Renungan Pasutri 04 – Management Konfilk Dalam Rumah Tangga

0
527

Tarbiyatul AuladRenungan Pasutri 04 – Management Konfilk Dalam Rumah Tangga

Tidak ada rumah tangga yang tidak memiliki konflik di dalamnya. Namun masih banyak rumah tangga yang merasa bahagia ditengah konflik yang dihadapinya. kehadiran konflik dalam rumah tangga adalah sebuah keniscayaan namun kebahagiaan adalah hak yang bisa diterima bagi siapa saja yang ingin memperjuangkannya. Rumah tangga yang berbahagia adalah rumah tangga yang mampu mengelola konflik yang dihadapi menjadi tambahan-tambahan kebaikan bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Berikut beberapa prinsip yang bermanfaat untuk diingat dalam mengelola konflik dalam rumah tangga. Beberapa prinsip tersebut dirangkum dalam sebuah kalimat MENIKAH KARENA ALLAH.

M – Mengawali niat pernikahan sebagai sarana beribadah kepada Allah. Banyak konflik dalam rumah tangga yang muncul karena kesalahan niat awal pernikahan. Jika konflik yang kita alami dalam rumah tangga terasa terus melebar dan berkepanjangan, ada baiknya untuk mengevaluasi kembali niat awal dalam menikah. Jika terlanjur salah atau ternoda dalam niat menikah di awal, sebaiknya segera mengajak pasangan bertobat bersama kepada Allah dan menata hati untuk meluruskan kembali niat pernikahan. Memaksakan melanjutkan pernikahan dengan niat awal yang salah akan lebih banyak menguras energi dan membutuhkan banyak pengorbanan dibanding energi dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan.

E- Evaluasi akar permasalahan rumah tangga. Lihat tanda-tanda penyakit penyebab konflik rumah tangga. Adakah tanda- tanda tersebut terjadi dalam rumah tangga kita? (Lihat Renungan Pasutri 03)

N- Notifikasi akar permasalahan yang kita rasakan kepada pasangan dalam komunikasi yang terencana dan dilakukan dalam suasana yang spesial. Bersiaplah dengan segala macam kemungkinan respon yang akan diberikan. Apa yang kita pandang sebagai permasalahan belum tentu disadari sebagai sebuah permasalahan bagi pasangan kita. Lakukan dengan penuh kelembutan dan penghormatan diatas itikad baik dalam melakukan perbaikan bersama, terutama bila sumber permasalahan berasal dari pasangan.

I- Itikad baik dalam menyelesaikan konflik rumah tangga sebaiknya di awali oleh permintaan maaf atas kontribusi kesalahan yang kita lakukan kepada
pasangan sebelum menuntut pasangan meminta maaf dan melakukan perbaikan diri

K – Klasifikasi permasalahan berdasarkan tingkat urgensi dan besarnya dampak. Pilah mana yang akan menjadi prioritas untuk diselesaikan. Prioritaskan akar permasalahan yang akan lebih dulu diselesaikan terutama jika saat kita menyelesaikannya maka akan turut menyelesaikan permasalahan yang lain

A – Ajak pasangan berkomitmen bersama memperbaiki salah satu sumber penyakit yang menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Bisa jadi dalam bentuk mengubah pandangan atau membangun kebiasaan baru. Sepakati waktu yang dibutuhkan untuk “latihan” memperbaiki rumah tangga. Tentukan kapan waktu evaluasi akan dilakukan. Selama masa “latihan”, semua pihak sebaiknya bersikap terbuka terhadap “peringatan” yang disampaikan pasangan bila kebiasaan atau kesalahan lama masih sering dilakukan. Lakukan perbaikan secara bertahap dan satu-satu agar perkembangannya dapat lebih mudah untuk di evaluasi.

H – Hargai setiap perkembangan perbaikan sikap pasangan meski hanya sedikit. Sampaikan rasa syukur kita kepada Allah dan kepada pasangan kita dengan menyampaikan perbaikan keadaan yang dilahirkan dari perbaikan sikapnya. Sebagai contoh jika permasalahan utama selama ini karena penyakit “asma” asal menyapa, maka hargailah saat pasangan kita bersedia mengobrol dengan pembicaraan berkualitas walau hanya 15 menit satu hari.

K – Komunikasi yang sehat adalah kunci keberhasilan dalam menyelesaikan konflik dalam tumah tangga dan membangun rumah tangga sehat yang minim konflik. Pasangan kita yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik serta memiliki pandangan yang baik, pandangannya belum tentu dapat diterima dengan baik jika komunikasi tidak dilakukan dengan cara yang baik dan tepat. Begitu juga sebaliknya, pandangan kita yang baik belum tentu diterima dengan baik oleh pasangan kita. Karena komunikasi yang tidak baik, banyak muncul problematika rumah tangga pada pernikahan pasangan yang sebenarnya memiliki kepribadian yang baik.

