CKSPA Episode 57 – Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

0
549
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 57

Kala Hari Dimana Anak Bertingkah Istimewa

Sejenak sebelum tidur….

Abang….. I love you….. And I like the way you do bla…bla….. I like the way you do bla..bla…bla… I like the way you do bla…bla… bla…. I really love you…. But….. I don’t like the way you do bla…bla..bla…. That’s really not nice/that’s not allowed to do that/that’s really danger/that’s not polite or bla…bla…bla… Because bla…bla..bla.. Terkadang jika kasusnya sangat keterlaluan, dengan nada tenang saya tambahkan “and i am mad/disappointed because of that”

Kurang lebih seperti itulah pola komunikasi yang kami bangun untuk menutup hari dimana anak-anak bertingkah sangat istimewa. Bila mereka berperilaku positif yang sangat istimewa, maka kalimat cinta, pujian, dan penghargaan yang menunjukan betapa kami sangat bangga pada mereka, kami sampaikan secara special di waktu khusus. I’m so proud of you honey, i like the way you do bla..bla..bla… Atau pernah juga disampaikan dalam sebuah surat kecil yang disimpan diatas kasur. Semua itu kami lakukan agar anak mengerti bahwa perilaku tersebut adalah perilaku yang baik dan sangat kami cintai. Kami berharap penegasan yang kami lakukan melalui komunikasi yang lebih spesial, lebih intim, akan lebih membekas dalam hati dan pikiran mereka sehingga mereka lebih bersemangat untuk kembali melakukan kebaikan tersebut di lain waktu.

Lalu bagaimana ketika mereka melakukan perilaku yang sangat tidak kami harapkan hari itu? Ya pola komunikasi diatas kami bangun sebelum menutup hari. Dimulai dari menyatakan I love you, untuk memastikan bahwa cinta kami tidak berubah dan tidak terganggu karena kekecewaan atau kemarahan kami. Kalimat itu kami nyatakan untuk membedakan bahwa kekecewaan dan kemarahan kami ditujukkan pada perbuatannya, bukan pada mereka. Sebelum kami menyatakan kekurangan mereka saat itu, kami berusaha mengawalinya dengan menyebutkan sebanyak-banyaknya kebaikan mereka, lalu kemudian membahas kekurangan dan kesalahan mereka hari itu. Hal ini kami lakukan agar mereka memahami bahwa setiap orang terkadang melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti selalu melakukan kesalahan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lihat dari setiap orang meskipun mereka memiliki kesalahan atau kekurangan. Pola komunikasi secara spesial ini kami bangun untuk memberikan penegasan, betapa kami sangat sangat tidak menyukai perbuatan tersebut disertai dengan penjelasan alasan, dalil atau akibat dari perbuatan tersebut. Biasanya anak-anak lebih siap untuk mendengar nasihat saat menjelang tidur, dibanding memberikan ceramah panjang saat kejadian baru saja berlangsung apalagi jika menyampaikan dengan cara kekerasan. Memberikan pengertian dengan jalan kekerasan hanya akan menjadi bentuk pembenaran bagi anak untuk melakukan hal yang serupa. Terkadang kita butuh suasana tenang untuk merefleksikan sebuah kejadian. Refleksi menjadi poin penting yang tidak boleh terlewatkan orang tua sebagai momentum untuk mengajarkan kebaikan dan meluruskan kesalahan.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl :125)

Mengapa kami ingin anak-anak memahami dengan jelas bahwa cinta kami tidak berubah meski kami sedang marah atau kecewa? Mengapa kami begitu ingin menunjukkan bahwa yang tidak kami suka adalah perbuatan mereka dan bukan diri mereka? Mari sejenak kilas balik ke masa lalu kita, mungkin ada diantara kita yang pernah memiliki perasaan “sejenak tidak dicintai orang tua” saat kita menjadi anak-anak. Mungkin kita merasa ada saatnya orang tua kita tidak mencintai kita saat mereka marah, saat mereka sibuk dan kurang perhatian, saat mereka melarang kita akan sesuatu, saat mereka menolak permintaan kita, atau saat orang tua kita lebih memilih membela saudara yang lain dari diri kita. Mungkin masih banyak hal yang tidak sesuai harapan, terjadi dalam kehidupan bersama orang tua kita yang membuat kita kecewa, sedih, atau bahkan ingin marah dan memberontak. Perasaan itu muncul karena kesederhanaan pola pikir kita sebagai anak kecil. Sejalan dengan waktu, apabila dibekali ilmu dan hikmah, perasaan itu akan menghilang dan diganti dengan kebijaksanaan, pengertian dan pemahaman mengapa orang tua harus menasihati, melarang, menegur, bahkan memarahi kita. Sekali lagi saya tegaskan syaratnya, yaitu apabila dibekali ilmu dan hikmah. Mengapa? Karena banyak manusia yang juga tidak bertambah kebijaksanaannya seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Pola komunikasi diatas dibangun dalam rangka mengajarkan ilmu dan hikmah, dalam sebuah suasana yang tenang agar anak-anak lebih siap mendengar nasihat. Harapannya mereka pun memiliki perasaan terbuka untuk mengakui kesalahan, menerima kritik dan saran, serta berkeinginan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Kami berharap mereka memahami bahwa kesalahan dan dosa adalah bagian dari perjalanan kehidupan manusia.

Teringat sebuah pembicaraan sederhana saya bersama Shiddiq (5 tahun)

Ummi: “shiddiq, you forget about your cloth. please put away your cloth!” (Baju kotor Shiddiq masih tergeletak di lantai kamar dan ia lupa menaruhnya di tempat laundry)
Dengan wajah merasa bersalah Shiddiq berkata
Shiddiq: “I am sorry ummi, i am really really forget!”
Ummi: “it’s ok Shiddiq, sometimes i forget too. That’s why i just remind you”
Shiddiq: “Oh that’s why we have to remind each other”

Manusia itu tempatnya salah, dosa dan lupa. Yang kita butuhkan hanyalah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar kita menjadi orang-orang yang beruntung. Proses saling menasihati antara orang tua dan anak adalah pola hubungan yang perlu dibangun sepanjang hidup. Tentunya kita berharap upaya kita dalam menasihati anak dapat membuahkan hasil segera. Namun jika tidak, yakinlah bahwa nasihat kita tetaplah berguna suatu hari kelak bagi mereka, paling tidak tetap tercatat sebagai amalan baik di sisi Allah. Keputusasaan hanya akan membuat upaya kita berhenti sampai dengan pelabelan dan pengabaian perilaku negatif anak. Dan kelak hanya akan berbuah penyesalan. Maka diri ini ingin terus beruoaya meluruskan perilaku mereka tanpa merubah rasa cinta dengan disertai doa kepada Allah agar Allah membukakan pintu hidayah bagi mereka. Sebagaimana Allah berfiman dalam Al-Quran, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.S. Al-Qashash: 56).

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang tengah berjuang memperbaiki diri dan keluarganya
Kiki Barkiah

Sumber gambar: Teacheramira.wordpress.com


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 56 – Kala Ada Yang Datang Mengadu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here