnya setiap kali bertemu lelaki non mahram. Pernah satu malam kami membahas panjang tentang konsep mahrom hanya karena Shafiyah bertanya didepan siapa saja ia harus menutup hijabnya.
 
Di waktu yang lain…….
 
Ummi: “Aa kamu gak papa kan sedikit gak nyambung sama yang lain karena kamu gak ngerti lagu-lagu yang beredar di kalangan remaja?
Ali: “It’s oke ummi, justru Ali lagi mikir gimana caranya bikin xxxx ( seorang kerabat) sering nyalain murottal quran. Karena disana begitu sepi pasti langsung nyalain musik. Kayak kita aja di rumah, kalo sepi langsung nyalain quran. Memang sih xxxx suka tanya aa dulu kalo mau nyalain musik ‘is it ok for you?’ aa bilang aja sama dia ‘ya tapi jangan keras-keras ya’. Aa juga lagi mikir gimana caranya yyyy (kerabat yang lain) bisa berhenti merokok. Soalnya udah kecanduan banget mi”
 
Alhamdulillah sujud syukur pada Allah ketika anak-anak terlihat memiliki keteguhan dalam bersikap, tidak mudah terwarnai lingkungan, bahkan semangat dalam berdakwah, mewarnai lingkungannya dengan kebaikan meski hanya diam memberi teladan.
 
Di waktu yang lain…..
 
Suatu ketika kami diundang dalam sebuah pesta ulang tahun kerabat, ada hingar bingar musik dalam acara. Tiba-tiba Shafiyah mendekat dan berkata
 
Shafiyah: “ummi i don’t like party because it has a lot of music”
 
Ditengah acara, Ali dan Shafiyah pergi kedepan panggung saat mc menantang siapa yang ingin mendapat hadiah. Ternyata tugas yang diberikan adalah menyanyi. Spontan wajah mereka kebingungan karena mereka belum lancar berbahasa Indonesia, juga tidak mengenal lagu-lagu Indonesia. Saya pun berteriak “Gak bisa pak, mereka gak bisa nyanyi bahasa Indonesia, ” Lalu MC bertanya, ” “bisanya apa?” Saya menjawab “bisanya ngaji”.Lalu mereka berdua pun duet tasmih hafalan surat An-Najm di depan para undangan.
 
Alhamdulillah sujud syukur pada Allah ketika melihat mereka masih dapat berpartisipasi dalam sebuah lingkungan, berbaur tanpa harus sepenuhnya melebur. Tetap diterima oleh masyarakat dengan identitas apa adanya mereka.
 
Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah pertanyaan besar yang terbesit dalam hati saya sebagai orang tua. Mampukah anak-anak tetap memegang teguh prinsip keyakinan yang kami tanamkan jika mereka kelak terjun pada realita kehidupan yang kenyataannya berbeda dengan apa yang kami yakini bahkan sebagian dalam kondisi keterpurukan? Mampukah anak-anak tetap mempertahankan identitas diri yang kami tanamkan ketika masuk pada usia baligh dimana saat itu keinginan untuk menjadi sama dengan orang lain muncul begitu kuat? Ada satu prinsip yang kami tancapkan kuat saat itu. Kami ingin mengantarkan anak-anak agar di usia baligh ia telah paham akan siapa diri mereka, apa tujuan hidup mereka, bahkan telah mengetahui apa yang ingin mereka lakukan di dunia. Kami ingin sekali saat usia anak-anak baligh mereka telah memiliki kebanggaan atas eksistensi positif yang mereka pilih, sehingga apapun konsep “keren” yang sedang populer di kalangan remaja saat itu tidak akan menggoyahkan pilihan mereka dalam memilih tema eksistensi di mata Allah.
 
Maka sejak saat itu kami meluangkan begitu banyak waktu untuk anak-anak dalam menyajikan kisah-kisah teladan. Kami tidak ingin anak-anak salah memiliki idola. Kami memilih untuk tidak banyak menghadirkan cerita karakter kartun populer kecuali yang membahas tentang nilai teladan kehidupan. Kami memilih untuk tidak membelikan sekian banyak produk dengan gambar karakter karena kami tidak ingin mereka amat sangat mengidolakannya. Kisah nabi, kisah Rasululullah SAW, kisah para sahabat, kisah tokoh-tokoh yang berprestasi, kisah teladan, kisah kehidupan kekinian yang sarat hikmah, menjadi santapan sehari-hari anak-anak. Kami berusaha untuk selalu ada bahan diskusi yang terkait dengan ilmu kehidupan setiap harinya bersama anak-anak.
 
