Renungan Pasutri 05 – Agar Istrimu Bahagia Beribadah Di Dalam Rumah

0
521

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 05 – Agar Istrimu Bahagia Beribadah Di Dalam Rumah

Suatu hari tiba-tiba suami berkata pada saya

Suami: ummi…. terimakasih ya ummi sudah mau di rumah!
Ummi: ya pak, doain dan bantu ummi ya walau di rumah tetap bisa bermanfaat untuk ummat. Ummi ingin sekali bisa mengajar minimal 1000 orang setiap hari.

Ada pancaran senyum ketulusan dan kebahagiaan dari suami karena saya tau hanya itulah yang ia minta pada saya saat masa taaruf pernikahan kami. Anak-anak diurus dan dididik langsung oleh ibunya. Hanya itu yang ia minta dari seorang mahawiswi yang tak pernah berada di rumah kecuali di malam hari, karena selalu menghabiskan waktu untuk sekolah dan berorganisasi. Hampir tak percaya juga bahwa saya bisa menikmatinya saat dulu di masa taaruf saya berkata “kalau kemarin kan saya masih mahasiswa, ya saya ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang mahasiswa. Kalo besok kan saya istri dan ibu, maka saya pun akan berusaha yang terbaik menjalankan amanah baru” inilah jawaban dari sebuah pertanyaan keraguan beliau pada saya di masa taaruf “kalau sibuknya kayak begini, kapan ngurus anaknya?” Setelah beliau membaca sederetan aktifitas dari biodata saya.

Meminta saya di rumah telah diiringi berbagai upaya terbaik dari suami agar saya senyaman mungkin dapat beribadah di rumah sekaligus memenuhi harapan yang menjadi kebahagiaan beliau. Ia tau saya adalah seorang aktifis yang sangat tidak bisa menahan diri untuk tidak aktif berkontribusi di masyarakat. Ia juga tau bahwa saya tetap ingin memiliki sumber penghasilan sendiri sebagai persiapan masa janda. Ia sangat menyadari tentang sebuah permintaan yang saya ajukan saat akan menikah. Satu saja…. beliau bersedia bersama saya berjuang di jalan dakwah. Sebuah jalan yang belum pernah beliau kenal sebelumnya. Karena menurut pengakuannya, ia baru saja mendekatkan diri kepada Allah dan kepada mesjid tepat beberapa hari sebelum pertemuan kami di sebuah mesjid atau kira-kira dua bulan sebelum pernikahan kami.

Alhamdulillah ia masih berusaha melaksanakan hafalan quran surat as-shaf yang ia lantunkan di malam pertama kami, sebagai permintaan saya sebelum menikah dengan beliau. Sebuah ikrar untuk bersama-sama menuntut ilmu islam dan berjuang membela agama Allah. Ia yang tidak sering bersentuhan dengan kajian islam menjadi bersedia dan kini rajin mendalami islam, jauh melebihi ilmu yang saya miliki.

