Renungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

0
498

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 11 – Sebelum Engkau Membagi Cinta

Episode LDR kembali mewarnai kehidupan kami. Alhamdulillah anak-anak semakin mandiri, semakin dapat mengurusi keperluan sendiri. Sehingga meski dirumah tanpa suami yang kini bekerja di luar kota, juga tanpa anak sulung Ali yang kini sedang menuntut ilmu di pesantren, juga tanpa bibi yang hanya bekerja setangah hari, alhamdulillah tidak ada perasaan repot berlebihan dalam mengurus keperluan anak-anak.

Tetapi perubahan kondisi emosi anak-anak tetap memberi pekerjaan tersendiri. Kini giliran Fatih (1,5) yang merasa sangat kehilangan. Fatih selalu menangis hebat saat berpisah dengan ayahnya. Lalu jika ayahnya berkunjung ke Bandung, ia bahkan tidak mau lepas dari sang ayah. Ia bahkan hanya ingin di bantu oleh ayahnya dalam memenuhi keperluannya. Sering sekali menolak tawaran saya dalam melayani kebutuhannya saat ada ayahnya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain, jika merasa sedih, kecewa atau frustasi, sering sekali menangis ingin berkumpul dengan ayahnya. Alhamdulillah ini menunjukkan bahwa suami saya benar-benar menjadi ayah yang dirindukkan oleh anak-anaknya.

Peristiwa ini membuat saya merenung, betapa tidak mudah membagi waktu, pikiran dan tenaga dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Bayangkan jika hanya terbagi dengan urusan mencari nafkah saja, keadilan itu sulit sekali terjaga, bagaimana dengan keadilan saat seorang suami membangun lebih dari satu keluarga? Karena keadilan tak sekedar urusan harta, keadilan juga buka sekedar urusan perasaan istri-istrinya. Namun ada sekian anak dibawah pemeliharaan dan tanggung jawabnya yang juga menanti giliran mereka untuk dapat berinteraksi dengan ayahnya.

Sebagai seorang istri dari suami yang memiliki banyak anak, saya tau betul bagaimana suami perlu melipatgandakan kekuatan untuk meluangkan waktu agar seluruh anak-anaknya dapat mendapat hak akan perhatian yang sama. Sementara waktu yang harus dibagi hanyalah berkaitan dengan urusan mencari nafkah atau menuntut ilmu. Masya Allah betapa para laki-laki yang memilih poligami harus betul-betul melipatgandakan kekuatan untuk membagi seluruh cinta, perhatian dan waktu yang dimilikinya. Karena jatah giliran tak melulu persoalan pemenuhan kebutuhan biologis setiap pasangannya. Disana ada anak-anak yang menanti bimbingan dan nasihat, serta menanti canda tawa dan bercengkrama dengan ayahnya.

Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua pun harus mengatur porsi waktu dalam karirnya agar keseimbangan perannya dalam keluarga dapat terjaga.
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan orang tua harus mengatur beban pikirannya agar masih dapat mencurahkan pikirannya dalam memikirkan keadaan keluarga .
Berbuat adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Meski berbuat adil dalam keluarga itu tidaklah mudah. Bahkan kepala keluarga harus mengatur keuangan dengan sangat bijaksana agar keseimbangan finansial dapat terjaga. Menjadi adil untuk satu keluarga saja begitu berat pertanggungjawabannya. Maka hanyalah orang-orang yang luar biasa yang pantas untuk berani mengambil tanggungjawab lebih untuk dapat berbuat adil dalam memimpin lebih dari satu keluarga. Maka lipatgandakanlah ketakwaanmu sebelum engkau membagi cinta. Lipatgandakanlah keuatan dan kemampuanmu sebelun engkau membagi cinta.

Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri biasa yang bersuamikan suami biasa, yang masih berupaya untuk dapat adil kepada satu keluarganya
Kiki Barkiah
Sumber gambar kompasiana.com

 

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here