Renungan Pasutri 08 – Karena Cinta Tak Hanya…..

0
438

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 08

Karena Cinta Tak Hanya…..

Malam itu, tepat satu malam sebelum ulang tahun pernikahan kami, Allah memberi sebuah peristiwa untuk membuat saya lebih bersyukur dan memaknai arti Cinta dalam sebuah pernikahan. Saat itu perut saya sudah sangat besar karena mengandung anak kelima. Sementara saya masih mengasuh 2 balita laki-laki yang aktif tanpa ART dengan segala tingkah laku khas balita. Saat tantrum, bertengkar, berebut mainan, alhamdulillah Allah masih memberi kesabaran untuk tidak marah dan tetap berusaha menghadapi tingkah laku kedua jagoan saya sesuai dengan ilmu parenting yang saya pelajari. Padahal disaat yang sama saya sedang menahan rasa sakit kontraksi dan sakit yang secara rutin kekambuh saat hamil.

Setiap hamil, penyakit atritis tulang pada pelvis biasanya kambuh. Untuk bangun setiap hari suami harus sedikit mengungkit tubuh saya kemudian menopang sebagian tubuh saya agar bisa menyeret kaki ke kamar mandi. Sampai pinggul saya dapat berhasil menumpu kedua kaki. Kalo tidak ada yang membantu mengangkat tubuh saya, terkadang untuk bisa duduk sendiri pun tidak mampu. Selama bertahun-tahun suamilah yang sabar merawat saya jika saya kambuh. Kalau sedang kambuh, otomatis semua program mengajar anak-anak dilakukan di atas kasur. Sementara pekerjaan rumah ditunda sampai saya bisa bisa berdiri. Sebagian dikerjakan suami, sebagian dikerjakan sambil duduk jika sudah dapat duduk. Sebagian dikerjakan sambil berbaring jika sangat tidak mampu menggerakkan kaki.

Sebelum terlelap suami berkata “ummi….sabarmu tiada habisnya..” Malam itu saya tidak bisa tidur, sakiiiiiit sekali. Sakit dengan sakit yang tidak tertahankan. Air mata saya menetes menahan rasa sakit dengan tingkat sakit belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya berbisik membangunkan suami karena ingin ke kamar mandi. Saya katakan bahwa rasanya sakit sekali. Suami mencoba mengungkit tubuh saya, tapi tidak satupun posisi tubuh dapat temukan dimana rasa nyeri itu dapat berkurang agar saya bisa menguatkan diri untuk bangun. “Tidak bisa bangun pak…. Tidak bisa!” Saya sudah tidak kuat untuk buang air, dan akhirnya kasur pun basah malam itu. Melihat kesabaran suami mengurus saya, air mata pun membasahi pipi saya. Dalam hati saya berkata “bapak…. Sabar mu pun tiada habisnya” Ini bukan kali pertama bapak direpotkan saat saya sakit. Kesabaran beliau mendapingi sayalah yang membuat kami sampai hari ini terus kompak dalam meraih mimpi.

Hadiah terindah di malam itu ternyata sebuah hikmah. Sebuah peristiwa yang mengajarkan saya tentang makna cinta dalam sebuah pernikahan. Cinta tidak hanya berfikir tentang apa yang akan kita terima. Cinta selalu menyibukkan diri untuk berfikir tentang apa yang masih bisa kita beri. Cinta juga tidak sekedar menikmati kebahagiaan atas kelebihan-kelebihan yang dimiliki pasangan kita. Cinta selalu siap untuk menerima paket lengkap karunia Allah berserta segala kekurangan dari mereka yang kita cintai. Cinta tak hanya canda tawa saat kita menikmati kelapangan dan menjalani kesenangan bersama. Cinta selalu membuat kita tetap dapat tersenyum tulus saat kesulitan menerpa bahkan badai menerjang. Cinta tak sekedar berdiri disamping dengan penuh rasa bangga saat pasangan kita berada di atas puncak. Cinta selalu siap menopang dan bersedia terinjak saat pasangan kita berada dibawah dalam perputaran roda kehidupan. Cinta tak hanya sekedar menjabarkan idealitas yang kita harapkan. Cinta selalu bersedia membimbing dan menempa agar pasangan kita dapat menjadi seperti apa yang kita harapkan. Cinta tidak hanya bersedia menerima pujian dan sanjungan tetapi juga bersedia menerima teguran, kritikan dan saran dari pasangan. Cinta tidak hanya bersedia menerima kasih sayang dan kelembutan tetapi juga bersedia menerima amarah dalam rangka kebaikan. Cinta tidak hanya bersedia menerima bantuan tetapi juga bersedia menerima dan memenuhi keinginan pasangan. Tidak ada sesuatu yang sempurna yang dapat kita cintai kecuali Allah. Tapi kita masih dapat menyempurnakan ikhtiar kita dalam pembuktian cinta.

Batujajar Jawa Barat
Dari seseorang yang merasa dicintai
Kiki Barkiah

Baca juga РRenungan Pasutri 07

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here