Ia minta saya di rumah, mengurus dan mendidik anak-anak, maka ia pun berusaha agar nafkah tercukupi tanpa saya harus keluar rumah. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta diijinkan untuk berkarya dari rumah. Ia pula yang menyokong setiap rintisan usaha kami dari dalam rumah. Ia yang bangun sebelum subuh membantu membuat kue dan menghias kue hias, saat saya merintis usaha bakery. Ia yang terjun langsung mendukung saat saya merintis sekolah dinkota Batam lengkap berupa dukungan moril dan materil. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta dibekali sekian buku dan sekian sarana prasarana yang membantu saya mendidik dan mendampingi aktifitas anak di rumah, maka ia pun selalu meluangkan hartanya untu investasi pendidikan anak agar saya senang dan nyaman mendidik anak di rumah . Ia minta saya di rumah, tapi saya minta dukungannya saat harus aktif dalam dakwah. Ia yang menjaga anak saat saya harus mengikuti atau mengisi kajian islam. Ia juga turut membantu segala tek-tek bengek keperluan acara dakwah yang sedang saya kerjakan. Ia yang membantu mendukung dana pada setiap proyek amal yang saya inginkan. Ia berusaha selalu memenuhi janjinya untuk mendukung saya memberi kebermanfaatan kepada ummat sehingga saya pun semakin bahagia memenuhi perintah Allah dan permintaan beliau untuk berada di dalam rumah. Ia minta saya di rumah, tapi saya minta diantar keluar rumah setiap akhir pekan untuk mengumpulkan energi dan semangat dalam mengurus anak-anak. Maka ia pun selalu pergi di akhir pekan di tengah kelelahannya demi membahagiakan saya dan anak-anak. Ia minta saya di rumah, tapi saya ingin tetap bisa mempelajari agama. Ia pun membelikan buku-buku untuk saya menuntut ilmu, menyediakan akses internet untuk saya belajar, dan membantu agar sesekali dapat menuntut ilmu di luar.
Ia minta saya di rumah, ia tau bahwa minat dan bakan saya dalam dunia menagajar dan tulis menulis, maka beliau pun meluangkan waktunya untuk mengedit tulisa dan memanage blog dimana saya sudah tak memiliki waktu melakukannya. Ia minta saya di rumah, dan ia tau betapa saya tidak pede mengajar homeschooling anak-anak yang sudah usia smp. Maka karena beliau meminta saya untuk homescooling anak-anak, maka beliau pun meluangkan waktu mengajar anak-anak pada mata pelajaran yang saya tidak menhuasainya. Ia minta saya dirumah, dan ia tau terkadang suasana penat terasa saat menghadapi berbagai tingkah laku anak-anak. Maka telinga beliau setia mendengar setiap curahan hati saya meski terkadang kelelahannya membawa matanya terpejam. Ia minta saya di rumah, dan ia tau terkadang saya lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya, maka sepulang kantor ia sering memegang sapu dan pel untuk mengurangi kelelahan saya. Ia minta saya dirumah, ia tau terkadang saya kehabisan ide mengolah masakan di dalam rumah dan ingin sesekali merasakan citarasa masakan yang lain. Maka sesekali ia menemani saya memasak masakan ribet atau membawa kami makan di restoran yang terjangkau baginya.

Ia minta saya di rumah, maka ia mendukung apa saja yang masih mampu ia lakukan agar saya dapat mengaktualisasikan diri, meningkatkan kapasitas diri, beribadah lebih baik pada Allah, mengamalkan ilmu, menyalurkan minat dan bakat, memiliki tambahan penghasilan, dan apa saja yang bisa membuat saya bahagia dan menikmati salah satu perintah Allah dalam Al-quran untuk tetap berada di rumah.

Perintah berada di rumah adalah perintah Allah

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Q.S Al ahzab 33

Namun pelaksanaan ibadah ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan terbesar adalah suami tercinta yang membantu agar sang istri merasa mudah dan bahagia menjalankan perintah Allah untuk berada dirumah. Maaf sahabat, jika tulisan ini dirasa terlalu jujur. Saya hanya ingin menyampaikan para suami betapa dukungan suami begitu dibutuhkan agar para istri dan ibu dapat dengan baik melaksanakan perintah Allah untuk berada di rumah. Kecukupan, kenyamanan, perasaan aman, dan apa saja yang membuat para wanita merasa bahagia dan bisa menikmati keberadaanya di dalam rumah. Bukan hanya tuntutan lalu membiarkannya berjuang sendirian. Betapa beratnya menjadi seorang suami dan ayah itulah mengapa menikqh adalah salah satu mitsaqon ghaliza atau perjanjian teguh dalam al quran

Batujajar Jawa Barat
Dari seorang aktifis yang bahagia melaksanakan perintah Allah untuk berada di dalam rumah
Kiki Barkiah

Baca juga РRenungan Pasutri 04

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here