A – Alokasikan waktu untuk berkomunikasi secara khusus bersama pasangan kita, sesibuk apapun aktifitas kita. Kesibukan kita mencari nafkah tidak boleh sampai menghilangkan alokasi waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan kita karena komunikasi dengan pasangan adalah sarana dalam memberi nafkah batin kepada pasangan. Melalui komunikasi pula seorang imam keluarga dapat melaksanakan kewajiban membimbing dan menjaga keluarga dari api neraka. Jika sampai tidak ada waktu berkomunikasi secara khusus dengan pasangan bagi seorang imam keluarga, maka ia harus mencari cara lain untuk menggugurkan kewajibannya dalam membimbing dan menjaga keluarga dari api neraka.

E – Efektifkan komunikasi bersama pasangan, dengan tidak mengharapkan pasangan mengerti perasaan dan pandangan kita melalui sikap-sikap yang tidak dewasa atau sikap yang tidak secara eksplisit disampaikan. Jangan berharap suami dapat mengerti apa yang istri inginkan jika istri tidak mengatakan secara lugas keinginannya. Pada umumnya para lelaki kesulitan menangkap pesan secara implisit. Sampaikan secara terbuka dengan penuh rasa hormat tentang apa yang kita harapkan. Para lelaki sangat tidak suka bila kemampuannya diragukan, keberadaannya diabaikan, kehadirannya tidak diperlukan, pertolongannya tidak diharapkan. Oleh karena itu gunakan pesona wanita yang penuh kelembutan dan tunjukkanlah betapa peran dan keberadaannya sangat berarti sehingga para istri dapat menarik hati para suami.

N – Nasihat, pendapat, pandangan, kritik, saran, dan bimbingan suami kepada istri akan dapat diterima dengan baik bila disampaikan dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan pengertian. Awali pesan yang ingin disampaikan dengan mendengar dan memahami keluh kesah istri. Pada umumnya para istri lebih mengharapkan para suami mendengarkan dan memahami apa yang ia rasakan dibanding memberi masukan apalagi menentang secara lugas dengan mengabaikan perasaannya. Maka sebelum menyampaikan pesan, pikatlah perasaan istri dengan mengakui perasaaannya. “Mas mengerti perasaanmu, tapi dalam pandangan mas….” Jika kebutuhan istri untuk mengungkapkan perasaaannya tidak dapat dipenuhi oleh suami, pada umumnya para istri akan mencari jalan lain untuk mengungkapkan perasaan mereka.

A – Atur waktu dan momen yang tepat saat membuka komunikasi yang serius, terutama saat menyesaikan konflik dalam rumah tangga. Biasanya para istri sangat berharap segera mengungkapkan perasaannya ketika suami pulang ke rumah. Di saat yang sama suami membutuhkan waktu sejenak untuk melepas lelah. Begitu juga anak-anak yang terkadang merindukan ayahnya untuk segera bercengkrama. oleh karena itu, waktu di mana para suami pulang kerja biasanya menjadi waktu yang kritis yang cukup menentukan suasana keluarga setelahnya. Meminta pengertian dan kerjasama anak-anak biasanya lebih sulit dilakukan dibanding meminta pengertian dan kerjasama orang dewasa. Selelah apapun ayah sepulang bekerja, usahakan meluangkan waktu dan tenaga untuk sejenak bercengkrama dengan anak-anak. Sebesar apapun keinginan istri untuk segera meluapkan perasaaannya, usahakan menahan diri dan memberi waktu agar suami bisa bercengkrama dengan anak-anak dan sejenak melepas lelahnya. Pada umumnya para pria memiliki kebutuhan untuk mengerjakan hobby dan kegemarannya sebagai sarana melepas lelah sepulang kerja. Sebagian diantara mereka melampiaskannya dengan membuka gadjet untuk membaca berita, baik politik, olahraga atau teknologi. Saat emosi istri sedang tidak sehat, melihat para suami sibuk dengan gadjet biasanya memperburuk suasana. Oleh karena itu, para suami hedaknya dapat lebih peka melihat ekspresi wajah istri sepulang kerja, tanyakan apakah istri sedang memiliki kebutuhan untuk di dengar dengan segera. Di sisi lain, sebaiknya para istri segera meminta waktu kepada suami bila merasa membutuhkan mereka untuk segera mendengar keluh kesah. Jangan berharap suami mengerti ekspresi istri dengan sendirinya.