Kami juga berusaha menyalurkan energi mereka dalam kegiatan positif. Memberikan berjuta wawasan dan pengalaman yang bisa menawarkan sekian bidang untuk kelak mereka pilih dalam mengemban peran kekhalifahan. Kami ingin sekali ketika mereka masuk usia baligh mereka sudah memilih bidang yang ingin mereka tekuni untuk masa depan mereka. Sehingga mereka sama sekali tak berkeinginan dan tak memiliki waktu untuk melakukan kesia-siaan seperti apa yang dilakukan remaja saat ini. Kami yakin ketika seorang anak telah terpaut hatinya dengan idola yang memberi sosok teladan, ia akan mengerahkan segala daya upaya untuk meneladaninya. Kami yakin ketika seorang anak telah terpaut hatinya dengan mimpi-mimpi kebaikan, ia akan mengerahkan segala daya upaya untuk meraihnya.
 
Tidak mudah memang memiliki anak-anak di usia baligh. Tapi sejauh melihat perkembangan Ali, alhamdulillah ia masih bersemangat menyibukkan diri dalam menapaki mimpi-mimpi yang pernah ia tuliskan sebelum menginjak usia 12 tahun. Kami memang bercita-cita di usia 14 tahun anak-anak kami sudah mulai secara fokus mempersiapkan ilmu untuk mengambil peran dalam kehidupan. Dan kami ingin sekali kelak ketika mereka memasuki usia 14 tahun, kami telah mengantarkan mereka sampai titik dimana hati mereka telah terlanjur mencintai kebaikan. Maka diri ini ingin terus, terus, terus, dan terus menjaga mereka dalam lingkungan yang penuh kebaikan, mengenalkan mereka pada sosok yang penuh kebaikan, menginspirasi mereka pada sekian mimpi-mimpi kebaikan, sampai hati mereka terlanjur mencintai kebaikan, bukan kesia-siaan apalagi kemaksiatan.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang tengah menemani buah hati dalam masa-masa kritis kehidupannya
 
Sumber gambar campusreform.org

CKSMA B-10 Bila Engkau Memang Harus Bekerja

 
Kiki: “Mah, banyak follower kiki yang nanya gimana mamah dulu mendidik anak padahal mamah bekerja dari pagi sampai malam? Gimana caranya supaya anak-anak baik-baik saja padahal mamah gak banyak waktu bersama kita?”
 
Tiba-tiba mata sang ibu berkaca-kaca, dengan sedikit terbata ia mengurai kata. Mungkin pertanyaan ini membawanya bernostalgia. Mengingat perjuangannya sebagai ibu dari 5 anak, dengan profesi sebagai guru, sementara suami beliau yang berumur 25 tahun lebih tua, sudah hampir masuk usia non produktif saat menikahi beliau. Perjuangan bahwa kelak akan menjadi tulang punggung keluarga sudah beliau bayangkan ketika memilih menerima pinangan sang suami. Hari-hari terlewati dengan penuh perjuangan, terlebih sang suami yang berprofesi sebagai dosen pun memiliki pengahsilan yang sederhana.
 
Mamah: “Pertama kalau seorang istri harus bekerja, betul-betul ia niatkan karena Allah, demi anak-anaknya”
Kiki: “jadi mamah, seandainya dulu bapak kaya dan penghasilan cukup, mamah mau tetap bekerja?”
Mamah: “Ya tidak atuh, mamah juga pengen seperti kalian tinggal dirumah saja mengurus anak-anak. Makanya mamah itu tahu pahitnya istri bekerja, mamah pernah berdoa pada Allah supaya nasib ini hanya cukup dirasakan sampai mamah saja, tidak perlu sampai anak-anak”
 
lalu ibuda pun melanjutkan
 
Mamah: “yang kedua, perempuan harus memastikan bahwa pekerjaannya sebersih mungkin, rezeki yang akan dibawa pulang halal dan bersih. Yang ketiga setiap kali mamah mau melangkah keluar rumah untuk bekerja mamah selalu berdoa pada Allah ‘ya Allah…aku pergi demi anak-anaku, tolong jaga mereka ya Allah’. Trus kalo mamah kan gak bener-bener ninggalin, walau mamah pulang malam tapi kan bapak ada dirumah lebih banyak, ada uwa juga, jadi kalian juga baik-baik aja mungkin atas doa bapak juga. Yang keempat, mamah itu selalu ingin setiap kali pulang membawa sesuatu yang bisa diberikan pas memeluk anak-anak, makanya kalo sedang gak punya uang sama sekali suka bingung mau pulang. ‘ya Allah gimana ini mau pulang gak ada oleh-oleh yang bisa dibawa’. Trus yang kelima, kalian inget kan kalo mamah pulang kalian semua selalu ngumpul di kamar, yang satu tidur-tiduran di kelek (ketiak), yang satu dikaki, yang satu dimana, terus kita selalu ngobrol. Ya gitulah, sebenernya mah kalian baik-baik aja karena dijaga sama Allah. Boro-boro mamah mah kayak kalian, nemenin anak main. Apalagi liat kiki kayak tadi, sambil nyususin anak, trus kakak-kakaknya belajar, aduh mamah mah gak sanggup”
 
Begitulah sepenggal diskusi antara ibunda dengan saya. Sebuah diskusi yang mengingatkan saya pada beberapa perjalanan hidup saya. Saat saya ingin terjerumus pada jalan fujur, sepertinya doa ibu saat menitipkan kami kepada Allah serta keberkahan perjuangannya, telah menarik saya kembali untuk terus berusaha istiqomah dijalan taqwa. Menarik saya untuk terus berada bersama orang-orang yang berbuat kebaikan dan menyeru orang lain berbuat kebaikan. Meski terkadang diri ini merasa terseok-seok untuk terus berada dalam barisan orang-orang yang baik dan gemar melakukan kebaikan.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya pada perjuangan bapak dan mamah yang bergantian mejaga kami di waktu kecil saat tidak ada pembantu rumah tangga. Mamah akan berlari meninggalkan sekolah untuk menyusui anaknya, sementara bapak berangkat mengajar ke kampus. Lalu mamah kembali pergi mengajar saat bapak kembali pulang dari kampus. Saat kami remaja, mamah memang lebih sibuk. Mamah terpaksa pergi subuh dan pulang jam 9 malam, tetapi bapak menjaga kami, membimbing kami di rumah, juga ada uwa–kakak bapak yang turut mengasuh kami. Rasanya tanpa kerjasama mamah dan bapak, serta sistem pendukung dalam pengasuhan kami, entah bagimana kini jalan cerita kami.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya pada waktu-waktu berkualitas bersama mamah. Meski kami hanya dapat bertemu satu jam sebelum tidur, kami selalu berkumpul diatas kasur berbagi cerita bersama mamah. Mamah sering bercerita tentang nilai-nilai hikmah kehidupan, bercerita tentang masa kecilnya, masa lalunya, kegagalannya, serta apa saja kisah yang mengasah kepribadian dan visi hidup kami. Mamah selalu menanamkan mimpi-mimpi dan cita-cita besar dalam hidup kami. Mamah juga memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhan kami agar kami dapat menempuh pendidikan dan meraih mimpi, walau saat itu penghasilan mamah terbilang sederhana sebagai seorang guru. Namun meski tanpa berceritapun, kami sudah dapat menangkap banyak hal tentang hakikat kehidupan dari sikap dan perjuangan hidupnya. Alhamdulillah kini perjuangannya sedikit demi sedkit terbayar dengan kebahagiaan melihat kemajuan taraf kehidupan anak-anaknya.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya akan kelelahan-kelelahan mamah. Meski kami dibantu dengan asisten rumah tangga, mamah selalu minta agar asisten rumah tangga fokus mengurusi keperluan kami, saat mamah tidak ada. Sementara untuk urusan pekerjaan rumah, mamah akan bekerja sama dengan ART dalam melaksanakannya. Sering kali melihat mamah masih mengepel lantai di tengah malam dan baru dapat tidur tengah malam. Meskipun mamah bekerja, mamah tidak serta merta menyerahkan semua pekerjaan dan urusan pengasuhan kepada ART. Mamah hanya menugaskan ART untuk membantu, sementara secara keseluruhan seluruh kehidupan rumah tangga dibawah menegemennya. Malu rasanya jika mulut ini mengeluh dengan keadaan ditengah kenyamanan saya sebagai ibu rumah tangga.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya bahwa keberadaan saya untuk beribadah kepada Allah dari dalam rumah belum menjamin kesuksesan saya dalam mengantarkan anak-anak menjadi pribadi yang sholih jika tanpa adanya perlindungan, keberkahan dan keridhoan Allah.
 
Ya…Setiap manusia memiliki cerita. Setiap manusia memiliki kisah takdirnya. Betapa bersyukurnya saya bisa mendapat kesempatan beribadah dari dalam rumah, berbakti kepada suami dan fokus mengurus dan mendidik anak-anak tanpa harus tertuntut memiliki banyak peran dalam membantu suami mencari nafkah. Maka menulis dan berbagi setiap hari adalah salah satu cara saya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat karunia yang Allah berikan kepada saya. Namun setiap manusia memiliki kisah takdirnya. Ada banyak wanita seperti ibunda yang terpaksa harus keluar rumah untuk membantu sang imam dalam memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan perjuangan menyekolahkan anak-anak belum selesai saat ayahanda meninggal dunia.
 
Apapun kisah kita, inilah ladang surga yang harus kita nikmati, kita syukuri, dan kita manfaatkan sebagai sarana agar dapat meraih pahala surga. Inilah ladang surga kita, bukan milik mereka, dan takkan ada yang benar-benar memiliki kisah yang sama. Meski kisah kita berbeda, tapi kita para wanita dapat tetap memiliki tujuan yang sama. Bagaimana setiap cerita hidup kita dapat meningkatkan derajat kita di surga.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri yang berharap surga dari dalam rumahnya