A – Alihkan energi negatif dengan menyibukkan diri para kegiatan positif saat merasa emosi sedang memuncak. Membaca al-quran merupakan terapi yang sangat efektif untuk menenangkan diri. Jika perasaan sudah tenang, bukalah komunikasi dengan pasangan kita. Jangan menemui dan berbicara dengan pasangan dalam kadaan emosi memuncak, apalagi bertengkar di hadapan anak-anak. Bagaimana anak-anak akan belajar menghargai dan menghormati orang lain. Jika istri tidak menghormati suaminya, jika suami tidak menghargai istrinya sementara suami dan istri bertengkar dihadapan anak-anak.

L – Lakukan upaya penyelesaian konflik secara bertahap dan berproses. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepribadian seseorang, oleh karena itu butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubahnya. Bantu pasangan kita untuk bisa bersikap sesuai dengan yang diharapkan bersama, dibanding menyalahkan dan menuntut perubahannya. Terkadang sifat dan sikap yang sudah menjadi karakter dasar seseorang sudah sulit untuk diubah, namun kita bisa memilih sikap yang tepat dalam menghadapi tabiat tersebut serta membuat kesepakatan untuk meminimalisir dampaknya agar konflik dalam rumah tangga tidak melebar dan berkepanjangan. Tetaplah percaya bahwa atas ijin Allah kita dan pasangan kita bisa berubah menjadi lebih baik. Meski terkadang perubahan itu membutuhkan waktu yang panjang bahkan sampai bertahun-tahun.

L – Lihatlah keadaan rumah tangga orang lain yang jauh lebih bermasalah, sehingga lebih banyak hal yang sudah kita miliki dapat kita syukuri. Perasaan syukur itu bukan berarti menjadikan kita terlena dan membiarkan masalah, karena kebahagiaan adalah hak yang harus kita perjuangkan. Perasaan syukur akan memberi energi dan motifasi bagi kita bahwa bersama Allah kita mampu melewatinya. Selama problematika yang kita hadapi bukan dalam bentuk musibah agama, berbahagialah! Karena problematika merupakan bagian dari kasih sayang Allah untuk meningkatkan derajat hamba-hambaNya.

A – Apabila problematika rumah tangga yang kita hadapi berupa musibah dalam hal agama, herhati-hatilah! Karena itu adalah musibah terbesar bagi seorang manusia di dunia. Bersegeralah mengupayakan perubahan-perubahannya jika kita benar-benar merindukan untuk berkumpul kembali di surga. Jika kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan dosa kepada Allah, bersegeralah mencari ampunan Allah. Namun jika kesalahan yang dilakukan berkaitan dengan manusia, bersegeralah menyambung dan memperbaiki kembali silaturahim dengan mereka jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.

H – Hadirkan Allah selalu dalam pernikahan kita, insya Allah kita akan bahagia meski konflik dalam rumah tangga datang silih berganti untuk menguji keimanan kita. Hadirkan Allah dalam pernikahan kita dengan menjadikan niat menikah karena Allah, karena mencari keridhoan Allah. Kita menikah dengan pasangan yang dipilihkan Allah, maka apapun keadaan pasangan kita, jadikan itu sebagai sarana beribadah kepada Allah serta meraih surganya Allah. Menikah karena Allah berarti menjalankan pernikahan diatas hukum Allah, maka apapun konflik yang kita hadapi, hadapilah dengan cara yang Allah ridhoi. Menikah karena Allah berarti menyelesaikan permasalahan dengan hukum Allah. Jikalau pada akhirnya, kita memilih menyelesaikan konflik dengan berpisah, maka berpisahlah karena Allah lebih kita pilih dari apapun juga. Mintalah kemudahan dan pertolongan kepada Allah agar dapat menyelesaikan konflik dalam rumah tangga serta mengganti konflik tersebut dengan karunia yang lebih baik. Oleh karena itu senantiasalah menjaga hak-hak Allah agar Allah pun berkenan menyegerakan pertolongan-Nya.

Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap konflik rumah tangga yang kita alami. Sehingga apapun konflik yang kita hadapi menjadi tambahan kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat kita. Semoga Allah melindungi rumah tangga kita dari konflik yang hanya akan memberikan tambahan keburukan bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang istri yang senantiasa berusaha mengelola konflik dalam rumah tangganya
Kiki Barkiah

sumber gambar www.opendbteam.com

Baca juga – Renungan Pasutri 03 – Beberapa Penyakit Penyebab Konflik Dalam Rumah Tangga

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here